Thursday, September 26, 2013

The Delusion (20)

20

Malam itu Tora sengaja menginap di apartemen Shou sesuai pesan teman-teman bandnya untuk segera menanyai Shou ketika ia pulang dari kencannya dengan Yoriko, atau makan malam biasa, sesuai dengan yang Shou berkali-kali tegaskan.

Tora mengambil mi instan dari lemari dapur dan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser untuk makan malam. Dia menggerutu, seharusnya ia menyuruh Shou memasak sesuatu lebih dulu sebelum pergi.

Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Kalau hampir selarut ini, itu berarti ada kemajuan di antara pasangan konyol itu. Itu juga berarti Tora harus menunggu seperti seorang ayah yang cemas mengapa anaknya belum pulang selarut ini sambil menonton salah satu koleksi DVD film Shou.

Tetapi saat dia baru saja film yang ingin ditontonnya dimulai, dia mendengar seseorang membuka pintu apartemen. Masuklah Shou yang melempar kunci dan jaket yang dibawanya sekenanya di sofa dan meja, membuat Tora keheranan terlebih lagi raut wajah sahabatnya tidak sesuai yang diharapkannya.

“Kencanmu gagal?” tanya Tora.

Namun Shou hanya menggerutu tidak jelas dan berjalan ke dapur, kembali sambil meneguk sekaleng bir dingin di tangannya. Tora memanggil namanya lagi untuk meminta kejelasan.

“Itu bukan kencan.” Shou berkata ketus. “Kalaupun memang kencan, tidak seharusnya gadis aneh itu membicarakan orang lain.”

“Ng?” Tora mengerutkan dahi. “Memangnya Yoriko membicarakan siapa?”

“Juri.” Jawab Shou sambil meneguk birnya lebih banyak lagi ketika ia terpaksa menyebut nama yang menjengkelkan itu. “Entah dia tidak memiliki topik lain atau terlalu bersemangat membicarakan orang aneh itu.”

“’orang aneh’?” Tora tidak mengerti. “Setahuku kalian sudah berdamai.”

“Orang itu sudah jauh berada di ujung dunia sekarang, tetapi kenapa Yoriko masih saja membicarakan dia? Aku memiliki banyak topik yang bisa dibicarakan. Seperti kafe aneh tempat kami makan tadi, misalnya? Memangnya siapa yang peduli dia dan orang aneh itu sering makan bersama disana, di altar Bunda Maria?” Shou terus berbicara panjang lebar.

Mendengar omelan Shou yang sepertinya tidak akan pernah habis itu, Tora mengambil kesimpulan, “Kau cemburu pada Juri, ya?”

Pandangan Shou mendadak jadi sengit pada Tora. Penuh pengelakan ia menjawab, “Tidak. Kenapa kau berkata begitu?”

“Jelas sekali, Shou.” Tora tertawa karena tidak percaya. “Kau cemburu pada orang yang mampu membuat Yoriko terus berbicara tentangnya padahal saat ini orang itu berada di ujung dunia dibanding dirimu yang tepat di depannya.”

“Menurutmu Yoriko jatuh cinta pada Juri?”

Tora menjawab dengan ragu, “Mungkin, kalau dia bisa terus membicarakan orang itu selama kencan kalian berlangsung.”

Shou mendesah kecewa. Ia membanting dirinya di sofa dan mengambil remote DVD. “Kau memutar film apa?”

The Empire Strikes Back.” Tora menyebut salah satu film dari trilogi Star Wars.

Shou tersenyum. Film yang cocok untuk mengobati kekesalannya sekarang. Sambil mengulang film itu dari awal, ia berkata pada Tora, “Jadi pertanyaan kalian terjawab, bukan? Tidak ada yang terjadi di antara aku dan gadis gotik itu, dan tidak akan pernah terjadi.”

“Belum tentu begitu.” sanggah Tora dengan nada optimis. “Dia bisa saja terus membicarakan Juri karena dia tidak tahu apa yang bisa dibicarakan denganmu.”

“Huh?”

