Wednesday, May 29, 2013

The Invisible (5)

5

            Sharon meninggalkan sekolah dengan wajah lesu sore itu. Setelah melihat hantu yang mengusirnya dari atap tadi siang, dia tidak bisa lagi belajar dengan fokus hingga guru sampai beberapa kali menegurnya.
            Dia menaruh tas sekolahnya di keranjang sepeda seraya membawa sepedanya keluar dari sekolah. Dia bahkan tidak sanggup mengayuh sepedanya lagi. Badannya lemas, entah karena perutnya keroncongan atau karena pengalaman besarnya hari ini. Dia tahu dia akan bertemu orang-orang baru dan tidak akan terkejut jika mereka tidak menerima keberadaannya, namun dia tidak akan pernah menduga seorang hantu akan muncul tepat di depannya, menakutinya, dan mengusirnya.
            Dia tidak tahu harus menangis atau tidak. Bahkan hantu saja tidak mau menerima keberadaannya...
            Sepanjang jalan, benaknya terus berkecamuk tanpa henti. Mana mungkin dia memberitahu ayahnya bahwa pada hari pertamanya bersekolah dia bertemu seorang hantu. Bisa-bisa ayahnya menertawakannya nanti.
            Sementara dirinya merasa kacau, aku masih bertanya-tanya. Tidak mungkin Sharon bisa melihat hantu tadi hanyalah kebetulan. Jika hanya ingin menakutinya, Amaya, gadis hantu itu tidak akan membahas Sharon di depanku secara panjang lebar. Sejak awal aku melihat Sharon, aku sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Mungkin saja dia memiliki bakat mampu melihat makhluk-makhluk tak terlihat sepertiku namun dia tidak menyadarinya.
            Jika itu benar, suatu hari nanti dia pasti akan bisa melihatku.
            Dan aku menjadi sangat gelisah saat membayangkannya.
            Mendadak Sharon berhenti berjalan. Dia merasa enggan untuk pulang karena takut kesendiriannya di rumah akan semakin mengacaukannya. Namun dia tidak tahu harus pergi ke mana karena belum tahu daerah sekitar sini.
            Akan tetapi, kebingungannya terjawab saat dia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah kafe di seberang jalan. Kafe itu terlihat nyaman suasananya dan tidak terlalu ramai. Bagian luar kafe itu memiliki pagar kayu berwarna putih berhiaskan tumbuhan-tumbuhan merambat berwarna hijau yang memberi kesan romantis. Dindingnya bermotif batu bata merah dan pintu serta jendela kacanya berkanopi merah juga. Terhipnotis oleh daya tarik kafe dan perut keroncongannya yang terus mengusiknya, Sharon memutuskan untuk mampir ke sana. Dia menaruh sepedanya di tempat parkir sepeda yang sudah tersedia.
            Saat masuk ke dalam, dia disambut oleh kehangatan suasana kafe yang lengang dan mengingatkannya dengan kafe langganannya di London. Interiornya didominasi oleh kayu walnut, dinding cokelatnya dihiasi papan menu dan promosi, poster-poster bertuliskan kata-kata mutiara, dan lemari kaca yang berisi pajangan-pajangan gelas, piring, dan perabotan keramik lainnya yang bernuansa kuno kesukaannya. Sharon sangat menyukai lantai kayunya yang sewarna dengan rambutnya.
            Sambil terus mengagumi isi kafe, dia berjalan ke konter yang memiliki etalase kaca berisi kue-kue dan roti-roti yang tampak lezat. Dia tergiur untuk memesan beberapa, apalagi menu minuman kafe menyediakan minuman kesukaannya yaitu cokelat hangat.
            “Selamat sore, kau ingin memesan apa?” seorang pemuda menyambut kehadirannya di balik konter. Sharon mengalihkan pandangannya ke pemuda ramah itu dan terpana untuk sesaat.
            Sharon berpikir dia tidak akan jatuh hati pada pemuda Jepang karena mereka bukan tipenya. Namun begitu dia melayangkan pandangannya pada pemuda di depannya ini, rasanya dia akan berubah pikiran. Pemuda jangkung ini berahang kokoh, berhidung  mancung sepertiku, bermata cokelat berbinar yang terlihat seakan-akan dia menyimpan rahasia, dan berwajah sedikit cantik. Namun tidak seperti pemuda cantik lainnya yang cenderung berpenampilan feminin, pemuda ini tetap memiliki kesan maskulinnya yang terlihat jelas. Dia mengenakan kaus oblong putih, celana jins di balik celemek kafenya, dan jam tangan hitam. Senyum cantiknya justru membuat Sharon melayang. Bagi Sharon, pemuda ini sangat cocok mewarnai rambut tebal berpotongan ala visual keinya sewarna dengan kayu walnut di sekitarnya.
