18
Shou melihat
beberapa tas koper diletakkan di depan pintu masuk lobi apartemennya. Tas koper
berwarna cokelat monoton dan penuh tempelan stiker khas Inggris di atasnya. Di
samping koper-koper itu berdiri seorang pria bermantel cokelat menutupi
setelannya yang bagi Shou seperti dari jaman Sherlock Holmes, syal berwarna
sama melingkar di lehernya seolah orang itu merasa dia sudah berada di kampung
halamannya.
“Perlukah
saya mencarikan anda taksi?” seorang penjaga pintu lobi mendekati pria itu
dengan sopan, menawarkan jasanya.
Tampak pria
itu menerima tawaran itu dengan senang hati. Secara diam-diam ia memberikan
petugas itu uang tip namun dengan sopan ditolaknya.
Shou
tersenyum sendiri. Sepupunya selalu membawa kebiasaan dari negaranya. Ia ingin
tahu hal khas Inggris lainnya yang dilakukan oleh Juri selama Shou tidak ada.
Lama-kelamaan Shou menyadari sepupunya adalah orang yang unik dan mencintai
kedua budaya yang menyatu di dirinya.
“Ada lagi
yang kau butuhkan?” Shou mendekati Juri. “Apa kau sudah mengecek barang yang
tertinggal?”
“Tenang saja,
tidak ada yang tertinggal.” Jawab Juri. Ia melihat jam tangannya untuk ketiga
kali, memastikan dia juga tidak ketinggalan jadwal penerbangannya. Sore hari
adalah jam tersibuk kota Tokyo, apa saja bisa terjadi dalam perjalanan menuju
bandara.
“Kau pasti
sampai ke bandara.” Shou menepuk pundak Juri. “Tenang saja.”
Juri
mengangguk pelan, memercayai orang yang sudah cukup lama tinggal di Tokyo.
“Maaf aku tidak bisa memenuhi undangan ke konsermu besok.”
Shou
memaklumi. “Tidak apa. Kau bisa ke datang ke konserku yang berikutnya lain
waktu.”
Mereka saling
berpandangan. Juri masih belum bisa percaya dia sudah berdamai dengan Shou. Dia
ingat betul saat ia tiba di gedung apartemen ini pertama kali tidak ada sedikit
pun sambutan baik dari Shou. Dia juga kaget saat Shou tadi mengantarnya sampai
ke depan lobi, membantu membawa kopernya.
Di sisi lain,
Shou merasa kehilangan atas kepergian Juri karena dia sudah mulai menerima
kehadiran sepupunya. Berkat sepupunya ia belajar untuk tidak menilai orang lain
dari penampilan luarnya. Walau Juri berpenampilan seperti guru di sekolahnya
dan mempunyai selera buruk (ayolah, memangnya siapa yang masih membaca Moby
Dick, Madame Bovary, dan cerita klasik lainnya di jaman sekarang selain
mahasiswa jurusan sastra?), ternyata ia juga berhasil menamatkan salah satu
game terseram yang pernah ada.
Kemudian Shou
juga menyadari sisi petualangan dari Juri dan betapa bersemangatnya pria itu
bila ia menemukan hal baru. Yang pada akhirnya mengarahkan Shou kepada rasa
terkejutnya saat Juri memberitahu dia bisa menjadi seperti itu karena Yoriko
dan karya-karya yang ditulis gadis itu.
“Berkat
tulisan Yoriko aku jadi punya keberanian untuk pindah kemari.” Sekali lagi Juri
mengucapkannya sebelum perpisahan mereka.
“Oh...” Shou
membalas kosong ucapan Juri. Ia melihat ke langit sore yang kelabu, sepertinya
akan turun hujan.
Yoriko selalu
menjadi bagian dari topik yang dibicarakan Juri. Gadis itu sepertinya selalu
ada di dalam ingatannya. Lucunya, seiring hari demi hari berlalu, gadis itu semakin
melekat di ingatan Shou akan memori-memori aneh yang mereka lakukan.
Pertengkaran, ejekan yang saling mereka lontarkan, tingkah laku Yoriko yang
terkadang membuat Shou keheranan, dan apa yang terjadi di antara mereka
beberapa malam lalu di pohon sakura.
