7
“hati-hati,
Aya!” kata Yoriko pada Aya yang sedang membawa 2 buah kardus yang cukup berat.
Isinya adalah barang-barang milik Yoriko untuk dipindahkan ke apartemennya yang
baru. Yoriko menyewa sebuah kamar di apartemen yang sama tempat Aya tinggal.
Kamar itu terletak tepat di atas kamar Aya.
Akhirnya
Yoriko bisa membayar sewa pertama apartemennya. Begitu dia sudah melunasinya,
besoknya dia meminta tolong Aya untuk membantunya memindahkan barang-barang.
Yoriko memesan perabotan-perabotan utama seperti futon, beberapa meja dan
kursi, lemari, microwave, perlatan memasak, dan sebagainya. Semua itu dia beli
dengan murah dari toko barang-barang bekas.
“aku tidak
menyangka kau bisa membeli ini semua dari toko loak. Jangan bilang kalau kau
juga membeli futon disana...” Aya memasang ekspresi jijik saat dia sudah sampai
di depan pintu apartemen baru.
Yoriko muncul
keluar dari dalam dengan memakai kaus hitam, celana jeans gelap, dan rambutnya
diikat rendah. Wajahnya penuh debu dan kedua tangannya kotor karena baru saja
membersihkan lantai dan debu. “tentu saja tidak. Kalau futon aku membelinya di
departemen store, tapi dengan harga termurah.”
“oh...
baguslah kalau begitu...” Aya berjongkok untuk membuka kardus yang tadi
dibawanya. Dia menemukan tumpukan buku-buku tebal. Setiap buku bahasanya
berbeda-beda. “wow! Kau mengumpulkan semua ini dan membacanya sampai habis!?”
Aya takjub.
“ya,
begitulah...” Yoriko menjawab santai. “kalau kau mau, kau bisa meminjamnya.”
“benarkah?”
Aya senang. Dia memerhatikan buku-buku itu lagi. Ada yang berbahasa inggris,
perancis, spanyol, italia, dan indonesia.
“aku membeli
buku berbahasa spanyol dan italia itu saat berkunjung kesana. Kau tahulah,
kedua negara itu kan dekat Perancis...” Yoriko menjelaskan. Buku-buku itu
kebanyakan adalah buku novel dan hikayat, kumpulan cerpen, sejarah Eropa, dan
buku tentang agama. Aya memilih salah satu hikayat karya Shakespeare berbahasa
inggris.
“kau
benar-benar berpetualang, ya...” komentar Aya. “aku jadi iri padamu.”
“bagaimana
kalau kita kumpulkan uang sisa dari gaji kita untuk ditabung? Setelah cukup,
kita bisa pergi kesana berdua.” Yoriko mengusulkan ide yang langsung disambut
oleh Aya. Aya berjingkat riang, matanya berbinar cerah membayangkan rasanya
berpetualang di Eropa bersama Yoriko.
“tapi...”
tiba-tiba Aya lemas. “kira-kira sampai kapan kita menabung? Pengeluaran kita
kan banyak sekali...”
“tenang
saja.” Yoriko merangkul sahabatnya yang manis itu, memberikan senyum keyakinan
untuknya. “kita pasti bisa.”
Aya ikut
tersenyum dan yakin. Entah kenapa, setiap kali Yoriko menghibur, meyakinkan,
dan memberi semangat untuk Aya, gadis itu bisa menjadi percaya diri dengan
cepat. Suara dan tutur katanya yang lembut bisa membuat orang lain luluh
padanya. Aya bisa memercayai kata-kata Yoriko dalam waktu singkat karena Yoriko
tidak pernah berbohong.
Mereka
kembali ke kesibukan menyelesaikan pindahan. Seluruh perabotan sudah diatur
rapi oleh Yoriko. Sekarang tinggal mengisi perabotan-perabotan itu dengan
benda-benda kesayangan.
Kamar
apartemen Yoriko sama seperti yang lain. Sebuah ruangan besar yang dibagi-bagi
dengan tembok untuk ruang TV kecil, ruang tidur, lemari penyimpanan dengan
pintu geser, beserta dapur kecil dan kamar mandi. Futon yang masih terlipat
mereka taruh di lemari penyimpanan, mereka menata perabotan dapur dan peralatan
memasak di dapur, menata buku-buku di lemari yang sudah dibeli Yoriko. Lemari
besar berbahan kayu itu ditaruh di ruang TV, di dekat kotatsu. Yoriko sengaja menaruhnya
disana agar dia tidak usah susah payah berdiri saat dia duduk di kotatsu hanya
untuk mengambil buku.
