13
Seusai Yoriko
bekerja pada pukul 8 malam, Juri mengajak Yoriko pergi makan malam bersama.
Yoriko mengajak Juri ke restoran favoritnya, Christon Cafe yang pernah ia
kunjungi tempo hari. Pilihan Yoriko mengajak Juri kesana merupakan pilihan
tepat. Juri langsung jatuh cinta pada tempat itu seperti Yoriko. Mereka
mengambil tempat yang sama saat Yoriko mengunjungi restoran itu pertama kali.
Tidak lupa mereka berkunjung ke barnya, menikmati beberapa gelas minuman karena
Juri sudah merindukan suasana pub yang nyaman dan tenang seperti di Inggris.
Di bar,
mereka bercerita lebih banyak lagi. Mereka saling bertukar cerita tentang
kehidupan mereka di Inggris. Yoriko pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah
pub kecil namun cukup ramai di pusat London. Gajinya ia gunakan untuk
berbelanja barang-barang berbau gotik dan peralatan seni. Sesekali ia menyebrang
menuju Irlandia untuk berlibur atau menikmati konser-konser bernuansa Celtic
yang sering diadakan.
Dimana kisah
Yoriko yang lebih memiliki sensasi petualangan, Juri sedikit berbeda. Selain
lahir dan besar di London, dia juga bersekolah disana sampai ia lulus dengan
nilai sempurna dari Oxford dan menjadi seorang dokter. Pengalamannya di ilmu
bedah membuatnya sering menulis essai baik untuk pribadi, tugas kuliah, dan
publik. Beberapa karya essainya pernah dimuat di koran pagi tentang pengalaman
pribadinya saat mengikuti magang di rumah sakit dan hasil penelitiannya sendiri
atau bersama teman-temannya.
Kehidupan
Juri di luar kampus dan pekerjaannya tidak jauh berbeda. Selain membaca dan menulis
fiksi ilmiah karena terbawa oleh latar belakang pendidikannya, dia sering
menghabiskan waktu di rumah mendengarkan musik jazz atau musik klasik. Kondominumnya
di London sangat mencirikan kepribadiannya yang klasik dan tidak banyak
tingkah.
Semakin jauh
Yoriko mengenal Juri, semakin ia merasa Juri adalah campuran Robert Langdon
dari luar dan Sherlock Holmes dari dalam karena pria berambut cokelat itu tidak
sekaku yang mungkin orang-orang akan pikir. Dia humoris, tetapi ia tahu tempat
dan komposisinya supaya tidak berlebihan.
Namun dari
nanar mata hijau Juri yang ramah, Yoriko merasa mata itu menyiratkan lebih
banyak lagi tentang siapa diri Juri dari yang ia ceritakan padanya.
“aku berpikir
Jepang sangat mengagumkan. Banyak sekali sesuatu yang jauh dari bayanganku ada
disini.” Komentar Juri setelah seminggu kedatangannya ke Tokyo.
“apakah
sesuatu itu berkaitan dengan film porno? Karena kau tahulah, kau bisa
mendapatkannya dari mesin penjual.” Canda Yoriko sambil mengerlingkan mata.
Mereka berdua
tertawa karena candaan itu. “tentu saja tidak, Yoriko-chan. Namun akan
kupertimbangkan soal itu.”
Juri tertawa
saat melihat tatapan terkejut Yoriko yang lucu saat mendengar balasan lelucon
dari Juri tersebut. “aku datang kesini bukan untuk itu, Yoriko-chan. Tenang
saja.”
“lalu untuk
apa selain menjadi seorang dokter disini? Aku yakin pekerjaan sebagai dokter di
London pasti sangat menjanjikan bukan? Tetapi kenapa kau lebih memilih disini?
Pindah ke negara lain membutuhkan komitmen besar...” tanya Yoriko lebih serius.
“apakah aku
mendengar ini dari seorang gadis yang mengembara ke berbagai negara?” Juri
tertawa lagi.
“aku tahu,
tapi kau berbeda. Kau dokter, kau menghabiskan masa kecilmu disana, kehidupanmu
sudah sangat sangat mapan, kenapa harus mencari tempat lain?”
Juri
membenarkan posisi duduknya di counter bar. Dia memandang Yoriko lebih dekat
lalu berkata, “karena aku ingin dekat dengan keluargaku di Jepang. Aku akrab
dengan setiap anggota keluarga primer dari sini. Kakek nenek, paman dan bibiku,
dan tentunya, sepupu-sepupuku.”