Shou tidak
akan bisa melupakan apa yang mereka lakukan saat hanami malam itu. Bagaimana
mereka saling berbagi rahasia terdalam, yang entah mengapa sangat melegakan
hati Shou ketika ia membaginya bersama Yoriko. Shou tahu Yoriko tidak akan
membicarakan rahasianya dengan orang lain, begitu pun sebaliknya.
Masih
terngiang jelas tawa gembira Yoriko saat mereka berlari bersama menyusuri
taman. Shou tidak pernah mendengar tawa Yoriko yang seperti itu. Selama ini ia
mengira Yoriko adalah gadis berpenampilan suram dan pasti sifatnya tidak jauh
berbeda dari penampilannya. Namun saat ia mendengar tawa itu, rasanya seperti
mendengar anak kecil tertawa lepas dengan bahagianya, seolah anak itu tidak memahami
kejamnya dunia. Sebuah tawa yang Shou tahu hanya untuknya.
Semua itu
tidak akan bisa dijelaskan dengan logika, tidak akan bisa. Tidak akan ada yang
sanggup memahami mereka. Shou merasa semua itu hanya bisa dipahami oleh mereka,
seakan mereka telah menciptakan dunia hanya untuk mereka berdua. Shou tidak
tahu mengapa Yoriko tidak menceritakan apa yang mereka lakukan pada orang lain,
tapi bagi Shou, walaupun ia menceritakannya dan menjelaskannya, orang lain
tidak akan paham atau bahkan tidak akan percaya.
Shou cukup
takut jika perasaan ini hanya dirasakan olehnya, mengingat Yoriko ternyata
lebih dulu mempunyai kehidupan dan dunia berbeda yang dijalani bersama Juri. Tidak
ada satupun orang lain termasuk Shou sanggup memahami dunia mereka.
Bagaimana
jadinya bila Yoriko lebih dulu memiliki perasaan terhadap Juri? Dilihat dari
Juri memerlakukan Yoriko, sepertinya perasaan itu berbalas.
Shou
tertunduk lesu. Dia terlalu cepat berharap. Mungkin seharusnya Shou kembali
saja ke khayalannya yang dulu, dimana dia akan tidak terluka disana. Dimana
sesuatu yang semu menyenangkan dirinya. Dia tidak masalah dengan itu, ia sudah
muak dibanting oleh kenyataan. Lebih baik mundur sebelum kenyataan melakukan pekerjaannya.
“Shou, kau
tidak apa-apa?” Juri memanggil Shou, khawatir sepupunya yang hampir tidak
pernah diam tiba-tiba tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Ya, tentu
saja. Kenapa memangnya?” Shou mencoba bersikap seolah ia baik-baik saja.
“Tidak. Kau mendadak
murung. Ada masalah?” Juri memastikan Shou tidak memiliki masalah yang berarti
sebelum ia pergi.
Shou
mengibaskan tangannya. Ia tersenyum enteng, “Ah, tidak. Aku hanya memikirkan
konser besok. Yah, kau tahulah, rasa gugup terkadang menyerang tiba-tiba.”
“Oh...” Juri
sepertinya percaya. “Kau pasti bisa.”
Shou
mengucapkan terima kasih atas harapan positif yang diberikan Juri. Beberapa
menit kemudian, taksi yang dinanti Juri akhirnya tiba dan berhenti tepat di
depan mereka. Penjaga pintu lobi yang tadi membantu Juri memasukkan
barang-barangnya ke dalam bagasi.
Setelah
semuanya beres, Juri kembali ke Shou dan memeluk erat sepupunya sebagai tanda
perpisahan. “Terima kasih atas bantuanmu.”
“Ya, kau
juga. Semoga kau selamat sampai tujuan.” balas Shou. Mereka saling berjabat
tangan dan bertukar senyum. Namun sebelum Juri masuk ke dalam taksi, ia
menyampaikan sebuah pesan kepada Shou.
“Maukah kau
menjaga Yoriko selama aku pergi?” tanya Juri sambil menatap mata Shou,
memastikan Shou menanggapi pesannya seserius mungkin.
Shou kelabakan.
