3
Sharon
tidak dapat tidur dengan pulas semalam. Aku yang mengawasinya sepanjang malam
sesekali melihatnya meracau pelan dalam tidurnya. Kupikir dia sedang bermimpi
buruk atau belum terbiasa dengan suasana kamarku. Apakah penemuan darahku yang
sama sekali tidak diduganya itu penyebabnya?
Badannya
terasa pegal, dadanya sesak, pusing yang amat sangat membebani kepalanya, dan
nyaris saja dia muntah-muntah di kamar mandi karena dirinya yang sangat lelah
tidak mendapat tidur yang nyaman.
Aku
menjadi khawatir dia tidak akan bisa masuk sekolah karena ini. Namun Sharon ternyata
sudah mengenakan seragam sekolahnya saat dia melangkah keluar dari kamar mandi.
Dan aku dibuat kaget karena seragamnya itu adalah seragam SMA tempatku
bersekolah dulu.
Sharon
mengambil dasi sekolah dari lemarinya lalu dia kenakan dasi itu di bawah kerah
kemaja putihnya. Dia juga mengenakan blazer sekolah yang berwarna hitam dan
memiliki emblem sekolah di bagian dada. Dia menarik sedikit ke bawah rok
sekolahnya yang dianggapnya masih terlalu pendek. Walaupun di London dia juga
bersekolah mengenakan seragam, dia masih belum merasa percaya diri dengan
seragam barunya itu. Seragam itu membuatnya merasa asing di matanya sendiri, yang
ironisnya adalah orang-orang yang akan ditemuinya di sekolah juga akan lebih menganggapnya
asing dan aneh. Akan tetapi, bagiku, dia terlihat sangat manis mengenakan
seragam itu. Kuyakin jika dia sedikit lebih percaya diri, setengah siswa
laki-laki di sekolah pasti akan tertarik padanya.
Sharon
lalu menyisir rambutnya di depan cermin. Dia memutuskan untuk mengikat rambut
merahnya ke belakang agar membuatnya tidak terlalu mencolok. Dia pun mengenakan
kaus kaki putihnya, mengambil tas sekolahnya, dan keluar dari kamar.
Ayahnya
sudah menanti di ruang makan sambil menikmati secangkir kopi dan membaca koran
edisi terbaru hari ini. Sharon mengecup pipi ayahnya sekaligus mengucapkan
selamat pagi sebelum duduk di sampingnya. Dia mengambil dua lembar roti tawar
lalu mengoleskannya dengan selai kacang.
Melihatnya
mengoleskan rotinya dengan banyak sekali selai kacang itu, aku jadi teringat
pada diriku sendiri. Aku juga sering mengoleskan banyak selai kacang ke roti
tawarku setiap sarapan. Ibuku sampai menggelengkan kepala karena selai kacang
selalu cepat habis olehku seorang.
“Kau
terlihat manis dengan seragam itu, Nak.” Nixon-san mengintip penampilan baru
Sharon dari balik korannya. “Apa kau semangat dengan hari pertamamu?”
“Tidak
juga.” jawab Sharon datar sambil melahap roti tawar kacangnya dengan enggan.
“Ayolah.
Mereka pasti akan senang mempunyai teman baru dari luar negeri.”
Sharon
tidak membalas. Dia tidak bisa seoptimis ayahnya untuk pagi ini. Ayahnya pasti
akan sangat disambut dan dihormati oleh orang-orang di kantor barunya. Dan
Sharon dapat membayangkan delikan-delikan tajam dari mata anak-anak di kelas
barunya, seolah Sharon adalah alien yang menjadi korban dari kegagalan sebuah
percobaan aneh seperti di film-film fiksi ilmiah.
