Friday, July 5, 2013

The Delusion (13)

13

Seusai Yoriko bekerja pada pukul 8 malam, Juri mengajak Yoriko pergi makan malam bersama. Yoriko mengajak Juri ke restoran favoritnya, Christon Cafe yang pernah ia kunjungi tempo hari. Pilihan Yoriko mengajak Juri kesana merupakan pilihan tepat. Juri langsung jatuh cinta pada tempat itu seperti Yoriko. Mereka mengambil tempat yang sama saat Yoriko mengunjungi restoran itu pertama kali. Tidak lupa mereka berkunjung ke barnya, menikmati beberapa gelas minuman karena Juri sudah merindukan suasana pub yang nyaman dan tenang seperti di Inggris.

Di bar, mereka bercerita lebih banyak lagi. Mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka di Inggris. Yoriko pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah pub kecil namun cukup ramai di pusat London. Gajinya ia gunakan untuk berbelanja barang-barang berbau gotik dan peralatan seni. Sesekali ia menyebrang menuju Irlandia untuk berlibur atau menikmati konser-konser bernuansa Celtic yang sering diadakan.

Dimana kisah Yoriko yang lebih memiliki sensasi petualangan, Juri sedikit berbeda. Selain lahir dan besar di London, dia juga bersekolah disana sampai ia lulus dengan nilai sempurna dari Oxford dan menjadi seorang dokter. Pengalamannya di ilmu bedah membuatnya sering menulis essai baik untuk pribadi, tugas kuliah, dan publik. Beberapa karya essainya pernah dimuat di koran pagi tentang pengalaman pribadinya saat mengikuti magang di rumah sakit dan hasil penelitiannya sendiri atau bersama teman-temannya.

Kehidupan Juri di luar kampus dan pekerjaannya tidak jauh berbeda. Selain membaca dan menulis fiksi ilmiah karena terbawa oleh latar belakang pendidikannya, dia sering menghabiskan waktu di rumah mendengarkan musik jazz atau musik klasik. Kondominumnya di London sangat mencirikan kepribadiannya yang klasik dan tidak banyak tingkah.

Semakin jauh Yoriko mengenal Juri, semakin ia merasa Juri adalah campuran Robert Langdon dari luar dan Sherlock Holmes dari dalam karena pria berambut cokelat itu tidak sekaku yang mungkin orang-orang akan pikir. Dia humoris, tetapi ia tahu tempat dan komposisinya supaya tidak berlebihan.

Namun dari nanar mata hijau Juri yang ramah, Yoriko merasa mata itu menyiratkan lebih banyak lagi tentang siapa diri Juri dari yang ia ceritakan padanya.

“aku berpikir Jepang sangat mengagumkan. Banyak sekali sesuatu yang jauh dari bayanganku ada disini.” Komentar Juri setelah seminggu kedatangannya ke Tokyo.

“apakah sesuatu itu berkaitan dengan film porno? Karena kau tahulah, kau bisa mendapatkannya dari mesin penjual.” Canda Yoriko sambil mengerlingkan mata.

Mereka berdua tertawa karena candaan itu. “tentu saja tidak, Yoriko-chan. Namun akan kupertimbangkan soal itu.”

Juri tertawa saat melihat tatapan terkejut Yoriko yang lucu saat mendengar balasan lelucon dari Juri tersebut. “aku datang kesini bukan untuk itu, Yoriko-chan. Tenang saja.”

“lalu untuk apa selain menjadi seorang dokter disini? Aku yakin pekerjaan sebagai dokter di London pasti sangat menjanjikan bukan? Tetapi kenapa kau lebih memilih disini? Pindah ke negara lain membutuhkan komitmen besar...” tanya Yoriko lebih serius.

“apakah aku mendengar ini dari seorang gadis yang mengembara ke berbagai negara?” Juri tertawa lagi.

“aku tahu, tapi kau berbeda. Kau dokter, kau menghabiskan masa kecilmu disana, kehidupanmu sudah sangat sangat mapan, kenapa harus mencari tempat lain?”

Juri membenarkan posisi duduknya di counter bar. Dia memandang Yoriko lebih dekat lalu berkata, “karena aku ingin dekat dengan keluargaku di Jepang. Aku akrab dengan setiap anggota keluarga primer dari sini. Kakek nenek, paman dan bibiku, dan tentunya, sepupu-sepupuku.”

