1
Kebanyakan
hantu senang berpindah-pindah karena kehilangan tempat mereka yang diambil oleh
manusia. Namun karena aku lebih memilih untuk tetap tinggal di sini dan tidak
pernah pergi ke mana pun. Ada beberapa hantu yang pernah mencoba mengambil
tempatku, atau meminta izinku untuk tinggal bersamaku. Aku pun tidak pernah
memberi izin karena tahu mereka hanya akan membuat kekacauan cepat atau lambat.
Oleh
karena itulah aku hanya bertemu dengan beberapa hantu selama aku menjadi arwah
penasaran seperti ini. Aku juga tidak pernah bertemu hantu-hantu yang sering
diceritakan anak-anak di perkemahan atau yang sering digosipkan masyarakat
sekitarku. Hantu-hantu itu pasti ada, namun kurasa mereka tidak pernah
menampakkan diri lagi karena takut akan perubahan yang amat besar yang
dilakukan para manusia. Mereka tidak lagi merasa kuat karena saat ini malah
manusia yang memburu keberadaan mereka.
Bicara
soal perubahan besar, pagi ini, rumahku tidak kosong lagi. Aku dibangunkan oleh
suara mesin truk yang parkir tepat di depan rumah. Pria yang berkunjung tempo
hari memasuki rumahku untuk menginstruksi petugas-petugas pindahan rumah dimana
mereka bisa menaruh semua perabotan pindahan yang ternyata tidak terlalu
banyak. Hanya ada beberapa perabotan seperti lemari, kardus besar berisi
benda-benda berharga seperti album foto, dokumen-dokumen penting, buku-buku,
dan peralatan dapur.
Namun
bukan berarti tugas-tugas mereka sampai di situ saja. Tugas mereka menghidupkan
kembali rumah ini cukup sulit dan memakan waktu lama. Mereka harus
menyingkirkan kain-kain dan membersihkan semua perabotan rumahku. Aku hanya
duduk di salah satu anak tangga menyaksikan mereka semua melakukan
pekerjaannya, membiarkan mereka yang berlalu-lalang di tangga menembus tubuhku
yang tidak terlihat. Lalu kulihat ada seorang petugas inspeksi masuk untuk
mengecek aliran listrik dan air serta kondisi rumah.
Aku
yakin petugas itu sama sekali tidak akan menemukan cela. Rumahku sangat kuat, kokoh
dan merupakan salah satu rumah termewah yang berada di daerah ini. Ayahku
membangunnya dari hasil jerih payahnya membangun usaha kecil yang akhirnya menjelma
menjadi sebuah perusahaan besar. Ibuku yang bertugas mengatur interior rumah
terinspirasi oleh rumah-rumah zaman dulu yang sederhana, tetapi nyaman dan
hangat. Begitu masuk, sebuah ruangan besar yang berfungsi sebagai ruang tamu
dan keluarga. Perabotannya terbuat dari kayu mahogani yang kokoh dan indah,
kursi dan sofa sangat empuk yang bisa digunakan sebagai tempat tidur. Hiasan
dan pajangan khas Jepang serta suvenir yang dibawa Ayah setiap kali dia bepergian
ke luar negeri menghiasi dinding dan setiap sudut ruangan dengan manis. Sebuah
perapian yang terbuat dari marmer siap menghangati ruangan setiap musim gugur
dan musim dingin yang udara dinginnya sangat menusuk. Minami, adikku, sering
membakar marshmallow kesukaannya di sana seolah-olah dia sedang berkemah.
Benar
saja, seperempat jam kemudian, petugas itu menemui pria pemilik baru rumahku
ini untuk berkata, “Nixon-san, saya tidak menemukan kerusakan yang berarti di
rumah baru Anda ini. Listrik dan aliran air juga tidak bermasalah. Alarm api
dan keamanan juga berfungsi dengan baik. Namun tidak ada salahnya jika Anda
mendaftar asuransi untuk berjaga-jaga.”
Pria
yang ternyata bernama Nixon itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada
petugas yang kemudian meninggalkan tempat. Kembali dia sibuk menata letak-letak
perabotan sesuai keinginannya. Aku gemas melihatnya mengubah sebagian besar
posisi perabotan sehingga menimbulkan suasana asing di rumahku sendiri. Hampir
saja aku meninggalkan mereka untuk kembali ke kamarku sebelum aku merasakan
aura baru yang sepertinya hendak memasuki rumah. Berbeda dari aura manusia lainnya
yang mengusik ketenanganku, aura ini terasa dingin namun juga hangat, ingin
tahu namun tidak menganggu, ramah namun terselubung, manis namun juga getir.
