Sunday, July 7, 2013

The Delusion (15)

15

“Apa yang sedang kau gambar, Yoriko-chan?” Hitomu tiba-tiba muncul dari belakang Yoriko yang sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya.

Meski agak kaget karena kemunculan Hitomu, Yoriko menjawab. “Aku menggambar seseorang...”

Mereka berada di balkon apartemen Yoriko yang sempit. Yoriko sering menghabiskan waktunya di tempat ini sambil menggambar atau menulis. Walaupun balkon apartemen itu tidak sebagus milik apartemen Shou, pemandangan balkon milik Yoriko jauh lebih menarik. Menghadap ke sebuah taman kecil nan indah yang biasa dikunjungi oleh penghuni apartemen Yoriko. Taman itu cukup ramai di sore hari, dimana anak-anak kecil sering bermain sepeda, sepatu roda, petak umpet, bahkan hanya untuk duduk-duduk di bangku sambil menikmati es krim.

Yoriko yang masih menikmati masa cutinya lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen untuk menulis atau menggambar seperti ini.

Hitomu duduk di lantai tepat di samping Yoriko. Dia melirik lagi gambar Yoriko. Seorang pria yang wajahnya tidak terlihat karena rambutnya yang unik sedang menatap sebuah pohon sakura yang berguguran bersama seekor kucing di sampingnya.

“Siapa dia?” tanya Hitomu lagi. “Jangan-jangan dia Shou?”

Yoriko membenarkan tebakan Hitomu. “Memangnya siapa lagi?”

Hitomu tersenyum karena benar. “Kenapa kau menggambar orang itu? Lalu, kenapa ada kucing juga disana?”

“Entahlah...” jawab Yoriko. “Saat aku menggambar kucing itu, gambar ini terasa benar saja. Seakan pria yang ada di gambar ini membutuhkan kucing itu sebagai temannya... Kau mengerti, kan?”

Hitomu mengangguk pelan. Dia memerhatikan lagi gambar Yoriko. Gambar itu terasa sangat sedih dan menyimpan banyak kegalauan disana. Shou yang ada di gambar itu terlihat kesepian dan tidak rela jika sakura itu gugur.

“Kenapa dia terlihat begitu sedih?” tanya Hitomu lagi.

Mendengar pertanyaan itu, Yoriko melihat lagi gambarnya. Memang benar, sosok yang Yoriko gambarkan terlihat sangat sedih dan kesepian karena suatu hal. “Aku juga tidak tahu... Aku hanya menggambarkan apa yang terakhir kali kuperhatikan darinya.”

“Aku melihat seorang pria yang tersesat, terombang-ambing di lautan manusia yang dia pikir dia mengenal mereka semua. Dia bisa saja berlayar ke tepi agar tidak termakan oleh badai, tapi...” Lidah Yoriko tertahan. Apa yang ia gambarkan tentang Shou barusan hampir sama dengan apa yang ia deskripsikan tentang Spencer Williams di novelnya.

Bersama Shou beberapa minggu ini ternyata juga mengombang-ambingkan dunia imajinasinya sendiri. Dimana dia harus bisa bertahan bahwa orang yang ditemuinya setiap hari bukanlah pria sempurna di dalam imajinasinya. Yoriko tidak bisa memaksa kehendaknya pada Shou sama seperti ia bisa menentukan takdir Spencer Williams di novelnya. Tidak, yang menentukan takdir Shou dan Yoriko di dunia ini adalah Tuhan, tetapi Yoriko masih bingung mengapa Tuhan menakdirkan mereka seperti itu.

Yoriko tidak tahu harus senang atau sedih saat bertemu dengan orang itu. Dia tidak tahu harus benci atau memasrahkan diri terperosok lebih dalam ke lubang imajinasinya setiap kali melihat Shou bertingkah seperti Spencer. Setiap kali Yoriko melihat kelakuan menjengkelkan Shou yang sebenarnya rapuh di baliknya, membuat perasaan Yoriko terhadap entah kepada salah satu dari mereka semakin dalam.

“Apakah salah terlalu lama hidup di dunia kita sendiri, Hitomu?” Pertanyaan Yoriko barusan seperti mengharapkan jawaban yang sungguh-sungguh dari Hitomu.

Membutuhkan waktu sejenak sebelum Hitomu menjawab, “Tidak, tidak ada yang salah. Mungkin dunia nyata akan menganggap kita aneh karena terlalu lama berdiam diri di dunia kita. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi, menurutku, ada baiknya juga kalau kita bersosialisasi dengan mereka yang di dunia nyata untuk menjaga kewarasan kita.”

“Aku hampir jatuh cinta pada 2 orang pria disaat yang bersamaan karena terlalu lama hidup di duniaku...” Yoriko mengaku. Tangannya yang memegang pensil terus mengarsir gambar buatannya. “Biasanya aku selalu objektif dalam menulis. Aku nyaman hidup di duniaku sendiri. Aku selalu menulis karakterku dengan lancar karena mereka tidak memiliki hubungan denganku di dunia nyata. Namun sejak aku bertemu dengan Shou yang mirip sekali dengan Spencer...”

“Jatuh cinta? Apa kau yakin?” Hitomu memastikan. “Mungkin perasaan itu hanyalah rasa kagummu karena mereka memiliki sesuatu yang kau sukai?”