“biar kutebak.” Sela Yoriko. “hanya Shou yang membencimu.”

“kau tahu dari mana?” Juri kaget.

“tentu saja aku tahu. Selama latihan Alice Nine tadi siang, hanya dia yang paling merasa terganggu akan kehadiranmu. Namun tetap saja, aku masih tidak tahu alasannya.” Yoriko menyeruput cognacnya.

“aku juga tidak tahu kenapa. Aku mencoba mendekatinya tetapi tidak ada satu pun respon bagus darinya. Aku sama sekali tidak paham jalan pikirannya.” Tukas Juri.

“bolehkah aku bertanya padamu? Siapa Shou menurut pandanganmu?” tanya Yoriko lembut.

“dia unik. Sejak kami kecil, hanya dia yang paling bersemangat. Dimana aku dan kakaknya selalu menurut dan patuh pada orang tua kami, Shou tidak begitu. Di antara kami, hanya dia yang pernah memecahkan kaca jendela tetangga sebelah karena bermain bola.” Ungkap Juri. “dia juga melakukan beberapa kenakalan kecil untuk anak seusianya dulu. Jatuh dari sepeda, berkelahi dengan anak-anak SD, pulang dari bermain dalam keadaan kotor disana-sini. Tetapi semua kenakalan itu masih dalam batas kewajaran. Aku sempat iri padanya, dia mempunyai masa kecil yang polos dan menyenangkan sebagai anak-anak, tidak seperti kami yang terlalu cepat dewasa dan lebih sering mengurung diri di kamar untuk belajar.”

“tetapi semua kenakalan itu dianggap aneh oleh ayah Shou. Benar begitu?” tebak Yoriko lagi.

“kenapa kau bisa tahu lagi?” Juri kembali kaget. “ya, dari sudut pandangku, pamanku menganggap Shou nakal dan susah diatur. Kakak-kakaknya sekolah di sekolah swasta, hanya Shou yang bersekolah di sekolah negeri. Paman mengatur seluruh kehidupan mereka dan hanya Shou yang melawan.”

“aku yakin ekspresi wajah beliau saat Shou memutuskan untuk berkonsentrasi pada bandnya sungguh tidak ternilai...” Yoriko tersenyum sendiri membayangkannya.

“yah, beliau terdengar sangat kacau dan murka saat berbicara dengan ayahku lewat telepon.” Juri meminum scotchnya. “tapi bandnya sukses, harus kupuji kerja kerasnya untuk itu.”

“kau tahu kenapa Shou bisa membencimu?”

Tentu saja Juri ingin tahu kenapa.

“karena yang dia lihat darimu adalah kesempurnaan. Mungkin dari luar dia merasa percaya diri dengan dirinya sekarang, tapi begitu ia kembali ke keluarganya dan mereka memandangnya sebelah mata, dia jadi meragukan dirinya lagi. Kedua kakaknya sudah berkeluarga, maka status Shou dipertanyakan. Semua anggota keluarganya sudah serius dan hanya dia yang masih menikmati masa dewasanya dengan ‘bermain’ di dunia musik. Itu sungguh aneh di pandangan mereka. Ia juga sering dibandingkan denganmu, ayah Shou ingin Shou sepertimu. Sehingga setiap kali dia bertemu denganmu dan apa yang dilihatnya dia anggap sebagai sebuah kesempurnaan yang tidak akan bisa ia miliki, dia membencinya.” Jawab Yoriko perlahan supaya Juri paham.

“tetapi aku tidak sesempurna yang dia pikir, dia pasti tahu itu, kan?” sela Juri. Dia masih setengah percaya pada opini Yoriko. Dia merasa tahu Shou luar dalam, mereka sudah mengenal satu sama lain sejak kecil, Shou tidak mungkin merasa iri padanya begitu saja.

“jauh di dalam hatinya tentu saja dia tahu. Tetapi ada satu masalah yang dia simpan—dan aku tidak tahu apa itu—yang mengubah dirinya. Kau tidak tahu, Juri? Sebagian teman-temannya merasa dia sudah berubah, Shou yang kau lihat sekarang bukanlah Shou yang dulu.” Ujar Yoriko.

“berubah bagaimana maksudmu?” Juri mengernyitkan dahi.

“rasanya aku tidak berhak memberitahu. Aku tidak ingin ikut campur.” Yoriko mengangkat bahu pasrah.

