Wednesday, July 3, 2013

The Invisible (7)

 7

            “Aku pulang.” ujar Sharon meskipun dia tahu rumah masih kosong saat dia memasukinya. Meski sudah pukul sembilan malam, ayahnya belum pulang bekerja. Untunglah dia sudah menyantap makan malam bersama Shou dan Reiko di kafe dan ayahnya mengiriminya pesan singkat bahwa Sharon tidak perlu menyiapkan makanan untuknya karena ayahnya sudah makan malam di luar.
            Sharon langsung masuk ke kamar selama beberapa saat dan keluar dengan membawa handuk dan rambut yang sudah digulung rapi. Dia berjalan ke kamar mandi dan menutup pintunya. Aku bisa mendengar suara aliran air ke dalam bak mandi dari sini. Dia pasti ingin melepas penatnya dengan berendam di dalam air hangat seperti yang dulu selalu kulakukan setiap malam.
            Hari ini adalah hari terbesar sekaligus hari terberatnya. Dia bertemu dengan seorang hantu dan mendapat teman-teman baru. Kematian dan kehidupan yang dijumpainya hari ini benar-benar membuatnya sangat lelah.
            Terdengar nyanyian pelan dari dalam kamar mandi yang tertutup rapat. Aku tidak tahu lagu apa yang Sharon nyanyikan. Namun dia menyanyikannya dengan lembut dan main-main seperti gadis kecil yang bernyanyi bersama bonekanya.
            Sementara itu, aku menantinya di depan pintu seperti menanti seseorang di stasiun. Padahal aku bisa menembus ke balik dinding untuk melihat sosoknya di dalam. Namun aku tidak bisa. Entah mengapa sejak kehadiran Sharon di rumah ini, aku merasa seperti kembali menjadi manusia. Jiwa usang ini seolah masih bisa merasakan perasaan lain selain dendam. Aku berpikir bahwa aku harus menghormati Sharon dengan memberikan privasi untuknya meskipun dia tidak dapat melihatku.
            Akan tetapi, cepat atau lambat dia akan dapat melihatku. Dia akan menilaiku, apakah aku seperti yang dibayangkan dan diharapkannya, terlepas dari kenyataan bahwa aku adalah seorang hantu. Mungkin energi manusia yang ditularkannya padaku membuatku bisa merasakan perasaan sebagai manusia itu.
            Saat akhirnya bisa kembali merasakannya, baru kusadari aku sangat merindukan kehidupan. Jika aku masih hidup, mungkin kami akan bertemu secara normal, berkenalan, dan berteman dalam waktu singkat.
            Namun sebagai hantu aku tidak pantas membayangkan hal itu. Semua itu terlalu indah dan alam semesta pasti akan menertawaiku karena aku adalah makhluk terendah yang memaksakan diri untuk tetap tinggal di lingkungannya. Kematian yang dipenuhi duka dan keputus asaan tidak akan bisa bersatu dengan persahabatan yang dipenuhi kebahagiaan dan harapan.
            Kudengar pintu kamar mandi terbuka. Sharon keluar dengan mengenakan piyamanya. Dia terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Dia memasuki kamar dan melepaskan gulungan rambutnya sehingga rambut ikal panjangnya jatuh menjuntai di punggungnya. Dia menyisir rambutnya dengan lembut di depan cermin sambil bersenandung lagi, menyemprotkan sedikit parfum beraroma apel yang sangat manis. Malam ini aku melihat sisi lain Sharon yang sebenarnya feminin dan anggun layaknya seorang gadis Inggris. Ini membuatku penasaran jika ada pemuda lain yang pernah berdebar-debar sepertiku sekarang karena melihatnya seperti ini, juga membuatku bimbang apakah aku pantas menyentuh sehelai saja rambutnya yang sehalus satin itu dengan tanganku, meninggalkan jejak dingin yang akan membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi.
            Tiba-tiba dia menaruh sisirnya dan melirik ke belakang, seolah menyadari ada sesuatu yang mengawasinya. Lagi-lagi aku tidak merasakan ketakutan atau kewaspadaan. Dia seakan tahu aku berada di sini bersamanya, berdiri tepat di belakangnya.
            Dia berhenti berpaling dan melihat dirinya sendiri di depan cermin. Mata birunya memandang lurus refleksi dirinya yang tercermin di sana. Mata teduh itu seakan menjadi perisai yang menghalangiku untuk membaca atau menerka apa yang dipikirkannya.
            Lalu dia berkata, “Mungkin aku sudah gila atau apa. Tapi itu tidak masalah, bukan?”
            Dia tahu keberadaanku. Dia tidak dapat melihatku, namun dia dapat merasakannya dan dengan lantang mengutarakannya.
            “Mungkin aku hanya berbicara sendiri di ruangan kosong.” lanjutnya. “tapi itu juga tidak masalah, bukan? Kurasa kau sudah tidak mempertanyakan kewarasanku lagi jika kau tahu aku dapat merasakanmu.”
            “Sejak kedatanganku kemari aku merasakannya. Perasaan berat, sesak, dan sedih tanpa sebab. Apakah itu darimu? Apakah kau tidak suka aku ada di sini, menempati rumahmu?”
