Wednesday, May 29, 2013

The Invisible (2)

2

          Siang itu juga, Sharon mulai menata kamarku yang kini menjadi kamar barunya. Dia memindahkan sendiri kardus-kardus yang berisi barang-barang yang dibawanya dari Inggris. Di antaranya adalah pakaian, buku-buku, dan benda-benda kecil yang berharga lainnya seperti foto-foto, alat tulis yang lucu-lucu, dan CD-CD musik kesukaannya.
            Dia memberi seprai jingga bermotif dedaunan di kasur ranjang dan mengganti tirai jendela yang sudah kusam warnanya dengan tirai tipis berwarna keemasan. Semakin dia banyak mengganti suasana kamarku sesuai dengan seleranya, aku menjadi tahu gadis ini ternyata menyukai sesuatu yang bernuansa alam. Dia bukanlah tipe gadis yang suka mengoleksi barang-barang heboh yang aneh dan tidak berguna. Tempat pensilnya saja yang kini diletakkan di meja belajarku terbuat dari bahan daur ulang. Pakaiannya juga tidak terlalu sesuai dengan mode masa kini namun sangat pantas untuk kesederhanaan dan kerendah hatian yang terpancar dari auranya.
            Dia menyingkirkan poster-poster band kesukaanku dari dinding. Sebelumnya dia mengernyitkan dahi, tidak dapat mengenali band-band itu karena kebanyakan personelnya berpakaian serba hitam dan berdandan cantik layaknya para rocker Jepang. Dia mengganti poster-poster itu dengan foto-fotonya bersama teman-temannya di Inggris. Di sana mereka terlihat sangat senang, dan untuk sekilas, aku dapat mengambil kesimpulan Sharon memiliki kehidupan yang cukup bahagia di sana meskipun ibunya telah tiada. Kemudian kusadari di antara foto-foto itu ada beberapa foto Pangeran William dan istrinya yang adalah anggota keluarga kerajaan Inggris. Seingatku, dulu pernah kubaca di internet, orang-orang Inggris sangat menyukai keluarga kerajaan layaknya menggemari seorang selebriti saja. Sepertinya Sharon adalah salah satu dari mereka.
            Setelah itu dia menyeka debu-debu tipis yang menyelimuti perabotan kamar dan membersihkan lantai dengan penyedot debu yang dibawanya. Dia menyemprotkan sedikit wewangian lavender ke penjuru kamar untuk menghilangkan bau pengap ruangan.
            Untuk sementara dia cukup puas dengan interior kamar barunya yang ditatanya sendiri. Aku penasaran mengapa gadis ini langsung mengambil kamarku begitu saja tanpa melihat kamar lainnya terlebih dulu. Kamar Minami yang lebih feminin dan manis akan cocok sekali dengan kepribadiannya. Kamar tamu juga lebih luas dan lebih terang dari kamarku. Bahkan kamar itu juga memiliki pintu yang mengarah langsung ke kamar mandi. Ibuku sengaja mengaturnya seperti itu agar tamu yang menginap tidak perlu repot bergantian menggunakan kamar mandi dengan orang rumah.
