Sunday, September 22, 2013

The Delusion (19)

19

Shou menaruh sepiring besar waffle hangat buatannya sendiri di meja makan. Waffle itu bukan satu-satunya karya Shou untuk sarapan pagi ini. Disana sudah terhidang semangkuk besar sereal dengan sebotol besar susu dan jus jeruk di sebelahnya, beberapa telur mata sapi , roti bakar, dan sosis. Kopi hangat juga sudah siap di coffee maker jika teman-temannya yang masih tertidur pulas menginginkannya.

Saat Shou bangun dari tidurnya, entah mengapa ia ingin menggunakan kemampuan memasaknya yang sudah lama tidak digunakan. Mungkin karena semalam adalah malam yang sukses, Shou tidak tahu.

Shou kembali ke ruang TV dimana teman-temannya tidur disana menggelar futon. Shou menyalakan TV sekeras mungkin dan menyetel saluran berita. Dia tahu teman-temannya pasti membenci acara membosankan itu.

Cara Shou ternyata sukses. Keempat temannya langsung terjaga dan menggeliat malas di kasur mereka.

“Bisa tidak kau kecilkan suaranya? Aku masih ingin tidur!!” seru Saga sambil menutupi kedua telinganya dengan bantal.

“Memangnya sekarang sudah jam berapa, sih?” Nao dengan malas bergerak ke samping untuk meraih jam tangannya. Pukul 7 pagi sama sekali bukan waktu tepat untuk dibangunkan.

“Aku mencium bau enak...” Indera penciuman Hiroto menangkap bau lezat masakan Shou di ruang makan.

Namun Tora malah menyadari hal lain saat ia dibangunkan. “Tunggu, sejak kapan Shou bisa bangun pagi?”

“Aku pemilik apartemen ini, jadi aku berhak membangunkan kalian kapan saja. Kalau kalian tidak ingin memakan sarapan yang kubuat, tidak masalah. Silakan saja kalian mencari sarapan di tempat lain.” Kata Shou datar.

Tanpa diberitahu dua kali, mereka semua langsung bangun dan berlari ke ruang makan.

*** 

“Enak juga.” Nao berkomentar sambil tetap sibuk dengan waffle di hadapannya.

“’enak juga’?” Shou menyahut tidak percaya. “Hanya itu komentarmu setelah kau menghabiskan waffle ketigamu?”

“Baiklah, ini enak sekali. Terima kasih, ibu!” Nao bersikap seolah anak kecil dan memberikan senyum dibuat-buat kepada Shou.

“Aku masih tidak percaya Shou mau membuat sarapan untuk kita semua.” Saga menuang kopi untuknya dari coffee maker.

“Anggap saja gantinya kalian akan membereskan kotoran yang kalian buat semalam.” Kata Shou. Ia menumpuk piring-piring kotor untuk ditaruh di dishwasher lalu menaruh beberapa potong salmon yang diambilnya dari kulkas dan memanggil Chirori untuk makan. “Membuat makanan sebanyak itu tidak mudah dan aku harus bangun lebih pagi untuk itu.”

Mendengar ucapan Shou, Tora yang baru menyelesaikan serealnya berkata, “Kalian ingat semua ini adalah makanan layak yang kita makan setelah sekian lama?”

Kemudian mereka semua ikut teringat apa yang telah mereka lakukan belakangan ini. Tora benar, karena pembuatan album, tur kesana kemari, dan konser puncak semalam mereka hampir tidak mendapatkan tidur yang nyenyak dan makanan yang nikmat. Mereka begitu menikmati tidur mereka semalam dari malam sampai matahari terbit, selayaknya seseorang tidur dengan normal.

Kini semua makanan di depan mereka juga mereka santap dengan penuh rasa syukur. Mereka tidak perlu menikmati makanan cepat saji yang diburu oleh waktu mendesak karena jadwal. Kopi hangat dan semangkuk sereal penuh susu adalah hal kecil yang mereka rindukan pada pagi itu.

“Kurasa kita memang harus berterima kasih pada Shou.” Tora mengangkat gelas jus jeruknya diikuti yang lain. “Untuk makanan terlezat dan kesuksesan yang telah kita raih.”