Sharon
mengambil sebuah iPod dari dalam tasnya untuk mendengarkan musik. Lagu mistis
dari serial televisi kesukaannya tampaknya bisa membangkitkan suasana hatinya,
atau dia hanya ingin menghindar dari ayahnya yang tidak pernah berhenti
mencercanya untuk menerima tempat barunya ini. Dia menghabiskan roti tawar dan
susunya dengan cepat, lalu bangkit berpamitan pada ayahnya yang masih
bersantai.
“Lho,
kau tidak ingin aku mengantarmu?” Nixon-san terkejut putrinya tahu-tahu hendak pergi
begitu saja.
“Tidak
usah, Yah. Ini kan hari pertama Ayah bekerja juga. Aku tidak ingin Ayah
terlambat.” Jawab Sharon.
“Kau
yakin?”
“Ya!”
seru Sharon dari depan pintu rumah. Dia juga tidak ingin ayahnya semakin
cerewet menasehatinya tentang hari pertamanya ke sekolah seakan dia anak kecil
yang hendak menghadapi hari pertamanya di taman kanak-kanak. Dia mengenakan
sepatunya dan pergi dengan buru-buru supaya ayahnya tidak bisa menyusulnya. Dia
mengambil sepeda miliknya dari dalam garasi di samping rumah untuk
dikendarainya menuju sekolah.
===
Sharon
tercengang melihat sekolah barunya. Dia berdiri tepat di depan pintu gerbang
sambil menuntun sepedanya, ragu untuk melewati gerbang di hadapannya. Menurutnya,
gedung sekolah barunya ini tidak jauh berbeda daripada gedung sekolah lamanya
di London dan terlihat lebih membosankan. Di balik gerbang terbentang lapangan
sekolah yang luas untuk kegiatan olahraga. Gedung sekolah berwarna putih, tidak
memiliki banyak pohon, dan hanya ada sebuah jam besar di puncak gedung yang
seperti ingin terus mengingatkan siswa-siswi untuk tidak terlambat.
Di
sekelilingnya, banyak siswa-siswi berjalan masuk ke sekolah bersama teman-teman
dekat atau sendirian. Sebagian dari mereka menatap Sharon seolah gadis itu
seperti berada di tempat yang salah namun mereka tidak bisa menegurnya karena
Sharon mengenakan seragam sekolah yang sama seperti mereka kenakan. Sharon
tidak bisa membalas semua tatapan itu. Dugaannya benar, dia hanya akan menjadi
bahan pembicaraan sekolah: seorang gadis aneh dari negeri yang sangat jauh
berusaha untuk menyatu dengan mereka.
Dia
pun menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menyingkirkan kecemasan dan keraguan
yang menguasainya. Dia mencoba mengambil sisi positifnya. Dia hanya bersekolah
di tempat ini selama setahun karena sudah kelas tiga. Dia hanya perlu belajar
dengan giat, lulus dengan nilai baik, dan pulang ke Inggris untuk kuliah dan
mengambil kerja paruh waktu di sana sehingga ayahnya tidak perlu mengaturnya
lagi. Dia tidak perlu bergaul dengan mereka yang ada di sini. Mereka juga tidak
perlu repot-repot mengenalnya karena dia hanya akan berada di sini untuk waktu
yang sangat singkat.
Sambil
mengumpulkan segenap kekuatannya, dia berjalan masuk ke dalam sekolah. Setelah
menaruh sepeda di sudut halaman, dia berjalan menuju pintu masuk. Di sana dia
menemukan sebuah kebiasaan yang belum pernah dilihatnya di sekolah mana pun,
yaitu mengganti sepatunya dengan sepatu sekolah.
Dia
pun bersusah payah mencari loker tempat di mana sepatu sekolahnya tersimpan. Loker
miliknya terletak di paling sudut terbawah dan nyaris luput dari pandangannya. Sharon
hanya tersenyum ironis. Bahkan loker sepatunya saja sudah tidak menyukai
keberadaannya.