“kalau kau tidak ingin ikut campur, kenapa kau bisa memperkirakan isi hati Shou? Jelas sekali kau mengamatinya...” Juri tidak percaya. Dia ingin mengulik informasi lebih jauh dari Yoriko, dia merasa Yoriko pasti juga menyimpan sesuatu tentang Shou di dalam hatinya.

“aku... tidak pernah mengamatinya. Aku hanya...” mendadak Yoriko jadi gugup. Bukan karena dia tidak ingin Juri tahu sesuatu, tapi dia tidak ingin Juri menertawakannya. “dia atasanku, aku mendengar cerita dari teman-teman bandnya, tidak lebih.”

“tetapi kenapa matamu menyiratkan masih ada hal lain yang kau ketahui, terlepas dari cerita mereka padamu...” desak Juri pelan namun tidak dapat disangkal. “kau menyukainya, ya?”

“tidak!” seru Yoriko. “aku tidak menyukainya!”

“ayolah, Yoriko.” Juri menekannya dengan nada menyindir. “hampir setiap hari kau bertemu dengannya, dia cukup tampan dan kaya, dia masih lajang. Apalagi yang kurang darinya?”

“tidak!” seru Yoriko lebih keras karena tersinggung. “Kenapa orang selalu berpikir begitu? Hanya karena dia mirip dengan tokoh khayalan ciptaanku, bukan berarti aku menyukainya!”

Menyadari dia sudah kelepasan bicara, Yoriko langsung diam dan menutup mulutnya dengan tangan. “ups...”

“tokoh khayalan, katamu?” Juri semakin tertarik pada gadis di depannya ini. “siapa? Apa dia pernah muncul di cerita-ceritamu yang kubaca?”

Yoriko diam. Dia tidak ingin Juri tahu lebih banyak. Rahasianya tentang Shou Kohara dan Spencer Williams hanya dia yang boleh tahu, dia sama sekali tidak memperkirakan ada orang lain yang tahu. Sekalinya orang itu tahu, dia pasti akan mendesak Yoriko untuk mendekati Shou lebih jauh atau berpikir Yoriko menyukainya. Tidak, sudah berapa kali Yoriko menegaskan bahwa dia tidak pernah menyukai Shou Kohara. Dia hanya manusia yang mirip dengan tokoh khayalannya yang jauh lebih sempurna daripada pria itu, tidak lebih.

“kita sama-sama penulis, Yoriko. Kau bisa menceritakannya padaku, aku tidak akan menertawaimu.” Ucapan Juri tetap tidak meyakinkan Yoriko. Meski Juri dan Shou tidak akrab, tidak menutup kemungkinan Juri tidak akan menceritakannya lagi ke Shou. Tidak hanya Yoriko akan dianggap gila, Yoriko bisa kehilangan pekerjaannya jika Shou menganggap orang yang bekerja untuknya adalah psikopat atau semacamnya.

“aku tidak bisa...” suara Yoriko hampir tidak terdengar. “maaf, aku belum siap menceritakannya padamu...”

Untungnya Juri memahaminya. “tidak apa. Kita baru sehari bertemu, maaf aku terlalu mendesakmu...”

Yoriko menunduk, tidak sanggup melihat wajah Juri. Dia beralih ke cognacnya di atas counter. Dia benci situasi canggung ini.

“maaf kalau aku terlalu ingin tahu soal tokoh khayalanmu itu. Mungkin aku sedikit terbawa karena aku penggemar karyamu, aku jadi ingin tahu...” tambah Juri. “saat aku dalam perjalanan ke Jepang ada sesuatu yang membisiki firasatku aku akan menemukan sesuatu yang luar biasa di tempat ini. Lalu aku bertemu denganmu hari ini, dan seluruh keraguanku untuk pindah kemari hilang dalam sekejap. Aku tidak tahu apa kau percaya dengan ini, tapi ini adalah takdir. Aku ingin tahu kenapa takdir mempertemukan kita semudah ini.”

“tentu saja aku percaya takdir.” Yoriko tersenyum tipis. “aku seorang Katolik, aku percaya Tuhan pasti merencanakan sesuatu.”

“aku juga seorang Katolik, makanya aku harus datang ke gereja terdekat untuk berterima kasih padaNya.” Kata-kata Juri membuat Yoriko tertawa.