“biar
kutebak.” Sela Yoriko. “hanya Shou yang membencimu.”
“kau tahu
dari mana?” Juri kaget.
“tentu saja
aku tahu. Selama latihan Alice Nine tadi siang, hanya dia yang paling merasa
terganggu akan kehadiranmu. Namun tetap saja, aku masih tidak tahu alasannya.”
Yoriko menyeruput cognacnya.
“aku juga
tidak tahu kenapa. Aku mencoba mendekatinya tetapi tidak ada satu pun respon
bagus darinya. Aku sama sekali tidak paham jalan pikirannya.” Tukas Juri.
“bolehkah aku
bertanya padamu? Siapa Shou menurut pandanganmu?” tanya Yoriko lembut.
“dia unik.
Sejak kami kecil, hanya dia yang paling bersemangat. Dimana aku dan kakaknya
selalu menurut dan patuh pada orang tua kami, Shou tidak begitu. Di antara
kami, hanya dia yang pernah memecahkan kaca jendela tetangga sebelah karena
bermain bola.” Ungkap Juri. “dia juga melakukan beberapa kenakalan kecil untuk
anak seusianya dulu. Jatuh dari sepeda, berkelahi dengan anak-anak SD, pulang
dari bermain dalam keadaan kotor disana-sini. Tetapi semua kenakalan itu masih
dalam batas kewajaran. Aku sempat iri padanya, dia mempunyai masa kecil yang
polos dan menyenangkan sebagai anak-anak, tidak seperti kami yang terlalu cepat
dewasa dan lebih sering mengurung diri di kamar untuk belajar.”
“tetapi semua
kenakalan itu dianggap aneh oleh ayah Shou. Benar begitu?” tebak Yoriko lagi.
“kenapa kau
bisa tahu lagi?” Juri kembali kaget. “ya, dari sudut pandangku, pamanku
menganggap Shou nakal dan susah diatur. Kakak-kakaknya sekolah di sekolah
swasta, hanya Shou yang bersekolah di sekolah negeri. Paman mengatur seluruh
kehidupan mereka dan hanya Shou yang melawan.”
“aku yakin ekspresi
wajah beliau saat Shou memutuskan untuk berkonsentrasi pada bandnya sungguh
tidak ternilai...” Yoriko tersenyum sendiri membayangkannya.
“yah, beliau
terdengar sangat kacau dan murka saat berbicara dengan ayahku lewat telepon.”
Juri meminum scotchnya. “tapi bandnya sukses, harus kupuji kerja kerasnya untuk
itu.”
“kau tahu
kenapa Shou bisa membencimu?”
Tentu saja
Juri ingin tahu kenapa.
“karena yang
dia lihat darimu adalah kesempurnaan. Mungkin dari luar dia merasa percaya diri
dengan dirinya sekarang, tapi begitu ia kembali ke keluarganya dan mereka
memandangnya sebelah mata, dia jadi meragukan dirinya lagi. Kedua kakaknya
sudah berkeluarga, maka status Shou dipertanyakan. Semua anggota keluarganya sudah
serius dan hanya dia yang masih menikmati masa dewasanya dengan ‘bermain’ di
dunia musik. Itu sungguh aneh di pandangan mereka. Ia juga sering dibandingkan
denganmu, ayah Shou ingin Shou sepertimu. Sehingga setiap kali dia bertemu
denganmu dan apa yang dilihatnya dia anggap sebagai sebuah kesempurnaan yang
tidak akan bisa ia miliki, dia membencinya.” Jawab Yoriko perlahan supaya Juri
paham.
“tetapi aku
tidak sesempurna yang dia pikir, dia pasti tahu itu, kan?” sela Juri. Dia masih
setengah percaya pada opini Yoriko. Dia merasa tahu Shou luar dalam, mereka
sudah mengenal satu sama lain sejak kecil, Shou tidak mungkin merasa iri
padanya begitu saja.
“jauh di
dalam hatinya tentu saja dia tahu. Tetapi ada satu masalah yang dia simpan—dan
aku tidak tahu apa itu—yang mengubah dirinya. Kau tidak tahu, Juri? Sebagian
teman-temannya merasa dia sudah berubah, Shou yang kau lihat sekarang bukanlah
Shou yang dulu.” Ujar Yoriko.
“berubah
bagaimana maksudmu?” Juri mengernyitkan dahi.
“rasanya aku
tidak berhak memberitahu. Aku tidak ingin ikut campur.” Yoriko mengangkat bahu
pasrah.