Kelasnya
berada di lantai dua. Dia menaiki tangga sekolah lalu melewati lorong sekolah. Aku
memperhatikan suasana sekolahku yang masih tidak berubah. Tangga sekolah
ternyata masih memiliki reputasi seramnya akan hantu perempuan yang menghuni di
sana, lorong sekolah masih tetap terlihat monoton dan selalu dipenuhi oleh
siswa-siswi sebelum bel masuk ke kelas berbunyi. Dari jendela kaca lorong,
terlihat pohon sakura besar di halaman belakang sekolah dan pemandangan kota
yang tampak indah di belakangnya.
Sharon
memperhatikan setiap papan nomor kelas di setiap pintu yang dilewatinya. Entah
dia sadar atau tidak, hampir semua orang di lorong memperhatikan setiap
langkahnya. Para siswa ada yang bersiul pelan untuk menggodanya, sedangkan para
siswi saling berbisik membicarakannya. Mereka tidak menyangka akan satu sekolah
bersama seorang gadis asing.
Sharon
menemukan kelasnya berada di ujung lorong. Lagi-lagi semua pandangan mata
tertuju padanya saat dia memasuki kelas barunya itu, mempertanyakan mengapa
gadis seperti Sharon berada di sini. Namun Sharon hanya bersikap cuek dan
mengambil tempat duduk di bagian belakang kelas.
Bel
masuk sekolah berbunyi beberapa saat setelah dia duduk. Semua anak masuk dan
duduk di bangkunya masing-masing. Sharon mengeluarkan buku pelajarannya dari
tas untuk memulai mata pelajaran pertamanya yaitu Bahasa Jepang.
Kemudian
seorang guru masuk ke kelas dan serentak semua anak berdiri untuk memberi salam
sesuai aba-aba ketua kelas. Guru itu mempersilakan mereka duduk kembali. Aku
memperhatikan sang guru untuk sejenak. Aku mengenalnya, dia Pak Hashimoto wali
kelasku saat kelas 10. Dia terkenal tegas dan sering memberi hukuman pada siapa
pun yang tidak mengerjakan tugas sekolah darinya. Lalu kusadari juga semua anak
yang akan menjadi teman-teman Sharon di sini adalah teman sekelasku dulu. Melihat
mereka semua berada di dalam satu ruangan dengan suasana yang sangat tidak
asing, aku turut menyadari rasa rinduku yang besar pada mereka.
“Sebelum
kita memulai pelajaran hari ini, saya ingin mengenalkan kalian seorang siswi
baru yang akan menjadi teman baru kalian hari ini.” kata Pak Hashimoto. Semua
anak menoleh pada Sharon begitu Pak Hashimoto melihat ke arahnya. “Sharon,
silakan maju ke depan.”
Sharon
pun berdiri dan berjalan ke depan kelas. Dia langsung memperkenalkan dirinya
tanpa diminta. “Namaku Sharon Nixon. Aku berasal dari Inggris. Salam kenal.”
Semua
anak tercengang dan saling berbicara pada satu sama lain begitu tahu Sharon
bisa berbahasa Jepang dengan lancar. Dia menjadi tidak nyaman berdiri di depan
kelas seorang diri karena tahu dirinya sedang menjadi bahan perbincangan
sekarang. Perutnya mulas memikirkan apa yang dipikirkan mereka tentangnya.
Apakah dia akan diterima oleh mereka dengan baik atau tidak? Ataukah mereka
hanya akan menganggap Sharon tidak ada seperti hantu?
“Kalian
harus membantunya mengenal sekolah ini dengan baik. Terlebih lagi, sebentar
lagi kalian akan menghadapi ujian yang akan menentukan kelulusan kalian. Nixon,
kurasa kau sudah tahu akan hal itu, bukan?”
“Ya,
Sensei.” Sharon menjawab dengan mantap. “Saya akan berusaha.”
Sharon
kembali ke tempat duduknya. Pak Hashimoto pun menyuruh murid-muridnya membuka
buku masing-masing untuk memulai pelajaran.
No comments:
Post a Comment