Friday, May 31, 2013

The Invisible (6)

6

           Tepat pukul delapan, Shou dan Reiko selesai menutup kafe. Semua karyawan lainnya sudah pulang dan kini hanya tinggal mereka dengan Sharon yang masih setia menunggu di meja kafe sambil membaca majalah yang tersedia.
            “Ayo kita pergi ke atas, Sharon.” Ajak Reiko. Sharon melihat kedua teman barunya membawa bungkusan berisi camilan.
            “Ke atas?” Sharon tidak tahu masih ada ruangan lagi. Dia bahkan tidak melihat tangga di sekitarnya.
            “Ya. Ayo, cepat...” Reiko menarik Sharon bangkit dari duduknya lalu membawanya melewati pintu karyawan. Mereka melewati dapur kafe yang sudah kosong terlebih dulu sebelum melewati sebuah pintu lagi yang mengarah ke bagian belakang kafe. Tepat di samping pintu itu ada sebuah tangga besi yang membawa mereka ke atap bangunan kafe. Sharon menaiki tangga itu perlahan-lahan seraya membiasakan diri. Dia mendapat firasat Reiko dan Shou akan mengajaknya lagi ke tempat ini untuk hari-hari berikutnya.
            Atap kafe bukan tempat untuk umum, juga bukan tempat yang sering dikunjungi oleh karyawan kafe. Tempat itu adalah tempat rahasia kami. Berkat usulan Reiko yang bosan melihat atap ini tampak monoton, dia meminta bantuanku dan Shou untuk mendekorasinya. Dengan bantuan Minami yang ternyata sama ahlinya mendesain sesuatu seperti ibuku, jadilah atap yang sekarang Sharon singgahi.
            “Wow... indah sekali...” Sharon terpana melihatnya. Setiap sudut atap dihiasi pot-pot tanaman hias dan sebuah air mancur kecil di antaranya. Matanya terhipnotis oleh lampu kerlap-kerlip tepat di atas kepala mereka, membuatnya merasa seperti berada dalam suasana natal. Berkat cahaya lampu yang remang-remang itu, dia dapat melihat sebuah satu set meja bundar dengan payung merah besar terletak di tengah-tengah atap. Jika sedang tidak hujan, biasanya kami sering membawa alat musik atau stereo untuk memeriahkan suasana.
            Sharon duduk di meja itu bersama Shou dan Reiko, membuka bungkusan camilan yang berupa keripik, soda, teh hijau botol, roti yang dibeli Reiko dari minimarket sebelah dan sisa cake dari kafe.
            “Kenapa hanya kau dan ayahmu yang pindah ke sini? Ibumu tidak ikut, Sharon?” tanya Reiko setelah mereka duduk.
            “Tidak. Ibuku sudah meninggal saat aku masih kecil.” Jawab Sharon.
            “Oh, Sharon.” Reiko terkejut. “Maaf, aku turut berduka...”
   “Tidak apa. Itu sudah lama sekali berlalu.” Sharon tidak mempermasalahkannya.
            “Tapi, Sharon, kehilangan seorang ibu saat masih kecil itu sangat...” Reiko tidak dapat meneruskan. “Aku tidak dapat membayangkan jika aku kehilangan ibuku. Kau pasti seorang gadis yang kuat. Aku yakin.”
            “Ibumu meninggal karena apa, Sharon?” tanya Shou.
            “Dia mengidap kanker darah. Dia sudah berjuang semampunya, tapi...” terlintaslah bayang-bayang wajah ibunya yang terakhir dilihatnya saat masih kecil. Dia lupa hampir semua masa kecilnya dan apa yang dilakukannya bertahun-tahun lalu kecuali wajah ibunya yang tersenyum untuk terakhir kali padanya di rumah sakit. “entahlah... mungkin aku tidak sekuat yang kau katakan. Meskipun aku sudah merelakan kepergiannya, terkadang aku masih merindukannya.”
