15
“Apa yang
sedang kau gambar, Yoriko-chan?” Hitomu tiba-tiba muncul dari belakang Yoriko
yang sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya.
Meski agak
kaget karena kemunculan Hitomu, Yoriko menjawab. “Aku menggambar seseorang...”
Mereka berada
di balkon apartemen Yoriko yang sempit. Yoriko sering menghabiskan waktunya di
tempat ini sambil menggambar atau menulis. Walaupun balkon apartemen itu tidak
sebagus milik apartemen Shou, pemandangan balkon milik Yoriko jauh lebih
menarik. Menghadap ke sebuah taman kecil nan indah yang biasa dikunjungi oleh
penghuni apartemen Yoriko. Taman itu cukup ramai di sore hari, dimana anak-anak
kecil sering bermain sepeda, sepatu roda, petak umpet, bahkan hanya untuk
duduk-duduk di bangku sambil menikmati es krim.
Yoriko yang
masih menikmati masa cutinya lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen
untuk menulis atau menggambar seperti ini.
Hitomu duduk
di lantai tepat di samping Yoriko. Dia melirik lagi gambar Yoriko. Seorang pria
yang wajahnya tidak terlihat karena rambutnya yang unik sedang menatap sebuah
pohon sakura yang berguguran bersama seekor kucing di sampingnya.
“Siapa dia?”
tanya Hitomu lagi. “Jangan-jangan dia Shou?”
Yoriko
membenarkan tebakan Hitomu. “Memangnya siapa lagi?”
Hitomu
tersenyum karena benar. “Kenapa kau menggambar orang itu? Lalu, kenapa ada
kucing juga disana?”
“Entahlah...”
jawab Yoriko. “Saat aku menggambar kucing itu, gambar ini terasa benar saja.
Seakan pria yang ada di gambar ini membutuhkan kucing itu sebagai temannya...
Kau mengerti, kan?”
Hitomu
mengangguk pelan. Dia memerhatikan lagi gambar Yoriko. Gambar itu terasa sangat
sedih dan menyimpan banyak kegalauan disana. Shou yang ada di gambar itu
terlihat kesepian dan tidak rela jika sakura itu gugur.
“Kenapa dia
terlihat begitu sedih?” tanya Hitomu lagi.
Mendengar
pertanyaan itu, Yoriko melihat lagi gambarnya. Memang benar, sosok yang Yoriko
gambarkan terlihat sangat sedih dan kesepian karena suatu hal. “Aku juga tidak
tahu... Aku hanya menggambarkan apa yang terakhir kali kuperhatikan darinya.”
“Aku melihat
seorang pria yang tersesat, terombang-ambing di lautan manusia yang dia pikir
dia mengenal mereka semua. Dia bisa saja berlayar ke tepi agar tidak termakan
oleh badai, tapi...” Lidah Yoriko tertahan. Apa yang ia gambarkan tentang Shou
barusan hampir sama dengan apa yang ia deskripsikan tentang Spencer Williams di
novelnya.
Bersama Shou
beberapa minggu ini ternyata juga mengombang-ambingkan dunia imajinasinya sendiri.
Dimana dia harus bisa bertahan bahwa orang yang ditemuinya setiap hari bukanlah
pria sempurna di dalam imajinasinya. Yoriko tidak bisa memaksa kehendaknya pada
Shou sama seperti ia bisa menentukan takdir Spencer Williams di novelnya.
Tidak, yang menentukan takdir Shou dan Yoriko di dunia ini adalah Tuhan, tetapi
Yoriko masih bingung mengapa Tuhan menakdirkan mereka seperti itu.
Yoriko tidak
tahu harus senang atau sedih saat bertemu dengan orang itu. Dia tidak tahu
harus benci atau memasrahkan diri terperosok lebih dalam ke lubang imajinasinya
setiap kali melihat Shou bertingkah seperti Spencer. Setiap kali Yoriko melihat
kelakuan menjengkelkan Shou yang sebenarnya rapuh di baliknya, membuat perasaan
Yoriko terhadap entah kepada salah satu dari mereka semakin dalam.
“Apakah salah
terlalu lama hidup di dunia kita sendiri, Hitomu?” Pertanyaan Yoriko barusan
seperti mengharapkan jawaban yang sungguh-sungguh dari Hitomu.
Membutuhkan
waktu sejenak sebelum Hitomu menjawab, “Tidak, tidak ada yang salah. Mungkin dunia
nyata akan menganggap kita aneh karena terlalu lama berdiam diri di dunia kita.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi, menurutku, ada baiknya juga kalau kita
bersosialisasi dengan mereka yang di dunia nyata untuk menjaga kewarasan kita.”
“Aku hampir
jatuh cinta pada 2 orang pria disaat yang bersamaan karena terlalu lama hidup
di duniaku...” Yoriko mengaku. Tangannya yang memegang pensil terus mengarsir
gambar buatannya. “Biasanya aku selalu objektif dalam menulis. Aku nyaman hidup
di duniaku sendiri. Aku selalu menulis karakterku dengan lancar karena mereka
tidak memiliki hubungan denganku di dunia nyata. Namun sejak aku bertemu dengan
Shou yang mirip sekali dengan Spencer...”
“Jatuh cinta?
Apa kau yakin?” Hitomu memastikan. “Mungkin perasaan itu hanyalah rasa kagummu
karena mereka memiliki sesuatu yang kau sukai?”
“Katakan
padaku, apa menurutmu arti cinta dan apa yang akan orang lakukan jika ia sedang
mencintai orang lain?” Yoriko bertanya.
