Monday, September 16, 2013

The Delusion (18)

18

Shou melihat beberapa tas koper diletakkan di depan pintu masuk lobi apartemennya. Tas koper berwarna cokelat monoton dan penuh tempelan stiker khas Inggris di atasnya. Di samping koper-koper itu berdiri seorang pria bermantel cokelat menutupi setelannya yang bagi Shou seperti dari jaman Sherlock Holmes, syal berwarna sama melingkar di lehernya seolah orang itu merasa dia sudah berada di kampung halamannya.

“Perlukah saya mencarikan anda taksi?” seorang penjaga pintu lobi mendekati pria itu dengan sopan, menawarkan jasanya.

Tampak pria itu menerima tawaran itu dengan senang hati. Secara diam-diam ia memberikan petugas itu uang tip namun dengan sopan ditolaknya.

Shou tersenyum sendiri. Sepupunya selalu membawa kebiasaan dari negaranya. Ia ingin tahu hal khas Inggris lainnya yang dilakukan oleh Juri selama Shou tidak ada. Lama-kelamaan Shou menyadari sepupunya adalah orang yang unik dan mencintai kedua budaya yang menyatu di dirinya.

“Ada lagi yang kau butuhkan?” Shou mendekati Juri. “Apa kau sudah mengecek barang yang tertinggal?”

“Tenang saja, tidak ada yang tertinggal.” Jawab Juri. Ia melihat jam tangannya untuk ketiga kali, memastikan dia juga tidak ketinggalan jadwal penerbangannya. Sore hari adalah jam tersibuk kota Tokyo, apa saja bisa terjadi dalam perjalanan menuju bandara.

“Kau pasti sampai ke bandara.” Shou menepuk pundak Juri. “Tenang saja.”

Juri mengangguk pelan, memercayai orang yang sudah cukup lama tinggal di Tokyo. “Maaf aku tidak bisa memenuhi undangan ke konsermu besok.”

Shou memaklumi. “Tidak apa. Kau bisa ke datang ke konserku yang berikutnya lain waktu.”

Mereka saling berpandangan. Juri masih belum bisa percaya dia sudah berdamai dengan Shou. Dia ingat betul saat ia tiba di gedung apartemen ini pertama kali tidak ada sedikit pun sambutan baik dari Shou. Dia juga kaget saat Shou tadi mengantarnya sampai ke depan lobi, membantu membawa kopernya.

Di sisi lain, Shou merasa kehilangan atas kepergian Juri karena dia sudah mulai menerima kehadiran sepupunya. Berkat sepupunya ia belajar untuk tidak menilai orang lain dari penampilan luarnya. Walau Juri berpenampilan seperti guru di sekolahnya dan mempunyai selera buruk (ayolah, memangnya siapa yang masih membaca Moby Dick, Madame Bovary, dan cerita klasik lainnya di jaman sekarang selain mahasiswa jurusan sastra?), ternyata ia juga berhasil menamatkan salah satu game terseram yang pernah ada.

Kemudian Shou juga menyadari sisi petualangan dari Juri dan betapa bersemangatnya pria itu bila ia menemukan hal baru. Yang pada akhirnya mengarahkan Shou kepada rasa terkejutnya saat Juri memberitahu dia bisa menjadi seperti itu karena Yoriko dan karya-karya yang ditulis gadis itu.

“Berkat tulisan Yoriko aku jadi punya keberanian untuk pindah kemari.” Sekali lagi Juri mengucapkannya sebelum perpisahan mereka.

“Oh...” Shou membalas kosong ucapan Juri. Ia melihat ke langit sore yang kelabu, sepertinya akan turun hujan.

Yoriko selalu menjadi bagian dari topik yang dibicarakan Juri. Gadis itu sepertinya selalu ada di dalam ingatannya. Lucunya, seiring hari demi hari berlalu, gadis itu semakin melekat di ingatan Shou akan memori-memori aneh yang mereka lakukan. Pertengkaran, ejekan yang saling mereka lontarkan, tingkah laku Yoriko yang terkadang membuat Shou keheranan, dan apa yang terjadi di antara mereka beberapa malam lalu di pohon sakura.

