14
“Kau yakin
tidak apa-apa, Shou? Wajahmu pucat sekali dari tadi pagi.” Tanya Tora khawatir
saat dia mengantar Shou ke pintu rumahnya siang itu untuk pulang.
“Tidak, aku
tidak apa-apa.” Jawab Shou semeyakinkan mungkin. “Aku ingin tahu saja apa Juri
sudah pulang atau belum. Bersama gadis aneh itu, apa saja bisa dia lakukan di
kota ini.”
Tora menepuk
pundak Shou sambil menyeringai. “Sudahlah, mereka berdua sudah dewasa.
Lagipula, bukan urusanmu jika mereka melakukan sesuatu. Kau sendiri yang bilang
begitu, bukan.”
“Hei, bila
sesuatu terjadi pada anak itu, aku yang akan kena damprat ayahku.” Shou
berkelit. “Anak itu masih polos dan belum tahu apa-apa soal Tokyo.”
“Anak yang
kau bicarakan itu sudah bergelar doktor dari Oxford, Shou. Tenang sajalah...”
Tora bisa langsung menebak Shou mengkhawatirkan Juri bukan karena itu,
melainkan sesuatu yang lain, yang tidak akan mungkin Shou akui secara sadar.
“Hah, masa
bodohlah...” Shou mengangkat bahu. Dia mengancingkan jaketnya sebelum keluar
dari rumah. “Terima kasih kau sudah membuatkanku sarapan.”
“Kau sudah
seperti adikku sendiri, Shou. Tidak usah merasa tidak enak diri seperti itu.”
Tetapi di balik ucapan Tora barusan, ada sedikit nada sindiran yang membuat
Shou tertawa.
“Adik
sendiri?”
“Lebih
tepatnya pasienku. Sebuah kutukan jika aku benar-benar memiliki kau sebagai
seorang adik.” Canda Tora yang membuat kepalanya menerima jitakan dari Shou.
“Aku pergi
dulu. Hari ini tidak ada latihan sampai minggu depan, menjelang gladi resik.
Sampai jumpa.” Shou mengucapkan salam sambil berlalu dari rumah Tora.
“Mereka yang
dari PSC perlu tahu kita membutuhkan istirahat.” Balas Tora. “Sampai jumpa.”
Sambil
menyetir menuju apartemennya, Shou berpikir apa yang akan ia lakukan supaya
bisa bertahan dari sepupunya yang menginap di apartemennya sampai batas waktu
yang tidak jelas. Sebenarnya dia masih ingin bekerja di bandnya, tetapi dia
harus sadar keempat temannya telah bekerja lebih keras darinya. Walaupun mereka
beristirahat dari band sampai menjelang konser, bukan berarti mereka bisa
bersantai. Masih ada wawancara untuk majalah, mengisi acara talk show khusus
untuk band mereka yang disiarkan secara online, pemotretan, dan segudang hal
lainnya.
Semua
kegiatan itu tentu saja melibatkan asistennya, Yoriko Ishihara. Meski Shou
merasa terganggu tanpa sebab yang ia ketahui, Shou tetap harus bersikap
profesional. Dia mencoba merasa senang dia memiliki tenaga yang siap mengatur
dan mengingatkannya akan jadwal bandnya. Tetapi disaat yang sama, ketika ia
mengetahui Yoriko yang menyebalkan ternyata cepat akrab dengan sepupunya yang
siap mengganggunya kapan pun, dia membencinya. Di tempat kerjanya sudah ada
orang menyebalkan, sekarang bertambah lagi di rumahnya. Dua orang itu kapan
saja siap membuatnya kesal.
Nah, itulah
alasan kenapa Shou benci melihat dua orang itu bersama. Akhirnya ia
menemukannya.
Terlepas dari
pemikiran itu di benaknya, dia membayangkan apa yang akan dilakukannya setelah
sampai di apartemen. Mengurung diri di kamar sambil bermain game Call Of Duty
atau Samurai Warriors di laptop sepertinya seru. Juri pasti tidak akan mau
mencampuri urusannya karena sepupu anehnya itu tidak suka game.
Atau Shou
bisa ke apartemen hanya untuk menaruh tas dan mengganti pakaian lalu pergi lagi
ke bioskop atau game center. Ke tempat mana pun agar ia bisa jauh dari Juri.
Tetapi ide
tidur sampai tengah malam lalu melakukan marathon DVD sampai menjelang pagi
boleh juga. Selama dia mengunci kamar saat tidur, Juri tidak akan bisa
mengganggunya.
Shou
menyeringai. Rencananya sempurna sudah.