Hitomu
sedikit menertawakan pertanyaan Yoriko. “Kau seperti anak kecil yang baru
belajar tentang cinta saja...”
“Tidak...”
Yoriko menjawab. “Aku hanya ingin tahu apa itu cinta bagi orang lain.”
“Cinta
itu...” Hitomu berusaha mencari kata yang tepat untuk mengungkapkannya. “Adalah
sesuatu yang bisa membuatmu bertingkah konyol. Kau membeli cokelat yang
seharusnya bisa kau makan sendirian, kau membeli bunga yang kau tahu pasti akan
layu beberapa hari kemudian, kau menulis puisi dan menyanyikan lagu-lagu cinta
karena kau teringat oleh orang yang kau cintai. Menurutku semua itu konyol dan
aneh... tapi nyata...”
Sekarang
giliran Yoriko yang tertawa. Tidak menyangka pandangan sahabatnya mengenai
cinta ternyata selucu itu. “Lalu?”
“Namun, cinta
memiliki kekuatan yang hebat. Ketika kau sudah memiliki orang yang kau cintai,
kau melakukan apapun agar kau bisa terus bersamanya dan membahagiakannya. Hanya
dengan pelukan dan bisikan semangat darinya kau bisa bertahan hidup. Tapi, jika
kau tidak memiliki orang yang kau cintai, yang kau rasakan hanyalah...
kekosongan...”
“Walau kau
tahu kau tidak akan bisa memilikinya, kau terus bertumpu padanya. Kau terus
berharap sia-sia dia akan melihatmu walau sedikit saja. Disaat itulah dirimu
mulai terombang-ambing, antara harus merelakan atau bertahan. Keduanya terasa
menyakitkan...”
“Dan yang
lebih menyakitkan lagi adalah...” Yoriko menambahkan. “Berada di antara
keduanya...”
Hitomu mengangguk
setuju.
“Hei,
bagaimana kalau kita menyakiti orang yang kita cintai?” Yoriko bertanya sekali
lagi. Kali ini dia menatap Hitomu lekat-lekat, seolah Hitomu adalah salah satu
orang yang berarti baginya. “Apa yang seharusnya kita lakukan?”
Hitomu tidak
memberikan jawabannya. “Entahlah. Kau bagaimana? Bagaimana jika seandainya kau
menyakiti orang yang kau cintai?”
Yoriko
menghela napas. Yoriko tidak tahu apakah dia pernah menyakiti orang lain atau
tidak. Tetapi dia pasti pernah melakukannya tanpa ia sadari. Dia jadi teringat
pada Aya yang sudah tidak ia temui selama beberapa hari karena cutinya. Aya
juga beberapa kali mengetuk pintu apartemennya, menanyakan kabar Yoriko yang
tidak kunjung keluar dari apartemen dan mengkhawatirkannya.
“Mungkin aku
akan menjauh darinya. Aku sudah menyakitinya, akan semakin terasa menyakitkan
bila aku terus berada di dekatnya. Terkadang mencintai seseorang berarti kita
harus menjauh darinya...” Yoriko mengambil kesimpulan.
“Kau tidak
akan meminta maaf padanya?”
“Maaf memang
menyelesaikan segalanya, Hitomu...” kata Yoriko. “Tetapi itu tidak akan
menyembuhkan bekas luka yang telah kita torehkan padanya...”
“Sekarang kau
lebih terdengar berpengalaman dari sebelumnya...” Hitomu juga ikut mengambil
kesimpulan.
Yoriko hanya
diam. Dia meneruskan lagi menggambarnya yang hampir selesai. Sedikit goresan
lagi lalu ia membubuhkan tanda tangannya di bagian bawah sketsa itu.
“Selesai.”
Yoriko tersenyum puas melihat hasil gambarnya. Dia memberikannya pada Hitomu.
“Bagaimana menurutmu?”
“Mengagumkan...”
Hitomu menilai hasil gambar Yoriko. “Tetapi ada sesuatu yang berubah dari
gambar ini yang tidak kulihat sebelumnya, Yoriko-chan...”
“Apa?”
Hitomu
menatap sosok Shou Kohara yang menatap pohon sakura itu bersama kucingnya. “Ada
sedikit harapan di dirinya yang menyedihkan. Kaulah yang memberinya harapan,
Yoriko-chan. Seharusnya dia berterima kasih padamu.”
Yoriko
mengambil gambarnya kembali dan menjawab. “Aku tidak perlu dia berterima kasih
padaku. Aku hanya ingin dia menganggapku ada.”
Tiga hari
kemudian Yoriko kembali ke aktivitasnya seperti biasa. Ditemani sepeda
pemberian Avaron, dia pergi ke petshop untuk bekerja.
Cuaca pagi
itu cukup cerah saat ia mengayuh sepedanya melintasi jalur sepeda. Banyak orang
mulai berlalu-lalang dengan sepeda mereka yang berwarna-warni. Beberapa dari
mereka sedikit memperhatikan penampilan Yoriko yang seperti biasanya. Dress,
stocking, dan sepatu hitam tidak pernah lepas darinya. Hari ini dia sengaja
menguncir dua rambutnya sebagai tanda untuk sebuah awal baru, dia ingin
melupakan seluruh kerisauannya beberapa hari ini.
Yoriko tahu
dia akan datang terlalu pagi bila dia sudah sampai di petshop sekarang. Maka ia
berhenti di depan sebuah toko buku, ia memarkir sepedanya di tempat yang sudah
tersedia dan mengambil tas ranselnya yang penuh akan pin-pin dan gantungan
kunci bernuansa gotik dari keranjang sepeda sebelum masuk ke toko.