“Kanpai!!” mereka mendentingkan gelas mereka bersamaan.

Setelah bersulang, mereka pun kembali membahas konser mereka semalam. Bagaimana ceria dan antusiasnya para penonton akan lagu-lagu yang mereka bawakan. Sedikit kesalahan yang untungnya tidak terlihat pada gitar Tora atau suara Shou yang mendadak serak di tengah panggung, dan beberapa ‘kenakalan’ mereka karena fanservice saat Tora dan Saga berciuman. Mereka sangat menertawakan hal itu walau sudah sering mereka lakukan di hampir setiap konser.

“Aku tidak menyangka Tora yang melakukannya. Tadinya kupikir Shou yang akan seperti itu.” Nao menjelaskan kekagetannya pada malam itu.

“Ya, kalau Shou memang benar-benar melakukannya dan Yoriko melihat, gadis itu pasti akan pingsan.” Saga terkekeh. “Menurutku dia gadis yang matanya masih murni, walaupun dia pernah keliling dunia.”

“Menurutmu dunia yang Yoriko sukai tidak ada hal-hal seperti itu? Pasti ada.” Sahut Hiroto.

“Kalau begitu tanyakan saja padanya apa dia mau berubah menjadi vampir seperti yang diinginkan Bella Swan di Twilight. Sejak itu jadi banyak gadis yang berubah menjadi vampir maniak.” Tantang Nao.

“Kurasa dia akan menolak. Kau tahulah, vampir anti pada hal-hal suci seperti salib, air suci, dan sebagainya. Yoriko orangnya religius, dia pasti sedih kalau tidak bisa memasuki gereja karena berubah wujud.” Tora menebak-nebak.

“Hei, menurutmu bagaimana, Shou?” Saga melemparkan gulungan tisu bekas ke Shou yang duduk terpaku, entah sedang memikirkan apa.

“Entahlah... mungkin kata Tora ada benarnya.” jawab Shou plin-plan. Ketika teman-temannya membahas Yoriko ingatannya kembali ke semalam, saat Yoriko mendadak berubah dan memutuskan pergi dari mereka. Seandainya Yoriko menerima tawaran mereka untuk menginap disini pasti ia akan menjawab segala hal yang diperbincangkan teman-temannya sekarang.

“Menurutku, walau Yoriko menyukai hal-hal menyeramkan itu dia masih tetap di jalan yang benar. Tidak semua orang bisa melakukannya.” Shou meneguk susunya.

“Kau masih memikirkan kenapa Yoriko mendadak meninggalkan kita semalam, ya?” Tora bertanya. Masih terlihat jelas dari sikap Shou semalam yang tidak semangat berpesta dan kemurungannya pagi ini.

“Menurutmu kenapa Yoriko mendadak pergi semalam? Apa kita mengucapkan sesuatu yang salah kepadanya?” ternyata Nao juga penasaran.

“Aku tidak tahu. Tapi yang kuperhatikan dia mendadak berubah setelah kedatangan Avaron...” Hiroto mencoba mengingat.

“Kenapa begitu? Bukankah pertemanan mereka baik-baik saja? Setahuku mereka tidak memiliki masalah...” Saga mengernyitkan dahi.

“Kecuali...” Tora melirik Shou.

“Apa?” Shou mendadak sengit. “Kalau mereka bertengkar, hubungannya apa denganku?”

“Mungkin Yoriko tahu masa lalu Avaron dan Shou?” timpal Hiroto. “Maksudku, bisa jadi Avaron bercerita padanya.”

Tetapi itu tidak menjelaskan sikap Yoriko semalam. Kalau Yoriko berpikir dia tidak ada sangkut pautnya mengenai masa lalu yang Shou ceritakan padanya, seharusnya Yoriko tidak peduli. Tora mengingatkan betapa senangnya Shou oleh kedatangan Avaron dan itu benar. Sudah lama ia tidak melihat wajah seorang wanita yang begitu berarti untuknya. Shou sangat senang wanita itu menyempatkan waktunya datang ke konser Shou dan memberi selamat kepadanya. Pada malam itu kedatangan Avaron memberi arti banyak pada seluruh usaha Shou. Shou yang tadinya ingin melupakan perasaannya pada wanita itu kini berpikir dua kali untuk melakukannya.

