2
Siang
itu juga, Sharon mulai menata kamarku yang kini menjadi kamar barunya. Dia
memindahkan sendiri kardus-kardus yang berisi barang-barang yang dibawanya dari
Inggris. Di antaranya adalah pakaian, buku-buku, dan benda-benda kecil yang
berharga lainnya seperti foto-foto, alat tulis yang lucu-lucu, dan CD-CD musik
kesukaannya.
Dia
memberi seprai jingga bermotif dedaunan di kasur ranjang dan mengganti tirai
jendela yang sudah kusam warnanya dengan tirai tipis berwarna keemasan. Semakin
dia banyak mengganti suasana kamarku sesuai dengan seleranya, aku menjadi tahu
gadis ini ternyata menyukai sesuatu yang bernuansa alam. Dia bukanlah tipe
gadis yang suka mengoleksi barang-barang heboh yang aneh dan tidak berguna. Tempat
pensilnya saja yang kini diletakkan di meja belajarku terbuat dari bahan daur
ulang. Pakaiannya juga tidak terlalu sesuai dengan mode masa kini namun sangat
pantas untuk kesederhanaan dan kerendah hatian yang terpancar dari auranya.
Dia
menyingkirkan poster-poster band kesukaanku dari dinding. Sebelumnya dia
mengernyitkan dahi, tidak dapat mengenali band-band itu karena kebanyakan
personelnya berpakaian serba hitam dan berdandan cantik layaknya para rocker
Jepang. Dia mengganti poster-poster itu dengan foto-fotonya bersama
teman-temannya di Inggris. Di sana mereka terlihat sangat senang, dan untuk
sekilas, aku dapat mengambil kesimpulan Sharon memiliki kehidupan yang cukup bahagia
di sana meskipun ibunya telah tiada. Kemudian kusadari di antara foto-foto itu
ada beberapa foto Pangeran William dan istrinya yang adalah anggota keluarga
kerajaan Inggris. Seingatku, dulu pernah kubaca di internet, orang-orang
Inggris sangat menyukai keluarga kerajaan layaknya menggemari seorang selebriti
saja. Sepertinya Sharon adalah salah satu dari mereka.
Setelah
itu dia menyeka debu-debu tipis yang menyelimuti perabotan kamar dan
membersihkan lantai dengan penyedot debu yang dibawanya. Dia menyemprotkan
sedikit wewangian lavender ke penjuru kamar untuk menghilangkan bau pengap ruangan.
Untuk
sementara dia cukup puas dengan interior kamar barunya yang ditatanya sendiri.
Aku penasaran mengapa gadis ini langsung mengambil kamarku begitu saja tanpa
melihat kamar lainnya terlebih dulu. Kamar Minami yang lebih feminin dan manis
akan cocok sekali dengan kepribadiannya. Kamar tamu juga lebih luas dan lebih
terang dari kamarku. Bahkan kamar itu juga memiliki pintu yang mengarah
langsung ke kamar mandi. Ibuku sengaja mengaturnya seperti itu agar tamu yang
menginap tidak perlu repot bergantian menggunakan kamar mandi dengan orang
rumah.
Dia
mengeluarkan stereo dari kardus yang terakhir dibukanya di meja belajar lalu
mencolokkan kabelnya ke steker kamar. Dia mengambil salah satu CD yang sudah
tertata rapi di rak. Jika dia tidak memahami siapa artis yang posternya dia
singkirkan tadi, aku juga tidak tahu banyak CD band-band koleksinya itu.
Sepertinya kebanyakan berasal dari Inggris dan termasuk lagu rock tahun 90an.
Dia mengambil CD band Elbow untuk diputar di stereo. Tidak lama kemudian, suara
musik rock khas 90an mengisi ruangan sementara dia mengempaskan tubuhnya yang
lelah ke atas ranjang.
Selama
sesaat, aku seperti berada di suatu bar di mana yang berkunjung adalah para
anggota geng motor, berandalan, dan penjahat jalanan. Suasana bar sangat kacau
karena banyak tumpahan bir dan muntahan di lantai, belum termasuk beberapa
pengunjung ada yang saling berkelahi. Bau asap rokok dan mariyuana memenuhi
atmosfer udara. Lucunya, Sharon berada di antara mereka. Duduk di konter bar,
menyesap segelas besar bir dengan cuek, sepuntung rokok menyala di jemari
lembutnya. Tidak kusangka ada jiwa pemberontak bersembunyi di balik bayang-bayang
sikap femininnya. Rasanya dengan mengamatinya dari sudut kamar yang dingin ini,
aku seperti telah mengenalnya lama sekali.
