7
“Aku
pulang.” ujar Sharon meskipun dia tahu rumah masih kosong saat dia memasukinya.
Meski sudah pukul sembilan malam, ayahnya belum pulang bekerja. Untunglah dia sudah
menyantap makan malam bersama Shou dan Reiko di kafe dan ayahnya mengiriminya
pesan singkat bahwa Sharon tidak perlu menyiapkan makanan untuknya karena
ayahnya sudah makan malam di luar.
Sharon
langsung masuk ke kamar selama beberapa saat dan keluar dengan membawa handuk
dan rambut yang sudah digulung rapi. Dia berjalan ke kamar mandi dan menutup
pintunya. Aku bisa mendengar suara aliran air ke dalam bak mandi dari sini. Dia
pasti ingin melepas penatnya dengan berendam di dalam air hangat seperti yang
dulu selalu kulakukan setiap malam.
Hari
ini adalah hari terbesar sekaligus hari terberatnya. Dia bertemu dengan seorang
hantu dan mendapat teman-teman baru. Kematian dan kehidupan yang dijumpainya
hari ini benar-benar membuatnya sangat lelah.
Terdengar
nyanyian pelan dari dalam kamar mandi yang tertutup rapat. Aku tidak tahu lagu
apa yang Sharon nyanyikan. Namun dia menyanyikannya dengan lembut dan main-main
seperti gadis kecil yang bernyanyi bersama bonekanya.
Sementara
itu, aku menantinya di depan pintu seperti menanti seseorang di stasiun. Padahal
aku bisa menembus ke balik dinding untuk melihat sosoknya di dalam. Namun aku
tidak bisa. Entah mengapa sejak kehadiran Sharon di rumah ini, aku merasa
seperti kembali menjadi manusia. Jiwa usang ini seolah masih bisa merasakan
perasaan lain selain dendam. Aku berpikir bahwa aku harus menghormati Sharon
dengan memberikan privasi untuknya meskipun dia tidak dapat melihatku.
Akan
tetapi, cepat atau lambat dia akan dapat melihatku. Dia akan menilaiku, apakah
aku seperti yang dibayangkan dan diharapkannya, terlepas dari kenyataan bahwa
aku adalah seorang hantu. Mungkin energi manusia yang ditularkannya padaku
membuatku bisa merasakan perasaan sebagai manusia itu.
Saat
akhirnya bisa kembali merasakannya, baru kusadari aku sangat merindukan
kehidupan. Jika aku masih hidup, mungkin kami akan bertemu secara normal,
berkenalan, dan berteman dalam waktu singkat.
Namun
sebagai hantu aku tidak pantas membayangkan hal itu. Semua itu terlalu indah
dan alam semesta pasti akan menertawaiku karena aku adalah makhluk terendah
yang memaksakan diri untuk tetap tinggal di lingkungannya. Kematian yang
dipenuhi duka dan keputus asaan tidak akan bisa bersatu dengan persahabatan
yang dipenuhi kebahagiaan dan harapan.
Kudengar
pintu kamar mandi terbuka. Sharon keluar dengan mengenakan piyamanya. Dia
terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Dia memasuki kamar dan melepaskan gulungan
rambutnya sehingga rambut ikal panjangnya jatuh menjuntai di punggungnya. Dia
menyisir rambutnya dengan lembut di depan cermin sambil bersenandung lagi,
menyemprotkan sedikit parfum beraroma apel yang sangat manis. Malam ini aku
melihat sisi lain Sharon yang sebenarnya feminin dan anggun layaknya seorang
gadis Inggris. Ini membuatku penasaran jika ada pemuda lain yang pernah
berdebar-debar sepertiku sekarang karena melihatnya seperti ini, juga membuatku
bimbang apakah aku pantas menyentuh sehelai saja rambutnya yang sehalus satin
itu dengan tanganku, meninggalkan jejak dingin yang akan membuatnya tidak bisa tidur
dengan nyenyak lagi.