            Aku sama sekali tidak heran dengan reaksi Sharon. Kira-kira seperti itulah reaksi setiap gadis jika mereka bertemu pemuda bernama Shou itu. Shou adalah anak Bibi Tomoko sekaligus sahabat karibku sejak kecil.
            “Hei, kau Sharon Nixon.” Senyum Shou melebar setelah menyadari siapa gadis yang akan dilayaninya.
            “Maaf?” Sharon mengernyitkan dahi, bingung mengapa pemuda ini bisa tahu siapa dirinya.
            “Ah, maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Shou.” Shou mengulurkan tangannya pada Sharon.
            Sharon ragu untuk membalas uluran tangan itu. Dia baru ingat berjabat tangan bukanlah budaya orang Jepang untuk berkenalan atau pun bertemu. Terakhir kali dia melakukannya tadi siang, dia mendapat sambutan yang dingin dan tatapan jijik sebagai balasannya. Akan tetapi, Shou malah melupakan kebiasaan budayanya selama sejenak dan mengulurkan tangannya untuk Sharon. Berapa orang yang pernah diperlakukan seperti ini olehnya?
            “Sha... Sharon...” dia membalas uluran tangan itu. Dia dapat merasakan kehangatan yang bersahabat yang belum pernah dirasakannya sejak dia tiba di kota ini saat Shou meremas tangannya.
            “Salam kenal. Aku putra Tomoko Kohara yang datang ke rumahmu kemarin. Maaf, ya, ibuku pasti cerewet sekali di depanmu dan ayahmu.” Kata Shou.
            “Ya...” jawab Sharon salah tingkah. Dia ingat Bibi Tomoko berkata putranya tampan, namun tidak setampan ini. “Dia membicarakan banyak hal tentangmu.”       
            “Oh, kuharap bukan sesuatu yang memalukan.” Shou terkekeh. “Ngomong-ngomong, apa kau sadar bahwa sebenarnya kita sekelas?”
            “Oh ya?” Sharon terkejut.
            “Kau pasti tidak menyadari keberadaanku. Kau terlihat sangat gugup tadi. Hari pertama sekolah memang selalu berat.” Komentar Shou. “Tapi kuharap kau senang bersekolah di sana.”
            Sharon tidak tahu harus menjawab apa untuk itu. Dia telah mengalami banyak hal di hari pertamanya.
            “Jika kau terganggu dengan sikap anak-anak di kelas kita, jangan terlalu kau pikirkan. Sejak kehilangan Kai, mereka menjadi sulit menerima anak baru di kelas.” Kata Shou.
            “Kai?” Sharon dibuat terkejut untuk kedua kalinya. “Maksudmu, Kai dulunya juga berada di kelas yang sama?”
            “Ya. Kukira kau sudah mengetahui itu dari ibuku.” Shou juga ikut kaget.
            “Memangnya, Kai seperti apa di mata mereka?” Sharon penasaran.
            Shou tersenyum sesaat karena dia jadi teringat pada diriku. “Dia anak yang menakjubkan. Dia bergaul dengan siapa pun dan ramah pada semua orang, bintang sepak bola sekolah, dan siswa populer ketiga yang digemari para gadis di sekolah kita. Bayangkan saja, dia berhasil meraih semua itu saat masih kelas 10!”
            Semua orang pasti menginginkan orang lain memiliki kesan baik tentang dirinya bila dia meninggalkan dunia ini. Hidupku hanya sebentar, aku tidak berharap orang lain akan memiliki kesan baik tentang diriku. Namun saat mendengar betapa besarnya kenangan tentangku di hatinya, aku tidak tahu harus bersikap apa. Semua orang yang kukenal termasuk Shou pasti sudah berubah selama tiga tahun ini, namun mereka tidak pernah melupakanku. Itu sudah cukup membuat arwah penasaran sepertiku menangis bahagia.
            “Saat mendapat kabar kematiannya, kami sama sekali tidak percaya. Kami malah berpikir itu adalah lelucon tidak bertanggung jawab yang disebarkan oleh anak-anak iseng.” Shou meneruskan ceritanya. “Namun begitu kami melihat jasadnya di rumah duka, kami tidak bisa berkata apa-apa...”
            Sharon menyentuh tangan Shou lagi untuk menyampaikan rasa simpatinya. “Aku turut berduka, Shou...”
            “Tidak apa. Aku yakin anak nakal itu pasti sudah beristirahat dengan tenang di dunia sana.” Jawab Shou sambil mengusap hidungnya dengan percaya diri. Tiba-tiba dia teringat sesuatu yang sangat penting yang menjadi alasan kedatangan Sharon. “Oh ya!! Kau pasti ingin memesan sesuatu, bukan? Maaf, Sharon, maaf! Aku memang pelayan yang bodoh!” Shou membungkukkan badannya berkali-kali.