            Tidak. Walaupun aku tahu dia tidak dapat mendengarnya, aku tetap menjawab. Memang berat rasanya merelakan rumahku ini pada orang lain, tapi untukmu dan ayahmu, kurasa aku bisa melakukannya.
            Dia terdiam sesaat, seolah ingin memberiku kesempatan untuk menjawabnya. Pembicaraan searah ini seakan dapat dipahami oleh kami. Aku belum pernah berkomunikasi dengan manusia sebelumnya melalui cara apa saja. Begitu aku bisa melakukannya, rasanya aku seperti baru pertama kali menggunakan telepon. Dia melihatku dengan kepekaannya.
            “Aku bertemu teman-temanmu. Kuharap kau tidak keberatan aku berteman dengan mereka. Sepertinya mereka orang-orang baik.”
            Tidak masalah. Mereka memang orang-orang baik dan pasti bersedia membantumu.
            “Kurasa kau Kai. Benar begitu?” tanya Sharon. “Dari cerita Shou tentangmu, kau bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja. Kau pasti ingin mencari tahu siapa yang telah membunuhmu.”
            Kau benar.
            “Kalau begitu, apakah kau keberatan jika aku membantumu?”
            Pertanyaannya mengejutkanku. Mengapa?
            “Aku juga akan sepertimu jika aku tidak bisa menemukan orang brengsek yang telah membunuhku dalam tidur.” Dia tersenyum. “Rasanya aku ingin melakukan hal yang sama padanya jika aku menemukannya nanti.”
            Mengapa, Sharon? Mengapa kau ingin membantuku?
            “Kau memiliki hidup yang bahagia bersama keluargamu. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat kumiliki bersama keluargaku. Begitu tahu seseorang merenggutnya begitu saja dari kalian, aku tidak bisa merasakan apa pun lagi selain pedih.”
            “Jadi, bolehkah aku membantumu?” dia tidak memberikan kesempatan untukku menjawab. Sambil memasang raut pura-pura marah seolah dia seperti mendengarku menolak tawarannya, dia meneruskan, “Kalau kau menolaknya, aku akan tetap membantumu juga. Kuharap kau tidak keberatan.”
            Lalu dia berdiri dan berlari keluar kamar menuju kamar orang tuaku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Dia keluar dari kamar itu dengan sebuah kunci di tangan. Dia berlari lagi melintasi lorong dan berhenti di depan pintu kamar Minami. Dia memasukkan kunci itu untuk membukanya.
            “Wow, kamar adikmu indah sekali...” dia berseru pelan begitu dia memasuki kamar adikku. Sharon menyukai nuansa victorian dan merah muda yang menyatu dengan lembut pada kamar ini. Adikku sangat menyukai tokoh Hello Kitty sehingga wajah kucing bermuka bulat itu tampak di setiap benda-benda yang ada di kamar bernuansa victorian ini. Bantal, selimut, poster, boneka yang kurasa jumlahnya mencapai ratusan, lampu, hingga gaun-gaunnya sendiri juga ada yang bermotif sama.
            Sharon menjelajahi setiap jengkal kamar adikku tanpa mengubah atau mengambil barang yang tergeletak. Meskipun adikku sudah berada di dunia sana, baginya tetap lancang untuk mengambil satu barang pun dari kamar ini untuk dijadikan miliknya.
            “Hmm...” dia bergumam saat membuka lemari laci di samping ranjang adikku. Dia menemukan ponsel adikku yang tentu saja juga berwarna merah muda di sana. Model ponsel yang belum pernah dilihatnya itu membuatnya tertarik. Seperti dia yang mengenalku melalui barang-barang yang tersembunyi di dalam klosetku, dia juga ingin mengenal Minami melalui ponsel itu. Dia yakin pasti ada foto-foto Minami tersimpan di dalam ponsel yang sudah tidak menyala lagi sejak tiga tahun lalu itu. Dia mengambil kabel pengisi baterai ponsel itu yang juga berada di laci yang sama untuk mengisi dayanya.
            Dia kembali ke kamarku untuk memeriksa isi memori ponsel itu selagi mengisi daya batereinya. Ternyata dugaannya benar, ponsel itu menyimpan banyak sekali foto-foto dan video tentang Minami dan orang-orang di sekitarnya. Setiap filenya dia simpan di berbagai folder yang memudahkan Sharon untuk memeriksanya. Dia membuka folder pertama dan menemukan ratusan foto Minami bersama teman-teman sekolahnya diambil di berbagai tempat seperti sekolah, kafe, mal, dan pedestrian. Setengah dari semua foto itu telah diedit oleh Minami dengan menambahkan tulisan-tulisan dan bingkai-bingkai lucu untuk mempermanis foto. Dari situ Sharon pun mengetahui bahwa Minami juga memiliki banyak teman sepertiku. Minami sangat menyukai cosplay dan sering berkostum sebagai tokoh-tokoh anime kesukaannya. Menurut Sharon, setiap hari adalah hari Halloween untuk Minami.