“Kau harus bicara dengannya, Shou.” Kata Tora.

“Eh... kenapa?” Shou tidak mengerti.

“Kalau memang benar ia seperti itu karena kau, berarti kaulah yang harus menemuinya. Setidaknya, untuk berjaga-jaga saja.” Tora beralasan. “Tidakkah kau sadar perubahan di antara kalian belakangan ini? Kalian yang tadinya seperti anjing dan kucing mendadak akur. Memangnya dunia di sekitar kalian tidak berguncang karena itu?”

Lagi-lagi Shou tidak menyadarinya dan bingung. Mana mungkin Yoriko...

“Kalau kau tidak mau, temuilah dia sebagai atasan yang ingin tahu kenapa bawahannya bersikap buruk.” Saga membujuk Shou.

Shou masih bimbang antara ingin menemuinya atau tidak. Dia tidak ingin terluka oleh apapun yang akan dikatakan Yoriko nanti. Namun ia teringat janji untuk menjaga Yoriko yang dibuatnya sendiri, dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu mencolek kakinya. Chirori yang sudah selesai makan mencakar pelan kakinya dan mata birunya yang menggemaskan memberikan tatapan meminta belas kasih pada Shou.

“Sepertinya Chirori mendukung kita. Dia pasti merindukan Yoriko...” Tora memanggil Chirori dan didekapnya kucing berbulu putih itu. Ia menggelitik perut Chirori dan berkata padanya, “Ya kan, sayang?”

Chirori mengeong pelan.

“Baiklah...” demi kebaikan semua, Shou mengalah. “Apa yang harus kulakukan? Seperti Yoriko akan langsung mengaku saja saat kutanyai nanti...”

“Shou benar...” kata Nao. “Kau jangan bersikap dingin atau menyebalkan di depannya kalau ingin mendapatkan jawaban jujur...”

“Ajak saja dia pergi malam ini.” tiba-tiba Saga mengusulkan dan rahang Shou nyaris jatuh karena tidak menduganya. “Makan malam, misalnya?”


“Apa? Makan malam?” Shou saja masih ingat Yoriko menolak ajakan makan malamnya padahal ajakan itu hanya sebagai sesama teman yang baru saja berdamai. “Mana mungkin dia mau.”

“Ya, makan malam. Ajak saja dia ke restoran favoritnya atau tempat-tempat yang dia senangi, dia pasti tidak akan menolak.” Saga meneruskan. “Kalian bisa berbicara tanpa ketegangan karena suasana tempat kerja.”

Shou skeptis. Tetapi dia juga sangat menginginkan jawaban dari Yoriko, mengenalnya, dan kalau bisa, membaca isi pikirannya. Sayangnya, tanpa Shou sadari, dia masih belum mendapatkan keberanian untuk melakukannya.

“Kudengar darinya restoran favoritnya adalah Christon Cafe di Shibuya. Kau ajak saja kesana.” Kata Nao.

Shou tergelak. Bahkan untuk restoran pun Yoriko tidak pernah jauh dari nuansa gotik. “Itu kalau dia mau...”

“Ayolah...” desak Tora setengah menyindir. “Hubungi dia, tidak ada ruginya kan? Kecuali kalau kau masih memertahankan harga dirimu yang terlalu tinggi itu.”

“Baiklah...” gerutu Shou. Dia mengeluarkan handphonenya dan mengirim Yoriko e-mail untuk ajakan makan malam itu.

Setelah e-mail itu terkirim, Shou menaruh handphonenya di tengah meja dan bersama keempat temannya ia mengawasi handphone itu, menanti balasan dari Yoriko dengan hening.

Namun keheningan itu tidak berlangsung lama ketika handphone Shou berbunyi sebagai tanda sebuah pesan tertulis masuk. Shou mengambil handphonenya dengan gesit dan membaca balasan dari Yoriko yang cukup singkat tapi cukup membuat mereka semua berteriak senang.

Gadis itu menerima ajakannya.