Mengapa tiba-tiba Juri meminta Shou seperti itu dan apa yang membuat Juri yakin
Shou mau melakukannya?
“Dengar,
mungkin bagimu dia hanya orang lain tapi dia sangat berarti bagiku. Dan hanya
kau yang bisa kupercaya, kau mengerti?” kata Juri lagi.
Shou tidak
yakin dia bisa melaksanakan janji ini demi Juri, tapi ia tahu ia bisa menjaga
Yoriko demi kepentingannya sendiri. “Ya, aku akan menjaganya.”
Shou bisa
melupakan apa yang dipikirkannya tentang Yoriko dan Juri saat konser sudah di
depan mata. Siang itu ia bersama keempat teman bandnya turun dari mobil di
depan pintu belakang live hall, disambut oleh para penggemar mereka.
“Kupikir kita
bisa turun dengan tenang.” Kata Tora setengah jengkel. Dia sedang tidak ingin
konsentrasinya diganggu oleh jeritan penggemar yang memuja mereka.
“Sudahlah...”
Ujar salah satu staf yang duduk satu mobil dengan mereka. “Hanya 5 langkah
menuju pintu kalian tidak perlu lagi mendengar jeritan-jeritan itu.
Shou juga
berpikiran sama dengan Tora. Baginya jeritan fans cukup mengganggunya dan malah
akan memecah konsentrasi mereka. Dia juga sedang tidak ingin melambaikan tangan
ke arah mereka sebagai ramah tamah, dia benar-benar sedang tidak ingin
berpura-pura baik.
Ketika mereka
berlima turun, semakin keras saja jeritan itu. Kebanyakan dari mereka adalah
para gadis, tentu saja. Mereka berpakaian warna warni dan memakai merchandise
Alice Nine seperti kipas, kaus, tas, dan lain sebagainya.
Tora langsung
melesat masuk ke dalam, berpura-pura tidak melihat. Dimana Saga dan Nao yang
selalu bersikap ramah melambai dan menyapa para gadis itu sekilas. Hiroto hanya
tersenyum dan mengangguk ke arah mereka. Sedangkan Shou, dia memakai kacamata
hitamnya dan turun dengan santai tanpa menoleh sedikit pun. Toh para penggemar
dibatasi dengan pagar supaya mereka tidak bisa mendekati Shou dan
teman-temannya, kenapa harus panik?
Begitu di
dalam, mereka menyusuri lorong sebelum sampai ke ruang ganti. Disana telah
menanti Yoriko, yang ternyata sudah menyiapkan seluruh keperluan mereka. Dari
kostum, make up, peralatan musik, sampai makanan dan minuman.
Saat melihat
Yoriko sedang duduk di sudut ruangan sambil menggambar di buku sketsanya, Shou
langsung teringat ia memang harus bertemu Yoriko hari ini, dan ia takut itu
akan memengaruhi dirinya menjelang konser. Gadis itu nampak baik-baik saja dan
samar-samar Shou mendengar Yoriko menyenandungkan lagu yang tidak ia kenal
judulnya.
Shou penasaran
bagaimana reaksi Yoriko saat Juri berpamitan padanya. Apakah gadis itu
baik-baik saja, berpura-pura tidak terlihat sedih di depan Juri, atau malah
menangis? Sekarang bagi Shou seluruh ekspresi dan tingkah laku Yoriko memiliki
arti yang begitu banyak, dia bahkan takut Yoriko akan menjaga jarak darinya
saat mereka berinteraksi. Dia tidak mau ada kecanggungan di antara mereka.
Seruan Tora
yang menyuruh Shou agar cepat-cepat seketika membuat Shou lupa akan masalahnya
sendiri. Sebagai seorang artis dia harus profesional, dia tidak boleh
mengecewakan di depan penontonnya.
Shou
mengambil kostumnya dan secepat kilat mengganti pakaiannya dengan itu. Ia
merasa seperti sebuah boneka yang menurut saja saat juru rias menariknya ke
meja rias untuk ditata. Dari cermin pandangan mata Shou tidak lepas dari
Yoriko. Gadis itu sedang membantu Tora membenarkan jaketnya, setelah itu ia
dipanggil oleh Nao untuk membantunya membawakan peralatan drumnya yang akan
digunakan.