Shou tidak akan bisa melupakan apa yang mereka lakukan saat hanami malam itu. Bagaimana mereka saling berbagi rahasia terdalam, yang entah mengapa sangat melegakan hati Shou ketika ia membaginya bersama Yoriko. Shou tahu Yoriko tidak akan membicarakan rahasianya dengan orang lain, begitu pun sebaliknya.

Masih terngiang jelas tawa gembira Yoriko saat mereka berlari bersama menyusuri taman. Shou tidak pernah mendengar tawa Yoriko yang seperti itu. Selama ini ia mengira Yoriko adalah gadis berpenampilan suram dan pasti sifatnya tidak jauh berbeda dari penampilannya. Namun saat ia mendengar tawa itu, rasanya seperti mendengar anak kecil tertawa lepas dengan bahagianya, seolah anak itu tidak memahami kejamnya dunia. Sebuah tawa yang Shou tahu hanya untuknya.

Semua itu tidak akan bisa dijelaskan dengan logika, tidak akan bisa. Tidak akan ada yang sanggup memahami mereka. Shou merasa semua itu hanya bisa dipahami oleh mereka, seakan mereka telah menciptakan dunia hanya untuk mereka berdua. Shou tidak tahu mengapa Yoriko tidak menceritakan apa yang mereka lakukan pada orang lain, tapi bagi Shou, walaupun ia menceritakannya dan menjelaskannya, orang lain tidak akan paham atau bahkan tidak akan percaya.

Shou cukup takut jika perasaan ini hanya dirasakan olehnya, mengingat Yoriko ternyata lebih dulu mempunyai kehidupan dan dunia berbeda yang dijalani bersama Juri. Tidak ada satupun orang lain termasuk Shou sanggup memahami dunia mereka.

Bagaimana jadinya bila Yoriko lebih dulu memiliki perasaan terhadap Juri? Dilihat dari Juri memerlakukan Yoriko, sepertinya perasaan itu berbalas.

Shou tertunduk lesu. Dia terlalu cepat berharap. Mungkin seharusnya Shou kembali saja ke khayalannya yang dulu, dimana dia akan tidak terluka disana. Dimana sesuatu yang semu menyenangkan dirinya. Dia tidak masalah dengan itu, ia sudah muak dibanting oleh kenyataan. Lebih baik mundur sebelum kenyataan melakukan pekerjaannya.

“Shou, kau tidak apa-apa?” Juri memanggil Shou, khawatir sepupunya yang hampir tidak pernah diam tiba-tiba tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Ya, tentu saja. Kenapa memangnya?” Shou mencoba bersikap seolah ia baik-baik saja.

“Tidak. Kau mendadak murung. Ada masalah?” Juri memastikan Shou tidak memiliki masalah yang berarti sebelum ia pergi.

Shou mengibaskan tangannya. Ia tersenyum enteng, “Ah, tidak. Aku hanya memikirkan konser besok. Yah, kau tahulah, rasa gugup terkadang menyerang tiba-tiba.”

“Oh...” Juri sepertinya percaya. “Kau pasti bisa.”

Shou mengucapkan terima kasih atas harapan positif yang diberikan Juri. Beberapa menit kemudian, taksi yang dinanti Juri akhirnya tiba dan berhenti tepat di depan mereka. Penjaga pintu lobi yang tadi membantu Juri memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi.

Setelah semuanya beres, Juri kembali ke Shou dan memeluk erat sepupunya sebagai tanda perpisahan. “Terima kasih atas bantuanmu.”

“Ya, kau juga. Semoga kau selamat sampai tujuan.” balas Shou. Mereka saling berjabat tangan dan bertukar senyum. Namun sebelum Juri masuk ke dalam taksi, ia menyampaikan sebuah pesan kepada Shou.

“Maukah kau menjaga Yoriko selama aku pergi?” tanya Juri sambil menatap mata Shou, memastikan Shou menanggapi pesannya seserius mungkin.