“Satu-satunya hal yang berhubungan dengan kalian adalah Juri. Kau bodoh jika kau menganggap pertemanan sepupumu yang jauh dari London dan Yoriko yang bisa muncul dari mana saja hanyalah kebetulan.” Tora menjelaskan.

“Maksudmu takdir?” Shou mencoba menangkap arti penjelasan Tora. Jika benar takdir, maka itu bukanlah untuk Shou. Bagi Shou pertemuan mereka berdua tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan malah terlihat seperti Shou menghalangi jalan mereka.

“Kau sudah melangkah jauh, Shou.” Ujar Tora. “Kenapa kau harus menyerah? Terlebih lagi, aku harus menanyakanmu ini. Mengapa kau berani melakukannya?”

Shou diam saja. Tadinya ia berpikir ia memberanikan diri mempertaruhkan perasaannya yang sudah lama membeku hanya untuk teman-temannya yang penasaran. Dia merasa tidak ada salahnya melihat kemungkinan yang terjadi di antara mereka meski ia tahu hasilnya sama seperti ia mencelupkan jarinya ke dalam cairan asam belerang, melepuh sia-sia.

“Dulu semuanya terasa baik-baik saja.” kata Shou. “Apa yang terjadi padaku?”

“Karena sadar tidak sadar, kau juga harus bangkit, Shou. Kau tidak harus terpuruk oleh masa lalumu.” Jawab Tora.

“Tidak.” Shou menyangkal. “Untuk apa aku terus berusaha kalau aku sudah tahu hasilnya akan seperti apa? Bisa jadi perasaanku yang sekarang hanyalah pelarian.”

“Jangan berkata seperti itu, Shou.” Tora sudah bisa menangkap yang dimaksudkan Shou. “Wanita itu sudah menikah, jika kau harus menyerah, seharusnya kau melakukannya sekarang terhadap perasaanmu kepadanya.”

Shou malah berpikir sebaliknya. Lebih baik ia mengenang masa lalunya, segala hal yang dilakukannya bersama wanita itu, dan terus mengingat bahwa dia akan terus mencintainya. Semua itu terasa lebih indah dan tidak akan pernah menyakitkan. Tidak jadi soal jika Yoriko dan Juri ditakdirkan bersama, Shou akan turut berbahagia untuk mereka bersama khayalannya.

Setelah mengutarakannya, Tora memandang Shou dengan sinis. “Itu berarti kau akan mengulang kesalahan yang sama.”

“Bukan kesalahan jika kau tidak pernah melakukannya.” Ujar Shou. “Sudah jelas hasilnya akan buruk jika aku meneruskannya.”

“Kau tidak akan pernah tahu jika kau terus terjebak di dalam kotak imajinasimu, Shou. Ingat bahwa semua itu bisa menipumu.” Tora memperingatkan. “Kau tahu salah satu hal yang membuatku kesal pada orang banyak?”

Shou tahu Tora bukanlah tipe orang yang bisa berbaik hati pada semua orang, itulah mengapa ia merasa beruntung ketika Tora menganggap dirinya sebagai salah satu sahabat terbaiknya. “Apa?”

Kata-kata Tora pun mengalir bagaikan hujan es. “Ketika mereka yang menyerah lebih dulu karena mereka lebih dulu melihat seberapa jauh perjalanan mereka di depan daripada melihat seberapa jauh yang telah mereka capai.”

 ***

Malam ini terasa sangat ajaib. Judy tidak ingat dan tidak pernah merasa ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Sebagian waktu hidupnya ia habiskan sendirian, tidak ada orang berarti memasuki kehidupannya dan mengubah dirinya karena ia tidak pernah mengizinkan mereka. Baginya hidup sendirian tidak akan membuat dirinya harus memakai topeng dan melakukan apa yang orang lain inginkan. Ia tidak harus menderita dan merasakan perubahan yang menyakitkan.

Tetapi untuk perubahan yang satu ini, dimana seseorang kini menggenggam tangannya begitu erat, memastikan Judy tidak akan terlepas darinya, adalah sebuah perubahan yang ia bisa terima.

