Prolog
Entah sudah berapa lama aku berada
di sini. Sejam? Dua jam? Sehari? Sebulan? Entahlah... hari-hariku hanya
dipenuhi kekosongan yang tak terhingga. Terkadang saat aku membuka mataku, bisa
kulihat seberkas sinar matahari yang cerah di jendela. Namun aku tidak bisa
bangkit dari ranjangku yang dingin. Ketidak mampuan ini tidak seperti kau yang
selalu malas bangun pagi untuk pergi sekolah atau bekerja, melainkan seperti
energimu dihisap oleh lubang hitam atau mungkin hanya waktu yang selalu memaksaku
untuk enyah dari sini. Waktu pasti iri denganku yang tidak terpengaruh oleh
kekuasaannya. Semua orang semakin menua dan berkembang, namun hanya aku yang
tidak.
Setelah berjuang keras, akhirnya aku
dapat turun dari ranjangku. Aneh rasanya, bersikap seperti manusia biasa yang
tidur di ranjang dari malam hingga pagi padahal aku tidak butuh tidur. Rasanya
aneh juga karena setelah ini aku akan memasuki kamar mandi untuk membasuh wajah
dan menyikat gigiku lalu pergi ke ruang makan untuk sarapan. Namun hanya ini yang
bisa kulakukan. Bagaikan robot yang terprogram atau rekaman kaset yang terus
diputar berulang-ulang, aku terus melakukan ini tanpa mengenal waktu. Bagaikan
proyektor, aku dapat melihat ruangan yang penuh debu dan perabotan usang ini
terlihat seperti dulu, dan aku menghidupinya.
Aku menuruni tangga kayu rumahku
yang selalu berderak setiap kali orang menapakinya. Sayup-sayup kudengar suara
teriakan ibuku dari dapur, menyuruhku bergegas. Sesampainya di ruang makan, aku
melihat adik perempuanku yang sudah berseragam dan siap pergi ke sekolah duduk
manis di meja makan, mengambil setangkup roti selai stroberi kesukaannya untuk
dimakan. Di sampingnya aku melihat ayahku duduk menikmati kopi hangatnya seraya
membaca koran. Sesekali dia menggelengkan kepalanya ketika menemukan artikel di
koran tentang perekonomian Jepang yang sedang sulit, lalu dia akan mengomel pada
ibuku tentang itu. Ibu hanya tersenyum tipis dan memberikan komentar seadanya. Kemudian
dia akan menyuruhku bergabung bersama mereka, menawariku pancake cokelat
kesukaanku untuk dinikmati. Walaupun ibu mempunyai beberapa pelayan yang bisa
disuruhnya memasak, namun dia selalu memasak sarapan kami dengan tangannya
sendiri.
Setelah menghabiskan pancakeku dan
begitu adik dan ayahku juga sudah siap, kami berdiri mengambil tas lalu
berpamitan pada ibu di depan pintu rumah. Semuanya terasa baik-baik saja.
Namun begitu kami hendak membuka
pintu, tiba-tiba seseorang memutar kenopnya lebih dulu dari luar dan membukanya
lebar-lebar. Dalam sekejap, semua itu sirna. Ayah dan adikku lenyap begitu saja
ditelan sinar matahari cerah yang menyusup melalui pintu. Semua itu tadi
bagaikan kehidupan rumah boneka yang dimainkan oleh seorang gadis kecil. Saat
pintu itu terbuka, rumah itu runtuh dan menelan seluruh kehidupannya. Waktu
kali ini berhasil mengambil alih kekuasaannya ketika kumelihat seorang wanita
muda berpakaian rapi layaknya pebisnis masuk bersama seorang pria paruh baya
yang penampilan fisiknya jarang kulihat di sini.
Seperti hewan kecil yang bersembunyi
ketakutan di balik pohon, aku mundur dari hadapan mereka. Kecil kemungkinan
mereka bisa melihatku, namun aku tidak ingin mengambil resiko.
“Rumah ini dulunya milik atasan
terdahulu yang meninggal secara tragis bersama keluarganya.” Wanita itu dengan
ramah menjelaskan sejarah rumahku yang ternodai oleh pembantaian yang merenggut
nyawa keluargaku.
Tadinya aku mengira kengerian atau
ketakutan akan timbul di wajah pria berambut kuning itu, namun dia hanya
mengangkat bahu seakan dia sudah tahu tentang itu dan tidak peduli. “Jadi rumah
ini milik Yutaka-san, pemilik perusahaan yang meninggal tiga tahun yang lalu?”
Aku terkesiap saat mendengar pria
itu menyebut nama ayahku. Apakah dia mengenalnya?