Shou kelabakan. Mengapa tiba-tiba Juri meminta Shou seperti itu dan apa yang membuat Juri yakin Shou mau melakukannya?

“Dengar, mungkin bagimu dia hanya orang lain tapi dia sangat berarti bagiku. Dan hanya kau yang bisa kupercaya, kau mengerti?” kata Juri lagi.

Shou tidak yakin dia bisa melaksanakan janji ini demi Juri, tapi ia tahu ia bisa menjaga Yoriko demi kepentingannya sendiri. “Ya, aku akan menjaganya.”

*** 

Shou bisa melupakan apa yang dipikirkannya tentang Yoriko dan Juri saat konser sudah di depan mata. Siang itu ia bersama keempat teman bandnya turun dari mobil di depan pintu belakang live hall, disambut oleh para penggemar mereka.

“Kupikir kita bisa turun dengan tenang.” Kata Tora setengah jengkel. Dia sedang tidak ingin konsentrasinya diganggu oleh jeritan penggemar yang memuja mereka.

“Sudahlah...” Ujar salah satu staf yang duduk satu mobil dengan mereka. “Hanya 5 langkah menuju pintu kalian tidak perlu lagi mendengar jeritan-jeritan itu.

Shou juga berpikiran sama dengan Tora. Baginya jeritan fans cukup mengganggunya dan malah akan memecah konsentrasi mereka. Dia juga sedang tidak ingin melambaikan tangan ke arah mereka sebagai ramah tamah, dia benar-benar sedang tidak ingin berpura-pura baik.

Ketika mereka berlima turun, semakin keras saja jeritan itu. Kebanyakan dari mereka adalah para gadis, tentu saja. Mereka berpakaian warna warni dan memakai merchandise Alice Nine seperti kipas, kaus, tas, dan lain sebagainya.

Tora langsung melesat masuk ke dalam, berpura-pura tidak melihat. Dimana Saga dan Nao yang selalu bersikap ramah melambai dan menyapa para gadis itu sekilas. Hiroto hanya tersenyum dan mengangguk ke arah mereka. Sedangkan Shou, dia memakai kacamata hitamnya dan turun dengan santai tanpa menoleh sedikit pun. Toh para penggemar dibatasi dengan pagar supaya mereka tidak bisa mendekati Shou dan teman-temannya, kenapa harus panik?

Begitu di dalam, mereka menyusuri lorong sebelum sampai ke ruang ganti. Disana telah menanti Yoriko, yang ternyata sudah menyiapkan seluruh keperluan mereka. Dari kostum, make up, peralatan musik, sampai makanan dan minuman.

Saat melihat Yoriko sedang duduk di sudut ruangan sambil menggambar di buku sketsanya, Shou langsung teringat ia memang harus bertemu Yoriko hari ini, dan ia takut itu akan memengaruhi dirinya menjelang konser. Gadis itu nampak baik-baik saja dan samar-samar Shou mendengar Yoriko menyenandungkan lagu yang tidak ia kenal judulnya.

Shou penasaran bagaimana reaksi Yoriko saat Juri berpamitan padanya. Apakah gadis itu baik-baik saja, berpura-pura tidak terlihat sedih di depan Juri, atau malah menangis? Sekarang bagi Shou seluruh ekspresi dan tingkah laku Yoriko memiliki arti yang begitu banyak, dia bahkan takut Yoriko akan menjaga jarak darinya saat mereka berinteraksi. Dia tidak mau ada kecanggungan di antara mereka.

Seruan Tora yang menyuruh Shou agar cepat-cepat seketika membuat Shou lupa akan masalahnya sendiri. Sebagai seorang artis dia harus profesional, dia tidak boleh mengecewakan di depan penontonnya.

Shou mengambil kostumnya dan secepat kilat mengganti pakaiannya dengan itu. Ia merasa seperti sebuah boneka yang menurut saja saat juru rias menariknya ke meja rias untuk ditata. Dari cermin pandangan mata Shou tidak lepas dari Yoriko. Gadis itu sedang membantu Tora membenarkan jaketnya, setelah itu ia dipanggil oleh Nao untuk membantunya membawakan peralatan drumnya yang akan digunakan.