“kalau kau mau, aku akan membawamu ke sebuah gereja bagus di kota ini.” tawar Yoriko.

“dengan senang hati aku menerima tawaran itu. Tapi, apa kau marah padaku soal tadi?” tanya Juri.

“marah? Kenapa aku harus marah padamu?” Yoriko tidak mengerti. “aku malah ingin bertanya sesuatu padamu.”

“silakan tanya apa saja padaku, Yoriko. Kau boleh menghabisiku dengan pertanyaan darimu, aku pantas menerimanya.” Kata Juri pasrah.

“kenapa? Kenapa kau menyukai karyaku? Maksudku, kau seorang dokter, pengalamanmu jauh lebih banyak dan lebih profesional daripada aku. Bahan tulisanmu sungguh jauh berbeda dan lebih baik daripada milikku yang hanya khayalan belaka. Aku sudah membaca tulisanmu, Juri, dan karyaku masih belum ada apa-apanya dibanding karyamu. Hidupmu juga jauh lebih baik dan tentunya kau bisa melakukan sesuatu yang lebih seru daripada bersamaku di bar ini.”

Juri tertawa pelan. “apa ini kau, Yoriko? Seorang gadis yang rendah diri?”

Yoriko tidak menjawab, dia menanti alasan dari Juri.

“karyamu sarat kejujuran, Yoriko. Kau menulisnya dengan sepenuh hati. Kau berkomitmen pada menulis, tidak seperti orang lain yang hanya menulis disaat senggang atau bahkan malas menulis. Dengan rasa percaya diri di dalam tulisanmu kau menunjukkan dirimu secara tidak langsung pada para pembaca. Kau ingin bebas tidak terkekang oleh peraturan dunia, kau masih ingin menjelajah, kau selalu melakukan apapun yang kau suka tetapi kau memiliki prinsip. Sebagai seorang pria yang hidupnya selalu diatur oleh orang lain, aku menyukai cara hidupmu. Berpetualang dari satu negara ke negara lain tanpa merasa takut, menulis isi hatimu melalui cerita, kau menikmati hidupmu. Aku mengetahui semuanya dari buku sedangkan kau... kau mengalaminya secara langsung di luar sana. Aku mengagumi semua yang ada di dirimu, Yoriko.” Kata Juri.

Yoriko terkesiap. Belum pernah ada orang yang menyatakan kekagumannya pada Yoriko sejauh ini seperti Juri. “wow... itu... aku tidak tahu... aku menghabiskan hidupku sendirian dan....”

“izinkan aku mengenalmu lebih dalam, Yoriko. Kumohon.” Pinta Juri. Dari intonasinya, Juri sangat bersungguh-sungguh. “karena kuyakin hanya kau juga yang bisa memahami diriku.”

Yoriko kembali terpaku. Sungguh, baru sekarang seseorang memintanya menjadi teman. Dan apa yang Yoriko lihat pada diri Juri sungguh luar biasa. Siapa yang tidak ingin memiliki teman secerdas, sebaik, dan sesopan Juri? Tentunya banyak orang di luar sana yang ingin berteman dengan Juri, tetapi mengapa Juri memilihnya itu merupakan sebuah keajaiban.

“baiklah, begini saja...,” Juri paham kalau Yoriko masih belum percaya atas permintaannya. “anggap saja aku memintamu menjadi pemandu kota Tokyo. Aku tahu kau juga tinggal di Tokyo belum lama. Tetapi aku yakin kau besar disini, bukan?”

“di panti asuhan...” sahut Yoriko lirih. Besar di panti asuhan yang peraturannya sangat ketat dan kehidupannya yang keras membuat Yoriko terpaksa mengingat masa kecilnya yang menyedihkan.

Namun Juri tidak mendengar sahutan Yoriko karena dia lalu berkata, “setidaknya, maukah kau menjadi temanku selama aku disini?”

“ya, tentu saja. Apa ruginya?” walaupun Yoriko menyanggupi, nada bicaranya terdengar tidak meyakinkan. Tetapi dia ingin mencoba, meskipun berteman dengan Juri nantinya akan membuka masa lalunya, setidaknya dia akan mempunyai teman untuk berbagi.