            Sharon mengikik geli dibuatnya. Ternyata pemuda ini bisa ceroboh juga. “Tidak apa, Shou.”
            Sharon menyebutkan pesanannya seraya Shou mencatatnya. Selagi Shou membuat cokelat hangatnya dan mengambil pasta pesanannya, Sharon menaruh sejumlah uang di konter untuk membayar.
            Selagi menunggu, Sharon mendengar suara gemerincing lonceng kecil yang menggantung di pintu masuk kafe sebagai tanda bahwa ada pengunjung. Dia menoleh dan melihat seorang gadis seusianya masuk ke dalam. Gadis itu melepaskan syal dan mantel hitamnya, memperlihatkan seragam sekolah yang persis seperti yang dikenakannya.
            “Maaf aku baru datang, Shou! Tugas piket kelas memang menyusahkan.” Seru gadis itu sebelum betemu pandang dengan Sharon. Gadis itu pun tersenyum padanya. “Eh, kau Sharon Nixon, bukan?”
            Sharon mengangguk pelan. Gadis berwajah ceria itu mendekatinya dan memperkenalkan diri. “Aku Reiko Suzuki dari kelas 3-3. Kelasku persis berada di samping kelasmu.”
            “Halo, Reiko.” Balas Sharon.
            Reiko Suzuki. Aku juga mengenal gadis itu. Dia adalah gadis enerjik yang manis dan berambut pendek seperti lelaki karena ketomboiannya. Dia gadis yang tidak akan segan berkata jujur dan blak-blakan. Orang tuanya adalah jutawan kaya raya. Ayahku membangun perusahaan yang dimilikinya bersama ayahnya, ibunya seorang desainer mode ternama yang memiliki kafe ini. Reiko membantu ibunya mengawasi kafe ini sambil bekerja, dia jugalah yang memberikan Shou tawaran untuk bekerja paruh waktu di sini.
            Aku, Shou, dan Reiko adalah sahabat karib di sekolah. Kami bertiga hampir tidak pernah terpisahkan.
            “Senang bertemu denganmu! Aku mendengar cerita dari ayahku tentangmu dan ayahmu yang jauh-jauh datang kemari untuk membantunya. Dia sangat berterima kasih kepada kalian.” Ujar Reiko.
            “Seharusnya kamilah yang berterima kasih. Kalian meminjamkan kami rumah yang sangat bagus.” Balas Sharon. Kesan pertamanya terhadap Reiko adalah dia dapat merasakan kerendah hatian gadis itu sehingga dia merasa nyaman dengannya. Dia berpikir tidak ada salahnya menjadikan Reiko sebagai temannya di sini.
            “Kau sudah memesan sesuatu? Cake cokelat kami terkenal enak, lho...” tawar Reiko.
            “Sudah. Ngg... kurasa lain kali saja.” Sharon menjawab sungkan.
            “Kau harus datang ke sini setiap hari! Kalau kau mau, kau bisa bekerja di sini juga!” kata Reiko dengan semangat. Sharon ingin sekali menerima tawarannya. Akan tetapi, dia takut ayahnya tidak akan mengizinkannya.
            Reiko pun undur diri dari hadapan Sharon untuk mulai bekerja. Sharon tersenyum sendiri melihat gadis itu berjalan masuk ke ruang karyawan sambil bersiul riang.
            “Silakan! Selamat menikmati!” Shou muncul lagi dengan membawa segelas cokelat hangat dan  pasta pesanan Sharon di atas nampan merah.
            “Terima kasih.” Kata Sharon sebelum menyadari ada sepotong besar cake cokelat yang dibicarakan Sharon tadi ada di sebuah piring kecil putih di samping cokelat hangatnya. “Lho? Aku tidak memesan ini...”
            “Yang ini gratis dariku.” Kata Shou sambil tersenyum penuh arti. “Untuk ucapan selamat datang.”
            “Eh...” Sharon tidak menyangka hari menyebalkannya ini terhapus dengan kebaikan kecil yang semanis cake cokelat itu dari Shou. “Terima kasih, Shou...”
            “Kalau kau bisa, kau mau tinggal di kafe ini sampai nanti malam?” tanya Shou sebelum Sharon membawa nampannya ke meja terdekat.
            “Memangnya kenapa?”
            “Aku dan Reiko selesai bekerja pukul delapan nanti. Kalau kau mau, kita bisa mengobrol nanti.” ajak Shou dengan penuh harap.
            “Kedengarannya menyenangkan.” Sharon menyambut ajakan itu dengan senang hati. Ayahnya pasti akan pulang larut dan Sharon lebih memilih menghabiskan waktunya bersama teman-teman barunya daripada sendirian di rumah saja.

            Shou bersorak pelan. Dia senang gadis semanis Sharon mau menerima ajakannya. “Baiklah, sampai bertemu lagi nanti malam.”

No comments:

Post a Comment