Shou memerhatikan apapun yang bisa ia lihat dari Yoriko hari ini. Dress hitam, sepatu pantofel, rambut yang dikuncir dua, kalung salib, gelang-gelang berhiaskan tengkorak, riasan wajah serba hitam. Yoriko terlihat seperti para gadis yang menonton acaranya. Tetapi dari awal pertemuan mereka, Shou telah menangkap sesuatu yang unik dari Yoriko. Sesuatu yang membedakan Yoriko dari gadis lainnya. Sesuatu yang... menariknya lebih dalam untuk mengenal Yoriko lebih baik, yang mulanya ia lawan dengan cara memerlakukan Yoriko semena-mena di depan orang banyak.

Selesai berdandan, Shou beralih ke teman-temannya yang ternyata sudah siap lebih dulu. Mereka berlima berkumpul di tengah ruangan, duduk bersama di sofa. Tidak satu pun di antara mereka mengucapkan sesuatu. Shou tahu mereka semua sama gugupnya seperti dirinya sekarang. Aneh sekali mereka rasanya sudah ratusan kali melakukan konser tapi tetap merasakan kegugupan itu.

“Kalian pasti bisa!” Tiba-tiba suara Yoriko yang ceria mengisi kekosongan. Ia mengambil tempat duduk persis di sebelah Shou, sehingga Shou semakin merasa gugup. “Kalian sudah sering latihan, kenapa harus takut?”

“Entahlah, Yoriko-chan. Rasa gugup tetap saja menyerang kami walau kami sudah melakukan ini ratusan kali.” Jawab Hiroto. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, dia mengambil gitar miliknya dan memainkannya.

Mereka berenam bisa mendengar elu-eluan para penggemar yang sudah menanti di depan panggung, mengharapkan Alice Nine bisa memberikan pertunjukan istimewa dan tidak akan terlupakan hari ini.

“Mereka semua mengharapkan kita yang terbaik bahkan nyaris sempurna. Kau tahu bagaimana rasanya berjuang memenuhi harapan mereka?” timpal Tora.

Yoriko diam sejenak. Disaat itulah, Shou sangat ingin merasuki pikiran Yoriko dan membaca seluruh jalan pikirannya. Apa yang dipikirkan Yoriko mengenai bandnya? Payah? Hebat? Biasa saja?

Mendengar apa yang dikatakan Tora, Shou jadi teringat masa lalu saat mereka masih memperjuangkan band ini. Terasa sangat menyenangkan tetapi juga menyakitkan.

“Memangnya hal buruk apa yang akan terjadi?” kata Yoriko. “Maksudku, kalian bermain di depan penggemar kalian. Itu seperti bermain di depan orang tua kalian sendiri, meski kalian melakukan kesalahan, mereka tidak akan membenci kalian.”

Mungkin Yoriko tidak tahu kata-katanya barusan menyulut semangat Alice Nine terutama Shou setelah itu. Shou ingat ayahnya dulu membenci keputusan Shou yang lebih memilih bandnya daripada mengikuti jejak beliau. Tetapi sekarang, walau ayahnya masih membenci aliran musik band Shou, ia tahu ayahnya mengoleksi seluruh CD Alice Nine diantara koleksi lagu-lagu lama milik beliau.

“Yoriko ada benarnya. Masih ingat kejadian saat Nao jatuh di panggung?” sahut Saga. “Bagi kita itu adalah kejadian yang sangat memalukan dan penonton menertawakan kita, tapi mereka tetap datang ke konser kita yang berikutnya, bukan?”

“Kalian manusia biasa, wajar kalau kalian melakukan kesalahan, bukan?” Yoriko menambahkan.

“Kau hebat, Yoriko. Kenapa aku tidak pernah terpikir hal itu?” Nao memuji Yoriko.

Yoriko tersenyum manis. “Aku hanya mengutip kata-kata dari artis kesukaanku.”

Tiba-tiba mereka mendengar suara pintu diketuk beberapa kali oleh staf yang berkata Alice Nine sudah harus berada di belakang panggung sekarang.

