Sunday, July 14, 2013

The Delusion (16)

16

Di hari terakhir hanami, pengunjung semakin banyak berdatangan, mengenang mekarnya bunga sakura di hari terakhirnya tahun ini. Shou dan teman-temannya berada di taman Yoyogi, duduk beralaskan karpet di bawah rindangnya pohon sakura yang besar dekat danau kecil. Tidak hanya anggota Alice Nine yang ikut. Berkat ajakan Nao dan paksaan Tora, Juri turut hadir. Tadinya mereka juga mengundang manajer mereka, tapi sayangnya ia tidak bisa ikut.

Mereka disana dari siang hingga malam, menikmati segala jenis makanan yang dibawa mereka dari rumah, kue-kue, roti, berbagai macam sushi. Juri bahkan rela bangun subuh untuk memasak masakan khas Eropa keahliannya. Irish stew, apple crumble, custard, fish and chips, dan pai blackberry. Seluruhnya dalam porsi besar sampai Shou yang tidak pernah tertarik pada masakan Juri langsung menghabiskan seluruhnya bersama teman-temannya.

Tidak lupa berkerat-kerat bir dan sake sumbangan Tora, Hiroto, dan Saga juga teh yang dibawa Juri menjadi teman mereka bersenang-senang. Mereka membawa gitar dan menyanyikan lagu bersama-sama. Diantara mereka semua, tentu saja yang paling gembira adalah Juri. Ini adalah kali pertamanya dia menghadiri hanami. Darah Jepang yang mengalir di dirinya membuatnya bergetar begitu melihat sang Sakura. Ucapan Yoriko kepadanya benar, sakura memang bunga yang agung. Selalu dinantikan, dikenang, dan memiliki banyak sekali arti.

Bagi Juri apa yang dilakukannya bersama Alice Nine adalah kenangannya bersama sakura yang akan selalu ia kenang. Namun ia ingin tahu kenangan apa yang dimiliki Yoriko bersama sakura sampai ia tidak mau bertemu lagi dengannya?

Saat Juri diajak ikut, ia juga mengajak Yoriko. Tetapi gadis itu selalu menolak. Juri bahkan memelas dan memohon-mohon padanya. Namun Yoriko dengan berat hati dan menolaknya lagi secara halus. Yoriko berkata ketidak hadirannya akan terasa lebih baik bagi pesta mereka. Namun sebaliknya, Juri dan Alice Nine merasa kehilangan...

“Kenapa Yoriko tidak datang juga, ya...” kata Nao pelan. Dari siang, pandangan matanya tidak pernah lepas dari sekitar mereka, mengharapkan kedatangan Yoriko dengan gaun hitamnya yang khas dari berbagai arah.

Nao melihat ke sampingnya, Saga sudah nyaris tumbang karena sake, Tora sibuk mencari-cari tempat makan untuk sisa makanan, Hiroto asyik dengan kameranya memotret bunga sakura pada malam hari. Juri hanya meneguk birnya dalam diam, Nao tahu pria bule itu juga mengharapkan kedatangan Yoriko. Kalau bukan karena gadis itu, mereka pasti sudah pulang dari tadi.

Sekarang sudah pukul setengah 10 malam, orang-orang sudah mulai berberes dan pulang karena sebentar lagi taman akan ditutup. Namun Arisu masih di tempat. Meski makanan sudah hampir habis, sake dan bir sudah tidak tersisa, suasana mulai sepi.

“Sudahlah... dia tidak akan datang...” Hiroto memberi saran. “Sekarang sudah malam. Bagaimana kalau kita beres-beres dan memulangkan Saga? Lihat, sebentar lagi dia akan membasahi karpetku dengan liurnya.”

“Kita tidak bisa berharap banyak. Sejak siang kita menunggunya.” Tora sudah putus asa. Yoriko tidak pernah lepas dari topik pembicaraan mereka sejak siang, berharap Yoriko datang dan ingin melihat serunya jika ia bertengkar dengan Shou. “Ayo pulang. Sebentar lagi taman akan ditutup.”

“Tapi...” Nao membantah. Harapan kecilnya masih menanti kedatangan Yoriko, dia sudah bertekad bulat akan menanti Yoriko sampai tengah malam. Tetapi sekarang baru pukul setengah 10.

“Besok kita masih ada aktivitas, Nao. Kau ingat jadwal konser kita?” Tora mengingatkan. Ia berdiri dan memanggil Hiroto untuk membantunya membereskan peralatan hanami mereka. “Kita tanyakan saja pada Yoriko kenapa ia tidak bisa datang esok hari.”

“Dari tadi siang aku terus menelepon Yoriko tapi tidak ada jawaban. Dua jam lalu, saat kucoba lagi dia mematikan handphonenya...” Juri menyahut. “Mungkin aku akan pergi ke apartemen Yoriko sepulang kita dari sini.”

“Aku ikut!” seru Nao. “Kalau kau ke apartemen Yoriko, aku ikut! Lagipula aku belum pernah kesana. Kau mau mengantar kami kesana kan, Shou?”

Shou yang ditanya tidak menjawab. Pria itu duduk menyandar di sisi lain pohon sakura, termenung melihat danau yang tenang airnya. Tidak ada satupun dari mereka bahkan Tora sahabatnya sekalipun menebak apa yang dipikirkan Shou. Dia sudah berada disana sejak satu jam yang lalu.

“Shou!” Panggil Nao untuk ketiga kalinya sebelum Shou akhirnya menoleh.

“Apa?” sahut Shou jengkel karena Nao merusak lamunannya. Nao pun menjelaskan lagi alasan kenapa ia tadi memanggilnya. Hasilnya, Shou kembali menatap danau sambil merogoh saku celananya. Meraih kunci mobilnya dan melemparkannya ke Nao.

“Pakai mobilku saja. Nanti kau jemput aku lagi disini.” Kata Shou.

“Kau tidak ingin ikut? Taman kan sebentar lagi ditutup. Masa kau masih ingin terus disini?” kata Hiroto heran.

“Seperti biasanya...” Tora hanya mengangguk paham. “Dia tidak pernah mau pergi dari sakura. Apalagi besok pagi sakura akan gugur...”

Alice Nine tahu Shou sangat menyukai bunga sakura. Mereka pernah menangkap basah Shou memanjat pohon itu karena ingin memetik bunganya pada acara hanami beberapa tahun lalu sampai dimarahi petugas taman. Mereka tidak pernah bosan menertawakan kenangan itu jika mereka teringat olehnya. Shou yang paling bersemangat dan tidak pernah kehabisan tenaga saat acara hanami, itulah Shou yang dulu.