“Katakan padaku, apa menurutmu arti cinta dan apa yang akan orang lakukan jika ia sedang mencintai orang lain?” Yoriko bertanya.

Hitomu sedikit menertawakan pertanyaan Yoriko. “Kau seperti anak kecil yang baru belajar tentang cinta saja...”

“Tidak...” Yoriko menjawab. “Aku hanya ingin tahu apa itu cinta bagi orang lain.”

“Cinta itu...” Hitomu berusaha mencari kata yang tepat untuk mengungkapkannya. “Adalah sesuatu yang bisa membuatmu bertingkah konyol. Kau membeli cokelat yang seharusnya bisa kau makan sendirian, kau membeli bunga yang kau tahu pasti akan layu beberapa hari kemudian, kau menulis puisi dan menyanyikan lagu-lagu cinta karena kau teringat oleh orang yang kau cintai. Menurutku semua itu konyol dan aneh... tapi nyata...”

Sekarang giliran Yoriko yang tertawa. Tidak menyangka pandangan sahabatnya mengenai cinta ternyata selucu itu. “Lalu?”

“Namun, cinta memiliki kekuatan yang hebat. Ketika kau sudah memiliki orang yang kau cintai, kau melakukan apapun agar kau bisa terus bersamanya dan membahagiakannya. Hanya dengan pelukan dan bisikan semangat darinya kau bisa bertahan hidup. Tapi, jika kau tidak memiliki orang yang kau cintai, yang kau rasakan hanyalah... kekosongan...”

“Walau kau tahu kau tidak akan bisa memilikinya, kau terus bertumpu padanya. Kau terus berharap sia-sia dia akan melihatmu walau sedikit saja. Disaat itulah dirimu mulai terombang-ambing, antara harus merelakan atau bertahan. Keduanya terasa menyakitkan...”

“Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah...” Yoriko menambahkan. “Berada di antara keduanya...”

Hitomu mengangguk setuju.

“Hei, bagaimana kalau kita menyakiti orang yang kita cintai?” Yoriko bertanya sekali lagi. Kali ini dia menatap Hitomu lekat-lekat, seolah Hitomu adalah salah satu orang yang berarti baginya. “Apa yang seharusnya kita lakukan?”

Hitomu tidak memberikan jawabannya. “Entahlah. Kau bagaimana? Bagaimana jika seandainya kau menyakiti orang yang kau cintai?”

Yoriko menghela napas. Yoriko tidak tahu apakah dia pernah menyakiti orang lain atau tidak. Tetapi dia pasti pernah melakukannya tanpa ia sadari. Dia jadi teringat pada Aya yang sudah tidak ia temui selama beberapa hari karena cutinya. Aya juga beberapa kali mengetuk pintu apartemennya, menanyakan kabar Yoriko yang tidak kunjung keluar dari apartemen dan mengkhawatirkannya.

“Mungkin aku akan menjauh darinya. Aku sudah menyakitinya, akan semakin terasa menyakitkan bila aku terus berada di dekatnya. Terkadang mencintai seseorang berarti kita harus menjauh darinya...” Yoriko mengambil kesimpulan.

“Kau tidak akan meminta maaf padanya?”

“Maaf memang menyelesaikan segalanya, Hitomu...” kata Yoriko. “Tetapi itu tidak akan menyembuhkan bekas luka yang telah kita torehkan padanya...”

“Sekarang kau lebih terdengar berpengalaman dari sebelumnya...” Hitomu juga ikut mengambil kesimpulan.

Yoriko hanya diam. Dia meneruskan lagi menggambarnya yang hampir selesai. Sedikit goresan lagi lalu ia membubuhkan tanda tangannya di bagian bawah sketsa itu.

“Selesai.” Yoriko tersenyum puas melihat hasil gambarnya. Dia memberikannya pada Hitomu. “Bagaimana menurutmu?”

“Mengagumkan...” Hitomu menilai hasil gambar Yoriko. “Tetapi ada sesuatu yang berubah dari gambar ini yang tidak kulihat sebelumnya, Yoriko-chan...”

“Apa?”

Hitomu menatap sosok Shou Kohara yang menatap pohon sakura itu bersama kucingnya. “Ada sedikit harapan di dirinya yang menyedihkan. Kaulah yang memberinya harapan, Yoriko-chan. Seharusnya dia berterima kasih padamu.”

Yoriko mengambil gambarnya kembali dan menjawab. “Aku tidak perlu dia berterima kasih padaku. Aku hanya ingin dia menganggapku ada.”

*** 

Tiga hari kemudian Yoriko kembali ke aktivitasnya seperti biasa. Ditemani sepeda pemberian Avaron, dia pergi ke petshop untuk bekerja.

Cuaca pagi itu cukup cerah saat ia mengayuh sepedanya melintasi jalur sepeda. Banyak orang mulai berlalu-lalang dengan sepeda mereka yang berwarna-warni. Beberapa dari mereka sedikit memperhatikan penampilan Yoriko yang seperti biasanya. Dress, stocking, dan sepatu hitam tidak pernah lepas darinya. Hari ini dia sengaja menguncir dua rambutnya sebagai tanda untuk sebuah awal baru, dia ingin melupakan seluruh kerisauannya beberapa hari ini.

Yoriko tahu dia akan datang terlalu pagi bila dia sudah sampai di petshop sekarang. Maka ia berhenti di depan sebuah toko buku, ia memarkir sepedanya di tempat yang sudah tersedia dan mengambil tas ranselnya yang penuh akan pin-pin dan gantungan kunci bernuansa gotik dari keranjang sepeda sebelum masuk ke toko.

