Sunday, July 7, 2013

The Delusion (14)

14

“Kau yakin tidak apa-apa, Shou? Wajahmu pucat sekali dari tadi pagi.” Tanya Tora khawatir saat dia mengantar Shou ke pintu rumahnya siang itu untuk pulang.

“Tidak, aku tidak apa-apa.” Jawab Shou semeyakinkan mungkin. “Aku ingin tahu saja apa Juri sudah pulang atau belum. Bersama gadis aneh itu, apa saja bisa dia lakukan di kota ini.”

Tora menepuk pundak Shou sambil menyeringai. “Sudahlah, mereka berdua sudah dewasa. Lagipula, bukan urusanmu jika mereka melakukan sesuatu. Kau sendiri yang bilang begitu, bukan.”

“Hei, bila sesuatu terjadi pada anak itu, aku yang akan kena damprat ayahku.” Shou berkelit. “Anak itu masih polos dan belum tahu apa-apa soal Tokyo.”

“Anak yang kau bicarakan itu sudah bergelar doktor dari Oxford, Shou. Tenang sajalah...” Tora bisa langsung menebak Shou mengkhawatirkan Juri bukan karena itu, melainkan sesuatu yang lain, yang tidak akan mungkin Shou akui secara sadar.

“Hah, masa bodohlah...” Shou mengangkat bahu. Dia mengancingkan jaketnya sebelum keluar dari rumah. “Terima kasih kau sudah membuatkanku sarapan.”

“Kau sudah seperti adikku sendiri, Shou. Tidak usah merasa tidak enak diri seperti itu.” Tetapi di balik ucapan Tora barusan, ada sedikit nada sindiran yang membuat Shou tertawa.

“Adik sendiri?”

“Lebih tepatnya pasienku. Sebuah kutukan jika aku benar-benar memiliki kau sebagai seorang adik.” Canda Tora yang membuat kepalanya menerima jitakan dari Shou.

“Aku pergi dulu. Hari ini tidak ada latihan sampai minggu depan, menjelang gladi resik. Sampai jumpa.” Shou mengucapkan salam sambil berlalu dari rumah Tora.

“Mereka yang dari PSC perlu tahu kita membutuhkan istirahat.” Balas Tora. “Sampai jumpa.”

*** 

Sambil menyetir menuju apartemennya, Shou berpikir apa yang akan ia lakukan supaya bisa bertahan dari sepupunya yang menginap di apartemennya sampai batas waktu yang tidak jelas. Sebenarnya dia masih ingin bekerja di bandnya, tetapi dia harus sadar keempat temannya telah bekerja lebih keras darinya. Walaupun mereka beristirahat dari band sampai menjelang konser, bukan berarti mereka bisa bersantai. Masih ada wawancara untuk majalah, mengisi acara talk show khusus untuk band mereka yang disiarkan secara online, pemotretan, dan segudang hal lainnya.

Semua kegiatan itu tentu saja melibatkan asistennya, Yoriko Ishihara. Meski Shou merasa terganggu tanpa sebab yang ia ketahui, Shou tetap harus bersikap profesional. Dia mencoba merasa senang dia memiliki tenaga yang siap mengatur dan mengingatkannya akan jadwal bandnya. Tetapi disaat yang sama, ketika ia mengetahui Yoriko yang menyebalkan ternyata cepat akrab dengan sepupunya yang siap mengganggunya kapan pun, dia membencinya. Di tempat kerjanya sudah ada orang menyebalkan, sekarang bertambah lagi di rumahnya. Dua orang itu kapan saja siap membuatnya kesal.

Nah, itulah alasan kenapa Shou benci melihat dua orang itu bersama. Akhirnya ia menemukannya.

Terlepas dari pemikiran itu di benaknya, dia membayangkan apa yang akan dilakukannya setelah sampai di apartemen. Mengurung diri di kamar sambil bermain game Call Of Duty atau Samurai Warriors di laptop sepertinya seru. Juri pasti tidak akan mau mencampuri urusannya karena sepupu anehnya itu tidak suka game.

Atau Shou bisa ke apartemen hanya untuk menaruh tas dan mengganti pakaian lalu pergi lagi ke bioskop atau game center. Ke tempat mana pun agar ia bisa jauh dari Juri.

Tetapi ide tidur sampai tengah malam lalu melakukan marathon DVD sampai menjelang pagi boleh juga. Selama dia mengunci kamar saat tidur, Juri tidak akan bisa mengganggunya.

