1
DELAPAN BULAN YANG LALU...
Suasana
kafe bernuansa retro itu masih sepi meskipun hari sudah sore. Hanya ada
beberapa pengunjung duduk di meja-meja yang jaraknya cukup renggang. Para
pelayan kafe terlihat senggang di balik konter sambil mengobrol dengan sesama. Karena
suasana sangat sepi, obrolan mereka samar-samar dapat didengar oleh seorang
pemuda yang duduk tidak jauh dari sana, tepat di samping jendela kaca kafe yang
basah karena di luar hujan baru saja turun deras.
Pemuda
bernama Kai Yutaka itu tersenyum tipis ketika menyadari pelayan-pelayan wanita
itu sedang membicarakan dirinya. Mengapa seorang pemuda tampan sepertinya duduk
sendirian saja dengan secangkir kopi yang sudah dingin dan sebuah iPod yang
dibiarkannya tergeletak begitu saja di meja.
Wajar saja
mereka membicarakan dirinya. Dia sudah duduk di meja ini selama tiga jam tanpa
melakukan apa pun. Sedikit pun dia tidak tertarik mengambil laptopnya dari
dalam tas untuk browsing di internet atau mendengarkan musik dengan iPodnya. Dia
menatap bangku kosong di hadapannya, membayangkan kekasihnya yang dia nanti
kedatangannya dengan sabar duduk bersamanya.
Mereka
sudah tidak bertemu selama tiga hari. Meskipun mereka satu sekolah, namun gadis
itu selalu menghindar darinya. Sebelumnya mereka bertengkar hebat, dan untuk
kesekian kalinya, dia membuat gadis itu menangis lagi dan tidak mau berbicara
dengannya. Gadis itu sampai memintanya bertemu di kafe ini karena tidak sanggup
membicarakan masalah mereka di sekolah. Akan tetapi, gadis itu tidak kunjung datang.
Kai melirik
papan menu kafe yang menempel di atas konter dan menemukan cokelat panas di
dalam daftar menunya. Cokelat panas adalah minuman kesukaan kekasihnya. Dia
beranjak berdiri untuk memesan minuman itu untuk kekasihnya yang pasti akan
datang.
Akan
tetapi, dia mengurungkan niatnya saat mendengar pintu kafe dibuka oleh seorang
gadis berseragam sekolah yang memasuki kafe. Para pelayan langsung berhenti
mengobrol dan mengucapkan selamat datang untuknya, bersiap-siap menerima
pesanan dari gadis itu. Namun gadis itu terlihat tidak tertarik untuk memesan
sesuatu dan malah langsung menuju meja tempat Kai berada dan duduk di hadapannya.
Kai menahan
napas saat melihat gadis bernama Hiroko Akiyama itu melepas syalnya dan menaruh
tas sekolahnya sekenanya saja di sampingnya. Hiroko terlihat sangat lesu karena
kurang tidur. Matanya sembab dan hidungnya memerah seperti baru saja menangis.
Rambutnya acak-acakan seperti tidak disisir dan tampaknya gadis itu tidak
menyadarinya sama sekali.
Untuk
pertama kalinya, Kai merasa bersalah. Untuk pertama kalinya mereka berhubungan
selama lima tahun, dia tidak tega melihat gadis itu terpuruk karena dirinya.
Egonya yang besar hancur berkeping-keping menatap gadis yang selalu cerewet di
depannya kini membisu.
Kai
berusaha meraih tangan Hiroko yang dingin. Sentuhannya bisa mengobati rasa
rindunya akan gadis itu. “Kau ingin memesan sesuatu yang hangat? Kau pasti
kedinginan.”
Hiroko
malah menepis halus tangannya. Bagi Kai, tepisan halus itu seperti tamparan
yang sangat keras di wajahnya. “Tidak, terima kasih.”
Kai
tertegun karena kekakuan begitu terasa di antara mereka. Apa yang terjadi pada Hiroko
hingga gadis itu menatapnya aneh seolah kekasih di depan matanya ini hanyalah
orang asing. Bibirnya bergetar karena kelu untuk berucap.