Suasana toko
buku cukup lengang, dia tidak perlu terlalu lama mengantri di kasir atau
berdesakan di lorong saat ia mencari buku. Yoriko langsung menuju ke lorong
bagian novel, mencari apabila ada novel baru baik yang berbahasa Jepang atau
berbahasa Inggris. Di antara rak buku impor dia menemukan buku terbaru dari
seri Blue Bloods Saga karangan Melissa De La Cruz.
Setelah ia
mengambilnya, dia beralih ke buku-buku lain. Ternyata ada juga buku yang tidak
disegel plastik. Pilihannya jatuh pada buku karangan Maureen McGowan untuk
dibaca. Dia mengambil novel tersebut dan membawanya ke sofa yang letaknya tidak
jauh dari tempatnya berdiri.
Dia membaca
sekilas sinopsis buku yang berjudul Sleeping Beauty: The Vampire Slayer itu.
Baru mencapai bab pertama, dia sudah dibuat kagum oleh adegan sang penyihir
jahat penguasa dunia vampir mengutuk puteri kerajaan yang baru lahir. Seakan
Yoriko berada di antara para tokoh itu, turut merasa panik dan ketakutan
menyaksikan kejahatan sang penyihir.
Disaat itulah
Yoriko merasa, disitulah tempat ia seharusnya berada. Di antara buku-buku,
berdiam diri untuk membacanya. Tidak ada satu manusia pun yang mengganggunya
bersenang-senang di dunia fantasinya. Dia jadi teringat masa itu. Masa dimana
ia benar-benar sendirian tanpa seorang pun teman di dekatnya, dan satu-satunya
sahabat terbaik yang ia miliki hanyalah buku-buku di rak perpustakaan panti
asuhannya yang hampir tidak pernah disentuh oleh anak-anak lain. Mereka seperti
memanggil nama Yoriko, memintanya membaca mereka, berjanji mereka akan
memberikan sesuatu yang sangat indah untuk Yoriko.
Dan mereka
benar, bersama mereka Yoriko pergi kemana saja. Menaklukkan naga untuk
menyelamatkan sang putri di menara, menambal awan dengan lelehan permata dan
berlian warna-warni supaya awan-awan itu tidak runtuh, pergi menyusuri dasar
terdalam sebuah danau dan menemukan sebuah peradaban kecil disana, sampai
bertarung dengan Chimera, monster legendaris yang katanya adalah makhluk
terkuat di bumi.
Selama ini
tidak satu pun unsur dari kehidupan nyatanya mencampuri dunia imajinasinya.
Yoriko bahkan pernah memutuskan tidak ingin kembali ke dunia nyata karena di
dunia nyata ia sendirian, tidak memiliki orang tua. Dia merasakan saat aneh
itu, saat dimana kehidupan di atas kertas yang ia ciptakan terasa lebih ramah
daripada kehidupan nyata, dan dia lebih memilih hidup disana.
Satu-satunya
keajaiban yang dia rasakan adalah dia masih tetap waras sampai sekarang.
Tahu buku
yang dibacanya sekarang ternyata bagus, Yoriko memutuskan membeli buku itu
juga. Ia membawa kedua buku itu ke kasir untuk dibayar. Namun dalam
perjalanannya menuju kasir, dia melewati rak majalah dan ujung matanya
menangkap sesuatu disana.
Sebuah
majalah visual kei. Menakjubkan ternyata genre itu memiliki nama sendiri di
Jepang karena di luar negeri visual kei masih digolongkan ke dalam genre gotik.
Yoriko tertarik pada orang yang menjadi sampul di majalah itu. Disana, orang
itu terlihat baik-baik saja. Tanpa beban, seakan kesempurnaan hanyalah yang ia
miliki di dirinya. Senyumannya begitu tulus dan ramah kepada siapapun yang
melihatnya. Headline majalah itu membicarakan tentang dirinya dan persiapan
konser berikutnya.
“Hei,
Shou...” Sapa Yoriko pelan pada orang di sampul majalah itu. “Apa kabar?”
Jika buku
memiliki kemampuan untuk memanggil siapapun yang ia kehendaki untuk membacanya,
majalah ini juga memiliki kemampuan itu. Mengikuti panggilan majalah itu,
Yoriko mengambilnya.
Dan berkat
‘permintaan’ majalah itu, Yoriko juga ikut membayarnya di kasir, berjanji dia
akan membacanya nanti di petshop.
Juri turun
dari bis umum yang ditumpanginya menuju petshop tempat Yoriko bekerja. Sebelum kesana
Juri baru saja melihat rumah sakit tempat praktik barunya yang terletak
beberapa kilometer dari petshop. Juri merasa rumah sakit itu lokasinya cukup
strategis dan lingkungan kerjanya nyaman, kemungkinan besar dia akan mengambil
tempat itu sesudah ia menyelesaikan urusan kepindahannya.
Tetapi
sebelum menyelesaikan semua itu, dia menyempatkan dirinya mengunjungi sahabat
barunya. Dia penasaran bagaimana seorang Yoriko bisa bekerja di sebuah petshop.
Dari halte bis, Juri menyusuri trotoar yang padat sejauh 200 meter dan berhenti
di depan pintu petshop.