*** 

“kau yakin Juri tidak akan kenapa-kenapa? Dia belum hapal daerah Tokyo, bukan? Kau tidak takut dia akan tersesat malam-malam begini?” tanya Tora pada Shou yang menyetir mobilnya dalam perjalanan mereka menuju rumah Tora. Malam itu Tora mengundang Shou menginap di rumahnya untuk mengerjakan konsep-konsep konser mereka supaya bisa diterapkan di panggung saat gladi resik nanti.

Shou tidak menghiraukan pertanyaan Tora. Bukan urusan Shou bila Juri tersesat. Juri bukan anak kecil yang akan menangis jika ia tersesat di kerumunan Shibuya, kalau Juri merasa kemampuan bahasa Jepangnya bagus, dia pasti bisa bertanya pada orang setempat atau membaca petunjuk jalan, bukan?

Tahu pertanyaannya diabaikan, Tora mengalihkan pembicaraan. “menurutku dia orang baik. kenapa kau tidak mencoba berteman dengannya?”

Lagi-lagi pertanyaannya didiamkan oleh Shou. Tora melihat Shou sangat fokus menyetir, terlalu fokus sampai ia berkata, “tenang saja, jalannya tidak terlalu ramai.”

“bisa tidak kita membicarakan hal lain selain Juri? Aku muak sekali pada orang itu.” akhirnya Shou bicara juga.

“apa karena dia berhasil mengambil perhatian Yoriko?” Tora langsung ke inti pembicaraan. Walau Shou tidak menunjukkannya, tetapi Tora tahu. Selama Juri berkunjung di studio mereka tadi siang, Yoriko yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung menghabiskan waktunya bersama Juri sembari menonton Alice Nine berlatih. Sambil memainkan gitarnya, mata Tora terus mengamati Shou yang melihat Juri dan Yoriko dengan tatapan iri.

“maksudmu?” Shou tidak mengerti. Atau tidak mau mengaku.

“terlihat jelas, Shou. Aku tidak tahu kenapa kau begitu, tetapi aku tahu. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku tidak membocorkan hasil pengamatanku pada yang lain. Aku sahabatmu, Shou. Kau bisa percaya padaku.” Tora meyakinkan Shou.

Shou bingung mengutarakannya. Dia memang benci melihat dua orang itu begitu akrab di depannya, namun ia tidak tahu mengapa. Shou mual melihat perpaduan orang sok pintar dan gadis aneh. Shou sekilas mendengar apa yang mereka bicarakan. Tentang imajinasi, buku, cara menulis, berjalan-jalan, impian dan hal sampah lainnya. Kenapa harus terlalu terpaku pada imajinasi, impian, dan harapan? Bukankah itu hanya akan membawamu ke dalam kesengsaraan jika mengetahui semua impianmu tidak akan terwujud?

Merasa hampir 4 tahun ini Tora sudah menjadi ‘psikolog’ pribadi Shou, ia menebak apa yang Shou sembunyikan di balik keheningannya. “seorang pria yang mendekati sempurna, keturunan asing, berwajah blasteran, cerdas, lulusan dari salah satu universitas ternama di dunia, bergelar doktor pula. Siapa yang tidak merasa ciut bila dibandingkan olehnya? Apalagi kau yang selalu dibandingkan oleh ayahmu sendiri selama bertahun-tahun.”

“disaat sama, hampir semua gadis yang kau temui memujamu. Tetapi setelah penolakan dari seorang gadis beberapa tahun lalu, kau pun mempertanyakan dirimu sendiri. Apa yang kurang darimu sampai gadis itu menolakmu. Kau hampir mendapatkan dia. Lalu kemunculan Yoriko yang tidak acuh padamu membuatmu kembali ingat pada perasaan itu. Yoriko memiliki prinsip dan pekerja keras. Sama seperti gadis itu.”

“jadi intinya?” Shou mendesak.

“intinya, harga dirimu terlalu tinggi.” Setengah bercanda Tora mengatakannya, namun ada benarnya. “ketika kedua gangguanmu itu bersatu, kau semakin muak melihatnya. Seakan kau melihat gadis dari masa lalu itu sedang bersama seseorang yang mungkin masih kau benci karena orang itu berhasil mendapatkannya...”

“teorimu konyol.” Tidak sedikit pun Shou memikirkan atau menanggapi serius pendapat Tora. “Avaron sama sekali tidak mirip hantu kesiangan itu.”

“aa...” Tora tersenyum jahil. “aku sama sekali tidak menyebutkan nama Avaron, lho...”