Tiba-tiba
dia menaruh sisirnya dan melirik ke belakang, seolah menyadari ada sesuatu yang
mengawasinya. Lagi-lagi aku tidak merasakan ketakutan atau kewaspadaan. Dia
seakan tahu aku berada di sini bersamanya, berdiri tepat di belakangnya.
Dia
berhenti berpaling dan melihat dirinya sendiri di depan cermin. Mata birunya
memandang lurus refleksi dirinya yang tercermin di sana. Mata teduh itu seakan
menjadi perisai yang menghalangiku untuk membaca atau menerka apa yang
dipikirkannya.
Lalu
dia berkata, “Mungkin aku sudah gila atau apa. Tapi itu tidak masalah, bukan?”
Dia
tahu keberadaanku. Dia tidak dapat melihatku, namun dia dapat merasakannya dan
dengan lantang mengutarakannya.
“Mungkin
aku hanya berbicara sendiri di ruangan kosong.” lanjutnya. “tapi itu juga tidak
masalah, bukan? Kurasa kau sudah tidak mempertanyakan kewarasanku lagi jika kau
tahu aku dapat merasakanmu.”
“Sejak
kedatanganku kemari aku merasakannya. Perasaan berat, sesak, dan sedih tanpa
sebab. Apakah itu darimu? Apakah kau tidak suka aku ada di sini, menempati
rumahmu?”
Tidak. Walaupun aku tahu dia tidak dapat
mendengarnya, aku tetap menjawab. Memang
berat rasanya merelakan rumahku ini pada orang lain, tapi untukmu dan ayahmu,
kurasa aku bisa melakukannya.
Dia
terdiam sesaat, seolah ingin memberiku kesempatan untuk menjawabnya.
Pembicaraan searah ini seakan dapat dipahami oleh kami. Aku belum pernah
berkomunikasi dengan manusia sebelumnya melalui cara apa saja. Begitu aku bisa
melakukannya, rasanya aku seperti baru pertama kali menggunakan telepon. Dia melihatku
dengan kepekaannya.
“Aku
bertemu teman-temanmu. Kuharap kau tidak keberatan aku berteman dengan mereka.
Sepertinya mereka orang-orang baik.”
Tidak masalah. Mereka memang orang-orang
baik dan pasti bersedia membantumu.
“Kurasa
kau Kai. Benar begitu?” tanya Sharon. “Dari cerita Shou tentangmu, kau bukanlah
orang yang mudah menyerah begitu saja. Kau pasti ingin mencari tahu siapa yang
telah membunuhmu.”
Kau benar.
“Kalau
begitu, apakah kau keberatan jika aku membantumu?”
Pertanyaannya
mengejutkanku. Mengapa?
“Aku
juga akan sepertimu jika aku tidak bisa menemukan orang brengsek yang telah
membunuhku dalam tidur.” Dia tersenyum. “Rasanya aku ingin melakukan hal yang
sama padanya jika aku menemukannya nanti.”
Mengapa, Sharon? Mengapa kau ingin
membantuku?
“Kau
memiliki hidup yang bahagia bersama keluargamu. Itu adalah sesuatu yang tidak
dapat kumiliki bersama keluargaku. Begitu tahu seseorang merenggutnya begitu
saja dari kalian, aku tidak bisa merasakan apa pun lagi selain pedih.”
“Jadi,
bolehkah aku membantumu?” dia tidak memberikan kesempatan untukku menjawab. Sambil
memasang raut pura-pura marah seolah dia seperti mendengarku menolak
tawarannya, dia meneruskan, “Kalau kau menolaknya, aku akan tetap membantumu
juga. Kuharap kau tidak keberatan.”
Lalu
dia berdiri dan berlari keluar kamar menuju kamar orang tuaku. Aku benar-benar
tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Dia keluar dari kamar itu dengan
sebuah kunci di tangan. Dia berlari lagi melintasi lorong dan berhenti di depan
pintu kamar Minami. Dia memasukkan kunci itu untuk membukanya.