“kalau kau
tidak ingin ikut campur, kenapa kau bisa memperkirakan isi hati Shou? Jelas
sekali kau mengamatinya...” Juri tidak percaya. Dia ingin mengulik informasi
lebih jauh dari Yoriko, dia merasa Yoriko pasti juga menyimpan sesuatu tentang
Shou di dalam hatinya.
“aku... tidak
pernah mengamatinya. Aku hanya...” mendadak Yoriko jadi gugup. Bukan karena dia
tidak ingin Juri tahu sesuatu, tapi dia tidak ingin Juri menertawakannya. “dia
atasanku, aku mendengar cerita dari teman-teman bandnya, tidak lebih.”
“tetapi
kenapa matamu menyiratkan masih ada hal lain yang kau ketahui, terlepas dari
cerita mereka padamu...” desak Juri pelan namun tidak dapat disangkal. “kau
menyukainya, ya?”
“tidak!” seru
Yoriko. “aku tidak menyukainya!”
“ayolah,
Yoriko.” Juri menekannya dengan nada menyindir. “hampir setiap hari kau bertemu
dengannya, dia cukup tampan dan kaya, dia masih lajang. Apalagi yang kurang
darinya?”
“tidak!” seru
Yoriko lebih keras karena tersinggung. “Kenapa orang selalu berpikir begitu?
Hanya karena dia mirip dengan tokoh khayalan ciptaanku, bukan berarti aku
menyukainya!”
Menyadari dia
sudah kelepasan bicara, Yoriko langsung diam dan menutup mulutnya dengan
tangan. “ups...”
“tokoh
khayalan, katamu?” Juri semakin tertarik pada gadis di depannya ini. “siapa?
Apa dia pernah muncul di cerita-ceritamu yang kubaca?”
Yoriko diam.
Dia tidak ingin Juri tahu lebih banyak. Rahasianya tentang Shou Kohara dan
Spencer Williams hanya dia yang boleh tahu, dia sama sekali tidak memperkirakan
ada orang lain yang tahu. Sekalinya orang itu tahu, dia pasti akan mendesak
Yoriko untuk mendekati Shou lebih jauh atau berpikir Yoriko menyukainya. Tidak,
sudah berapa kali Yoriko menegaskan bahwa dia tidak pernah menyukai Shou
Kohara. Dia hanya manusia yang mirip dengan tokoh khayalannya yang jauh lebih
sempurna daripada pria itu, tidak lebih.
“kita
sama-sama penulis, Yoriko. Kau bisa menceritakannya padaku, aku tidak akan
menertawaimu.” Ucapan Juri tetap tidak meyakinkan Yoriko. Meski Juri dan Shou
tidak akrab, tidak menutup kemungkinan Juri tidak akan menceritakannya lagi ke
Shou. Tidak hanya Yoriko akan dianggap gila, Yoriko bisa kehilangan
pekerjaannya jika Shou menganggap orang yang bekerja untuknya adalah psikopat
atau semacamnya.
“aku tidak
bisa...” suara Yoriko hampir tidak terdengar. “maaf, aku belum siap
menceritakannya padamu...”
Untungnya
Juri memahaminya. “tidak apa. Kita baru sehari bertemu, maaf aku terlalu
mendesakmu...”
Yoriko
menunduk, tidak sanggup melihat wajah Juri. Dia beralih ke cognacnya di atas
counter. Dia benci situasi canggung ini.
“maaf kalau
aku terlalu ingin tahu soal tokoh khayalanmu itu. Mungkin aku sedikit terbawa
karena aku penggemar karyamu, aku jadi ingin tahu...” tambah Juri. “saat aku
dalam perjalanan ke Jepang ada sesuatu yang membisiki firasatku aku akan
menemukan sesuatu yang luar biasa di tempat ini. Lalu aku bertemu denganmu hari
ini, dan seluruh keraguanku untuk pindah kemari hilang dalam sekejap. Aku tidak
tahu apa kau percaya dengan ini, tapi ini adalah takdir. Aku ingin tahu kenapa
takdir mempertemukan kita semudah ini.”
“tentu saja
aku percaya takdir.” Yoriko tersenyum tipis. “aku seorang Katolik, aku percaya
Tuhan pasti merencanakan sesuatu.”
“aku juga
seorang Katolik, makanya aku harus datang ke gereja terdekat untuk berterima
kasih padaNya.” Kata-kata Juri membuat Yoriko tertawa.