Suasana toko buku cukup lengang, dia tidak perlu terlalu lama mengantri di kasir atau berdesakan di lorong saat ia mencari buku. Yoriko langsung menuju ke lorong bagian novel, mencari apabila ada novel baru baik yang berbahasa Jepang atau berbahasa Inggris. Di antara rak buku impor dia menemukan buku terbaru dari seri Blue Bloods Saga karangan Melissa De La Cruz.

Setelah ia mengambilnya, dia beralih ke buku-buku lain. Ternyata ada juga buku yang tidak disegel plastik. Pilihannya jatuh pada buku karangan Maureen McGowan untuk dibaca. Dia mengambil novel tersebut dan membawanya ke sofa yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dia membaca sekilas sinopsis buku yang berjudul Sleeping Beauty: The Vampire Slayer itu. Baru mencapai bab pertama, dia sudah dibuat kagum oleh adegan sang penyihir jahat penguasa dunia vampir mengutuk puteri kerajaan yang baru lahir. Seakan Yoriko berada di antara para tokoh itu, turut merasa panik dan ketakutan menyaksikan kejahatan sang penyihir.

Disaat itulah Yoriko merasa, disitulah tempat ia seharusnya berada. Di antara buku-buku, berdiam diri untuk membacanya. Tidak ada satu manusia pun yang mengganggunya bersenang-senang di dunia fantasinya. Dia jadi teringat masa itu. Masa dimana ia benar-benar sendirian tanpa seorang pun teman di dekatnya, dan satu-satunya sahabat terbaik yang ia miliki hanyalah buku-buku di rak perpustakaan panti asuhannya yang hampir tidak pernah disentuh oleh anak-anak lain. Mereka seperti memanggil nama Yoriko, memintanya membaca mereka, berjanji mereka akan memberikan sesuatu yang sangat indah untuk Yoriko.

Dan mereka benar, bersama mereka Yoriko pergi kemana saja. Menaklukkan naga untuk menyelamatkan sang putri di menara, menambal awan dengan lelehan permata dan berlian warna-warni supaya awan-awan itu tidak runtuh, pergi menyusuri dasar terdalam sebuah danau dan menemukan sebuah peradaban kecil disana, sampai bertarung dengan Chimera, monster legendaris yang katanya adalah makhluk terkuat di bumi.

Selama ini tidak satu pun unsur dari kehidupan nyatanya mencampuri dunia imajinasinya. Yoriko bahkan pernah memutuskan tidak ingin kembali ke dunia nyata karena di dunia nyata ia sendirian, tidak memiliki orang tua. Dia merasakan saat aneh itu, saat dimana kehidupan di atas kertas yang ia ciptakan terasa lebih ramah daripada kehidupan nyata, dan dia lebih memilih hidup disana.

Satu-satunya keajaiban yang dia rasakan adalah dia masih tetap waras sampai sekarang.

Tahu buku yang dibacanya sekarang ternyata bagus, Yoriko memutuskan membeli buku itu juga. Ia membawa kedua buku itu ke kasir untuk dibayar. Namun dalam perjalanannya menuju kasir, dia melewati rak majalah dan ujung matanya menangkap sesuatu disana.

Sebuah majalah visual kei. Menakjubkan ternyata genre itu memiliki nama sendiri di Jepang karena di luar negeri visual kei masih digolongkan ke dalam genre gotik. Yoriko tertarik pada orang yang menjadi sampul di majalah itu. Disana, orang itu terlihat baik-baik saja. Tanpa beban, seakan kesempurnaan hanyalah yang ia miliki di dirinya. Senyumannya begitu tulus dan ramah kepada siapapun yang melihatnya. Headline majalah itu membicarakan tentang dirinya dan persiapan konser berikutnya.

“Hei, Shou...” Sapa Yoriko pelan pada orang di sampul majalah itu. “Apa kabar?”

Jika buku memiliki kemampuan untuk memanggil siapapun yang ia kehendaki untuk membacanya, majalah ini juga memiliki kemampuan itu. Mengikuti panggilan majalah itu, Yoriko mengambilnya.

Dan berkat ‘permintaan’ majalah itu, Yoriko juga ikut membayarnya di kasir, berjanji dia akan membacanya nanti di petshop.

*** 

Juri turun dari bis umum yang ditumpanginya menuju petshop tempat Yoriko bekerja. Sebelum kesana Juri baru saja melihat rumah sakit tempat praktik barunya yang terletak beberapa kilometer dari petshop. Juri merasa rumah sakit itu lokasinya cukup strategis dan lingkungan kerjanya nyaman, kemungkinan besar dia akan mengambil tempat itu sesudah ia menyelesaikan urusan kepindahannya.

Tetapi sebelum menyelesaikan semua itu, dia menyempatkan dirinya mengunjungi sahabat barunya. Dia penasaran bagaimana seorang Yoriko bisa bekerja di sebuah petshop. Dari halte bis, Juri menyusuri trotoar yang padat sejauh 200 meter dan berhenti di depan pintu petshop.

Dari jendela petshop yang dihiasi oleh poster promosi produk dan barang-barang display, Juri melihat Yoriko berada di balik meja kasir, tidak menyadari Juri sedang mengamatinya dari luar. Gadis itu sedang membaca sebuah majalah dengan sangat serius. Sangat serius sampai Juri berpikir majalah yang dibacanya itu mungkin majalah fiksi ilmiah yang biasa Juri baca dengan dahi mengerut.