Ia dan Spencer berjalan menyusuri trotoar menuju rumah Judy. Mereka bersenang-senang pada malam itu, menonton film laga kesukaan mereka, makan malam di sebuah restoran cepat saji, bermain ice skating di arena terdekat. Malam itu mereka benar-benar melupakan kasus dan menjadi orang biasa. Seluruh dunia bisa tahu mereka saling mencintai walau tidak satupun kata terucap dari bibir mereka.

Judy mencuri pandangan pada pria di sampingnya, terlepas dari seluruh tawa dan canda yang mereka habiskan semalaman, Judy masih belum bisa mengetahui apa yang dipikirkan Spencer saat ini. Apa arti di balik senyumannya yang tak pernah memudar? Kenapa Spencer tidak mengizinkannya melepas genggaman tangan mereka?

“Spence...” panggil Judy. Spencer bergumam sebagai respon.

“Apa kau senang?” tanya Judy berdebar.

“Kau juga?” Spencer menjawab singkat tapi sanggup meluluhkan hati Judy.

“Ya, te... tentu saja...” Judy tertawa pelan agar menutupi rasa gugupnya.

Spencer kembali tersenyum. Judy memutuskan tidak berkata apapun agar rasa gugup dan bahagia tidak terlihat oleh Spencer, meski tampaknya Spencer telah menyadarinya. Judy ingin menikmati momen ini dalam diam, memastikan segalanya bukanlah sekadar mimpi dan ia tidak akan terbangun di ranjangnya yang berantakan di dalam kamar yang dingin dan monoton, sendirian.

Ketika mereka sampai tepat di depan pintu gedung apartemen Judy, disaat itulah keajaiban sebenarnya terjadi.

Spencer memberikan sebuah ciuman manis di bibirnya, sebuah ciuman selamat malam yang tidak akan pernah ia lupakan.

Jika ini adalah mimpi, Judy pasti sudah bangun sekarang.

...

*** 

“Kau yakin, Yoriko?” tiba-tiba Hitomu mengagetkan Yoriko dari belakang, menghentikan kegiatan menulisnya.

“Yakin apa?” ia menoleh ke Hitomu yang memberikan raut khawatir di wajahnya.

“Semalam kau cerita padaku akan menyatakan perasaanmu pada Shou? Apa kau sudah yakin dengan itu?” tanya Hitomu lagi.

Yoriko tidak paham. Mengapa Hitomu terlihat tidak senang seperti dugaan Yoriko. Tidak biasanya Hitomu yang biasanya mendukung segala keputusan atau apapun yang dilakukan Yoriko menjadi seperti ini.

“Tentu saja aku yakin. Kurasa, lebih baik kunyatakan saja daripada mengganjal terus-menerus di hatiku.” Jawab Yoriko tidak seyakin kedengarannya. “Kenapa, Hitomu? Apa menurutmu itu hal yang buruk?”

“Ngg... tidak... aku hanya memastikan kau sudah benar-benar yakin atau tidak. Kau tahulah, baru sekarang kau tertarik pada seorang pria.” Namun alasan Hitomu juga tidak sejujur kedengarannya.

“Oh... Hitomu.” Yoriko mengerti kenapa Hitomu seperti ini. Ia pun menarik pemuda itu ke pelukannya. “Meski begitu kau tetap sahabat terbaikku.”

“Kuharap kau bahagia dengannya, Yoriko-chan...” ujar Hitomu pelan.

Yoriko menghela napas dan tersenyum. Jika itu adalah harapan terbaik yang bisa sahabatnya berikan untuknya, ucapan terima kasih tidak akan cukup untuk membalasnya. Namun pada akhirnya dengan tulus ia mengucapkannya juga.

“Aku harap kita bisa tetap berteman seperti ini, Hitomu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita.” Bisik Yoriko. Dan kemudian ia bisa merasakan Hitomu tersenyum di pelukannya.

“Yoriko!!!” teriakan Aya dari balik pintu apartemennya melepaskan pelukan Yoriko dari Hitomu.

“Aya sudah datang. Aku akan pergi sekarang, Hitomu.” Yoriko berdiri dan berpamitan sambil mematikan laptopnya.

“Ya, hati-hati, Yoriko-chan.” Pesan Hitomu.

