4
Pelajaran
berlangsung hingga sebelum jam makan siang. Semua anak bernapas lega begitu bel
istirahat berbunyi. Begitu guru meninggalkan kelas, sebagian siswa ada yang
keluar dari kelas untuk bermain di halaman atau bertemu teman-teman mereka yang
ada di kelas lain, sebagian lagi berkumpul bersama untuk menyantap bekal makan
siang yang dibawa dari rumah, ada juga yang hanya tidur atau mendengarkan musik
di bangkunya.
Semua
memiliki kegiatan seru masing-masing kecuali Sharon. Sharon lupa membawa bekal.
Dia ingin keluar dari kelas untuk pergi ke kantin namun enggan. Semua anak yang
dilewatinya nanti pasti akan memandangnya dengan cara yang sama seperti cara
anak-anak di kelas memandangnya saat ini. Dan dia tidak menyukainya. Dia tahu
dia berbeda dari yang lain, namun apa itu berarti mereka bisa mengucilkannya
dengan tatapan-tatapan tajam itu?
Akhirnya
dia memutuskan untuk mendekati mereka lebih dulu. Dia berdiri dan berjalan
menuju kumpulan para gadis yang sedang menikmati makan siang tidak jauh di
depannya. Mereka langsung menatap Sharon seakan mereka terganggu olehnya. Namun
Sharon tersenyum dengan ramah seraya mengulurkan tangannya.
“Halo.
Namaku Sharon. Boleh aku bergabung dengan kalian?”
Mereka
membiarkan uluran tangan Sharon itu menggantung di udara. Sharon menarik
tangannya dari mereka dengan perasaan kecewa. Sebesar itukah rasa tidak suka
mereka terhadapnya?
Tahu
dia tidak diterima di kelas ini, Sharon langsung keluar dari kelas. Dia berlari
di lorong meskipun dia sudah melihat papan dilarang berlari di lorong. Dia
tidak peduli, dia ingin mencari suatu tempat yang bisa menjadi tempat
persembunyiannya.
Dia
berlari menaiki tangga hingga ke lantai teratas sekolah. Sesampainya dia di
ujung tangga, sebuah pintu besi yang mengarah ke atap gedung sekolah. Kesunyian
dan angin kencang menyambutnya ketika dia membuka pintu itu. Atap sekolah yang
kosong dan seperti tidak pernah dijamah oleh satu pun siswa akan menjadi tempat
persembunyiannya selama jam istirahat atau jam disaat dia harus menghindari
orang banyak.
Dia
mengeluarkan sesuatu dari balik saku blazernya, sepuntung rokok filter dan
pemantik api. Aku tidak percaya dengan yang kulihat sekarang. Bukannya aku
terkejut karena dia benar-benar merokok, melainkan karena seorang gadis
sepertinya berani membawa sepuntung rokok ke area sekolah yang sangat ketat
peraturannya ini.
Dia
menyalakan rokoknya dengan pemantik yang bergambar bendera Inggris itu. Asap
rokok keluar dari bibir mungilnya dan menyatu dengan udara setelah hisapan
pertamanya. Selama sejenak, dia duduk bersandar di pinggir atap, menikmati setiap
lintingan racun di tangannya itu. Pikirannya kosong, melayang entah ke mana. Dan
yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menantinya menghabiskan rokok itu.
Sharon
tahu merokok adalah kebiasaan yang sangat berbahaya dan mematikan, dan tidak
seorang pun termasuk ayahnya sendiri tahu dia seorang perokok. Namun gadis ini
melakukannya bukan karena ingin bergaya seperti remaja kebanyakan. Tidak akan
sulit baginya untuk berhenti merokok jika dia mau. Dia melakukannya karena
ingin merasakan seberapa dekatnya dia pada kematian yang telah merenggut nyawa
ibunya, dan jarak yang memisahkannya dari kematian itu sendiri hanyalah rokok
yang tinggal setengah batang itu. Sebagian dirinya juga berharap sang ibu saat
ini melihatnya dari dunia sana dan memarahinya. Dan sebagian dirinya yang lain
malah berharap malaikat maut membawanya ke dunia sana sekarang juga agar dia
bisa bertemu dengan ibunya.