 ***

Avaron berjalan cepat menyusuri jalan supaya ia bisa cepat sampai ke petshopnya. Ia sengaja bangun lebih awal dan bersiap-siap, sampai menyuruh suaminya untuk tidak pergi dulu sampai siang karena harus menjaga Yukio.

Sesampainya disana, ia membuka pintu petshop tergesa-gesa hingga mengagetkan Yoriko yang berada di balik meja kasir, sedang menulis di laptopnya seperti biasa kalau sedang tidak ada pelanggan.

“Lho, ada apa, Avaron-san? Kenapa anda terengah-engah begitu?” tanya Yoriko keheranan melihat atasannya datang pagi sekali.

“Ya, Avaron-san. Ada apa?” Aya muncul dari lorong sambil membawa sapu.

“Kau tidak kuliah hari ini, Aya-chan?” sekarang giliran Avaron yang kaget melihat Aya juga datang kerja pagi.

“Tidak, aku sedang tidak ada kelas hari ini...” jawab Aya. “Perlu kuambilkan minum, Avaron-san?”

“Tidak, tidak usah.” Avaron menolak. Setelah ia mengambil napas, ia berjalan ke arah Yoriko yang masih menatapnya keheranan. “Aku datang pagi-pagi seperti ini karena ingin berbicara dengan Yoriko.”

“Apa?” Yoriko kaget. Mimik wajahnya berubah kebingungan dan takut jika seandainya ia telah melakukan kesalahan. Apalagi setelah kejadian semalam. “A... anda ingin bicara soal apa?”

Avaron tidak menjawab. Ia malah ikut masuk ke meja kasir dan memeluk Yoriko erat-erat. “Yoriko-chan, maafkan aku, ya!!”

“Ee...” Yoriko semakin bingung. “Kenapa anda tiba-tiba meminta maaf?”

“Kau pasti kesal padaku karena semalam, ya kan? Makanya kau mendadak pergi. Maafkan aku, Yoriko-chan!!” Avaron tidak mau melepaskan pelukannya.

Yoriko tidak sanggup berkata apapun. Dia tidak menyangka sama sekali Avaron akan menyadari perubahan sikapnya semalam dan meminta maaf padanya. Avaron menjelaskan bahwa ketika Yoriko berpamitan, Avaron langsung menyadari ada sesuatu yang salah dan berpikir dialah penyebabnya.

“Aku tahu pasti karena Shou, bukan?” kata Avaron. “Kau mau memaafkanku?”

Yoriko diam sejenak sebelum menjawab, “Anda tidak perlu meminta maaf padaku, Avaron-san. Jika memang ada yang harus meminta maaf, seharusnya itu aku.”

“Kenapa?”

“Karena aku sadar aku berada di antara kalian...” Yoriko berkata lirih. “Tidak hanya Shou, melihat anda begitu akur bersama mereka dan membicarakan masa lalu kalian yang begitu menyenangkan membuatku merasa aku tidak pantas berada disana. Aku tidak ingin mengganggu, itu saja.”

Avaron luluh mendengar penjelasan Yoriko. “Ya ampun, Yoriko... kenapa kau berpikiran begitu? Masa lalu atau bukan, kau tetap bagian dari kami. Jangan merendahkan dirimu, Yoriko-chan...”

“Tidak hanya itu, Avaron-san...” sela Yoriko. Avaron siap mendengarkan penjelasan Yoriko selanjutnya, tetapi tidak ada kata terucap dari bibir Yoriko. Gadis itu tidak ingin Avaron dan Aya berpikir apa yang akan ia katakan sangat konyol dan bisa dijadikan bahan untuk ditertawakan.

“Apa, Yoriko? Katakan saja.” kata Aya ikut menanti apapun yang akan dikatakan Yoriko.

“Kalian pasti menganggap ini aneh. Aku mendengar Shou bernyanyi semalam...” Yoriko menatap kedua sahabatnya. “Entah ini berlebihan atau apa, tapi aku merasa dia bernyanyi begitu merdu dan menghayati. Harus kuakui aku terpesona olehnya, sampai aku berpikir lagu itu dia nyanyikan untukku. Namun... begitu kusadari anda berada disana, Avaron-san, aku jadi tahu lagu itu sebenarnya ia nyanyikan untuk siapa. Dia masih mencintai anda, Avaron-san...”