Sekarang mereka menduga saat ini Shou memiliki caranya sendiri untuk menghormati sang sakura, yaitu duduk diam seperti orang bodoh di tengah malam.

“Sudahlah, kalian pergi saja.” kata Shou cuek seperti ia mengusir mereka semua. “Aku masih ingin berada disini. Pokoknya nanti kalian jemput saja aku.”

“Kau yakin? Disini sudah mulai sepi. Kau tidak takut itu akan membahayakan keselamatanmu?” Juri mendekati Shou dengan raut khawatir di wajahnya.

“Saat ini tingkat kriminalitas di Tokyo sedang menurun.” Kata Shou sok tahu. “Toh aku hanya membawa sedikit uang. Pergi sana!”

Jika Shou sudah bernada tinggi, itu berarti keputusan Shou tidak bisa diganggu gugat lagi. Dengan berat hati mereka pun percaya pada Shou dengan apapun yang akan dilakukannya disini saat sendirian tidak akan membahayakan dirinya. Usai berberes, mereka pun pergi.

Setelah memastikan mereka semua pergi, Shou berdiri. Suasana sunyi, sayup-sayup terdengar suara hingar bingar kota Tokyo yang tidak pernah tidur. Udara masih tetap segar dan berhawa dingin. Shou melihat ke atasnya, angin bertiup sehingga cabang-cabang pohon sakura pun turut bergoyang. Disaat itulah Shou melihat kerapuhan bunga sakura, khawatir mereka akan rontok dari tempat asalnya dan jatuh ke bumi.

Hanya di tempat inilah Shou mendapatkan ketenangan. Hanya disinilah Shou sanggup melupakan seluruh keresahannya, lupa bahwa dia memiliki kehidupan. Kalau bisa, Shou ingin terus berada disini saja.

Empat tahun ini Shou belajar bahwa sesuatu yang sangat indah itu pasti semu atau tidak abadi bahkan tidak akan pernah ia miliki. Dia juga memahami bahwa ia selalu menginginkan sesuatu yang tidak akan pernah ia miliki, memiliki sesuatu yang tidak akan pernah ia inginkan, membutuhkan sesuatu yang tidak akan pernah dibutuhkannya, dan tidak pernah menggunakan sesuatu yang ia dapatkan.

Namun tidak ada salahnya dia berharap, bukan? Meski itu tetap menyakitkan dan sia-sia. Walau teman-temannya memintanya pergi, tapi mereka tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya Shou lakukan disini dan siapa yang benar-benar ia nantikan.

Tidak ada salahnya ia berkhayal akan kedatangan orang itu, berharap wanita itu akan mengejek kekonyolannya lagi, duduk sendirian di tengah taman yang sunyi dan gelap.

Shou menatap cahaya bulan yang terpantul di permukaan danau. Inilah pemandangan terindah, bahkan Hiroto pun tidak mungkin mendapatkannya dengan kameranya.

Sambil menyenandungkan lagunya sendiri, Shou mendapatkan sebuah ide tergila yang tercipta dari khayalannya akan kedatangan wanita itu. Wanita idamannya sejak 4 tahun lalu, yang mengubah hidupnya, mengombang-ambingkan perasaannya, dan memutar balikkan dunianya.

Shou menaruh kakinya di batang sakura yang kokoh. Perlahan ia mulai memanjat dan menapaki batangnya satu per satu. Shou merasa takjub dia masih bisa melakukannya setelah hampir 6 tahun ia tidak pernah melakukannya lagi. Ia tersenyum senang, biarlah petugas taman memergokinya lagi, ini adalah kesenangan yang tidak akan pernah didapatkan oleh penduduk Tokyo mana pun.

Ia berhenti di salah satu cabang yang dikiranya kokoh untuk menahan tubuhnya. Ia pun duduk disana, puas ia bisa meraih bunga-bunga sakura dengan ujung jemarinya, menyenandungkan tembang Sakura, dan menikmati pemandangan taman dari atas.

Tidak peduli akan hawa dingin yang menerpa tubuhnya, ia terus berada disana dan tidak akan pernah ingin turun lagi.

Shou pun kembali tenggelam di pikirannya. Dia tahu harapannya jelas tidak mungkin terwujud. Berkat dorongan teman-temannya dan sedikit ceramah psikologi dari Juri, perlahan Shou mulai menerima kenyataan. Dia mulai menerima sesuatu yang bisa diraihnya, perlahan sesuai saran mereka semua dia mulai memikirkan sosok Yoriko.

Sedikit konyol juga saat Shou memikirkannya, secara tidak langsung ia meminta gadis itu datang ke acara hanami. Sama seperti Nao yang tadi terus memandang sekitar mengharapkan kedatangan gadis gotik itu, Shou juga mengharapkan hal sama di dalam hatinya. Itulah sebabnya dia terus diam selama acara berlangsung, dia merasa semuanya tidak akan sama tanpa kehadiran Yoriko.

Mungkin dia terus bertahan disini layaknya orang idiot karena dia masih mengharapkan kedatangannya. Gadis itu tidak datang, itu berarti dia mengharapkan hal mustahil juga.

Menyadari itu, Shou tertunduk sedih. Mungkin memang seharusnya dia pulang bersama yang lain.

Tetapi nampaknya malam ini takdir berkata lain. Takdir yang tidak pernah Shou percayai kali ini menunjukkan keajaibannya. Saat ia mendengar suara seorang gadis yang sangat dikenalinya dari bawah pohon memanggil namanya.

“Shou? Apakah itu kau?” panggil Yoriko dengan suara tertahan.

Shou melihat ke bawah, menahan untuk tidak mengusap matanya, memastikan ia tidak mengantuk atau berkhayal gadis itu ada disana. Terlebih lagi Yoriko memakai dress gotik berwarna merah seperti mawar, berkuncir dua dan riasan wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya, di tangannya terdapat kantung berisi buah-buahan.

“Sebaiknya kau turun, Shou. Nanti kau jatuh.” Yoriko memberi nasihat. Tetapi meski dari jauh, Shou melihat ada sedikit rasa takut di mata Yoriko, rasa takut akan sesuatu.

“Tenang saja, aku sudah ahli dalam memanjat seperti ini.” jawab Shou sekenanya, memastikan dengan sikap dinginnya bahwa Yoriko di bawahnya benar-benar Yoriko. Sekarang begitu sang gadis datang, Shou malah tidak tahu harus berbuat apa.