Shou
memerhatikan apapun yang bisa ia lihat dari Yoriko hari ini. Dress hitam,
sepatu pantofel, rambut yang dikuncir dua, kalung salib, gelang-gelang
berhiaskan tengkorak, riasan wajah serba hitam. Yoriko terlihat seperti para
gadis yang menonton acaranya. Tetapi dari awal pertemuan mereka, Shou telah
menangkap sesuatu yang unik dari Yoriko. Sesuatu yang membedakan Yoriko dari
gadis lainnya. Sesuatu yang... menariknya lebih dalam untuk mengenal Yoriko
lebih baik, yang mulanya ia lawan dengan cara memerlakukan Yoriko semena-mena
di depan orang banyak.
Selesai
berdandan, Shou beralih ke teman-temannya yang ternyata sudah siap lebih dulu. Mereka
berlima berkumpul di tengah ruangan, duduk bersama di sofa. Tidak satu pun di
antara mereka mengucapkan sesuatu. Shou tahu mereka semua sama gugupnya seperti
dirinya sekarang. Aneh sekali mereka rasanya sudah ratusan kali melakukan
konser tapi tetap merasakan kegugupan itu.
“Kalian pasti
bisa!” Tiba-tiba suara Yoriko yang ceria mengisi kekosongan. Ia mengambil
tempat duduk persis di sebelah Shou, sehingga Shou semakin merasa gugup. “Kalian
sudah sering latihan, kenapa harus takut?”
“Entahlah,
Yoriko-chan. Rasa gugup tetap saja menyerang kami walau kami sudah melakukan
ini ratusan kali.” Jawab Hiroto. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, dia
mengambil gitar miliknya dan memainkannya.
Mereka
berenam bisa mendengar elu-eluan para penggemar yang sudah menanti di depan
panggung, mengharapkan Alice Nine bisa memberikan pertunjukan istimewa dan
tidak akan terlupakan hari ini.
“Mereka semua
mengharapkan kita yang terbaik bahkan nyaris sempurna. Kau tahu bagaimana
rasanya berjuang memenuhi harapan mereka?” timpal Tora.
Yoriko diam
sejenak. Disaat itulah, Shou sangat ingin merasuki pikiran Yoriko dan membaca
seluruh jalan pikirannya. Apa yang dipikirkan Yoriko mengenai bandnya? Payah?
Hebat? Biasa saja?
Mendengar apa
yang dikatakan Tora, Shou jadi teringat masa lalu saat mereka masih
memperjuangkan band ini. Terasa sangat menyenangkan tetapi juga menyakitkan.
“Memangnya
hal buruk apa yang akan terjadi?” kata Yoriko. “Maksudku, kalian bermain di
depan penggemar kalian. Itu seperti bermain di depan orang tua kalian sendiri,
meski kalian melakukan kesalahan, mereka tidak akan membenci kalian.”
Mungkin
Yoriko tidak tahu kata-katanya barusan menyulut semangat Alice Nine terutama
Shou setelah itu. Shou ingat ayahnya dulu membenci keputusan Shou yang lebih
memilih bandnya daripada mengikuti jejak beliau. Tetapi sekarang, walau ayahnya
masih membenci aliran musik band Shou, ia tahu ayahnya mengoleksi seluruh CD
Alice Nine diantara koleksi lagu-lagu lama milik beliau.
“Yoriko ada
benarnya. Masih ingat kejadian saat Nao jatuh di panggung?” sahut Saga. “Bagi
kita itu adalah kejadian yang sangat memalukan dan penonton menertawakan kita,
tapi mereka tetap datang ke konser kita yang berikutnya, bukan?”
“Kalian manusia
biasa, wajar kalau kalian melakukan kesalahan, bukan?” Yoriko menambahkan.
“Kau hebat,
Yoriko. Kenapa aku tidak pernah terpikir hal itu?” Nao memuji Yoriko.
Yoriko tersenyum
manis. “Aku hanya mengutip kata-kata dari artis kesukaanku.”
Tiba-tiba
mereka mendengar suara pintu diketuk beberapa kali oleh staf yang berkata Alice
Nine sudah harus berada di belakang panggung sekarang.