Shou menyeringai. Rencananya sempurna sudah.

Selesai memarkir mobilnya, ia melenggang masuk menuju lift dari basement tempat parkir apartemen dengan perasaan bahagia. Namun sayangnya, seluruh rencananya sepertinya akan gagal terlaksana saat ia membuka kunci pintu apartemennya.

Shou melihat sepasang sepatu boot gotik hitam yang sudah sangat ia kenali. Tidak ingin berspekulasi yang aneh-aneh, Shou hanya mengernyitkan dahi sambil menggantung jaket yang barusan dikenakannya di dalam kloset dekat pintu.

Saat dia membuka pintu kloset, di antara mantel dan pakaian hangat miliknya, Shou melihat sehelai jubah hitam seperti penyihir yang sudah tidak asing lagi baginya. Melihat jubah itu tergantung dengan indahnya disana, Shou mulai merasa gerah.

“Aku pulang!” sengaja Shou berseru seperti itu, untuk menyadarkan siapa saja yang memasuki apartemennya tanpa izin bahwa dirinya sudah datang dan ia siap mencekiknya.

“Hei, Shou.” Juri menyapa Shou dari dapur dengan aksen inggrisnya yang kental. Shou tahu semua orang termasuk dia menyukai aksen inggris, tetapi bila aksen itu keluar dari mulut Juri, entah kenapa rasanya Shou ingin muntah mendengarnya.

“Aku sedang membuat makan siang. Apa kau mau Irish Stew?” Juri tidak tahu Shou sedang marah pada siapapun yang Juri undang ke apartemennya. Shou sama sekali tidak peduli dengan apa itu Irish Stew atau apalah. Nafsu makan siangnya jadi hilang seketika karena Juri.

Shou tidak membalas pertanyaan Juri dari dapur dan malah berkeliling apartemen. Dia melihat ke ruang TV, tidak ada siapa-siapa. Dia mengecek kamar mandi, nihil hasilnya. Tentu saja dia sudah mengecek kamarnya sendiri dan kamar tamu yang sekarang dihuni oleh Juri, hanya ada kekosongan disana.

Sampai ia akhirnya mengecek balkon apartemennya. Balkonnya hanya memiliki sebuah bangku kayu panjang dan meja kecil karena Shou jarang menghabiskan waktunya disana. Namun kini balkon yang biasanya dikunci dan hampir tidak pernah dikunjungi itu terbuka lebar sampai angin kencang memasuki ruangan. Dengan tidak sabaran Shou berjalan kesana dan menemukan seorang gadis duduk di bangku panjang itu, menikmati pemandangan kota Tokyo bersama Chirori di pangkuannya.

“Sedang apa kau disini!?” hardik Shou pada Yoriko yang langsung meloncat kaget melihat Shou mendelik ke arahnya.

“Juri mengundangku ke...” Yoriko berusaha menjawab pertanyaan Shou dengan terbata-bata. Tetapi Shou tidak memberikan kesempatan pada Yoriko meneruskan.

“Apa yang kau lakukan pada pakaianku? Siapa yang bilang kau boleh memakainya!?” Shou menunjuk kaos oblong dan celana piyama miliknya yang sekarang dikenakan Yoriko. Dari penampilan berantakan Yoriko yang seperti baru bangun tidur, Shou berasumsi, “Jangan bilang kalau kau...”

“Lho, ini pakaianmu!?” malah Yoriko yang sekarang sama terkejutnya seperti Shou. “Maaf, aku tidak tahu... Juri yang memberiku pakaian ini semalam, kupikir ini miliknya...”

Shou menarik Yoriko masuk ke dalam, menutup dan mengunci pintu balkonnya rapat-rapat, lalu membentak Yoriko lagi, “Kau disini dari semalam!?! Apa yang kalian lakukan di apartemenku semalam tanpa sepengetahuanku!?”

“Tenang saja, Shou. Aku diundang kemari oleh Juri karena dia mengajakku memasak bersama, menonton film, dan...” Yoriko terhenti sejenak saat dia mengingat kembali apa yang ia lakukan bersama Juri semalam. Dia tersenyum nakal lalu melanjutkan, “oh well, mungkin kami sedikit melakukan hal pribadi di kamarnya. Juri sampai berteriak kesenangan karena waktu itu...”

Sungguh Shou tidak mengerti mengapa Yoriko dengan santainya menceritakan apa yang ia lakukan bersama Juri semalam di kamar. Kemarahan Shou semakin memuncak ketika ia melihat Chirori masih ada di dekapan Yoriko.