“Shou percayalah, padaku. Turunlah... pohon sakura tidak sekuat yang kau kira.” pinta Yoriko pelan. Pelan tetapi penuh keyakinan, seolah Yoriko pernah berada di posisi Shou, memanjat pohon sakura di malam hari.

Shou berdecak kesal. Tidak ada siapapun yang bisa menurunkannya dari pohon ini kecuali kalau ia mau.

“Memangnya kenapa? Seperti kau pernah memanjat sakura saja...” tantang Shou.

Sekali lagi Yoriko berkata, “Percayalah padaku, Shou. Aku tahu rasanya...”

“Kalau kau tahu rasanya, kenapa kau tidak memanjat saja kesini? Kalau kau hanya ingin menyuruhku turun lebih baik kau pergi saja.” Shou menantang Yoriko sekali lagi.

Lalu gadis itu melakukan sesuatu yang tidak pernah Shou sangka akan dilakukan olehnya. Yoriko menapakkan kakinya di batang pohon, perlahan tapi pasti memanjatinya. Melawan rasa ketakutannya supaya bisa memenuhi permintaan Shou atas kehadirannya.

 ***

Yoriko mengecek handphonenya, 30 panggilan tidak terjawab dan 15 e-mail dari Juri, Nao, dan Tora, bertanya kapan Yoriko datang ke acara hanami mereka. Mereka sudah memberitahu lokasinya, di taman Yoyogi, tepat di bawah pohon sakura di depan sebuah danau kecil. Nao bahkan terlalu mendetil, dia sampai memberitahukan warna karpet yang mereka gunakan supaya Yoriko bisa mengenali mereka dengan mudah disana.

Sejak pagi Yoriko sudah gelisah, ingat hari inilah acaranya. Ingin sekali ia mengabaikannya, tetapi tidak bisa. Sebagian dari mereka telah memberikannya kehidupan dan bantuan supaya dia bisa memertahankan apartemen tempat tinggalnya ini, salah satu dari mereka adalah sahabat barunya, dan salah seorang lagi... adalah orang yang paling membuatnya bingung dia harus datang atau tidak.

Yoriko sengaja melupakan semua itu dengan membersihkan kandang hewan-hewan di petshop, memberi mereka makan, mengganti air seluruh akuarium, menulis, mendengarkan musik namun tidak berhasil. Satu-satunya alasan yang ia berikan hanyalah bekerja di petshop sedangkan mereka tahu Yoriko bekerja sampai sore saja. Nao hampir saja menuju kemari untuk menjemputnya kalau Yoriko tidak mencegahnya lewat e-mail tadi. Supaya mereka diam, Yoriko berkata ia akan datang tapi tidak tahu kapan.

Sekarang Yoriko semakin tidak enak hati. Bisa jadi mereka menunggunya sekarang.

“Ada apa, Yoriko-chan? Kenapa kau terlihat gelisah?” Avaron yang hari ini ada di petshop menghampirinya di meja kasir.

“Ti... tidak ada apa-apa, Avaron-san.” Jawab Yoriko bohong. Demi mengalihkan pembicaraan, Yoriko memerhatikan kedua tangan Avaron yang basah dan berkerut di jemarinya. “Anda baru saja melakukan apa?”

“Aku baru membersihkan toilet.” jawab Avaron enteng.

“Ya ampun, Avaron-san! Kenapa anda tidak beritahu aku? Aku bisa melakukannya!” Yoriko kaget mendengar atasannya membersihkan toilet sedangkan dirinya diam saja di meja kasir.

“Ah, tenang saja.” Avaron mengibaskan tangannya. “Aku sudah melakukannya selama 4 tahun sejak toko ini berdiri. Rasanya tugas ini sudah menjadi hal favoritku.”

“Lain kali bilang saja padaku, nanti kubersihkan, Avaron-san.” Ujar Yoriko.

“Baiklah, sudah cukup kau mengalihkan pembicaraan.” Potong Avaron. “Kenapa kau gelisah? Kalau tidak salah, hari ini kau harus pergi ke acara hanami, bukan? Kenapa kau tidak pulang dan bersiap-siap?”

“Giliran kerjaku belum selesai, Avaron-san.” Jawab Yoriko. “Aku tidak ingin meninggalkan anda sendirian disini...”

“Justru karena kau ada acara hari ini aku sengaja datang kemari supaya bisa menggantikanmu. Jangan sampai kau ketinggalan acara itu. Kau pasti menyesal. Mereka teman-temanmu juga, kan?” kata Avaron.

Yoriko diam dan tersenyum. Betapa beruntungnya dia memiliki atasan seperti wanita di depannya ini. Yoriko tidak akan bisa membayar seluruh kebaikan yang Avaron berikan padanya. Tidak akan pernah bisa.

“Kenapa, Avaron-san? Anda memperkerjakanku supaya anda terbantu. Kenapa anda begitu saja membiarkanku pergi bersenang-senang sedangkan anda sibuk disini?” tanya Yoriko.

“Hasil kerjamu memuaskan. Itulah caraku menghargai karyawanku. Bagaimanapun juga, ini adalah petshop milikku, yang kudirikan dengan usahaku sendiri. Aku tidak akan pernah mengabaikannya lalu menyuruh orang lain mengurusnya. Itu sama saja seperti kau memiliki anjing peliharaan tapi kau menyuruh ibumu memberi dia makan. Lagipula masih ada Aya yang akan datang satu jam lagi. Aku masih bisa bertahan sampai satu jam ke depan, Yoriko-chan.” Avaron menjawab lembut, selembut seorang ibu berbicara kepada anaknya.

“Aku ingin datang ke acara itu. Sungguh, aku ingin datang...” kata Yoriko dengan mimik sedih dan kebingungan.

“Lalu, apa yang menahanmu?”

“Sesuatu dari masa laluku. Sulit sekali melupakannya...” Yoriko kembali gelisah dan terlihat jelas saat dia menundukkan kepala dan meremas kedua tangannya.

“Lalu, apa yang membuatmu ingin sekali datang?” Avaron bertanya lagi. Kali ini dengan nada memancing, supaya Yoriko bisa memberikan jawaban sebenarnya.

“Mereka teman-temanku.” Yoriko menjawab pelan.

“Mereka hanya teman-temanmu. Kau tinggal mengirim e-mail tidak bisa datang karena sesuatu. Itu sudah cukup, bukan?” Pancing Avaron lagi. Gadis gotik ini tidak akan pernah membuatnya bosan karena kemisteriusannya.

“Tidak bisa. Mereka selalu baik padaku!” sahut Yoriko. Avaron tersenyum, bukan Yoriko namanya kalau dia tidak pernah mengingat kebaikan orang lain. Karena itulah Avaron dengan senang hati memberinya pekerjaan.