            Dia mengeluarkan stereo dari kardus yang terakhir dibukanya di meja belajar lalu mencolokkan kabelnya ke steker kamar. Dia mengambil salah satu CD yang sudah tertata rapi di rak. Jika dia tidak memahami siapa artis yang posternya dia singkirkan tadi, aku juga tidak tahu banyak CD band-band koleksinya itu. Sepertinya kebanyakan berasal dari Inggris dan termasuk lagu rock tahun 90an. Dia mengambil CD band Elbow untuk diputar di stereo. Tidak lama kemudian, suara musik rock khas 90an mengisi ruangan sementara dia mengempaskan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang.
            Selama sesaat, aku seperti berada di suatu bar di mana yang berkunjung adalah para anggota geng motor, berandalan, dan penjahat jalanan. Suasana bar sangat kacau karena banyak tumpahan bir dan muntahan di lantai, belum termasuk beberapa pengunjung ada yang saling berkelahi. Bau asap rokok dan mariyuana memenuhi atmosfer udara. Lucunya, Sharon berada di antara mereka. Duduk di konter bar, menyesap segelas besar bir dengan cuek, sepuntung rokok menyala di jemari lembutnya. Tidak kusangka ada jiwa pemberontak bersembunyi di balik bayang-bayang sikap femininnya. Rasanya dengan mengamatinya dari sudut kamar yang dingin ini, aku seperti telah mengenalnya lama sekali.
            Sharon Nixon adalah sosok yang sangat menarik bagiku sebagai orang Jepang. Meskipun aku sering bertemu dengan orang asing yang kebanyakan adalah teman kerja ayahku, aku tidak bisa melepaskan perhatianku dari Sharon. Dia berkulit putih pucat dan berwajah bulat. Matanya biru dan hidungnya mungil khas orang Inggris. Setiap kali bibir tipisnya tersenyum, giginya yang seperti gigi kelinci akan terlihat. Akan tetapi, kekurangannya itu malah membuatnya semakin manis. Rambutnya ikal berwarna merah kecokelatan seperti warna dedaunan di musim gugur. Aku sangat yakin dia mewarisi rambut itu dari ibunya karena ayahnya berambut pirang.
            Dia tidak tahu gaya berpakaiannya ternyata memiliki nama tersendiri di Jepang yaitu Mori Kei. Pakaian-pakaiannya didominasi oleh rok, gaun longgar, jaket tipis, syal, celana ketat, sepatu boot kulit dan pantofel bergaya jaman dulu, dan aksesoris kupu-kupu atau bunga.
            Aku berpindah ke sisinya. Agak aneh rasanya mengendap-endap seperti ini seperti pencuri agar tidak mengusik ketenangannya. Padahal aku tidak terlihat, hidup pun tidak. Aku menyatu dengan udara yang dia hirup, menyelubung di antara kehidupan seperti kutu di antara rambut, dan terlupakan seperti mimpi yang dialami seseorang sebelum dia terjaga dari tidurnya.
            Dia begitu panas, aku begitu dingin. Mungkin rasanya akan seperti lepuhan asap dari api yang dipadamkan oleh air jika kami saling bersentuhan sedikit saja.
            Matanya lama-lama terpejam, napasnya mengalir lembut dan teratur, dia mulai tertidur. Meninggalkanku berdebar-debar tidak karuan di sini karenanya. Seperti inikah rasanya berinteraksi dengan manusia setelah sekian lama bersembunyi di dalam kegelapan?