Juri memutuskan membuka pintu petshop dan bunyi lonceng di atas pintu berbunyi menyadarkan Yoriko dari keseriusannya, menemukan Juri kini berdiri di depannya.

“Hei, Juri!” Sapa Yoriko sedikit terkejut karena tidak menyangka Juri akan datang hari ini.

“Hei...” Balas Juri. Dia bertingkah seperti tidak tahu apa-apa. “Kau tidak sadar daritadi aku berdiri di depan pintu masuk?”

“Oh ya?” Yoriko tambah kaget. Dia menjelaskan alasannya dengan gagap. “Maaf, aku tadi...”

“Memangnya apa yang kau baca?” Juri mengambil majalah yang Yoriko baca tadi dari gadis itu.

“Eh... Jangan!!” Cegah Yoriko walaupun terlambat, Juri sudah lebih dulu tahu artikel apa yang sedang dibaca Yoriko. Tentang Alice Nine, band Shou Kohara.

“Pantas kau sampai tidak menyadari kedatanganku.” Juri memanggut paham. Hanya Shou-lah yang bisa mengambil alih perhatian Yoriko di dunia nyata.

“Aku hanya penasaran, oke? Aku kebetulan melihat majalah itu saat aku membeli buku novel baru dan...” Yoriko mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. “Ya, setelah itu aku membelinya.”

“Aku baru tahu kau juga tertarik pada Shou sebagai seorang artis.” Juri sepertinya tidak mau tahu alasan Yoriko membeli majalah tersebut. Dia lebih tertarik dengan apa yang Yoriko pikirkan dari artikel tentang Shou di sana. “Dia terlihat tampan juga disini. Tidak disangka orang ini adalah orang yang setiap pagi berebutan kamar mandi denganku dan sering mengoceh tidak jelas.”

Yoriko merasa ketahuan. “Bukan tentang dirinya sebagai artis yang membuatku tertarik. Tapi, tidak sepenuhnya begitu...”

Juri melepaskan pandangannya dari majalah dan menatap Yoriko lekat-lekat, mencari jawaban. “Kalau begitu apa? Jangan sampai instingku sebagai seorang detektif terpancing dan memaksamu menguak motifmu, Yoriko-chan...”

“Kau terlalu banyak membaca Sherlock Holmes, ya?” Yoriko enggan menanggapi candaan Juri.

“Kalau begitu beritahu aku sebelum aku mengeluarkan lelucon lainku yang membosankan...” Juri terkekeh, senang dia berhasil memancing Yoriko.

“Dia...” Sekarang Yoriko berusaha mencari kata yang tepat agar terdengar realistis dan mudah.

Juri mengerutkan dahinya. Tampaknya ini akan lebih sulit daripada memahami istilah sains.

“Dia hidup di dunianya sendiri. Dunia dimana dia terlihat sempurna dan semua orang memujanya. Semuanya terasa lebih mudah jika dia menjadi seorang artis, bukan? Keistimewaan, pujian, uang, ketenaran, menciptakan musik sesuai keinginannya...” kata Yoriko. “Tetapi kita semua tahu Shou tidak terlihat bahagia meski dia memiliki segalanya. Itu karena... dia sadar semua itu hanyalah ilusi dan suatu hari nanti dia akan kehilangannya. Mungkin dia menyesal dia lebih memilih karirnya daripada mengejar sesuatu yang sangat berarti baginya dan terjebak disana...”

“Aku pernah mendengar dari Shou, dia merasa separuh hidupnya hilang demi manajamen yang mengurus bandnya.” Juri membenarkan pendapat Yoriko.

“Walaupun dia selalu dekat dengan teman-temannya, dia memisahkan diri, Juri. Aku bisa melihat itu selama aku bekerja untuk mereka.” Yoriko meneruskan.

“Makanya dia lebih memilih menyibukkan diri dengan karirnya. Dia berpikir menjadi dirinya sendiri masih belum cukup...” Juri mengambil kesimpulan. “Tetapi jika ia sadar kalau semua itu tidak abadi atau hanya ilusi, kenapa dia tidak mencoba keluar dari sana?”

“Karena semua itu indah, Juri.” Jawab Yoriko. “Terkadang dunia yang kau ciptakan sendiri terasa jauh lebih indah daripada dunia tempat kau berada sekarang. Dia akan terus berpegang pada khayalan itu, supaya ia tidak terluka lagi. Itu bukan sepenuhnya kesalahannya karena dunia nyata memang kejam...”

Juri tersenyum mendengar jawaban Yoriko. Dia merasa takjub Yoriko bisa mengetahui semua itu melalui majalah saja. Juri mengangkat tangannya, menyentuh wajah Yoriko seraya berkata, “Kau benar, dia tidak jauh berbeda darimu...”

“Tetapi apa yang ada di duniaku tidak membuatku menderita, Juri... Meski aku sadar semua itu hanyalah ilusi dan tidak akan pernah menjadi nyata...” Yoriko berusaha mengelak.

“Tetapi semua itu tetap indah, bukan?” Juri sudah tahu. “Makanya kau bertahan di dalamnya.”