Dari jendela
petshop yang dihiasi oleh poster promosi produk dan barang-barang display, Juri
melihat Yoriko berada di balik meja kasir, tidak menyadari Juri sedang
mengamatinya dari luar. Gadis itu sedang membaca sebuah majalah dengan sangat
serius. Sangat serius sampai Juri berpikir majalah yang dibacanya itu mungkin
majalah fiksi ilmiah yang biasa Juri baca dengan dahi mengerut.
Juri
memutuskan membuka pintu petshop dan bunyi lonceng di atas pintu berbunyi
menyadarkan Yoriko dari keseriusannya, menemukan Juri kini berdiri di depannya.
“Hei, Juri!”
Sapa Yoriko sedikit terkejut karena tidak menyangka Juri akan datang hari ini.
“Hei...”
Balas Juri. Dia bertingkah seperti tidak tahu apa-apa. “Kau tidak sadar
daritadi aku berdiri di depan pintu masuk?”
“Oh ya?”
Yoriko tambah kaget. Dia menjelaskan alasannya dengan gagap. “Maaf, aku
tadi...”
“Memangnya
apa yang kau baca?” Juri mengambil majalah yang Yoriko baca tadi dari gadis
itu.
“Eh...
Jangan!!” Cegah Yoriko walaupun terlambat, Juri sudah lebih dulu tahu artikel
apa yang sedang dibaca Yoriko. Tentang Alice Nine, band Shou Kohara.
“Pantas kau
sampai tidak menyadari kedatanganku.” Juri memanggut paham. Hanya Shou-lah yang
bisa mengambil alih perhatian Yoriko di dunia nyata.
“Aku hanya
penasaran, oke? Aku kebetulan melihat majalah itu saat aku membeli buku novel
baru dan...” Yoriko mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. “Ya, setelah itu
aku membelinya.”
“Aku baru
tahu kau juga tertarik pada Shou sebagai seorang artis.” Juri sepertinya tidak
mau tahu alasan Yoriko membeli majalah tersebut. Dia lebih tertarik dengan apa
yang Yoriko pikirkan dari artikel tentang Shou di sana. “Dia terlihat tampan
juga disini. Tidak disangka orang ini adalah orang yang setiap pagi berebutan
kamar mandi denganku dan sering mengoceh tidak jelas.”
Yoriko merasa
ketahuan. “Bukan tentang dirinya sebagai artis yang membuatku tertarik. Tapi,
tidak sepenuhnya begitu...”
Juri
melepaskan pandangannya dari majalah dan menatap Yoriko lekat-lekat, mencari
jawaban. “Kalau begitu apa? Jangan sampai instingku sebagai seorang detektif
terpancing dan memaksamu menguak motifmu, Yoriko-chan...”
“Kau terlalu
banyak membaca Sherlock Holmes, ya?” Yoriko enggan menanggapi candaan Juri.
“Kalau begitu
beritahu aku sebelum aku mengeluarkan lelucon lainku yang membosankan...” Juri
terkekeh, senang dia berhasil memancing Yoriko.
“Dia...”
Sekarang Yoriko berusaha mencari kata yang tepat agar terdengar realistis dan
mudah.
Juri
mengerutkan dahinya. Tampaknya ini akan lebih sulit daripada memahami istilah
sains.
“Dia hidup di
dunianya sendiri. Dunia dimana dia terlihat sempurna dan semua orang memujanya.
Semuanya terasa lebih mudah jika dia menjadi seorang artis, bukan?
Keistimewaan, pujian, uang, ketenaran, menciptakan musik sesuai
keinginannya...” kata Yoriko. “Tetapi kita semua tahu Shou tidak terlihat
bahagia meski dia memiliki segalanya. Itu karena... dia sadar semua itu
hanyalah ilusi dan suatu hari nanti dia akan kehilangannya. Mungkin dia
menyesal dia lebih memilih karirnya daripada mengejar sesuatu yang sangat
berarti baginya dan terjebak disana...”
“Aku pernah
mendengar dari Shou, dia merasa separuh hidupnya hilang demi manajamen yang
mengurus bandnya.” Juri membenarkan pendapat Yoriko.
“Walaupun dia
selalu dekat dengan teman-temannya, dia memisahkan diri, Juri. Aku bisa melihat
itu selama aku bekerja untuk mereka.” Yoriko meneruskan.
“Makanya dia
lebih memilih menyibukkan diri dengan karirnya. Dia berpikir menjadi dirinya
sendiri masih belum cukup...” Juri mengambil kesimpulan. “Tetapi jika ia sadar
kalau semua itu tidak abadi atau hanya ilusi, kenapa dia tidak mencoba keluar
dari sana?”
“Karena semua
itu indah, Juri.” Jawab Yoriko. “Terkadang dunia yang kau ciptakan sendiri
terasa jauh lebih indah daripada dunia tempat kau berada sekarang. Dia akan
terus berpegang pada khayalan itu, supaya ia tidak terluka lagi. Itu bukan
sepenuhnya kesalahannya karena dunia nyata memang kejam...”
Juri
tersenyum mendengar jawaban Yoriko. Dia merasa takjub Yoriko bisa mengetahui
semua itu melalui majalah saja. Juri mengangkat tangannya, menyentuh wajah
Yoriko seraya berkata, “Kau benar, dia tidak jauh berbeda darimu...”
“Tetapi apa
yang ada di duniaku tidak membuatku menderita, Juri... Meski aku sadar semua
itu hanyalah ilusi dan tidak akan pernah menjadi nyata...” Yoriko berusaha
mengelak.
“Tetapi semua
itu tetap indah, bukan?” Juri sudah tahu. “Makanya kau bertahan di dalamnya.”
“Memang...
