Monday, June 3, 2013

The Apartment (Prolog)

Prolog

            “Pengantin wanita siap dalam sepuluh menit lagi!” terdengar suara tegas temannya dari balik pintu mengingatkannya untuk siap.
           Dia menghela napas dan menatap dirinya sendiri di depan cermin. Dia sudah siap sejak 20 menit yang lalu. Beberapa temannya telah datang ke ruang rias ini untuk membantunya berdandan tadi. Namun sepertinya menit yang tersisa tidak cukup baginya untuk mempersiapkan hatinya yang bimbang dan gelisah.
            Dia melangkah pelan untuk menatap dirinya di depan cermin, dia menjelma menjadi sesuatu yang tidak pernah disangkanya, seolah refleksi yang diperlihatkan cermin di hadapannya itu adalah orang lain, bukan dirinya.
            Gaun pengantinnya sangat sederhana namun melekat dengan indah di tubuhya. Berwarna gading, bergaya agak kuno dengan lengan balon dan rok mengembang berlapis-lapis yang sangat panjang hingga menyentuh tanah seperti gaun-gaun putri di negeri dongeng. Tudung putih dan sebuah mahkota mungil menghiasi rambutnya yang disanggul. Dia terlihat sempurna dengan gaun itu sesuai keinginannya. Namun mengapa sedikit pun dia tidak merasa bahagia?
            Dia memalingkan wajahnya dari cermin sebelum merasa muak. Pandangannya kini tertuju pada sepucuk surat yang tergeletak di meja riasnya. Sekarang dia tahu penyebab keresahannya ini. Surat itu kini mengobrak-abrik perasaannya hanya dengan berada di sana, menggodanya untuk membacanya sekali lagi padahal dia tahu itu hanya semakin menghancurkan dirinya. Ingin sekali dia merobeknya lalu membakarnya hingga menjadi abu, tidak tersisa lagi. Namun dia tidak sanggup melakukannya. Surat itu bertuliskan kata-kata terakhir dari orang yang sangat mencintainya. Terlalu mencintainya hingga dia tidak sanggup melihatnya mengenakan gaun pengantin yang indah ini dan lebih memilih pergi dari kehidupannya. Mana bisa dia membakar begitu saja surat dari orang yang mengucapkan selamat tinggal untuknya?
            Dia berjalan dan mengambil surat itu lagi. Dia membuka lipatan kertasnya yang sudah kusut, membaca lagi tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya tertoreh di dalam kata-kata yang menyayat hatinya:
             Aku ingat semua pertengkaran dan perdebatan yang pernah kita lalui selama kita bersama. Tidak ada satu hari kita lewati tanpa bertengkar dan berdebat karena masalah kecil atau besar. Pertengkaran pertama kita adalah saat aku melarangmu menambahkan kayu manis di dalam waffle yang kau buat untukku dan kau bersikeras berkata kayu manis akan menambah kelezatan waffle itu. Aku selalu merasa benar, tanpa memikirkan alasanmu berpegang teguh pada pendapatmu sendiri dan perasaanmu yang tersakiti karena egoku.
        Hingga akhirnya kau pun tidak tahan lagi. Setelah pertengkaran terakhir kita, kau datang padaku dan memutuskan hubungan kita. Dan dengan bodohnya aku membiarkanmu pergi meninggalkanku.
        Disaat itulah aku baru menyadari kesalahanku. Aku sama sekali tidak menghargai waffle buatanmu yang sangat lezat dengan kayu manis. Begitu pun dengan pertengkaran lainnya, aku tidak pernah mengakui kesalahanku sendiri meskipun kau selalu mengalah demi menjaga hubungan kita. Bahkan hingga sekarang aku masih menyesal mengapa aku tidak meminta maaf padamu padahal aku tahu itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa kembali padaku.
        Saat kita sudah putus pun aku masih saja menyiksamu dengan keberadaanku yang menyusahkan sehingga aku menyadari lagi satu hal, aku tidak pernah membuatmu tersenyum. Aku selalu mengecewakanmu dengan sikapku yang kekanakan dan keras kepala.
        Lalu datanglah seseorang ke dalam hidupmu. Seseorang yang lebih baik daripadaku karena dia sesuai dengan harapanmu. Seseorang yang bisa membuatmu tersenyum setiap hari seperti matahari yang bersinar cerah. Lagi-lagi aku mengacaukannya. Aku iri padanya karena dia mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktunya bersamamu. Kini aku rela mengorbankan apa pun hanya untuk bisa mendapatkan kesempatan yang sama dan memperbaiki segala kesalahanku. Dan kau pasti akan menertawakan ini karena hal itu sudah terlambat, bukan?
        Maaf aku tidak bisa melihatmu mengenakan gaun pengantinmu. Meskipun hanya sesaat, aku tidak sanggup menyaksikan kalian bersatu di depan orang banyak. Lebih baik aku pergi dan tidak mengganggu kalian lagi. Tapi kuyakin kau pasti terlihat sangat cantik seperti setiap kali aku membayangkanmu mengenakan gaun pengantin pada hari pernikahan kita di masa depan yang tidak akan pernah terwujud.
        Selamat tinggal.
           Dia menarik napasnya berkali-kali, berusaha untuk mengumpulkan kekuatannya agar dia tidak menangis. Dia melarang keras dirinya untuk menangis, ini hari besarnya. Orang-orang di luar sana mengharapkannya untuk tersenyum. Dia bisa bertahan dari kesedihan selama lima tahun, itu berarti dia pasti bisa menahan ini untuk beberapa menit saja.
            Dia melipat surat itu dan mengembalikannya ke meja. Dia tersenyum membayangkan jika dia memang mengenakan gaun ini untuk penulis surat itu, segalanya pasti akan terasa lebih mudah.
            Kemudian dia mendengar suara ketukan pintu lagi dari temannya, memberitahunya bahwa saatnya sudah tiba.
            Dia pun berjalan membuka pintunya, menemukan kedua temannya sudah siap di depannya dengan gaun pengiring pengantin mereka yang manis. Salah satu dari mereka memberikannya sebuket mawar segar sebagai sentuhan terakhir. “Kau sudah siap?”

            Dia mengangguk pelan. Dia melangkah keluar dengan takut karena ini adalah lembaran terakhir yang harus dijalaninya. Sepanjang perjalanannya, dia mengingat lagi isi surat itu, mengenang masa-masa suka dan duka yang dilaluinya bersama penulis surat itu sebagai pelipur laranya.

No comments:

Post a Comment