Sharon
Nixon adalah sosok yang sangat menarik bagiku sebagai orang Jepang. Meskipun
aku sering bertemu dengan orang asing yang kebanyakan adalah teman kerja
ayahku, aku tidak bisa melepaskan perhatianku dari Sharon. Dia berkulit putih pucat
dan berwajah bulat. Matanya biru dan hidungnya mungil khas orang Inggris.
Setiap kali bibir tipisnya tersenyum, giginya yang seperti gigi kelinci akan
terlihat. Akan tetapi, kekurangannya itu malah membuatnya semakin manis.
Rambutnya ikal berwarna merah kecokelatan seperti warna dedaunan di musim gugur.
Aku sangat yakin dia mewarisi rambut itu dari ibunya karena ayahnya berambut
pirang.
Dia
tidak tahu gaya berpakaiannya ternyata memiliki nama tersendiri di Jepang yaitu
Mori Kei. Pakaian-pakaiannya didominasi oleh rok, gaun longgar, jaket tipis,
syal, celana ketat, sepatu boot kulit dan pantofel bergaya jaman dulu, dan
aksesoris kupu-kupu atau bunga.
Aku
berpindah ke sisinya. Agak aneh rasanya mengendap-endap seperti ini seperti
pencuri agar tidak mengusik ketenangannya. Padahal aku tidak terlihat, hidup
pun tidak. Aku menyatu dengan udara yang dia hirup, menyelubung di antara kehidupan
seperti kutu di antara rambut, dan terlupakan seperti mimpi yang dialami seseorang
sebelum dia terjaga dari tidurnya.
Dia
begitu panas, aku begitu dingin. Mungkin rasanya akan seperti lepuhan asap dari
api yang dipadamkan oleh air jika kami saling bersentuhan sedikit saja.
Matanya
lama-lama terpejam, napasnya mengalir lembut dan teratur, dia mulai tertidur. Meninggalkanku
berdebar-debar tidak karuan di sini karenanya. Seperti inikah rasanya
berinteraksi dengan manusia setelah sekian lama bersembunyi di dalam kegelapan?
===
Sharon
dibangunkan oleh suara ketukan pintu ayahnya yang memanggil dari luar kamar. Begitu
terjaga, dia mendapati jendela kamar terbuka lebar. Langit kelabu musim gugur
di siang hari digantikan oleh warna keemasan langit senja yang sedikit demi sedikit
menghitam. Gadis itu menutup jendelanya dan merapikan sedikit rambutnya sebelum
membuka pintu untuk ayahnya.
“Sebentar
lagi makan malam. Aku tidak ingin makan malam pertamaku di rumah ini
sendirian.” Nixon-san mengajak putrinya keluar.
“Baik,
Yah.” Sharon menuruti ayahnya. Dia menutup pintu kamar dan berjalan bersama
ayahnya ke dapur. Nixon-san sudah membeli makanan siap saji dari minimarket dan
hanya perlu dihangatkan dengan microwave.
Sharon
merasa sedikit kagum ketika memasuki dapur barunya. Dapur rumahku ternyata
sedikit lebih besar daripada dapur rumahnya di Inggris dengan nuansa yang tidak
jauh berbeda. Didominasi oleh kayu dan warna tanah kesukaannya, dia merasa
seperti kembali ke rumah lamanya. Semua peralatan memasak menggantung di atas
kompor listrik yang berada di tengah-tengah dapur. Perabotan dapur lainnya juga
masih berfungsi dengan baik seperti microwave yang baru saja dicek oleh
Nixon-san untuk menghangatkan makanannya dan makanan Sharon, mesin pembuat kopi
dan teh, kulkas, mesin cuci piring, wastafel, dan oven.
“Kalau
ibumu ada di sini, dia pasti akan sangat menyukai dapur ini.” ujar Nixon-san
seraya memasukkan bahan makanan ke dalam microwave.
