5
Sharon
meninggalkan sekolah dengan wajah lesu sore itu. Setelah melihat hantu yang
mengusirnya dari atap tadi siang, dia tidak bisa lagi belajar dengan fokus
hingga guru sampai beberapa kali menegurnya.
Dia
menaruh tas sekolahnya di keranjang sepeda seraya membawa sepedanya keluar dari
sekolah. Dia bahkan tidak sanggup mengayuh sepedanya lagi. Badannya lemas, entah
karena perutnya keroncongan atau karena pengalaman besarnya hari ini. Dia tahu
dia akan bertemu orang-orang baru dan tidak akan terkejut jika mereka tidak
menerima keberadaannya, namun dia tidak akan pernah menduga seorang hantu akan
muncul tepat di depannya, menakutinya, dan mengusirnya.
Dia
tidak tahu harus menangis atau tidak. Bahkan hantu saja tidak mau menerima
keberadaannya...
Sepanjang
jalan, benaknya terus berkecamuk tanpa henti. Mana mungkin dia memberitahu
ayahnya bahwa pada hari pertamanya bersekolah dia bertemu seorang hantu.
Bisa-bisa ayahnya menertawakannya nanti.
Sementara
dirinya merasa kacau, aku masih bertanya-tanya. Tidak mungkin Sharon bisa
melihat hantu tadi hanyalah kebetulan. Jika hanya ingin menakutinya, Amaya,
gadis hantu itu tidak akan membahas Sharon di depanku secara panjang lebar.
Sejak awal aku melihat Sharon, aku sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda
pada dirinya. Mungkin saja dia memiliki bakat mampu melihat makhluk-makhluk tak
terlihat sepertiku namun dia tidak menyadarinya.
Jika
itu benar, suatu hari nanti dia pasti akan bisa melihatku.
Dan
aku menjadi sangat gelisah saat membayangkannya.
Mendadak
Sharon berhenti berjalan. Dia merasa enggan untuk pulang karena takut
kesendiriannya di rumah akan semakin mengacaukannya. Namun dia tidak tahu harus
pergi ke mana karena belum tahu daerah sekitar sini.
Akan
tetapi, kebingungannya terjawab saat dia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah
kafe di seberang jalan. Kafe itu terlihat nyaman suasananya dan tidak terlalu
ramai. Bagian luar kafe itu memiliki pagar kayu berwarna putih berhiaskan
tumbuhan-tumbuhan merambat berwarna hijau yang memberi kesan romantis.
Dindingnya bermotif batu bata merah dan pintu serta jendela kacanya berkanopi merah
juga. Terhipnotis oleh daya tarik kafe dan perut keroncongannya yang terus mengusiknya,
Sharon memutuskan untuk mampir ke sana. Dia menaruh sepedanya di tempat parkir
sepeda yang sudah tersedia.
Saat
masuk ke dalam, dia disambut oleh kehangatan suasana kafe yang lengang dan mengingatkannya
dengan kafe langganannya di London. Interiornya didominasi oleh kayu walnut,
dinding cokelatnya dihiasi papan menu dan promosi, poster-poster bertuliskan
kata-kata mutiara, dan lemari kaca yang berisi pajangan-pajangan gelas, piring,
dan perabotan keramik lainnya yang bernuansa kuno kesukaannya. Sharon sangat
menyukai lantai kayunya yang sewarna dengan rambutnya.
Sambil
terus mengagumi isi kafe, dia berjalan ke konter yang memiliki etalase kaca
berisi kue-kue dan roti-roti yang tampak lezat. Dia tergiur untuk memesan
beberapa, apalagi menu minuman kafe menyediakan minuman kesukaannya yaitu
cokelat hangat.
“Selamat
sore, kau ingin memesan apa?” seorang pemuda menyambut kehadirannya di balik
konter. Sharon mengalihkan pandangannya ke pemuda ramah itu dan terpana untuk
sesaat.
Sharon
berpikir dia tidak akan jatuh hati pada pemuda Jepang karena mereka bukan
tipenya. Namun begitu dia melayangkan pandangannya pada pemuda di depannya ini,
rasanya dia akan berubah pikiran. Pemuda jangkung ini berahang kokoh, berhidung
mancung sepertiku, bermata cokelat
berbinar yang terlihat seakan-akan dia menyimpan rahasia, dan berwajah sedikit
cantik. Namun tidak seperti pemuda cantik lainnya yang cenderung berpenampilan
feminin, pemuda ini tetap memiliki kesan maskulinnya yang terlihat jelas. Dia
mengenakan kaus oblong putih, celana jins di balik celemek kafenya, dan jam
tangan hitam. Senyum cantiknya justru membuat Sharon melayang. Bagi Sharon, pemuda
ini sangat cocok mewarnai rambut tebal berpotongan ala visual keinya sewarna
dengan kayu walnut di sekitarnya.