            “Adikmu manis sekali, Kai. Aku tidak akan heran kalau dia sama populernya sepertimu di sekolahnya.” Komentar Sharon sebelum berpindah ke folder lainnya yang berisi video-video berdurasi singkat yang direkam sendiri oleh Minami. Minami selalu iseng merekam setiap momen bodoh yang kulakukan. Seperti wajahku yang terbentur bola basket saat aku hendak melemparnya ke ring yang ada di halaman rumah. Tadinya aku meminta Minami merekamku saat aku hendak memasukkan bola itu ke dalam ring dengan sempurna. Namun bola sialan itu malah memantul dan mengenai wajahku. Sekarang bisa ditebak, tawa Sharon saat ini ketika melihatnya sama histerisnya dengan tawa Minami pada saat itu.
            “Jangan bilang kau merekamnya tadi.” Suaraku terdengar di video itu.
            “Tentu saja aku merekamnya. Pasti akan sangat lucu jika kusebar di internet.” Sahut Minami tanpa berhenti tertawa.
            “Hei, jangan kau sebar!” gambar video menjadi tidak terarah karena aku berusaha merebut ponsel Minami dari tangannya. Bahkan setelah menjadi hantu pun aku bersumpah, jika aku sudah mendapat kemampuan untuk memanipulasi alat elektronik, aku akan menghapus video memalukan itu secepatnya.
            Namun setelah mendengar suara kami di video itu, Sharon malah tertegun diam. Setelah berbagai usaha untuk mengenal siapa diriku melalui benda-benda milikku dan cerita teman-temanku, tidak ada yang benar-benar menusuk hatinya setelah mendengar suara serak basahku dan suara lembut Minami di video itu. Dia langsung mencari video lainnya untuk mendengar suaraku lagi. Dia menemukan video yang direkam Minami pada hari ulang tahunku. Orang tuaku mengadakan pesta kecil-kecilan bersama para pelayan rumah untuk merayakannya. Kelezatan kue tiramisu buatan ibuku waktu itu masih sangat terasa, kehangatan suasananya dan hadiah-hadiah yang kuterima juga masih terasa seperti baru kemarin pesta itu berlalu.
            Sharon tersenyum geli melihatku mengenakan topi pesta yang terlihat sangat kecil di atas kepalaku. Dia mendengarku mengucapkan terima kasih pada semua orang di sana yang telah memberiku pesta yang indah itu. Sayangnya, tidak satu pun dari kami menyadari bahwa pesta itu adalah pesta terakhir yang kami rayakan sebagai keluarga.
            Tiba-tiba aku melihat setetes air mata menggenangi mata Sharon. Dia terharu menyaksikan video-video itu. Dia iri melihat keharmonisan, kebersamaan, dan kekonyolan yang terekam di setiap detiknya. Dia tidak memiliki kakak atau adik untuk dijahili, ayahnya sering lupa hari ulang tahunnya sendiri karena terlalu sibuk bekerja, dan dia tidak lagi memiliki ibu yang bisa membuatkan kue khusus untuknya. Setelah melihat video itu barulah dia sadar selama ini dia sendirian.
            Apalagi setelah dia mendengar suara-suara yang tidak mungkin akan terdengar lagi di dalam video itu, dia makin merasa ironis. Sharon menutup ponsel itu dan menaruhnya di meja lalu berbaring di ranjangnya.
            Suaraku dan keluargaku mengingatkannya akan suara yang paling ingin didengarnya lebih dari apa pun. Suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah suara almarhum ibunya sendiri. Ibunya lebih dulu meninggalkannya sebelum mereka bisa membuat banyak kenangan indah seperti yang dilihatnya di video-video tadi. Jika dengan mendengar suaraku dapat membuatnya mengenalku lebih dekat, begitu pula dengan suara ibunya.
            Sharon menangis sesenggukan dan ingin menangis lagi lebih keras agar ibunya yang berada di dunia sana bisa mendengarnya. Jika dia dapat melihat Amaya dan arwah lainnya yang sudah meninggal, dia pasti bisa dan ingin melihat ibunya lagi. Dia rela berpegang dengan apa saja yang ada di dunia ini walau sesuatu itu tidak masuk akal sekali pun asal dia dapat berjumpa dengan ibunya lagi.
            Namun jiwa yang sudah berada di dunia sana tidak akan bisa kembali lagi ke dunia ini. Oleh karena itulah orang-orang yang ditinggalkan merasa sangat sedih dan kehilangan, begitu pula dengan jiwa-jiwa yang menolak untuk pergi karena keindahan dan kedamaian dunia sana tidak dapat memberikan kebersamaan yang dulu mereka miliki lagi.

            Sharon adalah gadis yang berusaha keras menerima fakta kejam itu sejak kecil. Namun kerapuhan di dalam dirinya yang tidak satu pun manusia lain dapat merasakannya tidak dapat memahaminya. Dia bukan seorang gadis yang kuat seperti orang lain katakan. Dia tetaplah seorang gadis kecil yang sangat merindukan ibunya.

No comments:

Post a Comment