“Wow,
kamar adikmu indah sekali...” dia berseru pelan begitu dia memasuki kamar
adikku. Sharon menyukai nuansa victorian dan merah muda yang menyatu dengan
lembut pada kamar ini. Adikku sangat menyukai tokoh Hello Kitty sehingga wajah
kucing bermuka bulat itu tampak di setiap benda-benda yang ada di kamar bernuansa
victorian ini. Bantal, selimut, poster, boneka yang kurasa jumlahnya mencapai
ratusan, lampu, hingga gaun-gaunnya sendiri juga ada yang bermotif sama.
Sharon
menjelajahi setiap jengkal kamar adikku tanpa mengubah atau mengambil barang
yang tergeletak. Meskipun adikku sudah berada di dunia sana, baginya tetap
lancang untuk mengambil satu barang pun dari kamar ini untuk dijadikan
miliknya.
“Hmm...”
dia bergumam saat membuka lemari laci di samping ranjang adikku. Dia menemukan
ponsel adikku yang tentu saja juga berwarna merah muda di sana. Model ponsel
yang belum pernah dilihatnya itu membuatnya tertarik. Seperti dia yang
mengenalku melalui barang-barang yang tersembunyi di dalam klosetku, dia juga
ingin mengenal Minami melalui ponsel itu. Dia yakin pasti ada foto-foto Minami
tersimpan di dalam ponsel yang sudah tidak menyala lagi sejak tiga tahun lalu
itu. Dia mengambil kabel pengisi baterai ponsel itu yang juga berada di laci
yang sama untuk mengisi dayanya.
Dia
kembali ke kamarku untuk memeriksa isi memori ponsel itu selagi mengisi daya
batereinya. Ternyata dugaannya benar, ponsel itu menyimpan banyak sekali
foto-foto dan video tentang Minami dan orang-orang di sekitarnya. Setiap filenya
dia simpan di berbagai folder yang memudahkan Sharon untuk memeriksanya. Dia
membuka folder pertama dan menemukan ratusan foto Minami bersama teman-teman
sekolahnya diambil di berbagai tempat seperti sekolah, kafe, mal, dan pedestrian.
Setengah dari semua foto itu telah diedit oleh Minami dengan menambahkan
tulisan-tulisan dan bingkai-bingkai lucu untuk mempermanis foto. Dari situ
Sharon pun mengetahui bahwa Minami juga memiliki banyak teman sepertiku. Minami
sangat menyukai cosplay dan sering berkostum sebagai tokoh-tokoh anime
kesukaannya. Menurut Sharon, setiap hari adalah hari Halloween untuk Minami.
“Adikmu
manis sekali, Kai. Aku tidak akan heran kalau dia sama populernya sepertimu di
sekolahnya.” Komentar Sharon sebelum berpindah ke folder lainnya yang berisi
video-video berdurasi singkat yang direkam sendiri oleh Minami. Minami selalu
iseng merekam setiap momen bodoh yang kulakukan. Seperti wajahku yang terbentur
bola basket saat aku hendak melemparnya ke ring yang ada di halaman rumah.
Tadinya aku meminta Minami merekamku saat aku hendak memasukkan bola itu ke
dalam ring dengan sempurna. Namun bola sialan itu malah memantul dan mengenai
wajahku. Sekarang bisa ditebak, tawa Sharon saat ini ketika melihatnya sama histerisnya
dengan tawa Minami pada saat itu.
“Jangan
bilang kau merekamnya tadi.” Suaraku terdengar di video itu.
“Tentu
saja aku merekamnya. Pasti akan sangat lucu jika kusebar di internet.” Sahut
Minami tanpa berhenti tertawa.
“Hei,
jangan kau sebar!” gambar video menjadi tidak terarah karena aku berusaha
merebut ponsel Minami dari tangannya. Bahkan setelah menjadi hantu pun aku
bersumpah, jika aku sudah mendapat kemampuan untuk memanipulasi alat
elektronik, aku akan menghapus video memalukan itu secepatnya.
