Thursday, June 13, 2013

The Apartment (1)

1
DELAPAN BULAN YANG LALU...
           
            Suasana kafe bernuansa retro itu masih sepi meskipun hari sudah sore. Hanya ada beberapa pengunjung duduk di meja-meja yang jaraknya cukup renggang. Para pelayan kafe terlihat senggang di balik konter sambil mengobrol dengan sesama. Karena suasana sangat sepi, obrolan mereka samar-samar dapat didengar oleh seorang pemuda yang duduk tidak jauh dari sana, tepat di samping jendela kaca kafe yang basah karena di luar hujan baru saja turun deras.
            Pemuda bernama Kai Yutaka itu tersenyum tipis ketika menyadari pelayan-pelayan wanita itu sedang membicarakan dirinya. Mengapa seorang pemuda tampan sepertinya duduk sendirian saja dengan secangkir kopi yang sudah dingin dan sebuah iPod yang dibiarkannya tergeletak begitu saja di meja.
            Wajar saja mereka membicarakan dirinya. Dia sudah duduk di meja ini selama tiga jam tanpa melakukan apa pun. Sedikit pun dia tidak tertarik mengambil laptopnya dari dalam tas untuk browsing di internet atau mendengarkan musik dengan iPodnya. Dia menatap bangku kosong di hadapannya, membayangkan kekasihnya yang dia nanti kedatangannya dengan sabar duduk bersamanya.
            Mereka sudah tidak bertemu selama tiga hari. Meskipun mereka satu sekolah, namun gadis itu selalu menghindar darinya. Sebelumnya mereka bertengkar hebat, dan untuk kesekian kalinya, dia membuat gadis itu menangis lagi dan tidak mau berbicara dengannya. Gadis itu sampai memintanya bertemu di kafe ini karena tidak sanggup membicarakan masalah mereka di sekolah. Akan tetapi, gadis itu tidak kunjung datang.
            Kai melirik papan menu kafe yang menempel di atas konter dan menemukan cokelat panas di dalam daftar menunya. Cokelat panas adalah minuman kesukaan kekasihnya. Dia beranjak berdiri untuk memesan minuman itu untuk kekasihnya yang pasti akan datang.
            Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya saat mendengar pintu kafe dibuka oleh seorang gadis berseragam sekolah yang memasuki kafe. Para pelayan langsung berhenti mengobrol dan mengucapkan selamat datang untuknya, bersiap-siap menerima pesanan dari gadis itu. Namun gadis itu terlihat tidak tertarik untuk memesan sesuatu dan malah langsung menuju meja tempat Kai berada dan duduk di hadapannya.
            Kai menahan napas saat melihat gadis bernama Hiroko Akiyama itu melepas syalnya dan menaruh tas sekolahnya sekenanya saja di sampingnya. Hiroko terlihat sangat lesu karena kurang tidur. Matanya sembab dan hidungnya memerah seperti baru saja menangis. Rambutnya acak-acakan seperti tidak disisir dan tampaknya gadis itu tidak menyadarinya sama sekali.
            Untuk pertama kalinya, Kai merasa bersalah. Untuk pertama kalinya mereka berhubungan selama lima tahun, dia tidak tega melihat gadis itu terpuruk karena dirinya. Egonya yang besar hancur berkeping-keping menatap gadis yang selalu cerewet di depannya kini membisu.
            Kai berusaha meraih tangan Hiroko yang dingin. Sentuhannya bisa mengobati rasa rindunya akan gadis itu. “Kau ingin memesan sesuatu yang hangat? Kau pasti kedinginan.”
            Hiroko malah menepis halus tangannya. Bagi Kai, tepisan halus itu seperti tamparan yang sangat keras di wajahnya. “Tidak, terima kasih.”
            Kai tertegun karena kekakuan begitu terasa di antara mereka. Apa yang terjadi pada Hiroko hingga gadis itu menatapnya aneh seolah kekasih di depan matanya ini hanyalah orang asing. Bibirnya bergetar karena kelu untuk berucap.