“kalau kau mau,
aku akan membawamu ke sebuah gereja bagus di kota ini.” tawar Yoriko.
“dengan
senang hati aku menerima tawaran itu. Tapi, apa kau marah padaku soal tadi?”
tanya Juri.
“marah?
Kenapa aku harus marah padamu?” Yoriko tidak mengerti. “aku malah ingin bertanya
sesuatu padamu.”
“silakan
tanya apa saja padaku, Yoriko. Kau boleh menghabisiku dengan pertanyaan darimu,
aku pantas menerimanya.” Kata Juri pasrah.
“kenapa?
Kenapa kau menyukai karyaku? Maksudku, kau seorang dokter, pengalamanmu jauh
lebih banyak dan lebih profesional daripada aku. Bahan tulisanmu sungguh jauh
berbeda dan lebih baik daripada milikku yang hanya khayalan belaka. Aku sudah
membaca tulisanmu, Juri, dan karyaku masih belum ada apa-apanya dibanding
karyamu. Hidupmu juga jauh lebih baik dan tentunya kau bisa melakukan sesuatu
yang lebih seru daripada bersamaku di bar ini.”
Juri tertawa
pelan. “apa ini kau, Yoriko? Seorang gadis yang rendah diri?”
Yoriko tidak
menjawab, dia menanti alasan dari Juri.
“karyamu
sarat kejujuran, Yoriko. Kau menulisnya dengan sepenuh hati. Kau berkomitmen
pada menulis, tidak seperti orang lain yang hanya menulis disaat senggang atau
bahkan malas menulis. Dengan rasa percaya diri di dalam tulisanmu kau
menunjukkan dirimu secara tidak langsung pada para pembaca. Kau ingin bebas
tidak terkekang oleh peraturan dunia, kau masih ingin menjelajah, kau selalu
melakukan apapun yang kau suka tetapi kau memiliki prinsip. Sebagai seorang
pria yang hidupnya selalu diatur oleh orang lain, aku menyukai cara hidupmu.
Berpetualang dari satu negara ke negara lain tanpa merasa takut, menulis isi
hatimu melalui cerita, kau menikmati hidupmu. Aku mengetahui semuanya dari buku
sedangkan kau... kau mengalaminya secara langsung di luar sana. Aku mengagumi
semua yang ada di dirimu, Yoriko.” Kata Juri.
Yoriko
terkesiap. Belum pernah ada orang yang menyatakan kekagumannya pada Yoriko
sejauh ini seperti Juri. “wow... itu... aku tidak tahu... aku menghabiskan
hidupku sendirian dan....”
“izinkan aku
mengenalmu lebih dalam, Yoriko. Kumohon.” Pinta Juri. Dari intonasinya, Juri
sangat bersungguh-sungguh. “karena kuyakin hanya kau juga yang bisa memahami
diriku.”
Yoriko
kembali terpaku. Sungguh, baru sekarang seseorang memintanya menjadi teman. Dan
apa yang Yoriko lihat pada diri Juri sungguh luar biasa. Siapa yang tidak ingin
memiliki teman secerdas, sebaik, dan sesopan Juri? Tentunya banyak orang di
luar sana yang ingin berteman dengan Juri, tetapi mengapa Juri memilihnya itu
merupakan sebuah keajaiban.
“baiklah,
begini saja...,” Juri paham kalau Yoriko masih belum percaya atas
permintaannya. “anggap saja aku memintamu menjadi pemandu kota Tokyo. Aku tahu
kau juga tinggal di Tokyo belum lama. Tetapi aku yakin kau besar disini,
bukan?”
“di panti
asuhan...” sahut Yoriko lirih. Besar di panti asuhan yang peraturannya sangat
ketat dan kehidupannya yang keras membuat Yoriko terpaksa mengingat masa
kecilnya yang menyedihkan.
Namun Juri
tidak mendengar sahutan Yoriko karena dia lalu berkata, “setidaknya, maukah kau
menjadi temanku selama aku disini?”
“ya, tentu
saja. Apa ruginya?” walaupun Yoriko menyanggupi, nada bicaranya terdengar tidak
meyakinkan. Tetapi dia ingin mencoba, meskipun berteman dengan Juri nantinya
akan membuka masa lalunya, setidaknya dia akan mempunyai teman untuk berbagi.