“Oke! Saatnya
beraksi!” Seru Nao penuh semangat. “Kalian siap?”
Pertanyaan
Nao disambut dengan tidak kalah semangatnya oleh keempat temannya. Shou sekali
lagi melihat ke sampingnya. Yoriko memberikan sebuah senyum kepadanya, isyarat
bahwa Shou pasti bisa melakukan pertunjukannya dengan hebat.
Baru pertama
kali ini hanya dengan sebuah senyuman seluruh kepercayaan diri Shou terkumpul.
Dan hanya dengan sebuah senyuman, telah membuat Shou yakin bahwa dirinya akan
baik-baik saja disana.
Yoriko
mengeraskan volume suara di iPodnya. Bukannya Yoriko membenci lagu-lagu yang
dimainkan Alice Nine atau suara gitar solo Tora yang terdengar sampai di ruang
ganti, dia hanya benci keramaian. Makanya dia mengurung diri di ruang ganti
sambil meneruskan gambarnya.
Yoriko hampir
tidak pernah pergi ke tempat-tempat ramai kecuali beberapa konser band gotik
yang ia sukai. Sisanya ia habiskan di tempat kerja, apartemen, dan gereja. Jika
semua orang berpikir kehidupan Yoriko yang nomaden seru, Yoriko malah terkadang
berpikir sebaliknya. Gerombolan penggemar wanita berpenampilan warna warni yang
tidak pernah lelah menyerukan nama idola mereka, bukanlah salah satu keramaian
yang disukai olehnya.
Tugas Yoriko
sebagai asisten digantikan oleh manajer panggung dan stafnya, Yoriko kini
benar-benar tidak punya sesuatu untuk dikerjakan.
Yoriko
melihat jam dinding. Sudah 1 jam lebih sejak pertunjukan dimulai. Yoriko yakin
kelima temannya sudah melupakan rasa gugup mereka dan bersenang-senang di
panggung saat ini. Memangnya siapa yang tidak senang jika namanya dielu-elukan
dan penampilannya dinanti-nanti?
Tubuh Yoriko
melorot lemas di kursi. Itu berarti masih satu setengah jam lagi sebelum konser
selesai.
Namun sebelum
ia mati kebosanan, ia mendengar suara ribut dari balik pintu meski volume
iPodnya sudah dikeraskan. Beberapa detik kemudian, pintu dibuka dan masuklah
empat anggota Alice Nine, dalam keadaan basah kuyup oleh keringat namun senyum
dan tawa tidak lepas dari wajah mereka.
“Kenapa kau
masih disini, Yoriko-chan? Kupikir kau menonton kami dari balik panggung!” kata
Nao keheranan.
Yoriko
melemparkan handuk kecil ke arah Nao dari dekatnya dan menjawab, “Aku sedang
tidak ingin. Lagipula aku sudah sering melihat kalian latihan.”
“Kau yakin?”
Tora berjalan mendekati Yoriko dan mengambil sebotol air mineral.
“Yakin. Lalu,
mengapa kalian disini? Kalian memiliki jeda atau semacamnya?”
“Tidak juga.
Setelah ini Shou akan tampil solo, seorang pianis akan mengiringi lagu yang
akan dia nyanyikan.” Jawab Saga. “Kau masih yakin tidak ingin melihatnya
bernyanyi sendirian? Kelihatannya dia berhasil menyihir seluruh penonton karena
itu, lho.”
“Sejak kapan
Shou bisa tampil solo?” Yoriko kaget. Shou akan tampil solo? Dia sudah lama
bekerja untuk mereka dan Yoriko baru tahu Shou pernah bernyanyi sendirian di
panggung?
“Kau baru
tahu ya? Tidak heran, selama ini untuk latihan solo dia lebih memilih latihan
sendiri bersama guru vokalnya. Dan kau pulang lebih dulu saat gladi resik
kemarin, jadi...” Hiroto menjelaskan.
“Oh...”
Yoriko mulai tertarik. Mau tidak mau Yoriko harus mengaku kalau ia sangat
penasaran melihat penampilan solo Shou.