Tetapi vampir, pangeran tampan, puteri duyung, kerajaan yang damai, menara
misterius di tengah hutan memang tidak nyata, tetapi mereka tidak pernah
menyakitiku.” Ujar Yoriko. “Namun pujian, ketenaran, uang... semua itu nyata.
Mereka berlidah manis tetapi... Memiliki gigi yang sangat tajam. Mereka bisa
melukai Shou kapanpun mereka mau...”
“Nampaknya
kau juga mengalami apa yang Shou alami...” kata Juri. “Spencer Williams dan
Shou Kohara...”
Yoriko
terkesiap. Juri benar. Wujud Spencer Williams memang tidak nyata dan ketika
Yoriko dihadapkan oleh Shou Kohara, Yoriko menahan diri dari orang itu. Yoriko
mencoba bertahan supaya dia tidak tersakiti oleh fakta bahwa Shou Kohara
tidaklah sesempurna Spencer Williams.
“Apa
pendapatmu, Juri?” tanya Yoriko dengan pandangan kosong. “Apakah aku jatuh
cinta padanya? Pada Shou Kohara?”
“Terlalu
cepat untuk itu, bisa jadi kau hanya mengaguminya karena dia mirip dengan
karakter buatanmu. Tetapi kau bisa mencari tahu dengan cara mendekatinya...”
Juri memberi saran.
“Bagaimana
caranya aku bisa mendekatinya bila dia terus menutup diri di dunianya?” Yoriko
bingung.
“Mudah.” Juri
mengambil sebuah permen dari mangkok kaca di atas meja kasir yang diperuntukkan
kepada para tamu. “Pertama-tama, kau harus keluar dulu dari duniamu.”
***
Nao baru saja
memasuki gedung kantor redaksi majalah tempat mereka akan melakukan pemotretan
untuk artikel tentang mereka pada edisi majalah itu bulan depan bersama Shou.
Dia melepas kacamata hitamnya sebelum ia memasuki sebuah ruangan tertutup. Ruang
rias dan kostum untuknya dan Shou.
Tidak ada
siapapun di ruangan kecuali Shou yang sedang bermain PSP di kursi meja rias.
Rupanya dia sudah selesai bersiap-siap.
“Aku tadi
melihat mobilmu di tempat parkir. Kenapa kau tidak menjemputku di rumah supaya
kita bisa bersama kesini?” Tanya Nao. Ia menaruh ranselnya ke sofa di dekatnya,
melepas jaket dan mengganti pakaiannya dengan properti yang sudah disiapkan.
Tanpa
melepaskan pandangannya dari game yang ia mainkan, Shou menjawab, “Aku
kesiangan. Maaf.”
Nao hanya
memutar mata sambil memaklumi. Bukan Shou namanya kalau dia tidak pernah
kesiangan. Tetapi beberapa hari ini dia sedikit berubah karena Juri. “Katanya
kau bisa berangkat lebih pagi karena ada Juri...”
“Oh, dia
sudah pergi dari tadi pagi. Jadi dia tidak menggangguku sama sekali.” Jawab
Shou cuek.
“Dia pasti
bersama Yoriko lagi. Dan kau tidak peduli lagi dia pergi kemana?”
“Tidak.
Terakhir dia menghabiskan waktu bersama Yoriko mereka bermain game Amnesia. Aku
tidak akan kaget kalau Juri pulang dan bercerita mereka baru saja dari
Disneyland. Toh sebentar lagi wanita aneh itu akan datang dan menjadi pembantu
kita. Jadi, untuk apa aku peduli?” Jawab Shou tanpa mengurangi sedikit pun rasa
cuek di nada bicaranya.
“Amnesia?
Mereka bermain game itu?” Nao kaget dan tercengang. “Kau yakin mereka bermain
game itu? Shou, kau benar-benar harus mencoba lebih terbuka dengan orang-orang
yang berani memainkan game itu! Apa mereka menamatkan gamenya?”
“Haha...”
Shou tertawa sarkastik. “Masih banyak gamer amnesia di dunia ini yang bisa
kuajak berteman. Dan ya, dengan bangganya mereka bercerita telah menamatkan
game itu.”
“Aku harus
bertanya pada Juri atau Yoriko bagaimana mereka bisa menyelesaikan game itu.”
ucap Nao mantap. “Ah! Undang saja Juri ke acara hanami kita besok!”
Hening. Tidak
ada jawaban dari Shou yang artinya ia tidak setuju. Hanya ada suara efek dari
game Smackdown di PSP Shou.
“Ayolah,
begitu-begitu dia juga orang Jepang, kan? Dia belum pernah ke acara hanami.”
Nao memelas. “Kalau kau tidak setuju, biar kuundang dia saja sendiri.”
“Terserah kau
saja.” jawab Shou setengah kesal. Dia senang teman-temannya selalu ramah pada
orang lain, tetapi lain ceritanya kalau mereka menjadi terlalu ramah dan
mengundang orang asing ke acara yang sudah menjadi tradisi mereka setiap tahun.
Tahu Shou
sedang kesal, Nao membiarkan sahabatnya sendiri lebih dulu bersama gamenya.
Selesai mengganti bajunya, dia duduk di meja rias sebelah Shou untuk merapikan
diri.
Tepat setelah
itu, Nao mendengar pintu ruangan mereka dibuka oleh seseorang. Masuklah seorang
gadis berpakaian serba hitam yang sudah sangat ia kenal.