Shou mengambil paksa Chirori dari Yoriko. Ia merasakan bulu Chirori sedikit basah. “Apa yang kau lakukan pada Chirori, ha!? Ini kucingku!”

“Sudah berapa lama kau tidak memandikannya, Shou? Seharusnya kau berterima kasih padaku karena sejam yang lalu ia baru saja kumandikan.” Jawab Yoriko.

Shou baru ingat. Sejak hari pertama kedatangan Chirori di apartemennya, dia belum pernah sekali pun memandikan Chirori. Chirori pun sepertinya menyadari itu karena belum lama ia ada di tangan Shou, kucing itu malah mencakar lengan Shou sampai berdarah karena hendak meloncat turun.

“Aw!” jerit Shou kesakitan melihat lengan kirinya mendapat goresan yang sangat panjang dan mengeluarkan darah.

Setelah menertawakan Shou terlebih dulu, Yoriko pun mulai melihat luka Shou. “Kau tidak apa-apa, Shou?”

“Kau pikir ini bisa disebut tidak apa-apa!?” Shou menunjuk lukanya dengan penuh kemarahan di wajahnya. Sepertinya Yoriko harus merasa beruntung karena hanya dia yang bisa melihat Shou dengan ekspresi seperti ini.

“Ayolah, jangan seperti anak kecil begitu. Kau pernah jatuh dari sepeda dan berkelahi dengan anak SD sewaktu kau kecil. Goresan seperti ini belum ada apa-apanya.” Kata Yoriko. Ia memegang lengan Shou dan menyentuh sedikit lukanya. Shou meringis kesakitan sambil bertanya-tanya dalam hati dari mana Yoriko tahu soal kenakalannya waktu kecil.

Tanpa perlawanan berarti, Yoriko menuntun Shou duduk di sofa ruang TV. Seolah ia sedang berbicara pada anak kecil, Yoriko berkata, “Tunggu sebentar, ya. Akan kuambil dulu kotak P3K.”

Butuh beberapa menit untuk Yoriko kembali sambil membawa kotak P3K dan semangkok kecil air hangat dari kamar mandi. Dengan hati-hati dan teliti, Yoriko membuka kotak hitam tersebut dan mengeluarkan sebotol alkohol berukuran sedang, beberapa butir kapas bulat, kasa, dan perban.

“Mungkin ini akan terasa perih sebentar...” kata Yoriko seraya mencelupkan kapas ke dalam air hangat. Dengan lembut dan tanpa perasaan ingin menyakiti Yoriko mulai mengusapkan kapas itu di atas luka Shou. Shou berdesis kesakitan karena rasa perih yang dibilang Yoriko barusan terasa olehnya, tetapi dia berusaha menahannya.

“Kau tahu, Chirori sebenarnya tidak ingin melukaimu...” Yoriko melirik Chirori yang sekarang mulai tertidur pulas di keranjang sudut ruang TV. “Dia hanya merindukanmu...”

Shou mendengus jijik. Dia memalingkan pandangannya dari Yoriko ke arah lain. “Kau tahu apa soal Chirori?”

Yoriko selesai membersihkan luka Shou. Sekarang dia mulai mengobati luka Shou dengan kapas baru yang dibasahi alkohol. “Tidak seharusnya kau mengabaikannya. Dia selalu sendirian sebelum Juri datang kesini. Mungkin dia seperti itu tadi karena ingin menyampaikan rasa rindunya padamu.”

“Omong kosong. Binatang tidak mungkin merasakan hal-hal seperti itu...” bantah Shou tidak percaya.

“Kau pernah bekerja di petshop, Shou. Tentu saja kau tahu hewan bisa merasakan perasaan itu.” potong Yoriko dengan tegas. “Aku yakin hari terakhirmu bekerja disana kau habiskan dengan mengobrol bersama salah satu hewan yang kau rasa tidak akan mungkin dia memahami arti kata-katamu.”

Shou terdiam. Dia masih ingat betul hari terakhirnya bekerja di petshop. Dia mengobrol bersama seekor anjing chihuahua lucu milik temannya yang memiliki band juga di bawah naungan PSC. Shou tentu saja ingat hal sia-sia yang ia bicarakan pada hewan itu. Hal yang merenggut seluruh keyakinan di dalam dirinya dalam sekejap.

Meski begitu, hewan tidak akan bisa benar-benar memahami apa yang diucapkan manusia terhadapnya, bukan?