Hisapan
terakhirnya cukup lama dan dalam sebelum dia membuang puntung rokok itu dan
menginjaknya untuk mematikan apinya. Dia berdiri dan melihat pemandangan di
bawahnya, anak-anak lelaki asyik bermain sepak bola di halaman sekolah, tidak
menyadari Sharon memperhatikan mereka dari atas. Dia memperhatikan pemandangan
itu cukup lama, mempertanyakan dirinya sendiri kapan dia akan bisa sebebas
mereka. Cukup lama dia tidak benar-benar berbicara dengan orang lain selain
ayahnya.
Disaat
dia termenung, ujung pandangannya menangkap sepasang kaki milik seseorang
berdiri tepat di atas pagar atap sekolah. Dia mengangkat kepalanya untuk
melihat lebih jelas siapa orang yang tiba-tiba muncul begitu saja di
sampingnya. Seorang gadis berseragam sepertinya dengan wajah kusut menatap
kosong ke bawah seakan dia ingin terjun dari tempatnya berdiri.
Gadis
itu menyadari Sharon sedang memandangnya. Dia lalu berbalik dan menatapnya.
Sharon tercekat melihat tatapan keji gadis itu padanya. Dia mengambil langkah
mundur untuk menjauhi gadis yang seperti tidak memiliki aura kehidupan itu.
“Ma...
maaf, kau siapa?” tanya Sharon terbata-bata.
“Seharusnya
aku yang bertanya kau siapa. Siapa kau yang berani mencemari tempatku ini
dengan rokokmu?” balas gadis itu dengan nada mengerikan dan membuat Sharon
merasa tercekik.
“Maafkan
aku. Maaf...” hanya itu yang bisa Sharon ucapkan agar amarah gadis itu reda.
Namun
gadis berwajah seram itu malah meraung padanya, “Pergi kau dari sini!”
Sharon
langsung berlari meninggalkan atap. Namun aku tetap berada di tempat untuk
mencari tahu siapa gadis itu. Dia bisa melihatku, terbukti dari tatapan penuh
kebenciannya padaku yang hendak ingin mengusirku juga.
“Siapa
kau? Rasanya aku pernah melihatmu...” tanya gadis itu.
Mendengar
suaranya yang tiba-tiba melunak, aku jadi tahu siapa dirinya. Dia adalah hantu
gadis penghuni atap sekolah yang menjadi legenda di sekolah ini. Menurut gosip
yang tersebar, gadis ini adalah siswi angkatan 10 tahun lalu yang terjun dari
atap ini tanpa sebab. Kabarnya dia sering menakuti para siswa dengan terjun dan
menatap mereka dari jendela sekolah dengan tatapan seramnya yang diberikan pada
Sharon tadi.
Aku
yang dulu tidak pernah mempercayai legenda itu kini hanya bisa tertegun saat
dia memperhatikanku dari atas sampai bawah. Dari auraku, dia tahu aku seorang
hantu, dan dari wajahku, dia tahu aku pernah bersekolah di sini.
“Hmm...
kurasa kau tidak mati di sekolah ini, ya.” Gadis itu mengambil kesimpulan.
“Bagaimana kau bisa mati?”
“Seseorang
menembak mati aku dan keluargaku di rumah.” Jawabku enteng sebagai sesama
hantu.
“Kalau
begitu, kenapa kau malah kemari bukannya menghantui rumahmu sendiri?” tanyanya.
“Jangan bilang kau sedang mengikuti gadis itu.”
“Dia
sekarang menghuni rumahku. Jadi...”
“Jadi
kau menjadi seorang hantu hanya untuk menguntitnya?” gadis itu langsung
menyelaku. “Untuk apa kau menguntit gadis nakal yang berusaha mencemari
tempatmu dan tempatku ini?”
“Hei,
dia kan manusia. Kita sebagai hantu tidak bisa melarangnya, bukan? Aku sendiri
juga tidak tahu kenapa aku membuntutinya...” aku menggaruk kepalaku
kebingungan.
“Apa
karena dia bisa melihatmu?” tebak gadis itu.
Pertanyaan
itu langsung kujawab dengan yakin. “Tidak.”
