Wednesday, May 29, 2013

The Invisible (4)

4

            Pelajaran berlangsung hingga sebelum jam makan siang. Semua anak bernapas lega begitu bel istirahat berbunyi. Begitu guru meninggalkan kelas, sebagian siswa ada yang keluar dari kelas untuk bermain di halaman atau bertemu teman-teman mereka yang ada di kelas lain, sebagian lagi berkumpul bersama untuk menyantap bekal makan siang yang dibawa dari rumah, ada juga yang hanya tidur atau mendengarkan musik di bangkunya.
            Semua memiliki kegiatan seru masing-masing kecuali Sharon. Sharon lupa membawa bekal. Dia ingin keluar dari kelas untuk pergi ke kantin namun enggan. Semua anak yang dilewatinya nanti pasti akan memandangnya dengan cara yang sama seperti cara anak-anak di kelas memandangnya saat ini. Dan dia tidak menyukainya. Dia tahu dia berbeda dari yang lain, namun apa itu berarti mereka bisa mengucilkannya dengan tatapan-tatapan tajam itu?
            Akhirnya dia memutuskan untuk mendekati mereka lebih dulu. Dia berdiri dan berjalan menuju kumpulan para gadis yang sedang menikmati makan siang tidak jauh di depannya. Mereka langsung menatap Sharon seakan mereka terganggu olehnya. Namun Sharon tersenyum dengan ramah seraya mengulurkan tangannya.
            “Halo. Namaku Sharon. Boleh aku bergabung dengan kalian?”
            Mereka membiarkan uluran tangan Sharon itu menggantung di udara. Sharon menarik tangannya dari mereka dengan perasaan kecewa. Sebesar itukah rasa tidak suka mereka terhadapnya?
            Tahu dia tidak diterima di kelas ini, Sharon langsung keluar dari kelas. Dia berlari di lorong meskipun dia sudah melihat papan dilarang berlari di lorong. Dia tidak peduli, dia ingin mencari suatu tempat yang bisa menjadi tempat persembunyiannya.
            Dia berlari menaiki tangga hingga ke lantai teratas sekolah. Sesampainya dia di ujung tangga, sebuah pintu besi yang mengarah ke atap gedung sekolah. Kesunyian dan angin kencang menyambutnya ketika dia membuka pintu itu. Atap sekolah yang kosong dan seperti tidak pernah dijamah oleh satu pun siswa akan menjadi tempat persembunyiannya selama jam istirahat atau jam disaat dia harus menghindari orang banyak.
            Dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku blazernya, sepuntung rokok filter dan pemantik api. Aku tidak percaya dengan yang kulihat sekarang. Bukannya aku terkejut karena dia benar-benar merokok, melainkan karena seorang gadis sepertinya berani membawa sepuntung rokok ke area sekolah yang sangat ketat peraturannya ini.
            Dia menyalakan rokoknya dengan pemantik yang bergambar bendera Inggris itu. Asap rokok keluar dari bibir mungilnya dan menyatu dengan udara setelah hisapan pertamanya. Selama sejenak, dia duduk bersandar di pinggir atap, menikmati setiap lintingan racun di tangannya itu. Pikirannya kosong, melayang entah ke mana. Dan yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menantinya menghabiskan rokok itu.
            Sharon tahu merokok adalah kebiasaan yang sangat berbahaya dan mematikan, dan tidak seorang pun termasuk ayahnya sendiri tahu dia seorang perokok. Namun gadis ini melakukannya bukan karena ingin bergaya seperti remaja kebanyakan. Tidak akan sulit baginya untuk berhenti merokok jika dia mau. Dia melakukannya karena ingin merasakan seberapa dekatnya dia pada kematian yang telah merenggut nyawa ibunya, dan jarak yang memisahkannya dari kematian itu sendiri hanyalah rokok yang tinggal setengah batang itu. Sebagian dirinya juga berharap sang ibu saat ini melihatnya dari dunia sana dan memarahinya. Dan sebagian dirinya yang lain malah berharap malaikat maut membawanya ke dunia sana sekarang juga agar dia bisa bertemu dengan ibunya.