Ketika mereka
tengah menata pajangan-pajangan unik, mereka mendengar bel pintu apartemen
berbunyi.
“oh, pasti
pesananku sudah datang.” Yoriko bergegas membuka pintu apartemennya. Aya
mengikuti di belakang.
Seorang pria
paruh baya dari perusahaan pengiriman barang berdiri di depan pintu Yoriko.
“ada kiriman paket untuk Yoriko Ishihara” kata si petugas pengiriman.
“ya. Saya
sendiri. Pesananku sudah datang?” tanya Yoriko melirik ke sebuah kardus besar
dan panjang di belakang petugas pengiriman itu.
“ya. Tolong
tanda tangan disini...” petugas itu memberikan secarik kertas berisi tanda
terima untuk ditandatangani. Dengan pulpen pinjaman si petugas, Yoriko
menandatanganinya sebelum dia pergi.
“kau memesan
apalagi, Yoriko?” Aya terperangah melihat kardus yang sangat besar itu.
“Aya, tolong
bantu aku mengangkat ini, ya...” pinta Yoriko tanpa menjawab pertanyaan Aya.
Aya langsung membantu tanpa menuntut jawaban. Mereka membawa barang kiriman itu
ke kamar sesuai permintaan Yoriko.
“ini adalah
barang spesial yang kupesan secara khusus...” Yoriko tersenyum misterius sambil
membuka kotak kardus tersebut. Ternyata isinya adalah peti mati kayu yang
berwarna hitam mengilat. Di atas tutup peti terdapat tanda salib layaknya peti
mati yang biasa digunakan untuk orang yang sudah meninggal.
“astaga,
Yoriko! Kenapa kau memesan ini!?” Aya terbelalak kaget. “kau sudah gila, ya!?”
“memangnya
kenapa?” Yoriko malah terlihat biasa saja. “aku memesan ini untuk menaruh
pakaian-pakaian dan barang-barang. Aneh, ya?”
Aya mengurut
dahinya untuk kesekian kalinya karena bingung dengan tingkah dan sifat Yoriko
yang aneh. Sepertinya dia harus membiasakan dirinya melihat peti mati itu
setiap kali dia mengunjungi kamar Yoriko.
“Yoriko,
bagimu memang tidak aneh. Tapi...” Aya mencoba jujur. “maaf, kurasa aku harus
membiasakan diriku dengan duniamu...”
“oh...”
Yoriko maklum dan menjadi tidak enak. “kalau kau tidak suka, aku bisa menaruhnya
di lemari penyimpanan.”
“jangan. Kau
menggunakannya untuk menaruh pakaian dan barang-barangmu. Asal jangan menaruh
dirimu sendiri ke dalam peti itu. oke?” Aya menyuruh Yoriko berjanji untuknya.
“tentu saja.
kecuali kalau aku mati nanti. orang lain tidak usah repot-repot memesan peti
mati untukku karena aku sudah punya...” kata Yoriko sangat polos tanpa perasaan
takut sedikit pun, tidak menyadari bahwa sahabatnya merinding hebat untuk
kesekian kalinya juga ketika mendengarnya.
“kenapa?
Tidak ada salahnya kita mengingat kematian? Itu akan membuatmu berpikir dua
kali untuk melakukan sebuah kejahatan atau kesalahan.” Ujar Yoriko.
Aya
membenarkan pendapat Yoriko. Berkat pendapat itu, dia menjadi lebih sedikit
tenang dan mengerti. Yoriko benar-benar mempunyai pemikiran yang berbeda dari
lainnya. “kau benar. Tapi, seperti yang kukatakan tadi. Jangan masuk ke dalam
peti mati itu sebelum waktunya. Karena aku pasti akan mendapat serangan jantung
jika menemukanmu sedang tidur siang di dalam sana, mengenakan piyama hitam
motif tengkorakmu itu.”