Selesai
memarkir mobilnya, ia melenggang masuk menuju lift dari basement tempat parkir
apartemen dengan perasaan bahagia. Namun sayangnya, seluruh rencananya
sepertinya akan gagal terlaksana saat ia membuka kunci pintu apartemennya.
Shou melihat
sepasang sepatu boot gotik hitam yang sudah sangat ia kenali. Tidak ingin
berspekulasi yang aneh-aneh, Shou hanya mengernyitkan dahi sambil menggantung
jaket yang barusan dikenakannya di dalam kloset dekat pintu.
Saat dia
membuka pintu kloset, di antara mantel dan pakaian hangat miliknya, Shou
melihat sehelai jubah hitam seperti penyihir yang sudah tidak asing lagi
baginya. Melihat jubah itu tergantung dengan indahnya disana, Shou mulai merasa
gerah.
“Aku pulang!”
sengaja Shou berseru seperti itu, untuk menyadarkan siapa saja yang memasuki
apartemennya tanpa izin bahwa dirinya sudah datang dan ia siap mencekiknya.
“Hei, Shou.”
Juri menyapa Shou dari dapur dengan aksen inggrisnya yang kental. Shou tahu
semua orang termasuk dia menyukai aksen inggris, tetapi bila aksen itu keluar
dari mulut Juri, entah kenapa rasanya Shou ingin muntah mendengarnya.
“Aku sedang
membuat makan siang. Apa kau mau Irish Stew?” Juri tidak tahu Shou sedang marah
pada siapapun yang Juri undang ke apartemennya. Shou sama sekali tidak peduli
dengan apa itu Irish Stew atau apalah. Nafsu makan siangnya jadi hilang
seketika karena Juri.
Shou tidak
membalas pertanyaan Juri dari dapur dan malah berkeliling apartemen. Dia
melihat ke ruang TV, tidak ada siapa-siapa. Dia mengecek kamar mandi, nihil
hasilnya. Tentu saja dia sudah mengecek kamarnya sendiri dan kamar tamu yang
sekarang dihuni oleh Juri, hanya ada kekosongan disana.
Sampai ia
akhirnya mengecek balkon apartemennya. Balkonnya hanya memiliki sebuah bangku
kayu panjang dan meja kecil karena Shou jarang menghabiskan waktunya disana.
Namun kini balkon yang biasanya dikunci dan hampir tidak pernah dikunjungi itu
terbuka lebar sampai angin kencang memasuki ruangan. Dengan tidak sabaran Shou
berjalan kesana dan menemukan seorang gadis duduk di bangku panjang itu,
menikmati pemandangan kota Tokyo bersama Chirori di pangkuannya.
“Sedang apa
kau disini!?” hardik Shou pada Yoriko yang langsung meloncat kaget melihat Shou
mendelik ke arahnya.
“Juri
mengundangku ke...” Yoriko berusaha menjawab pertanyaan Shou dengan
terbata-bata. Tetapi Shou tidak memberikan kesempatan pada Yoriko meneruskan.
“Apa yang kau
lakukan pada pakaianku? Siapa yang bilang kau boleh memakainya!?” Shou menunjuk
kaos oblong dan celana piyama miliknya yang sekarang dikenakan Yoriko. Dari
penampilan berantakan Yoriko yang seperti baru bangun tidur, Shou berasumsi,
“Jangan bilang kalau kau...”
“Lho, ini
pakaianmu!?” malah Yoriko yang sekarang sama terkejutnya seperti Shou. “Maaf,
aku tidak tahu... Juri yang memberiku pakaian ini semalam, kupikir ini
miliknya...”
Shou menarik
Yoriko masuk ke dalam, menutup dan mengunci pintu balkonnya rapat-rapat, lalu membentak
Yoriko lagi, “Kau disini dari semalam!?! Apa yang kalian lakukan di apartemenku
semalam tanpa sepengetahuanku!?”
“Tenang saja,
Shou. Aku diundang kemari oleh Juri karena dia mengajakku memasak bersama,
menonton film, dan...” Yoriko terhenti sejenak saat dia mengingat kembali apa
yang ia lakukan bersama Juri semalam. Dia tersenyum nakal lalu melanjutkan, “oh
well, mungkin kami sedikit melakukan
hal pribadi di kamarnya. Juri sampai berteriak kesenangan karena waktu itu...”
Sungguh Shou
tidak mengerti mengapa Yoriko dengan santainya menceritakan apa yang ia lakukan
bersama Juri semalam di kamar. Kemarahan Shou semakin memuncak ketika ia
melihat Chirori masih ada di dekapan Yoriko.