“Kau ingin
membicarakan apa, Hiroko?” tanya Kai dengan sabar.
“Aku...” Hiroko
berusaha keras membalas tatapan Kai agar bisa mengutarakannya dengan mantap. “Aku
ingin mengakhiri hubungan kita.”
“Apa?”
suara pelan Hiroko bagaikan sebuah pisau menhunjami punggung Kai berkali-kali
dengan sangat cepat. “Kau ingin kita... putus?”
Hiroko
mengangguk pelan. Kai menyadari Hiroko sedang berusaha meredam isak tangisnya.
“Ya...”
“Kenapa, Hiroko?
Jangan bilang hanya karena pertengkaran kita minggu lalu kau jadi seperti ini.”
Kai menginginkan alasan yang logis untuk hal ini.
“Tidak,
Kai. Ini bukan karena pertengkaran kita minggu lalu itu saja.” jawab Hiroko
dengan nada lelah. Lelah bukan karena dia tidak tidur semalaman atau lelah
karena terlalu memikirkan pertengkaran mereka itu. Dia lelah karena selama lima
tahun ini dia menahan diri untuk tidak meledak. Dia lelah karena tidak pernah
didengar. Dia lelah menyimpan ini semua sendirian.
“Kau
konyol.” Kai tertawa meremehkan. “Kau pasti bercanda.”
Hiroko
mendesah sedih. Kai ternyata masih belum menyadarinya dan malah menertawakannya.
“Aku tidak bercanda, Kai.”
“Bagaimana
dengan orang tua kita? Mereka pasti tidak suka hubungan kita berakhir.” Tanya
Kai.
“Aku sudah
berbicara dengan mereka. Mereka sedih dan nyaris tidak bisa menerimanya, namun
mereka paham.” Jawab Hiroko.
Kai
termangu. Jika orang tua mereka bisa menerimanya, itu berarti ada sesuatu yang
sangat salah terjadi di dalam hubungan mereka. Namun mengapa dia tidak bisa
menemukannya?
“Kau bisa
menerima ini, Kai? Karena aku... aku sudah tidak sanggup lagi.” Kata Hiroko
menyerah.
“Kenapa,
Hiroko? Apa aku memiliki kesalahan padamu? Katakan saja, Hiroko.” Desak Kai
tidak sabar.
“Kau tidak
memiliki kesalahan apa pun, Kai.” Hiroko tersenyum lembut padanya. “Hanya saja,
kita tidak bisa memperbaiki hubungan ini lagi. Aku lelah dan kau pasti terlalu
sibuk untuk menyadarinya.”
Kai
terdiam. Dia pasti melakukan kesalahan yang sangat besar sampai-sampai Hiroko
yang selalu mengoreksi dirinya berkata dia tidak mempunyai kesalahan. Napasnya tercekat, dia sama sekali tidak menyangka
gadis yang sangat dia sukai sejak kecil memutuskan untuk meninggalkannya.
“Masa sekolah
kita tinggal sebentar lagi. Anggap saja setelah kelulusan nanti akan menjadi awal
baru bagi kita berdua. Aku yakin pada saat itu kau pasti bisa mencari orang
lain yang lebih baik, Kai.” Ujar Hiroko.
Kai tidak
percaya Hiroko bisa semudah itu mengatakannya. Mana bisa dia melupakan begitu
saja gadis yang telah mengubah hidupnya dengan sangat drastis. Dia menatap mata
Hiroko yang berkaca-kaca, mencari tahu apakah masih ada rasa cinta tersisa di
dalam hatinya agar dia mau menarik kata-katanya kembali. Namun kesedihan di
mata cokelat gadis itu menghalangi pencariannya.
“Terima
kasih, Kai. Maafkan aku...” Hiroko berdiri dan mengecup keningnya sebelum pergi
meninggalkan Kai.
Kai hanya
bisa terpaku menatap Hiroko keluar dari kafe. Kepergiannya meninggalkan lubang
yang sangat besar dan dalam di hati Kai karena gadis itu tadinya berada di sana.
Kai menyesal karena kata terakhir gadis itu adalah kata maaf yang seharusnya diucapkan
olehnya.
No comments:
Post a Comment