Yoriko tertawa
sejenak sebelum menyanggupi, “baiklah, Aya. Lagipula aku juga tidak segila itu
memasukkan diriku sendiri ke dalam sana. Ya sudah, ayo kita teruskan lagi
membereskan barang-barangnya.”
Malamnya,
Yoriko memilih tidak melakukan apapun termasuk menulis. Dia cukup kelelahan
karena mengurus pemindahannya ke apartemen baru. Seusai makan malam, dia masuk
ke kamarnya setelah sebelumnya dia menggelar futon untuk tidur. Dia berdoa
sebentar kemudian memasukkan tubuhnya ke dalam kehangatan selimut futon sambil
membawa sebuah buku novel yang belum selesai ia baca.
Buku yang ia
baca berjudul Marionette karangan Morgan Martin. Dia membeli buku itu saat
pergi ke pameran buku di Jakarta beberapa tahun lalu. Berkisah tentang gadis
berambut burgundi misterius bernama Marionette Minnezko yang selalu berpakaian
gothic seperti Yoriko. Dia membantu orang-orang yang mempunyai masalah gaib
seperti dihantui oleh setan jahat, memberitahu kunci bagaimana mereka harus
melawan setan tersebut dan memeringatkan orang-orang jika ajal mereka sudah
dekat.
Yoriko suka
sekali buku ini. Pembawaannya sederhana dan mungkin terdengar seperti cerita
horor pada umumnya, tapi ada sesuatu dari buku ini yang membuatnya spesial.
Entah mungkin karena tokoh Marionette yang tidak mudah dilupakan atau plotnya
yang sederhana tapi sangat bagus.
Begitu dia
sudah membaca dengan tenang, hanyut ke dalam imajinasi yang dibawa oleh sang
pengarang, dia diganggu oleh sebuah suara di sebelahnya. Hitomu berbaring
santai dengan siku menopang tubuhnya di samping Yoriko.
“kau masih
belum selesai membaca itu?”
Yoriko nyaris
saja meloncat dari kehangatan selimutnya karena kaget.
“sedang apa
kau disini!?” Yoriko berdesis marah. “ini kamarku!”
“aku kesini
hanya untuk memberitahumu kalau kau belum mengunci pintu apartemenmu
sendiri...” Hitomu tersenyum tanpa dosa.
Yoriko
langsung bangkit dan berjalan menuju pintu apartemen. Ternyata benar, belum
dikunci. Setelah dia menguncinya dengan benar, dia hendak kembali ke kamar.
Tapi Hitomu menghalanginya.
“kau tidak
ingin melakukan sesuatu malam ini? sekarang masih jam 8 malam, kau sudah
memakai gaun tidurmu?” Hitomu memberi isyarat mengajak Yoriko untuk
jalan-jalan.
“Hitomu, di
Indonesia, jam 8 malam artinya sudah waktu untuk tidur. Kurasa disini juga
berlaku untuk anak-anak sekolah dan orang-orang yang punya kehidupan.” Jawab
Yoriko enggan. “minggir, aku ingin tidur lagi.”
“ayolah, kau
tidak ingin pergi?” Hitomu masih mendesak Yoriko.
“tidak. Kau saja!”
Yoriko mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebagai tanda penolakan.
“kumohon...
ini bukan sekali dua kali kau menolak ajakanku untuk pergi bersamaku...” Hitomu
memelas. Tangannya menarik gaun tidur Yoriko dari belakang, menahan gadis itu
agar tidak masuk ke kamarnya lagi.
Yoriko menoleh
dan bertanya, “memangnya kalau kita benar-benar pergi, kita akan kemana, huh?”
“yah, seperti
kau tidak tahu keindahan Tokyo saja. kita bisa ke tempat karaoke, ke bar, ke
tempat pachinko, atau hanya ke kafe menikmati segelas kopi hangat. Bagaimana?” Hitomu
memberi usul.
Yoriko diam.
Dia berpikir kalau dia menolak ajakan Hitomu, sahabatnya ini pasti tidak akan
pernah diam sampai Yoriko menerima ajakannya. Lagipula, Hitomu selama ini
selalu ada untuknya ketika Yoriko membutuhkan seseorang untuk diajak bicara.
Sekarang giliran Hitomu yang membutuhkan seorang teman, tidak ada salahnya
memberikan apa yang dia inginkan.
“baiklah...”