Sekilas
aku menangkap wajah Sharon yang sedang mengambil piring dari lemari berubah
sendu, seakan ucapan ayahnya tadi menusuknya. “Sayangnya ibu tidak ada di sini,
Yah...”
Nixon-san
menangkap arti ucapan Sharon dan tidak membalasnya.
“Aku
bahkan tidak sempat berkunjung ke makamnya sebelum kita berangkat ke sini...” kata
Sharon. “Belum pernah aku berada sejauh ini darinya...”
“Sharon,
ibumu pasti ingin kau menikmati tempat baru ini. Tidakkah kau penasaran dengan
petualangan baru yang akan kau hadapi di sini? Kau bisa bertemu orang-orang
baru dan mengunjungi tempat-tempat menakjubkan di kota ini. Ini kesempatan kita
untuk memulai hidup yang lebih baik, Nak.” Nixon-san berusaha meyakinkannya.
Sharon
mencoba untuk memahami perasaan ayahnya. Ayahnya telah mendapatkan pekerjaan di
kota ini dengan susah payah. Dia tahu sang ayah juga sama berdukanya dengannya.
Kematian wanita yang amat mereka sayangi itu menghapus kebahagiaan mereka dalam
sekejap.
Dia
hendak membalas ucapan ayahnya sebelum mendengar bel rumah berbunyi. Mereka
saling berpandangan, siapa gerangan yang mengunjungi mereka?
“Aku
baru sadar bel rumah ternyata berfungsi dengan baik.” celetuk Nixon-san.
“Bisakah kau membuka pintunya?”
Sharon
langsung berjalan menuju pintu depan untuk membuka pintunya. Ternyata tamunya
adalah seorang wanita paruh baya yang dulu sangat kukenal. Dia adalah Tomoko
Kohara, wanita yang tinggal tepat di samping rumahku. Wajahnya tetap
memancarkan aura semangat meski sedikit berkeriput. Mata sipitnya yang
berkacamata selalu berbinar ramah kepada siapa pun yang ditemuinya. Dia
tersenyum pada Sharon seraya memperkenalkan dirinya.
“Aku
ke sini ingin mengucapkan selamat datang pada tetangga baru kami. Semoga kau
tidak keberatan, Nak.” Ujar Bibi Tomoko sambil menyerahkan sekantung hadiah
yang berisi sebotol wine dan kue-kue kepada Sharon.
“Oh...
terima kasih, Tomoko-san.” Jawab Sharon sedikit terkejut karena tidak menyangka
akan menerima hadiah itu dan keramah tamahan wanita itu. “Kami baru saja hendak
makan malam. Anda ingin masuk dan bergabung dengan kami?”
“Jika
tidak merepotkan kalian. Kudengar kau hanya tinggal berdua dengan ayahmu.”
Jawab Bibi Tomoko sungkan meski dia tetap masuk ke dalam rumah.
“Tidak
apa. Jika Anda mau, aku bisa menyiapkan teh hangat untuk teman mengobrol.”
Sharon menawarkan, mempersilakan Bibi Tomoko duduk di sofa.
“Kalian
orang Inggris sungguh ramah rupanya.” Bibi Tomoko berterima kasih. “Tidak
kusangka kau juga bisa berbahasa Jepang, Nak. Padahal tadi aku sempat ragu
untuk datang kemari karena aku tidak bisa berbahasa Inggris.”
“Tantenya
menikah dengan orang Jepang dan suaminya itu sering berkunjung ke London. Jadi
kami bisa berbahasa Jepang darinya.” Nixon-san muncul dari dapur untuk
menyambut Bibi Tomoko.
“Oh,
begitu.” Bibi Tomoko terkesan. “Senang sekali melihat rumah ini kembali
ditinggali. Sejak kejadian memilukan itu, tidak ada yang berani mendekati rumah
ini karena takut...”
“Ah,
kejadian pembunuhan keluarga itu sama sekali tidak menakuti kami. Ya kan,
Sharon?” Nixon-san menoleh ke putrinya yang hanya tersenyum simpul. Sepertinya
dia tidak bisa menanggapi sejarah pembantaian keluargaku di rumah ini seenteng
ayahnya.
