19
Shou menaruh
sepiring besar waffle hangat buatannya sendiri di meja makan. Waffle itu bukan
satu-satunya karya Shou untuk sarapan pagi ini. Disana sudah terhidang
semangkuk besar sereal dengan sebotol besar susu dan jus jeruk di sebelahnya,
beberapa telur mata sapi , roti bakar, dan sosis. Kopi hangat juga sudah siap
di coffee maker jika teman-temannya yang masih tertidur pulas menginginkannya.
Saat Shou
bangun dari tidurnya, entah mengapa ia ingin menggunakan kemampuan memasaknya
yang sudah lama tidak digunakan. Mungkin karena semalam adalah malam yang
sukses, Shou tidak tahu.
Shou kembali
ke ruang TV dimana teman-temannya tidur disana menggelar futon. Shou menyalakan
TV sekeras mungkin dan menyetel saluran berita. Dia tahu teman-temannya pasti
membenci acara membosankan itu.
Cara Shou
ternyata sukses. Keempat temannya langsung terjaga dan menggeliat malas di
kasur mereka.
“Bisa tidak
kau kecilkan suaranya? Aku masih ingin tidur!!” seru Saga sambil menutupi kedua
telinganya dengan bantal.
“Memangnya sekarang
sudah jam berapa, sih?” Nao dengan malas bergerak ke samping untuk meraih jam
tangannya. Pukul 7 pagi sama sekali bukan waktu tepat untuk dibangunkan.
“Aku mencium
bau enak...” Indera penciuman Hiroto menangkap bau lezat masakan Shou di ruang
makan.
Namun Tora
malah menyadari hal lain saat ia dibangunkan. “Tunggu, sejak kapan Shou bisa
bangun pagi?”
“Aku pemilik
apartemen ini, jadi aku berhak membangunkan kalian kapan saja. Kalau kalian
tidak ingin memakan sarapan yang kubuat, tidak masalah. Silakan saja kalian
mencari sarapan di tempat lain.” Kata Shou datar.
Tanpa
diberitahu dua kali, mereka semua langsung bangun dan berlari ke ruang makan.
“Enak juga.”
Nao berkomentar sambil tetap sibuk dengan waffle di hadapannya.
“’enak
juga’?” Shou menyahut tidak percaya. “Hanya itu komentarmu setelah kau
menghabiskan waffle ketigamu?”
“Baiklah, ini
enak sekali. Terima kasih, ibu!” Nao bersikap seolah anak kecil dan memberikan
senyum dibuat-buat kepada Shou.
“Aku masih
tidak percaya Shou mau membuat sarapan untuk kita semua.” Saga menuang kopi
untuknya dari coffee maker.
“Anggap saja
gantinya kalian akan membereskan kotoran yang kalian buat semalam.” Kata Shou. Ia
menumpuk piring-piring kotor untuk ditaruh di dishwasher lalu menaruh beberapa
potong salmon yang diambilnya dari kulkas dan memanggil Chirori untuk makan. “Membuat
makanan sebanyak itu tidak mudah dan aku harus bangun lebih pagi untuk itu.”
Mendengar
ucapan Shou, Tora yang baru menyelesaikan serealnya berkata, “Kalian ingat
semua ini adalah makanan layak yang kita makan setelah sekian lama?”
Kemudian
mereka semua ikut teringat apa yang telah mereka lakukan belakangan ini. Tora
benar, karena pembuatan album, tur kesana kemari, dan konser puncak semalam
mereka hampir tidak mendapatkan tidur yang nyenyak dan makanan yang nikmat.
Mereka begitu menikmati tidur mereka semalam dari malam sampai matahari terbit,
selayaknya seseorang tidur dengan normal.
Kini semua
makanan di depan mereka juga mereka santap dengan penuh rasa syukur. Mereka
tidak perlu menikmati makanan cepat saji yang diburu oleh waktu mendesak karena
jadwal. Kopi hangat dan semangkuk sereal penuh susu adalah hal kecil yang
mereka rindukan pada pagi itu.
“Kurasa kita
memang harus berterima kasih pada Shou.” Tora mengangkat gelas jus jeruknya
diikuti yang lain. “Untuk makanan terlezat dan kesuksesan yang telah kita
raih.”