===

            Sharon dibangunkan oleh suara ketukan pintu ayahnya yang memanggil dari luar kamar. Begitu terjaga, dia mendapati jendela kamar terbuka lebar. Langit kelabu musim gugur di siang hari digantikan oleh warna keemasan langit senja yang sedikit demi sedikit menghitam. Gadis itu menutup jendelanya dan merapikan sedikit rambutnya sebelum membuka pintu untuk ayahnya.
            “Sebentar lagi makan malam. Aku tidak ingin makan malam pertamaku di rumah ini sendirian.” Nixon-san mengajak putrinya keluar.
            “Baik, Yah.” Sharon menuruti ayahnya. Dia menutup pintu kamar dan berjalan bersama ayahnya ke dapur. Nixon-san sudah membeli makanan siap saji dari minimarket dan hanya perlu dihangatkan dengan microwave.
            Sharon merasa sedikit kagum ketika memasuki dapur barunya. Dapur rumahku ternyata sedikit lebih besar daripada dapur rumahnya di Inggris dengan nuansa yang tidak jauh berbeda. Didominasi oleh kayu dan warna tanah kesukaannya, dia merasa seperti kembali ke rumah lamanya. Semua peralatan memasak menggantung di atas kompor listrik yang berada di tengah-tengah dapur. Perabotan dapur lainnya juga masih berfungsi dengan baik seperti microwave yang baru saja dicek oleh Nixon-san untuk menghangatkan makanannya dan makanan Sharon, mesin pembuat kopi dan teh, kulkas, mesin cuci piring, wastafel, dan oven.
            “Kalau ibumu ada di sini, dia pasti akan sangat menyukai dapur ini.” ujar Nixon-san seraya memasukkan bahan makanan ke dalam microwave.
            Sekilas aku menangkap wajah Sharon yang sedang mengambil piring dari lemari berubah sendu, seakan ucapan ayahnya tadi menusuknya. “Sayangnya ibu tidak ada di sini, Yah...”
            Nixon-san menangkap arti ucapan Sharon dan tidak membalasnya.
            “Aku bahkan tidak sempat berkunjung ke makamnya sebelum kita berangkat ke sini...” kata Sharon. “Belum pernah aku berada sejauh ini darinya...”
            “Sharon, ibumu pasti ingin kau menikmati tempat baru ini. Tidakkah kau penasaran dengan petualangan baru yang akan kau hadapi di sini? Kau bisa bertemu orang-orang baru dan mengunjungi tempat-tempat menakjubkan di kota ini. Ini kesempatan kita untuk memulai hidup yang lebih baik, Nak.” Nixon-san berusaha meyakinkannya.
            Sharon mencoba untuk memahami perasaan ayahnya. Ayahnya telah mendapatkan pekerjaan di kota ini dengan susah payah. Dia tahu sang ayah juga sama berdukanya dengannya. Kematian wanita yang amat mereka sayangi itu menghapus kebahagiaan mereka dalam sekejap.
            Dia hendak membalas ucapan ayahnya sebelum mendengar bel rumah berbunyi. Mereka saling berpandangan, siapa gerangan yang mengunjungi mereka?
            “Aku baru sadar bel rumah ternyata berfungsi dengan baik.” celetuk Nixon-san. “Bisakah kau membuka pintunya?”
            Sharon langsung berjalan menuju pintu depan untuk membuka pintunya. Ternyata tamunya adalah seorang wanita paruh baya yang dulu sangat kukenal. Dia adalah Tomoko Kohara, wanita yang tinggal tepat di samping rumahku. Wajahnya tetap memancarkan aura semangat meski sedikit berkeriput. Mata sipitnya yang berkacamata selalu berbinar ramah kepada siapa pun yang ditemuinya. Dia tersenyum pada Sharon seraya memperkenalkan dirinya.
          “Aku ke sini ingin mengucapkan selamat datang pada tetangga baru kami. Semoga kau tidak keberatan, Nak.” Ujar Bibi Tomoko sambil menyerahkan sekantung hadiah yang berisi sebotol wine dan kue-kue kepada Sharon.
            “Oh... terima kasih, Tomoko-san.” Jawab Sharon sedikit terkejut karena tidak menyangka akan menerima hadiah itu dan keramah tamahan wanita itu. “Kami baru saja hendak makan malam. Anda ingin masuk dan bergabung dengan kami?”
            “Jika tidak merepotkan kalian. Kudengar kau hanya tinggal berdua dengan ayahmu.” Jawab Bibi Tomoko sungkan meski dia tetap masuk ke dalam rumah.
            “Tidak apa. Jika Anda mau, aku bisa menyiapkan teh hangat untuk teman mengobrol.” Sharon menawarkan, mempersilakan Bibi Tomoko duduk di sofa.
            “Kalian orang Inggris sungguh ramah rupanya.” Bibi Tomoko berterima kasih. “Tidak kusangka kau juga bisa berbahasa Jepang, Nak. Padahal tadi aku sempat ragu untuk datang kemari karena aku tidak bisa berbahasa Inggris.”
            “Tantenya menikah dengan orang Jepang dan suaminya itu sering berkunjung ke London. Jadi kami bisa berbahasa Jepang darinya.” Nixon-san muncul dari dapur untuk menyambut Bibi Tomoko.
            “Oh, begitu.” Bibi Tomoko terkesan. “Senang sekali melihat rumah ini kembali ditinggali. Sejak kejadian memilukan itu, tidak ada yang berani mendekati rumah ini karena takut...”
            “Ah, kejadian pembunuhan keluarga itu sama sekali tidak menakuti kami. Ya kan, Sharon?” Nixon-san menoleh ke putrinya yang hanya tersenyum simpul. Sepertinya dia tidak bisa menanggapi sejarah pembantaian keluargaku di rumah ini seenteng ayahnya.
            “Aku akan menyiapkan teh untuk kita.” Ujar Sharon sambil berbalik ke dapur.