“Aku
akan menyiapkan teh untuk kita.” Ujar Sharon sambil berbalik ke dapur.
===
Setelah
semua makanan lezat dan teh hangat sudah terhidang di meja makan, barulah
mereka berkenalan dan mengobrol lebih jauh lagi dengan Bibi Tomoko. Sudah lama
sekali aku tidak melihatnya. Keluarganya dan keluargaku berteman sangat dekat.
Bibi Tomoko sering melakukan kegiatan bersama ibuku, suaminya sering pergi
memancing bersama ayahku, anak-anaknya juga setiap hari bermain bersamaku dan
Minami. Mereka sangat kehilangan kami yang meninggalkan mereka secara
tiba-tiba. Di mata mereka, keluargaku sangat baik. Orang tuaku sering sekali
membantu bila kesulitan melanda keluarga itu.
Itulah
yang diceritakannya pada keluarga Nixon saat ini. Melihat ternyata keluarga
Nixon memiliki seorang gadis yang seusia dengan putranya, Bibi Tomoko berkata,
“Kalau kau sempat, mampirlah ke rumahku. Putraku pasti akan senang sekali
berkenalan denganmu, Sharon-chan.”
“Ya,
tentu saja.” Sharon menyanggupi permintaannya meskipun saat ini dia sedang
tidak ingin bertemu orang-orang baru.
Bibi
Tomoko memang terkenal cerewet di daerah perumahan ini. Namun tampaknya
kecerewetan itu malah membuat keluarga Nixon lebih terbuka. Nixon-san sempat
khawatir karena mereka adalah orang asing, mereka akan sulit mendapat teman
baru di sini.
“Jika
Anda tidak keberatan...” Sharon berkata pelan. “maukah Anda menceritakan
seperti apa keluarga Yutaka yang dulu pernah tinggal di rumah ini?”
“Mereka
adalah keluarga yang sangat baik, Nak. Meskipun kaya raya, mereka tetap rendah
hati dan menerima siapa pun apa adanya.” Itulah kesan Bibi Tomoko yang membekas
di hatinya tentang kami. Aku tersentuh mendengarnya.
“Sayangnya,
hingga sekarang pelaku yang tega melakukan perbuatan biadab terhadap mereka itu
masih belum ditemukan. Aku tidak habis pikir, apa salah mereka hingga orang itu
sangat membenci mereka?” kata Bibi Tomoko prihatin.
“Apa
karena mereka ingin merampok rumah ini?” Nixon-san menebak. “Harus kuakui,
semua perabotan peninggalan mereka di sini mahal sekali harganya.”
“Menurut
polisi, tidak ada satu pun benda yang diambil dari rumah ini.” jawab Bibi
Tomoko.
“Siapa
saja yang tewas di rumah ini pada malam pembunuhan itu, Bibi?” tanya Sharon.
“Yutaka-san
dan istrinya, anak sulung mereka, Kai dan adik perempuannya, Minami.” Jawab
Bibi Tomoko. “Mereka ditembak mati saat tertidur lelap.”
Anehnya,
cerita Bibi Tomoko tentang kematianku dan keluargaku sendiri sama sekali tidak
mengusikku. Kebanyakan arwah manusia berubah menjadi hantu karena masih belum
menerima nasib mereka. Namun kutahu, walaupun aku melakukan segala cara untuk
menyangkal, aku tetaplah seorang hantu. Aku berada di sini untuk satu tujuan
yaitu mencari tahu siapa pelakunya.
Aku
melihat Sharon yang masih penasaran dengan cerita tragisku. Dia cukup kaget
mengetahui aku tewas di atas ranjang yang kini menjadi tempat tidurnya. Tetapi
Nixon-san meminta Bibi Tomoko tidak perlu bercerita lebih jauh lagi soal itu karena
akan merusak suasana hangat malam ini. Sharon pun merengut kecewa, hanya bisa
mengaduk-aduk tehnya yang sudah mulai dingin di dalam cangkir. Dia masih ingin
tahu siapa diriku, karena sepertinya kisahku akan membuatnya betah tinggal di
sini dan menemani hari-hari barunya.