“Apa aku
terlambat? Sesi pemotretannya belum dimulai, kan?” Yoriko kelihatan panik,
takut ia terlambat. Sebenarnya Yoriko cukup bersemangat saat dia tahu harus
menemani Shou dan Nao pemotretan di studio. Yoriko belum pernah melihat
bagaimana sesi pemotretan di studio sebelumnya, dan sebagai orang yang menyukai
fotografi, dia ingin tahu semuanya.
“Tenang
saja.” kata Nao ramah. “Kau bantu saja aku bersiap-siap. Sebentar lagi
dimulai.”
Yoriko
menaruh tas dan jubahnya di atas sofa. Kemudian ia melihat sebuah tumpukan
besar berisi pakaian-pakaian yang tidak terlipat, peralatan make up, dan sepatu
berceceran di dekatnya. Yoriko penasaran siapa orang yang berperilaku jorok
disini.
“Oh, itu
milikku.” Shou menyadari Yoriko sedang mengamati barang-barang miliknya yang
sengaja dibiarkan berantakan. Dengan nada mengejek dan bertingkah seperti bos
besar, Shou berkata, “Jangan lupa kau bereskan sebelum kami selesai pemotretan.”
“Aku
asistenmu, Shou. Bukan pelayan atau pesuruhmu.” Protes Yoriko jengkel.
“Kata
‘asisten’ hanya istilah yang lebih lembut untuk ‘pelayan’ dan ‘pesuruh’.
Lagipula antara kau harus membereskan itu atau kau kupecat. Terserah kau saja.”
kata Shou tanpa merasa bersalah sedikit pun. Gadis ini harus diberi balasan
atas perlakuannya terhadap pakaian Shou yang dikenakan Yoriko kemarin di
apartemennya tanpa izin.
Mendengar ia
akan dipecat, Yoriko hanya bisa pasrah. Dengan enggan ia menyanggupi perintah
Shou. “Baiklah, Yang Mulia, akan segera saya bereskan.”
Sesi
pemotretan berlangsung dengan lancar. Tema pemotretan mereka cukup sederhana.
Mereka berpakaian kasual dan maskulin dengan latar belakang foto yang putih. Properti
mereka juga tidak terlalu banyak, hanya sebuah sofa putih yang panjang dan
sedikit improvisasi dari gaya foto sudah membuat hasilnya menakjubkan.
Yoriko
berlari kecil dari ruang persiapan ke studio. Dia buru-buru menyelesaikan
tugasnya membereskan barang-barang Shou karena tidak ingin kehilangan momen
prosesi pemotretan ini. Dia bersyukur saat ia memasuki ruangan, ternyata
pemotretannya masih belum selesai.
Seorang
wanita yang sepertinya salah satu petugas dari prosesi ini menghampiri Yoriko.
Dari penampilannya yang semi-formal tapi juga eksentrik, Yoriko menebak dia
adalah salah satu editor majalah. Creative editor, mungkin?
“Anda siapa?”
sapa wanita itu ramah.
“Aku Yoriko
Ishihara. Aku asisten Alice Nine...” Yoriko mengulurkan tangannya dengan ramah
kepada wanita itu. Dia selalu bersikap ramah pada siapapun dari industri
penerbitan, karena merekalah yang akan membantu Yoriko menerbitkan bukunya
suatu hari nanti.
Wanita itu
membalas uluran tangan Yoriko dengan ramah juga. “Oh, senang berkenalan dengan
anda. Aku Atsuko. Aku pemimpin redaksi majalah ini, sebenarnya aku kesini hanya
ingin mengamati sesi pemotretan. Band Alice Nine cukup besar namanya, jadi kami
merasa beruntung bisa memanggil salah dua dari mereka untuk melakukan
wawancara.”
Yoriko
tiba-tiba menjadi gugup. Dia berkenalan dengan seorang pemimpin redaksi! Ini
benar-benar sesuatu yang keren baginya. Biasanya pemimpin redaksi selalu sibuk dan
tidak pernah basa-basi. Ini pasti karena Yoriko menyebut dirinya sebagai
asisten Alice Nine.
“Pemotretannya
sederhana juga. Kupikir karena mereka beraliran visual kei propertinya akan...”
kata Yoriko pelan. “sedikit lebih ramai, mungkin?”
“Mereka
beraliran oshare kei, lebih tepatnya. Oshare kei penampilannya lebih berwarna
daripada visual kei seperti Gazette, misalnya. Cara berpakaian mereka sudah
kasual dan berwarna, itu sudah cukup mencerminkan gaya mereka di band...”
Atsuko menjelaskan konsep pemotretan mereka.
“Oh...”
Yoriko mengamati bagaimana Shou dan Nao difoto. Mereka berdua sedang duduk di
sofa dengan pengarahan dari penata gaya. Sang penata gaya hanya meminta mereka
duduk santai dan memberikan senyum kepada kamera.
Tidak lupa
Yoriko mengamati kamera yang digunakan sang fotografer. Canon EOS 550D seperti
miliknya dengan wireless trigger untuk
mengendalikan lampu-lampu di studio. Dari apa yang Yoriko pelajari dari
fotografi, pemotretan menggunakan top light, dimana sumber cahaya berasal dari
lampu atas dan menggunakan payung untuk meredam cahayanya supaya tidak
menghasilkan kesan kasar di kulit model.
Setelah
beberapa kali pengambilan foto, penataan lampu kembali diubah. Kali ini posisi
cahaya dari sudut kanan di depan Shou dan Nao. Yoriko suka penataan cahaya
seperti ini, menciptakan ‘dimensi’ pada wajah mereka supaya mereka terlihat sempurna.
