2
“Aku
pulang...” kata Hiroko dengan lesu ketika dia memasuki rumahnya. Dia sangat
lelah hingga nyaris lupa untuk merapikan sepatu yang dilepasnya di genkan. Sebelum benar-benar lupa, Hiroko
langsung melepaskan dan memasukkan mantel dan syal yang dikenakannya ke dalam
kloset di dekat genkan.
“Hiroko,
kau sudah pulang, Nak?” ibunya muncul dari dapur untuk menyambutnya. Melihat
raut wajah putrinya yang seperti membutuhkan pelukan hangat darinya, sang ibu
langsung merengkuhnya. “Kau sudah bicara padanya?”
“Ya.” Jawab
Hiroko di dalam dekapan ibunya.
“Sayang
sekali hubungan kalian berakhir seperti ini, Nak.” Hiroko merasakan ibunya
membelai lembut rambutnya agar Hiroko nyaman. “Dia pasti sangat sedih
kehilangan dirimu.”
Hiroko
tidak mau membahas itu lagi karena pikiran dan perasaannya sedang sangat keruh.
Dia sudah mempertimbangkan keputusan yang menyakitkan itu matang-matang dan Kai
sepertinya bisa menerimanya dengan baik.
“Sekarang
kau pergi ke kamarmu dan istirahat. Sebentar lagi ayahmu pulang dan makan malam
akan siap.” Perintah Ibu. Hiroko menurut dan langsung menaiki tangga rumah
menuju kamarnya.
Begitu
sampai di kamar, Hiroko tidak langsung mengganti pakaiannya. Dia malah
mengempaskan tubuhnya di atas ranjangnya yang berseprai merah muda. Dia sangat
lelah seakan seluruh energi dan semangat hidupnya terisap habis karena
hubungannya dengan Kai yang telah kandas. Dia dan Kai sudah berpacaran sejak SMP
dan mereka selalu bergantung pada satu sama lain. Mereka hampir tidak pernah
melewatkan satu hari pun bersama. Hubungan mereka nyaris tidak bisa dipisahkan.
Kini dia
duduk di ranjangnya, menatap tas sekolah di depannya. Dia menarik tasnya itu
dengan malas untuk mengambil dompet miliknya. Dia membuka dompet kecil berwarna
cokelat itu dan menemukan banyak sekali fotonya bersama Kai di sana. Hiroko
tidak dapat menahan senyumnya melihat kenangan-kenangan yang tersimpan di dalam
semua foto itu. Betapa mereka saling menyukai satu sama lain dan menikmati masa
remaja mereka.
Mereka
sudah berteman sejak kecil karena keluarga mereka sangat dekat. Ayah Kai dan
ayah Hiroko adalah partner kerja dan ibu Kai bersahabat dengan ibu Hiroko sejak
SMA. Hiroko dan Kai sering bermain bersama dan disitulah perasaan mereka
terhadap satu sama lain mulai terbentuk.
Hiroko
ingat ketika Kai menyatakan perasaannya saat mereka bermain di taman kota sepulang
sekolah. Kai dengan malu-malu berkata dia sangat menyukai Hiroko sejak kecil. Hiroko
sangat geli melihat sikap Kai yang gugup dan canggung sehingga dia tidak sampai
hati menolaknya. Mereka benar-benar masih kekanakan saat itu. Sebagian besar
waktu mereka habiskan dengan bermain-main. Lambat laun, Hiroko yang semakin
dewasa mengharapkan Kai menganggap serius hubungan mereka. Akan tetapi, Kai
seolah terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk melakukannya. Selama dua
tahun mereka habiskan dengan bertengkar dan berdebat. Hiroko ingin Kai
menghargai hubungan mereka dan bersikap lebih dewasa di depan orang banyak
serta memikirkan masa depannya. Hiroko berharap dengan putusnya hubungan
mereka, Kai mau memikirkan semua itu. Hiroko sedih bukan karena mereka tidak
lagi bersama, melainkan karena jika suatu hari nanti Kai menjadi dewasa, Hiroko
tidak akan berada di sisinya dan tidak akan menjadi bagian dari hidupnya lagi
Hiroko
menutup dompetnya, berjanji pada dirinya sendiri akan menyingkirkan foto-foto
itu ketika hatinya sudah siap. Sudah cukup dia menangis dan meratap. Dia harus
memikirkan masa depannya.
Dia turun
dari ranjang dan berjalan ke meja belajarnya yang penuh dengan tumpukan brosur
universitas-universitas yang ada di Tokyo. Dia bermaksud mendaftar menjadi
mahasiswa salah satu universitas ternama di sana. Dia ingin mengambil jurusan
psikologi untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang psikolog. Selama setahun
penuh dia belajar tanpa henti agar bisa meraih impiannya itu sampai-sampai Kai sering
mengatainya kutu buku dan membosankan karenanya.
Hiroko
mendesah sedih. Mungkin dia sudah tidak cocok lagi berada di dalam kehidupan
Kai yang penuh warna. Pemuda itu selalu spontan dan tidak pernah banyak
berpikir, tidak seperti Hiroko yang sebaliknya.
Hiroko
membereskan brosur-brosur yang tersebar sebelum mengambil buku pelajaran dari tasnya.
Bukannya beristirahat seperti suruhan ibunya, dia malah mengerjakan soal yang
ada di buku latihan untuk menghadapi ujian masuk universitas. Hanya ini yang
bisa dilakukan Hiroko untuk menyingkirkan kerisauannya. Dia sendirian sekarang,
hanya buku dan ilmunya yang kini bisa dia andalkan. Dia tersenyum miris,
terakhir kali mereka bertengkar hebat karena dirinya yang gila belajar, hingga
Kai merasa terabaikan.
Hiroko baru
mengerjakan lima soal matematika sebelum menutup bukunya kembali. Dia tidak
bisa berkonsentrasi. Tidak selama bayang-bayang percakapan mereka di kafe tadi
masih menguasainya. Bagaimanapun juga, dia masih merasa bersalah pada Kai. Namun
dia harus mengakhirnya. Hubungan mereka sudah retak sejak lama, mereka tidak
seperti dulu lagi yang kekanakan dan main-main.
Hiroko
kembali menangis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya agar isakannya
tidak terdengar oleh ibunya di luar. Dia teringat tatapan mata Kai padanya
tadi, seakan pemuda itu telah kehilangan sandaran hidupnya. Dan betapa perihnya
hati Hiroko ketika dia baru menyadari bahwa dia juga merasakan hal yang sama.
No comments:
Post a Comment