“Ya. Terlepas dari kejadian
mengerikan itu, rumah ini sangat nyaman dan menyenangkan. Beliau dulu tinggal
di sini bersama istri dan kedua anaknya dengan bahagia.” Wanita itu tersenyum
seraya memperlihatkan masing-masing ruangan rumahku.
Lalu kusadari sesuatu yang aneh
darinya saat mereka mencapai ruang makanku. Dia menyentuh tengkuk lehernya,
bulu kuduknya berdiri karena menyadari keberadaanku. Seharusnya aku marah
kenapa mereka datang dengan lancang ke rumahku ini. Namun meskipun aku bisa
lolos dari waktu, kenyataan akan selalu membayangiku dan mengingatkanku bahwa
tempatku bukanlah di sini lagi, aku tidak berhak mengganggu mereka.
Wanita itu berusaha mengabaikan
perasaan aneh itu dan tetap fokus pada pekerjaannya. “Putri Anda pasti akan
menyukai ruang makan yang terang dan dapur yang letaknya persis di samping
ruangan ini.”
Apa? Pria ini sudah berkeluarga? Namun
dia tidak terlihat seperti itu. Tidak seperti ayahku yang wajahnya selalu
sumringah dan matanya berbinar cerah karena selalu dikelilingi keluarganya,
pria ini seperti menyembunyikan sesuatu di balik wajah kerasnya. Matanya yang
seperti zamrud itu justru tampak lesu dan kelelahan. Pria ini pasti baru saja
atau sedang melalui cobaan yang sangat berat.
Rumahku ini sudah tidak ditempati
lagi semenjak peristiwa tiga tahun lalu yang disebut-sebut wanita itu tadi. Sebagian
merasa ketakutan karena gosip yang mengatakan aku masih tinggal di sini. Memang,
gosip itu benar. Namun aku tidak akan menumpahkan kemarahanku begitu saja pada
orang yang tidak bersalah. Aku hanya tidak tahu lagi kemana harus pergi dan aku
juga harus menjaga rumahku karena ada orang jahat yang ingin merampas apa yang
kami miliki.
Mereka lalu menaiki tangga menuju
kamar utama yang akan digunakan pria itu sebagai kamarnya. Sembari berjalan,
pria itu kembali menanyakan sejarah mengerikan rumah ini. Dan aku tidak yakin apakah
aku bisa mendengarnya lagi.
Kamar utama itu dulunya adalah kamar
kedua orang tuaku. Kamar inilah yang paling indah di antara ruangan yang lain. Bernuansa
merah marun dan keemasan yang merupakan warna kesukaan ibuku, dindingnya tebal
dan berhiaskan kertas dinding bergambar kerang-kerang kecil. Lantai karpetnya
sangat lembut dan hangat. Adikku sering berbaring di atasnya dan
berguling-guling riang seperti bermain di atas salju. Meskipun semuanya itu
terlihat usang, kurasa pria ini bersama keluarganya pasti bisa menghidupinya
kembali. Sudah lama sekali rumah ini tidak disentuh oleh sesuatu yang benar-benar
hidup.
Begitu melihat kamar itu, pria itu
langsung setuju mengambil rumah ini sebagai tempat tinggalnya. Entah aku harus
gembira atau tidak. Pasti aku akan iri melihat keceriaan yang akan dibawa
keluarga pria itu.
“Bagus. Nanti sore Anda hanya perlu
menandatangani beberapa surat penting sebelum rumah ini resmi menjadi milik
Anda.” Wanita itu tersenyum puas. “Istri Anda pasti senang bisa menempati kamar
yang mewah ini bersama Anda.”
“Sayang sekali.” Pria itu menjawab
dengan nada sesal. “Istriku sudah lama meninggal.”
“Oh...” wanita itu menjadi merasa
bersalah. “Ma... maafkan saya...”
“Tidak apa.” Pria itu tersenyum
tabah. “Aku yakin putriku pasti akan sering menghabiskan waktunya di kamar ini
selagi aku pergi bekerja.”
Untuk sesaat, aku bisa merasakan
sesuatu yang hilang di diri pria itu. Dan sesuatu itu yang hilang itu
menciptakan kehampaan dan duka yang sama besarnya seperti yang kurasakan saat
aku harus berpisah dengan keluargaku yang pasti kini sedang menantiku tanpa
lelah di dunia sana.
Mungkin pria itu dan putrinya akan
menyadari keberadaanku dan melakukan segala cara untuk mengusirku. Namun aku
membutuhkan mereka. Mereka akan menjadi pengingat waktuku, semangat hidup
mereka akan mengisi kehampaanku, dan jika mungkin, aku bisa membagi ceritaku bersama
mereka, bahwa di sini masih ada jiwa tersesat yang ingin menuntut balas.
No comments:
Post a Comment