Yoriko bergegas menuju pintu untuk membukanya. Dilihatnya Aya berdiri di depannya dalam keadaan rapi dan manis. Rok mini berlapis legging yang dipakainya cocok untuk menyambut musim panas yang sebentar lagi datang.

“Ayo, kau sudah siap?” tanya Aya terburu-buru, tidak ingin mereka terlambat ke pesta yang diadakan Avaron nanti sore.

“Ya, tunggu sebentar.” Yoriko kembali masuk ke dalam untuk mengambil jubah dan tas tangannya lalu keluar dari apartemen.

Saat mereka berjalan keluar dari apartemen, Aya mulai menggoda Yoriko, “Kau sudah siap dengan pengakuan cintamu nanti malam? Hihihi...”

Pipi Yoriko memerah padam karena malu. Dia tidak akan pernah siap mengaku di depan Shou, terlebih rasanya setelah makan malam bersama pria itu Yoriko merasa Shou menjaga jarak darinya. Harus Yoriko akui ia sangat gugup saat itu, ia sungguh tidak tahu topik apa yang harus dibicarakan sehingga ia hanya membicarakan satu-satunya hal yang berkaitan dengan mereka, yaitu Juri. Juri pernah bercerita hubungannya dengan Shou mulai membaik, jadi Yoriko berpikir tidak ada salahnya ia membicarakan sepupu Shou yang dirindukannya itu.

Di sisi lain, Yoriko menaruh harapan besar untuk malam ini. Menurut Aya, jika Yoriko yang terus membicarakan Juri membuat Shou menjaga jarak darinya, itu berarti ada kemungkinan perasaan Yoriko terbalas.

Harapan itu sangat besar sampai Yoriko menuangkannya dalam tulisannya sendiri. Seperti Spencer yang akhirnya bisa melupakan perasaan lamanya dan pada akhirnya melihat Judy. Walaupun dia tahu kisah cintanya tidak akan sesempurna dua tokohnya itu, ia tidak bisa melepaskan harapan bahwa Shou akan memberikan ciuman manis ketika malam mereka sudah berakhir.

Mereka menaiki bus menuju komplek perumahan dimana keluarga Yutaka tinggal. Rumah sederhana yang sangat asri dan terasa sangat damai karena keharmonisan keluarga yang tinggal di dalamnya. Sebuah kehidupan indah yang Yoriko pikir tidak akan pernah ia dapatkan.

Kedatangan mereka disambut oleh Avaron dan Yukio di pintu rumah. Ibu dan anak itu menyapa mereka dengan riang.

“Kalian datang tepat waktu! Macaroni panggangnya baru saja keluar dari microwave!” sambut Avaron.

“Kedengarannya lezat, Avaron-san!” seru Aya tidak kalah senangnya. Ia beralih ke Yukio dan menggendong anak yang sudah seperti adiknya sendiri. “Halo, Yukio-chan!!”

Yukio menyambut Aya dengan senyum polosnya yang tidak pernah hilang. Yoriko hanya tertawa melihat keceriaan di depan matanya. Semuanya berpakaian cerah dan tidak melepas senyum mereka untuk acara kecil ini, Yoriko merasa seperti sepotong kegelapan di bawah cahaya, masih tidak menyangka dia adalah bagian dari semua ini.

Yoriko memberikan kotak berisi hadiah darinya dan Aya yang mereka beli saat dalam perjalanan ke rumah atasan mereka. “Selamat ya, Avaron-san.”

“Oh... kalian manis, sekali...” Avaron tampak terharu dan berterima kasih menerima hadiah kecil itu. “Ayo, masuk. Sebentar lagi makan malam akan siap dan aku ingin kalian membantuku sebelum para cowok datang.”

“Para cowok?” tanya Aya ketika mereka menyusuri lorong rumah menuju dapur.

“Kai sedang mengurus sesuatu tentang bandnya sebentar di studio. Shou mengirimiku e-mail dia akan datang tidak lama lagi.” Jawab Avaron dan secara tiba-tiba ia menoleh ke Yoriko. “Kau tidak gugup kan, Yoriko-chan?”

“Ma... maksud anda?” Yoriko berpura-pura tidak mengerti.