Seolah
membaca pikiran Yoriko, Tora menepuk punggung Yoriko dan berkata, “Kalau kau
ingin melihatnya, cepat keluar. Sebentar lagi akan dimulai!”
Yoriko pergi
ke sisi panggung, dimana ia bisa melihat penampilan Shou dengan jelas dari
samping tanpa terhalang oleh penonton. Disaat itulah dia melihat Shou akan
memulai penampilan solonya.
Cahaya
panggung dibuat redup dan sebuah lampu sorot berwarna putih diarahkan kepada
Shou dari atas, seakan cahaya dari surga ingin memberkati penampilan Shou yang
anggun. Dari tempatnya berdiri, Yoriko bisa melihat hampir seluruh penonton
terpukau olehnya.
Sekarang
barulah Yoriko sadar.
Ia akan
ditunjukkan sisi lain dari Shou yang belum pernah dilihatnya.
Sang pianis
mulai memainkan lagunya. Yoriko tidak menyangka lagunya ternyata sangat klasik.
Pelan tetapi merdu, penuh gelora namun disaat sama juga lembut, temponya lambat
namun mendayu, bagaikan nyanyian sebelum tidur.
Shou
menyanyikan bait pertamanya. Tentang dua orang yang terpisahkan oleh sebuah
jarak, semuanya terlukiskan oleh bayang-bayang akan langit malam, sinar bulan,
dan cahaya bintang.
Terdengar
seperti bukan tipe lagu yang seorang Shou akan nyanyikan, namun pria itu
membawakannya dengan segenap perasaannya. Seulas senyum terukir di wajah yang
baru sekarang Yoriko akui terlihat sangat tampan tertuju pada seluruh
penontonnya.
Lagu yang
bercerita tentang mimpi, harapan, dan sebuah perpisahan yang akan dipertemukan
kembali. Bolehkah ia berharap lagu itu ditujukan kepadanya?
Sekarang ia
melihat Shou sebagaimana harusnya. Shou sebagai dirinya sendiri, bukannya
bayangan atau refleksi seseorang yang tidak nyata. Shou yang tetap bersinar di
bawah cahaya namun tetap bisa menjadi dirinya sendiri.
Mengapa
membutuhkan waktu selama ini bagi Yoriko untuk menyadarinya?
Lagu yang
lembut itu semakin terasa membara dan nyaris membuat Yoriko menangis saat
mencapai chorusnya. Ia turut melantunkan lagu itu bersama Shou dari sana,
seolah mereka bernyanyi bersama di atas panggung.
Ketika Yoriko
terbuai ke langit oleh nyanyian Shou, suara Tora membawanya kembali ke bumi.
“Kau suka, ya?”
Melihat Tora
berdiri di sampingnya, Yoriko jadi merasa malu sendiri. Apakah Tora tadi
mendengarnya menyanyi sangat keras? “Eh... i... iya, kurasa...”
Tora
mengacak-acak rambut Yoriko karena gadis itu menjawab malu-malu. “Tenang saja.
Aku tidak akan memberitahu Shou.”
“Apakah dia
selalu seperti ini saat menyanyi?” Yoriko hampir melontarkan kata memesona di
sela ucapannya.
“Maksudmu
sampai membuat seorang gadis yang tidak pernah peduli pada Shou jadi berpaling
kepadanya sekarang? Ya, dia memang selalu seperti itu.” jawab Tora terkekeh.
Bibir Yoriko
merengut mendengar candaan Tora. Untuk soal itu, tidak bisa dijelaskan karena
selama ini Yoriko selalu peduli pada Shou dari sudut pandang yang berbeda. “Aku
tidak pernah menyangka dia bisa menyanyi begitu... lembut dan menenangkan.”
Tora
mengangguk paham. “Lalu, apa setelah ini kau akan memuji penampilannya?”
Yoriko
tersenyum sendiri. Mungkin dia akan melakukannya.
“Berhubung
kau tidak akan cerita pada Shou soal ini, bolehkah aku berkata lagu ini seakan
dinyanyikan untukku?”
“Aku tidak
tahu. Kalau hatimu berkata seperti itu, mungkin ada benarnya.” Jawab Tora tanpa
menghakimi sedikit pun. “Hanya kau wanita terdekat yang dikenal Shou setelah 4
tahun berlalu...”
