Thursday, November 21, 2013

The Delusion (23)

23

Mendengar kabar dari Juri bahwa ia telah kembali ke Jepang, Shou memutuskan untuk menemui sepupunya itu di tempat kerjanya, di rumah sakit pusat yang letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Shou. Mengingat dia sedang menganggur di rumah dan dia juga harus membicarakan sesuatu dengan Juri, usai sarapan Shou langsung keluar dari apartemennya. Ia menaiki bis yang akan membawanya ke halte persis di seberang rumah sakit dalam waktu 15 menit.

Sebelum ia berhenti di halte bis, Shou mampir ke toko roti terdekat untuk membeli beberapa potong kue dan roti sebagai buah tangan. Ia tahu betapa sukanya Juri pada kue blackforest yang dibawanya sekarang.

Dalam perjalanan di bis, Shou memikirkan janji yang ia buat kepada Juri sebelum sepupunya itu pergi. Apakah Juri sudah tahu apa yang terjadi selama ia pergi? Apakah ia sudah menemui Yoriko dan mendengar gadis itu bercerita Shou telah menyakitinya?

Jika ya, Juri pasti marah besar padanya. Namun ketika Juri menghubunginya semalam, Juri terdengar baik-baik saja, seolah tidak ada masalah apapun. Bukannya membuatnya lega, Shou malah semakin was-was apakah Juri nanti akan menghakimi atau memarahinya saat mereka bertemu.

Saat ia hanyut di dalam pikirannya, tiba-tiba seseorang mencolek pundaknya. Seorang gadis remaja berseragam sekolah yang duduk di sampingnya. Gadis itu bertanya dengan begitu antusias dan tidak percaya, seakan Shou adalah hantu atau semacamnya. “Apakah kau Shou? Vokalis band Alice Nine?”

Tidak menyangka dan dalam keadaan tidak siap bertemu seorang penggemar pagi ini, Shou menjawab, “Ya, sayangnya begitu...”

Lalu ia mendengar ocehan itu seperti biasanya dari setiap penggemar yang ia temui. Pujian dan sanjungan yang hanya bisa Shou balas dengan senyuman. Ia mendengar sekilas tentang gadis itu datang ke konsernya, dan perasaannya yang takjub karena tidak menyangka ia bisa bertemu dengan idolanya di bis yang biasa membawanya ke sekolah setiap hari. Dan akhirnya... gadis itu mengeluarkan secarik kertas dan pena dan memberikannya Shou untuk sebuah tanda tangan sebagai cindera mata.

Shou tetap berusaha bersikap ramah dengan menorehkan tanda tangannya dan menyerahkannya pada gadis itu. Gadis yang tidak ia ingat namanya itu berkali-kali mengucapkan terima kasih dan memberikan ucapan seperti selamat berjuang dan kapan Shou dan bandnya akan mengeluarkan karya baru lagi.

Lalu sebelum gadis itu turun di halte berikutnya, ia memberikan pertanyaan akhirnya dengan sangat penasaran, “Kenapa anda menaiki bis pagi-pagi seperti ini? Anda ingin pergi kemana?”

Shou kebingungan hendak menjawab apa. Pasti akan sangat rumit dan panjang bila ia memberitahu gadis itu kemana tujuannya. “Ngg... hanya ingin jalan-jalan mencari inspirasi. Aku tidak ingin menaiki mobil karena inspirasiku berasal dari kehidupan sosial dan apa yang kucari itu bisa ditemukan di bis ini...”

Untunglah sang gadis percaya pada jawaban diplomatisnya namun sialnya malah semakin membuat gadis itu semakin kegirangan saja. Shou akhirnya bisa bernapas lega setelah gadis itu turun dari bis. Bangku kosong di sampingnya pun diisi oleh seorang pria tua yang baru memasuki bis dengan tongkat sebagai alat bantunya berjalan.

Pria itu tampak baik dan tidak banyak berbicara seperti gadis sekolah itu. Shou tidak perlu khawatir sekarang.

“Ingin bertemu siapa, anakku?” pria tua itu menyapanya dengan ramah. Entah Shou yang sudah lama tidak berinteraksi dengan dunia luar atau dia memang bukan orang yang ramah hingga ia merasa canggung disapa seperti itu oleh orang asing.