“Lagipula...” Yoriko hampir saja menyebut nama Shou, alasan terkuat mengapa Yoriko ingin sekali datang. Jika kata hatinya benar, mungkin Shou juga menunggunya disana, walau Shou tidak mengiriminya e-mail atau meneleponnya. Itu berarti Shou sangat menanti dirinya hingga tidak ingin menghubungi Yoriko karena takut Yoriko akan menolak.

“Shou, bukan?” atasannya menebak seolah ia membaca pikiran Yoriko.

“Kenapa anda bisa berpikiran begitu?” Yoriko menyatukan alisnya.

“Aku selalu mengikuti kisah cinta kalian berdua.” jawab Avaron bercanda, menggoda Yoriko sampai pipi gadis itu memerah seperti tomat.

“Entah kenapa aku merasa dia menungguku... walau ia tidak bilang secara langsung.” Kata Yoriko setengah berbisik.

“Baguslah, itu berarti kau sudah mulai memahami dirinya dan bahasanya.” Avaron memberi semangat. “Kalau itu alasan sebenarnya kau ingin datang, maka pergilah, Yoriko. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali...”

“Tapi aku pasti akan sangat mencolok disana! Anda lihat kan penampilanku sehari-hari? Mana ada orang Jepang pergi ke acara hanami dengan berpakaian seperti ingin ke acara pemakaman?” Yoriko menunjuk dirinya dari atas sampai bawah.

Avaron menahan tawa. Dia memang sedikit merasa aneh dengan penampilan Yoriko saat pertama mereka bertemu. Namun itulah jati diri Yoriko. Yoriko terlihat cantik dan nyaman dengan gaya berpakaian itu. Itulah yang membedakannya dari yang lain. Banyak pembeli yang berlangganan di petshop ini karena tertarik pada karyawannya yang berpenampilan seperti malaikat kematian namun sangat menyayangi hewan peliharaan. Sampai sekarang Avaron masih penasaran apa Yoriko tahu soal itu.

“Kalau begitu, pulanglah. Cari sesuatu yang bagus dari peti matimu. Aku sarankan kau memakai riasan wajah bernuansa merah muda supaya kau terlihat lebih cerah.” Avaron memberi saran supaya Yoriko tidak bingung lagi.

“Tapi, Avaron-san...” Yoriko hendak protes, tapi Avaron mendahuluinya.

“Tidak ada alasan lagi. Sore ini aku tidak ingin melihatmu di tempat ini. Pergilah dan bersiap-siap.” Avaron menarik Yoriko keluar dari meja kasir.

“Tapi, Avaron-san...” Yoriko masih ingin protes. Kali ini Avaron menyuruhnya diam sementara ia pergi ke belakang untuk mengambil tas Yoriko. Kemudian dia membuka pintu petshop selebar mungkin dan menyuruh Yoriko keluar.

“Pergilah. Cinta sejati tidak bisa menunggu.” Kata Avaron tersenyum lebar dan mengedipkan matanya genit. “Bisa jadi ini malam keberuntunganmu.”

Dengan pasrah Yoriko mengambil tasnya dari tangan Avaron dan keluar. Sebelum ia pergi, Yoriko bertanya pada Avaron. “Bila firasatku salah? Bagaimana kalau Shou tidak benar-benar menungguku?”

“Kalau begitu, kau boleh menyerah. Yang terpenting adalah kau sudah mencoba. Tidak ada ruginya, kan?” jawab Avaron. “Kecuali kalau dia menyakitimu, panggil saja aku dan Aya. Kita berdua akan menghajarnya.”

Yoriko tergelak. “Tidak usah repot-repot, Avaron-san. Terima kasih...”

“Aku percaya kau pasti bisa, Yoriko-chan. Kau gadis baik, pria manapun pasti gila bila mereka tidak menyukaimu.”

Pujian Avaron tadi baru saja membangkitkan semangat Yoriko.

*** 

Sesampainya di apartemen, Yoriko langsung mengacak-acak peti matinya. Mencari sesuatu yang pantas dikenakan ke acara hanami. Jam dinding apartemen Yoriko serasa berdetak sangat cepat. Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat Yoriko mencoba dress pertamanya. Sebuah dress musim panas warna hitam, berkerah sabrina, dan tidak terlalu seram untuk digunakan ke acara hanami. Namun dia tidak terlalu cocok dengan pakaian itu.

Lalu dia mengambil dress keduanya. Panjangnya selutut dan bergaya victorian, dengan renda-renda dan detil satin di bagian roknya. Nampak elegan dan anggun untuk dilihat. Tetapi Yoriko merasa tidak cocok lagi. Dia akan menghabiskan waktunya di luar ruangan, duduk di karpet sambil memakan kue, dress ini akan terlihat sangat mencolok.

Kali ini Yoriko mencoba mengambil sebuah kemeja putih dan rok pencil hitam bernuansa victorian. Yoriko bisa menggabungkannya dengan sepatu pantofel atau sepatu sol tebalnya. Tetapi ia berpikir lagi, ini seperti ia akan pergi melamar pekerjaan. Lebih parah daripada itu.

Yoriko tidak bisa memutuskan memakai t-shirt bergambar karakter favoritnya dan celana gombrong, karena akan terkesan seperti dia enggan datang ke acara hanami. Orang Jepang selalu berpenampilan rapi dan rupawan pada acara hanami.

Yoriko pun lemas. Dia tidak memiliki pakaian yang memberikan kesan seperti itu. Ia mengabaikan dress bermotif tengkorak favoritnya, dress bergaya steam punknya juga mengalami nasib sama. Begitu juga dengan jumper dress hitamnya yang bermotif kotak-kotak putih.

Yoriko sampai berpikir apa sebaiknya dia mengenakan dress yang biasa ia gunakan ke gereja? Baru sekarang dia menyadari selera modenya ternyata sangat payah.

Yoriko pun membereskan seluruh dressnya yang dikeluarkan dari peti matinya. Saat ia mulai memasukkan satu per satu dressnya, ia menemukan sebuah kotak besar di sudut peti matinya. Kotak besar berwarna hitam yang mulai dilupakan oleh Yoriko. Yoriko mengambil kotak itu untuk mengingat isinya.

Satu set lolita dress dengan sepatu wedge. Keduanya berwarna merah yang pantas untuk dikenakan di acara hanami. Semerah mawar yang hampir layu untuk menyambut dan berpamitan pada sang sakura, tapi juga tetap bernuansa gotik agar tidak menghilangkan ciri khas Yoriko.