            “Kau ingin membicarakan apa, Hiroko?” tanya Kai dengan sabar.
            “Aku...” Hiroko berusaha keras membalas tatapan Kai agar bisa mengutarakannya dengan mantap. “Aku ingin mengakhiri hubungan kita.”
            “Apa?” suara pelan Hiroko bagaikan sebuah pisau menhunjami punggung Kai berkali-kali dengan sangat cepat. “Kau ingin kita... putus?”
            Hiroko mengangguk pelan. Kai menyadari Hiroko sedang berusaha meredam isak tangisnya. “Ya...”
            “Kenapa, Hiroko? Jangan bilang hanya karena pertengkaran kita minggu lalu kau jadi seperti ini.” Kai menginginkan alasan yang logis untuk hal ini.
            “Tidak, Kai. Ini bukan karena pertengkaran kita minggu lalu itu saja.” jawab Hiroko dengan nada lelah. Lelah bukan karena dia tidak tidur semalaman atau lelah karena terlalu memikirkan pertengkaran mereka itu. Dia lelah karena selama lima tahun ini dia menahan diri untuk tidak meledak. Dia lelah karena tidak pernah didengar. Dia lelah menyimpan ini semua sendirian.
            “Kau konyol.” Kai tertawa meremehkan. “Kau pasti bercanda.”
            Hiroko mendesah sedih. Kai ternyata masih belum menyadarinya dan malah menertawakannya. “Aku tidak bercanda, Kai.”
            “Bagaimana dengan orang tua kita? Mereka pasti tidak suka hubungan kita berakhir.” Tanya Kai.
            “Aku sudah berbicara dengan mereka. Mereka sedih dan nyaris tidak bisa menerimanya, namun mereka paham.” Jawab Hiroko.
            Kai termangu. Jika orang tua mereka bisa menerimanya, itu berarti ada sesuatu yang sangat salah terjadi di dalam hubungan mereka. Namun mengapa dia tidak bisa menemukannya?
            “Kau bisa menerima ini, Kai? Karena aku... aku sudah tidak sanggup lagi.” Kata Hiroko menyerah.
            “Kenapa, Hiroko? Apa aku memiliki kesalahan padamu? Katakan saja, Hiroko.” Desak Kai tidak sabar.
            “Kau tidak memiliki kesalahan apa pun, Kai.” Hiroko tersenyum lembut padanya. “Hanya saja, kita tidak bisa memperbaiki hubungan ini lagi. Aku lelah dan kau pasti terlalu sibuk untuk menyadarinya.”
            Kai terdiam. Dia pasti melakukan kesalahan yang sangat besar sampai-sampai Hiroko yang selalu mengoreksi dirinya berkata dia tidak mempunyai kesalahan.  Napasnya tercekat, dia sama sekali tidak menyangka gadis yang sangat dia sukai sejak kecil memutuskan untuk meninggalkannya.
            “Masa sekolah kita tinggal sebentar lagi. Anggap saja setelah kelulusan nanti akan menjadi awal baru bagi kita berdua. Aku yakin pada saat itu kau pasti bisa mencari orang lain yang lebih baik, Kai.” Ujar Hiroko.
            Kai tidak percaya Hiroko bisa semudah itu mengatakannya. Mana bisa dia melupakan begitu saja gadis yang telah mengubah hidupnya dengan sangat drastis. Dia menatap mata Hiroko yang berkaca-kaca, mencari tahu apakah masih ada rasa cinta tersisa di dalam hatinya agar dia mau menarik kata-katanya kembali. Namun kesedihan di mata cokelat gadis itu menghalangi pencariannya.
            “Terima kasih, Kai. Maafkan aku...” Hiroko berdiri dan mengecup keningnya sebelum pergi meninggalkan Kai.

            Kai hanya bisa terpaku menatap Hiroko keluar dari kafe. Kepergiannya meninggalkan lubang yang sangat besar dan dalam di hati Kai karena gadis itu tadinya berada di sana. Kai menyesal karena kata terakhir gadis itu adalah kata maaf yang seharusnya diucapkan olehnya.

No comments:

Post a Comment