            “Memang sangat menyakitkan jika kehilangan orang tersayang kita. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang di hati kita...” kata Shou.
            “Ya, kau benar.” Sharon setuju. “Tapi, kita semua datang ke sini bukan untuk membicarakan masa laluku, bukan? Aku juga ingin tahu banyak sekali hal tentang kalian.”
            Mereka pun mulai saling bercerita. Dimulai dari Reiko yang tampaknya tidak akan pernah berhenti menanyakan Sharon tentang kampung halamannya, Shou dengan bangga memamerkan skor game-game yang dimainkannya di rumah, dan pertanyaan Sharon tentang sekolah barunya. Mereka seperti teman lama yang bertemu kembali dan tidak akan berhenti bercengkerama sampai esok pagi.
            Sambil menyimak perbincangan mereka, aku menyadari banyak sekali hal yang kulewatkan sejak aku meninggalkan ragaku. Semua orang berubah kecuali aku. Baru kusadari teman-temanku di kelas telah meninggalkan gaya lama mereka dan berubah menjadi orang baru yang tidak kuduga. Ada yang mewarnai rambut mereka seperti Shou, ada yang tadinya malu-malu dan tidak dikenali siapa pun menjadi idola sekolah, ada pula yang dulunya sangat nakal dan sering mendapat hukuman kini menjadi anak baik-baik dan calon mahasiswa universitas ternama. Baik semua perubahan kecil maupun besar itu menusukku. Aku tidak lagi merasa hebat karena tidak terlihat atau bahagia karena aku akan selalu menjadi orang yang sama. Dunia yang terus berubah perlahan-lahan menghapus keberadaanku, hingga akhirnya aku hanya bisa hidup di dalam kenangan mereka.
            Lalu, tiba-tiba kudengar Reiko berkata, “Seandainya Kai ada di sini, dia pasti senang sekali berkenalan denganmu. Dia selalu menerima orang-orang baru dengan tangan terbuka.”
            “Ya, itu sudah sifat keluarganya.” Timpal Shou. “Kau pikir siapa yang mau berteman denganku yang dulu sulit bergaul dengan yang lain selain dia?”
            Sharon membiarkan Reiko dan Shou mengenang diriku lebih lama lagi. Dia sangat terkesan dengan kekaguman dan kerinduan yang tersirat di setiap ucapan mereka tentangku. Itu membuatnya ingin sekali mengenalku secara langsung. Perlahan dia dapat membayangkan seperti apa diriku dengan kepingan-kepingan kenangan yang dikumpulkannya dari orang-orang terdekatku, memastikan tidak ada kepingan yang hilang atau terlewat.
            “Maaf, mungkin pertanyaanku ini tidak akan membuat kalian nyaman...” sela Sharon. “Saat Kai dan keluarganya dibunuh, siapa yang pertama kali menemukan jasad mereka?”
            Keheningan terjadi beberapa lama sebelum Reiko dan Shou menjawab. Berat bagi mereka untuk membayangkan malam itu. Padahal hari itu mereka berpisah denganku dan Minami di sini untuk bertemu lagi di sekolah esok pagi, tanpa mengetahui kami tidak akan pernah kembali.
            “Kalian yang menemukan mereka?” Sharon mencoba menebak karena dia tidak mendapat jawaban.
            “Bukan kami. tapi...” ujar Reiko terbata-bata yang kemudian ucapannya itu diselesaikan oleh Shou.
            “Aoi.”
            Begitu sebuah nama baru didengarnya, Sharon semakin penasaran. “Siapa dia?”
            “Dia pacar Minami.” Jawab Shou. “Entah bagaimana, dia datang ke rumah Kai malam itu dan menemukan mereka sudah tidak bernyawa di sana.”