“Memang... Tetapi vampir, pangeran tampan, puteri duyung, kerajaan yang damai, menara misterius di tengah hutan memang tidak nyata, tetapi mereka tidak pernah menyakitiku.” Ujar Yoriko. “Namun pujian, ketenaran, uang... semua itu nyata. Mereka berlidah manis tetapi... Memiliki gigi yang sangat tajam. Mereka bisa melukai Shou kapanpun mereka mau...”

“Nampaknya kau juga mengalami apa yang Shou alami...” kata Juri. “Spencer Williams dan Shou Kohara...”

Yoriko terkesiap. Juri benar. Wujud Spencer Williams memang tidak nyata dan ketika Yoriko dihadapkan oleh Shou Kohara, Yoriko menahan diri dari orang itu. Yoriko mencoba bertahan supaya dia tidak tersakiti oleh fakta bahwa Shou Kohara tidaklah sesempurna Spencer Williams.

“Apa pendapatmu, Juri?” tanya Yoriko dengan pandangan kosong. “Apakah aku jatuh cinta padanya? Pada Shou Kohara?”

“Terlalu cepat untuk itu, bisa jadi kau hanya mengaguminya karena dia mirip dengan karakter buatanmu. Tetapi kau bisa mencari tahu dengan cara mendekatinya...” Juri memberi saran.

“Bagaimana caranya aku bisa mendekatinya bila dia terus menutup diri di dunianya?” Yoriko bingung.

“Mudah.” Juri mengambil sebuah permen dari mangkok kaca di atas meja kasir yang diperuntukkan kepada para tamu. “Pertama-tama, kau harus keluar dulu dari duniamu.”

***

Nao baru saja memasuki gedung kantor redaksi majalah tempat mereka akan melakukan pemotretan untuk artikel tentang mereka pada edisi majalah itu bulan depan bersama Shou. Dia melepas kacamata hitamnya sebelum ia memasuki sebuah ruangan tertutup. Ruang rias dan kostum untuknya dan Shou.

Tidak ada siapapun di ruangan kecuali Shou yang sedang bermain PSP di kursi meja rias. Rupanya dia sudah selesai bersiap-siap.

“Aku tadi melihat mobilmu di tempat parkir. Kenapa kau tidak menjemputku di rumah supaya kita bisa bersama kesini?” Tanya Nao. Ia menaruh ranselnya ke sofa di dekatnya, melepas jaket dan mengganti pakaiannya dengan properti yang sudah disiapkan.

Tanpa melepaskan pandangannya dari game yang ia mainkan, Shou menjawab, “Aku kesiangan. Maaf.”

Nao hanya memutar mata sambil memaklumi. Bukan Shou namanya kalau dia tidak pernah kesiangan. Tetapi beberapa hari ini dia sedikit berubah karena Juri. “Katanya kau bisa berangkat lebih pagi karena ada Juri...”

“Oh, dia sudah pergi dari tadi pagi. Jadi dia tidak menggangguku sama sekali.” Jawab Shou cuek.

“Dia pasti bersama Yoriko lagi. Dan kau tidak peduli lagi dia pergi kemana?”

“Tidak. Terakhir dia menghabiskan waktu bersama Yoriko mereka bermain game Amnesia. Aku tidak akan kaget kalau Juri pulang dan bercerita mereka baru saja dari Disneyland. Toh sebentar lagi wanita aneh itu akan datang dan menjadi pembantu kita. Jadi, untuk apa aku peduli?” Jawab Shou tanpa mengurangi sedikit pun rasa cuek di nada bicaranya.

“Amnesia? Mereka bermain game itu?” Nao kaget dan tercengang. “Kau yakin mereka bermain game itu? Shou, kau benar-benar harus mencoba lebih terbuka dengan orang-orang yang berani memainkan game itu! Apa mereka menamatkan gamenya?”

“Haha...” Shou tertawa sarkastik. “Masih banyak gamer amnesia di dunia ini yang bisa kuajak berteman. Dan ya, dengan bangganya mereka bercerita telah menamatkan game itu.”

“Aku harus bertanya pada Juri atau Yoriko bagaimana mereka bisa menyelesaikan game itu.” ucap Nao mantap. “Ah! Undang saja Juri ke acara hanami kita besok!”

Hening. Tidak ada jawaban dari Shou yang artinya ia tidak setuju. Hanya ada suara efek dari game Smackdown di PSP Shou.

“Ayolah, begitu-begitu dia juga orang Jepang, kan? Dia belum pernah ke acara hanami.” Nao memelas. “Kalau kau tidak setuju, biar kuundang dia saja sendiri.”

“Terserah kau saja.” jawab Shou setengah kesal. Dia senang teman-temannya selalu ramah pada orang lain, tetapi lain ceritanya kalau mereka menjadi terlalu ramah dan mengundang orang asing ke acara yang sudah menjadi tradisi mereka setiap tahun.

Tahu Shou sedang kesal, Nao membiarkan sahabatnya sendiri lebih dulu bersama gamenya. Selesai mengganti bajunya, dia duduk di meja rias sebelah Shou untuk merapikan diri.

Tepat setelah itu, Nao mendengar pintu ruangan mereka dibuka oleh seseorang. Masuklah seorang gadis berpakaian serba hitam yang sudah sangat ia kenal.