===
Usai
makan malam, Bibi Tomoko berpamitan pulang. Sharon juga mengecup pipi ayahnya,
mengucapkan selamat malam sebelum masuk ke kamar untuk tidur. Dia sudah
mengganti pakaiannya dengan piyama saat aku masuk. Kini dia sudah merebahkan
tubuhnya di atas ranjang, membayangkan persis di tempatnya berbaring ini
seorang remaja lelaki seusianya tewas tertembak di dalam tidurnya.
Perasaannya
campur aduk. Ngeri, pilu, sekaligus bersemangat ingin mencari tahu siapa orang
yang telah membunuhku. Semangatnya itulah yang membuatnya tidak bisa tidur.
Padahal besok pagi adalah hari pertamanya bersekolah. Dia memandang
langit-langit kamar seolah-olah dia sedang menatapku yang berbaring persis di
sampingnya.
Jika
dia bisa melihatku, dia pasti akan mengajakku berkenalan. Dia akan menanyakan
siapa namaku, kemana aku pergi bersekolah, apa makanan kesukaanku, hobiku,
semuanya. Sayangnya dia tidak bisa, dan aku merasakan kekecewaan yang sama. Aku
juga tidak suka mengikutinya seperti ini bak seorang penguntit.
Dia
menghela napas panjang sebelum bangkit turun dari ranjang, berjalan menuju
klosetku yang tidak digunakannya. Dia ingin tahu siapa diriku melalui
pakaian-pakaian yang dulu kukenakan, dan beberapa benda yang tersembunyi di
sana.
Di
bawah pakaian-pakaianku yang tergantung, terdapat beberapa pasang sepatuku,
bola basket, tongkat baseball dan sarungnya, serta foto album dan tumpukan
buku-buku pelajaranku.
Sharon
mengambil foto albumku terlebih dulu dan membukanya. Di halaman pertama, dia
melihat fotoku yang tersenyum aneh di ruang makan. Setelah mengetahui seperti
apa rupaku, dia tersenyum sendiri. Baginya, wajahku persis seperti yang
dideskripsikan Bibi Tomoko: tampan dengan rambut jabrik hitam, bermata cokelat,
berhidung mancung, memiliki lesung pipi, dan senyum lebar yang sangat menawan.
Dia
membuka halaman berikutnya dan melihat foto keluargaku di studio. Dia juga
terkesan melihat Minami ternyata sangat manis. Adikku dulu memang populer di
sekolahnya dan memiliki banyak penggemar karena kecantikannya. Namun sebelum
para pemuda di sekolahnya berhasil memikat perhatiannya, dia sudah lebih dulu jatuh
hati pada seorang remaja lelaki yang juga menyukainya.
Puas
melihat album fotoku, dia mengambil salah satu buku pelajaranku. Sharon memang
bisa membaca huruf hiragana, katakana, dan huruf kanji dengan lancar, namun
masih ada beberapa huruf kanji di buku Biologi itu yang tidak dapat dibacanya.
Dia tergelak pelan melihat coret-coretan konyolku di buku itu karena dulu aku
sering kebosanan di kelas. Dia yakin akan menemukan coret-coretan yang sama di
buku lainnya. Ketika dia menikmati coretan di setiap halamannya, tiba-tiba dia
terpaku saat sampai di halaman tengah.
Noda
merah yang sangat banyak dan telah mengering menempel di atas kertas putihnya. Matanya
melebar ketakutan. Dia tahu noda apa itu. Aku langsung teringat buku itu berada
di dalam dekapanku saat aku tertidur pada malam aku terbunuh itu. Darahku
terciprat di sana, si pelaku benar-benar membuat kekacauan dengan meninggalkan
diriku mati berlumuran darah.
Sharon
langsung memasukkan kembali semua buku-bukuku dan menutup rapat-rapat pintu
kloset. Dia memang penasaran dengan kisahku dan tertarik dengan misteri, namun
begitu dia menyentuh secara langsung saksi bisu kematianku yang tragis, bayang-bayang
mengerikan tentang kematianku kini tergambar dengan sangat jelas di benaknya.
Dia
mematikan lampu kamar lalu kembali ke ranjangnya dan menarik selimutnya,
berusaha untuk memejamkan matanya. Dia tidak tahu apakah malam ini dia bisa
tidur nyenyak karena takut bayang-bayang itu akan menghantuinya.
No comments:
Post a Comment