Prolog
“Pengantin wanita
siap dalam sepuluh menit lagi!” terdengar suara tegas temannya dari balik pintu
mengingatkannya untuk siap.
Dia menghela
napas dan menatap dirinya sendiri di depan cermin. Dia sudah siap sejak 20
menit yang lalu. Beberapa temannya telah datang ke ruang rias ini untuk
membantunya berdandan tadi. Namun sepertinya menit yang tersisa tidak cukup
baginya untuk mempersiapkan hatinya yang bimbang dan gelisah.
Dia
melangkah pelan untuk menatap dirinya di depan cermin, dia menjelma menjadi
sesuatu yang tidak pernah disangkanya, seolah refleksi yang diperlihatkan
cermin di hadapannya itu adalah orang lain, bukan dirinya.
Gaun
pengantinnya sangat sederhana namun melekat dengan indah di tubuhya. Berwarna
gading, bergaya agak kuno dengan lengan balon dan rok mengembang berlapis-lapis
yang sangat panjang hingga menyentuh tanah seperti gaun-gaun putri di negeri
dongeng. Tudung putih dan sebuah mahkota mungil menghiasi rambutnya yang
disanggul. Dia terlihat sempurna dengan gaun itu sesuai keinginannya. Namun
mengapa sedikit pun dia tidak merasa bahagia?
Dia
memalingkan wajahnya dari cermin sebelum merasa muak. Pandangannya kini tertuju
pada sepucuk surat yang tergeletak di meja riasnya. Sekarang dia tahu penyebab
keresahannya ini. Surat itu kini mengobrak-abrik perasaannya hanya dengan
berada di sana, menggodanya untuk membacanya sekali lagi padahal dia tahu itu
hanya semakin menghancurkan dirinya. Ingin sekali dia merobeknya lalu membakarnya
hingga menjadi abu, tidak tersisa lagi. Namun dia tidak sanggup melakukannya.
Surat itu bertuliskan kata-kata terakhir dari orang yang sangat mencintainya.
Terlalu mencintainya hingga dia tidak sanggup melihatnya mengenakan gaun
pengantin yang indah ini dan lebih memilih pergi dari kehidupannya. Mana bisa
dia membakar begitu saja surat dari orang yang mengucapkan selamat tinggal
untuknya?
Dia
berjalan dan mengambil surat itu lagi. Dia membuka lipatan kertasnya yang sudah
kusut, membaca lagi tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya tertoreh di
dalam kata-kata yang menyayat hatinya:
Aku ingat semua pertengkaran dan
perdebatan yang pernah kita lalui selama kita bersama. Tidak ada satu hari kita
lewati tanpa bertengkar dan berdebat karena masalah kecil atau besar. Pertengkaran
pertama kita adalah saat aku melarangmu menambahkan kayu manis di dalam waffle
yang kau buat untukku dan kau bersikeras berkata kayu manis akan menambah
kelezatan waffle itu. Aku selalu merasa benar, tanpa memikirkan alasanmu
berpegang teguh pada pendapatmu sendiri dan perasaanmu yang tersakiti karena
egoku.
Hingga akhirnya kau
pun tidak tahan lagi. Setelah pertengkaran terakhir kita, kau datang padaku dan
memutuskan hubungan kita. Dan dengan bodohnya aku membiarkanmu pergi meninggalkanku.
Disaat itulah aku baru
menyadari kesalahanku. Aku sama sekali tidak menghargai waffle buatanmu yang
sangat lezat dengan kayu manis. Begitu pun dengan pertengkaran lainnya, aku
tidak pernah mengakui kesalahanku sendiri meskipun kau selalu mengalah demi
menjaga hubungan kita. Bahkan hingga sekarang aku masih menyesal mengapa aku
tidak meminta maaf padamu padahal aku tahu itu adalah satu-satunya cara agar
kau bisa kembali padaku.
Saat kita sudah
putus pun aku masih saja menyiksamu dengan keberadaanku yang menyusahkan
sehingga aku menyadari lagi satu hal, aku tidak pernah membuatmu tersenyum. Aku
selalu mengecewakanmu dengan sikapku yang kekanakan dan keras kepala.
Lalu datanglah
seseorang ke dalam hidupmu. Seseorang yang lebih baik daripadaku karena dia
sesuai dengan harapanmu. Seseorang yang bisa membuatmu tersenyum setiap hari
seperti matahari yang bersinar cerah. Lagi-lagi aku mengacaukannya. Aku iri
padanya karena dia mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktunya bersamamu.
Kini aku rela mengorbankan apa pun hanya untuk bisa mendapatkan kesempatan yang
sama dan memperbaiki segala kesalahanku. Dan kau pasti akan menertawakan ini
karena hal itu sudah terlambat, bukan?
Maaf aku tidak bisa
melihatmu mengenakan gaun pengantinmu. Meskipun hanya sesaat, aku tidak sanggup
menyaksikan kalian bersatu di depan orang banyak. Lebih baik aku pergi dan
tidak mengganggu kalian lagi. Tapi kuyakin kau pasti terlihat sangat cantik seperti
setiap kali aku membayangkanmu mengenakan gaun pengantin pada hari pernikahan
kita di masa depan yang tidak akan pernah terwujud.
Selamat tinggal.
Dia menarik
napasnya berkali-kali, berusaha untuk mengumpulkan kekuatannya agar dia tidak
menangis. Dia melarang keras dirinya untuk menangis, ini hari besarnya. Orang-orang
di luar sana mengharapkannya untuk tersenyum. Dia bisa bertahan dari kesedihan selama
lima tahun, itu berarti dia pasti bisa menahan ini untuk beberapa menit saja.
Dia melipat
surat itu dan mengembalikannya ke meja. Dia tersenyum membayangkan jika dia
memang mengenakan gaun ini untuk penulis surat itu, segalanya pasti akan terasa
lebih mudah.
Kemudian
dia mendengar suara ketukan pintu lagi dari temannya, memberitahunya bahwa saatnya
sudah tiba.
Dia pun
berjalan membuka pintunya, menemukan kedua temannya sudah siap di depannya dengan
gaun pengiring pengantin mereka yang manis. Salah satu dari mereka
memberikannya sebuket mawar segar sebagai sentuhan terakhir. “Kau sudah siap?”
Dia
mengangguk pelan. Dia melangkah keluar dengan takut karena ini adalah lembaran
terakhir yang harus dijalaninya. Sepanjang perjalanannya, dia mengingat lagi
isi surat itu, mengenang masa-masa suka dan duka yang dilaluinya bersama
penulis surat itu sebagai pelipur laranya.
No comments:
Post a Comment