            Hisapan terakhirnya cukup lama dan dalam sebelum dia membuang puntung rokok itu dan menginjaknya untuk mematikan apinya. Dia berdiri dan melihat pemandangan di bawahnya, anak-anak lelaki asyik bermain sepak bola di halaman sekolah, tidak menyadari Sharon memperhatikan mereka dari atas. Dia memperhatikan pemandangan itu cukup lama, mempertanyakan dirinya sendiri kapan dia akan bisa sebebas mereka. Cukup lama dia tidak benar-benar berbicara dengan orang lain selain ayahnya.
            Disaat dia termenung, ujung pandangannya menangkap sepasang kaki milik seseorang berdiri tepat di atas pagar atap sekolah. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat lebih jelas siapa orang yang tiba-tiba muncul begitu saja di sampingnya. Seorang gadis berseragam sepertinya dengan wajah kusut menatap kosong ke bawah seakan dia ingin terjun dari tempatnya berdiri.
            Gadis itu menyadari Sharon sedang memandangnya. Dia lalu berbalik dan menatapnya. Sharon tercekat melihat tatapan keji gadis itu padanya. Dia mengambil langkah mundur untuk menjauhi gadis yang seperti tidak memiliki aura kehidupan itu.
            “Ma... maaf, kau siapa?” tanya Sharon terbata-bata.
            “Seharusnya aku yang bertanya kau siapa. Siapa kau yang berani mencemari tempatku ini dengan rokokmu?” balas gadis itu dengan nada mengerikan dan membuat Sharon merasa tercekik.
            “Maafkan aku. Maaf...” hanya itu yang bisa Sharon ucapkan agar amarah gadis itu reda.
            Namun gadis berwajah seram itu malah meraung padanya, “Pergi kau dari sini!”
            Sharon langsung berlari meninggalkan atap. Namun aku tetap berada di tempat untuk mencari tahu siapa gadis itu. Dia bisa melihatku, terbukti dari tatapan penuh kebenciannya padaku yang hendak ingin mengusirku juga.
            “Siapa kau? Rasanya aku pernah melihatmu...” tanya gadis itu.
            Mendengar suaranya yang tiba-tiba melunak, aku jadi tahu siapa dirinya. Dia adalah hantu gadis penghuni atap sekolah yang menjadi legenda di sekolah ini. Menurut gosip yang tersebar, gadis ini adalah siswi angkatan 10 tahun lalu yang terjun dari atap ini tanpa sebab. Kabarnya dia sering menakuti para siswa dengan terjun dan menatap mereka dari jendela sekolah dengan tatapan seramnya yang diberikan pada Sharon tadi.
            Aku yang dulu tidak pernah mempercayai legenda itu kini hanya bisa tertegun saat dia memperhatikanku dari atas sampai bawah. Dari auraku, dia tahu aku seorang hantu, dan dari wajahku, dia tahu aku pernah bersekolah di sini.
            “Hmm... kurasa kau tidak mati di sekolah ini, ya.” Gadis itu mengambil kesimpulan. “Bagaimana kau bisa mati?”
            “Seseorang menembak mati aku dan keluargaku di rumah.” Jawabku enteng sebagai sesama hantu.
            “Kalau begitu, kenapa kau malah kemari bukannya menghantui rumahmu sendiri?” tanyanya. “Jangan bilang kau sedang mengikuti gadis itu.”
            “Dia sekarang menghuni rumahku. Jadi...”
            “Jadi kau menjadi seorang hantu hanya untuk menguntitnya?” gadis itu langsung menyelaku. “Untuk apa kau menguntit gadis nakal yang berusaha mencemari tempatmu dan tempatku ini?”
            “Hei, dia kan manusia. Kita sebagai hantu tidak bisa melarangnya, bukan? Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku membuntutinya...” aku menggaruk kepalaku kebingungan.
            “Apa karena dia bisa melihatmu?” tebak gadis itu.
            Pertanyaan itu langsung kujawab dengan yakin. “Tidak.”
            “Kalau begitu...” dia ikut bingung. “kenapa dia bisa melihatku?”