Yoriko tidak pernah memakai dress ini karena saat memesannya di internet, Yoriko memilih warna hitam. Ternyata tanpa sengaja ia salah memilih pilihan warna saat pemesanan. Sangat kecewa ketika ia menerima kiriman dress itu dan ia memutuskannya untuk disimpan saja.

Namun sekarang ia memutuskan untuk memakai dress itu saat ia mencobanya. Ia menguncir dua rambutnya dan mulai merias wajahnya. Ia menyapukan eyeshadow cokelat muda yang belum pernah ia gunakan secara tipis-tipis di kelopak matanya. Tidak lupa sedikit perona pipi dan polesan lipstik warna merah muda.

Yoriko memandangi dirinya cukup lama di depan cermin. Riasan wajah ini membuatnya terlihat sangat berbeda. Selama ini dia menganggap dirinya jelek dan merias wajahnya dengan nuansa gotik untuk menutupinya. Namun ia salah, ia terlihat lebih segar dan manis dari sebelumnya.

Berkat itu kepercayaan dirinya meningkat. Ia pun bergegas mengambil sepatunya dan keluar dari apartemen. Saat keluar dia terkejut. Hari sudah gelap dan waktu kini menunjukkan pukul 9 malam.

Selama itukah ia berdandan?

Yoriko pergi ke supermarket terdekat untuk membeli buah-buahan sebagai buah tangan. Dalam hatinya ia takut apakah teman-temannya sudah menganggap Yoriko tidak datang dan pergi. Dia bodoh sekali, kenapa ia membutuhkan waktu lama sekali hanya untuk mencari pakaian yang cocok berdandan?

Tetapi demi janjinya Yoriko memutuskan untuk terus berjalan. Mengikuti kata hatinya Yoriko terus melangkah. Rasa optimisnya yang berpikir mereka masih menunggunya tetap membuatnya bersemangat. Jika mereka masih ada disana, syukurlah. Jika tidak, tidak apa-apa. Setidaknya Yoriko sudah berusaha.

Taman Yoyogi hampir ditutup saat Yoriko memasukinya. Dengan alasan ia tidak akan lama, Yoriko berhasil meyakinkan petugas taman. Suasana taman sangat sunyi, menandakan orang-orang sudah pulang dari hanami. Angin malam berdesir menerpa wajah Yoriko, ia merasa angin itu seperti mengucapkan selamat tinggal pada sakura yang akan gugur malam ini. Sebagai seorang gadis gotik, Ia tidak merasa takut pada kegelapan taman yang menyelimuti. Ia terus berjalan menuju tempat yang diberitahu Nao, di bawah pohon sakura di depan danau kecil. Semakin ia mendekat ke arah yang dituju, Yoriko semakin yakin mereka semua sudah pulang. Dan ternyata benar, tidak ada siapapun lagi disana. Semuanya sudah pergi.

Yoriko berdiri diam sejenak. Melihat pohon sakura besar di depannya. Sudah lama sekali ia tidak melihatnya, ia hampir lupa akan keindahannya. Seluruh tubuhnya gemetaran saat sang sakura seperti menyapanya dengan menunjukkan keagungan sekaligus kerapuhannya, bertanya kenapa lama sekali Yoriko tidak mengunjunginya.

Perlahan Yoriko berbisik. Dengan penuh rasa penyesalan karena terlalu mementingkan ego dan membiarkan rasa ketakutannya menang ia berkata, “Maafkan aku...”

Kali ini sang sakura memberikan jawaban atas permintaan maafnya. Sang sakura yang bersinar di bawah cahaya bulan memperlihatkan sebuah bayangan di antara cabang-cabang pohonnya. Seorang sosok yang dirasa mustahil bisa berada disana, duduk diam menghadap danau. Hanya ia dan sang sakuralah yang sepertinya tahu apa yang ada di pikirannya.

Untuk memastikan itu bukanlah sekadar khayalannya, Yoriko berjalan mendekat. Matanya melebar saat melihat orang itu nyata. Semakin terasa nyata saat Yoriko memanggil namanya.

“Shou? Apakah itu kau?”

*** 

Hanya ada kecanggungan di antara mereka saat Yoriko berhasil meraih cabang pohon dan duduk di sebelah Shou. Walau berat badan Yoriko dan Shou masih bisa membuat cabang itu bertahan, hanya tinggal masalah waktu sampai cabang itu berderak patah dan membuat mereka jatuh ke tanah.

Namun itulah yang membuat mereka berdebar. Mereka berdua tidak bisa menduga apa yang akan terjadi bila itu benar-benar menjadi nyata.

Yoriko menaruh bungkus buah-buahan yang dibawanya di antara mereka. Ia membuka bungkusan itu dan mengeluarkan sebuah jeruk. Ia menawarkannya pada Shou, “Kau mau?”

“Tidak, terima kasih.” Jawab Shou sungkan. Kenapa gadis ini sama sekali tidak kaget atau apa? Shou memanjat pohon sakura di taman kota malam-malam. Semua orang pasti akan mempertanyakan kewarasannya.

Karena penasaran setengah mati, Shou akhirnya bertanya juga. “Kau tidak kaget tiba-tiba menemukan aku bertengger disini? Kau tidak berpikir aku gila atau semacamnya?”

Yoriko memandang Shou. “Kau juga tidak berpikir aku sama gilanya sepertimu dengan mengikutimu memanjat pohon ini?”

Shou tertawa. Ternyata mereka sama gilanya. “Nao tadi menantimu. Kau tidak kunjung datang. Kenapa?”

Lucu sekali. Ucapan Shou barusan malah terdengar seperti Shou yang menanti dirinya. “Maaf, aku...”

“Tidak usah dijelaskan.” Potong Shou. “Yang penting kau datang. Yah, walau kau sedikit terlambat...”

Yoriko tersenyum lembut. “Kenapa kau tidak ikut pulang bersama yang lain?”

“Entahlah...” Shou mendongak dan melihat sekumpulan bunga sakura yang rindang di atas mereka. “Kurasa aku ingin berpamitan dengan mereka lebih dulu...”

“Karena ini hari terakhir mereka berada disini tahun ini? Sebesar itukah rasa kagummu pada bunga sakura?” Yoriko takjub.

“Sejak kecil aku menyukai bunga sakura. Keluargaku bahkan menanam pohonnya sebesar ini di halaman rumah supaya kami tidak usah berdesak-desakan di taman kota saat hanami.” Shou bercerita. “Ibuku berkata sakura memiliki banyak arti. Sebuah simbol musim semi, kesederhanaan, kepolosan...”