Avaron dan Aya terperanjat mendengar pengakuan Yoriko. Tidak satupun dari mereka berkata apapun sampai pertanyaan Avaron memecah kesunyian di antara mereka.

“Kau mencintai Shou, Yoriko-chan?”

Yoriko membutuhkan beberapa waktu untuk menimbang jawabannya, menarik napas dalam-dalam, dan melepaskan seluruh beban dan khayalan yang dimilikinya selama ini dan pada akhirnya ia pun mengaku, “Ya, aku mencintainya...”

Sebuah senyum penuh arti terlukis di wajah Avaron, “Sudah kuduga...”

Tetapi Aya menanggapi pengakuan Yoriko dengan bersorak riang sekeras mungkin, “Akhirnya kau mengaku juga!!!”

“Tapi itu tetap tidak mengubah apapun.” Kata Yoriko putus asa.

“Kecuali kalau kau memberitahunya...” Avaron berkata dengan sangat lembut.

“Tidak mungkin! Itu akan merusak segalanya, Avaron-san!” Yoriko panik dan mendadak jantungnya serasa berhenti mendengar saran Avaron.

Merasakan kekalutan Yoriko, Avaron meraih tangan Yoriko yang gemetaran. Ia pun menatap Yoriko dalam-dalam, menyiratkan rasa keibuannya, meyakinkan Yoriko untuk tidak takut. “Lebih baik kau memberitahunya daripada kau sakit hati karena memendamnya sendirian, Yoriko-chan...”

“Tapi...” Yoriko masih ketakutan. “Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku? Bagaimana kalau setelah aku mengatakannya dia akan membenciku lalu menganggapku hina?”

“Shou pria yang baik, dia pasti akan tetap menghargaimu. Kau harus memberanikan dirimu, Yoriko-chan. Janganlah mundur karena terlalu memikirkan kemungkinan buruknya.” Avaron berkata dengan sangat lembut.

“Ya, Yoriko-chan.” Aya menyemangati Yoriko. “Kalau dia macam-macam padamu, aku akan menghajarnya, tidak peduli dia artis atau bukan.”

“Terima kasih, Aya. Tapi aku masih tidak bisa melakukannya...” Yoriko tetap menolak. “Maksudku, kau tahu hubungan kerja kami, kan? Aku tidak bisa mengambil resiko dia akan memecatku karena aku memiliki perasaan terhadapnya.”

“Kalau kau tidak berani memberitahukannya sendirian, aku punya ide.” Avaron memberi usul. “Undang saja dia ke pesta yang akan kuadakan besok lusa. Kau bisa menyatakan perasaanmu disana, di depan kami tanpa merasa terintimidasi. Aku dan Aya akan membantumu jika terjadi sesuatu. Bagaimana?”

“Pesta apa?” Yoriko mengerutkan dahi.

“Hanya pesta kecil-kecilan di rumahku. Pesta untuk merayakan...” Avaron tiba-tiba tersenyum malu dan menaruh tangannya di perutnya. “kehamilan keduaku.”

Langsung saja Yoriko dan Aya menjerit kesenangan. “Ya Tuhan!! Benarkah itu, Avaron-san!? Sudah berapa lama!?”

“Aku baru tahu tadi pagi. Besok aku dan Kai akan pergi ke dokter untuk memastikan. Jadi kita berharap yang terbaik saja, ya?” kata Avaron dengan penuh harapan. “Nah, untuk itu, kau tidak akan menolak untuk datang kan, Yoriko-chan?”

Yoriko tersenyum lebar-lebar mengetahui sebentar lagi seorang bayi mungil akan hadir di antara mereka. Karenanya harapan Yoriko pun tumbuh, “Ya, aku akan datang, Avaron-san.”

“Ajak Shou, ya. Dia pasti senang jika diundang, toh dia juga sahabat kita, kan?” Pesan Avaron.

“Tapi... bagaimana aku mengajaknya? Setelah konser mereka mengambil cuti, aku tidak bekerja untuk mereka lagi selama mereka berlibur...” Yoriko kembali kebingungan.