“Chirori adalah salah satu kucing terlucu yang pernah kutemui. Jangan sia-siakan dia, ya...?” pinta Yoriko yang lebih terdengar seperti sebuah pesan darinya.

Dan tanpa Shou sadari, ia menganggukkan kepalanya demi menyanggupi pesan sederhana itu.

“Tenanglah, setelah ini aku akan pergi dari sini...” Yoriko mengambil gulungan perban untuk membalut luka Shou. Tetapi saat ia baru memulai, Shou lebih dulu menarik tangannya dari Yoriko secara kasar.

“Tidak usah dibalut. Ini hanya luka kecil...” kata Shou.

Mendengar itu, Yoriko mendesah pelan. Matanya menerawang ke arah lain seolah dia teringat sesuatu. Dia memasukkan kembali perban dan yang lainnya ke dalam kotak P3K. “Hanya luka kecil, ya...”

Sambil mengembalikan kotak P3K ke kamar mandi, Yoriko sekalian mengganti pakaiannya di dalam sana agar bisa langsung pergi dari apartemen. Sedangkan Shou masih duduk diam di sofa, mengamati lukanya yang sudah tidak perih lagi. Hati kecilnya berkata seharusnya ia berterima kasih pada orang yang mengobati lukanya. Empat tahun ini dia selalu sendirian, mungkin ada baiknya bila ada sedikit keramaian di apartemen ini.

“Hei, kau habis kena cakar Chirori, ya? Sudah kubilang, bukan? Dia kesal padamu karena kau tidak pernah ada untuknya” tahu-tahu Juri muncul dari belakang Shou.

Melihat Juri yang menertawakan lukanya dia jadi menarik kembali kata-kata hatinya barusan.

“Apa maumu?” kata Shou ketus. “Ejekan dari pria yang memakai celemek dan baru saja keluar dari dapur tidak akan mempan padaku.”

“Kemana Yoriko? Irish stewnya baru saja matang, jangan sampai dia pulang duluan karena kau.” tanya Juri.

“Entahlah.” Shou mengangkat bahu tidak peduli. “Seharusnya daritadi aku bertanya ini padamu. Mengapa kau mengundang Yoriko tanpa izinku, hah?”

Melihat kemarahan Shou, Juri hanya tertawa pelan. Tetapi itu hanya membuat Shou semakin murka, “Kau mengundangnya menginap di apartemenku dan ia berkata kalian melakukan sesuatu di kamarmu semalam. Juri, aku tidak peduli kau dan hantu kesiangan itu berhubungan, tetapi kalian bisa melakukannya di tempat lain selain di apartemenku!”

Bukannya takut, Juri malah tertawa semakin kencang. “Kau cemburu, ya?”

Shou tersentak. Rasanya sesuatu di dalam dirinya seperti baru saja ditusuk oleh ribuan pisau di tempat yang sangat tepat. Ia sampai terbata-bata untuk menjawab, “Cemburu? Untuk apa aku...”

“Ya, kami memang melakukan sesuatu semalam.” Juri membenarkan ucapan Yoriko. Wajahnya dibuat sejahil mungkin seakan menyiratkan sesuatu yang nakal. “Aku sedikit merasa gagal karena aku tidak berhasil membuatnya berteriak. Meski begitu, menyenangkan juga bermain bersamanya.”

Shou menggeram melihat pria Inggris ini dengan bangganya memamerkan apa yang ia lakukan bersama Yoriko. “Kalau kau sampai membuat kotor kamarmu, aku akan...”

“Akan apa? Memangnya kau pikir aku dan Yoriko melakukan apa semalam?” Juri menyatukan alisnya, ingin tahu apa yang Shou pikirkan tentang mereka.

“Hah?” sekarang Shou ganti jadi tidak mengerti. “Maksudmu? Bukannya kalian...”

“Ya, ya... aku sudah mengerti maksudmu, Shou. Kau tidak perlu menjelaskannya padaku.” Potong Juri. “Tapi, Shou... memangnya kau tidak pernah melakukan permainan ini? Apa kau terlalu takut membeli permainan ini sampai kau tidak tahu namanya? Kupikir kau seorang gamer sejati...”

“Permainan apa?” Shou semakin dibuat bingung saja oleh Juri.

“Amnesia. Game horror itu. Aku penasaran dengan komentar orang-orang di internet yang mengatakan game itu sangat seram. Berhubung Yoriko tertarik pada tengkorak, hantu wanita, bunga mawar, dan sejenisnya, aku mengajaknya menemaniku bermain semalam. Kau tidak tahu game komputer itu, Shou?”