“kau yakin
Juri tidak akan kenapa-kenapa? Dia belum hapal daerah Tokyo, bukan? Kau tidak
takut dia akan tersesat malam-malam begini?” tanya Tora pada Shou yang menyetir
mobilnya dalam perjalanan mereka menuju rumah Tora. Malam itu Tora mengundang
Shou menginap di rumahnya untuk mengerjakan konsep-konsep konser mereka supaya
bisa diterapkan di panggung saat gladi resik nanti.
Shou tidak
menghiraukan pertanyaan Tora. Bukan urusan Shou bila Juri tersesat. Juri bukan
anak kecil yang akan menangis jika ia tersesat di kerumunan Shibuya, kalau Juri
merasa kemampuan bahasa Jepangnya bagus, dia pasti bisa bertanya pada orang
setempat atau membaca petunjuk jalan, bukan?
Tahu
pertanyaannya diabaikan, Tora mengalihkan pembicaraan. “menurutku dia orang
baik. kenapa kau tidak mencoba berteman dengannya?”
Lagi-lagi
pertanyaannya didiamkan oleh Shou. Tora melihat Shou sangat fokus menyetir,
terlalu fokus sampai ia berkata, “tenang saja, jalannya tidak terlalu ramai.”
“bisa tidak
kita membicarakan hal lain selain Juri? Aku muak sekali pada orang itu.”
akhirnya Shou bicara juga.
“apa karena
dia berhasil mengambil perhatian Yoriko?” Tora langsung ke inti pembicaraan.
Walau Shou tidak menunjukkannya, tetapi Tora tahu. Selama Juri berkunjung di
studio mereka tadi siang, Yoriko yang sudah selesai dengan pekerjaannya
langsung menghabiskan waktunya bersama Juri sembari menonton Alice Nine
berlatih. Sambil memainkan gitarnya, mata Tora terus mengamati Shou yang
melihat Juri dan Yoriko dengan tatapan iri.
“maksudmu?”
Shou tidak mengerti. Atau tidak mau mengaku.
“terlihat
jelas, Shou. Aku tidak tahu kenapa kau begitu, tetapi aku tahu. Seharusnya kau
berterima kasih padaku karena aku tidak membocorkan hasil pengamatanku pada
yang lain. Aku sahabatmu, Shou. Kau bisa percaya padaku.” Tora meyakinkan Shou.
Shou bingung
mengutarakannya. Dia memang benci melihat dua orang itu begitu akrab di
depannya, namun ia tidak tahu mengapa. Shou mual melihat perpaduan orang sok
pintar dan gadis aneh. Shou sekilas mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tentang imajinasi, buku, cara menulis, berjalan-jalan, impian dan hal sampah
lainnya. Kenapa harus terlalu terpaku pada imajinasi, impian, dan harapan?
Bukankah itu hanya akan membawamu ke dalam kesengsaraan jika mengetahui semua
impianmu tidak akan terwujud?
Merasa hampir
4 tahun ini Tora sudah menjadi ‘psikolog’ pribadi Shou, ia menebak apa yang
Shou sembunyikan di balik keheningannya. “seorang pria yang mendekati sempurna,
keturunan asing, berwajah blasteran, cerdas, lulusan dari salah satu
universitas ternama di dunia, bergelar doktor pula. Siapa yang tidak merasa
ciut bila dibandingkan olehnya? Apalagi kau yang selalu dibandingkan oleh
ayahmu sendiri selama bertahun-tahun.”
“disaat sama,
hampir semua gadis yang kau temui memujamu. Tetapi setelah penolakan dari
seorang gadis beberapa tahun lalu, kau pun mempertanyakan dirimu sendiri. Apa
yang kurang darimu sampai gadis itu menolakmu. Kau hampir mendapatkan dia. Lalu
kemunculan Yoriko yang tidak acuh padamu membuatmu kembali ingat pada perasaan
itu. Yoriko memiliki prinsip dan pekerja keras. Sama seperti gadis itu.”
“jadi
intinya?” Shou mendesak.
“intinya,
harga dirimu terlalu tinggi.” Setengah bercanda Tora mengatakannya, namun ada
benarnya. “ketika kedua gangguanmu itu bersatu, kau semakin muak melihatnya.
Seakan kau melihat gadis dari masa lalu itu sedang bersama seseorang yang
mungkin masih kau benci karena orang itu berhasil mendapatkannya...”
“teorimu
konyol.” Tidak sedikit pun Shou memikirkan atau menanggapi serius pendapat
Tora. “Avaron sama sekali tidak mirip hantu kesiangan itu.”
“aa...” Tora tersenyum
jahil. “aku sama sekali tidak menyebutkan nama Avaron, lho...”