“Kanpai!!” mereka
mendentingkan gelas mereka bersamaan.
Setelah
bersulang, mereka pun kembali membahas konser mereka semalam. Bagaimana ceria
dan antusiasnya para penonton akan lagu-lagu yang mereka bawakan. Sedikit
kesalahan yang untungnya tidak terlihat pada gitar Tora atau suara Shou yang
mendadak serak di tengah panggung, dan beberapa ‘kenakalan’ mereka karena
fanservice saat Tora dan Saga berciuman. Mereka sangat menertawakan hal itu
walau sudah sering mereka lakukan di hampir setiap konser.
“Aku tidak
menyangka Tora yang melakukannya. Tadinya kupikir Shou yang akan seperti itu.”
Nao menjelaskan kekagetannya pada malam itu.
“Ya, kalau
Shou memang benar-benar melakukannya dan Yoriko melihat, gadis itu pasti akan
pingsan.” Saga terkekeh. “Menurutku dia gadis yang matanya masih murni,
walaupun dia pernah keliling dunia.”
“Menurutmu
dunia yang Yoriko sukai tidak ada hal-hal seperti itu? Pasti ada.” Sahut
Hiroto.
“Kalau begitu
tanyakan saja padanya apa dia mau berubah menjadi vampir seperti yang
diinginkan Bella Swan di Twilight. Sejak itu jadi banyak gadis yang berubah
menjadi vampir maniak.” Tantang Nao.
“Kurasa dia
akan menolak. Kau tahulah, vampir anti pada hal-hal suci seperti salib, air
suci, dan sebagainya. Yoriko orangnya religius, dia pasti sedih kalau tidak
bisa memasuki gereja karena berubah wujud.” Tora menebak-nebak.
“Hei,
menurutmu bagaimana, Shou?” Saga melemparkan gulungan tisu bekas ke Shou yang duduk
terpaku, entah sedang memikirkan apa.
“Entahlah...
mungkin kata Tora ada benarnya.” jawab Shou plin-plan. Ketika teman-temannya
membahas Yoriko ingatannya kembali ke semalam, saat Yoriko mendadak berubah dan
memutuskan pergi dari mereka. Seandainya Yoriko menerima tawaran mereka untuk
menginap disini pasti ia akan menjawab segala hal yang diperbincangkan
teman-temannya sekarang.
“Menurutku,
walau Yoriko menyukai hal-hal menyeramkan itu dia masih tetap di jalan yang
benar. Tidak semua orang bisa melakukannya.” Shou meneguk susunya.
“Kau masih
memikirkan kenapa Yoriko mendadak meninggalkan kita semalam, ya?” Tora
bertanya. Masih terlihat jelas dari sikap Shou semalam yang tidak semangat
berpesta dan kemurungannya pagi ini.
“Menurutmu
kenapa Yoriko mendadak pergi semalam? Apa kita mengucapkan sesuatu yang salah
kepadanya?” ternyata Nao juga penasaran.
“Aku tidak
tahu. Tapi yang kuperhatikan dia mendadak berubah setelah kedatangan Avaron...”
Hiroto mencoba mengingat.
“Kenapa
begitu? Bukankah pertemanan mereka baik-baik saja? Setahuku mereka tidak
memiliki masalah...” Saga mengernyitkan dahi.
“Kecuali...”
Tora melirik Shou.
“Apa?” Shou
mendadak sengit. “Kalau mereka bertengkar, hubungannya apa denganku?”
“Mungkin
Yoriko tahu masa lalu Avaron dan Shou?” timpal Hiroto. “Maksudku, bisa jadi
Avaron bercerita padanya.”
Tetapi itu
tidak menjelaskan sikap Yoriko semalam. Kalau Yoriko berpikir dia tidak ada
sangkut pautnya mengenai masa lalu yang Shou ceritakan padanya, seharusnya
Yoriko tidak peduli. Tora mengingatkan betapa senangnya Shou oleh kedatangan
Avaron dan itu benar. Sudah lama ia tidak melihat wajah seorang wanita yang
begitu berarti untuknya. Shou sangat senang wanita itu menyempatkan waktunya
datang ke konser Shou dan memberi selamat kepadanya. Pada malam itu kedatangan
Avaron memberi arti banyak pada seluruh usaha Shou. Shou yang tadinya ingin
melupakan perasaannya pada wanita itu kini berpikir dua kali untuk melakukannya.