Amnesia. Ya, dia tahu game itu. Nao juga pernah menyinggung game yang bercerita tentang seorang arkeolog yang mengalami amnesia dan harus menelusuri sebuah bangunan istana seram untuk menyelesaikan misinya dengan rintangan hantu-hantu dan para monster serta ritual terlarang yang muncul di sepanjang misi tersebut. Bukannya dia takut memainkannya, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk bermain lagi karena disibukkan oleh jadwal bandnya.

“Kau berhasil menyelesaikan game itu?” sebagai seorang gamer tentu saja Shou harus menanyakan itu, terlebih sekarang ia baru mengetahui Juri ternyata juga suka bermain game.

“Dengan bantuan Yoriko, ya, aku berhasil menyelesaikannya.” Jawab Juri. “Jujur saja aku sempat menjerit saat ada monster jenis The Servant mengejarku dengan sangat cepat, Yoriko sampai menertawakanku.”

“Kalian menghabiskan dini hari dengan bermain game itu?” Shou tercengang. Ia membayangkan Juri dan Yoriko bermain bersama di kamar gelap. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada itu.

“Yoriko memang harus sedikit diajari cara memainkan game komputer, tetapi tidak disangka dia belajar dengan cepat...” komentar Juri. “Lain kali ada baiknya kita main bertiga. Bagaimana?”

“Apa kalian sedang membicarakan Amnesia?” sahut Yoriko yang baru muncul dari kamar mandi. Sekarang dia terlihat seperti Yoriko yang Shou kenal, memakai dress hitam dan bermake up. Sebelumnya saat ia melihat Yoriko yang tidak memakai make up gotiknya, dia terlihat seperti tidak berdosa, rapuh, tetapi dari sinar matanya, Shou seakan ingin tenggelam di dalamnya.

Oh Tuhan, kenapa dia memikirkannya sampai situ? Gerutu Shou dalam hati.

“Ya. Dia belum memainkannya sama sekali.” Kata Juri.

“Sayang sekali.” Yoriko memasukkan barang-barangnya ke tas ranselnya. “Aku baru menginstallnya di komputerku dan sudah menamatkannya dalam waktu semalam. Monster tipe Servant itu sungguh menyebalkan...”

“Kau mau kemana, Yoriko?” tanya Juri melihat Yoriko membereskan semua barangnya ke dalam tas seolah dia ingin pulang. “Masa kau tidak ingin mencicipi Irish stew buatanku?”

“Ah, tidak usah.” Ujar Yoriko. Dia membawa ranselnya di punggung dan beranjak menuju pintu depan. “Maaf merepotkan, Juri. Kurasa aku akan pulang sekarang saja...”

“Tunggu, Yoriko. Setidaknya setelah kau mencicipi Irish stewnya, akan kuantar kau pulang.” Juri berlari kecil untuk menghadang Yoriko agar ia tidak mencapai pintu.

“Tapi...” Yoriko menoleh ke Shou yang masih duduk di sofa, membuang muka saat menyadari Yoriko melihatnya.

“Tidak ada tapi-tapian. Aku sudah capek-capek membuatnya. Jadi, kau harus tetap disini dan ikut menghabiskannya bersamaku dan Shou.” Juri membalikkan tubuh Yoriko lalu mendorongnya menuju meja makan. Disana sudah tersedia semangkok besar Irish Stew yang masih hangat, roti gandum bersama selai nanas dan stroberi, dan sup jagung.

“Wow...” Yoriko termangu kagum melihat seluruh hasil masakan Juri sejak pagi. Dia menelan liurnya sendiri, sadar dia sama sekali belum makan apapun hari ini karena bangun siang.

Tanpa diperintah lagi, Yoriko langsung duduk dengan rapi di meja makan. Baru sekarang dia melihat banyak makanan lezat terhidang di satu meja. Tidak lama kemudian, Shou ikut duduk di seberang Yoriko setelah dipaksa oleh Juri.

Yoriko menatap Shou yang sedang bertopang dagu, tidak sedikit pun melirik Yoriko atau makanan di hadapannya. Tetapi Yoriko tahu, Shou pasti lapar. Apalagi ini baru pertama kali Shou melihat ada Irish stew hangat terhidang di mejanya. Irish stew adalah semur yang berisi daging kambing atau domba, kentang, wortel, bawang dan peterseli. Wanginya menggugah selera makan dua orang keras kepala yang masih tetap bergeming saat ini.

