Wednesday, May 29, 2013

The Invisible (1)

1

            Kebanyakan hantu senang berpindah-pindah karena kehilangan tempat mereka yang diambil oleh manusia. Namun karena aku lebih memilih untuk tetap tinggal di sini dan tidak pernah pergi ke mana pun. Ada beberapa hantu yang pernah mencoba mengambil tempatku, atau meminta izinku untuk tinggal bersamaku. Aku pun tidak pernah memberi izin karena tahu mereka hanya akan membuat kekacauan cepat atau lambat.
           Oleh karena itulah aku hanya bertemu dengan beberapa hantu selama aku menjadi arwah penasaran seperti ini. Aku juga tidak pernah bertemu hantu-hantu yang sering diceritakan anak-anak di perkemahan atau yang sering digosipkan masyarakat sekitarku. Hantu-hantu itu pasti ada, namun kurasa mereka tidak pernah menampakkan diri lagi karena takut akan perubahan yang amat besar yang dilakukan para manusia. Mereka tidak lagi merasa kuat karena saat ini malah manusia yang memburu keberadaan mereka.
            Bicara soal perubahan besar, pagi ini, rumahku tidak kosong lagi. Aku dibangunkan oleh suara mesin truk yang parkir tepat di depan rumah. Pria yang berkunjung tempo hari memasuki rumahku untuk menginstruksi petugas-petugas pindahan rumah dimana mereka bisa menaruh semua perabotan pindahan yang ternyata tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa perabotan seperti lemari, kardus besar berisi benda-benda berharga seperti album foto, dokumen-dokumen penting, buku-buku, dan peralatan dapur.
            Namun bukan berarti tugas-tugas mereka sampai di situ saja. Tugas mereka menghidupkan kembali rumah ini cukup sulit dan memakan waktu lama. Mereka harus menyingkirkan kain-kain dan membersihkan semua perabotan rumahku. Aku hanya duduk di salah satu anak tangga menyaksikan mereka semua melakukan pekerjaannya, membiarkan mereka yang berlalu-lalang di tangga menembus tubuhku yang tidak terlihat. Lalu kulihat ada seorang petugas inspeksi masuk untuk mengecek aliran listrik dan air serta kondisi rumah.
            Aku yakin petugas itu sama sekali tidak akan menemukan cela. Rumahku sangat kuat, kokoh dan merupakan salah satu rumah termewah yang berada di daerah ini. Ayahku membangunnya dari hasil jerih payahnya membangun usaha kecil yang akhirnya menjelma menjadi sebuah perusahaan besar. Ibuku yang bertugas mengatur interior rumah terinspirasi oleh rumah-rumah zaman dulu yang sederhana, tetapi nyaman dan hangat. Begitu masuk, sebuah ruangan besar yang berfungsi sebagai ruang tamu dan keluarga. Perabotannya terbuat dari kayu mahogani yang kokoh dan indah, kursi dan sofa sangat empuk yang bisa digunakan sebagai tempat tidur. Hiasan dan pajangan khas Jepang serta suvenir yang dibawa Ayah setiap kali dia bepergian ke luar negeri menghiasi dinding dan setiap sudut ruangan dengan manis. Sebuah perapian yang terbuat dari marmer siap menghangati ruangan setiap musim gugur dan musim dingin yang udara dinginnya sangat menusuk. Minami, adikku, sering membakar marshmallow kesukaannya di sana seolah-olah dia sedang berkemah.
            Benar saja, seperempat jam kemudian, petugas itu menemui pria pemilik baru rumahku ini untuk berkata, “Nixon-san, saya tidak menemukan kerusakan yang berarti di rumah baru Anda ini. Listrik dan aliran air juga tidak bermasalah. Alarm api dan keamanan juga berfungsi dengan baik. Namun tidak ada salahnya jika Anda mendaftar asuransi untuk berjaga-jaga.”
            Pria yang ternyata bernama Nixon itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada petugas yang kemudian meninggalkan tempat. Kembali dia sibuk menata letak-letak perabotan sesuai keinginannya. Aku gemas melihatnya mengubah sebagian besar posisi perabotan sehingga menimbulkan suasana asing di rumahku sendiri. Hampir saja aku meninggalkan mereka untuk kembali ke kamarku sebelum aku merasakan aura baru yang sepertinya hendak memasuki rumah. Berbeda dari aura manusia lainnya yang mengusik ketenanganku, aura ini terasa dingin namun juga hangat, ingin tahu namun tidak menganggu, ramah namun terselubung, manis namun juga getir.