“Apa aku terlambat? Sesi pemotretannya belum dimulai, kan?” Yoriko kelihatan panik, takut ia terlambat. Sebenarnya Yoriko cukup bersemangat saat dia tahu harus menemani Shou dan Nao pemotretan di studio. Yoriko belum pernah melihat bagaimana sesi pemotretan di studio sebelumnya, dan sebagai orang yang menyukai fotografi, dia ingin tahu semuanya.

“Tenang saja.” kata Nao ramah. “Kau bantu saja aku bersiap-siap. Sebentar lagi dimulai.”

Yoriko menaruh tas dan jubahnya di atas sofa. Kemudian ia melihat sebuah tumpukan besar berisi pakaian-pakaian yang tidak terlipat, peralatan make up, dan sepatu berceceran di dekatnya. Yoriko penasaran siapa orang yang berperilaku jorok disini.

“Oh, itu milikku.” Shou menyadari Yoriko sedang mengamati barang-barang miliknya yang sengaja dibiarkan berantakan. Dengan nada mengejek dan bertingkah seperti bos besar, Shou berkata, “Jangan lupa kau bereskan sebelum kami selesai pemotretan.”

“Aku asistenmu, Shou. Bukan pelayan atau pesuruhmu.” Protes Yoriko jengkel.

“Kata ‘asisten’ hanya istilah yang lebih lembut untuk ‘pelayan’ dan ‘pesuruh’. Lagipula antara kau harus membereskan itu atau kau kupecat. Terserah kau saja.” kata Shou tanpa merasa bersalah sedikit pun. Gadis ini harus diberi balasan atas perlakuannya terhadap pakaian Shou yang dikenakan Yoriko kemarin di apartemennya tanpa izin.

Mendengar ia akan dipecat, Yoriko hanya bisa pasrah. Dengan enggan ia menyanggupi perintah Shou. “Baiklah, Yang Mulia, akan segera saya bereskan.”

*** 

Sesi pemotretan berlangsung dengan lancar. Tema pemotretan mereka cukup sederhana. Mereka berpakaian kasual dan maskulin dengan latar belakang foto yang putih. Properti mereka juga tidak terlalu banyak, hanya sebuah sofa putih yang panjang dan sedikit improvisasi dari gaya foto sudah membuat hasilnya menakjubkan.

Yoriko berlari kecil dari ruang persiapan ke studio. Dia buru-buru menyelesaikan tugasnya membereskan barang-barang Shou karena tidak ingin kehilangan momen prosesi pemotretan ini. Dia bersyukur saat ia memasuki ruangan, ternyata pemotretannya masih belum selesai.

Seorang wanita yang sepertinya salah satu petugas dari prosesi ini menghampiri Yoriko. Dari penampilannya yang semi-formal tapi juga eksentrik, Yoriko menebak dia adalah salah satu editor majalah. Creative editor, mungkin?

“Anda siapa?” sapa wanita itu ramah.

“Aku Yoriko Ishihara. Aku asisten Alice Nine...” Yoriko mengulurkan tangannya dengan ramah kepada wanita itu. Dia selalu bersikap ramah pada siapapun dari industri penerbitan, karena merekalah yang akan membantu Yoriko menerbitkan bukunya suatu hari nanti.

Wanita itu membalas uluran tangan Yoriko dengan ramah juga. “Oh, senang berkenalan dengan anda. Aku Atsuko. Aku pemimpin redaksi majalah ini, sebenarnya aku kesini hanya ingin mengamati sesi pemotretan. Band Alice Nine cukup besar namanya, jadi kami merasa beruntung bisa memanggil salah dua dari mereka untuk melakukan wawancara.”

Yoriko tiba-tiba menjadi gugup. Dia berkenalan dengan seorang pemimpin redaksi! Ini benar-benar sesuatu yang keren baginya. Biasanya pemimpin redaksi selalu sibuk dan tidak pernah basa-basi. Ini pasti karena Yoriko menyebut dirinya sebagai asisten Alice Nine.

“Pemotretannya sederhana juga. Kupikir karena mereka beraliran visual kei propertinya akan...” kata Yoriko pelan. “sedikit lebih ramai, mungkin?”

“Mereka beraliran oshare kei, lebih tepatnya. Oshare kei penampilannya lebih berwarna daripada visual kei seperti Gazette, misalnya. Cara berpakaian mereka sudah kasual dan berwarna, itu sudah cukup mencerminkan gaya mereka di band...” Atsuko menjelaskan konsep pemotretan mereka.

“Oh...” Yoriko mengamati bagaimana Shou dan Nao difoto. Mereka berdua sedang duduk di sofa dengan pengarahan dari penata gaya. Sang penata gaya hanya meminta mereka duduk santai dan memberikan senyum kepada kamera.

Tidak lupa Yoriko mengamati kamera yang digunakan sang fotografer. Canon EOS 550D seperti miliknya dengan wireless trigger untuk mengendalikan lampu-lampu di studio. Dari apa yang Yoriko pelajari dari fotografi, pemotretan menggunakan top light, dimana sumber cahaya berasal dari lampu atas dan menggunakan payung untuk meredam cahayanya supaya tidak menghasilkan kesan kasar di kulit model.

Setelah beberapa kali pengambilan foto, penataan lampu kembali diubah. Kali ini posisi cahaya dari sudut kanan di depan Shou dan Nao. Yoriko suka penataan cahaya seperti ini, menciptakan ‘dimensi’ pada wajah mereka supaya mereka terlihat sempurna.

“Kalau kuperhatikan dari tadi, kau suka fotografi, ya?” Atsuko menebak.