“aku hanya tidak suka mereka mengganggu latihan kita. Kalau mereka ingin mengobrol, kenapa tidak di kafe saja? Kalau mereka serasi, kenapa aku harus peduli? Masih banyak hal yang lebih penting untuk diurus. Aku benci orang menyedihkan itu bisa tahu dimana studioku dan merecokiku. Memangnya dia tidak punya urusan lain?” kata Shou gusar.

“terserah. Aku cukup tahu saja, Shou...” Tora tersenyum santai seraya menaruh tangannya di belakang kepala lalu menyandarkan punggungnya di kursi. “sekarang kau pasti penasaran dengan apa yang mereka lakukan selarut ini di kota Tokyo yang tidak pernah tidur ini...”

“aku tidak peduli.” Entah kenapa setiap kali Shou mengucapkan kalimat itu, semakin bertambah saja rasa penasarannya.

“aku cukup tahu saja...” Tora mengulanginya dengan nada semenyebalkan mungkin.

*** 

Juri membawa Yoriko ke apartemen Shou, dimana ia tinggal selama sementara waktu. Ia mengajak Yoriko memasak makan malam bersama. Memasak makanan khas Inggris dan Jepang terdengar seperti ide bagus bagi mereka sepulang dari Christon Cafe. Suasana lorong lantai 20 gedung apartemen sangat lengang karena sudah menjelang tengah malam.

“memangnya Shou tidak akan marah kau mengundangku kemari?” tanya Yoriko tidak enak. Tidak ingin mengganggu suasana lengang nan damai ini dengan keributannya nanti bersama pria menyebalkan itu.

“tidak, dia menginap di rumah Tora-san...” jawab Juri enteng. Sesampainya di depan pintu apartemen, Juri membukanya dengan kunci cadangan yang Shou berikan padanya. Ketika mereka masuk ke dalam, Yoriko menelusuri seluruh sudut apartemen dengan matanya. Suasananya tetap sama seperti pertama kali ia datang kemari untuk mengantarkan Chirori. Apartemen ini luas tetapi sunyi seakan tidak ada tanda kehidupan yang berarti, tidak banyak perabotan, dan hawanya dingin. Yoriko merasa sayang, seharusnya apartemen ini masih bisa dihuni oleh 5 orang lebih, mengingat masih banyak orang di luar sana yang tidak memiliki rumah.

Tetapi Yoriko menemukan sebuah tanda kehidupan kecil di apartemen sepi ini ketika sesuatu mencolek kakinya. Sesuatu yang memiliki cakar dan menggelayut manja di kaki Yoriko. Chirori.

“hei, Chirori...” sapa Yoriko ramah. Ia mengangkat kucing putih itu ke dekapannya. Dari cara Chirori mengeong, Yoriko langsung bisa menebak kucing ini pasti lapar. Ternyata bekerja di petshop membuatnya semakin peka terhadap perasaan hewan.

“kasian kucing itu. Shou jarang menemaninya bermain. Dia jadi kesepian.” Kata Juri sambil beranjak ke dapur untuk menaruh belanjaan bahan masakan mereka dari supermarket.

Yoriko menjawab sembari mengikuti Juri ke dapur, “kurasa Shou menyimpan makanan Chirori di dapur...”

Setelah berada di dapur, Yoriko berhenti di depan kulkas besar berpintu dua. Dia menurunkan Chirori di lantai dan membuka kulkas itu. Yoriko menemukan sepotong daging salmon di tempat penyimpanan daging. Yoriko mengambil daging itu kemudian menaruhnya di sebuah piring kecil yang diletakkan di rak piring atas counter dapur.

“ini, Chirori-chan.” Yoriko berlutut ke lantai memberikan makanan itu ke Chirori yang langsung melahapnya sampai habis.

“sepertinya dia menyukaimu.” Juri memerhatikan bagaimana manjanya Chirori pada Yoriko. “dia saja sampai tidak mau kugendong karena belum mengenalku.”

“entahlah...” Yoriko juga tidak mengerti kenapa Chirori bisa begitu menyukainya. Gemas melihat kelucuan kucing bermata biru tersebut, ia mengusap lembut kepala Chirori yang sedang makan. “tapi lihat, dia lucu sekali kan?”

“seharusnya kau saja yang menjadi majikannya, bukannya Shou.” Ujar Juri tertawa. Dia mengeluarkan dua buah cangkir dari lemari counter untuk membuat teh. “kau mau teh?”