            Aura itu semakin terasa dekat, dan begitu kumenoleh, aku melihat seorang gadis berdiri di ambang pintu. Kurasa gadis itu adalah putri Nixon yang disebut-sebut oleh petugas real estate itu. Dia terlihat ragu untuk masuk ke dalam. Dia pasti tahu rumahku ini memiliki sejarah yang mengerikan. Namun sepertinya bukan itu alasan atas keraguannya.
            “Sharon! Bagaimana? Kau suka dengan rumah barumu?” Nixon-san mendekati putrinya.
            “Ya, kurasa.” Gadis itu menjawab dengan canggung. Dia dapat merasakan hawa aneh dan asing di sekitar rumahku. Kurasa karena hawa keberadaanku, dia menjadi merasa tidak nyaman.
            “Rumah ini memiliki empat kamar tidur. Kau boleh memilih tiga di antaranya untuk kau jadikan kamarmu.” Nixon-san menyuruh putrinya menjelajahi rumahku.
            Sharon menarik kopernya dan membenarkan posisi tas ransel di punggungnya sebelum masuk. Dia tampak tidak tertarik untuk menjelajahi ruangan yang ada di lantai pertama dan fokus untuk mencari kamar barunya. Dia langsung menaiki tangga dan menemukan lorong panjang yang memiliki banyak pintu. Selain kamar orang tuaku, ada ruang kerja ayahku yang pasti akan diambil oleh Nixon-san, kamar Minami, kamarku, kamar tamu, dan kamar mandi. Gadis itu keheranan mengapa benda-benda rumah ini masih banyak tersisa di sini. Penyebabnya adalah keluarga dan kerabatku yang lain sengaja tidak mau mengambilnya karena kenangan buruk kematian kami, serta semua aset rumah ini yang pasti dibahas di dalam surat wasiat ayahku yang tidak pernah ditemukan. Kudengar dari petugas real estate, karena surat wasiat yang hilang itu, sesuai instruksi pengacara ayahku, rumah ini dan seluruh asetnya untuk sementara dimiliki dan dikelola oleh orang-orang yang bertanggung jawab di perusahaan ayahku. Mereka menitipkan rumah ini pada keluarga Nixon sebagai rasa terima kasih mereka kepada Nixon-san yang bersedia datang jauh-jauh dari Inggris untuk menjadi konsultan perusahaan yang keadaannya sedang terombang-ambing karena kehilangan pemimpinnya yang baik.
            Sharon berbelok ke kiri lorong dan berjalan pelan. Sesekali dia menengok sedikit ke belakang karena merasa ada sesuatu yang tidak terlihat sedang mengawasinya yaitu aku. Dia mencoba membuka setiap pintu namun kesal karena masih terkunci rapat. Sepertinya Nixon-san lupa memberinya kunci.
            Sharon pun sampai di depan pintu di ujung lorong yang hendak dibukanya. Pintu itu adalah kamarku, tempat persembunyianku, dan sebagai seorang hantu, aku tidak bisa membiarkan manusia mengusiknya. Aku tidak akan sudi melihatnya diubah seperti Nixon-san yang mengubah letak perabotan yang sudah diatur ibuku sedemekian rupa. Tentu saja pintu kamarku terkunci seperti pintu yang lain. Bisa saja sekarang aku tersenyum sinis karena dia tidak bisa memasukinya.
            Akan tetapi, karena aura kehangatan yang belum pernah kurasakan dari manusia mana pun yang kujumpai sejak aku berubah menjadi arwah penasaran yang hina seperti ini, aku mengubah pikiran itu. Setelah sekian lama menjadi tidak terlihat dan tidak disadari keberadaannya oleh manusia, harus kuakui ada rasa senang yang kurasakan saat gadis ini merasakan kehadiranku meski hanya sedikit. Tidak seperti manusia lain yang merasa aneh dan takut, gadis ini malah beraura ramah seakan dia mengucapkan selamat datang untukku, bukannya aku yang seharusnya melakukannya.
            Dia tahu ada sesuatu yang akan membuatnya merasa tertarik di balik pintu ini. Sesuatu yang akan membuatnya tidak lagi ragu untuk tinggal di rumah ini. Dia sudah pergi jauh dari rumahnya, dan tidak ada salahnya jika sebagai seorang hantu aku bisa membuatnya nyaman.