“Dan kematian...” Yoriko melanjutkan. Mereka pun hening sejenak.

“Oh ya, itu kan kata favoritmu.” Kata Shou sedikit sarkastik, tidak pernah tahu sakura juga memiliki arti semenyakitkan itu.

“Kau pernah membaca sejarah tentang perang di Teluk Leyte, Filipina? Saat itu ada argumen di pihak Jepang tentang meluncurkan pesawat dan kapal perang medan perang, dimana akan menyebabkan bahaya besar jika mereka tetap melakukannya. Para pilot melukis sisi pesawat mereka dengan gambar sakura sebelum meluncur ke misi bunuh diri itu, ada juga yang bahkan membawa cabang pohon sakura bersama mereka saat menjalankan misi. Mereka pun beranggapan bahwa kelopak sakura yang gugur melambangkan pengorbanan para tentara yang gugur di misi itu demi rasa hormat mereka pada sang Kaisar. Pemerintah juga mendorong para rakyat untuk percaya bahwa jiwa mereka yang telah gugur akan berreinkarnasi di dalam bunga itu...” cerita Yoriko.

Shou sekarang merasa bersalah karena saat masih sekolah dia kurang memerhatikan pelajaran sejarah Jepang.

“Setiap orang Jepang pasti punya kenangan tersendiri tentang bunga sakura, aku yakin itu.” balas Shou. “Makanya acara hanami menjadi tradisi, bukan?”

Sebelum Yoriko berucap, Shou menahannya lebih dulu, “Dan jangan cerita padaku soal sejarah hanami. Aku jadi merasa seperti orang bodoh disini.”

Yoriko terkikik. “Baiklah, kau memang benar soal itu. Setiap orang juga pasti akan kagum saat mereka melihat sakura secara langsung.”

“Masa?” Lirik Shou. “Nampaknya hanya kau yang tidak termasuk. Kenapa?”

“Kenapa memangnya? Itu urusanku, seperti yang kau bilang kemarin. Kau tidak perlu tahu.” Yoriko memalingkan wajahnya.

“Kemarin kau berkata dengan lantang tidak akan datang kemari karena benci sakura. Tapi sekarang kau malah duduk di sini bersamaku menceramahiku tentang sakura bagi sejarah Jepang. Siapapun akan penasaran dengan sikapmu, Yoriko.”

Yoriko kaget. Seingatnya, ini adalah pertama kalinya Shou menyebut namanya. “Kau benar-benar ingin tahu? Kenapa? Kau tidak seperti Shou yang kukenal, tidak pernah peduli pada orang lain kecuali dirimu sendiri.”

“Memangnya aku seburuk itu?” sela Shou. “Menurutmu aku seburuk itu?”

Yoriko terkesiap. Tidak berpikir Shou akan bereaksi seperti itu. Terlihat jelas di rasa bersalah di wajah Shou bila Yoriko menjawab ya, namun Yoriko pasti berbohong jika menjawab tidak. “Sejujurnya ya, aku menganggapmu begitu. Tapi aku tidak pernah tahu alasannya.”

“Dulu aku tidak seperti itu, kau tahu?” dari cara Shou mengucapkannya, dia ingin sekali meyakinkan Yoriko bahwa dulu ia tidak seperti itu. “Aku bahkan dianggap terlalu ikut campur urusan orang lain karena aku terlalu peduli.”

“Jadi, karena itukah kau berubah menjadi tidak peduli?”

Shou berpura-pura berpikir, “Bagaimana kalau begini? Aku akan memberitahu jawabannya kalau kau bercerita terus terang padaku mengapa kau benci sakura?”

Yoriko tertawa kering, “Belum cukup adil bagiku. Teman-teman satu bandmu mungkin tahu penyebab masalah kepribadianmu. Tapi aku, tidak ada satupun yang pernah mendengar ceritaku.”

“Mereka mungkin tahu penyebabnya, tapi mereka belum mendengar cerita sebenarnya. Lagipula disini hanya ada aku dan sakura. Rahasiamu aman bersama kami.” Shou meyakinkan Yoriko dengan senyuman khas yang tidak pernah ia perlihatkan lagi selama 4 tahun.

“Oh, baiklah. Toh kau juga akan menertawakannya nanti...” Yoriko menyerah dan mulai bercerita. “Kau pasti tahu aku dari panti asuhan, bukan?”

Shou mengangguk. Seorang gadis cilik tangguh yang berhasil bertahan dari kejamnya dunia dengan menjadi seorang seniman. Itu bisa menjadi cerita yang bagus.

“Saat itu aku masih berumur 8 tahun. Di halaman belakang panti asuhanku, ada sebuah pohon sakura besar ditanam di sudut pekarangan. Patut kuberitahu halaman itu selalu menjadi tempat bermain anak-anak panti asuhan setiap sore. Saat musim semi tiba dan sakura mulai bermekaran, semua anak mengaguminya.” Kata Yoriko.

Yoriko bukanlah salah satu anak yang suka bermain di halaman belakang setiap sore. Entah karena keanehannya atau ketidak mampuannya dalam bergaul, Yoriko dikucilkan dari teman-temannya. Kepolosan Yoriko sering menjadi bahan lelucon anak-anak yang lebih tua darinya, karena Yoriko lebih suka membaca buku dan membicarakan tentang dongeng-dongeng ia malah dianggap aneh dan diejek, rambut Yoriko yang dulunya panjang sering ditarik oleh teman-temannya, kaki Yoriko disandung dengan sengaja oleh mereka saat makan malam sampai makanan yang Yoriko bawa tumpah.

Yoriko terhipnotis keindahan bunga sakura itu dari jendela perpustakaan. Ia segera berlari keluar, ingin melihat lebih dekat bunga itu. Ia ingin sekali memetik satu bunga itu supaya ia bisa menyimpannya di balik tempat tidurnya. Karena terlalu tinggi untuk diraih, Yoriko nekat memanjati pohon itu.

Anak-anak yang menyaksikan aksi Yoriko, menyuruhnya turun dan mengejeknya lagi. Mereka melempari Yoriko batu supaya Yoriko turun. Namun Yoriko tidak peduli. Yoriko terus memanjat dan ketika ia sampai di cabang terdekat, dia bergerak ke cabang itu dan meraih tangannya untuk memetik bunganya.

“Sayangnya sakura tidak berpihak padaku. Karena cabang itu tidak sanggup menahan beban tubuhku, cabang itu pun berderak dan patah. Membuatku jatuh ke tanah bersamanya...” ujar Yoriko pelan. Hatinya masih sedikit sakit mengingat kejadian itu. “Teman-temanku menertawaiku, membiarkanku begitu saja terbaring menangis di tanah.”