“Kalau
begitu...” dia ikut bingung. “kenapa dia bisa melihatku?”
“Hei...
kau kan sering menampakkan dirimu di depan murid-murid sekolah ini.” aku
memberikan jawaban yang sudah jelas.
“Tidak.
Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dia melihatku dan berinteraksi denganku
seolah-olah aku adalah manusia. Aku yakin setelah ini dia tidak akan bercerita
pada teman-temannya bahwa dia telah melihat aku di sini.” Gadis itu berpikir
keras. Aura seramnya malah sudah tidak terlihat lagi karena sangat penasaran
mengapa gadis asing yang diusirnya tadi memberikan kesan yang sangat berbeda
dari manusia-manusia yang lain ditakuti olehnya.
Mungkinkah
alasan yang dia cari juga alasan yang sama mengapa aku mengikutinya?
“Jika
alasan kau masih bergentayangan di dunia ini bukan karena dia, lalu karena
apa?” dia bertanya padaku seolah dia ingin tahu semua alasan yang dimiliki para
hantu sepertinya mengapa kami enggan pergi dari dunia ini.
“Aku
ingin mencari tahu siapa pembunuhku.” Jawabku.
“Oh,
begitu...” hanya itu jawabannya.
“Lalu,
kau sendiri? Kenapa kau tidak mau pergi ke dunia sana?”
“Aku
terperangkap di sini.” Gadis itu menjawab pertanyaanku dengan nada sedih. “Aku
sudah mencoba pergi ke dunia sana namun mereka tidak mau menerimaku karena
waktuku belum tiba.”
“Kalau
begitu, mengapa kau melakukannya? Mengapa kau mengambil keputusan bodoh itu
hingga arwahmu terkatung-katung seperti ini?” tanyaku.
“Seperti
gadis itu dengan rokoknya, aku juga ingin merasakan sesuatu.” jawabnya. “Dunia
ini membuatku lelah dan tidak bisa merasakan apa pun lagi.”
Lalu
dia bercerita saat dia berdiri di ujung atap menatap ke bawah, ingin tahu
bagaimana rasanya jika tubuhnya benar-benar menghantam ke tanah. Matanya
terpejam untuk membayangkan bagaimana rasanya. Namun begitu dia membuka
matanya, tahu-tahu dia sudah melihat jasadnya sendiri sudah berlumuran darah di
atas tanah. Dia tidak tahu apakah dia harus menyesalinya atau tidak. Semuanya
sudah terlambat saat dia hanya bisa menyaksikan jasadnya dibawa pergi oleh
polisi dan teman-temannya menangisi kematiannya.
“Mungkin
aku mengulangi perbuatan yang sama hingga menakuti teman-temanmu karena aku
ingin tahu alasan mengapa aku bisa sebodoh itu melakukannya. Apakah karena
adrenalinnya, rasa sakitnya, atau perhatian yang dalam sekejap kudapatkan dari
teman-temanku begitu melihat jasadmu yang mengenaskan di sana.”
Meskipun
dia sudah berulang kali mencoba, dia tidak merasakan apa pun juga. Barulah dia
menyadari bahwa hatinya sudah mati lebih dulu jauh sebelum dia meloncat dari
atap ini.
“Karena
luka dan goresan di hatiku yang sangat banyak, aku pun menutup diri dari dunia.
Pada awalnya aku merasa senang karena tidak merasakan rasa sakit itu lagi. Namun
itu hanya menjadi bumerang untukku sendiri.” Ujarnya.
Dia
menatapku lagi dengan belas kasih seraya berkata, “Maka dari itu, pergilah kau
ke dunia sana selagi masih bisa. Jangan biarkan dendammu menggerogotimu
perlahan-lahan. Apa masih kurang buruk bagimu dengan menjadi arwah penasaran
seperti ini?”
“Tidak
bisa. Orang itu tidak hanya membunuhku, tetapi juga keluargaku. Aku harus tahu
dan membalas perbuatannya.” Jawabku tegas. “Keluargaku adalah orang baik, kami
tidak pernah menjahati siapa pun, aku harus tahu mengapa orang itu
melakukannya.”