“Oke! Saatnya beraksi!” Seru Nao penuh semangat. “Kalian siap?”

Pertanyaan Nao disambut dengan tidak kalah semangatnya oleh keempat temannya. Shou sekali lagi melihat ke sampingnya. Yoriko memberikan sebuah senyum kepadanya, isyarat bahwa Shou pasti bisa melakukan pertunjukannya dengan hebat.

Baru pertama kali ini hanya dengan sebuah senyuman seluruh kepercayaan diri Shou terkumpul. Dan hanya dengan sebuah senyuman, telah membuat Shou yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja disana.

*** 

Yoriko mengeraskan volume suara di iPodnya. Bukannya Yoriko membenci lagu-lagu yang dimainkan Alice Nine atau suara gitar solo Tora yang terdengar sampai di ruang ganti, dia hanya benci keramaian. Makanya dia mengurung diri di ruang ganti sambil meneruskan gambarnya.

Yoriko hampir tidak pernah pergi ke tempat-tempat ramai kecuali beberapa konser band gotik yang ia sukai. Sisanya ia habiskan di tempat kerja, apartemen, dan gereja. Jika semua orang berpikir kehidupan Yoriko yang nomaden seru, Yoriko malah terkadang berpikir sebaliknya. Gerombolan penggemar wanita berpenampilan warna warni yang tidak pernah lelah menyerukan nama idola mereka, bukanlah salah satu keramaian yang disukai olehnya.

Tugas Yoriko sebagai asisten digantikan oleh manajer panggung dan stafnya, Yoriko kini benar-benar tidak punya sesuatu untuk dikerjakan.

Yoriko melihat jam dinding. Sudah 1 jam lebih sejak pertunjukan dimulai. Yoriko yakin kelima temannya sudah melupakan rasa gugup mereka dan bersenang-senang di panggung saat ini. Memangnya siapa yang tidak senang jika namanya dielu-elukan dan penampilannya dinanti-nanti?

Tubuh Yoriko melorot lemas di kursi. Itu berarti masih satu setengah jam lagi sebelum konser selesai.

Namun sebelum ia mati kebosanan, ia mendengar suara ribut dari balik pintu meski volume iPodnya sudah dikeraskan. Beberapa detik kemudian, pintu dibuka dan masuklah empat anggota Alice Nine, dalam keadaan basah kuyup oleh keringat namun senyum dan tawa tidak lepas dari wajah mereka.

“Kenapa kau masih disini, Yoriko-chan? Kupikir kau menonton kami dari balik panggung!” kata Nao keheranan.

Yoriko melemparkan handuk kecil ke arah Nao dari dekatnya dan menjawab, “Aku sedang tidak ingin. Lagipula aku sudah sering melihat kalian latihan.”

“Kau yakin?” Tora berjalan mendekati Yoriko dan mengambil sebotol air mineral.

“Yakin. Lalu, mengapa kalian disini? Kalian memiliki jeda atau semacamnya?”

“Tidak juga. Setelah ini Shou akan tampil solo, seorang pianis akan mengiringi lagu yang akan dia nyanyikan.” Jawab Saga. “Kau masih yakin tidak ingin melihatnya bernyanyi sendirian? Kelihatannya dia berhasil menyihir seluruh penonton karena itu, lho.”

“Sejak kapan Shou bisa tampil solo?” Yoriko kaget. Shou akan tampil solo? Dia sudah lama bekerja untuk mereka dan Yoriko baru tahu Shou pernah bernyanyi sendirian di panggung?

“Kau baru tahu ya? Tidak heran, selama ini untuk latihan solo dia lebih memilih latihan sendiri bersama guru vokalnya. Dan kau pulang lebih dulu saat gladi resik kemarin, jadi...” Hiroto menjelaskan.

“Oh...” Yoriko mulai tertarik. Mau tidak mau Yoriko harus mengaku kalau ia sangat penasaran melihat penampilan solo Shou.