Shou
mengambil paksa Chirori dari Yoriko. Ia merasakan bulu Chirori sedikit basah. “Apa
yang kau lakukan pada Chirori, ha!? Ini kucingku!”
“Sudah berapa
lama kau tidak memandikannya, Shou? Seharusnya kau berterima kasih padaku karena
sejam yang lalu ia baru saja kumandikan.” Jawab Yoriko.
Shou baru
ingat. Sejak hari pertama kedatangan Chirori di apartemennya, dia belum pernah
sekali pun memandikan Chirori. Chirori pun sepertinya menyadari itu karena
belum lama ia ada di tangan Shou, kucing itu malah mencakar lengan Shou sampai
berdarah karena hendak meloncat turun.
“Aw!” jerit
Shou kesakitan melihat lengan kirinya mendapat goresan yang sangat panjang dan
mengeluarkan darah.
Setelah
menertawakan Shou terlebih dulu, Yoriko pun mulai melihat luka Shou. “Kau tidak
apa-apa, Shou?”
“Kau pikir
ini bisa disebut tidak apa-apa!?” Shou menunjuk lukanya dengan penuh kemarahan
di wajahnya. Sepertinya Yoriko harus merasa beruntung karena hanya dia yang
bisa melihat Shou dengan ekspresi seperti ini.
“Ayolah,
jangan seperti anak kecil begitu. Kau pernah jatuh dari sepeda dan berkelahi
dengan anak SD sewaktu kau kecil. Goresan seperti ini belum ada apa-apanya.”
Kata Yoriko. Ia memegang lengan Shou dan menyentuh sedikit lukanya. Shou
meringis kesakitan sambil bertanya-tanya dalam hati dari mana Yoriko tahu soal
kenakalannya waktu kecil.
Tanpa
perlawanan berarti, Yoriko menuntun Shou duduk di sofa ruang TV. Seolah ia
sedang berbicara pada anak kecil, Yoriko berkata, “Tunggu sebentar, ya. Akan
kuambil dulu kotak P3K.”
Butuh
beberapa menit untuk Yoriko kembali sambil membawa kotak P3K dan semangkok
kecil air hangat dari kamar mandi. Dengan hati-hati dan teliti, Yoriko membuka
kotak hitam tersebut dan mengeluarkan sebotol alkohol berukuran sedang,
beberapa butir kapas bulat, kasa, dan perban.
“Mungkin ini
akan terasa perih sebentar...” kata Yoriko seraya mencelupkan kapas ke dalam
air hangat. Dengan lembut dan tanpa perasaan ingin menyakiti Yoriko mulai
mengusapkan kapas itu di atas luka Shou. Shou berdesis kesakitan karena rasa
perih yang dibilang Yoriko barusan terasa olehnya, tetapi dia berusaha
menahannya.
“Kau tahu,
Chirori sebenarnya tidak ingin melukaimu...” Yoriko melirik Chirori yang
sekarang mulai tertidur pulas di keranjang sudut ruang TV. “Dia hanya
merindukanmu...”
Shou
mendengus jijik. Dia memalingkan pandangannya dari Yoriko ke arah lain. “Kau
tahu apa soal Chirori?”
Yoriko
selesai membersihkan luka Shou. Sekarang dia mulai mengobati luka Shou dengan
kapas baru yang dibasahi alkohol. “Tidak seharusnya kau mengabaikannya. Dia
selalu sendirian sebelum Juri datang kesini. Mungkin dia seperti itu tadi
karena ingin menyampaikan rasa rindunya padamu.”
“Omong
kosong. Binatang tidak mungkin merasakan hal-hal seperti itu...” bantah Shou
tidak percaya.
“Kau pernah
bekerja di petshop, Shou. Tentu saja kau tahu hewan bisa merasakan perasaan
itu.” potong Yoriko dengan tegas. “Aku yakin hari terakhirmu bekerja disana kau
habiskan dengan mengobrol bersama salah satu hewan yang kau rasa tidak akan
mungkin dia memahami arti kata-katamu.”
Shou terdiam.
Dia masih ingat betul hari terakhirnya bekerja di petshop. Dia mengobrol
bersama seekor anjing chihuahua lucu milik temannya yang memiliki band juga di
bawah naungan PSC. Shou tentu saja ingat hal sia-sia yang ia bicarakan pada
hewan itu. Hal yang merenggut seluruh keyakinan di dalam dirinya dalam sekejap.
Meski begitu,
hewan tidak akan bisa benar-benar memahami apa yang diucapkan manusia
terhadapnya, bukan?
“Chirori
adalah salah satu kucing terlucu yang pernah kutemui. Jangan sia-siakan dia,
ya...?” pinta Yoriko yang lebih terdengar seperti sebuah pesan darinya.