Gadis
itu diam sejenak mencerna ucapanku. Sebagai hantu, dia pasti dapat memahami
alasanku. “Baiklah kalau itu maumu. Tapi kau sama sekali tidak menakutkan
bagiku.”
“Apa?”
sebagai seorang hantu, itu adalah ejekan yang sangat menyakitkan.
“Misalnya
kau sudah menemukan siapa pembunuhmu kau ingin menuntut balas hingga dia
menyesal karena sudah membunuhmu. Apa yang akan kau lakukan untuk menakutinya?
Menutupi dirimu dengan selimut putih yang memiliki dua lubang di bagian mata?”
Meskipun
kata-katanya sangat pahit, harus kuakui ucapannya itu memang benar.
Gadis
itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya. “Tampaknya kau memang membutuhkan
pelajaran bagaimana caranya menjadi seorang hantu yang baik. Baiklah, mulai
besok aku akan mengajarimu di sini.”
“Apa
yang membuatmu berpikir aku akan menerimanya?” aku mendelik tajam ke arahnya.
Ternyata gadis ini bisa bersikap percaya diri juga.
“Aku
senang kau menanyakannya. Baiklah, akan kusebutkan keuntungan lainnya jika kau
mau belajar dariku. Pertama, aku yakin kau pasti tidak akan betah menunggu gadis
itu bersekolah dari pagi hingga sore. Maksudku, ayolah, kau kan hantu. Masa kau
mau mengikuti pelajaran-pelajaran yang membosankan itu? Kedua, selain kau bisa menakuti musuh-musuhmu,
kau juga akan bisa mengendalikan kekuatanmu.”
“Eh?
Kekuatan?”
“Ya,
kau tahulah, menggerakkan benda-benda, menyalakan dan mematikan lampu,
membanting pintu, dan masih banyak lagi.”
Alasan
keduanya membuatku mempertimbangkan tawarannya itu. Namun alasan ketiganya akan
lebih membuatku tergiur.
“Ketiga,
kau akan bisa membuat dirimu terlihat.” Gadis itu mengangkat alisnya
berkali-kali untuk menggodaku. “Bagaimana? Kau pasti tertarik karena ingin
gadis itu melihatmu, bukan?”
“Kenapa
kau bisa tahu?” aku merasa ketahuan.
“Alasan
para hantu menguntit seorang manusia biasanya karena ada masalah yang belum
terselesaikan di antara mereka atau hanya karena hantu itu menyukai si
manusia.”
Apa?
Aku menyukai Sharon? Gadis ini memang seorang hantu dan bisa berkata sesukanya,
namun untuk hal ini sudah jelas dia hanya mengada-ada.
“Aku
benar, bukan?” gadis itu menyeringai usil. “Lagipula, jika dia bisa melihatmu,
kau juga bisa meminta bantuannya untuk menangkap pembunuhmu.”
Mau
tidak mau, aku harus mengakui lagi gadis ini ada benarnya. Aku memang
membutuhkan bantuan seseorang.
“Baiklah,
aku terima tawaranmu.” Aku bersedia. “Tapi kuyakin pasti tawaranmu ini tidak
gratis.”
“Begitulah.”
Jawaban gadis itu tidak dapat kumengerti. “Ada satu syarat yang harus kau
lakukan jika kau ingin terus membuntutinya dan meminta bantuannya.”
“Apa?”
“Kau
harus menjaganya.” Pintanya. “Dia sudah melakukan hal bodoh yang kulakukan
hanya untuk merasakan sesuatu itu. Kau pasti bisa merasakannya, bukan?” dia
melirik puntung rokok bekas milik Sharon yang kini tertiup angin kencang,
membawanya pergi dari pandangan kami. Aku tidak bisa membiarkan nyawa Sharon melayang
begitu saja seperti rokok itu di tangannya sendiri.
“Terlebih
lagi...” gadis itu meneruskan ucapannya. “jalan untuk mencapai tujuanmu tidak
akan mudah. Jika dia tahu semuanya termasuk identitas pembunuhmu, maka dia akan
berada dalam bahaya yang sangat besar. Dan disaat itulah tugasmu sebagai
makhluk yang tak terlihat adalah melindunginya.”
No comments:
Post a Comment