“aku hanya
tidak suka mereka mengganggu latihan kita. Kalau mereka ingin mengobrol, kenapa
tidak di kafe saja? Kalau mereka serasi, kenapa aku harus peduli? Masih banyak
hal yang lebih penting untuk diurus. Aku benci orang menyedihkan itu bisa tahu
dimana studioku dan merecokiku. Memangnya dia tidak punya urusan lain?” kata
Shou gusar.
“terserah.
Aku cukup tahu saja, Shou...” Tora tersenyum santai seraya menaruh tangannya di
belakang kepala lalu menyandarkan punggungnya di kursi. “sekarang kau pasti
penasaran dengan apa yang mereka lakukan selarut ini di kota Tokyo yang tidak
pernah tidur ini...”
“aku tidak
peduli.” Entah kenapa setiap kali Shou mengucapkan kalimat itu, semakin bertambah
saja rasa penasarannya.
“aku cukup
tahu saja...” Tora mengulanginya dengan nada semenyebalkan mungkin.
Juri membawa Yoriko
ke apartemen Shou, dimana ia tinggal selama sementara waktu. Ia mengajak Yoriko
memasak makan malam bersama. Memasak makanan khas Inggris dan Jepang terdengar
seperti ide bagus bagi mereka sepulang dari Christon Cafe. Suasana lorong
lantai 20 gedung apartemen sangat lengang karena sudah menjelang tengah malam.
“memangnya
Shou tidak akan marah kau mengundangku kemari?” tanya Yoriko tidak enak. Tidak
ingin mengganggu suasana lengang nan damai ini dengan keributannya nanti
bersama pria menyebalkan itu.
“tidak, dia
menginap di rumah Tora-san...” jawab Juri enteng. Sesampainya di depan pintu
apartemen, Juri membukanya dengan kunci cadangan yang Shou berikan padanya.
Ketika mereka masuk ke dalam, Yoriko menelusuri seluruh sudut apartemen dengan
matanya. Suasananya tetap sama seperti pertama kali ia datang kemari untuk
mengantarkan Chirori. Apartemen ini luas tetapi sunyi seakan tidak ada tanda
kehidupan yang berarti, tidak banyak perabotan, dan hawanya dingin. Yoriko
merasa sayang, seharusnya apartemen ini masih bisa dihuni oleh 5 orang lebih,
mengingat masih banyak orang di luar sana yang tidak memiliki rumah.
Tetapi Yoriko
menemukan sebuah tanda kehidupan kecil di apartemen sepi ini ketika sesuatu
mencolek kakinya. Sesuatu yang memiliki cakar dan menggelayut manja di kaki
Yoriko. Chirori.
“hei,
Chirori...” sapa Yoriko ramah. Ia mengangkat kucing putih itu ke dekapannya.
Dari cara Chirori mengeong, Yoriko langsung bisa menebak kucing ini pasti
lapar. Ternyata bekerja di petshop membuatnya semakin peka terhadap perasaan
hewan.
“kasian
kucing itu. Shou jarang menemaninya bermain. Dia jadi kesepian.” Kata Juri
sambil beranjak ke dapur untuk menaruh belanjaan bahan masakan mereka dari
supermarket.
Yoriko
menjawab sembari mengikuti Juri ke dapur, “kurasa Shou menyimpan makanan
Chirori di dapur...”
Setelah
berada di dapur, Yoriko berhenti di depan kulkas besar berpintu dua. Dia
menurunkan Chirori di lantai dan membuka kulkas itu. Yoriko menemukan sepotong
daging salmon di tempat penyimpanan daging. Yoriko mengambil daging itu
kemudian menaruhnya di sebuah piring kecil yang diletakkan di rak piring atas
counter dapur.
“ini,
Chirori-chan.” Yoriko berlutut ke lantai memberikan makanan itu ke Chirori yang
langsung melahapnya sampai habis.
“sepertinya
dia menyukaimu.” Juri memerhatikan bagaimana manjanya Chirori pada Yoriko. “dia
saja sampai tidak mau kugendong karena belum mengenalku.”
“entahlah...”
Yoriko juga tidak mengerti kenapa Chirori bisa begitu menyukainya. Gemas
melihat kelucuan kucing bermata biru tersebut, ia mengusap lembut kepala
Chirori yang sedang makan. “tapi lihat, dia lucu sekali kan?”
“seharusnya
kau saja yang menjadi majikannya, bukannya Shou.” Ujar Juri tertawa. Dia
mengeluarkan dua buah cangkir dari lemari counter untuk membuat teh. “kau mau
teh?”