“oh, ya, terima kasih...” jawab Yoriko sesopan mungkin. Juri memang orang Jepang, tetapi karena ia besar di Inggris, Yoriko merasa dia harus tetap bersikap layaknya ia berada di sana. Dia berdiri untuk membantu Juri mengambil termos untuk memanaskan air. Namun Juri terlebih dulu mencegahnya.

“tidak usah. Tamu tidak perlu repot-repot.” Juri menunjuk ruang TV. “cari saja film bagus di rak DVD. Kurasa Shou punya beberapa film horor yang keren.”

Yoriko menggendong Chirori yang sudah selesai makan lalu berjalan ke ruang tamu sambil tersenyum seakan dia memahami sesuatu. “kau tahu, aku selalu suka kesopanan para pria Inggris, meski salah satu dari mereka ternyata blasteran Jepang.”

Juri hanya tersipu malu mendengar pujian Yoriko. Dia mengambil dua kantong teh lalu memasukkannya ke dalam teko yang sudah disiapkan.

Di ruang TV, Yoriko memerhatikan dengan seksama rak DVD yang penuh akan koleksi film Shou. Yoriko baru tahu selera pria itu dalam memilih film bagus juga. Seri lengkap film Indiana Jones yang ditata sesuai urutan, Die Hard, Jurassic Park, Speed. Namun pilihan Yoriko jatuh pada film thriller lama berjudul When A Stranger Calls Back.

Saat mengambil DVD yang diinginkan, Yoriko menurunkan Chirori. Kucing itu mulai berulah ketika sudah menginjak lantai. Ia berlari ke arah meja kerja tidak jauh dari rak dan duduk di kursinya. Sudah bisa ditebak Chirori pasti ingin mencakar kursi itu.

“Chirori, jangan...” Yoriko menegurnya supaya pemilik kursi itu tidak marah. Ia menaruh DVDnya di meja dan mengambil Chirori. Namun kucing lucu itu meloncat dengan sangat gesit dari dekapan Yoriko ke meja kerja yang memiliki seperangkat komputer di atasnya.

Tanpa sengaja Chirori memencet salah satu tombol keyboard komputer itu lalu monitornya menyala. Ternyata siapapun pemilik komputer ini, pasti lupa mematikannya sampai membiarkannya dalam keadaan stand by selama ini.

Didorong rasa ingin tahu, Yoriko melirik apa yang diperlihatkan layar monitor tersebut. Ternyata komputer itu masih terhubung dengan internet, ke sebuah website yang sudah tidak asing lagi bagi Yoriko. Website dimana para penulis menaruh hasil karya mereka secara online untuk dibaca termasuk Yoriko.

Dan anehnya, komputer itu memperlihatkan profil Yoriko di website tersebut. Seseorang sedang membaca karyanya, atau tadinya sedang membaca ceritanya.

“Juri?” panggil Yoriko. Ia mendengar sahutan Juri dari dapur.

“kau membaca ceritaku?” tanya Yoriko.

Juri muncul dari dapur sambil membawa nampan teko berisi teh hangat dan dua buah cangkir serta beberapa kue. “tidak. Aku tidak sempat online karena harus mengurus kepindahanku. Memangnya kenapa?”

Yoriko menunjuk komputer di depannya. “ini komputermu?”

Setelah menaruh nampannya di meja, Juri menghampiri Yoriko. “tidak. Ini komputer Shou. Aku tidak pernah menyentuhnya, Shou pasti marah besar bila aku melakukannya. Lagipula aku mempunyai laptop sendiri dan apartemen ini memiliki fasilitas wi-fi.”

“lalu siapa yang membaca ceritaku?” Yoriko tidak ingin mengambil kesimpulan besar kalau pemilik komputer inilah yang membacanya. Tidak mungkin.

“entahlah, yang tinggal disini hanya Shou dan aku baru menumpang beberapa hari. Bisa jadi Shou yang membaca ceritamu. Kau pasti tidak percaya, ya kan?” Juri menggoda Yoriko. Tetapi Yoriko tidak membalas godaan Juri. Ia sibuk memeriksa cerita yang dibuka di komputer itu. Cerita lama yang ia tulis saat dia masih di Perancis.

“sepertinya kau memiliki pengagum rahasia, ya...” kata Juri.

