Tuesday, May 28, 2013

The Invisible (Prolog)

Prolog

          Entah sudah berapa lama aku berada di sini. Sejam? Dua jam? Sehari? Sebulan? Entahlah... hari-hariku hanya dipenuhi kekosongan yang tak terhingga. Terkadang saat aku membuka mataku, bisa kulihat seberkas sinar matahari yang cerah di jendela. Namun aku tidak bisa bangkit dari ranjangku yang dingin. Ketidak mampuan ini tidak seperti kau yang selalu malas bangun pagi untuk pergi sekolah atau bekerja, melainkan seperti energimu dihisap oleh lubang hitam atau mungkin hanya waktu yang selalu memaksaku untuk enyah dari sini. Waktu pasti iri denganku yang tidak terpengaruh oleh kekuasaannya. Semua orang semakin menua dan berkembang, namun hanya aku yang tidak.
            Setelah berjuang keras, akhirnya aku dapat turun dari ranjangku. Aneh rasanya, bersikap seperti manusia biasa yang tidur di ranjang dari malam hingga pagi padahal aku tidak butuh tidur. Rasanya aneh juga karena setelah ini aku akan memasuki kamar mandi untuk membasuh wajah dan menyikat gigiku lalu pergi ke ruang makan untuk sarapan. Namun hanya ini yang bisa kulakukan. Bagaikan robot yang terprogram atau rekaman kaset yang terus diputar berulang-ulang, aku terus melakukan ini tanpa mengenal waktu. Bagaikan proyektor, aku dapat melihat ruangan yang penuh debu dan perabotan usang ini terlihat seperti dulu, dan aku menghidupinya.
            Aku menuruni tangga kayu rumahku yang selalu berderak setiap kali orang menapakinya. Sayup-sayup kudengar suara teriakan ibuku dari dapur, menyuruhku bergegas. Sesampainya di ruang makan, aku melihat adik perempuanku yang sudah berseragam dan siap pergi ke sekolah duduk manis di meja makan, mengambil setangkup roti selai stroberi kesukaannya untuk dimakan. Di sampingnya aku melihat ayahku duduk menikmati kopi hangatnya seraya membaca koran. Sesekali dia menggelengkan kepalanya ketika menemukan artikel di koran tentang perekonomian Jepang yang sedang sulit, lalu dia akan mengomel pada ibuku tentang itu. Ibu hanya tersenyum tipis dan memberikan komentar seadanya. Kemudian dia akan menyuruhku bergabung bersama mereka, menawariku pancake cokelat kesukaanku untuk dinikmati. Walaupun ibu mempunyai beberapa pelayan yang bisa disuruhnya memasak, namun dia selalu memasak sarapan kami dengan tangannya sendiri.
            Setelah menghabiskan pancakeku dan begitu adik dan ayahku juga sudah siap, kami berdiri mengambil tas lalu berpamitan pada ibu di depan pintu rumah. Semuanya terasa baik-baik saja.
            Namun begitu kami hendak membuka pintu, tiba-tiba seseorang memutar kenopnya lebih dulu dari luar dan membukanya lebar-lebar. Dalam sekejap, semua itu sirna. Ayah dan adikku lenyap begitu saja ditelan sinar matahari cerah yang menyusup melalui pintu. Semua itu tadi bagaikan kehidupan rumah boneka yang dimainkan oleh seorang gadis kecil. Saat pintu itu terbuka, rumah itu runtuh dan menelan seluruh kehidupannya. Waktu kali ini berhasil mengambil alih kekuasaannya ketika kumelihat seorang wanita muda berpakaian rapi layaknya pebisnis masuk bersama seorang pria paruh baya yang penampilan fisiknya jarang kulihat di sini.
            Seperti hewan kecil yang bersembunyi ketakutan di balik pohon, aku mundur dari hadapan mereka. Kecil kemungkinan mereka bisa melihatku, namun aku tidak ingin mengambil resiko.
            “Rumah ini dulunya milik atasan terdahulu yang meninggal secara tragis bersama keluarganya.” Wanita itu dengan ramah menjelaskan sejarah rumahku yang ternodai oleh pembantaian yang merenggut nyawa keluargaku.
            Tadinya aku mengira kengerian atau ketakutan akan timbul di wajah pria berambut kuning itu, namun dia hanya mengangkat bahu seakan dia sudah tahu tentang itu dan tidak peduli. “Jadi rumah ini milik Yutaka-san, pemilik perusahaan yang meninggal tiga tahun yang lalu?”
            Aku terkesiap saat mendengar pria itu menyebut nama ayahku. Apakah dia mengenalnya?