Aura
itu semakin terasa dekat, dan begitu kumenoleh, aku melihat seorang gadis
berdiri di ambang pintu. Kurasa gadis itu adalah putri Nixon yang disebut-sebut
oleh petugas real estate itu. Dia terlihat
ragu untuk masuk ke dalam. Dia pasti tahu rumahku ini memiliki sejarah yang
mengerikan. Namun sepertinya bukan itu alasan atas keraguannya.
“Sharon!
Bagaimana? Kau suka dengan rumah barumu?” Nixon-san mendekati putrinya.
“Ya,
kurasa.” Gadis itu menjawab dengan canggung. Dia dapat merasakan hawa aneh dan
asing di sekitar rumahku. Kurasa karena hawa keberadaanku, dia menjadi merasa
tidak nyaman.
“Rumah
ini memiliki empat kamar tidur. Kau boleh memilih tiga di antaranya untuk kau
jadikan kamarmu.” Nixon-san menyuruh putrinya menjelajahi rumahku.
Sharon
menarik kopernya dan membenarkan posisi tas ransel di punggungnya sebelum
masuk. Dia tampak tidak tertarik untuk menjelajahi ruangan yang ada di lantai
pertama dan fokus untuk mencari kamar barunya. Dia langsung menaiki tangga dan
menemukan lorong panjang yang memiliki banyak pintu. Selain kamar orang tuaku,
ada ruang kerja ayahku yang pasti akan diambil oleh Nixon-san, kamar Minami, kamarku,
kamar tamu, dan kamar mandi. Gadis itu keheranan mengapa benda-benda rumah ini
masih banyak tersisa di sini. Penyebabnya adalah keluarga dan kerabatku yang
lain sengaja tidak mau mengambilnya karena kenangan buruk kematian kami, serta
semua aset rumah ini yang pasti dibahas di dalam surat wasiat ayahku yang tidak
pernah ditemukan. Kudengar dari petugas real
estate, karena surat wasiat yang hilang itu, sesuai instruksi pengacara
ayahku, rumah ini dan seluruh asetnya untuk sementara dimiliki dan dikelola
oleh orang-orang yang bertanggung jawab di perusahaan ayahku. Mereka menitipkan
rumah ini pada keluarga Nixon sebagai rasa terima kasih mereka kepada Nixon-san
yang bersedia datang jauh-jauh dari Inggris untuk menjadi konsultan perusahaan
yang keadaannya sedang terombang-ambing karena kehilangan pemimpinnya yang
baik.
Sharon
berbelok ke kiri lorong dan berjalan pelan. Sesekali dia menengok sedikit ke
belakang karena merasa ada sesuatu yang tidak terlihat sedang mengawasinya
yaitu aku. Dia mencoba membuka setiap pintu namun kesal karena masih terkunci
rapat. Sepertinya Nixon-san lupa memberinya kunci.
Sharon
pun sampai di depan pintu di ujung lorong yang hendak dibukanya. Pintu itu
adalah kamarku, tempat persembunyianku, dan sebagai seorang hantu, aku tidak
bisa membiarkan manusia mengusiknya. Aku tidak akan sudi melihatnya diubah
seperti Nixon-san yang mengubah letak perabotan yang sudah diatur ibuku
sedemekian rupa. Tentu saja pintu kamarku terkunci seperti pintu yang lain.
Bisa saja sekarang aku tersenyum sinis karena dia tidak bisa memasukinya.
Akan
tetapi, karena aura kehangatan yang belum pernah kurasakan dari manusia mana
pun yang kujumpai sejak aku berubah menjadi arwah penasaran yang hina seperti
ini, aku mengubah pikiran itu. Setelah sekian lama menjadi tidak terlihat dan
tidak disadari keberadaannya oleh manusia, harus kuakui ada rasa senang yang
kurasakan saat gadis ini merasakan kehadiranku meski hanya sedikit. Tidak
seperti manusia lain yang merasa aneh dan takut, gadis ini malah beraura ramah
seakan dia mengucapkan selamat datang untukku, bukannya aku yang seharusnya
melakukannya.
Dia
tahu ada sesuatu yang akan membuatnya merasa tertarik di balik pintu ini. Sesuatu
yang akan membuatnya tidak lagi ragu untuk tinggal di rumah ini. Dia sudah pergi
jauh dari rumahnya, dan tidak ada salahnya jika sebagai seorang hantu aku bisa
membuatnya nyaman.