Dan tanpa
Shou sadari, ia menganggukkan kepalanya demi menyanggupi pesan sederhana itu.
“Tenanglah,
setelah ini aku akan pergi dari sini...” Yoriko mengambil gulungan perban untuk
membalut luka Shou. Tetapi saat ia baru memulai, Shou lebih dulu menarik
tangannya dari Yoriko secara kasar.
“Tidak usah dibalut.
Ini hanya luka kecil...” kata Shou.
Mendengar
itu, Yoriko mendesah pelan. Matanya menerawang ke arah lain seolah dia teringat
sesuatu. Dia memasukkan kembali perban dan yang lainnya ke dalam kotak P3K. “Hanya
luka kecil, ya...”
Sambil
mengembalikan kotak P3K ke kamar mandi, Yoriko sekalian mengganti pakaiannya di
dalam sana agar bisa langsung pergi dari apartemen. Sedangkan Shou masih duduk
diam di sofa, mengamati lukanya yang sudah tidak perih lagi. Hati kecilnya
berkata seharusnya ia berterima kasih pada orang yang mengobati lukanya. Empat
tahun ini dia selalu sendirian, mungkin ada baiknya bila ada sedikit keramaian
di apartemen ini.
“Hei, kau
habis kena cakar Chirori, ya? Sudah kubilang, bukan? Dia kesal padamu karena
kau tidak pernah ada untuknya” tahu-tahu Juri muncul dari belakang Shou.
Melihat Juri
yang menertawakan lukanya dia jadi menarik kembali kata-kata hatinya barusan.
“Apa maumu?”
kata Shou ketus. “Ejekan dari pria yang memakai celemek dan baru saja keluar dari
dapur tidak akan mempan padaku.”
“Kemana
Yoriko? Irish stewnya baru saja matang, jangan sampai dia pulang duluan karena
kau.” tanya Juri.
“Entahlah.”
Shou mengangkat bahu tidak peduli. “Seharusnya daritadi aku bertanya ini
padamu. Mengapa kau mengundang Yoriko tanpa izinku, hah?”
Melihat
kemarahan Shou, Juri hanya tertawa pelan. Tetapi itu hanya membuat Shou semakin
murka, “Kau mengundangnya menginap di apartemenku dan ia berkata kalian
melakukan sesuatu di kamarmu semalam. Juri, aku tidak peduli kau dan hantu
kesiangan itu berhubungan, tetapi kalian bisa melakukannya di tempat lain
selain di apartemenku!”
Bukannya
takut, Juri malah tertawa semakin kencang. “Kau cemburu, ya?”
Shou
tersentak. Rasanya sesuatu di dalam dirinya seperti baru saja ditusuk oleh
ribuan pisau di tempat yang sangat tepat. Ia sampai terbata-bata untuk
menjawab, “Cemburu? Untuk apa aku...”
“Ya, kami
memang melakukan sesuatu semalam.” Juri membenarkan ucapan Yoriko. Wajahnya
dibuat sejahil mungkin seakan menyiratkan sesuatu yang nakal. “Aku sedikit merasa
gagal karena aku tidak berhasil membuatnya berteriak. Meski begitu,
menyenangkan juga bermain bersamanya.”
Shou
menggeram melihat pria Inggris ini dengan bangganya memamerkan apa yang ia
lakukan bersama Yoriko. “Kalau kau sampai membuat kotor kamarmu, aku akan...”
“Akan apa?
Memangnya kau pikir aku dan Yoriko melakukan apa semalam?” Juri menyatukan
alisnya, ingin tahu apa yang Shou pikirkan tentang mereka.
“Hah?”
sekarang Shou ganti jadi tidak mengerti. “Maksudmu? Bukannya kalian...”
“Ya, ya... aku
sudah mengerti maksudmu, Shou. Kau tidak perlu menjelaskannya padaku.” Potong
Juri. “Tapi, Shou... memangnya kau tidak pernah melakukan permainan ini? Apa
kau terlalu takut membeli permainan ini sampai kau tidak tahu namanya? Kupikir
kau seorang gamer sejati...”
“Permainan
apa?” Shou semakin dibuat bingung saja oleh Juri.
“Amnesia.
Game horror itu. Aku penasaran dengan komentar orang-orang di internet yang
mengatakan game itu sangat seram. Berhubung Yoriko tertarik pada tengkorak,
hantu wanita, bunga mawar, dan sejenisnya, aku mengajaknya menemaniku bermain
semalam. Kau tidak tahu game komputer itu, Shou?”