“Ah... kau ini. Ambil handphonemu, telepon atau kirim e-mail untuknya.” Aya sedikit jengkel Yoriko tidak terpikir hal itu.

Yoriko tersenyum kering begitu ia teringat. Segera ia mengambil handphone dari saku dressnya dan mulai mengetik e-mail untuk Shou. Tetapi Yoriko telah didahului oleh sebuah e-mail yang masuk ke handphonenya. Saat ia membukanya, Yoriko tidak bisa menyembunyikan rona pipinya yang mendadak berwarna seperti tomat.

“Shou mengajakku makan malam hari ini...” ujar Yoriko malu-malu.

“Terima ajakannya, Yoriko!! Terima!!!” jerit Avaron dan Aya kesenangan.

Yoriko tertawa tanpa henti melihat reaksi kedua temannya. Tanpa ragu lagi, ia mengetik e-mail balasan untuk Shou, menerima ajakannya.

*** 

Pukul 8 malam, Shou menunggu tepat di depan Christon Cafe dengan penampilan serapi mungkin. Kemeja putih dan celana jins gelap bukanlah pakaian yang biasa ia kenakan, tetapi karena desakan Tora dan yang lain menginginkan Shou berpakaian sedikit ‘berkarisma’ dan ‘menawan’ atau apalah itu, Shou hanya bisa pasrah, berharap Yoriko tidak menyadari penampilan barunya dan menertawakannya.

Sepuluh menit kemudian, ia melihat sosok Yoriko dari kejauhan. Gadis itu berjalan di antara kerumunan dengan jubah hitam berkibar melilit di lehernya. Entah karena penglihatan Shou yang salah atau Yoriko memang terlihat cantik dan berbeda malam ini. Meski dress hitam dan sepatu boot kulit tetap melekat di tubuhnya.

Bibir merah gadis itu tersenyum ketika menangkap keberadaan Shou. Ia berjalan lebih cepat supaya Shou tidak menunggu lebih lama. “Hai, Shou! Kau sudah memesan tempat?”

“Be... belum...” jawab Shou gugup saat Yoriko berdiri hanya beberapa centi di dekatnya. “Aku belum pernah ke restoran ini, jadi...”

“Oh, tidak apa! Akan kutunjukkan kau tempat terbaik!” kata Yoriko antusias sambil melihat penampilan Shou. “Ngomong-ngomong, kau terlihat berbeda malam ini...”

“Ngg... hanya ini yang bisa kutemukan di lemariku. Aku tidak sempat mencuci. Hehe...” Shou cepat-cepat menyangkal.

Yoriko hanya bergumam singkat sebelum mengajak Shou masuk ke dalam restoran. Salah seorang pelayan menyambut mereka dan menawarkan meja untuk dua orang. Sesuai permintaan Yoriko, mereka ditempatkan di meja dekat altar Bunda Maria. Mereka disuguhi kue-kue dan minuman penyegar secara gratis sebelum memesan.

“Ini tempat favoritku dan Juri di restoran ini...” Yoriko membeberkan sebuah fakta yang membuat Shou tertusuk sangat dalam.

Kenapa Yoriko harus menyebut nama itu? Demi Tuhan, Juri sedang tidak ada disini dan Yoriko tidak perlu membahasnya. Shou tidak bisa membayangkan meja tempat mereka duduk ini adalah meja dimana Yoriko dan Juri sering bercengkrama, menikmati makanan sambil tertawa.

Menutupi kekesalannya, Shou meminta pelayan untuk langsung mencatat pesanan mereka. Ia melihat seluruh menu makanan yang tersedia di buku menu dan kebingungan, tidak tahu makanan apa yang enak disini.

“Kusarankan kau memesan steik salmon saja. Kata Juri, itu menu makanan terenak disini.” Yoriko menyarankan sambil mengerling ke pelayan. “Ya, kan?”

“Benar, kami menyediakan seluruh menu makanan disini dengan cita rasa dan kualitas terbaik.” Jawab si pelayan dengan sopan dan bangga.