“Ayo, dimakan.” Kata Juri seraya turut duduk bersama mereka. Dia membalikkan piring bersih yang sudah disiapkan lalu mengambil sedikit bagian Irish stew buatannya.

“Tunggu.” Sela Yoriko. “Bukankah seharusnya kita berdoa terlebih dulu?”

Juri menyadari kekhilafannya. “Maaf... Ayo, Shou, mari kita berdoa.”

Pertama kali dia makan bersama Yoriko, rasanya sangat berbeda. Ketika jarinya dan jemari Yoriko saling bertautan untuk pertama kali terasa sangat asing namun hangat bagi Shou. Tangan kasar milik seorang wanita yang digunakan untuk bekerja keras demi bertahan hidup baginya adalah tangan terlembut yang pernah ia sentuh. Sentuhan itu membuatnya merinding, seakan menjalar ke seluruh tubuhnya, dan akan disimpan selamanya di hatinya. Jika ia harus melepaskan tautan ini, maka ia akan terus bisa mengenangnya.

Ketika Yoriko mengucapkan doanya, doa yang pada acara makan siang mereka di kantor, itu adalah suara terdamai yang pernah ia dengar.

Usai berdoa, mereka mulai mengambil makanan sesuai keinginan mereka. Shou memutuskan untuk mengambil beberapa sendok Irish stew terlebih dulu, mengingat baru siang ini dia mengetahui ada menu makanan seaneh itu.

Dia mengiris daging domba dengan pisau makan dan mencicipinya. Rasanya empuk, bumbunya pas, dan mudah ditelan. Diam-diam dia mengakui kemampuan memasak Juri boleh juga. Puas dengan daging domba, dia beralih ke wortel dan kentangnya. Semakin lama ia menikmati masakan itu, semakin ia merasa dia sekarang berada di sebuah pub atau restoran di Irlandia.

“Harus kuakui, Juri...” penuh antusias Yoriko memberikan komentar atas Irish stew itu. “Ini Irish stew terenak yang pernah kumakan. Kau belajar memasak dari siapa?”

Juri tertawa kecil. Dari tawa itu terselip sebuah kebanggaan karena berhasil membuat Yoriko memuji masakannya. “Yah, ibuku adalah koki terhebat di rumahku.”

Shou mencibir kesal melihat bagaimana Juri membanggakan dirinya di depan Yoriko. Rasanya tidak ada yang perlu dibanggakan secara berlebihan dari merebus daging domba dan sayuran sekaligus ke dalam satu mangkuk.

Tetapi ketika dia menelan potongan terakhir daging dombanya, dia juga harus menelan komentar pedasnya barusan.

“Sudah lama aku tidak makan masakan khas Irlandia. Masakanmu benar-benar mengingatkanku pada restoran favoritku di Dublin dan Belfast...” kata Yoriko. “Seandainya kalau disini ada musik khas Irlandia...”

“Maaf, sayangku, nampaknya Shou tidak memiliki koleksi musik Irish atau Celtic yang bagus di rak CDnya...” kata Juri sambil melirik Shou.

“’Sayangku’?” Shou kaget orang ini ternyata sudah memanggil Yoriko semesra itu padahal baru sehari mereka bertemu. “Sungguh, kurasa ada sesuatu yang sangat tidak beres pada diri kalian.”

Yoriko terkikik mendengar betapa anehnya reaksi Shou saat Juri memanggilnya dengan penuh ‘sayang’, dia lalu menjawab dengan aksen inggris yang sudah lama ia tidak gunakan. “Shou sayangku, bagi orang Inggris, apabila ada seseorang memanggil kita dengan julukan sayang, itu wajar. Itu menandakan kalau mereka adalah orang-orang ramah. Aku pernah mendapat panggilan seperti itu dari seorang kakek yang ramah saat menaiki double decker...”

Double decker?” Shou mengerutkan dahi. Oh Tuhan, kenapa 2 orang di depannya ini tidak pernah berbicara dengan bahasa Jepang?

“Itu nama bis bertingkat dua di Inggris, Shou.” Sahut Juri.

“Sudahlah, kalian ini.” Lama-kelamaan Shou tidak tahan. “Bisa tidak kalian berbicara layaknya orang normal? Aku tidak pernah peduli pada Inggris, double decker, panggilan sayang, atau apalah itu. Aku hanya ingin kalian tidak merecoki apartemenku! Terutama untukmu, Yoriko. Hanya karena sepupuku mengundangmu bukan berarti kau bisa memakai pakaianku dan dengan lancang bermain dengan kucingku!”