Amnesia. Ya,
dia tahu game itu. Nao juga pernah menyinggung game yang bercerita tentang seorang
arkeolog yang mengalami amnesia dan harus menelusuri sebuah bangunan istana seram
untuk menyelesaikan misinya dengan rintangan hantu-hantu dan para monster serta
ritual terlarang yang muncul di sepanjang misi tersebut. Bukannya dia takut memainkannya,
tetapi dia tidak memiliki waktu untuk bermain lagi karena disibukkan oleh
jadwal bandnya.
“Kau berhasil
menyelesaikan game itu?” sebagai seorang gamer tentu saja Shou harus menanyakan
itu, terlebih sekarang ia baru mengetahui Juri ternyata juga suka bermain game.
“Dengan
bantuan Yoriko, ya, aku berhasil menyelesaikannya.” Jawab Juri. “Jujur saja aku
sempat menjerit saat ada monster jenis The Servant mengejarku dengan sangat
cepat, Yoriko sampai menertawakanku.”
“Kalian
menghabiskan dini hari dengan bermain game itu?” Shou tercengang. Ia
membayangkan Juri dan Yoriko bermain bersama di kamar gelap. Tidak ada yang
lebih mengerikan daripada itu.
“Yoriko
memang harus sedikit diajari cara memainkan game komputer, tetapi tidak
disangka dia belajar dengan cepat...” komentar Juri. “Lain kali ada baiknya
kita main bertiga. Bagaimana?”
“Apa kalian
sedang membicarakan Amnesia?” sahut Yoriko yang baru muncul dari kamar mandi.
Sekarang dia terlihat seperti Yoriko yang Shou kenal, memakai dress hitam dan
bermake up. Sebelumnya saat ia melihat Yoriko yang tidak memakai make up
gotiknya, dia terlihat seperti tidak berdosa, rapuh, tetapi dari sinar matanya,
Shou seakan ingin tenggelam di dalamnya.
Oh Tuhan,
kenapa dia memikirkannya sampai situ? Gerutu Shou dalam hati.
“Ya. Dia
belum memainkannya sama sekali.” Kata Juri.
“Sayang
sekali.” Yoriko memasukkan barang-barangnya ke tas ranselnya. “Aku baru
menginstallnya di komputerku dan sudah menamatkannya dalam waktu semalam.
Monster tipe Servant itu sungguh menyebalkan...”
“Kau mau
kemana, Yoriko?” tanya Juri melihat Yoriko membereskan semua barangnya ke dalam
tas seolah dia ingin pulang. “Masa kau tidak ingin mencicipi Irish stew
buatanku?”
“Ah, tidak
usah.” Ujar Yoriko. Dia membawa ranselnya di punggung dan beranjak menuju pintu
depan. “Maaf merepotkan, Juri. Kurasa aku akan pulang sekarang saja...”
“Tunggu,
Yoriko. Setidaknya setelah kau mencicipi Irish stewnya, akan kuantar kau
pulang.” Juri berlari kecil untuk menghadang Yoriko agar ia tidak mencapai pintu.
“Tapi...”
Yoriko menoleh ke Shou yang masih duduk di sofa, membuang muka saat menyadari
Yoriko melihatnya.
“Tidak ada
tapi-tapian. Aku sudah capek-capek membuatnya. Jadi, kau harus tetap disini dan
ikut menghabiskannya bersamaku dan Shou.” Juri membalikkan tubuh Yoriko lalu
mendorongnya menuju meja makan. Disana sudah tersedia semangkok besar Irish
Stew yang masih hangat, roti gandum bersama selai nanas dan stroberi, dan sup
jagung.
“Wow...”
Yoriko termangu kagum melihat seluruh hasil masakan Juri sejak pagi. Dia
menelan liurnya sendiri, sadar dia sama sekali belum makan apapun hari ini
karena bangun siang.
Tanpa
diperintah lagi, Yoriko langsung duduk dengan rapi di meja makan. Baru sekarang
dia melihat banyak makanan lezat terhidang di satu meja. Tidak lama kemudian,
Shou ikut duduk di seberang Yoriko setelah dipaksa oleh Juri.
Yoriko
menatap Shou yang sedang bertopang dagu, tidak sedikit pun melirik Yoriko atau
makanan di hadapannya. Tetapi Yoriko tahu, Shou pasti lapar. Apalagi ini baru
pertama kali Shou melihat ada Irish stew hangat terhidang di mejanya. Irish
stew adalah semur yang berisi daging kambing atau domba, kentang, wortel,
bawang dan peterseli. Wanginya menggugah selera makan dua orang keras kepala yang
masih tetap bergeming saat ini.