Saat Yoriko menyebut nama Juri lagi, nyaris saja Shou mengambil garpu di dekatnya dan menancapkannya ke meja sebagai tanda amarahnya. Tidak ingin disamakan dengan Juri, Shou akhirnya memesan menu yang ia bahkan tidak tahu bagaimana cara membacanya. “Aku pesan... steik foie grass dengan risotto?”

Yoriko mengangkat alisnya mendengar pesanan Shou sebelum memesan makanannya, “Seperti biasa, aku memesan salad. Terima kasih...”

Pelayan pergi dan selagi pesanan mereka disiapkan, Yoriko pun mengajak Shou mengobrol. “Kenapa kau memesan foie gras?”

“Memangnya kenapa?” Shou bertanya balik.

“Aku melihat betapa sadisnya perbuatan orang-orang pada para bebek itu untuk membuat menu makanan itu di internet. Aku hampir menangis saat tahu mereka dipaksa memakan begitu banyak adonan jagung dan mulut mereka ditusuk-tusuk secara paksa dengan pipa logam supaya cepat masuk ke kerongkongan...” kata Yoriko sedih.

Shou memutar matanya. Bisa-bisanya Yoriko membahas itu sebelum makan. “Sudahlah, aku baru tahu dari kau soal itu. Aku juga tidak mengerti menu-menu disini jadi aku asal saja memesan.”

“Ya sudah...” Yoriko pun diam.

Shou mengganti topik pembicaraan. “Kau suka sekali restoran ini, ya?”

Yoriko mengangguk cepat. “Ya! Hanya ini restoran bernuansa gotik tapi juga seperti gereja yang kutahu. Keren, kan?”

Shou tertawa pelan. Ia melihat sekeliling restoran. Salib dimana-mana, bahkan di bar pun ada lukisan “Jamuan Terakhir”, altar Bunda Maria tepat di samping mereka, tetapi juga bernuansa menyeramkan dengan perabotan gotik klasik dan didominasi oleh warna merah.

“Aku heran ternyata gotik juga dihubungkan dengan gereja dan semacamnya. Padahal kebanyakan gotik itu tentang vampir, iblis, dan kematian. Sesuatu yang cukup berlawanan kan?” kata Shou.

“Menurut Patrick O’Malley, semua itu berawal dari novel abad 19 karangan Bram Stroke berjudul Dracula dan Jude the Obscure karangan Thomas Hardy. Kau pasti tahu, kan?” jawab Yoriko.

Gotik mulanya adalah istilah hina dari jaman Renaissance, tentang suku gotik yang mendirikan bangunan-bangunan bernuansa gotik. Namun mereka menghancurkan kesan itu dengan mengenalkan bangunan mereka yang bernuansa gelap dan melankolis itu hanya untuk tujuan keindahan semata. Sebenarnya seni dan arsitektur gotik adalah simbol estetika dari jaman sejarah Eropa ketika paganisme telah dihapuskan, tradisi budaya klasik dihancurkan, gerombolan penyusup telah dikalahkan atau dikristenisasi, dan gereja Katolik menetapkan bahwa selain mereka menyediakan kebutuhan rohani, tetapi juga penengah dari nasib pemerintahan dan rakyat.

Tiba-tiba pertanyaan yang muncul dari Nao tadi pagi teringat oleh Shou. Digelitiki oleh rasa penasaran, Shou bertanya pada Yoriko. “Kalau begitu, apa kau mau menjadi vampir seperti yang biasa diinginkan gadis gotik kebanyakan?”

Yoriko memasang mimik kebingungan dan bimbang. “Entahlah... kurasa aku tidak mau...”

“Lho? Kenapa?”

“Karena kalau aku berubah menjadi vampir, aku tidak akan bisa memasuki gereja lagi karena vampir anti dengan tanah suci. Kulitku pasti akan terbakar bila tersentuh air suci dan salib, aku tidak mau itu terjadi...” kata Yoriko dengan bibir cemberut.

Shou tertawa mendengarnya. Tetapi tawa itu tidak bertahan lama ketika Yoriko meneruskan, “Nanti aku tidak bisa ke gereja setiap minggu bersama Juri...”

“Apa? Kalian pergi ke gereja bersama?” Shou terkejut.