Aku
sama sekali tidak heran dengan reaksi Sharon. Kira-kira seperti itulah reaksi
setiap gadis jika mereka bertemu pemuda bernama Shou itu. Shou adalah anak Bibi
Tomoko sekaligus sahabat karibku sejak kecil.
“Hei,
kau Sharon Nixon.” Senyum Shou melebar setelah menyadari siapa gadis yang akan
dilayaninya.
“Maaf?”
Sharon mengernyitkan dahi, bingung mengapa pemuda ini bisa tahu siapa dirinya.
“Ah,
maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Shou.” Shou mengulurkan tangannya
pada Sharon.
Sharon
ragu untuk membalas uluran tangan itu. Dia baru ingat berjabat tangan bukanlah
budaya orang Jepang untuk berkenalan atau pun bertemu. Terakhir kali dia
melakukannya tadi siang, dia mendapat sambutan yang dingin dan tatapan jijik
sebagai balasannya. Akan tetapi, Shou malah melupakan kebiasaan budayanya
selama sejenak dan mengulurkan tangannya untuk Sharon. Berapa orang yang pernah
diperlakukan seperti ini olehnya?
“Sha...
Sharon...” dia membalas uluran tangan itu. Dia dapat merasakan kehangatan yang
bersahabat yang belum pernah dirasakannya sejak dia tiba di kota ini saat Shou
meremas tangannya.
“Salam
kenal. Aku putra Tomoko Kohara yang datang ke rumahmu kemarin. Maaf, ya, ibuku
pasti cerewet sekali di depanmu dan ayahmu.” Kata Shou.
“Ya...”
jawab Sharon salah tingkah. Dia ingat Bibi Tomoko berkata putranya tampan,
namun tidak setampan ini. “Dia membicarakan banyak hal tentangmu.”
“Oh,
kuharap bukan sesuatu yang memalukan.” Shou terkekeh. “Ngomong-ngomong, apa kau
sadar bahwa sebenarnya kita sekelas?”
“Oh
ya?” Sharon terkejut.
“Kau
pasti tidak menyadari keberadaanku. Kau terlihat sangat gugup tadi. Hari
pertama sekolah memang selalu berat.” Komentar Shou. “Tapi kuharap kau senang
bersekolah di sana.”
Sharon
tidak tahu harus menjawab apa untuk itu. Dia telah mengalami banyak hal di hari
pertamanya.
“Jika
kau terganggu dengan sikap anak-anak di kelas kita, jangan terlalu kau
pikirkan. Sejak kehilangan Kai, mereka menjadi sulit menerima anak baru di
kelas.” Kata Shou.
“Kai?”
Sharon dibuat terkejut untuk kedua kalinya. “Maksudmu, Kai dulunya juga berada
di kelas yang sama?”
“Ya.
Kukira kau sudah mengetahui itu dari ibuku.” Shou juga ikut kaget.
“Memangnya,
Kai seperti apa di mata mereka?” Sharon penasaran.
Shou
tersenyum sesaat karena dia jadi teringat pada diriku. “Dia anak yang
menakjubkan. Dia bergaul dengan siapa pun dan ramah pada semua orang, bintang
sepak bola sekolah, dan siswa populer ketiga yang digemari para gadis di
sekolah kita. Bayangkan saja, dia berhasil meraih semua itu saat masih kelas
10!”
Semua
orang pasti menginginkan orang lain memiliki kesan baik tentang dirinya bila
dia meninggalkan dunia ini. Hidupku hanya sebentar, aku tidak berharap orang
lain akan memiliki kesan baik tentang diriku. Namun saat mendengar betapa
besarnya kenangan tentangku di hatinya, aku tidak tahu harus bersikap apa.
Semua orang yang kukenal termasuk Shou pasti sudah berubah selama tiga tahun
ini, namun mereka tidak pernah melupakanku. Itu sudah cukup membuat arwah
penasaran sepertiku menangis bahagia.
“Saat
mendapat kabar kematiannya, kami sama sekali tidak percaya. Kami malah berpikir
itu adalah lelucon tidak bertanggung jawab yang disebarkan oleh anak-anak
iseng.” Shou meneruskan ceritanya. “Namun begitu kami melihat jasadnya di rumah
duka, kami tidak bisa berkata apa-apa...”
Sharon
menyentuh tangan Shou lagi untuk menyampaikan rasa simpatinya. “Aku turut
berduka, Shou...”
“Tidak
apa. Aku yakin anak nakal itu pasti sudah beristirahat dengan tenang di dunia
sana.” Jawab Shou sambil mengusap hidungnya dengan percaya diri. Tiba-tiba dia
teringat sesuatu yang sangat penting yang menjadi alasan kedatangan Sharon. “Oh
ya!! Kau pasti ingin memesan sesuatu, bukan? Maaf, Sharon, maaf! Aku memang
pelayan yang bodoh!” Shou membungkukkan badannya berkali-kali.