“Ayo,
dimakan.” Kata Juri seraya turut duduk bersama mereka. Dia membalikkan piring
bersih yang sudah disiapkan lalu mengambil sedikit bagian Irish stew buatannya.
“Tunggu.”
Sela Yoriko. “Bukankah seharusnya kita berdoa terlebih dulu?”
Juri
menyadari kekhilafannya. “Maaf... Ayo, Shou, mari kita berdoa.”
Pertama kali
dia makan bersama Yoriko, rasanya sangat berbeda. Ketika jarinya dan jemari
Yoriko saling bertautan untuk pertama kali terasa sangat asing namun hangat
bagi Shou. Tangan kasar milik seorang wanita yang digunakan untuk bekerja keras
demi bertahan hidup baginya adalah tangan terlembut yang pernah ia sentuh. Sentuhan
itu membuatnya merinding, seakan menjalar ke seluruh tubuhnya, dan akan
disimpan selamanya di hatinya. Jika ia harus melepaskan tautan ini, maka ia
akan terus bisa mengenangnya.
Ketika Yoriko
mengucapkan doanya, doa yang pada acara makan siang mereka di kantor, itu
adalah suara terdamai yang pernah ia dengar.
Usai berdoa,
mereka mulai mengambil makanan sesuai keinginan mereka. Shou memutuskan untuk
mengambil beberapa sendok Irish stew terlebih dulu, mengingat baru siang ini
dia mengetahui ada menu makanan seaneh itu.
Dia mengiris
daging domba dengan pisau makan dan mencicipinya. Rasanya empuk, bumbunya pas,
dan mudah ditelan. Diam-diam dia mengakui kemampuan memasak Juri boleh juga.
Puas dengan daging domba, dia beralih ke wortel dan kentangnya. Semakin lama ia
menikmati masakan itu, semakin ia merasa dia sekarang berada di sebuah pub atau
restoran di Irlandia.
“Harus kuakui,
Juri...” penuh antusias Yoriko memberikan komentar atas Irish stew itu. “Ini
Irish stew terenak yang pernah kumakan. Kau belajar memasak dari siapa?”
Juri tertawa
kecil. Dari tawa itu terselip sebuah kebanggaan karena berhasil membuat Yoriko memuji
masakannya. “Yah, ibuku adalah koki terhebat di rumahku.”
Shou mencibir
kesal melihat bagaimana Juri membanggakan dirinya di depan Yoriko. Rasanya
tidak ada yang perlu dibanggakan secara berlebihan dari merebus daging domba
dan sayuran sekaligus ke dalam satu mangkuk.
Tetapi ketika
dia menelan potongan terakhir daging dombanya, dia juga harus menelan komentar
pedasnya barusan.
“Sudah lama
aku tidak makan masakan khas Irlandia. Masakanmu benar-benar mengingatkanku
pada restoran favoritku di Dublin dan Belfast...” kata Yoriko. “Seandainya
kalau disini ada musik khas Irlandia...”
“Maaf,
sayangku, nampaknya Shou tidak memiliki koleksi musik Irish atau Celtic yang
bagus di rak CDnya...” kata Juri sambil melirik Shou.
“’Sayangku’?”
Shou kaget orang ini ternyata sudah memanggil Yoriko semesra itu padahal baru
sehari mereka bertemu. “Sungguh, kurasa ada sesuatu yang sangat tidak beres
pada diri kalian.”
Yoriko
terkikik mendengar betapa anehnya reaksi Shou saat Juri memanggilnya dengan
penuh ‘sayang’, dia lalu menjawab dengan aksen inggris yang sudah lama ia tidak
gunakan. “Shou sayangku, bagi orang
Inggris, apabila ada seseorang memanggil kita dengan julukan sayang, itu wajar.
Itu menandakan kalau mereka adalah orang-orang ramah. Aku pernah mendapat panggilan
seperti itu dari seorang kakek yang ramah saat menaiki double decker...”
“Double decker?” Shou mengerutkan dahi.
Oh Tuhan, kenapa 2 orang di depannya ini tidak pernah berbicara dengan bahasa
Jepang?
“Itu nama bis
bertingkat dua di Inggris, Shou.” Sahut Juri.
“Sudahlah,
kalian ini.” Lama-kelamaan Shou tidak tahan. “Bisa tidak kalian berbicara
layaknya orang normal? Aku tidak pernah peduli pada Inggris, double decker, panggilan sayang, atau apalah itu. Aku hanya ingin
kalian tidak merecoki apartemenku! Terutama untukmu, Yoriko. Hanya karena
sepupuku mengundangmu bukan berarti kau bisa memakai pakaianku dan dengan
lancang bermain dengan kucingku!”
