Monday, September 16, 2013

The Apartment (2)

2

            “Aku pulang...” kata Hiroko dengan lesu ketika dia memasuki rumahnya. Dia sangat lelah hingga nyaris lupa untuk merapikan sepatu yang dilepasnya di genkan. Sebelum benar-benar lupa, Hiroko langsung melepaskan dan memasukkan mantel dan syal yang dikenakannya ke dalam kloset di dekat genkan.
            “Hiroko, kau sudah pulang, Nak?” ibunya muncul dari dapur untuk menyambutnya. Melihat raut wajah putrinya yang seperti membutuhkan pelukan hangat darinya, sang ibu langsung merengkuhnya. “Kau sudah bicara padanya?”
            “Ya.” Jawab Hiroko di dalam dekapan ibunya.
            “Sayang sekali hubungan kalian berakhir seperti ini, Nak.” Hiroko merasakan ibunya membelai lembut rambutnya agar Hiroko nyaman. “Dia pasti sangat sedih kehilangan dirimu.”
            Hiroko tidak mau membahas itu lagi karena pikiran dan perasaannya sedang sangat keruh. Dia sudah mempertimbangkan keputusan yang menyakitkan itu matang-matang dan Kai sepertinya bisa menerimanya dengan baik.
           “Sekarang kau pergi ke kamarmu dan istirahat. Sebentar lagi ayahmu pulang dan makan malam akan siap.” Perintah Ibu. Hiroko menurut dan langsung menaiki tangga rumah menuju kamarnya.
            Begitu sampai di kamar, Hiroko tidak langsung mengganti pakaiannya. Dia malah mengempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang berseprai merah muda. Dia sangat lelah seakan seluruh energi dan semangat hidupnya terisap habis karena hubungannya dengan Kai yang telah kandas. Dia dan Kai sudah berpacaran sejak SMP dan mereka selalu bergantung pada satu sama lain. Mereka hampir tidak pernah melewatkan satu hari pun bersama. Hubungan mereka nyaris tidak bisa dipisahkan.
            Kini dia duduk di ranjangnya, menatap tas sekolah di depannya. Dia menarik tasnya itu dengan malas untuk mengambil dompet miliknya. Dia membuka dompet kecil berwarna cokelat itu dan menemukan banyak sekali fotonya bersama Kai di sana. Hiroko tidak dapat menahan senyumnya melihat kenangan-kenangan yang tersimpan di dalam semua foto itu. Betapa mereka saling menyukai satu sama lain dan menikmati masa remaja mereka.
            Mereka sudah berteman sejak kecil karena keluarga mereka sangat dekat. Ayah Kai dan ayah Hiroko adalah partner kerja dan ibu Kai bersahabat dengan ibu Hiroko sejak SMA. Hiroko dan Kai sering bermain bersama dan disitulah perasaan mereka terhadap satu sama lain mulai terbentuk.
            Hiroko ingat ketika Kai menyatakan perasaannya saat mereka bermain di taman kota sepulang sekolah. Kai dengan malu-malu berkata dia sangat menyukai Hiroko sejak kecil. Hiroko sangat geli melihat sikap Kai yang gugup dan canggung sehingga dia tidak sampai hati menolaknya. Mereka benar-benar masih kekanakan saat itu. Sebagian besar waktu mereka habiskan dengan bermain-main. Lambat laun, Hiroko yang semakin dewasa mengharapkan Kai menganggap serius hubungan mereka. Akan tetapi, Kai seolah terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk melakukannya. Selama dua tahun mereka habiskan dengan bertengkar dan berdebat. Hiroko ingin Kai menghargai hubungan mereka dan bersikap lebih dewasa di depan orang banyak serta memikirkan masa depannya. Hiroko berharap dengan putusnya hubungan mereka, Kai mau memikirkan semua itu. Hiroko sedih bukan karena mereka tidak lagi bersama, melainkan karena jika suatu hari nanti Kai menjadi dewasa, Hiroko tidak akan berada di sisinya dan tidak akan menjadi bagian dari hidupnya lagi  
            Hiroko menutup dompetnya, berjanji pada dirinya sendiri akan menyingkirkan foto-foto itu ketika hatinya sudah siap. Sudah cukup dia menangis dan meratap. Dia harus memikirkan masa depannya.
            Dia turun dari ranjang dan berjalan ke meja belajarnya yang penuh dengan tumpukan brosur universitas-universitas yang ada di Tokyo. Dia bermaksud mendaftar menjadi mahasiswa salah satu universitas ternama di sana. Dia ingin mengambil jurusan psikologi untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang psikolog. Selama setahun penuh dia belajar tanpa henti agar bisa meraih impiannya itu sampai-sampai Kai sering mengatainya kutu buku dan membosankan karenanya.
            Hiroko mendesah sedih. Mungkin dia sudah tidak cocok lagi berada di dalam kehidupan Kai yang penuh warna. Pemuda itu selalu spontan dan tidak pernah banyak berpikir, tidak seperti Hiroko yang sebaliknya.
            Hiroko membereskan brosur-brosur yang tersebar sebelum mengambil buku pelajaran dari tasnya. Bukannya beristirahat seperti suruhan ibunya, dia malah mengerjakan soal yang ada di buku latihan untuk menghadapi ujian masuk universitas. Hanya ini yang bisa dilakukan Hiroko untuk menyingkirkan kerisauannya. Dia sendirian sekarang, hanya buku dan ilmunya yang kini bisa dia andalkan. Dia tersenyum miris, terakhir kali mereka bertengkar hebat karena dirinya yang gila belajar, hingga Kai merasa terabaikan.
            Hiroko baru mengerjakan lima soal matematika sebelum menutup bukunya kembali. Dia tidak bisa berkonsentrasi. Tidak selama bayang-bayang percakapan mereka di kafe tadi masih menguasainya. Bagaimanapun juga, dia masih merasa bersalah pada Kai. Namun dia harus mengakhirnya. Hubungan mereka sudah retak sejak lama, mereka tidak seperti dulu lagi yang kekanakan dan main-main.

            Hiroko kembali menangis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya agar isakannya tidak terdengar oleh ibunya di luar. Dia teringat tatapan mata Kai padanya tadi, seakan pemuda itu telah kehilangan sandaran hidupnya. Dan betapa perihnya hati Hiroko ketika dia baru menyadari bahwa dia juga merasakan hal yang sama.

No comments:

Post a Comment