Yoriko mengalah. Dia mengambil jubah beludru hitam miliknya dari gantungan
mantel dekat pintu dan memakainya. “tapi hanya sebentar”
“kau yakin
hanya keluar mengenakan itu?” Hitomu mengangkat alisnya bingung. Yoriko tidak
peduli, dia sudah di depan pintu, memasang sepatu boot hitam berbahan wol
disana. Sepatu itu terlihat cocok dengan gaun tidur panjang model klasik
berwarna hitam yang ditutupi oleh jubahnya.
“ya. Ayo,
cepat. Di dekat sini ada kedai yang baru dibuka kemarin. Kita coba saja
kesana!” ujar Yoriko sambil membuka pintu apartemen.
“ada sesuatu
yang mengganggu pikiranmu, Yoriko-chan?” tanya Hitomu penuh perhatian ketika
mereka menyusuri trotoar untuk menuju kafe.
Yoriko
menggelengkan kepalanya dan mengulas senyuman kalau dia baik-baik saja, “tidak.
Tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“wajahmu
menyiratkan sesuatu. Entah disebabkan oleh lelah karena baru saja melakukan
pindahan rumah, atau memang benar-benar ada sesuatu” jawab Hitomu. “biar
kutebak, ini masih tentang Shou Kohara itu, kan?”
Yoriko tidak
memiliki alasan untuk berbohong atas jawaban untuk pertanyaan tersebut. Hitomu
bisa membaca pikirannya lalu dengan mudahnya memberitahunya tanpa merasa
terbebani. Tapi Yoriko tidak mempermasalahkannya. Dia suka menyukai orang jujur
seperti Hitomu.
“kau belum
pernah bertemu Tora, bukan? Dia... teman Shou. Bisa dibilang mereka sahabat
seperti kita” Yoriko bercerita. “dia menawariku pekerjaan sebagai asisten
mereka. aku ragu apa aku harus menerima pekerjaan itu...”
“apa mereka
mengharapkanmu menerima pekerjaan itu?”
“ya. Dengan
nomor teleponku yang didapat dari Aya, Tora meneleponku. Menanyakan apa aku
akan mengambil pekerjaan itu atau tidak. Aya juga mendesakku untuk
mengambilnya. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua...”
“sepertinya
mereka ingin kau dekat dengan Shou...” Hitomu menyeringai jahil. “sudahlah,
mereka mendukung dan membantumu. Kenapa kau tidak menerimanya?”
“aku memang
tertarik pada Shou, Hitomu. Tapi...” kata-kata Yoriko tertahan di lidah.
Bagaimana dia harus mengekspresikannya dengan kata-kata? Bagaimana caranya
untuk mengatakan kalau seorang yang sangat merefleksikan diri seorang tokoh
yang sangat dia cintai selama beberapa tahun di dunia imajinasinya membencinya?
Rasanya seperti tokoh itu turut membencinya. Spencer Williams dan Shou Kohara
terlalu sempurna untuknya. Yoriko bahkan pernah membayangkan bisa jadi Spencer
Williams meloncat dari dunia khayalan ke dunia nyata dalam wujud Shou Kohara untuk
membuat Yoriko menjadi semakin bingung.
Oh Tuhan... inikah hukuman yang kau berikan
padaku karena aku sangat jarang berinteraksi dengan manusia? Yoriko merundung
di dalam hatinya.
Terkadang
Yoriko merasa lebih baik tetap seperti ini. Shou membencinya, menganggapnya
hanya kerikil kecil yang ada di dalam sepatunya. Sesuatu yang sangat mengganggu
dan harus dibuang secepatnya.
“bagus,
sekarang kau membuatku menjadi terlihat bodoh...” Yoriko tertawa kecut.
“Hitomu, aku sudah terlalu sering berada di dunia imajinasiku. Dan kupikir aku
harus memertahankan kewarasanku dengan tidak mendekati Shou Kohara itu lagi”
“’kewarasan’?
apa itu berarti kau menjadi gila saat bertemu dengannya?” Hitomu menyindir.
“kau jatuh cinta padanya, ya?”
“bukan,
Hitomu!” Yoriko langsung kelabakan. “kau salah paham!”
“bagaimana
kalau untuk memastikan itu, kau menerima pekerjaan bagus itu? bayarannya bagus
pula. Kau akan membutuhkan uang untuk menerbitkan novelmu juga, kan?” Hitomu
menyarankan.