“Tidak ada satupun dari mereka menolongmu?” tanya Shou terkejut dan kesal. Ia pun semakin kesal saat Yoriko menggelengkan kepala.

“Aku menderita patah tulang di tangan kiriku. Tidak itu saja, orang-orang panti asuhan menghukumku karena telah merusak pohon sakura itu. Gara-gara itu aku semakin diasingkan, tidak hanya teman-teman yang menganggapku aneh semenjak itu, para pengurus pun berpikiran sama.” Yoriko melanjutkan ceritanya.

“Mereka sudah bosan mengurus kami, kurasa. Mengurus banyak anak nakal adalah pekerjaan yang tidak mudah. Aku bisa memahami itu.”

Shou terkesima. Masa kecil Yoriko ternyata tidak jauh berbeda darinya. Demi meraih keinginan kecilnya, gadis ini mendapatkan patah tulang. Dia jadi sedikit menyesal karena selama ini selalu memberontak dari orang tuanya karena hal yang mungkin dianggap kecil bagi Yoriko.

“Membutuhkan waktu sekitar 10 tahun lebih untukku menertawakan kejadian itu bila aku teringat. Mereka benar, aku memang aneh...” Yoriko hanya mengangkat bahu. “Oke, sekarang giliranmu. Kau harus menepati janjimu.”

Shou tertawa pasrah. Ia beringsut ke arah Yoriko seakan dia ingin Yoriko saja yang mendengar ceritanya. Ia pun mulai bercerita tentang segalanya yang mengganjal di hatinya selama 4 tahun ini. “Aku mencintai orang yang salah.”

Dalam sekejap Yoriko diam mendengar pernyataan Shou. Meski Yoriko sudah tahu siapa yang Shou maksud, ia ingin mendengar secara langsung curahan hati Shou dari hatinya yang sudah tertutup selama 4 tahun.

“Mungkin setelah ini kau akan menyebutku pengecut atau menyedihkan, tapi tidak masalah.” Ucap Shou sebelum memulai ceritanya. “Empat tahun lalu, tidak kuduga aku akan jatuh cinta pada wanita ini. Dia cerewet, menyebalkan, selalu membuatku ingin membenturkan kepalaku ke dinding karena sikapnya yang terlalu serius. Tapi aku tidak bisa menolaknya, pada akhirnya aku menyukainya juga.”

Sayangnya, wanita itu sudah dimiliki orang lain. Tentu saja wanita itu hanya menganggapnya salah satu sahabatnya dan dia tidak bisa menerima Shou. Walau pria yang memilikinya mempunyai banyak kesalahan, wanita itu selalu memaafkannya dan tidak pernah mengkhianatinya.

“Anehnya, justru karena itulah aku semakin mencintainya. Karena dia tidak pernah berkhianat pada pria itu. Aku berusaha melupakannya dengan berkonsentrasi pada bandku yang mulai memasuki manajemen rekaman. Lucunya yang membantuku memasuki manajemen itu adalah dia, sebagai permintaan maafnya terhadapku.” Kata Shou setengah kebingungan. “Maksudku, kesuksesan bandku tentu saja adalah keinginan utamaku. Tapi aku tidak menyangka prosesnya bisa seaneh itu...”

Yoriko paham. Sedingin dan sekejam apapun manusia, anehnya dia pasti pernah merasakan jatuh cinta seperti ini. Cinta tidak terbalaskan atau cinta yang terluka, yang membuat mereka menutup hati supaya tidak merasakan rasa sakit itu lagi.

“Kalau kau ingin tahu siapa wanita itu, kau mengenalnya. Dia atasanmu, Avaron Yutaka.” Akhirnya Shou bisa menyebutkan nama Avaron dengan nama belakang barunya.

“Oh...” Yoriko berpura-pura kaget. “Lalu... sekarang apa kau masih mencintainya?”

“Sebagian kecil diriku masih mencintainya. Tapi aku harus melupakannya, bukan? Sayangnya sulit untuk dilakukan, mengingat terkadang dia masih berada di dekatku dan terus memberikan kebaikannya padaku.” Imbuh Shou. “Dia membuatku kacau.”

Yoriko tidak mampu berkata apapun. Shou pasti tidak pernah selancar ini membicarakan masalahnya di depan orang lain termasuk teman-temannya. Yoriko tidak ingin salah kata bisa menghancurkan kepercayaan Shou terhadapnya.

“Sedikit lagi aku bisa meraihnya, kau tahu?” kata Shou bernada putus asa. “Sedikit lagi aku pasti bisa memilikinya. Tinggal sedikit lagi... sama seperti bunga sakura yang sedikit lagi bisa kau raih.”

Kembali keheningan mengisi kekosongan di antara mereka. Desir angin malam semakin kencang dan merasuki tulang. Yoriko merapatkan jubah yang menyelimuti tubuhnya dan butuh beberapa menit untuk akhirnya berkata, “Sepertinya kita harus turun...”

Shou tidak merespon ucapan Yoriko. Pikiran Shou kembali menerawang ke arah yang tidak menentu. Ternyata bukan hanya takdir yang membuat mereka duduk bersama di pohon ini, nasib mereka juga. Selama ini Shou berpikir dialah yang paling menderita, namun Yoriko pernah mengalami yang lebih menyakitkan. Gadis ini telah membuka lebar-lebar matanya.

Merasa diabaikan, Yoriko pun mendapat sebuah ide bagus. “Bagaimana kalau begini? Aku akan memetik salah satu bunga sakura sebagai bukti kalau sebenarnya kita bisa mendapatkan apa yang kita mau?”

“Huh? Maksudnya?” Shou menyipitkan matanya, tidak mengerti.

“Ya, kalau aku berhasil memetiknya, kau akan tenang karena artinya kau tahu kau bisa mendapatkan ‘sakura’mu!” Yoriko bergerak lebih jauh menuju cabang yang lebih rapuh untuk memetiknya.

“Jangan! Kau gila, ya? Nanti kau bisa jatuh!” Shou melarang Yoriko. Dia menarik tangan Yoriko agar gadis itu tidak bergerak lebih jauh lagi.

“Lepaskan aku, sedikit lagi aku bisa meraihnya!” Yoriko merentangkan tangan satunya lagi, sejengkal lagi Yoriko bisa meraih bunga sakura itu dan dia tidak akan melepaskan kesempatan itu.