“Kau harus
bicara dengannya, Shou.” Kata Tora.
“Eh...
kenapa?” Shou tidak mengerti.
“Kalau memang
benar ia seperti itu karena kau, berarti kaulah yang harus menemuinya.
Setidaknya, untuk berjaga-jaga saja.” Tora beralasan. “Tidakkah kau sadar
perubahan di antara kalian belakangan ini? Kalian yang tadinya seperti anjing
dan kucing mendadak akur. Memangnya dunia di sekitar kalian tidak berguncang
karena itu?”
Lagi-lagi
Shou tidak menyadarinya dan bingung. Mana mungkin Yoriko...
“Kalau kau
tidak mau, temuilah dia sebagai atasan yang ingin tahu kenapa bawahannya
bersikap buruk.” Saga membujuk Shou.
Shou masih
bimbang antara ingin menemuinya atau tidak. Dia tidak ingin terluka oleh apapun
yang akan dikatakan Yoriko nanti. Namun ia teringat janji untuk menjaga Yoriko
yang dibuatnya sendiri, dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu mencolek kakinya.
Chirori yang sudah selesai makan mencakar pelan kakinya dan mata birunya yang
menggemaskan memberikan tatapan meminta belas kasih pada Shou.
“Sepertinya
Chirori mendukung kita. Dia pasti merindukan Yoriko...” Tora memanggil Chirori
dan didekapnya kucing berbulu putih itu. Ia menggelitik perut Chirori dan
berkata padanya, “Ya kan, sayang?”
Chirori
mengeong pelan.
“Baiklah...”
demi kebaikan semua, Shou mengalah. “Apa yang harus kulakukan? Seperti Yoriko
akan langsung mengaku saja saat kutanyai nanti...”
“Shou
benar...” kata Nao. “Kau jangan bersikap dingin atau menyebalkan di depannya
kalau ingin mendapatkan jawaban jujur...”
“Ajak saja
dia pergi malam ini.” tiba-tiba Saga mengusulkan dan rahang Shou nyaris jatuh
karena tidak menduganya. “Makan malam, misalnya?”
“Apa? Makan
malam?” Shou saja masih ingat Yoriko menolak ajakan makan malamnya padahal ajakan
itu hanya sebagai sesama teman yang baru saja berdamai. “Mana mungkin dia mau.”
“Ya, makan
malam. Ajak saja dia ke restoran favoritnya atau tempat-tempat yang dia
senangi, dia pasti tidak akan menolak.” Saga meneruskan. “Kalian bisa berbicara
tanpa ketegangan karena suasana tempat kerja.”
Shou skeptis.
Tetapi dia juga sangat menginginkan jawaban dari Yoriko, mengenalnya, dan kalau
bisa, membaca isi pikirannya. Sayangnya, tanpa Shou sadari, dia masih belum mendapatkan
keberanian untuk melakukannya.
“Kudengar
darinya restoran favoritnya adalah Christon Cafe di Shibuya. Kau ajak saja
kesana.” Kata Nao.
Shou
tergelak. Bahkan untuk restoran pun Yoriko tidak pernah jauh dari nuansa gotik.
“Itu kalau dia mau...”
“Ayolah...”
desak Tora setengah menyindir. “Hubungi dia, tidak ada ruginya kan? Kecuali
kalau kau masih memertahankan harga dirimu yang terlalu tinggi itu.”
“Baiklah...”
gerutu Shou. Dia mengeluarkan handphonenya dan mengirim Yoriko e-mail untuk
ajakan makan malam itu.
Setelah
e-mail itu terkirim, Shou menaruh handphonenya di tengah meja dan bersama
keempat temannya ia mengawasi handphone itu, menanti balasan dari Yoriko dengan
hening.
Namun
keheningan itu tidak berlangsung lama ketika handphone Shou berbunyi sebagai
tanda sebuah pesan tertulis masuk. Shou mengambil handphonenya dengan gesit dan
membaca balasan dari Yoriko yang cukup singkat tapi cukup membuat mereka semua
berteriak senang.
Gadis itu
menerima ajakannya.