“oh, ya,
terima kasih...” jawab Yoriko sesopan mungkin. Juri memang orang Jepang, tetapi
karena ia besar di Inggris, Yoriko merasa dia harus tetap bersikap layaknya ia
berada di sana. Dia berdiri untuk membantu Juri mengambil termos untuk
memanaskan air. Namun Juri terlebih dulu mencegahnya.
“tidak usah.
Tamu tidak perlu repot-repot.” Juri menunjuk ruang TV. “cari saja film bagus di
rak DVD. Kurasa Shou punya beberapa film horor yang keren.”
Yoriko menggendong
Chirori yang sudah selesai makan lalu berjalan ke ruang tamu sambil tersenyum
seakan dia memahami sesuatu. “kau tahu, aku selalu suka kesopanan para pria
Inggris, meski salah satu dari mereka ternyata blasteran Jepang.”
Juri hanya
tersipu malu mendengar pujian Yoriko. Dia mengambil dua kantong teh lalu
memasukkannya ke dalam teko yang sudah disiapkan.
Di ruang TV,
Yoriko memerhatikan dengan seksama rak DVD yang penuh akan koleksi film Shou.
Yoriko baru tahu selera pria itu dalam memilih film bagus juga. Seri lengkap
film Indiana Jones yang ditata sesuai urutan, Die Hard, Jurassic Park, Speed.
Namun pilihan Yoriko jatuh pada film thriller lama berjudul When A Stranger
Calls Back.
Saat
mengambil DVD yang diinginkan, Yoriko menurunkan Chirori. Kucing itu mulai
berulah ketika sudah menginjak lantai. Ia berlari ke arah meja kerja tidak jauh
dari rak dan duduk di kursinya. Sudah bisa ditebak Chirori pasti ingin mencakar
kursi itu.
“Chirori,
jangan...” Yoriko menegurnya supaya pemilik kursi itu tidak marah. Ia menaruh
DVDnya di meja dan mengambil Chirori. Namun kucing lucu itu meloncat dengan
sangat gesit dari dekapan Yoriko ke meja kerja yang memiliki seperangkat
komputer di atasnya.
Tanpa sengaja
Chirori memencet salah satu tombol keyboard komputer itu lalu monitornya
menyala. Ternyata siapapun pemilik komputer ini, pasti lupa mematikannya sampai
membiarkannya dalam keadaan stand by selama ini.
Didorong rasa
ingin tahu, Yoriko melirik apa yang diperlihatkan layar monitor tersebut.
Ternyata komputer itu masih terhubung dengan internet, ke sebuah website yang
sudah tidak asing lagi bagi Yoriko. Website dimana para penulis menaruh hasil
karya mereka secara online untuk dibaca termasuk Yoriko.
Dan anehnya,
komputer itu memperlihatkan profil Yoriko di website tersebut. Seseorang sedang
membaca karyanya, atau tadinya sedang membaca ceritanya.
“Juri?”
panggil Yoriko. Ia mendengar sahutan Juri dari dapur.
“kau membaca
ceritaku?” tanya Yoriko.
Juri muncul
dari dapur sambil membawa nampan teko berisi teh hangat dan dua buah cangkir
serta beberapa kue. “tidak. Aku tidak sempat online karena harus mengurus
kepindahanku. Memangnya kenapa?”
Yoriko
menunjuk komputer di depannya. “ini komputermu?”
Setelah
menaruh nampannya di meja, Juri menghampiri Yoriko. “tidak. Ini komputer Shou.
Aku tidak pernah menyentuhnya, Shou pasti marah besar bila aku melakukannya.
Lagipula aku mempunyai laptop sendiri dan apartemen ini memiliki fasilitas
wi-fi.”
“lalu siapa
yang membaca ceritaku?” Yoriko tidak ingin mengambil kesimpulan besar kalau
pemilik komputer inilah yang membacanya. Tidak mungkin.
“entahlah,
yang tinggal disini hanya Shou dan aku baru menumpang beberapa hari. Bisa jadi
Shou yang membaca ceritamu. Kau pasti tidak percaya, ya kan?” Juri menggoda
Yoriko. Tetapi Yoriko tidak membalas godaan Juri. Ia sibuk memeriksa cerita
yang dibuka di komputer itu. Cerita lama yang ia tulis saat dia masih di
Perancis.
“sepertinya
kau memiliki pengagum rahasia, ya...” kata Juri.