            “Hei... kau kan sering menampakkan dirimu di depan murid-murid sekolah ini.” aku memberikan jawaban yang sudah jelas.
            “Tidak. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dia melihatku dan berinteraksi denganku seolah-olah aku adalah manusia. Aku yakin setelah ini dia tidak akan bercerita pada teman-temannya bahwa dia telah melihat aku di sini.” Gadis itu berpikir keras. Aura seramnya malah sudah tidak terlihat lagi karena sangat penasaran mengapa gadis asing yang diusirnya tadi memberikan kesan yang sangat berbeda dari manusia-manusia yang lain ditakuti olehnya.
            Mungkinkah alasan yang dia cari juga alasan yang sama mengapa aku mengikutinya?
            “Jika alasan kau masih bergentayangan di dunia ini bukan karena dia, lalu karena apa?” dia bertanya padaku seolah dia ingin tahu semua alasan yang dimiliki para hantu sepertinya mengapa kami enggan pergi dari dunia ini.
            “Aku ingin mencari tahu siapa pembunuhku.” Jawabku.
            “Oh, begitu...” hanya itu jawabannya.
            “Lalu, kau sendiri? Kenapa kau tidak mau pergi ke dunia sana?”
            “Aku terperangkap di sini.” Gadis itu menjawab pertanyaanku dengan nada sedih. “Aku sudah mencoba pergi ke dunia sana namun mereka tidak mau menerimaku karena waktuku belum tiba.”
            “Kalau begitu, mengapa kau melakukannya? Mengapa kau mengambil keputusan bodoh itu hingga arwahmu terkatung-katung seperti ini?” tanyaku.
            “Seperti gadis itu dengan rokoknya, aku juga ingin merasakan sesuatu.” jawabnya. “Dunia ini membuatku lelah dan tidak bisa merasakan apa pun lagi.”
            Lalu dia bercerita saat dia berdiri di ujung atap menatap ke bawah, ingin tahu bagaimana rasanya jika tubuhnya benar-benar menghantam ke tanah. Matanya terpejam untuk membayangkan bagaimana rasanya. Namun begitu dia membuka matanya, tahu-tahu dia sudah melihat jasadnya sendiri sudah berlumuran darah di atas tanah. Dia tidak tahu apakah dia harus menyesalinya atau tidak. Semuanya sudah terlambat saat dia hanya bisa menyaksikan jasadnya dibawa pergi oleh polisi dan teman-temannya menangisi kematiannya.
            “Mungkin aku mengulangi perbuatan yang sama hingga menakuti teman-temanmu karena aku ingin tahu alasan mengapa aku bisa sebodoh itu melakukannya. Apakah karena adrenalinnya, rasa sakitnya, atau perhatian yang dalam sekejap kudapatkan dari teman-temanku begitu melihat jasadmu yang mengenaskan di sana.”
            Meskipun dia sudah berulang kali mencoba, dia tidak merasakan apa pun juga. Barulah dia menyadari bahwa hatinya sudah mati lebih dulu jauh sebelum dia meloncat dari atap ini.
            “Karena luka dan goresan di hatiku yang sangat banyak, aku pun menutup diri dari dunia. Pada awalnya aku merasa senang karena tidak merasakan rasa sakit itu lagi. Namun itu hanya menjadi bumerang untukku sendiri.” Ujarnya.
            Dia menatapku lagi dengan belas kasih seraya berkata, “Maka dari itu, pergilah kau ke dunia sana selagi masih bisa. Jangan biarkan dendammu menggerogotimu perlahan-lahan. Apa masih kurang buruk bagimu dengan menjadi arwah penasaran seperti ini?”
            “Tidak bisa. Orang itu tidak hanya membunuhku, tetapi juga keluargaku. Aku harus tahu dan membalas perbuatannya.” Jawabku tegas. “Keluargaku adalah orang baik, kami tidak pernah menjahati siapa pun, aku harus tahu mengapa orang itu melakukannya.”