“Kalau
kuperhatikan dari tadi, kau suka fotografi, ya?” Atsuko menebak.
“Ya,
begitulah.” Jawab Yoriko malu-malu. “Jujur, aku sedikit bersemangat saat aku
diberi kesempatan mengikuti sesi pemotretan ini.”
“Aku selalu
takjub dengan hasil para fotografer dalam menciptakan foto-foto mereka. Padahal
mereka hanya bermodalkan cahaya, kamera, dan lensa yang bagus. Tetapi hasilnya
selalu sempurna.” Kata Atsuko kagum.
“Ya, mereka
memang selalu terlihat sempurna.” Kata Yoriko. Terlalu sempurna sampai fans
mereka memuja-muja mereka setengah mati. Yoriko pernah mendengar kasus dari
Honoka Ikeda, resepsionis yang bekerja di lobi kantor PSC mengenai tindakan
para penggemar di internet. Banyak dari mereka yang menciptakan keributan
sendiri tanpa sebab yang jelas.
Padahal apa
yang mereka perebutkan disini, sedang berusaha menyenangkan mereka dengan
berpose bahagia di depan kamera. Menjadi seorang artis memang tidak semudah
yang orang lain pikirkan.
Untuk
kesekian kalinya Yoriko dihadapkan oleh kenyataan bahwa orang di depannya sama
sekali berbeda dari tokoh ciptaannya. Spencer Williams tidak akan pernah mau
seperti ini, menjadi sorotan media. Spencer adalah pria yang lebih menyukai
aksi, ia memegang senjata di tangan, bukannya mic. Spencer seharusnya berada di
TKP atau meja kerjanya di kepolisian, menyelidiki kasus, bukannya di panggung
gemerlap penuh akan penggemar yang mengelukan namanya. Spencer akan selalu
menolak diwawancarai di sela ia sedang mengerjakan kasus.
Dalam sekejap
Yoriko akhirnya tahu mengapa ia ditakdirkan bertemu dengan Shou Kohara. Tuhan
ingin menyadarkannya agar ia lebih bisa memahami dunia nyata dan perasaan orang
lain. CaraNya memang membingungkan dan aneh, tetapi akhirnya Yoriko memahami
maksudNya!
“Mereka
adalah salah satu artis yang bekerja keras, kami sangat mengagumi itu.” kata
Atsuko.
Kemudian
dengan segenap keberaniannya yang terkumpul cepat, Yoriko berkata, “Kalau tidak
salah, perusahaan anda juga menerbitkan buku selain majalah, bukan?”
“Ya, benar
sekali.” Dengan bangga Atsuko menjawab. “Mengapa anda tertarik?”
“Begini...”
Yoriko menceritakannya perlahan supaya ia tidak meledak, “Aku sedang menulis
dan sebentar lagi karyaku akan selesai. Aku berencana akan menerbitkannya...”
“Hmm... Boleh
juga...” Atsuko kelihatannya tertarik. “Anda menulis tentang apa?”
Tahu pemimpin
redaksi di depannya ini tertarik, Yoriko semakin bersemangat. “Fiksi. Tentang
kriminal tetapi juga sedikit dibumbui oleh roman.”
“Kalau
begitu...” Atsuko mengambil sesuatu dari balik blazernya. Sebuah kartu nama.
“Ini kartu namaku. Kalau kau sudah siap dengan karyamu, silakan datang saja
lagi kemari. Kita lihat nanti bersama apa karyamu cocok diterbitkan oleh kami
atau tidak.”
“Te... terima
kasih, Atsuko-san!” Tanpa Yoriko sadari dia berteriak kesenangan dan
membungkukkan badannya berkali-kali di depan Atsuko sampai orang-orang di
sekitar mereka menoleh, termasuk Shou dan Nao yang tadi masih sibuk difoto.
“Eh...
Maaf...” Yoriko jadi tidak enak pada mereka semua, kini giliran ia membungkuk
pada mereka sebagai permintaan maaf.
Atsuko
tergelak pelan melihat kepolosan Yoriko. Ia memanggil asistennya yang berdiri
tidak jauh darinya. Seorang gadis seusia Yoriko yang berpenampilan sangat
dewasa. “Ai, kau temani Yoriko-san sampai pemotretan ini selesai.”
Ai yang diminta
menganggukkan kepalanya. “Baik, Atsuko-san.”
“Ya sudah.
Aku harus kembali ke ruanganku.” Atsuko berpamitan sambil menahan tawa. “Jangan
membuat keributan lagi disini, ya. Hihi...”
Yoriko
langsung merasa canggung. Ia menyesal dan berkali-kali mengatai dirinya bodoh
karena membuat kesan pertamanya dengan seorang pemimpin redaksi sekonyol ini.
“Ada apa
denganmu tadi, Yoriko-chan?” tanya Nao ketika mereka sudah selesai pemotretan
dan kembali ke ruang persiapan. “Kenapa kau tiba-tiba berteriak pada pemimpin
redaksi majalah ini?”
“Oh, kau juga
tahu dia pemimpin redaksi?” Yoriko sedikit kaget. “Ya, tadi dia memberiku kartu
namanya kalau aku ingin membawa karyaku ke redaksi ini. Mereka juga menerbitkan
buku novel, bukan?”
“Haha...” Nao
paham. “Pantas saja kau senang. Tidak ada salahnya kau membawa karyamu kemari,
mereka terbuka untuk berbagai genre tulisan.”
“Tapi lucu
juga ya, pemimpin redaksi yang sangat sibuk bisa meluangkan waktunya mengobrol
denganku...” Yoriko masih bertanya-tanya.