Namun
setelah mendengar suara kami di video itu, Sharon malah tertegun diam. Setelah
berbagai usaha untuk mengenal siapa diriku melalui benda-benda milikku dan
cerita teman-temanku, tidak ada yang benar-benar menusuk hatinya setelah
mendengar suara serak basahku dan suara lembut Minami di video itu. Dia langsung
mencari video lainnya untuk mendengar suaraku lagi. Dia menemukan video yang
direkam Minami pada hari ulang tahunku. Orang tuaku mengadakan pesta
kecil-kecilan bersama para pelayan rumah untuk merayakannya. Kelezatan kue
tiramisu buatan ibuku waktu itu masih sangat terasa, kehangatan suasananya dan
hadiah-hadiah yang kuterima juga masih terasa seperti baru kemarin pesta itu
berlalu.
Sharon
tersenyum geli melihatku mengenakan topi pesta yang terlihat sangat kecil di
atas kepalaku. Dia mendengarku mengucapkan terima kasih pada semua orang di
sana yang telah memberiku pesta yang indah itu. Sayangnya, tidak satu pun dari
kami menyadari bahwa pesta itu adalah pesta terakhir yang kami rayakan sebagai
keluarga.
Tiba-tiba
aku melihat setetes air mata menggenangi mata Sharon. Dia terharu menyaksikan
video-video itu. Dia iri melihat keharmonisan, kebersamaan, dan kekonyolan yang
terekam di setiap detiknya. Dia tidak memiliki kakak atau adik untuk dijahili,
ayahnya sering lupa hari ulang tahunnya sendiri karena terlalu sibuk bekerja, dan
dia tidak lagi memiliki ibu yang bisa membuatkan kue khusus untuknya. Setelah
melihat video itu barulah dia sadar selama ini dia sendirian.
Apalagi
setelah dia mendengar suara-suara yang tidak mungkin akan terdengar lagi di
dalam video itu, dia makin merasa ironis. Sharon menutup ponsel itu dan
menaruhnya di meja lalu berbaring di ranjangnya.
Suaraku
dan keluargaku mengingatkannya akan suara yang paling ingin didengarnya lebih
dari apa pun. Suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah suara almarhum ibunya
sendiri. Ibunya lebih dulu meninggalkannya sebelum mereka bisa membuat banyak
kenangan indah seperti yang dilihatnya di video-video tadi. Jika dengan mendengar
suaraku dapat membuatnya mengenalku lebih dekat, begitu pula dengan suara
ibunya.
Sharon
menangis sesenggukan dan ingin menangis lagi lebih keras agar ibunya yang
berada di dunia sana bisa mendengarnya. Jika dia dapat melihat Amaya dan arwah
lainnya yang sudah meninggal, dia pasti bisa dan ingin melihat ibunya lagi. Dia
rela berpegang dengan apa saja yang ada di dunia ini walau sesuatu itu tidak
masuk akal sekali pun asal dia dapat berjumpa dengan ibunya lagi.
Namun
jiwa yang sudah berada di dunia sana tidak akan bisa kembali lagi ke dunia ini.
Oleh karena itulah orang-orang yang ditinggalkan merasa sangat sedih dan
kehilangan, begitu pula dengan jiwa-jiwa yang menolak untuk pergi karena
keindahan dan kedamaian dunia sana tidak dapat memberikan kebersamaan yang dulu
mereka miliki lagi.
Sharon
adalah gadis yang berusaha keras menerima fakta kejam itu sejak kecil. Namun
kerapuhan di dalam dirinya yang tidak satu pun manusia lain dapat merasakannya
tidak dapat memahaminya. Dia bukan seorang gadis yang kuat seperti orang lain
katakan. Dia tetaplah seorang gadis kecil yang sangat merindukan ibunya.
No comments:
Post a Comment