Yoriko
kembali menikmati apa yang dilihatnya. Bait terakhir yang dinyanyikan entah
mengapa sangat menyentuh jiwa Yoriko. Mengisyaratkan mereka akan hidup bersama
demi satu sama lain.
If you decide to live, I will live too
Ketika lagu
itu selesai dan semua orang bertepuk tangan kepadanya, Shou membungkukkan
badannya, memberi hormat kepada mereka. Tanpa mengetahui seorang gadis yang
terpana berdiri tidak jauh darinya juga turut memberinya apresiasi sama, karena
Shou telah memberikan harapan kepadanya.
Konser dengan
meriah ditutup dengan memberi hormat kepada penonton yang bahagia dari kelima
personel Alice Nine. Konser pada hari itu bisa dibilang sukses besar berkat
jerih payah mereka.
Yoriko
menyambut kedatangan mereka di ruang ganti dengan meriah. Ia menghujani mereka
dengan pujian sembari membantu mereka membersihkan diri setelah konser. Walau
ia telah memberikan banyak pujian kepada Alice Nine, dia masih belum bisa
menyapa Shou dan berkata dia telah memberikan penampilan yang memengaruhi diri
Yoriko sepenuhnya.
“Bagaimana
kalau setelah ini kita berpesta di rumah Shou?” Nao tiba-tiba memberi sebuah
usulan menarik setelah konser.
“Boleh juga.
Kita hanya perlu mampir ke minimarket untuk membeli bir dan makanan ringan.”
Tora tidak keberatan.
“Aku ikut!
Tapi mungkin aku akan menghabiskan sebagian waktu dengan tidur...” sahut Saga
sambil menguap karena kelelahan.
“Kalau begitu
kita menginap saja sekalian. Bagaimana?” kata Nao. “Hei, Shou! Kau mau tidak?”
Shou masih
membersihkan riasan wajahnya di depan cermin dan menjawab, “Terserah kalian
saja. Tapi aku tidak mau menyiapkan futon untuk kalian.”
Sepertinya
Nao tidak keberatan dengan syarat yang diberikan Shou. “Yoriko-chan. Kau mau
ikut?”
“Eh? Apa?”
Yoriko mendadak gugup. Kenapa dia juga diajak berpesta? Di rumah Shou, pula.
Apa tidak akan menciptakan suasana yang sangat canggung nantinya? “A... aku...”
Sebelum
Yoriko bisa memberikan jawaban yang pasti, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita
muncul di depan pintu dan berseru kepada mereka dengan riang. “Selamat untuk
konser kalian!”
Yoriko
terpaku begitu tahu wanita itu adalah atasannya sendiri, Avaron Yutaka.
“Wah, terima
kasih, Avaron!” Tora menyambut teman lama mereka. Ternyata Avaron benar-benar
akan datang sesuai janjinya.
“Hei,
Yoriko!” wanita itu menyapa Yoriko tanpa menyadari kehadirannya perlahan
mengoyak harapan Yorio.
“Halo,
Avaron-san...” balas Yoriko dengan sikap canggung. “Sedang apa anda disini?”
“Sesuai
undangan Shou beberapa bulan lalu...” Avaron melirik Shou yang sekarang sedang
memerhatikan kedatangannya. “Aku menonton mereka berlima dan mendapat akses ke
belakang panggung. Sudah lama aku tidak melihat mereka tampil!”
“Oh...” hanya
itu yang bisa Yoriko katakan. Dia tidak sanggup memiliki prasangka buruk
terhadap wanita baik yang telah menolongnya, tetapi harus ia sadari kehadiran
wanita ini hanya akan membuatnya terluka.
Terlebih ketika
Avaron terlihat begitu dekat dengan Shou. Shou memberikan senyuman sama yang pernah
ia berikan untuk Yoriko pada malam itu, di atas pohon sakura. Nao dan yang lain
turut bergabung, terdengar mereka sedang membicarakan kenangan masa lalu.
Kenangan indah sebelum kehadiran Yoriko, dan sepertinya mereka tidak repot-repot
ingin mengajak Yoriko bergabung.