Gadis
itu terkejut saat pintu yang terkunci rapat tiba-tiba terbuka sedikit karena
‘bantuan’ dariku. Namun bukannya waswas atau berlari ketakutan, dia hanya mengangkat
bahu dan membuka pintu itu lebih lebar lagi.
Dia
terpana melihat ruangan yang ada di depan matanya. Dari poster band-band rock Jepang
yang menempel di dinding serta beberapa bola sepak di sudut ruangan, dia
langsung tahu kamar ini dulunya ditempati oleh seorang anak lelaki. Dia menaruh
koper dan menjatuhkan tas ranselnya begitu saja di lantai begitu melihat ranjangku
yang tertutupi kain putih. Dia langsung menarik kain putih itu dan membanting
tubuhnya di atas kasur yang empuk. Hawa dingin yang tersisa dari jejakku yang
selalu menempatinya malah membuatnya nyaman dan mengantuk. Dia pasti kelelahan
karena perjalanan panjangnya.
Sadar
tidak boleh tertidur sekarang, dia hanya meregangkan tubuhnya dan turun dari
ranjang. Dia memperhatikan semua sudut kamarku dengan teliti. Kamarku sama
seperti kamar remaja lelaki kebanyakan. Aku tidak mengizinkan ibuku mengecat
dinding putih kamarku seperti yang dia lakukan pada kamar Minami yang disulap
menjadi merah muda. Meja belajar di depan ranjang terdapat komputer yang sarat
akan film-film anime dan lagu-lagu band kesukaanku. Rak buku mini di samping
ranjang penuh oleh komik dan majalah. Gitar akustik juga teronggok di
sampingnya.
Dia
membuka tirai dan jendela kamar lebar-lebar, menghirup udara dingin segar musim
gugur yang masuk dan menerpa wajahnya. Dia dapat melihat halaman belakang
rumahku yang kotor karena daun-daun yang
gugur dari pohon-pohon halaman. Instingnya sebagai orang Inggris memutuskan
untuk membersihkan halaman itu begitu mereka sudah mapan di sini nanti.
Sharon
berpindah ke kloset kamarku, membuka pintunya, dan menemukan semua pakaianku di
sana. Dari situ dia dapat membayangkan seorang remaja lelaki bangkit dari
tempat tidurnya sepagi ini untuk bersiap pergi ke sekolah, dia dapat melihat
sosok remaja itu di cermin kamar yang tidak jauh darinya. Sosok pemuda yang
selalu bercermin saat dia merapikan seragam sekolahnya dan menyisir rambutnya,
memastikan rambutnya juga sudah tertata sedemikian rupa agar tidak ketahuan
guru karena sudah melebihi panjang rambut sesuai aturan sekolah. Dia juga dapat
membayangkan dengan jelas seakan dia dapat mendengarkannya secara langsung
pemuda itu bersiul riang untuk menyambut pagi yang cerah ini.
Tetapi
semua bayangan itu ternodai oleh ingatannya bahwa pemuda itu mati dengan tragis
di rumah ini. Dan yang tidak diketahuinya, pemuda itu mati saat dia tertidur di
atas ranjang tempatnya berbaring tadi. Gadis itu merasa sesak dan masih belum
percaya saat mengingatnya, seorang pemuda yang dulu seusia dengannya mati di
sini bersama keluarganya.
Lagi-lagi,
bukannya kengerian dan ketakutan yang dirasakannya, dia malah menutup pintu
klosetku dengan rapat seperti sebelumnya seraya membuat keputusannya. Dia akan
meminta ayahnya menempatkan salah satu lemari yang mereka bawa dari Inggris di
kamar ini agar dia tidak perlu menggunakan klosetku. Dia juga akan berkata pada
ayahnya kamar ini akan menjadi kamar barunya, dimana dia akan merasakan duka
yang dalam, dendam yang menyesakkan, dan kesedihan yang tidak terbatas yang
akan kubawa.
Dia
merasakan sentuhan yang sangat dingin saat aku menepuk pundaknya. Sentuhan itu
menemteramkan hatinya, dan meyakinkannya bahwa dia tidak membuat keputusan yang
salah. Dia sadar dia tidak akan sendiri di kamar ini, dan dia menerimanya. Berkat
itulah aku dapat merelakan tempat persembunyianku ini menjadi tempat
persembunyiannya sekarang dari dunia baru yang akan dijelajahinya.
Dan
melalui angin musim gugur yang menyusup masuk ke kamar, kubisikkan ucapan selamat
datangku untuknya.
No comments:
Post a Comment