            “Malam itu dia akan bertemu dengan Minami di dekat rumah. Namun setelah menunggu sangat lama Minami tak kunjung datang, Aoi memberanikan diri untuk datang ke rumah. Dia curiga saat menemukan pintu rumah Minami terbuka lebar pada malam hari. Dia masuk untuk memastikan mereka baik-baik saja, namun malah menemukan rumah sangat kacau seperti ada perampok memasuki rumah. Karena tidak menemukan siapa pun di lantai bawah, dia pergi ke lantai atas, mendapati mereka sudah tidak bernyawa lagi di sana...”
            “Lalu, bagaimana dengan hasil penyelidikan polisi? Kenapa pelakunya masih belum tertangkap sampai sekarang?” tanya Sharon.
           Reiko menjawab, “Polisi sempat menahan Aoi sebagai tersangka, namun mereka melepaskannya karena kurang bukti dan motif.”
          “Kenapa mereka menahannya? Apa karena dia yang pertama kali berada di tempat kejadian?” tanya Sharon.
         “Begitu polisi tahu Aoi adalah pacar Minami, mereka menaruh kecurigaan padanya. Selain menjadi orang pertama di TKP, dia juga dicurigai karena hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Minami...”
            “Tapi itu tidak masuk akal.” Kata Sharon. “Jika Aoi dendam karena itu, dia tidak akan membunuh Minami.”
            “Polisi juga menyelidiki orang-orang di perusahaan ayah Kai namun hasilnya nihil. Siapa pun pelakunya, dia berhasil menutupi jejaknya dengan rapi.”
            Sharon masih belum bisa menerima kesimpulan itu. Pasti masih ada petunjuk yang tersisa di rumahku yang hingga saat ini belum ditemukan oleh polisi. Dia bertekad akan mencarinya sepulangnya dari kafe ini.
            Selagi merenung, Sharon melihat wajah Reiko dan Shou berubah murung karena pertanyaan-pertanyaannya tadi. Dia menjadi merasa bersalah karena telah merusak suasana. “Maafkan aku. Kalian pasti tidak suka aku menanyakannya...”
            “Tidak apa. Kau pasti ingin tahu sejarah rumah barumu, bukan? Kami tahu kita semua pasti akan mati, tapi kematian Kai dan keluarganya datang terlalu cepat dan sangat tragis.” Jawab Reiko dengan senyuman tegar.
            “Padahal kami berempat sudah berteman sejak kecil. Kehadiran Aoi juga menambah keceriaan...” ujar Shou separuh meratap. “Yah, setidaknya kami bersenang-senang sebelum mereka benar-benar pergi...”
            “Tapi kami juga menyukaimu, Sharon.” Kata Reiko. “Hanya karena kami sering mengenang mereka bukan berarti kami tidak menerimamu. Rasanya sudah cukup lama kami tidak menerima kehadiran teman baru.”
            “Terima kasih...” jawab Sharon. Dia amat menghargai ucapan Reiko tadi. “Itu sangat berarti untukku.”

            Kehadiran mereka untuk sama lain hari ini memiliki arti yang berbeda-beda bagi mereka. Reiko senang dia mendapatkan teman perempuan lagi untuk dijadikan sahabat barunya. Dia tidak akan merasa kesepian lagi. Bagi Shou, kehadiran Sharon juga sebagai pertanda bahwa dia harus melanjutkan hidupnya. Dia ingin mengenal Sharon lebih dalam dan bersahabat dengannya. Samar-samar aku dapat menangkap kilatan aneh di matanya yang belum pernah kulihat selama 10 tahun lebih aku berteman dengannya saat dia menatap gadis itu. Rupanya daya tarik Sharon tidak hanya dirasakan olehku, dia juga dapat merasakannya. Bagi mereka ada sesuatu di dalam diri Sharon yang mengatakan kehadirannya akan mengubah segalanya, memutar balikkan yang ada, dan mengisi hari-hari mereka dengan penuh kejutan.

No comments:

Post a Comment