“Sepupuku.” Jawab Shou singkat.

Pria itu tersenyum. “Tidak banyak orang yang mau membeli banyak roti dari toko roti mahal jika bukan untuk orang istimewa.”

Ketika pria tua itu menyebut orang istimewa, Shou langsung teringat pada Yoriko. Shou mungkin juga akan membelikan gadis itu banyak roti dan kue hanya untuk membuat Yoriko tersenyum. Mungkin.

“Dia seorang dokter dan baru pindah dari luar negeri. Jadi... kurasa dia berhak mendapat sambutan yang sedikit istimewa.” Shou mulai terbuka pada pria tua asing di sampingnya itu, tanpa merasa curiga dan terganggu sedikit pun.

“Aah... seorang dokter rupanya.” Pria itu terkekeh. “Aku juga punya anak lelaki yang seorang dokter. Dia memutuskan membuka praktik di luar kota daripada di Tokyo.”

“Wow. Anda pasti bangga memiliki anak seperti itu.” Shou teringat bagaimana ayahnya selalu membandingkan dirinya dengan Juri dulu. Ia ingin tahu apakah ayahnya juga membanggakan Shou seperti yang dilakukan pria tua ini.

“Yah, dia hanya melakukan apa yang dirasa tepat untuk hidupnya, nak. Kulihat kau seusia dengannya, kurasa. Dan sebentar lagi ia akan segera menikah. Bagaimana denganmu?”

Shou menggaruk kepalanya tidak jelas. Pagi ini terasa sangat aneh. Pertama gadis penggemar tadi, sekarang kakek ini. “Ngg... kurasa aku tidak seberuntung putra anda...”

“Kau seorang pemuda tampan, nak.” Ujar pria itu. “Pasti tidak sulit bagimu untuk mendapatkan seorang gadis baik.”

Ya, dia akan mendapatkannya jikalau ia tidak bersikap brengsek dengan membiarkan gadis baik itu pergi begitu saja darinya. Oh Tuhan, alam semesta, atau apapun wujudmu, masih kurangkah Kau memberikan teguran ini dariMu? Shou menjerit di dalam hati.

“Yah, kuharap begitu.” jawab Shou seadanya. Ia berdiri dan berpamitan pada pria tua di sampingnya. “Maaf, sebentar lagi aku sampai. Terima kasih atas semangatnya.”

Pria tua itu melemparkan senyum padanya sebelum Shou turun dari bis. Begitu turun, Shou sekali lagi menarik napas dan menghembuskannya dengan lega beberapa kali. Sungguh, ia tidak akan menaiki bis lagi selama beberapa waktu.

Dari halte, Shou harus berjalan beberapa ratus meter agar mencapai zebra cross untuk menyeberang. Oleh karena itu, ia menyusuri padatnya arus pejalan kaki di trotoar. Sebagai seorang pria yang tingginya di atas rata-rata orang Jepang, Shou tetap merasa pendek dan tertelan oleh arus. Ia tidak akan pernah bisa menyamai langkah orang-orang di sekitarnya. Mereka melangkah secepat waktu berjalan, pakaian dan ekspresi wajah mereka selalu sama, terlihat seperti diburu oleh waktu yang selalu menghantui.

Setelah sekian lama, ia pun merasakan betapa kejamnya kota besar. Baru beberapa menit ia berada di antara lautan manusia ini, ia sadar selama ini ia terbuai oleh kenikmatan semu yang malah membuatnya semakin terhanyut. Kini ia sadar bahwa di jalanan ini, tidak peduli bagaimana penampilannya, gelar, ketenaran, dan lainnya, semua orang disini sama. Semua orang mengejar kehidupan yang lebih baik dengan caranya masing-masing. Shou ingat bagaimana ia melakukannya sebelum mendapatkan ketenaran itu.

Ketika ia berusaha untuk terus berjalan, ia melihat seseorang berjalan di antara kerumunan tepat di depannya. Sosok seorang gadis dengan jubah hitam menutupi tubuhnya, ia berjalan dengan sangat tenang. Seakan ia tidak terpengaruh oleh arus dan tidak diburu oleh waktu seperti yang lain.