Mendadak suasana menjadi hening. Tidak ada lagi canda dan tawa baik dari Yoriko ataupun Juri. Mereka jadi berkonsentrasi pada makanan masing-masing. Terlebih Yoriko yang menghabiskan makanannya cepat-cepat supaya dia bisa pergi agar Juri tidak terkena masalah dari Shou.

Meski begitu, karena dia juga tidak ingin Juri terlalu disalahkan, ia pun angkat bicara. “Maaf bila bagimu aku datang kemari secara lancang, Shou. Maaf juga aku merawat Chirori tanpa seizinmu. Jika ada yang harus disalahkan di ruangan ini, orang itu adalah aku.”

Shou diam. Seharusnya dia membenarkan semua kata Yoriko dan menyalahkannya. Tetapi ketika dia menyadari Yoriko dengan lapang dada mengakui kesalahannya, atau bahkan ia mengalah demi Shou, tanpa disadarinya Shou merasa malu. Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu di depan orang lain. Terlebih pada orang yang tidak tahu apa-apa seperti Yoriko.

Dan sebelum semuanya bisa terucapkan, Yoriko terlebih dulu berdiri dan berpamitan. “Aku pergi. Terima kasih, Juri...”

Juri menjadi semakin tidak enak hati pada Yoriko. “Perlu kuantar kau sampai ke apartemenmu, Yoriko?”

Yoriko menolak dengan halus. “Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih jauh. Sampai jumpa, Juri, Shou...”

Dan ketika mereka mendengar suara pintu ditutup yang menandakan Yoriko sudah pergi, keheningan masih tersisa di antara Shou dan Juri. Makan siang yang lezat dan masih tersisa cukup banyak di meja makan dibiarkan dingin begitu saja oleh mereka. Keduanya menyimpan perasaan bersalah yang tidak bisa mereka akui.

Tetapi beberapa menit kemudian, Juri-lah yang pertama kali mengaku. “Maafkan aku. Tidak seharusnya aku...”

“Simpan saja, Juri. Aku sudah tahu itu.” potong Shou. “Semuanya sudah terjadi.”

“Tidak seharusnya Yoriko meminta maaf. Akulah yang mengundangnya kemari dan mengajaknya menginap tanpa sepengetahuanmu. Dimana tata kramaku sebagai seorang tamu?” Juri tetap meneruskan.

“Sudahlah, Juri.” Shou ingin semua ini berakhir dan dilupakan. “Aku lelah, anggap saja ini tidak pernah terjadi.”

Tetapi mereka tidak bisa melupakannya. Seorang gadis pernah hadir disini. Seorang gadis yang telah membuat Juri membantunya menyelesaikan game favoritnya, seorang gadis yang membuatnya memasakkan menu istimewa hanya untuk melihat senyum gadis itu. Seorang gadis yang... meninggalkan wangi khasnya yang seperti wangi desiran angin laut di kaus Shou, seorang gadis yang telah mengobati luka Shou dengan teliti dan penuh perhatian. Seorang gadis yang dicari-cari oleh Chirori yang entah mengapa kucing itu selalu menanti kehadirannya lagi. Gadis yang membuat apartemen ini kembali merasa kosong karena kepergiannya.

Seorang gadis yang entah mengapa membuat salah satu dari mereka berusaha keras untuk mendapat perhatiannya dan yang satunya lagi tanpa sebab membencinya setengah mati.

“Kenapa, Shou?” tanya Juri. “Kenapa kau membenci dunia?”

Shou mengangkat alisnya tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Kau membenci hampir semua orang yang kau temui. Kenapa? Apa ini adalah caramu untuk mengatasi masalah yang kau simpan, Shou?”

“Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?”

“Karena aku peduli padamu. Baru saja kusadari kau membenci salah satu temanku, dan aku ingin tahu kenapa.” Ujar Juri tidak kalah sengit. “Dari hasil pengamatanku terhadapmu selama beberapa hari ini, Shou, kulihat kau sedang mengatasi rasa ketakutanmu pada sesuatu dengan rasa benci pada dunia agar kau bisa menutupi kerapuhanmu.”

“Memangnya kau tahu apa? Hanya karena kau pernah mengambil mata kuliah psikologi bukan berarti kau bisa membaca pikiranku.”