Seolah membaca pikiran Yoriko, Tora menepuk punggung Yoriko dan berkata, “Kalau kau ingin melihatnya, cepat keluar. Sebentar lagi akan dimulai!”

*** 

Yoriko pergi ke sisi panggung, dimana ia bisa melihat penampilan Shou dengan jelas dari samping tanpa terhalang oleh penonton. Disaat itulah dia melihat Shou akan memulai penampilan solonya.

Cahaya panggung dibuat redup dan sebuah lampu sorot berwarna putih diarahkan kepada Shou dari atas, seakan cahaya dari surga ingin memberkati penampilan Shou yang anggun. Dari tempatnya berdiri, Yoriko bisa melihat hampir seluruh penonton terpukau olehnya.

Sekarang barulah Yoriko sadar.

Ia akan ditunjukkan sisi lain dari Shou yang belum pernah dilihatnya.

Sang pianis mulai memainkan lagunya. Yoriko tidak menyangka lagunya ternyata sangat klasik. Pelan tetapi merdu, penuh gelora namun disaat sama juga lembut, temponya lambat namun mendayu, bagaikan nyanyian sebelum tidur.

Shou menyanyikan bait pertamanya. Tentang dua orang yang terpisahkan oleh sebuah jarak, semuanya terlukiskan oleh bayang-bayang akan langit malam, sinar bulan, dan cahaya bintang.

Terdengar seperti bukan tipe lagu yang seorang Shou akan nyanyikan, namun pria itu membawakannya dengan segenap perasaannya. Seulas senyum terukir di wajah yang baru sekarang Yoriko akui terlihat sangat tampan tertuju pada seluruh penontonnya.

Lagu yang bercerita tentang mimpi, harapan, dan sebuah perpisahan yang akan dipertemukan kembali. Bolehkah ia berharap lagu itu ditujukan kepadanya?

Sekarang ia melihat Shou sebagaimana harusnya. Shou sebagai dirinya sendiri, bukannya bayangan atau refleksi seseorang yang tidak nyata. Shou yang tetap bersinar di bawah cahaya namun tetap bisa menjadi dirinya sendiri.

Mengapa membutuhkan waktu selama ini bagi Yoriko untuk menyadarinya?

Lagu yang lembut itu semakin terasa membara dan nyaris membuat Yoriko menangis saat mencapai chorusnya. Ia turut melantunkan lagu itu bersama Shou dari sana, seolah mereka bernyanyi bersama di atas panggung.

Ketika Yoriko terbuai ke langit oleh nyanyian Shou, suara Tora membawanya kembali ke bumi. “Kau suka, ya?”

Melihat Tora berdiri di sampingnya, Yoriko jadi merasa malu sendiri. Apakah Tora tadi mendengarnya menyanyi sangat keras? “Eh... i... iya, kurasa...”

Tora mengacak-acak rambut Yoriko karena gadis itu menjawab malu-malu. “Tenang saja. Aku tidak akan memberitahu Shou.”

“Apakah dia selalu seperti ini saat menyanyi?” Yoriko hampir melontarkan kata memesona di sela ucapannya.

“Maksudmu sampai membuat seorang gadis yang tidak pernah peduli pada Shou jadi berpaling kepadanya sekarang? Ya, dia memang selalu seperti itu.” jawab Tora terkekeh.

Bibir Yoriko merengut mendengar candaan Tora. Untuk soal itu, tidak bisa dijelaskan karena selama ini Yoriko selalu peduli pada Shou dari sudut pandang yang berbeda. “Aku tidak pernah menyangka dia bisa menyanyi begitu... lembut dan menenangkan.”

Tora mengangguk paham. “Lalu, apa setelah ini kau akan memuji penampilannya?”

Yoriko tersenyum sendiri. Mungkin dia akan melakukannya.

“Berhubung kau tidak akan cerita pada Shou soal ini, bolehkah aku berkata lagu ini seakan dinyanyikan untukku?”

“Aku tidak tahu. Kalau hatimu berkata seperti itu, mungkin ada benarnya.” Jawab Tora tanpa menghakimi sedikit pun. “Hanya kau wanita terdekat yang dikenal Shou setelah 4 tahun berlalu...”