Sharon
mengikik geli dibuatnya. Ternyata pemuda ini bisa ceroboh juga. “Tidak apa,
Shou.”
Sharon
menyebutkan pesanannya seraya Shou mencatatnya. Selagi Shou membuat cokelat
hangatnya dan mengambil pasta pesanannya, Sharon menaruh sejumlah uang di konter
untuk membayar.
Selagi
menunggu, Sharon mendengar suara gemerincing lonceng kecil yang menggantung di
pintu masuk kafe sebagai tanda bahwa ada pengunjung. Dia menoleh dan melihat
seorang gadis seusianya masuk ke dalam. Gadis itu melepaskan syal dan mantel
hitamnya, memperlihatkan seragam sekolah yang persis seperti yang dikenakannya.
“Maaf
aku baru datang, Shou! Tugas piket kelas memang menyusahkan.” Seru gadis itu
sebelum betemu pandang dengan Sharon. Gadis itu pun tersenyum padanya. “Eh, kau
Sharon Nixon, bukan?”
Sharon
mengangguk pelan. Gadis berwajah ceria itu mendekatinya dan memperkenalkan
diri. “Aku Reiko Suzuki dari kelas 3-3. Kelasku persis berada di samping
kelasmu.”
“Halo,
Reiko.” Balas Sharon.
Reiko
Suzuki. Aku juga mengenal gadis itu. Dia adalah gadis enerjik yang manis dan berambut
pendek seperti lelaki karena ketomboiannya. Dia gadis yang tidak akan segan
berkata jujur dan blak-blakan. Orang tuanya adalah jutawan kaya raya. Ayahku
membangun perusahaan yang dimilikinya bersama ayahnya, ibunya seorang desainer
mode ternama yang memiliki kafe ini. Reiko membantu ibunya mengawasi kafe ini
sambil bekerja, dia jugalah yang memberikan Shou tawaran untuk bekerja paruh
waktu di sini.
Aku,
Shou, dan Reiko adalah sahabat karib di sekolah. Kami bertiga hampir tidak
pernah terpisahkan.
“Senang
bertemu denganmu! Aku mendengar cerita dari ayahku tentangmu dan ayahmu yang
jauh-jauh datang kemari untuk membantunya. Dia sangat berterima kasih kepada
kalian.” Ujar Reiko.
“Seharusnya
kamilah yang berterima kasih. Kalian meminjamkan kami rumah yang sangat bagus.”
Balas Sharon. Kesan pertamanya terhadap Reiko adalah dia dapat merasakan kerendah
hatian gadis itu sehingga dia merasa nyaman dengannya. Dia berpikir tidak ada
salahnya menjadikan Reiko sebagai temannya di sini.
“Kau
sudah memesan sesuatu? Cake cokelat kami terkenal enak, lho...” tawar Reiko.
“Sudah.
Ngg... kurasa lain kali saja.” Sharon menjawab sungkan.
“Kau
harus datang ke sini setiap hari! Kalau kau mau, kau bisa bekerja di sini
juga!” kata Reiko dengan semangat. Sharon ingin sekali menerima tawarannya.
Akan tetapi, dia takut ayahnya tidak akan mengizinkannya.
Reiko
pun undur diri dari hadapan Sharon untuk mulai bekerja. Sharon tersenyum
sendiri melihat gadis itu berjalan masuk ke ruang karyawan sambil bersiul
riang.
“Silakan!
Selamat menikmati!” Shou muncul lagi dengan membawa segelas cokelat hangat dan pasta pesanan Sharon di atas nampan merah.
“Terima
kasih.” Kata Sharon sebelum menyadari ada sepotong besar cake cokelat yang
dibicarakan Sharon tadi ada di sebuah piring kecil putih di samping cokelat
hangatnya. “Lho? Aku tidak memesan ini...”
“Yang
ini gratis dariku.” Kata Shou sambil tersenyum penuh arti. “Untuk ucapan
selamat datang.”
“Eh...”
Sharon tidak menyangka hari menyebalkannya ini terhapus dengan kebaikan kecil
yang semanis cake cokelat itu dari Shou. “Terima kasih, Shou...”
“Kalau
kau bisa, kau mau tinggal di kafe ini sampai nanti malam?” tanya Shou sebelum
Sharon membawa nampannya ke meja terdekat.
“Memangnya
kenapa?”
“Aku
dan Reiko selesai bekerja pukul delapan nanti. Kalau kau mau, kita bisa
mengobrol nanti.” ajak Shou dengan penuh harap.
“Kedengarannya
menyenangkan.” Sharon menyambut ajakan itu dengan senang hati. Ayahnya pasti
akan pulang larut dan Sharon lebih memilih menghabiskan waktunya bersama
teman-teman barunya daripada sendirian di rumah saja.
Shou
bersorak pelan. Dia senang gadis semanis Sharon mau menerima ajakannya. “Baiklah,
sampai bertemu lagi nanti malam.”
No comments:
Post a Comment