Avaron
berjalan cepat menyusuri jalan supaya ia bisa cepat sampai ke petshopnya. Ia
sengaja bangun lebih awal dan bersiap-siap, sampai menyuruh suaminya untuk
tidak pergi dulu sampai siang karena harus menjaga Yukio.
Sesampainya
disana, ia membuka pintu petshop tergesa-gesa hingga mengagetkan Yoriko yang
berada di balik meja kasir, sedang menulis di laptopnya seperti biasa kalau
sedang tidak ada pelanggan.
“Lho, ada
apa, Avaron-san? Kenapa anda terengah-engah begitu?” tanya Yoriko keheranan
melihat atasannya datang pagi sekali.
“Ya,
Avaron-san. Ada apa?” Aya muncul dari lorong sambil membawa sapu.
“Kau tidak
kuliah hari ini, Aya-chan?” sekarang giliran Avaron yang kaget melihat Aya juga
datang kerja pagi.
“Tidak, aku
sedang tidak ada kelas hari ini...” jawab Aya. “Perlu kuambilkan minum,
Avaron-san?”
“Tidak, tidak
usah.” Avaron menolak. Setelah ia mengambil napas, ia berjalan ke arah Yoriko
yang masih menatapnya keheranan. “Aku datang pagi-pagi seperti ini karena ingin
berbicara dengan Yoriko.”
“Apa?” Yoriko
kaget. Mimik wajahnya berubah kebingungan dan takut jika seandainya ia telah
melakukan kesalahan. Apalagi setelah kejadian semalam. “A... anda ingin bicara
soal apa?”
Avaron tidak
menjawab. Ia malah ikut masuk ke meja kasir dan memeluk Yoriko erat-erat.
“Yoriko-chan, maafkan aku, ya!!”
“Ee...”
Yoriko semakin bingung. “Kenapa anda tiba-tiba meminta maaf?”
“Kau pasti
kesal padaku karena semalam, ya kan? Makanya kau mendadak pergi. Maafkan aku,
Yoriko-chan!!” Avaron tidak mau melepaskan pelukannya.
Yoriko tidak
sanggup berkata apapun. Dia tidak menyangka sama sekali Avaron akan menyadari
perubahan sikapnya semalam dan meminta maaf padanya. Avaron menjelaskan bahwa
ketika Yoriko berpamitan, Avaron langsung menyadari ada sesuatu yang salah dan
berpikir dialah penyebabnya.
“Aku tahu
pasti karena Shou, bukan?” kata Avaron. “Kau mau memaafkanku?”
Yoriko diam
sejenak sebelum menjawab, “Anda tidak perlu meminta maaf padaku, Avaron-san.
Jika memang ada yang harus meminta maaf, seharusnya itu aku.”
“Kenapa?”
“Karena aku
sadar aku berada di antara kalian...” Yoriko berkata lirih. “Tidak hanya Shou,
melihat anda begitu akur bersama mereka dan membicarakan masa lalu kalian yang
begitu menyenangkan membuatku merasa aku tidak pantas berada disana. Aku tidak
ingin mengganggu, itu saja.”
Avaron luluh
mendengar penjelasan Yoriko. “Ya ampun, Yoriko... kenapa kau berpikiran begitu?
Masa lalu atau bukan, kau tetap bagian dari kami. Jangan merendahkan dirimu,
Yoriko-chan...”
“Tidak hanya
itu, Avaron-san...” sela Yoriko. Avaron siap mendengarkan penjelasan Yoriko
selanjutnya, tetapi tidak ada kata terucap dari bibir Yoriko. Gadis itu tidak
ingin Avaron dan Aya berpikir apa yang akan ia katakan sangat konyol dan bisa
dijadikan bahan untuk ditertawakan.
“Apa, Yoriko?
Katakan saja.” kata Aya ikut menanti apapun yang akan dikatakan Yoriko.
“Kalian pasti
menganggap ini aneh. Aku mendengar Shou bernyanyi semalam...” Yoriko menatap
kedua sahabatnya. “Entah ini berlebihan atau apa, tapi aku merasa dia bernyanyi
begitu merdu dan menghayati. Harus kuakui aku terpesona olehnya, sampai aku
berpikir lagu itu dia nyanyikan untukku. Namun... begitu kusadari anda berada
disana, Avaron-san, aku jadi tahu lagu itu sebenarnya ia nyanyikan untuk siapa.