Mendadak
suasana menjadi hening. Tidak ada lagi canda dan tawa baik dari Yoriko ataupun
Juri. Mereka jadi berkonsentrasi pada makanan masing-masing. Terlebih Yoriko
yang menghabiskan makanannya cepat-cepat supaya dia bisa pergi agar Juri tidak
terkena masalah dari Shou.
Meski begitu,
karena dia juga tidak ingin Juri terlalu disalahkan, ia pun angkat bicara.
“Maaf bila bagimu aku datang kemari secara lancang, Shou. Maaf juga aku merawat
Chirori tanpa seizinmu. Jika ada yang harus disalahkan di ruangan ini, orang
itu adalah aku.”
Shou diam.
Seharusnya dia membenarkan semua kata Yoriko dan menyalahkannya. Tetapi ketika
dia menyadari Yoriko dengan lapang dada mengakui kesalahannya, atau bahkan ia
mengalah demi Shou, tanpa disadarinya Shou merasa malu. Tidak seharusnya dia
bersikap seperti itu di depan orang lain. Terlebih pada orang yang tidak tahu
apa-apa seperti Yoriko.
Dan sebelum
semuanya bisa terucapkan, Yoriko terlebih dulu berdiri dan berpamitan. “Aku
pergi. Terima kasih, Juri...”
Juri menjadi
semakin tidak enak hati pada Yoriko. “Perlu kuantar kau sampai ke apartemenmu,
Yoriko?”
Yoriko
menolak dengan halus. “Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih
jauh. Sampai jumpa, Juri, Shou...”
Dan ketika
mereka mendengar suara pintu ditutup yang menandakan Yoriko sudah pergi,
keheningan masih tersisa di antara Shou dan Juri. Makan siang yang lezat dan
masih tersisa cukup banyak di meja makan dibiarkan dingin begitu saja oleh
mereka. Keduanya menyimpan perasaan bersalah yang tidak bisa mereka akui.
Tetapi
beberapa menit kemudian, Juri-lah yang pertama kali mengaku. “Maafkan aku.
Tidak seharusnya aku...”
“Simpan saja,
Juri. Aku sudah tahu itu.” potong Shou. “Semuanya sudah terjadi.”
“Tidak
seharusnya Yoriko meminta maaf. Akulah yang mengundangnya kemari dan
mengajaknya menginap tanpa sepengetahuanmu. Dimana tata kramaku sebagai seorang
tamu?” Juri tetap meneruskan.
“Sudahlah,
Juri.” Shou ingin semua ini berakhir dan dilupakan. “Aku lelah, anggap saja ini
tidak pernah terjadi.”
Tetapi mereka
tidak bisa melupakannya. Seorang gadis pernah hadir disini. Seorang gadis yang
telah membuat Juri membantunya menyelesaikan game favoritnya, seorang gadis
yang membuatnya memasakkan menu istimewa hanya untuk melihat senyum gadis itu.
Seorang gadis yang... meninggalkan wangi khasnya yang seperti wangi desiran
angin laut di kaus Shou, seorang gadis yang telah mengobati luka Shou dengan
teliti dan penuh perhatian. Seorang gadis yang dicari-cari oleh Chirori yang
entah mengapa kucing itu selalu menanti kehadirannya lagi. Gadis yang membuat
apartemen ini kembali merasa kosong karena kepergiannya.
Seorang gadis
yang entah mengapa membuat salah satu dari mereka berusaha keras untuk mendapat
perhatiannya dan yang satunya lagi tanpa sebab membencinya setengah mati.
“Kenapa,
Shou?” tanya Juri. “Kenapa kau membenci dunia?”
Shou
mengangkat alisnya tidak mengerti. “Maksudmu?”
“Kau membenci
hampir semua orang yang kau temui. Kenapa? Apa ini adalah caramu untuk
mengatasi masalah yang kau simpan, Shou?”
“Kenapa aku
harus menjawab pertanyaanmu?”
“Karena aku
peduli padamu. Baru saja kusadari kau membenci salah satu temanku, dan aku
ingin tahu kenapa.” Ujar Juri tidak kalah sengit. “Dari hasil pengamatanku
terhadapmu selama beberapa hari ini, Shou, kulihat kau sedang mengatasi rasa
ketakutanmu pada sesuatu dengan rasa benci pada dunia agar kau bisa menutupi
kerapuhanmu.”
“Memangnya
kau tahu apa? Hanya karena kau pernah mengambil mata kuliah psikologi bukan
berarti kau bisa membaca pikiranku.”