===

            Setelah semua makanan lezat dan teh hangat sudah terhidang di meja makan, barulah mereka berkenalan dan mengobrol lebih jauh lagi dengan Bibi Tomoko. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Keluarganya dan keluargaku berteman sangat dekat. Bibi Tomoko sering melakukan kegiatan bersama ibuku, suaminya sering pergi memancing bersama ayahku, anak-anaknya juga setiap hari bermain bersamaku dan Minami. Mereka sangat kehilangan kami yang meninggalkan mereka secara tiba-tiba. Di mata mereka, keluargaku sangat baik. Orang tuaku sering sekali membantu bila kesulitan melanda keluarga itu.
            Itulah yang diceritakannya pada keluarga Nixon saat ini. Melihat ternyata keluarga Nixon memiliki seorang gadis yang seusia dengan putranya, Bibi Tomoko berkata, “Kalau kau sempat, mampirlah ke rumahku. Putraku pasti akan senang sekali berkenalan denganmu, Sharon-chan.”
            “Ya, tentu saja.” Sharon menyanggupi permintaannya meskipun saat ini dia sedang tidak ingin bertemu orang-orang baru.
            Bibi Tomoko memang terkenal cerewet di daerah perumahan ini. Namun tampaknya kecerewetan itu malah membuat keluarga Nixon lebih terbuka. Nixon-san sempat khawatir karena mereka adalah orang asing, mereka akan sulit mendapat teman baru di sini.
            “Jika Anda tidak keberatan...” Sharon berkata pelan. “maukah Anda menceritakan seperti apa keluarga Yutaka yang dulu pernah tinggal di rumah ini?”
            “Mereka adalah keluarga yang sangat baik, Nak. Meskipun kaya raya, mereka tetap rendah hati dan menerima siapa pun apa adanya.” Itulah kesan Bibi Tomoko yang membekas di hatinya tentang kami. Aku tersentuh mendengarnya.
            “Sayangnya, hingga sekarang pelaku yang tega melakukan perbuatan biadab terhadap mereka itu masih belum ditemukan. Aku tidak habis pikir, apa salah mereka hingga orang itu sangat membenci mereka?” kata Bibi Tomoko prihatin.
            “Apa karena mereka ingin merampok rumah ini?” Nixon-san menebak. “Harus kuakui, semua perabotan peninggalan mereka di sini mahal sekali harganya.”
            “Menurut polisi, tidak ada satu pun benda yang diambil dari rumah ini.” jawab Bibi Tomoko.
            “Siapa saja yang tewas di rumah ini pada malam pembunuhan itu, Bibi?” tanya Sharon.
            “Yutaka-san dan istrinya, anak sulung mereka, Kai dan adik perempuannya, Minami.” Jawab Bibi Tomoko. “Mereka ditembak mati saat tertidur lelap.”
            Anehnya, cerita Bibi Tomoko tentang kematianku dan keluargaku sendiri sama sekali tidak mengusikku. Kebanyakan arwah manusia berubah menjadi hantu karena masih belum menerima nasib mereka. Namun kutahu, walaupun aku melakukan segala cara untuk menyangkal, aku tetaplah seorang hantu. Aku berada di sini untuk satu tujuan yaitu mencari tahu siapa pelakunya.
            Aku melihat Sharon yang masih penasaran dengan cerita tragisku. Dia cukup kaget mengetahui aku tewas di atas ranjang yang kini menjadi tempat tidurnya. Tetapi Nixon-san meminta Bibi Tomoko tidak perlu bercerita lebih jauh lagi soal itu karena akan merusak suasana hangat malam ini. Sharon pun merengut kecewa, hanya bisa mengaduk-aduk tehnya yang sudah mulai dingin di dalam cangkir. Dia masih ingin tahu siapa diriku, karena sepertinya kisahku akan membuatnya betah tinggal di sini dan menemani hari-hari barunya.