“tidak
mungkin. Pasti Tora atau Nao atau anggota Alice Nine yang lain pernah mampir
kemari lalu membaca ceritaku disini.” Yoriko mengambil kesimpulan lain meski
baginya kurang masuk akal. Dia mengembalikan komputer itu dalam keadaan semula.
“ayo, kita nonton filmnya saja.”
Rasanya film
yang mereka tonton selesai dengan sangat cepat, waktu sudah menunjukkan pukul
setengah 12 malam. Teh yang mereka minum sudah tersisa setengah dan mulai
dingin. Namun Yoriko dan Juri masih belum ingin beranjak dari sofa.
“baiklah, kau
ingin sesuatu yang lebih keras sebelum kita memasak?” tawar Juri.
“boleh saja.
Apa yang kau punya?” Yoriko menyambut tawaran Juri. Setelah mendapat
persetujuan Yoriko, Juri pergi lagi ke dapur. Dia mengambil sekerat bir
Guinness yang ia bawa dari Inggris.
“hmm...
Guinness... itu bir favoritku...” Yoriko tersenyum semangat begitu melihat Juri
menaruh bir dingin itu di meja.
“aku ingin
tahu apakah Jepang juga merayakan Arthur’s Day.” Canda Juri. “setidaknya,
semoga saja kota ini memiliki salah satu pub khas Inggris.”
Mereka
membuka kaleng bir tersebut dan bersulang. “untuk awal baru.” Ucap Juri.
“untuk awal
baru...” Yoriko mengulang perkataan Juri. Mereka menyesap bir itu lalu tertawa
bersama. “sudah lama sekali aku tidak minum bir Guinness. Aku jadi rindu saat
aku masih jadi bartender dulu...”
“lalu...”
Juri berkata. “kenapa bartender sekarang jadi bekerja di petshop?”
Yoriko
menghela nafas. “Aya, sahabatku disini, membantuku. Dia memberiku tumpangan di
apartemennya sebelum aku bisa menyewa apartemenku sendiri. Selain memberi
tumpangan, dialah yang menyarankan Avaron-san, atasanku, untuk bekerja disana.”
“Avaron?
Avaron Yutaka maksudmu? Aku mendengar anggota Alice Nine beberapa kali menyebut
namanya. Sepertinya dia wanita baik di mata mereka. kalau tidak salah, Shou juga
pernah bekerja untuknya, ya?” Juri teringat akan obrolan anggota Alice Nine
tadi siang.
“ya, dia
memang wanita baik. Dia sudah bahagia dengan suami dan anak lelakinya yang
sangat menggemaskan, Yukio-chan.” Ujar Yoriko. “dengan murah hati dia memberiku
pekerjaan disaat aku membutuhkan. Kau harus berkenalan dengannya lain waktu.”
Di antara
pujian yang dilontarkan Yoriko tentang Avaron, Juri merasakan ada sesuatu yang
mengganjal disana. “walaupun kau menganggap Avaron wanita baik, tetapi masih
ada sesuatu tentangnya yang membuatmu sangat segan padanya.”
Yoriko nampak
terkejut. “masa?”
“apa itu
benar, Yoriko?” Juri ingin tahu jawabannya. “karena apapun jawabannya,
sepertinya ada hubungannya dengan Shou.”
Sekali lagi
Yoriko terkejut. “kau tahu darimana?”
“saat aku
menyebutkan Shou pernah bekerja di petshop nanar matamu berubah seakan kau
teringat sesuatu.” Dari cara bicara Juri, Yoriko langsung tahu Juri memiliki
kemampuan psikologi juga. Tidak heran itu membuatnya terlihat bijaksana dan
setiap kata-katanya terdengar cerdas.
“Kalau aku
menjelaskannya padamu, mungkin kau akan tertawa mendengarnya. Atau kau mungkin
akan merasa hanya membuang waktumu.” Kata Yoriko rendah diri.
“percayalah,
Yoriko. Aku menghabiskan malamku bersama seorang gadis ternyentrik yang pernah
kutemui, tentu saja aku akan menghabiskan sisa waktuku untuk mendengarkan
ceritanya.” Juri meyakinkan Yoriko untuk kesekian kalinya pada malam ini.
Yoriko
tertawa sejenak. Meskipun Yoriko tahu dia belum siap mengungkapkannya, pada
akhirnya ia menyerah juga pada pesona pria ini. “kalau begitu, kau mungkin
perlu tahu siapa Spencer Williams...”
No comments:
Post a Comment