“Ya, begitulah.” Jawab Yoriko malu-malu. “Jujur, aku sedikit bersemangat saat aku diberi kesempatan mengikuti sesi pemotretan ini.”

“Aku selalu takjub dengan hasil para fotografer dalam menciptakan foto-foto mereka. Padahal mereka hanya bermodalkan cahaya, kamera, dan lensa yang bagus. Tetapi hasilnya selalu sempurna.” Kata Atsuko kagum.

“Ya, mereka memang selalu terlihat sempurna.” Kata Yoriko. Terlalu sempurna sampai fans mereka memuja-muja mereka setengah mati. Yoriko pernah mendengar kasus dari Honoka Ikeda, resepsionis yang bekerja di lobi kantor PSC mengenai tindakan para penggemar di internet. Banyak dari mereka yang menciptakan keributan sendiri tanpa sebab yang jelas.

Padahal apa yang mereka perebutkan disini, sedang berusaha menyenangkan mereka dengan berpose bahagia di depan kamera. Menjadi seorang artis memang tidak semudah yang orang lain pikirkan.

Untuk kesekian kalinya Yoriko dihadapkan oleh kenyataan bahwa orang di depannya sama sekali berbeda dari tokoh ciptaannya. Spencer Williams tidak akan pernah mau seperti ini, menjadi sorotan media. Spencer adalah pria yang lebih menyukai aksi, ia memegang senjata di tangan, bukannya mic. Spencer seharusnya berada di TKP atau meja kerjanya di kepolisian, menyelidiki kasus, bukannya di panggung gemerlap penuh akan penggemar yang mengelukan namanya. Spencer akan selalu menolak diwawancarai di sela ia sedang mengerjakan kasus.

Dalam sekejap Yoriko akhirnya tahu mengapa ia ditakdirkan bertemu dengan Shou Kohara. Tuhan ingin menyadarkannya agar ia lebih bisa memahami dunia nyata dan perasaan orang lain. CaraNya memang membingungkan dan aneh, tetapi akhirnya Yoriko memahami maksudNya!

“Mereka adalah salah satu artis yang bekerja keras, kami sangat mengagumi itu.” kata Atsuko.

Kemudian dengan segenap keberaniannya yang terkumpul cepat, Yoriko berkata, “Kalau tidak salah, perusahaan anda juga menerbitkan buku selain majalah, bukan?”

“Ya, benar sekali.” Dengan bangga Atsuko menjawab. “Mengapa anda tertarik?”

“Begini...” Yoriko menceritakannya perlahan supaya ia tidak meledak, “Aku sedang menulis dan sebentar lagi karyaku akan selesai. Aku berencana akan menerbitkannya...”

“Hmm... Boleh juga...” Atsuko kelihatannya tertarik. “Anda menulis tentang apa?”

Tahu pemimpin redaksi di depannya ini tertarik, Yoriko semakin bersemangat. “Fiksi. Tentang kriminal tetapi juga sedikit dibumbui oleh roman.”

“Kalau begitu...” Atsuko mengambil sesuatu dari balik blazernya. Sebuah kartu nama. “Ini kartu namaku. Kalau kau sudah siap dengan karyamu, silakan datang saja lagi kemari. Kita lihat nanti bersama apa karyamu cocok diterbitkan oleh kami atau tidak.”

“Te... terima kasih, Atsuko-san!” Tanpa Yoriko sadari dia berteriak kesenangan dan membungkukkan badannya berkali-kali di depan Atsuko sampai orang-orang di sekitar mereka menoleh, termasuk Shou dan Nao yang tadi masih sibuk difoto.

“Eh... Maaf...” Yoriko jadi tidak enak pada mereka semua, kini giliran ia membungkuk pada mereka sebagai permintaan maaf.

Atsuko tergelak pelan melihat kepolosan Yoriko. Ia memanggil asistennya yang berdiri tidak jauh darinya. Seorang gadis seusia Yoriko yang berpenampilan sangat dewasa. “Ai, kau temani Yoriko-san sampai pemotretan ini selesai.”

Ai yang diminta menganggukkan kepalanya. “Baik, Atsuko-san.”

“Ya sudah. Aku harus kembali ke ruanganku.” Atsuko berpamitan sambil menahan tawa. “Jangan membuat keributan lagi disini, ya. Hihi...”

Yoriko langsung merasa canggung. Ia menyesal dan berkali-kali mengatai dirinya bodoh karena membuat kesan pertamanya dengan seorang pemimpin redaksi sekonyol ini.

*** 

“Ada apa denganmu tadi, Yoriko-chan?” tanya Nao ketika mereka sudah selesai pemotretan dan kembali ke ruang persiapan. “Kenapa kau tiba-tiba berteriak pada pemimpin redaksi majalah ini?”

“Oh, kau juga tahu dia pemimpin redaksi?” Yoriko sedikit kaget. “Ya, tadi dia memberiku kartu namanya kalau aku ingin membawa karyaku ke redaksi ini. Mereka juga menerbitkan buku novel, bukan?”

“Haha...” Nao paham. “Pantas saja kau senang. Tidak ada salahnya kau membawa karyamu kemari, mereka terbuka untuk berbagai genre tulisan.”

“Tapi lucu juga ya, pemimpin redaksi yang sangat sibuk bisa meluangkan waktunya mengobrol denganku...” Yoriko masih bertanya-tanya.