“Aku menyuruhnya sedikit berpenampilan... tidak biasanya untuk malam ini karena acara ini sangat istimewa.” Kata Avaron. Tentu saja istimewa. Kapan lagi ada perayaan kehidupan baru yang akan hadir di antara mereka disaat sebuah cinta baru mulai bersemi?

“Anda sudah menyiapkan kantung beras yang kuminta?” tanya Aya antusias. Sepertinya kedua wanita ini sudah sangat siap untuk merayakan bila Yoriko dan Shou sudah jadian.

“Semua sudah siap!” jawab Avaron mantap. “Kalau sudah resmi jadian, kita tinggal lempari mereka dengan itu seperti saat kau melempariku dengan beras di hari pernikahanku.”

Mendengar itu pipi Yoriko kembali memerah. Avaron dan Aya langsung menertawakannya begitu mereka menyadarinya.

Avaron meminta mereka menata peralatan makan dan menu makanan yang akan dihidangkan di meja. Tidak lupa mereka menyetel lagu-lagu ceria seperti lagunya Sweet Thing, Natasha Bedingfield, dan Lenka untuk menebarkan aura optimis di seluruh rumah.

Yoriko sedang menata sendok dan garpu di meja makan ketika ia mendengar bel rumah berbunyi.

“Yoriko, buka pintunya. Itu pasti Shou!” suruh Aya di sampingnya.

“Tapi itu bisa saja Kai-san...” jawab Yoriko sehingga membuat Aya kesal.

“Mana ada orang membunyikan bel pintu rumahnya sendiri.” Kata Aya. “Ayo, cepat buka pintunya sebelum kutendang kau!”

Yoriko tergelak melihat betapa gemasnya Aya kepadanya. Ia akhirnya menyerah dan berjalan ke pintu depan sebelum Aya menendangnya. Bel rumah dibunyikan lagi sebagai tanda sang tamu sudah tidak sabar menunggu di depan.

“Ya, sebentar!” seru Yoriko.

Disaat ia membuka pintu rumah, keajaiban rasanya menyelimuti diri Yoriko. Tepat di depannya berdirilah Shou, yang berpenampilan tidak seperti biasanya sesuai permintaan Avaron. Kaus bergambar tokoh anime favoritnya berlapis kemeja kotak-kotak biru dan celana jeans, Shou yang selalu memakai sneakers mengingatkannya pada Spencer yang selalu mengenakannya meski ia sedang dalam tugas.

Sempat terjadi kecanggungan di antara mereka saat Yoriko masih terpana oleh sosok pria tinggi yang tampan di hadapannya dan Shou yang bertanya-tanya mengapa ia tidak dipersilakan masuk.

“Ngg... ya, ya! Masuk saja, Shou!” Yoriko akhirnya sadar saat Shou memberinya tatapan tajam. Apakah benar pria ini yang akan ia berikan pernyataan cintanya?

Shou bersikap seperti Shou yang biasanya. Ia melepaskan sepatunya dengan sekenanya di teras sampai Yoriko harus membetulkannya. Cara berjalannya seperti ia tidak peduli pada dunia di sekitarnya. Sebuah ciri khas yang menyeret Yoriko untuk belajar mencintainya.

Avaron dan Aya menyambut kedatangan Shou di ruang makan. Begitu juga Yukio yang sudah duduk manis di kursi bayinya. Shou hanya membalas sapaan mereka sekilas dan duduk di kursi meja makan. Yoriko yang berdiri di ambang pintu mendapat pesan isyarat dari Aya yang masih menata meja makan untuk mengajak Shou mengobrol.

Sambil berusaha menghilangkan rasa gugupnya, Yoriko mencoba menyanggupi suruhan Aya tersebut.

“Hei...” Yoriko menyapa Shou dan mengambil duduk di seberangnya. “Apa kabar?”

“Aku baik-baik saja.” jawab Shou.

“Kalau kau baik-baik saja...” Yoriko ragu untuk membahas ini atau tidak karena takut menyinggung Shou. “kenapa kau terlihat murung?”

“Kau bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak, bukannya aku bahagia atau tidak.” Jawab Shou ketus.