Dari jubah hitam yang sangat unik itu, Shou langsung tahu siapa gadis itu dan memanggil namanya, “Yoriko!”

Sekilas gadis itu menoleh ke arahnya dengan wajahnya yang sendu. Senang Yoriko menyadari keberadaannya, Shou langsung berlari untuk meraih gadis itu. Tidak ada yang tahu betapa senangnya ia bisa bertemu gadis itu pagi ini, seolah mentari cerah menyinari hati Shou dan menghangatkannya.

Namun Yoriko tidak sedikit pun membalas senyumannya dan Shou keheranan dibuatnya. Apakah gadis itu masih marah padanya?

Shou berlari semakin cepat dan memotong kerumunan sampai ia hampir tersandung. Tetapi gadis yang dikejarnya seperti berjalan lebih cepat dari langkahnya. Shou terus memanggil namanya berkali-kali meski tidak digubris. Ia melihat Yoriko berbelok menuju zebra cross untuk menyeberang. Tanpa melihat kiri kanan, gadis itu terus berjalan, tidak sedikit pun melihat ada sebuah truk besar melaju dengan sangat cepat ke arahnya.

“Yoriko!!!” seru Shou dari pinggir jalan untuk menyadarkan gadis itu. Namun Yoriko hanya berbalik dan menatapnya tanpa ekspresi tepat di tengah jalan, membiarkan truk itu berjalan semakin dekat dan menghantam dirinya.

Tidak ingin melihat pemandangan mengerikan yang sebentar lagi akan dilihatnya, Shou menutup matanya. Berpikir ia akan mendengar suara klakson dan decitan rem serta hantaman yang sangat menyakitkan, Shou menunggu beberapa lama.

Namun ia tidak mendengar apapun. Perlahan-lahan ia membuka matanya, kerumunan berjalan seperti biasanya seolah tidak terjadi apapun. Seolah hanya Shou yang melihat seorang gadis berwajah sedih berdiri di tengah jalan, menyerahkan hidupnya begitu saja pada maut.

Saat Shou melihat tempat dimana gadis yang dirindukannya tadi berdiri, ia hanya menemukan kekosongan.

Gadis itu tidak pernah berada disana...

*** 

Shou memasuki rumah sakit dalam keadaan kalut dan bingung. Benarkah gadis yang ia lihat di persimpangan jalan barusan adalah Yoriko? Kemana gadis itu pergi? Bagaimana ia bisa menghilang begitu saja dalam sekejap di tengah jalan. Shou terus mengurut dahinya jika semua ini hanyalah bayangan atau ilusinya.

Tetapi Shou menampiknya. Mana mungkin? Gadis itu terlihat sangat nyata, seperti ia bisa disentuh. Jika tidak, mana mungkin gadis itu menoleh padanya saat Shou memanggil namanya?

Lamunannya terusik saat Shou mendengar handphonenya berdering. Ia mendapat e-mail dari Juri bahwa ia menunggu Shou di kafetaria rumah sakit.

Sambil berjalan menuju kafetaria, Shou memperhatikan suasana rumah sakit. Rumah sakit ini sangat besar dan memiliki fasilitas terlengkap di seluruh negeri. Shou takjub dengan usaha keras Juri untuk bisa diterima disini.

Kafetarianya juga luar biasa. Tidak seperti bayangan Shou yang mengira makanan kafetaria pasti sangat tidak mengundang nafsu makan dan menjijikkan, ia melihat daftar menu dan makanan yang tersedia di etalase ternyata membangkitkan selera makan. Seluruh menu juga disajikan dengan baik dan harganya terjangkau.

Shou melihat Juri dengan jas putihnya duduk di salah satu meja, menikmati segelas teh dan beberapa tangkup roti bakar keju. Melihat Juri dari jauh, Shou jadi bertanya-tanya mengapa Yoriko mencintai dirinya yang tidak ada apa-apanya dibanding Juri yang dari sini terlihat begitu sempurna.

“Hei...” Shou duduk di hadapan Juri dan menyapanya.