“Kau tidak lihat penampilanmu, Yoriko? Kau terlihat seperti salah satu model majalahnya. Kalau seandainya kau sedikit anggun atau bersikap seperti seorang model, kau pasti akan ditarik menjadi modelnya juga.” Nao menunjuk penampilan Yoriko dari atas sampai bawah. “Ini majalah gotik visual kei, Yoriko-chan...”

Yoriko baru sadar. Pantas saja Atsuko sangat ramah padanya tadi. “Memangnya menurutmu aku tidak seperti model?”

“Yoriko-chan, kau bergaya seperti itu karena itulah dirimu. Bukannya model yang bergaya seperti itu demi pekerjaan. Kau seharusnya bangga.” Ujar Nao seraya tersenyum.

“Aw... Terima kasih...” Yoriko tersipu dan merendahkan tubuhnya memberi hormat kepada Nao.

“Oh ya, Yoriko-chan. Kau masih ingat besok adalah hari hanami kita? Kau pasti datang, kan?” Nao mengingatkannya.

Perasaan Yoriko yang tadinya riang tiba-tiba hilang dan perutnya terasa mulas. Mereka masih ingat mengajaknya pergi hanami? “A... aku...”

“Ayolah, Yoriko. Datang saja... Kumohon... Tora dan yang lain pasti juga mengharapkanmu datang...” Nao menarik tangan Yoriko dan memelas.

Bukannya Yoriko tidak mau pergi, tetapi ia tidak siap. Berhadapan dengan sakura mengingatkannya pada traumanya di masa kecil. Sakuralah yang menentukan hidupnya, Sakuralah yang membuatnya tenggelam di dunia gotik yang suram. Dia sudah sangat nyaman di dunia itu, dan ia tidak mau bertemu dengan Sakura lalu mengubah semua itu.

“Kurasa aku tidak bisa, Nao... Maaf... Tadi pagi Aya bilang dia juga ikut acara hanami bersama teman-teman kuliahnya dan mau tidak mau aku harus mengisi giliran kerjanya...” Yoriko terpaksa berbohong.

Nao menghela napas kecewa. “Yaah... Mengapa begitu? Padahal pasti seru kalau kau datang... Baiklah, sampai giliran kerjamu selesai kami akan tunggu kau disana!”

“Apa!?”

“Ya, acara hanami ini akan terasa biasa saja tanpa kehadiranmu, Yoriko. Kami ingin kau datang, kau harus datang! Sampai jumpa besok, Yoriko-chan!” kata Nao gigih. Tanpa bertanya atau berkata apapun lagi pada Yoriko, ia mengganti pakaian, menghapus riasan wajahnya, dan berkemas pergi dari ruangan.

Yoriko termangu melihat betapa optimisnya Nao yang menginginkan kehadiran Yoriko disana. Yoriko tidak tahu harus berkata apa lagi, dia tidak mau mematahkan semangat Nao dengan berkata dia sungguh tidak akan datang dan tidak sanggup datang. Kenangan bersama Sakura masih melekat terlalu kuat di hatinya.

“Kau benar-benar pembohong yang payah...” Tiba-tiba suara ketus Shou menyahuti lamunan Yoriko. “Dia juga payah, percaya pada kebohonganmu begitu saja.”

Yoriko mulai kesal. Orang ini boleh ikut campur dan mengatai urusan hidupnya, tetapi untuk soal ini, Yoriko ingin orang lain menjauhinya, termasuk Shou. “Itu bukan urusanmu. Pokoknya aku tidak akan datang. Jangan ceritakan pada Nao, karena kau akan menyakitinya.”

“Hah, dia bukan anak kecil lagi.” Shou tidak peduli. Kata-katanya selalu saja mengalir sedingin air es. “Terserah aku mau cerita atau tidak.”

“Apa maumu, Shou Kohara? Kau tidak berhak ikut campur urusanku.”

Shou diam saja. Dia memasukkan barang-barangnya ke dalam ranselnya. Sebelum beranjak keluar, ia berkata pada Yoriko. “Justru kau yang seperti anak kecil. Aku dan teman-temanku tidak pernah mau tahu urusanmu itu. Tetapi kau malah mengaitkannya dan bersikap tidak profesional.”

Yoriko menjadi sewot. “Apa maksudmu? Aku tidak profesional? Kalau tidak salah itu hanyalah undangan biasa dan aku berhak menolak. Kau tidak berhak berkata seperti itu padaku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.”

Shou kembali diam. Dia memandang tajam Yoriko, seakan ia ingin menyusupi apa yang Yoriko sembunyikan di balik tatapan matanya yang memandang Shou marah. “Hanya karena kau takut pada sesuatu bukan berarti kau bisa terus sembunyi tanpa menghadapinya... Kupikir dengan penampilanmu itu kau bisa menghadapinya seperti seorang gadis gotik yang menyukai kegelapan. Seharusnya kau malu pada kostum anehmu itu.”

Setelah Shou pergi, Yoriko tidak bisa berkata apapun lagi. Belum pernah ada seorang pun berkata setajam dan sekeras itu padanya. Yoriko berusaha memulihkan dirinya dari kritikan pedas Shou kepadanya dan mencoba mengartikan maksud Shou dan semua itu.


Mungkin kata Aya benar, Shou benar-benar menginginkan Yoriko datang ke acara hanaminya...

No comments:

Post a Comment