“Ya, masa kau tidak tahu? Dia mendaftar sebagai jemaat di gerejaku. Keren, kan? Selama dia disini, dia pergi ke gereja bersamaku setiap hari Minggu.” Raut riang menghiasi wajah Yoriko. “Aku jadi ingat Juri sedikit kebingungan saat khotbah diucapkan dengan bahasa Jepang. Pada akhirnya kami pun mengganti jadwal misa kami dengan misa berbahasa Inggris.”

Shou memang tahu Juri setiap Minggu pergi pagi-pagi sekali untuk menghadiri misa di gereja. Tetapi ia tidak pernah tahu sepupunya itu pergi kesana bersama Yoriko. Sungguh sebuah fakta menyebalkan lainnya yang terpaksa ditelan Shou pada malam itu.

Shou menjadi tercenung sesaat sebelum pesanan makanan mereka tiba. Shou jadi tidak bernafsu melihat foie gras di depannya setelah mengetahui fakta dari Yoriko tentang bebek-bebek malang itu.

“Oh ya, maaf semalam aku tidak memenuhi ajakan kalian menginap di rumahmu...” kata Yoriko seraya memulai santapan saladnya.

“Ngg... tidak apa-apa, tenang saja. Kami paham, kok...” jawab Shou seolah masalah itu tidak pernah menjadi topik utama obrolannya dengan teman-temannya tadi pagi.

“Lagipula, aku tahu kau pasti tidak suka aku berada di rumahmu...” ujar Yoriko pelan.

“Yoriko...” Shou menyadari kebodohannya tentang pertengkaran mereka di rumahnya tempo hari. “Lupakan saja soal itu. Aku sedang emosi waktu itu.”

“Aku jadi tidak enak hati pada Juri. Kuharap kau tidak terlalu keras padanya waktu itu. Dia tidak tahu sama sekali kau akan marah besar karena mengajakku tanpa seizinmu...”

Shou mulai geram. Untuk apa Yoriko merasa bersalah pada Juri? Shou adalah pemilik rumah, seharusnya Yoriko... argh, kenapa semuanya jadi menyangkut Juri? Shou gemas pria yang sudah berada di ujung dunia itu masih sanggup menyabotase perhatian Yoriko.

“Sudahlah, lupakan saja.” Shou mulai ketus. Lama-kelamaan dia bisa menelan foie gras ini bulat-bulat saking kesalnya.

Ternyata perkiraan temannya salah. Malam ini tidak akan menjadi malam yang indah seperti ucapan mereka. Shou sudah bisa menebak Yoriko pasti sudah menaruh hati pada Juri dibanding siapapun. Shou selalu menangkap senyum penuh arti di wajah Yoriko setiap kali dia membahas sepupunya itu. Dan ketika Shou teringat pada pesan Juri yang memintanya menjaga gadis itu selama ia tidak ada, Shou merasa pahit. Ia benar untuk memutuskan kembali ke dunianya sendiri, ia masih merasakan cintanya terhadap Avaron kembali bersemi semalam ketika wanita itu datang kepadanya. Walau ia tahu ia tidak bisa mendapatkannya, setidaknya rasa sakit yang sama tidak akan terulang lagi disaat ia tahu Yoriko telah menyukai orang lain.

Yoriko menyadari perubahan suasana di diri Shou meski ia tidak tahu karena apa. Ia menghabiskan sayuran saladnya dengan enggan dan berkata, “Maaf... kalau begitu, maukah kau mendengarkan ini? Tadi pagi Avaron-san memintaku mengajakmu menghadiri pesta kecilnya besok lusa. Kau mau datang?”

Mendengar nama Avaron disebut, Shou menjadi ingin bertemu wanita itu lagi. “Jam berapa? Pesta apa?”

“Jam 7 malam. Yah, hanya pesta kecil-kecilan biasa untuk kumpul bersama, mungkin?” jawab Yoriko. “Kau mau datang, kan?”

Tadinya Yoriko ragu Shou akan menyanggupi ajakan itu tetapi ia cukup kaget ketika Shou langsung menjawab dengan yakin.


“Ya, aku akan datang.”

No comments:

Post a Comment