Dia masih mencintai anda, Avaron-san...”
Avaron dan
Aya terperanjat mendengar pengakuan Yoriko. Tidak satupun dari mereka berkata
apapun sampai pertanyaan Avaron memecah kesunyian di antara mereka.
“Kau mencintai Shou, Yoriko-chan?”
Yoriko
membutuhkan beberapa waktu untuk menimbang jawabannya, menarik napas
dalam-dalam, dan melepaskan seluruh beban dan khayalan yang dimilikinya selama
ini dan pada akhirnya ia pun mengaku, “Ya, aku mencintainya...”
Sebuah senyum
penuh arti terlukis di wajah Avaron, “Sudah kuduga...”
Tetapi Aya
menanggapi pengakuan Yoriko dengan bersorak riang sekeras mungkin, “Akhirnya
kau mengaku juga!!!”
“Tapi itu
tetap tidak mengubah apapun.” Kata Yoriko putus asa.
“Kecuali
kalau kau memberitahunya...” Avaron berkata dengan sangat lembut.
“Tidak
mungkin! Itu akan merusak segalanya, Avaron-san!” Yoriko panik dan mendadak
jantungnya serasa berhenti mendengar saran Avaron.
Merasakan
kekalutan Yoriko, Avaron meraih tangan Yoriko yang gemetaran. Ia pun menatap
Yoriko dalam-dalam, menyiratkan rasa keibuannya, meyakinkan Yoriko untuk tidak
takut. “Lebih baik kau memberitahunya daripada kau sakit hati karena
memendamnya sendirian, Yoriko-chan...”
“Tapi...”
Yoriko masih ketakutan. “Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku? Bagaimana kalau
setelah aku mengatakannya dia akan membenciku lalu menganggapku hina?”
“Shou pria
yang baik, dia pasti akan tetap menghargaimu. Kau harus memberanikan dirimu,
Yoriko-chan. Janganlah mundur karena terlalu memikirkan kemungkinan buruknya.”
Avaron berkata dengan sangat lembut.
“Ya,
Yoriko-chan.” Aya menyemangati Yoriko. “Kalau dia macam-macam padamu, aku akan
menghajarnya, tidak peduli dia artis atau bukan.”
“Terima
kasih, Aya. Tapi aku masih tidak bisa melakukannya...” Yoriko tetap menolak.
“Maksudku, kau tahu hubungan kerja kami, kan? Aku tidak bisa mengambil resiko
dia akan memecatku karena aku memiliki perasaan terhadapnya.”
“Kalau kau
tidak berani memberitahukannya sendirian, aku punya ide.” Avaron memberi usul.
“Undang saja dia ke pesta yang akan kuadakan besok lusa. Kau bisa menyatakan
perasaanmu disana, di depan kami tanpa merasa terintimidasi. Aku dan Aya akan
membantumu jika terjadi sesuatu. Bagaimana?”
“Pesta apa?”
Yoriko mengerutkan dahi.
“Hanya pesta
kecil-kecilan di rumahku. Pesta untuk merayakan...” Avaron tiba-tiba tersenyum
malu dan menaruh tangannya di perutnya. “kehamilan keduaku.”
Langsung saja
Yoriko dan Aya menjerit kesenangan. “Ya Tuhan!! Benarkah itu, Avaron-san!?
Sudah berapa lama!?”
“Aku baru
tahu tadi pagi. Besok aku dan Kai akan pergi ke dokter untuk memastikan. Jadi
kita berharap yang terbaik saja, ya?” kata Avaron dengan penuh harapan. “Nah,
untuk itu, kau tidak akan menolak untuk datang kan, Yoriko-chan?”
Yoriko
tersenyum lebar-lebar mengetahui sebentar lagi seorang bayi mungil akan hadir
di antara mereka. Karenanya harapan Yoriko pun tumbuh, “Ya, aku akan datang,
Avaron-san.”
“Ajak Shou,
ya. Dia pasti senang jika diundang, toh dia juga sahabat kita, kan?” Pesan
Avaron.
“Tapi...
bagaimana aku mengajaknya? Setelah konser mereka mengambil cuti, aku tidak
bekerja untuk mereka lagi selama mereka berlibur...” Yoriko kembali
kebingungan.