===

            Usai makan malam, Bibi Tomoko berpamitan pulang. Sharon juga mengecup pipi ayahnya, mengucapkan selamat malam sebelum masuk ke kamar untuk tidur. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama saat aku masuk. Kini dia sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, membayangkan persis di tempatnya berbaring ini seorang remaja lelaki seusianya tewas tertembak di dalam tidurnya.
            Perasaannya campur aduk. Ngeri, pilu, sekaligus bersemangat ingin mencari tahu siapa orang yang telah membunuhku. Semangatnya itulah yang membuatnya tidak bisa tidur. Padahal besok pagi adalah hari pertamanya bersekolah. Dia memandang langit-langit kamar seolah-olah dia sedang menatapku yang berbaring persis di sampingnya.
            Jika dia bisa melihatku, dia pasti akan mengajakku berkenalan. Dia akan menanyakan siapa namaku, kemana aku pergi bersekolah, apa makanan kesukaanku, hobiku, semuanya. Sayangnya dia tidak bisa, dan aku merasakan kekecewaan yang sama. Aku juga tidak suka mengikutinya seperti ini bak seorang penguntit.  
            Dia menghela napas panjang sebelum bangkit turun dari ranjang, berjalan menuju klosetku yang tidak digunakannya. Dia ingin tahu siapa diriku melalui pakaian-pakaian yang dulu kukenakan, dan beberapa benda yang tersembunyi di sana.
            Di bawah pakaian-pakaianku yang tergantung, terdapat beberapa pasang sepatuku, bola basket, tongkat baseball dan sarungnya, serta foto album dan tumpukan buku-buku pelajaranku.
            Sharon mengambil foto albumku terlebih dulu dan membukanya. Di halaman pertama, dia melihat fotoku yang tersenyum aneh di ruang makan. Setelah mengetahui seperti apa rupaku, dia tersenyum sendiri. Baginya, wajahku persis seperti yang dideskripsikan Bibi Tomoko: tampan dengan rambut jabrik hitam, bermata cokelat, berhidung mancung, memiliki lesung pipi, dan senyum lebar yang sangat menawan.
            Dia membuka halaman berikutnya dan melihat foto keluargaku di studio. Dia juga terkesan melihat Minami ternyata sangat manis. Adikku dulu memang populer di sekolahnya dan memiliki banyak penggemar karena kecantikannya. Namun sebelum para pemuda di sekolahnya berhasil memikat perhatiannya, dia sudah lebih dulu jatuh hati pada seorang remaja lelaki yang juga menyukainya.
            Puas melihat album fotoku, dia mengambil salah satu buku pelajaranku. Sharon memang bisa membaca huruf hiragana, katakana, dan huruf kanji dengan lancar, namun masih ada beberapa huruf kanji di buku Biologi itu yang tidak dapat dibacanya. Dia tergelak pelan melihat coret-coretan konyolku di buku itu karena dulu aku sering kebosanan di kelas. Dia yakin akan menemukan coret-coretan yang sama di buku lainnya. Ketika dia menikmati coretan di setiap halamannya, tiba-tiba dia terpaku saat sampai di halaman tengah.
            Noda merah yang sangat banyak dan telah mengering menempel di atas kertas putihnya. Matanya melebar ketakutan. Dia tahu noda apa itu. Aku langsung teringat buku itu berada di dalam dekapanku saat aku tertidur pada malam aku terbunuh itu. Darahku terciprat di sana, si pelaku benar-benar membuat kekacauan dengan meninggalkan diriku mati berlumuran darah.
            Sharon langsung memasukkan kembali semua buku-bukuku dan menutup rapat-rapat pintu kloset. Dia memang penasaran dengan kisahku dan tertarik dengan misteri, namun begitu dia menyentuh secara langsung saksi bisu kematianku yang tragis, bayang-bayang mengerikan tentang kematianku kini tergambar dengan sangat jelas di benaknya.

            Dia mematikan lampu kamar lalu kembali ke ranjangnya dan menarik selimutnya, berusaha untuk memejamkan matanya. Dia tidak tahu apakah malam ini dia bisa tidur nyenyak karena takut bayang-bayang itu akan menghantuinya.

No comments:

Post a Comment