“Oh... begitu, ya...” Yoriko tertawa canggung. “Ngomong-ngomong, terima kasih kau sudah datang kemari.”

Namun Shou ternyata memiliki pertanyaan besar yang belum terjawab. “Kalian mengadakan pesta ini untuk merayakan apa?”

Yoriko menjawab pertanyaan Shou dengan sebuah kedipan mata dan senyum yang membuat Shou semakin penasaran. “Nanti kau juga tahu.”

“Sudahlah, katakan saja.” kata Shou tidak sabar. “Memangnya salah satu dari kalian ada yang berulang tahun hari ini?”

Yoriko tertawa mendengar tebakan Shou yang asal-asalan itu. “Kau pasti akan sangat kaget kalau kau tahu. Dan kami ingin sekali melihat wajahmu yang kaget itu nanti.”

Shou menggerutu dan mencibir tidak jelas. Jelas sekali hari ini dia sedang tidak ingin mendapat kejutan atau apapun. Dia hanya ingin menyelesaikan semua ini dan segera pergi.

“Lagipula...” tiba-tiba Yoriko meneruskan dengan kepala tertunduk. “setelah itu aku ingin berbicara tentang sesuatu denganmu...”

Dari cara bicara Yoriko, tampaknya ia akan membicarakan sesuatu yang serius dan Shou juga ingin tahu apa itu. Tetapi sebelum Shou bisa bertanya sesuatu apa yang Yoriko maksud, mereka mendengar suara Kai yang baru pulang dari pintu masuk. Avaron keluar dari dapur untuk menyambut suaminya dan berjalan bersama ke ruang makan.

“Semua sudah selesai dan Kai pulang tepat pada jam makan malam. Ayo, kita mulai pestanya!” kata Avaron.

*** 

Makan malam berlangsung dengan sangat ramai dan menyenangkan. Kai bercerita banyak hal tentang bandnya dan dengan sangat antusias memberitahu ia menemukan beberapa variasi drum yang akan ia gunakan untuk lagu-lagu barunya nanti.

Mereka juga sering menggoda Yukio dan merangsang anak itu untuk berbicara dan setiap kata yang diucapkannya selalu lucu dan mengundang gelak tawa. Sebagai hadiah karena ia bisa mengatakan kata terima kasih dan tolong kepada Avaron yang telah memberinya makan, ia mendapat hadiah permen lolipop berwarna-warni dari sang ibu.

Namun tidak semuanya tampak bahagia di meja makan tersebut. Sedari tadi Yoriko mengamati Shou tidak menunjukkan sebuah senyuman pun kecuali diminta. Seperti perjumpaan mereka pertama kali tepat di ruangan ini dan di meja yang sama.

Yoriko mencoba memberanikan diri bertanya pada Shou apa ada sesuatu yang salah atau semacamnya yang membuatnya nampak murung. Tetapi sedikit pun Yoriko tidak memanggil nama Shou sekali lagi setelah pria itu memarahinya sebelum makan malam tadi.

“Nah, berhubung makan malam sudah selesai, kami ingin mengumumkan sesuatu.” Avaron berdiri dengan wajah berseri-seri. Semua pandangan mata kini tertuju padanya.

Yoriko mencuri pandangan dari Shou. Mata pria itu berbinar ketika melihat Avaron tersenyum di depannya. Bagi Yoriko, itu adalah sesuatu yang mulai menusuk dirinya, membuatnya mulai mempertimbangkan kata-kata Hitomu tadi sore.

Tetapi ia terlalu teralihkan untuk bisa memikirkannya. Sekarang adalah waktu untuk Avaron, bukan dirinya.

“Maaf, sayangku...” Avaron melihat Kai. “Aku sudah memberitahu Aya dan Yoriko karena terlalu gembira...”

Kai hanya tersenyum bahagia dan menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Tidak masalah, sayang. Lanjutkan saja.”

“Sesuai yang kukatakan kemarin lusa aku dan Kai akan pergi ke dokter untuk memastikan. Dan hasilnya adalah...” Avaron sengaja membuat ketiga tamu di hadapannya berdebar-debar menantikan kelanjutannya. “Positif! Pada awal Januari nanti, Yukio akan memiliki adik baru!”