Tahu
keberadaannya tidak berarti lagi, Yoriko mengemas barang-barangnya. Sambil
menyesali dirinya sendiri, mengapa ia terlalu berharap. Lagu itu tidak akan
pernah dinyanyikan untuknya, Shou pasti tahu Avaron berada di antara penonton melihat
penampilannya, dia pasti menyanyikan lagu itu untuk wanita itu.
Yoriko paham,
Avaron memang pantas menerima pujian sebesar itu. Yoriko saja yang tidak tahu
diri dan muncul di antara mereka berdua.
Ketika Yoriko
hendak membuka pintu dan beranjak pergi, ia mendengar Nao memanggilnya. “Lho?
Kau mau pergi kemana, Yoriko-chan?”
Pertanyaan
itu diiringi oleh pandangan ingin tahu dari yang lain termasuk Shou dan Avaron.
Tetapi Yoriko tidak ingin berlama-lama disana untuk mencari tahu alasannya.
“Aku... ingin pulang. Sudah malam.”
“Kenapa kau
ingin pulang? Setelah ini ada pesta di rumah Shou, masa kau tidak mau datang?”
tanya Tora.
“Maaf, aku
tidak bisa datang...” jawab Yoriko tidak enak hati. Dia mencoba mencari alasan
untuk menutupinya. “Besok pagi aku masih harus bekerja, aku tidak ingin
terlambat.”
“Kalau kau
tidak ingin menginap aku bisa mengantarmu pulang.” Bujuk Tora agar Yoriko tidak
mau pergi.
Yoriko
tersenyum, menghargai kebaikan Tora. Namun tetap saja ia tidak bisa menerima
ajakan mereka. “Maaf, aku tidak bisa. Avaron-san, semuanya, aku pulang dulu.
Terima kasih...”
Tanpa
menunggu reaksi yang lain, Yoriko langsung keluar dan menutup pintu ruangan
sebelum mereka menghujaninya dengan berbagai pertanyaan lagi. Yoriko menghela
napas, tidak menyangka ia akan keluar dari gedung ini dengan perasaan putus
asa.
Ketika ia
keluar dari live hall, masih banyak penggemar Alice Nine menunggu disana.
Sepertinya mereka menanti kelima idola mereka keluar dari gedung untuk
mengucapkan sampai jumpa.
Lagi-lagi
Yoriko merasa sendirian di tengah keramaian. Dulu ia terbiasa sendiri dan ia
menyukainya karena tidak akan ada yang menyakitinya. Tetapi sekarang...
Saat ia
mengancingkan jubahnya, ia mendengar langit malam bergemuruh lalu menurunkan
hujan. Hujannya tidak terlalu deras, namun cukup banyak orang di sekitar Yoriko
membuka payung mereka. Yoriko ingat malam yang sama seperti ini bersama Juri.
Sekarang pria yang sudah seperti kakaknya sendiri kini berada di tempat jauh
dan Yoriko tidak tahu harus berbicara pada siapa sekarang.
Siapa yang
akan mau mendengar Yoriko berkata bahwa ia mulai mencintai Shou apa adanya?
Siapa yang tidak
akan menertawakan bila Yoriko berkata kemungkinan besar ia tidak akan
mendapatkan orang yang ia cintai?
Yoriko pun
lagi-lagi berusaha menahan air matanya untuk mengalir di tengah hujan meski ia
tahu itu tidak akan bertahan lama. Ia menutupi kepalanya dengan tudung jubahnya
dan mulai menyusuri jalan, berharap ia akan sampai ke rumah lebih cepat.
halo, Mbak Tasya :D
ReplyDeletemau sekadar saran aja, Mbak. coba Mbak ngepost tulisan-tulisan Mbak ke kemudian.com, pasti dibaca dan dikasih komentar yg bakal membantu Mbak dlm menulis. saya juga penasaran, pengin baca tulisan Mbak di sana, hehe :3
atau malah Mbak sudah tahu dan join kemudian.com? :D
belum. aku kurang tau banyak soal situs kayak gitu. aku lebih suka pake blogspot soalnya aku ngerti ngurusnya gimana. hehe. makasih sarannya, nanti aku coba bikin akunnya :)
Delete