Wednesday, May 29, 2013

The Invisible (3)

3

            Sharon tidak dapat tidur dengan pulas semalam. Aku yang mengawasinya sepanjang malam sesekali melihatnya meracau pelan dalam tidurnya. Kupikir dia sedang bermimpi buruk atau belum terbiasa dengan suasana kamarku. Apakah penemuan darahku yang sama sekali tidak diduganya itu penyebabnya?
            Badannya terasa pegal, dadanya sesak, pusing yang amat sangat membebani kepalanya, dan nyaris saja dia muntah-muntah di kamar mandi karena dirinya yang sangat lelah tidak mendapat tidur yang nyaman.
            Aku menjadi khawatir dia tidak akan bisa masuk sekolah karena ini. Namun Sharon ternyata sudah mengenakan seragam sekolahnya saat dia melangkah keluar dari kamar mandi. Dan aku dibuat kaget karena seragamnya itu adalah seragam SMA tempatku bersekolah dulu.
            Sharon mengambil dasi sekolah dari lemarinya lalu dia kenakan dasi itu di bawah kerah kemaja putihnya. Dia juga mengenakan blazer sekolah yang berwarna hitam dan memiliki emblem sekolah di bagian dada. Dia menarik sedikit ke bawah rok sekolahnya yang dianggapnya masih terlalu pendek. Walaupun di London dia juga bersekolah mengenakan seragam, dia masih belum merasa percaya diri dengan seragam barunya itu. Seragam itu membuatnya merasa asing di matanya sendiri, yang ironisnya adalah orang-orang yang akan ditemuinya di sekolah juga akan lebih menganggapnya asing dan aneh. Akan tetapi, bagiku, dia terlihat sangat manis mengenakan seragam itu. Kuyakin jika dia sedikit lebih percaya diri, setengah siswa laki-laki di sekolah pasti akan tertarik padanya.
            Sharon lalu menyisir rambutnya di depan cermin. Dia memutuskan untuk mengikat rambut merahnya ke belakang agar membuatnya tidak terlalu mencolok. Dia pun mengenakan kaus kaki putihnya, mengambil tas sekolahnya, dan keluar dari kamar.
            Ayahnya sudah menanti di ruang makan sambil menikmati secangkir kopi dan membaca koran edisi terbaru hari ini. Sharon mengecup pipi ayahnya sekaligus mengucapkan selamat pagi sebelum duduk di sampingnya. Dia mengambil dua lembar roti tawar lalu mengoleskannya dengan selai kacang.
            Melihatnya mengoleskan rotinya dengan banyak sekali selai kacang itu, aku jadi teringat pada diriku sendiri. Aku juga sering mengoleskan banyak selai kacang ke roti tawarku setiap sarapan. Ibuku sampai menggelengkan kepala karena selai kacang selalu cepat habis olehku seorang.
            “Kau terlihat manis dengan seragam itu, Nak.” Nixon-san mengintip penampilan baru Sharon dari balik korannya. “Apa kau semangat dengan hari pertamamu?”
            “Tidak juga.” jawab Sharon datar sambil melahap roti tawar kacangnya dengan enggan.
            “Ayolah. Mereka pasti akan senang mempunyai teman baru dari luar negeri.”
            Sharon tidak membalas. Dia tidak bisa seoptimis ayahnya untuk pagi ini. Ayahnya pasti akan sangat disambut dan dihormati oleh orang-orang di kantor barunya. Dan Sharon dapat membayangkan delikan-delikan tajam dari mata anak-anak di kelas barunya, seolah Sharon adalah alien yang menjadi korban dari kegagalan sebuah percobaan aneh seperti di film-film fiksi ilmiah.
            Sharon mengambil sebuah iPod dari dalam tasnya untuk mendengarkan musik. Lagu mistis dari serial televisi kesukaannya tampaknya bisa membangkitkan suasana hatinya, atau dia hanya ingin menghindar dari ayahnya yang tidak pernah berhenti mencercanya untuk menerima tempat barunya ini. Dia menghabiskan roti tawar dan susunya dengan cepat, lalu bangkit berpamitan pada ayahnya yang masih bersantai.
            “Lho, kau tidak ingin aku mengantarmu?” Nixon-san terkejut putrinya tahu-tahu hendak pergi begitu saja.
            “Tidak usah, Yah. Ini kan hari pertama Ayah bekerja juga. Aku tidak ingin Ayah terlambat.” Jawab Sharon.
            “Kau yakin?”
            “Ya!” seru Sharon dari depan pintu rumah. Dia juga tidak ingin ayahnya semakin cerewet menasehatinya tentang hari pertamanya ke sekolah seakan dia anak kecil yang hendak menghadapi hari pertamanya di taman kanak-kanak. Dia mengenakan sepatunya dan pergi dengan buru-buru supaya ayahnya tidak bisa menyusulnya. Dia mengambil sepeda miliknya dari dalam garasi di samping rumah untuk dikendarainya menuju sekolah.