Yoriko dan Aya langsung bersorak. Hitomu yang sedikit memahami suasana memberikan tepuk tangan sekeras-kerasnya untuk ibu dan ayahnya. Avaron pun langsung dihujani ucapan selamat dari kedua teman sekaligus karyawannya itu.

Tetapi ketika semuanya sedang bergembira, Shou masih tetap murung di tempatnya. Kelihatannya dia tidak begitu senang dengan berita yang disampaikan Avaron. Ketika Kai mendekatinya, hanya terlukis raut terkejut dan rasa tidak percayanya.

“Kau tidak apa-apa, teman?” tanya Kai.

“Ya, aku tidak apa-apa. Tidak menyangka saja secepat ini kalian akan memiliki anak kedua. Selamat, ya.” Shou memberi selamat dengan wajah yang dibuat segembira mungkin.

Meski Kai bisa menangkap raut ketidak tulusan dari Shou, ia tetap menerima ucapan selamat itu. “Terima kasih, Shou.”

“Hanya itu, bukan? Aku sudah tahu berita besarnya.” Shou mundur perlahan dan mengambil jaketnya dari kursi. “Aku harus pulang, sudah malam. Kurasa aku lupa memberi makan Chirori malam ini.”

Kai mengerutkan dahi karena Shou yang mendadak berpamitan. “Secepat ini? Shou, kita bahkan belum menyentuh sake yang sebentar lagi akan kukeluarkan.”

“Tidak usah, terima kasih.” Shou menolak halus. “Aku kan harus menyetir, jadi tidak boleh minum sake. Sampai jumpa. Sekali lagi, selamat, Kai...”

Kepergian Shou diiringi tatapan heran dan bingung oleh Kai. Avaron, Aya dan Yoriko menyadarinya tidak lama kemudian. Mereka berdua juga ikut bertanya-tanya.

“Kenapa Shou mendadak pergi?” tanya Aya sama bingungnya.

“Entahlah. Dia pergi... begitu saja.” jawab Kai ragu-ragu.

Sedetik kemudian, Avaron dan Aya teringat sesuatu yang sangat penting.

“Kau belum menyatakan perasaanmu, Yoriko!” seru Aya sambil menepuk punggung Yoriko keras-keras.

“Aw!!” jerit Yoriko kesakitan. “Tapi dia sudah pergi, Aya.”

“Kau masih bisa mengejarnya, Yoriko. Ayo, cepat sebelum ia pergi!!” kata Avaron dengan cepat dan mendorong Yoriko keluar rumah.

Karena dorongan mereka berdua, Yoriko akhirnya berlari sekencangnya keluar rumah sampai ia lupa memakai sepatunya terlebih dulu. Melihat tiga wanita di hadapannya mendadak panik dan ribut, Kai bertanya, “Apa maksudnya dengan menyatakan perasaan?”

“Masa kau tidak tahu?” Avaron memutar matanya kesal. “Yoriko ternyata selama ini mencintai Shou!”

“Whoa...” Kai mengangkat tangannya. “Aku kan tidak pernah mengikuti gosip kalian. Tapi benarkah itu?”

“Tentu saja! Memangnya karena apalagi sampai Yoriko lupa memakai sepatunya keluar rumah?” Avaron mencubit pipi Kai karena ketidak mampuannya dalam menanggapi situasi. “Kita doakan saja semoga semuanya berjalan sukses.”

*** 

“Shou!!!” Yoriko berkali-kali memanggil Shou dan mengejar pria yang terus berjalan cepat tanpa menghiraukan dirinya. “Tunggu aku!”

Shou tetap mengabaikannya. Ia malah melangkah lebih cepat agar Yoriko tidak bisa mengejarnya. Tetapi semangat Yoriko terlalu gigih untuk diruntuhkan. Pada akhirnya ia bisa menangkap lengan Shou dan membuatnya berhenti berjalan.

“Kenapa kau tiba-tiba pergi? Bukankah kubilang tadi aku ingin berbicara sesuatu denganmu?” tanya Yoriko terengah-engah.

“Apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” kata Shou sengit dan tidak sabar. “Kau ingin menertawaiku setelah ini?”