            “Ya. Terlepas dari kejadian mengerikan itu, rumah ini sangat nyaman dan menyenangkan. Beliau dulu tinggal di sini bersama istri dan kedua anaknya dengan bahagia.” Wanita itu tersenyum seraya memperlihatkan masing-masing ruangan rumahku.
            Lalu kusadari sesuatu yang aneh darinya saat mereka mencapai ruang makanku. Dia menyentuh tengkuk lehernya, bulu kuduknya berdiri karena menyadari keberadaanku. Seharusnya aku marah kenapa mereka datang dengan lancang ke rumahku ini. Namun meskipun aku bisa lolos dari waktu, kenyataan akan selalu membayangiku dan mengingatkanku bahwa tempatku bukanlah di sini lagi, aku tidak berhak mengganggu mereka.
            Wanita itu berusaha mengabaikan perasaan aneh itu dan tetap fokus pada pekerjaannya. “Putri Anda pasti akan menyukai ruang makan yang terang dan dapur yang letaknya persis di samping ruangan ini.”
            Apa? Pria ini sudah berkeluarga? Namun dia tidak terlihat seperti itu. Tidak seperti ayahku yang wajahnya selalu sumringah dan matanya berbinar cerah karena selalu dikelilingi keluarganya, pria ini seperti menyembunyikan sesuatu di balik wajah kerasnya. Matanya yang seperti zamrud itu justru tampak lesu dan kelelahan. Pria ini pasti baru saja atau sedang melalui cobaan yang sangat berat.
            Rumahku ini sudah tidak ditempati lagi semenjak peristiwa tiga tahun lalu yang disebut-sebut wanita itu tadi. Sebagian merasa ketakutan karena gosip yang mengatakan aku masih tinggal di sini. Memang, gosip itu benar. Namun aku tidak akan menumpahkan kemarahanku begitu saja pada orang yang tidak bersalah. Aku hanya tidak tahu lagi kemana harus pergi dan aku juga harus menjaga rumahku karena ada orang jahat yang ingin merampas apa yang kami miliki.
            Mereka lalu menaiki tangga menuju kamar utama yang akan digunakan pria itu sebagai kamarnya. Sembari berjalan, pria itu kembali menanyakan sejarah mengerikan rumah ini. Dan aku tidak yakin apakah aku bisa mendengarnya lagi.
            Kamar utama itu dulunya adalah kamar kedua orang tuaku. Kamar inilah yang paling indah di antara ruangan yang lain. Bernuansa merah marun dan keemasan yang merupakan warna kesukaan ibuku, dindingnya tebal dan berhiaskan kertas dinding bergambar kerang-kerang kecil. Lantai karpetnya sangat lembut dan hangat. Adikku sering berbaring di atasnya dan berguling-guling riang seperti bermain di atas salju. Meskipun semuanya itu terlihat usang, kurasa pria ini bersama keluarganya pasti bisa menghidupinya kembali. Sudah lama sekali rumah ini tidak disentuh oleh sesuatu yang benar-benar hidup.
            Begitu melihat kamar itu, pria itu langsung setuju mengambil rumah ini sebagai tempat tinggalnya. Entah aku harus gembira atau tidak. Pasti aku akan iri melihat keceriaan yang akan dibawa keluarga pria itu.
            “Bagus. Nanti sore Anda hanya perlu menandatangani beberapa surat penting sebelum rumah ini resmi menjadi milik Anda.” Wanita itu tersenyum puas. “Istri Anda pasti senang bisa menempati kamar yang mewah ini bersama Anda.”
            “Sayang sekali.” Pria itu menjawab dengan nada sesal. “Istriku sudah lama meninggal.”
            “Oh...” wanita itu menjadi merasa bersalah. “Ma... maafkan saya...”
            “Tidak apa.” Pria itu tersenyum tabah. “Aku yakin putriku pasti akan sering menghabiskan waktunya di kamar ini selagi aku pergi bekerja.”
            Untuk sesaat, aku bisa merasakan sesuatu yang hilang di diri pria itu. Dan sesuatu itu yang hilang itu menciptakan kehampaan dan duka yang sama besarnya seperti yang kurasakan saat aku harus berpisah dengan keluargaku yang pasti kini sedang menantiku tanpa lelah di dunia sana.

            Mungkin pria itu dan putrinya akan menyadari keberadaanku dan melakukan segala cara untuk mengusirku. Namun aku membutuhkan mereka. Mereka akan menjadi pengingat waktuku, semangat hidup mereka akan mengisi kehampaanku, dan jika mungkin, aku bisa membagi ceritaku bersama mereka, bahwa di sini masih ada jiwa tersesat yang ingin menuntut balas. 

No comments:

Post a Comment