“Akuilah saja, Shou. Kau sudah menyakiti temanku, aku bisa membuatmu mengaku sekarang juga. Apa yang kau takuti? Setidaknya, katakan siapa saja yang kau benci.”

Shou menarik napas. Baru sekarang ada orang lain yang bisa menebak jalan pikirannya. Juri sendiri sepertinya tidak memiliki niat tertentu jika ia mengetahui rahasianya, dan dia juga sadar dia membutuhkan orang lain untuk memahami perasaannya, akhirnya dia menjawab.

“Aku membencimu karena aku selalu dibanding-bandingkan oleh keluarga kita.” Kata Shou. “Apa itu masalah bagimu?”

“Tidak, tidak masalah kau membenciku. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mengatasi masalah dan rasa ketakutannya pada sesuatu. Aku tidak menyalahkan caramu, melainkan aku ingin tahu alasannya.” Jawab Juri enteng.

“Aku membenci orang tuaku, karena mereka selalu memandangku sebelah mata.” Shou meneruskan. “Aku benci pada Tora, karena dia bersekongkol dengan yang lain untuk mempekerjakan Yoriko tanpa sepengetahuanku. Aku benci Nao, karena dia selalu bertingkah kekanakan. Aku benci Hiroto dan Saga karena mereka selalu menggangguku. Aku benci pada PSC, karena mereka telah mengambil sebagian besar kehidupanku demi keuntungan mereka. Aku benci pada kehidupanku sendiri, karena...”

Mendadak lidah Shou terasa kelu. Untuk apa dia membenci kehidupannya? Kehidupannya sempurna, dia telah mendapatkan semua yang diinginkannya. Ketenaran, berpuluh-puluh album bandnya sukses terjual di pasaran, penggemar yang memujanya, apartemen dan mobil mewah, tidak ada alasan bagi Shou untuk membenci kehidupannya. Tetapi kenapa ia mengatakannya? Pikiran Shou yang berkelana untuk mencari jawabannya membawanya ke bayang-bayang seorang wanita dari masa lalunya, seorang wanita yang secara diam-diam menyiksa batinnya dan membuat jiwanya gelisah, seolah mengejeknya karena dengan segala yang Shou miliki, ia tidak bisa mendapatkannya.

Seandainya Shou memiliki sedikit keberanian, maka ia pun akan mengakui bahwa ia juga membenci wanita itu karena segalanya.

Keheningan Shou membuat Juri menyadari memang benar ada sesuatu yang sudah lama Shou simpan di dalam dirinya, terlalu lama dan dalam sampai ia tidak bisa lagi mengungkapkannya.

“Mungkin kau sudah sering mendengar ini dari orang lain, tapi Shou, yakinlah alam semesta memiliki rencana untukmu. Bukalah matamu, bisa jadi ada sesuatu kecil yang luput dari matamu, sesuatu kecil yang bisa jadi adalah takdir yang mengetuk pintumu.” Juri memberi nasihat.

Shou tidak pernah percaya pada takdir. Takdir hanyalah bualan yang dibuat oleh manusia demi menjelaskan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami atau hanya bagian dari cerita-cerita roman picisan yang ada di TV. Sedangkan Shou paham betul apa yang dia alami sekarang.

“Sekarang kau sudah mengakui seluruh kebencianmu pada orang lain, dan kini tersisa seorang lagi.” Kata Juri.

“Siapa?”

“Kenapa kau benci pada Yoriko?”

Oh bagus, sekarang muncul pertanyaan itu. “Aku benci pada Yoriko karena... karena...”

Tunggu, kenapa lidahnya juga ikut kelu saat menjawab pertanyaan ini? Seharusnya dia bisa menjawabnya dengan lancar, dia telah memikirkan alasannya selama perjalanan pulangnya tadi.

Tahu Shou tidak akan menjawab pertanyaannya, Juri pun berkata, “Shou, aku yakin rasa benci itu bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang nantinya akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya. Suatu hari nanti kau pasti akan menemukan caranya.”


Namun demi segalanya yang telah Shou pertaruhkan di masa lalunya, ia tidak bisa membenarkan ucapan Juri barusan. Karena keputus asaan yang telah ia rasakan selama bertahun-tahun, ia membantah, “Bagaimana caranya? Bagaimana bisa jika sesuatu itu adalah sesuatu yang terus menghantuimu karena kau tidak bisa mendapatkannya?”

No comments:

Post a Comment