“Ah... kau
ini. Ambil handphonemu, telepon atau kirim e-mail untuknya.” Aya sedikit
jengkel Yoriko tidak terpikir hal itu.
Yoriko
tersenyum kering begitu ia teringat. Segera ia mengambil handphone dari saku
dressnya dan mulai mengetik e-mail untuk Shou. Tetapi Yoriko telah didahului
oleh sebuah e-mail yang masuk ke handphonenya. Saat ia membukanya, Yoriko tidak
bisa menyembunyikan rona pipinya yang mendadak berwarna seperti tomat.
“Shou
mengajakku makan malam hari ini...” ujar Yoriko malu-malu.
“Terima
ajakannya, Yoriko!! Terima!!!” jerit Avaron dan Aya kesenangan.
Yoriko tertawa
tanpa henti melihat reaksi kedua temannya. Tanpa ragu lagi, ia mengetik e-mail
balasan untuk Shou, menerima ajakannya.
Pukul 8
malam, Shou menunggu tepat di depan Christon Cafe dengan penampilan serapi
mungkin. Kemeja putih dan celana jins gelap bukanlah pakaian yang biasa ia
kenakan, tetapi karena desakan Tora dan yang lain menginginkan Shou berpakaian
sedikit ‘berkarisma’ dan ‘menawan’ atau apalah itu, Shou hanya bisa pasrah,
berharap Yoriko tidak menyadari penampilan barunya dan menertawakannya.
Sepuluh menit
kemudian, ia melihat sosok Yoriko dari kejauhan. Gadis itu berjalan di antara
kerumunan dengan jubah hitam berkibar melilit di lehernya. Entah karena
penglihatan Shou yang salah atau Yoriko memang terlihat cantik dan berbeda
malam ini. Meski dress hitam dan sepatu boot kulit tetap melekat di tubuhnya.
Bibir merah
gadis itu tersenyum ketika menangkap keberadaan Shou. Ia berjalan lebih cepat
supaya Shou tidak menunggu lebih lama. “Hai, Shou! Kau sudah memesan tempat?”
“Be...
belum...” jawab Shou gugup saat Yoriko berdiri hanya beberapa centi di
dekatnya. “Aku belum pernah ke restoran ini, jadi...”
“Oh, tidak
apa! Akan kutunjukkan kau tempat terbaik!” kata Yoriko antusias sambil melihat
penampilan Shou. “Ngomong-ngomong, kau terlihat berbeda malam ini...”
“Ngg... hanya
ini yang bisa kutemukan di lemariku. Aku tidak sempat mencuci. Hehe...” Shou
cepat-cepat menyangkal.
Yoriko hanya
bergumam singkat sebelum mengajak Shou masuk ke dalam restoran. Salah seorang
pelayan menyambut mereka dan menawarkan meja untuk dua orang. Sesuai permintaan
Yoriko, mereka ditempatkan di meja dekat altar Bunda Maria. Mereka disuguhi
kue-kue dan minuman penyegar secara gratis sebelum memesan.
“Ini tempat
favoritku dan Juri di restoran ini...” Yoriko membeberkan sebuah fakta yang
membuat Shou tertusuk sangat dalam.
Kenapa Yoriko
harus menyebut nama itu? Demi Tuhan, Juri sedang tidak ada disini dan Yoriko
tidak perlu membahasnya. Shou tidak bisa membayangkan meja tempat mereka duduk
ini adalah meja dimana Yoriko dan Juri sering bercengkrama, menikmati makanan
sambil tertawa.
Menutupi
kekesalannya, Shou meminta pelayan untuk langsung mencatat pesanan mereka. Ia
melihat seluruh menu makanan yang tersedia di buku menu dan kebingungan, tidak
tahu makanan apa yang enak disini.
“Kusarankan
kau memesan steik salmon saja. Kata Juri, itu menu makanan terenak disini.”
Yoriko menyarankan sambil mengerling ke pelayan. “Ya, kan?”
“Benar, kami
menyediakan seluruh menu makanan disini dengan cita rasa dan kualitas terbaik.”
Jawab si pelayan dengan sopan dan bangga.