“Me... menertawaimu? Apa maksudmu, Shou?” Yoriko tidak mengerti. “Kenapa kau berpikir aku akan menertawaimu?”

Shou tersenyum sinis dan mengeluarkan kata-kata pedasnya. “Kau sudah tahu saat kau mengundangku kemari kemarin lusa, bukan?”

“Tahu apa?” Yoriko tidak memahami arah pembicaraan Shou.

“Kau sudah tahu berita yang disampaikan Avaron tadi. Kau sengaja memanfaatkan pertemananku dengannya dan mengerjaiku, bukan? Jika ya, kau berhasil, Yoriko! Kau berhasil membalas seluruh perbuatan burukku kepadamu hanya dalam semalam!” Shou mulai membentak Yoriko.

“Mengerjaimu? Shou, tidak sedikit pun aku berniat melakukan itu padamu.” kata Yoriko kebingungan dan takut. “Kumohon jelaskan padaku, kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Kau tahu aku masih mencintainya. Kau sengaja memanfaatkan segala hal yang kuceritakan padamu pada malam itu untuk membalasku. Kau senang karena telah mengetahui kelemahanku, bukan!?”

Yoriko tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Tidak sedikit pun di benaknya terpikir Shou akan merasa sakit hati dengan berita yang disampaikan Avaron. “Tapi, Shou... pada malam itu kau juga bilang padaku kau sudah bisa melupakannya. Kupikir kau bersungguh-sungguh, Shou...”

“Bersungguh-sungguh maksudmu? Apakah aku juga harus mempertanyakan apa kau juga bersungguh-sungguh dengan seluruh ceritamu pada malam itu? Karena menurutku, sekarang kau tidak terlihat seperti gadis yang kau ceritakan waktu itu. Kau hanya gadis manipulatif yang berhasil menipu teman-temanku bahkan saudaraku sendiri, kau hanya orang asing tapi kau bisa merebut perhatian mereka. Kau bertingkah seperti gadis polos yang tersesat dan sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku sudah muak dengan semua itu!”

Hati Yoriko terhenyak dan terasa seperti diiris-iris perlahan dari dalam. Ia mengepalkan kedua tangannya sekencang mungkin, bibirnya bergetar menahan isak tangis yang sebentar lagi akan keluar. Namun ia terus menahannya, ia tidak boleh terlihat lemah di depan orang yang ia cintai.

“Shou, jika kau berpikiran begitu, maafkan aku. Aku tidak ada maksud...”

“Ah, sudahlah.” Shou tidak mau mendengarkan penjelasannya. “Aku sudah mendengar cukup banyak darimu, gadis aneh. Carilah orang lain yang bisa kau tipu selain aku.”

Yoriko sanggup dan tidak keberatan menerima ejekan yang semenyakitkan apapun dari orang lain dan ia sudah terbiasa dengan itu. Tetapi ketika ia mendengarnya langsung dari Shou, sekarang hati Yoriko hancur berkeping-keping. Terlebih ketika ia menyadari ia hanyalah gadis penipu dan berlagak polos di mata satu-satunya orang yang ia cintai.

Ia pun membiarkan Shou melepaskan genggaman tangannya dengan kasar sebelum pria itu berlalu darinya, meninggalkannya terpaku dan menatap kosong jalanan yang sepi. Hanya angin yang bertiup kencang menghibur diri Yoriko dan mengaburkan air mata Yoriko yang mulai mengalir.

Yoriko linglung, ia tidak bisa memperhatikan dan memikirkan apapun lagi. Hanya sayup-sayup terdengar suara Aya dan Avaron yang berlari menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi.

Tetapi Yoriko tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu, dan hal yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan Aya dan Avaron memeluk dirinya, yang telah memahami apa yang terjadi tanpa Yoriko mengucapkan sepatah kata pun.


Dan di dalam pelukan mereka, Yoriko hanya bisa menangis pelan, dengan terpaksa menelan seluruh kepahitan yang diterimanya dari Shou, berharap ia tidak pernah mendengar hal-hal menyakitkan yang dikatakan Shou untuknya.

No comments:

Post a Comment