“tidak mungkin. Pasti Tora atau Nao atau anggota Alice Nine yang lain pernah mampir kemari lalu membaca ceritaku disini.” Yoriko mengambil kesimpulan lain meski baginya kurang masuk akal. Dia mengembalikan komputer itu dalam keadaan semula. “ayo, kita nonton filmnya saja.”

*** 

Rasanya film yang mereka tonton selesai dengan sangat cepat, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Teh yang mereka minum sudah tersisa setengah dan mulai dingin. Namun Yoriko dan Juri masih belum ingin beranjak dari sofa.

“baiklah, kau ingin sesuatu yang lebih keras sebelum kita memasak?” tawar Juri.

“boleh saja. Apa yang kau punya?” Yoriko menyambut tawaran Juri. Setelah mendapat persetujuan Yoriko, Juri pergi lagi ke dapur. Dia mengambil sekerat bir Guinness yang ia bawa dari Inggris.

“hmm... Guinness... itu bir favoritku...” Yoriko tersenyum semangat begitu melihat Juri menaruh bir dingin itu di meja.

“aku ingin tahu apakah Jepang juga merayakan Arthur’s Day.” Canda Juri. “setidaknya, semoga saja kota ini memiliki salah satu pub khas Inggris.”

Mereka membuka kaleng bir tersebut dan bersulang. “untuk awal baru.” Ucap Juri.

“untuk awal baru...” Yoriko mengulang perkataan Juri. Mereka menyesap bir itu lalu tertawa bersama. “sudah lama sekali aku tidak minum bir Guinness. Aku jadi rindu saat aku masih jadi bartender dulu...”

“lalu...” Juri berkata. “kenapa bartender sekarang jadi bekerja di petshop?”

Yoriko menghela nafas. “Aya, sahabatku disini, membantuku. Dia memberiku tumpangan di apartemennya sebelum aku bisa menyewa apartemenku sendiri. Selain memberi tumpangan, dialah yang menyarankan Avaron-san, atasanku, untuk bekerja disana.”

“Avaron? Avaron Yutaka maksudmu? Aku mendengar anggota Alice Nine beberapa kali menyebut namanya. Sepertinya dia wanita baik di mata mereka. kalau tidak salah, Shou juga pernah bekerja untuknya, ya?” Juri teringat akan obrolan anggota Alice Nine tadi siang.

“ya, dia memang wanita baik. Dia sudah bahagia dengan suami dan anak lelakinya yang sangat menggemaskan, Yukio-chan.” Ujar Yoriko. “dengan murah hati dia memberiku pekerjaan disaat aku membutuhkan. Kau harus berkenalan dengannya lain waktu.”

Di antara pujian yang dilontarkan Yoriko tentang Avaron, Juri merasakan ada sesuatu yang mengganjal disana. “walaupun kau menganggap Avaron wanita baik, tetapi masih ada sesuatu tentangnya yang membuatmu sangat segan padanya.”

Yoriko nampak terkejut. “masa?”

“apa itu benar, Yoriko?” Juri ingin tahu jawabannya. “karena apapun jawabannya, sepertinya ada hubungannya dengan Shou.”

Sekali lagi Yoriko terkejut. “kau tahu darimana?”

“saat aku menyebutkan Shou pernah bekerja di petshop nanar matamu berubah seakan kau teringat sesuatu.” Dari cara bicara Juri, Yoriko langsung tahu Juri memiliki kemampuan psikologi juga. Tidak heran itu membuatnya terlihat bijaksana dan setiap kata-katanya terdengar cerdas.

“Kalau aku menjelaskannya padamu, mungkin kau akan tertawa mendengarnya. Atau kau mungkin akan merasa hanya membuang waktumu.” Kata Yoriko rendah diri.

“percayalah, Yoriko. Aku menghabiskan malamku bersama seorang gadis ternyentrik yang pernah kutemui, tentu saja aku akan menghabiskan sisa waktuku untuk mendengarkan ceritanya.” Juri meyakinkan Yoriko untuk kesekian kalinya pada malam ini.


Yoriko tertawa sejenak. Meskipun Yoriko tahu dia belum siap mengungkapkannya, pada akhirnya ia menyerah juga pada pesona pria ini. “kalau begitu, kau mungkin perlu tahu siapa Spencer Williams...”

No comments:

Post a Comment