“Hei...” sahut Juri pelan sambil terus mengunyah makanannya.

“Aku membawa ini.” Shou memberikan bungkus roti yang dibawanya pada Juri.

“Oh... terima kasih. Dengan ini aku tidak perlu lagi membeli makan siang.” Juri menerima bungkusan roti itu dengan wajah berseri-seri.

“Aku mengganggumu?” Shou memastikan kedatangannya tidak mengganggu jadwal praktik Juri.

“Tidak. Jadwal praktikku masih 1 jam lagi.” Jawab Juri. Ia memakan potongan akhir rotinya dan menghabiskan tehnya.

“Oh...” jawab Shou datar.

Juri bisa menangkap Shou sedang gelisah karena sesuatu, terlebih Shou sama sekali tidak tertarik untuk memesan sesuatu dari kafetaria. “Aku masih bertanya-tanya kenapa Shou yang sedang hiatus dan senang bangun siang datang menemuiku sepagi ini.”

“Yah...” Shou tertawa gugup. “Pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat datang kembali padamu.”

Juri memberikan tatapan tajam pada Shou agar sepupunya langsung ke inti pembicaraan. “Kau tidak apa-apa, Shou? Kau belum sarapan, ya?”

“Tidak, aku sudah sarapan.” Jawab Shou. “Aku ingin bercerita sesuatu padamu.”

“Silakan.”

Tanpa basa-basi lagi, Shou bercerita tentang keanehan yang ditemuinya tadi. Dari ia bertemu dengan penggemarnya, seorang kakek yang ramah, hingga sosok Yoriko di persimpangan jalan. Walaupun sulit bagi Juri untuk mempercayai cerita Shou, ia tahu Shou berkata jujur.

“Mungkin kau kelelahan.” Juri mengambil kesimpulan yang paling masuk akal. “Atau kau sedang mempunyai banyak pikiran.”

“Kau sudah menemui Yoriko, Juri?” tanya Shou.

“Tentu saja. Tapi kami tidak bertemu lagi sejak seminggu lalu. Dia terlihat sama persis seperti Yoriko yang kau lihat tadi. Kami juga tidak ada janji untuk bertemu hari ini disini. Mungkin kau salah lihat.” Jawab Juri tenang, tidak terpengaruh oleh cerita Shou.

Namun Shou masih bersikeras dan tidak percaya. “Mungkin dia datang tanpa memberitahumu?”

“Tidak, Shou. Aku cukup tahu bagaimana keadaan Yoriko. Dia tidak mungkin keluar dari rumahnya.” Jawab Juri tegas hingga Shou terdiam.

Hening sejenak sebelum Shou berkata pelan, “Kalau begitu... mungkin aku salah melihat?”

“Mungkin kau merindukannya.” Kata Juri santai, tidak peduli Shou dibuat terhenyak oleh ucapannya. Namun sebelum Shou membalasnya, Juri meneruskan. “Kalung itu milik Yoriko, bukan?”

Shou menunduk dan melihat kalung salib di lehernya. Juri ternyata cermat juga untuk menyadari ini milik Yoriko. “Kau tahu darimana?”

“Entah kau yang mendadak jadi religius atau kalung itu memang milik seorang gadis yang kukenal...” Juri bergumam. “Dimana kau menemukannya?”

“Di kamar yang kau gunakan untuk tidur di apartemenku...” jawab Shou.

Juri hanya mengangguk-angguk paham dan mengusap bibirnya dengan tisu. Ia memanggil seorang pelayan untuk membawakannya secangkir teh hangat lagi. “Aku tidak melihat kalung itu saat berkemas.”

Shou memandang Juri penuh rasa ingin tahu. Masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab. “Kau tahu... aku sedikit menyinggung dirimu saat aku bertengkar dengan Yoriko tempo hari...”

Juri sekarang memperhatikan Shou dengan seksama. Ia ingin tahu bagaimana sudut pandang Shou tentang masalah ini.