===

            Sharon tercengang melihat sekolah barunya. Dia berdiri tepat di depan pintu gerbang sambil menuntun sepedanya, ragu untuk melewati gerbang di hadapannya. Menurutnya, gedung sekolah barunya ini tidak jauh berbeda daripada gedung sekolah lamanya di London dan terlihat lebih membosankan. Di balik gerbang terbentang lapangan sekolah yang luas untuk kegiatan olahraga. Gedung sekolah berwarna putih, tidak memiliki banyak pohon, dan hanya ada sebuah jam besar di puncak gedung yang seperti ingin terus mengingatkan siswa-siswi untuk tidak terlambat.
            Di sekelilingnya, banyak siswa-siswi berjalan masuk ke sekolah bersama teman-teman dekat atau sendirian. Sebagian dari mereka menatap Sharon seolah gadis itu seperti berada di tempat yang salah namun mereka tidak bisa menegurnya karena Sharon mengenakan seragam sekolah yang sama seperti mereka kenakan. Sharon tidak bisa membalas semua tatapan itu. Dugaannya benar, dia hanya akan menjadi bahan pembicaraan sekolah: seorang gadis aneh dari negeri yang sangat jauh berusaha untuk menyatu dengan mereka.
            Dia pun menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menyingkirkan kecemasan dan keraguan yang menguasainya. Dia mencoba mengambil sisi positifnya. Dia hanya bersekolah di tempat ini selama setahun karena sudah kelas tiga. Dia hanya perlu belajar dengan giat, lulus dengan nilai baik, dan pulang ke Inggris untuk kuliah dan mengambil kerja paruh waktu di sana sehingga ayahnya tidak perlu mengaturnya lagi. Dia tidak perlu bergaul dengan mereka yang ada di sini. Mereka juga tidak perlu repot-repot mengenalnya karena dia hanya akan berada di sini untuk waktu yang sangat singkat.
            Sambil mengumpulkan segenap kekuatannya, dia berjalan masuk ke dalam sekolah. Setelah menaruh sepeda di sudut halaman, dia berjalan menuju pintu masuk. Di sana dia menemukan sebuah kebiasaan yang belum pernah dilihatnya di sekolah mana pun, yaitu mengganti sepatunya dengan sepatu sekolah.
            Dia pun bersusah payah mencari loker tempat di mana sepatu sekolahnya tersimpan. Loker miliknya terletak di paling sudut terbawah dan nyaris luput dari pandangannya. Sharon hanya tersenyum ironis. Bahkan loker sepatunya saja sudah tidak menyukai keberadaannya.
            Kelasnya berada di lantai dua. Dia menaiki tangga sekolah lalu melewati lorong sekolah. Aku memperhatikan suasana sekolahku yang masih tidak berubah. Tangga sekolah ternyata masih memiliki reputasi seramnya akan hantu perempuan yang menghuni di sana, lorong sekolah masih tetap terlihat monoton dan selalu dipenuhi oleh siswa-siswi sebelum bel masuk ke kelas berbunyi. Dari jendela kaca lorong, terlihat pohon sakura besar di halaman belakang sekolah dan pemandangan kota yang tampak indah di belakangnya.
            Sharon memperhatikan setiap papan nomor kelas di setiap pintu yang dilewatinya. Entah dia sadar atau tidak, hampir semua orang di lorong memperhatikan setiap langkahnya. Para siswa ada yang bersiul pelan untuk menggodanya, sedangkan para siswi saling berbisik membicarakannya. Mereka tidak menyangka akan satu sekolah bersama seorang gadis asing.
            Sharon menemukan kelasnya berada di ujung lorong. Lagi-lagi semua pandangan mata tertuju padanya saat dia memasuki kelas barunya itu, mempertanyakan mengapa gadis seperti Sharon berada di sini. Namun Sharon hanya bersikap cuek dan mengambil tempat duduk di bagian belakang kelas.
            Bel masuk sekolah berbunyi beberapa saat setelah dia duduk. Semua anak masuk dan duduk di bangkunya masing-masing. Sharon mengeluarkan buku pelajarannya dari tas untuk memulai mata pelajaran pertamanya yaitu Bahasa Jepang.
            Kemudian seorang guru masuk ke kelas dan serentak semua anak berdiri untuk memberi salam sesuai aba-aba ketua kelas. Guru itu mempersilakan mereka duduk kembali. Aku memperhatikan sang guru untuk sejenak. Aku mengenalnya, dia Pak Hashimoto wali kelasku saat kelas 10. Dia terkenal tegas dan sering memberi hukuman pada siapa pun yang tidak mengerjakan tugas sekolah darinya. Lalu kusadari juga semua anak yang akan menjadi teman-teman Sharon di sini adalah teman sekelasku dulu. Melihat mereka semua berada di dalam satu ruangan dengan suasana yang sangat tidak asing, aku turut menyadari rasa rinduku yang besar pada mereka.
            “Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, saya ingin mengenalkan kalian seorang siswi baru yang akan menjadi teman baru kalian hari ini.” kata Pak Hashimoto. Semua anak menoleh pada Sharon begitu Pak Hashimoto melihat ke arahnya. “Sharon, silakan maju ke depan.”
            Sharon pun berdiri dan berjalan ke depan kelas. Dia langsung memperkenalkan dirinya tanpa diminta. “Namaku Sharon Nixon. Aku berasal dari Inggris. Salam kenal.”
            Semua anak tercengang dan saling berbicara pada satu sama lain begitu tahu Sharon bisa berbahasa Jepang dengan lancar. Dia menjadi tidak nyaman berdiri di depan kelas seorang diri karena tahu dirinya sedang menjadi bahan perbincangan sekarang. Perutnya mulas memikirkan apa yang dipikirkan mereka tentangnya. Apakah dia akan diterima oleh mereka dengan baik atau tidak? Ataukah mereka hanya akan menganggap Sharon tidak ada seperti hantu?
            “Kalian harus membantunya mengenal sekolah ini dengan baik. Terlebih lagi, sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian yang akan menentukan kelulusan kalian. Nixon, kurasa kau sudah tahu akan hal itu, bukan?”
            “Ya, Sensei.” Sharon menjawab dengan mantap. “Saya akan berusaha.”

            Sharon kembali ke tempat duduknya. Pak Hashimoto pun menyuruh murid-muridnya membuka buku masing-masing untuk memulai pelajaran.

No comments:

Post a Comment