Karena tarikan Shou dan Yoriko yang tidak mau diam, gadis itu akhirnya kehilangan keseimbangannya. Oleng, Yoriko pun jatuh, gadis itu menjerit ketakutan. Teringat bayang-bayang masa lalunya dimana jatuh dari pohon agung ini sangat menyakitkan, ia hampir menangis dan pasrah.

Tetapi sebuah tangan memegangi tangan Yoriko supaya tidak jatuh untuk kedua kalinya. Tangan yang sangat erat memeganginya, berjuang agar Yoriko tidak merasakan rasa sakit itu lagi.

“Bertahanlah, Yoriko...” kata Shou meringis. Sementara tangan kanannya memegangi tangan Yoriko, tangan kirinya memegangi batang pohon agar mereka bisa bertumpu. “Kau bisa kan memanjat lagi pelan-pelan?”

“Ti... tidak bisa! Aku tidak bisa!” jerit Yoriko panik. Ia mulai menangis. Sekarang terlihat jelas ketakutan di mata Yoriko atas traumanya. “Jangan coba-coba kau lepaskan tanganmu, Shou!”

“Aku tidak akan melepaskanmu tapi aku butuh kau untuk tetap tenang.” Shou meringis kesakitan karena kedua tangannya tidak akan mampu bertahan lama. “Kau bisa, Yoriko. Gunakan tanganmu yang satu lagi, raihlah cabang di depanmu. Kau pasti bisa.”

“Aku tidak bisa, Shou...” tangisan Yoriko semakin keras. “Kumohon, jangan lepaskan aku...”

Yoriko bisa mendengar tawa itu lagi. Tawa mengejek dari anak-anak yang tidak menyukainya, semakin keras Yoriko menangis semakin jelas tawa itu terdengar. Yoriko berusaha keras mengusir bayang-bayang itu.

“Kau tidak sendirian sekarang, Yoriko.” Suara Shou yang menenangkan kini membuat Yoriko perlahan berhenti menangis. “Kalau kau jatuh, aku pun jatuh. Kau tidak perlu takut.”

“Tapi...” Yoriko melihat ke bawah. Mereka ternyata cukup jauh dari tanah.

“Shh... tenanglah. Kalau aku berkata aku tidak akan melepaskanmu, aku bersungguh-sungguh.” Shou mencoba tersenyum. Walau tangannya terasa semakin sakit dan mulai kesemutan. Perlahan pegangan tangan mereka merenggang, kini Yoriko menggunakan kedua tangannya agar tidak bisa lepas dari Shou.

Tiba-tiba mereka mendengar suara cabang pohon berderak. Waktu mereka sudah habis.

“Sh... Shou...” kata Yoriko ketakutan. Ia menatap Shou lekat-lekat, mereka saling berpandangan. Yoriko mendapatkan sedikit keberanian dari mata Shou, mereka pasrah sekarang.

Cabang pohon itu akhirnya patah. Mereka pun jatuh ke tanah. Saat mereka berada di tanah, Yoriko menutup matanya. Rasanya memang tidak sesakit dulu, tapi apa yang akan terjadi jika ia membuka matanya? Disaat sama Yoriko merasakan seluruh tubuhnya dengan erat dipeluk seseorang. Orang itu berada di atas tubuhnya sekarang.

“Yoriko, kau tidak apa-apa?” ia mendengar Shou berbisik di telinganya. Berkat suara bisikan itu, Yoriko mau membuka matanya. Yang terlihat di depannya adalah wajah Shou yang tersenyum kepadanya.

Dengan suara bergetar, Yoriko menjawab, “Ya... aku tidak apa-apa... kurasa...”

“Sudah kubilang aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendirian, kan?”

Shou benar. Padahal bisa saja tadi ia membiarkan Yoriko jatuh sendirian dan menertawakannya, tetapi Shou tidak melakukannya. Hampir saja Yoriko kembali menangis, menangis bahagia.

“Kau bisa saja membiarkanku jatuh sendirian... kenapa kau melakukannya?” tanya Yoriko lirih.

“Aku ingin membuktikannya kepadamu dan diriku sendiri, kalau kita bisa mengalahkan rasa takut jika kita hadapi bersama-sama.” Shou bangkit dan duduk di samping Yoriko. Ia menarik Yoriko untuk ikut bangun.

Mereka mengambil napas sejenak dan menenangkan diri. Menatap cabang sakura yang sudah patah di depan mereka. “Pohon ini milik kota. Mereka pasti akan memberi kita denda...” kata Yoriko.

Shou tertawa. Sempat saja Yoriko memikirkan hal itu. “Tapi hasilnya sepadan. Kau bisa melupakan traumamu itu, bukan?”

Yoriko diam dan berpikir. Ia tersenyum lebar. “Ya. Bagaimana denganmu?”

Shou memasang ekspresi cuek dan mengangkat bahunya. “Ya, kurasa... kurasa kita harus berterima kasih pada badan gemukmu yang berhasil membuat kita jatuh.”

Yoriko mulai kesal karena sifat asli Shou muncul. “Aku tidak gemuk!”

“Aaa... kebanyakan cewek pasti akan berkata begitu. Apalagi gaunmu yang menyebalkan itu semakin memberati tubuhmu saja.” Shou tetap mengejek Yoriko.

“Sudah kubilang aku tidak gemuk!” Yoriko memukul keras lengan Shou sampai pria itu menjerit kesakitan.

“Sial.” Shou mengusap lengannya. “Ini lebih sakit daripada jatuh dari pohon, tahu!”

“Aku tidak peduli.” Yoriko menirukan gaya bicara Shou dan menjulurkan lidahnya.

Shou hendak membalas Yoriko, tetapi suara petugas taman yang berteriak tidak jauh dari mereka membuat mereka berhenti. “Hei, siapa disana!? Apa kalian tidak tahu taman sudah tutup!?”

“Kalau petugas itu menemukan kita disini, kita pasti ditahan.” Kata Yoriko panik. “Kita harus bagaimana?”

“Kalau tidak salah, dia hanya bertugas sendirian malam ini. Jadi pintu taman tidak ada yang menjaga bila dia mencari kita. Satu-satunya cara kita adalah...” Shou dan Yoriko saling berpandangan dan memiliki satu pikiran.


“LARIIII!!!” seru mereka bersamaan. Shou memegangi tangan Yoriko dan berlari bersama dengan lepas dan bahagia dari sebelumnya. Gelak tawa mereka menggema di taman yang sunyi, sebagai tanda bahwa mereka telah meninggalkan seluruh beban mereka di sana.

No comments:

Post a Comment