            Gadis itu terkejut saat pintu yang terkunci rapat tiba-tiba terbuka sedikit karena ‘bantuan’ dariku. Namun bukannya waswas atau berlari ketakutan, dia hanya mengangkat bahu dan membuka pintu itu lebih lebar lagi.
            Dia terpana melihat ruangan yang ada di depan matanya. Dari poster band-band rock Jepang yang menempel di dinding serta beberapa bola sepak di sudut ruangan, dia langsung tahu kamar ini dulunya ditempati oleh seorang anak lelaki. Dia menaruh koper dan menjatuhkan tas ranselnya begitu saja di lantai begitu melihat ranjangku yang tertutupi kain putih. Dia langsung menarik kain putih itu dan membanting tubuhnya di atas kasur yang empuk. Hawa dingin yang tersisa dari jejakku yang selalu menempatinya malah membuatnya nyaman dan mengantuk. Dia pasti kelelahan karena perjalanan panjangnya.
            Sadar tidak boleh tertidur sekarang, dia hanya meregangkan tubuhnya dan turun dari ranjang. Dia memperhatikan semua sudut kamarku dengan teliti. Kamarku sama seperti kamar remaja lelaki kebanyakan. Aku tidak mengizinkan ibuku mengecat dinding putih kamarku seperti yang dia lakukan pada kamar Minami yang disulap menjadi merah muda. Meja belajar di depan ranjang terdapat komputer yang sarat akan film-film anime dan lagu-lagu band kesukaanku. Rak buku mini di samping ranjang penuh oleh komik dan majalah. Gitar akustik juga teronggok di sampingnya.
            Dia membuka tirai dan jendela kamar lebar-lebar, menghirup udara dingin segar musim gugur yang masuk dan menerpa wajahnya. Dia dapat melihat halaman belakang rumahku yang kotor  karena daun-daun yang gugur dari pohon-pohon halaman. Instingnya sebagai orang Inggris memutuskan untuk membersihkan halaman itu begitu mereka sudah mapan di sini nanti.
            Sharon berpindah ke kloset kamarku, membuka pintunya, dan menemukan semua pakaianku di sana. Dari situ dia dapat membayangkan seorang remaja lelaki bangkit dari tempat tidurnya sepagi ini untuk bersiap pergi ke sekolah, dia dapat melihat sosok remaja itu di cermin kamar yang tidak jauh darinya. Sosok pemuda yang selalu bercermin saat dia merapikan seragam sekolahnya dan menyisir rambutnya, memastikan rambutnya juga sudah tertata sedemikian rupa agar tidak ketahuan guru karena sudah melebihi panjang rambut sesuai aturan sekolah. Dia juga dapat membayangkan dengan jelas seakan dia dapat mendengarkannya secara langsung pemuda itu bersiul riang untuk menyambut pagi yang cerah ini.
            Tetapi semua bayangan itu ternodai oleh ingatannya bahwa pemuda itu mati dengan tragis di rumah ini. Dan yang tidak diketahuinya, pemuda itu mati saat dia tertidur di atas ranjang tempatnya berbaring tadi. Gadis itu merasa sesak dan masih belum percaya saat mengingatnya, seorang pemuda yang dulu seusia dengannya mati di sini bersama keluarganya.
            Lagi-lagi, bukannya kengerian dan ketakutan yang dirasakannya, dia malah menutup pintu klosetku dengan rapat seperti sebelumnya seraya membuat keputusannya. Dia akan meminta ayahnya menempatkan salah satu lemari yang mereka bawa dari Inggris di kamar ini agar dia tidak perlu menggunakan klosetku. Dia juga akan berkata pada ayahnya kamar ini akan menjadi kamar barunya, dimana dia akan merasakan duka yang dalam, dendam yang menyesakkan, dan kesedihan yang tidak terbatas yang akan kubawa.
            Dia merasakan sentuhan yang sangat dingin saat aku menepuk pundaknya. Sentuhan itu menemteramkan hatinya, dan meyakinkannya bahwa dia tidak membuat keputusan yang salah. Dia sadar dia tidak akan sendiri di kamar ini, dan dia menerimanya. Berkat itulah aku dapat merelakan tempat persembunyianku ini menjadi tempat persembunyiannya sekarang dari dunia baru yang akan dijelajahinya.

            Dan melalui angin musim gugur yang menyusup masuk ke kamar, kubisikkan ucapan selamat datangku untuknya.

No comments:

Post a Comment