            Gadis itu diam sejenak mencerna ucapanku. Sebagai hantu, dia pasti dapat memahami alasanku. “Baiklah kalau itu maumu. Tapi kau sama sekali tidak menakutkan bagiku.”
            “Apa?” sebagai seorang hantu, itu adalah ejekan yang sangat menyakitkan.
            “Misalnya kau sudah menemukan siapa pembunuhmu kau ingin menuntut balas hingga dia menyesal karena sudah membunuhmu. Apa yang akan kau lakukan untuk menakutinya? Menutupi dirimu dengan selimut putih yang memiliki dua lubang di bagian mata?”
            Meskipun kata-katanya sangat pahit, harus kuakui ucapannya itu memang benar.
            Gadis itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya. “Tampaknya kau memang membutuhkan pelajaran bagaimana caranya menjadi seorang hantu yang baik. Baiklah, mulai besok aku akan mengajarimu di sini.”
            “Apa yang membuatmu berpikir aku akan menerimanya?” aku mendelik tajam ke arahnya. Ternyata gadis ini bisa bersikap percaya diri juga.
            “Aku senang kau menanyakannya. Baiklah, akan kusebutkan keuntungan lainnya jika kau mau belajar dariku. Pertama, aku yakin kau pasti tidak akan betah menunggu gadis itu bersekolah dari pagi hingga sore. Maksudku, ayolah, kau kan hantu. Masa kau mau mengikuti pelajaran-pelajaran yang membosankan itu?  Kedua, selain kau bisa menakuti musuh-musuhmu, kau juga akan bisa mengendalikan kekuatanmu.”
            “Eh? Kekuatan?”
            “Ya, kau tahulah, menggerakkan benda-benda, menyalakan dan mematikan lampu, membanting pintu, dan masih banyak lagi.”
            Alasan keduanya membuatku mempertimbangkan tawarannya itu. Namun alasan ketiganya akan lebih membuatku tergiur.
            “Ketiga, kau akan bisa membuat dirimu terlihat.” Gadis itu mengangkat alisnya berkali-kali untuk menggodaku. “Bagaimana? Kau pasti tertarik karena ingin gadis itu melihatmu, bukan?”
            “Kenapa kau bisa tahu?” aku merasa ketahuan.
            “Alasan para hantu menguntit seorang manusia biasanya karena ada masalah yang belum terselesaikan di antara mereka atau hanya karena hantu itu menyukai si manusia.”
            Apa? Aku menyukai Sharon? Gadis ini memang seorang hantu dan bisa berkata sesukanya, namun untuk hal ini sudah jelas dia hanya mengada-ada.
            “Aku benar, bukan?” gadis itu menyeringai usil. “Lagipula, jika dia bisa melihatmu, kau juga bisa meminta bantuannya untuk menangkap pembunuhmu.”
            Mau tidak mau, aku harus mengakui lagi gadis ini ada benarnya. Aku memang membutuhkan bantuan seseorang.
            “Baiklah, aku terima tawaranmu.” Aku bersedia. “Tapi kuyakin pasti tawaranmu ini tidak gratis.”
            “Begitulah.” Jawaban gadis itu tidak dapat kumengerti. “Ada satu syarat yang harus kau lakukan jika kau ingin terus membuntutinya dan meminta bantuannya.”
            “Apa?”
            “Kau harus menjaganya.” Pintanya. “Dia sudah melakukan hal bodoh yang kulakukan hanya untuk merasakan sesuatu itu. Kau pasti bisa merasakannya, bukan?” dia melirik puntung rokok bekas milik Sharon yang kini tertiup angin kencang, membawanya pergi dari pandangan kami. Aku tidak bisa membiarkan nyawa Sharon melayang begitu saja seperti rokok itu di tangannya sendiri.

            “Terlebih lagi...” gadis itu meneruskan ucapannya. “jalan untuk mencapai tujuanmu tidak akan mudah. Jika dia tahu semuanya termasuk identitas pembunuhmu, maka dia akan berada dalam bahaya yang sangat besar. Dan disaat itulah tugasmu sebagai makhluk yang tak terlihat adalah melindunginya.”

No comments:

Post a Comment