“Akuilah
saja, Shou. Kau sudah menyakiti temanku, aku bisa membuatmu mengaku sekarang
juga. Apa yang kau takuti? Setidaknya, katakan siapa saja yang kau benci.”
Shou menarik
napas. Baru sekarang ada orang lain yang bisa menebak jalan pikirannya. Juri
sendiri sepertinya tidak memiliki niat tertentu jika ia mengetahui rahasianya,
dan dia juga sadar dia membutuhkan orang lain untuk memahami perasaannya,
akhirnya dia menjawab.
“Aku
membencimu karena aku selalu dibanding-bandingkan oleh keluarga kita.” Kata
Shou. “Apa itu masalah bagimu?”
“Tidak, tidak
masalah kau membenciku. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam
mengatasi masalah dan rasa ketakutannya pada sesuatu. Aku tidak menyalahkan
caramu, melainkan aku ingin tahu alasannya.” Jawab Juri enteng.
“Aku membenci
orang tuaku, karena mereka selalu memandangku sebelah mata.” Shou meneruskan.
“Aku benci pada Tora, karena dia bersekongkol dengan yang lain untuk
mempekerjakan Yoriko tanpa sepengetahuanku. Aku benci Nao, karena dia selalu
bertingkah kekanakan. Aku benci Hiroto dan Saga karena mereka selalu
menggangguku. Aku benci pada PSC, karena mereka telah mengambil sebagian besar
kehidupanku demi keuntungan mereka. Aku benci pada kehidupanku sendiri,
karena...”
Mendadak
lidah Shou terasa kelu. Untuk apa dia membenci kehidupannya? Kehidupannya
sempurna, dia telah mendapatkan semua yang diinginkannya. Ketenaran,
berpuluh-puluh album bandnya sukses terjual di pasaran, penggemar yang
memujanya, apartemen dan mobil mewah, tidak ada alasan bagi Shou untuk membenci
kehidupannya. Tetapi kenapa ia mengatakannya? Pikiran Shou yang berkelana untuk
mencari jawabannya membawanya ke bayang-bayang seorang wanita dari masa lalunya,
seorang wanita yang secara diam-diam menyiksa batinnya dan membuat jiwanya
gelisah, seolah mengejeknya karena dengan segala yang Shou miliki, ia tidak
bisa mendapatkannya.
Seandainya
Shou memiliki sedikit keberanian, maka ia pun akan mengakui bahwa ia juga
membenci wanita itu karena segalanya.
Keheningan
Shou membuat Juri menyadari memang benar ada sesuatu yang sudah lama Shou
simpan di dalam dirinya, terlalu lama dan dalam sampai ia tidak bisa lagi
mengungkapkannya.
“Mungkin kau
sudah sering mendengar ini dari orang lain, tapi Shou, yakinlah alam semesta
memiliki rencana untukmu. Bukalah matamu, bisa jadi ada sesuatu kecil yang
luput dari matamu, sesuatu kecil yang bisa jadi adalah takdir yang mengetuk
pintumu.” Juri memberi nasihat.
Shou tidak
pernah percaya pada takdir. Takdir hanyalah bualan yang dibuat oleh manusia
demi menjelaskan sesuatu yang tidak bisa mereka pahami atau hanya bagian dari
cerita-cerita roman picisan yang ada di TV. Sedangkan Shou paham betul apa yang
dia alami sekarang.
“Sekarang kau
sudah mengakui seluruh kebencianmu pada orang lain, dan kini tersisa seorang
lagi.” Kata Juri.
“Siapa?”
“Kenapa kau
benci pada Yoriko?”
Oh bagus,
sekarang muncul pertanyaan itu. “Aku benci pada Yoriko karena... karena...”
Tunggu,
kenapa lidahnya juga ikut kelu saat menjawab pertanyaan ini? Seharusnya dia
bisa menjawabnya dengan lancar, dia telah memikirkan alasannya selama
perjalanan pulangnya tadi.
Tahu Shou
tidak akan menjawab pertanyaannya, Juri pun berkata, “Shou, aku yakin rasa
benci itu bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang nantinya
akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya. Suatu hari
nanti kau pasti akan menemukan caranya.”
Namun demi
segalanya yang telah Shou pertaruhkan di masa lalunya, ia tidak bisa
membenarkan ucapan Juri barusan. Karena keputus asaan yang telah ia rasakan
selama bertahun-tahun, ia membantah, “Bagaimana caranya? Bagaimana bisa jika
sesuatu itu adalah sesuatu yang terus menghantuimu karena kau tidak bisa
mendapatkannya?”
No comments:
Post a Comment