“Kau tidak
lihat penampilanmu, Yoriko? Kau terlihat seperti salah satu model majalahnya.
Kalau seandainya kau sedikit anggun atau bersikap seperti seorang model, kau
pasti akan ditarik menjadi modelnya juga.” Nao menunjuk penampilan Yoriko dari
atas sampai bawah. “Ini majalah gotik visual kei, Yoriko-chan...”
Yoriko baru
sadar. Pantas saja Atsuko sangat ramah padanya tadi. “Memangnya menurutmu aku
tidak seperti model?”
“Yoriko-chan,
kau bergaya seperti itu karena itulah dirimu. Bukannya model yang bergaya
seperti itu demi pekerjaan. Kau seharusnya bangga.” Ujar Nao seraya tersenyum.
“Aw... Terima
kasih...” Yoriko tersipu dan merendahkan tubuhnya memberi hormat kepada Nao.
“Oh ya,
Yoriko-chan. Kau masih ingat besok adalah hari hanami kita? Kau pasti datang,
kan?” Nao mengingatkannya.
Perasaan
Yoriko yang tadinya riang tiba-tiba hilang dan perutnya terasa mulas. Mereka
masih ingat mengajaknya pergi hanami? “A... aku...”
“Ayolah,
Yoriko. Datang saja... Kumohon... Tora dan yang lain pasti juga mengharapkanmu
datang...” Nao menarik tangan Yoriko dan memelas.
Bukannya
Yoriko tidak mau pergi, tetapi ia tidak siap. Berhadapan dengan sakura
mengingatkannya pada traumanya di masa kecil. Sakuralah yang menentukan
hidupnya, Sakuralah yang membuatnya tenggelam di dunia gotik yang suram. Dia
sudah sangat nyaman di dunia itu, dan ia tidak mau bertemu dengan Sakura lalu
mengubah semua itu.
“Kurasa aku
tidak bisa, Nao... Maaf... Tadi pagi Aya bilang dia juga ikut acara hanami bersama
teman-teman kuliahnya dan mau tidak mau aku harus mengisi giliran kerjanya...” Yoriko
terpaksa berbohong.
Nao menghela
napas kecewa. “Yaah... Mengapa begitu? Padahal pasti seru kalau kau datang...
Baiklah, sampai giliran kerjamu selesai kami akan tunggu kau disana!”
“Apa!?”
“Ya, acara
hanami ini akan terasa biasa saja tanpa kehadiranmu, Yoriko. Kami ingin kau
datang, kau harus datang! Sampai jumpa besok, Yoriko-chan!” kata Nao gigih.
Tanpa bertanya atau berkata apapun lagi pada Yoriko, ia mengganti pakaian,
menghapus riasan wajahnya, dan berkemas pergi dari ruangan.
Yoriko
termangu melihat betapa optimisnya Nao yang menginginkan kehadiran Yoriko
disana. Yoriko tidak tahu harus berkata apa lagi, dia tidak mau mematahkan
semangat Nao dengan berkata dia sungguh tidak akan datang dan tidak sanggup
datang. Kenangan bersama Sakura masih melekat terlalu kuat di hatinya.
“Kau
benar-benar pembohong yang payah...” Tiba-tiba suara ketus Shou menyahuti
lamunan Yoriko. “Dia juga payah, percaya pada kebohonganmu begitu saja.”
Yoriko mulai
kesal. Orang ini boleh ikut campur dan mengatai urusan hidupnya, tetapi untuk
soal ini, Yoriko ingin orang lain menjauhinya, termasuk Shou. “Itu bukan
urusanmu. Pokoknya aku tidak akan datang. Jangan ceritakan pada Nao, karena kau
akan menyakitinya.”
“Hah, dia
bukan anak kecil lagi.” Shou tidak peduli. Kata-katanya selalu saja mengalir
sedingin air es. “Terserah aku mau cerita atau tidak.”
“Apa maumu,
Shou Kohara? Kau tidak berhak ikut campur urusanku.”
Shou diam
saja. Dia memasukkan barang-barangnya ke dalam ranselnya. Sebelum beranjak
keluar, ia berkata pada Yoriko. “Justru kau yang seperti anak kecil. Aku dan
teman-temanku tidak pernah mau tahu urusanmu itu. Tetapi kau malah
mengaitkannya dan bersikap tidak profesional.”
Yoriko
menjadi sewot. “Apa maksudmu? Aku tidak profesional? Kalau tidak salah itu
hanyalah undangan biasa dan aku berhak menolak. Kau tidak berhak berkata
seperti itu padaku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.”
Shou kembali
diam. Dia memandang tajam Yoriko, seakan ia ingin menyusupi apa yang Yoriko
sembunyikan di balik tatapan matanya yang memandang Shou marah. “Hanya karena
kau takut pada sesuatu bukan berarti kau bisa terus sembunyi tanpa
menghadapinya... Kupikir dengan penampilanmu itu kau bisa menghadapinya seperti
seorang gadis gotik yang menyukai kegelapan. Seharusnya kau malu pada kostum
anehmu itu.”
Setelah Shou
pergi, Yoriko tidak bisa berkata apapun lagi. Belum pernah ada seorang pun
berkata setajam dan sekeras itu padanya. Yoriko berusaha memulihkan dirinya
dari kritikan pedas Shou kepadanya dan mencoba mengartikan maksud Shou dan
semua itu.
Mungkin kata
Aya benar, Shou benar-benar menginginkan Yoriko datang ke acara hanaminya...
No comments:
Post a Comment