“Aku pikir dia mencintaimu.” Kata Shou. “Tapi itu asumsi yang cukup masuk akal bagiku. Kalian berdua sangat dekat, rukun dan saling memahami. Semua orang pasti mengira kalian adalah pasangan kekasih. Ketika aku mendengar Yoriko selalu membicarakan dirimu, aku menjadi panas. Lalu aku juga ingin tahu apakah kau marah padaku karena aku tidak menepati janjiku padamu untuk menjaganya.”

“Kalau dipikir, aku dan Yoriko memang cocok menjadi pasangan.” Juri sedikit menggoda Shou sampai Shou merasakan jantungnya seperti berhenti. “Kelihatannya kau sudah tahu ia ternyata lebih mencintaimu daripada aku.”

Shou tersenyum masam. Sebenarnya ia sudah bisa melihatnya sejak awal, tetapi ia terlalu angkuh untuk menyadarinya. “Jadi kau tidak mencintainya?”

“Yoriko sudah seperti adik yang tidak pernah kumiliki. Lagipula, tidak ada gadis lain yang bisa menghadapi pria macam kau selain Yoriko.” Jawab Juri enteng. “Saat kau berjanji padaku untuk menjaganya, dari nanar matamu, aku tahu kau ingin menjaganya hanya untuk dirimu sendiri.”

Shou mengerang penuh sesal. “Ya... dan aku mengacaukan semuanya...”

“Sekarang giliran aku bertanya padamu.” nada bicara Juri membuat Shou terfokus padanya. Kali ini Juri tidak ingin mendapat jawaban main-main. “Kenapa kau sangat peduli pada perasaannya?”

“Ini pasti terdengar gila bahkan bagi diriku sendiri. Tapi kurasa...” meski ragu, tersirat rasa terpesona di balik nada bicara Shou. “Aku mencintainya...”

 ***

Sore di hari Minggu itu seperti biasanya Aya hendak keluar dari apartemennya untuk pergi bekerja. Dia menghabiskan jus jeruknya dan mengambil jaket sebelum ia membuka pintu apartemennya.

Namun saat ia membuka pintu, seorang gadis berdiri di depannya, membawa sepotong besar rainbow cake kesukaan Aya dengan wajah memohon.

“Yoriko...” kata Aya. Ia tidak ingat sudah berapa minggu ia tidak melihat sahabatnya yang selalu menghindar darinya dan tahu-tahu muncul di hadapannya dengan wajah tidak berdosa. Sedikit jengkel, Aya bertanya, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku ingin berbicara denganmu. Kau mau kan?” Yoriko memohon.

“Aku harus bekerja sekarang. Kasihan Avaron-san menjaga petshop sendirian.” Balas Aya ketus. Bukannya dia marah atau benar-benar tidak ingin berbicara pada Yoriko, tetapi ia ingin tahu mengapa Yoriko muncul begitu saja di hadapannya seolah tidak ada apapun yang terjadi.

“Kumohon. Aku berjanji ini tidak akan lama. Aku membawa rainbow cake kesukaanmu. Akan sangat sayang jika kau lewatkan, bukan?” kata Yoriko sambil menyeringai menggoda dan mencondongkan rainbow cake itu ke wajah Aya.

“Hh... baiklah...” Aya pun luluh. Siapa yang tidak menolak jika disogok kue kesukaan? Ia menyuruh Yoriko masuk ke dalam apartemennya.

Yoriko menaruh rainbow cake yang dibawanya di atas meja. Tadinya ia hendak membuka tutup plastik cake itu dan menaruhnya di atas piring, tetapi Aya lebih dulu memintanya berbicara.

Yoriko melihat sahabatnya berdiri di depannya, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan wajah serius, mendesaknya untuk segera membicarakan apapun yang hendak Yoriko bicarakan. Yoriko pun dengan kepala tertunduk berkata, “Aku datang kesini untuk meminta maaf...”

Aya diam sejenak sebelum menjawab, “Kenapa tiba-tiba kau meminta maaf?”

“Karena aku mengabaikanmu beberapa minggu ini. Aku tidak menjawab panggilanmu dan menghindar darimu...” kata Yoriko. “Aku tahu kau sahabatku dan memang wajar bagimu untuk peduli, tapi...”