Yoriko kembali menikmati apa yang dilihatnya. Bait terakhir yang dinyanyikan entah mengapa sangat menyentuh jiwa Yoriko. Mengisyaratkan mereka akan hidup bersama demi satu sama lain.

If you decide to live, I will live too

Ketika lagu itu selesai dan semua orang bertepuk tangan kepadanya, Shou membungkukkan badannya, memberi hormat kepada mereka. Tanpa mengetahui seorang gadis yang terpana berdiri tidak jauh darinya juga turut memberinya apresiasi sama, karena Shou telah memberikan harapan kepadanya.

*** 

Konser dengan meriah ditutup dengan memberi hormat kepada penonton yang bahagia dari kelima personel Alice Nine. Konser pada hari itu bisa dibilang sukses besar berkat jerih payah mereka.

Yoriko menyambut kedatangan mereka di ruang ganti dengan meriah. Ia menghujani mereka dengan pujian sembari membantu mereka membersihkan diri setelah konser. Walau ia telah memberikan banyak pujian kepada Alice Nine, dia masih belum bisa menyapa Shou dan berkata dia telah memberikan penampilan yang memengaruhi diri Yoriko sepenuhnya.

“Bagaimana kalau setelah ini kita berpesta di rumah Shou?” Nao tiba-tiba memberi sebuah usulan menarik setelah konser.

“Boleh juga. Kita hanya perlu mampir ke minimarket untuk membeli bir dan makanan ringan.” Tora tidak keberatan.

“Aku ikut! Tapi mungkin aku akan menghabiskan sebagian waktu dengan tidur...” sahut Saga sambil menguap karena kelelahan.

“Kalau begitu kita menginap saja sekalian. Bagaimana?” kata Nao. “Hei, Shou! Kau mau tidak?”

Shou masih membersihkan riasan wajahnya di depan cermin dan menjawab, “Terserah kalian saja. Tapi aku tidak mau menyiapkan futon untuk kalian.”

Sepertinya Nao tidak keberatan dengan syarat yang diberikan Shou. “Yoriko-chan. Kau mau ikut?”

“Eh? Apa?” Yoriko mendadak gugup. Kenapa dia juga diajak berpesta? Di rumah Shou, pula. Apa tidak akan menciptakan suasana yang sangat canggung nantinya? “A... aku...”

Sebelum Yoriko bisa memberikan jawaban yang pasti, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita muncul di depan pintu dan berseru kepada mereka dengan riang. “Selamat untuk konser kalian!”

Yoriko terpaku begitu tahu wanita itu adalah atasannya sendiri, Avaron Yutaka.

“Wah, terima kasih, Avaron!” Tora menyambut teman lama mereka. Ternyata Avaron benar-benar akan datang sesuai janjinya.

“Hei, Yoriko!” wanita itu menyapa Yoriko tanpa menyadari kehadirannya perlahan mengoyak harapan Yorio.

“Halo, Avaron-san...” balas Yoriko dengan sikap canggung. “Sedang apa anda disini?”

“Sesuai undangan Shou beberapa bulan lalu...” Avaron melirik Shou yang sekarang sedang memerhatikan kedatangannya. “Aku menonton mereka berlima dan mendapat akses ke belakang panggung. Sudah lama aku tidak melihat mereka tampil!”

“Oh...” hanya itu yang bisa Yoriko katakan. Dia tidak sanggup memiliki prasangka buruk terhadap wanita baik yang telah menolongnya, tetapi harus ia sadari kehadiran wanita ini hanya akan membuatnya terluka.

Terlebih ketika Avaron terlihat begitu dekat dengan Shou. Shou memberikan senyuman sama yang pernah ia berikan untuk Yoriko pada malam itu, di atas pohon sakura. Nao dan yang lain turut bergabung, terdengar mereka sedang membicarakan kenangan masa lalu. Kenangan indah sebelum kehadiran Yoriko, dan sepertinya mereka tidak repot-repot ingin mengajak Yoriko bergabung.