Saat Yoriko
menyebut nama Juri lagi, nyaris saja Shou mengambil garpu di dekatnya dan
menancapkannya ke meja sebagai tanda amarahnya. Tidak ingin disamakan dengan
Juri, Shou akhirnya memesan menu yang ia bahkan tidak tahu bagaimana cara
membacanya. “Aku pesan... steik foie grass dengan risotto?”
Yoriko
mengangkat alisnya mendengar pesanan Shou sebelum memesan makanannya, “Seperti
biasa, aku memesan salad. Terima kasih...”
Pelayan pergi
dan selagi pesanan mereka disiapkan, Yoriko pun mengajak Shou mengobrol.
“Kenapa kau memesan foie gras?”
“Memangnya
kenapa?” Shou bertanya balik.
“Aku melihat
betapa sadisnya perbuatan orang-orang pada para bebek itu untuk membuat menu
makanan itu di internet. Aku hampir menangis saat tahu mereka dipaksa memakan
begitu banyak adonan jagung dan mulut mereka ditusuk-tusuk secara paksa dengan
pipa logam supaya cepat masuk ke kerongkongan...” kata Yoriko sedih.
Shou memutar
matanya. Bisa-bisanya Yoriko membahas itu sebelum makan. “Sudahlah, aku baru
tahu dari kau soal itu. Aku juga tidak mengerti menu-menu disini jadi aku asal
saja memesan.”
“Ya sudah...”
Yoriko pun diam.
Shou
mengganti topik pembicaraan. “Kau suka sekali restoran ini, ya?”
Yoriko
mengangguk cepat. “Ya! Hanya ini restoran bernuansa gotik tapi juga seperti
gereja yang kutahu. Keren, kan?”
Shou tertawa
pelan. Ia melihat sekeliling restoran. Salib dimana-mana, bahkan di bar pun ada
lukisan “Jamuan Terakhir”, altar Bunda Maria tepat di samping mereka, tetapi
juga bernuansa menyeramkan dengan perabotan gotik klasik dan didominasi oleh
warna merah.
“Aku heran
ternyata gotik juga dihubungkan dengan gereja dan semacamnya. Padahal
kebanyakan gotik itu tentang vampir, iblis, dan kematian. Sesuatu yang cukup
berlawanan kan?” kata Shou.
“Menurut
Patrick O’Malley, semua itu berawal dari novel abad 19 karangan Bram Stroke
berjudul Dracula dan Jude the Obscure karangan Thomas Hardy. Kau pasti tahu,
kan?” jawab Yoriko.
Gotik mulanya
adalah istilah hina dari jaman Renaissance, tentang suku gotik yang mendirikan
bangunan-bangunan bernuansa gotik. Namun mereka menghancurkan kesan itu dengan
mengenalkan bangunan mereka yang bernuansa gelap dan melankolis itu hanya untuk
tujuan keindahan semata. Sebenarnya seni dan arsitektur gotik adalah simbol
estetika dari jaman sejarah Eropa ketika paganisme telah dihapuskan, tradisi
budaya klasik dihancurkan, gerombolan penyusup telah dikalahkan atau
dikristenisasi, dan gereja Katolik menetapkan bahwa selain mereka menyediakan
kebutuhan rohani, tetapi juga penengah dari nasib pemerintahan dan rakyat.
Tiba-tiba
pertanyaan yang muncul dari Nao tadi pagi teringat oleh Shou. Digelitiki oleh
rasa penasaran, Shou bertanya pada Yoriko. “Kalau begitu, apa kau mau menjadi
vampir seperti yang biasa diinginkan gadis gotik kebanyakan?”
Yoriko
memasang mimik kebingungan dan bimbang. “Entahlah... kurasa aku tidak mau...”
“Lho?
Kenapa?”
“Karena kalau
aku berubah menjadi vampir, aku tidak akan bisa memasuki gereja lagi karena
vampir anti dengan tanah suci. Kulitku pasti akan terbakar bila tersentuh air
suci dan salib, aku tidak mau itu terjadi...” kata Yoriko dengan bibir
cemberut.
Shou tertawa
mendengarnya. Tetapi tawa itu tidak bertahan lama ketika Yoriko meneruskan,
“Nanti aku tidak bisa ke gereja setiap minggu bersama Juri...”
“Apa? Kalian
pergi ke gereja bersama?” Shou terkejut.