“Kenapa, Yoriko?” Aya menyelanya. “Apa karena kau berpikir aku tidak akan mengerti dengan keadaanmu? Atau karena aku sama bersalahnya seperti yang lain?”

“Tidak, Aya...” Yoriko berujar. “Aku...”

“Kalau begitu, karena apa!?” Aya menyelanya sekali lagi. Kali ini dengan nada tinggi dan dengan mata berkaca-kaca. “Aku benar-benar bingung dengan sikapmu yang sedikit pun tidak membukakan pintu untukku. Aku tahu di dalam sana kau kesepian, sedih, dan membutuhkan teman. Selama ini aku tidak bisa berpikir dengan fokus karena aku selalu memikirkan dirimu! Aku takut selama kau sendirian sesuatu terjadi padamu!”

“Mungkin karena aku terbiasa sendirian.” Jawab Yoriko. “Aku tidak pernah menceritakan masalahku pada orang lain dan menyelesaikan semuanya sendiri. Kurasa itu sudah menjadi kebiasaan...”

“Apa itu berarti kau tidak percaya padaku atau tidak benar-benar menganggapku sahabatmu, Yoriko?” tanya Aya pelan.

“Tidak, Aya. Justru karena kau sahabatku aku tidak ingin kau ikut merasakan rasa sakit yang seperti kurasakan. Serta aku tidak ingin kau melihatku dalam keadaan hancur.”

“Yoriko, sahabat itu selalu ada dalam suka dan duka. Aku tidak peduli keadaanmu hancur atau apa selama aku bisa berada disitu untuk membagi dukamu denganku. Aku tidak peduli jika aku harus memasuki duniamu karena aku sangat ingin memahaminya, Yoriko. Jika orang lain tidak peduli, aku peduli. Aku akan melakukan apa saja agar aku bisa meraihmu, bahkan jika itu termasuk memasuki imajinasimu.” kata Aya dengan emosi yang campur aduk. “Seharusnya kau bangga bisa memiliki imajinasi setinggi itu sehingga kau bisa membangun kerajaanmu sendiri. Tetapi layaknya sebuah kerajaan, pemerintahannya tidak akan berjalan jika pemimpin tidak memiliki bawahan.”

“Aku tahu...” Yoriko tersenyum tipis. Tiba-tiba ia mulai menitikkan air mata. “Karena itu aku sangat bahagia mendengar ucapanmu barusan. Kau harus tahu satu hal, Aya...”

“Apa?”

“Kaulah alasan mengapa aku kembali ke negara ini. Tanpamu, aku pasti masih berada di luar sana, berkelana tanpa arah. Karenamu, aku memiliki harapan dan kehidupan. Kebaikan orang-orang di sekitarku menyadarkanku bahwa masih ada orang yang mau memberikan pertolongan tanpa pamrih. Dan salah satunya adalah kau, Aya.”

Aya terperangah mengetahui dialah alasan Yoriko untuk mengakhiri petualangannya. Namun Yoriko berkata bahwa petualangan terbaiknya adalah disini, ketika ia merasakan cinta, kasih sayang, canda tawa, hingga kesedihan secara nyata. Bagi Yoriko itu adalah sebuah berkah terindah. Semua itu tidak akan pernah ia dapatkan saat ia berkelana di luar sana.

“Bagaimana aku bisa benci pada seorang gadis yang mempertemukan diriku dengan orang yang selalu kucintai dengan tulus?” Air mata Yoriko mengalir semakin deras seiring dengan senyum merekah di bibirnya. “Sekali lagi, maafkan aku, Aya. Atas segalanya.”

Melihat Yoriko menangis, Aya pun turut menitikkan air mata. Tanpa ragu lagi mereka pun berpelukan. “Tentu saja, Yoriko. Bagaimana aku bisa benci pada seorang gadis yang sudah jauh-jauh kembali ke Jepang hanya untukku?”

“Sepakat setelah ini tidak akan ada pertengkaran lagi?” Yoriko melepaskan pelukan mereka dan mengacungkan jari kelingkingnya.


Aya mengusap air matanya terlebih dulu sebelum menautkan jarinya, “Ya, tentu saja...”

No comments:

Post a Comment