Tahu keberadaannya tidak berarti lagi, Yoriko mengemas barang-barangnya. Sambil menyesali dirinya sendiri, mengapa ia terlalu berharap. Lagu itu tidak akan pernah dinyanyikan untuknya, Shou pasti tahu Avaron berada di antara penonton melihat penampilannya, dia pasti menyanyikan lagu itu untuk wanita itu.

Yoriko paham, Avaron memang pantas menerima pujian sebesar itu. Yoriko saja yang tidak tahu diri dan muncul di antara mereka berdua.

Ketika Yoriko hendak membuka pintu dan beranjak pergi, ia mendengar Nao memanggilnya. “Lho? Kau mau pergi kemana, Yoriko-chan?”

Pertanyaan itu diiringi oleh pandangan ingin tahu dari yang lain termasuk Shou dan Avaron. Tetapi Yoriko tidak ingin berlama-lama disana untuk mencari tahu alasannya. “Aku... ingin pulang. Sudah malam.”

“Kenapa kau ingin pulang? Setelah ini ada pesta di rumah Shou, masa kau tidak mau datang?” tanya Tora.

“Maaf, aku tidak bisa datang...” jawab Yoriko tidak enak hati. Dia mencoba mencari alasan untuk menutupinya. “Besok pagi aku masih harus bekerja, aku tidak ingin terlambat.”

“Kalau kau tidak ingin menginap aku bisa mengantarmu pulang.” Bujuk Tora agar Yoriko tidak mau pergi.

Yoriko tersenyum, menghargai kebaikan Tora. Namun tetap saja ia tidak bisa menerima ajakan mereka. “Maaf, aku tidak bisa. Avaron-san, semuanya, aku pulang dulu. Terima kasih...”

Tanpa menunggu reaksi yang lain, Yoriko langsung keluar dan menutup pintu ruangan sebelum mereka menghujaninya dengan berbagai pertanyaan lagi. Yoriko menghela napas, tidak menyangka ia akan keluar dari gedung ini dengan perasaan putus asa.

Ketika ia keluar dari live hall, masih banyak penggemar Alice Nine menunggu disana. Sepertinya mereka menanti kelima idola mereka keluar dari gedung untuk mengucapkan sampai jumpa.

Lagi-lagi Yoriko merasa sendirian di tengah keramaian. Dulu ia terbiasa sendiri dan ia menyukainya karena tidak akan ada yang menyakitinya. Tetapi sekarang...

Saat ia mengancingkan jubahnya, ia mendengar langit malam bergemuruh lalu menurunkan hujan. Hujannya tidak terlalu deras, namun cukup banyak orang di sekitar Yoriko membuka payung mereka. Yoriko ingat malam yang sama seperti ini bersama Juri. Sekarang pria yang sudah seperti kakaknya sendiri kini berada di tempat jauh dan Yoriko tidak tahu harus berbicara pada siapa sekarang.

Siapa yang akan mau mendengar Yoriko berkata bahwa ia mulai mencintai Shou apa adanya?

Siapa yang tidak akan menertawakan bila Yoriko berkata kemungkinan besar ia tidak akan mendapatkan orang yang ia cintai?


Yoriko pun lagi-lagi berusaha menahan air matanya untuk mengalir di tengah hujan meski ia tahu itu tidak akan bertahan lama. Ia menutupi kepalanya dengan tudung jubahnya dan mulai menyusuri jalan, berharap ia akan sampai ke rumah lebih cepat.

2 comments:

  1. halo, Mbak Tasya :D
    mau sekadar saran aja, Mbak. coba Mbak ngepost tulisan-tulisan Mbak ke kemudian.com, pasti dibaca dan dikasih komentar yg bakal membantu Mbak dlm menulis. saya juga penasaran, pengin baca tulisan Mbak di sana, hehe :3

    atau malah Mbak sudah tahu dan join kemudian.com? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum. aku kurang tau banyak soal situs kayak gitu. aku lebih suka pake blogspot soalnya aku ngerti ngurusnya gimana. hehe. makasih sarannya, nanti aku coba bikin akunnya :)

      Delete