“Ya, masa kau
tidak tahu? Dia mendaftar sebagai jemaat di gerejaku. Keren, kan? Selama dia
disini, dia pergi ke gereja bersamaku setiap hari Minggu.” Raut riang menghiasi
wajah Yoriko. “Aku jadi ingat Juri sedikit kebingungan saat khotbah diucapkan
dengan bahasa Jepang. Pada akhirnya kami pun mengganti jadwal misa kami dengan
misa berbahasa Inggris.”
Shou memang
tahu Juri setiap Minggu pergi pagi-pagi sekali untuk menghadiri misa di gereja.
Tetapi ia tidak pernah tahu sepupunya itu pergi kesana bersama Yoriko. Sungguh
sebuah fakta menyebalkan lainnya yang terpaksa ditelan Shou pada malam itu.
Shou menjadi
tercenung sesaat sebelum pesanan makanan mereka tiba. Shou jadi tidak bernafsu
melihat foie gras di depannya setelah mengetahui fakta dari Yoriko tentang
bebek-bebek malang itu.
“Oh ya, maaf
semalam aku tidak memenuhi ajakan kalian menginap di rumahmu...” kata Yoriko
seraya memulai santapan saladnya.
“Ngg... tidak
apa-apa, tenang saja. Kami paham, kok...” jawab Shou seolah masalah itu tidak
pernah menjadi topik utama obrolannya dengan teman-temannya tadi pagi.
“Lagipula,
aku tahu kau pasti tidak suka aku berada di rumahmu...” ujar Yoriko pelan.
“Yoriko...”
Shou menyadari kebodohannya tentang pertengkaran mereka di rumahnya tempo hari.
“Lupakan saja soal itu. Aku sedang emosi waktu itu.”
“Aku jadi
tidak enak hati pada Juri. Kuharap kau tidak terlalu keras padanya waktu itu.
Dia tidak tahu sama sekali kau akan marah besar karena mengajakku tanpa
seizinmu...”
Shou mulai
geram. Untuk apa Yoriko merasa bersalah pada Juri? Shou adalah pemilik rumah,
seharusnya Yoriko... argh, kenapa semuanya jadi menyangkut Juri? Shou gemas
pria yang sudah berada di ujung dunia itu masih sanggup menyabotase perhatian
Yoriko.
“Sudahlah,
lupakan saja.” Shou mulai ketus. Lama-kelamaan dia bisa menelan foie gras ini
bulat-bulat saking kesalnya.
Ternyata
perkiraan temannya salah. Malam ini tidak akan menjadi malam yang indah seperti
ucapan mereka. Shou sudah bisa menebak Yoriko pasti sudah menaruh hati pada
Juri dibanding siapapun. Shou selalu menangkap senyum penuh arti di wajah
Yoriko setiap kali dia membahas sepupunya itu. Dan ketika Shou teringat pada
pesan Juri yang memintanya menjaga gadis itu selama ia tidak ada, Shou merasa
pahit. Ia benar untuk memutuskan kembali ke dunianya sendiri, ia masih merasakan
cintanya terhadap Avaron kembali bersemi semalam ketika wanita itu datang
kepadanya. Walau ia tahu ia tidak bisa mendapatkannya, setidaknya rasa sakit
yang sama tidak akan terulang lagi disaat ia tahu Yoriko telah menyukai orang
lain.
Yoriko menyadari
perubahan suasana di diri Shou meski ia tidak tahu karena apa. Ia menghabiskan
sayuran saladnya dengan enggan dan berkata, “Maaf... kalau begitu, maukah kau
mendengarkan ini? Tadi pagi Avaron-san memintaku mengajakmu menghadiri pesta
kecilnya besok lusa. Kau mau datang?”
Mendengar
nama Avaron disebut, Shou menjadi ingin bertemu wanita itu lagi. “Jam berapa?
Pesta apa?”
“Jam 7 malam.
Yah, hanya pesta kecil-kecilan biasa untuk kumpul bersama, mungkin?” jawab
Yoriko. “Kau mau datang, kan?”
Tadinya
Yoriko ragu Shou akan menyanggupi ajakan itu tetapi ia cukup kaget ketika Shou
langsung menjawab dengan yakin.
“Ya, aku akan
datang.”
No comments:
Post a Comment