Yoriko
terpaku sejenak. Kenapa dia tidak memikirkannya? Dia baru sadar dia membutuhkan
uang untuk menerbitkan bukunya. Sebagai rencana cadangan kalau penerbit
konvensional tidak menerima karyanya, dia bisa mencetaknya sendiri dengan
uangnya. Yoriko bukanlah tipe orang yang percaya diri dalam hal itu. baginya
menerbitkan karya sendiri masih angan-angan yang mungkin tidak akan pernah
terjadi. Selama orang-orang terdekatnya membaca karyanya, itu sudah menjadi
angin segar untuk Yoriko sebagai penulis.
Yoriko tidak
berbicara apapun lagi sampai mereka sudah mencapai kedai.
Suasana kedai
cukup ramai. Kedai ini temboknya terbuat dari bata merah dan suasananya sangat
klasik dan nyaman. Perabotannya didominasi oleh kayu. Selain bangku dan meja
bundar kecil yang dihiasi taplak meja putih sebagai tempat duduk, ada juga sofa
empuk yang ditaruh berhadapan di sisi jendela kedai. Lampu kedai berupa kandil
kecil seperti lampu-lampu jaman kuno, membuat Yoriko mulai menyukai kedai ini.
Di Jepang,
kedai berbeda dari kafe. Kedai hanya menjual minuman dan makanan kecil. Maka
begitu mereka mengantri di counter untuk memesan, Yoriko hanya memesan segelas
cokelat hangat dicampur susu dan beberapa keping cookies. Hitomu juga memesan sama sepertinya.
“hei, lihat.
Apa orang itu tidak asing bagimu?” Hitomu menyikut pinggang Yoriko saat mereka
mencari meja setelah mendapatkan apa yang mereka pesan. Orang yang Hitomu
maksud sedang duduk bertopang dagu di sofa tidak jauh dari mereka. Segelas
minuman panas yang Yoriko tebak mungkin adalah kopi dibiarkan dingin begitu
saja dan sebuah buku cukup tebal disampingnya menjadi teman orang itu.
Rambut
cokelatnya yang cukup panjang di bagian depan menjuntai begitu saja menutupi
wajahnya yang murung menatap jendela. Sesekali dia melihat bayangannya sendiri
di kaca jendela lalu iseng meniupkan angin dari bibir uniknya ke dahi, sehingga
rambutnya tersibak pelan dan memerlihatkan matanya yang sayu. Kedua mata indah
itu memerah entah karena menangis atau lensa kontak yang membuat mata itu
menjadi berwarna abu-abu tua malah menyebabkan iritasi atau semacamnya.
Tapi tidak
mungkin orang itu menangis. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu.
Yoriko tidak
mengenal siapapun lagi yang memiliki ego seperti itu selain Spencer Williams di
dunia khayalannya atau namanya di dunia nyata adalah...
Shou
Kohara...
Shou sudah
tidak bisa menghitung lagi berapa malam yang dia habiskan hanya duduk di tempat
seperti ini karena insomnia melanda. Shou bahkan tidak sadar dia tadi berjalan
kaki sangat jauh dari apartemennya hanya untuk berdiam di tempat ini.
Bagi orang
lain yang melihatnya, mereka berpikir Shou sedang mencari inspirasi untuk
musiknya. Ya, terkadang seorang seniman berubah menjadi galau tidak jelas lalu
tiba-tiba menulis sebuah lirik lagu dengan kerennya yang pada akhirnya digilai
dan dihayati secara berlebihan oleh orang lain.
Tapi saat ini
Shou sama sekali sedang tidak mempunyai hasrat untuk menulis lagu. Menulis lagu
lebih berat dari itu. menulis adalah sesuatu yang gila, membutuhkan ketidak warasan,
dan keberanian untuk mengungkapkannya lewat secarik kertas, dengan pulpen dan
jari-jari sebagai alat bantunya. Coretan demi coretan ditorehkan hanya demi
sesuatu yang ada di pikirannya benar-benar tertuliskan disana.
Dia sudah
tidak waras, dia sudah memiliki segudang isi hati dan imajinasi yang siap untuk
ditumpahkan. Tidak perlu menjadi seorang sastrawan untuk mengeluarkan
berlembar-lembar lirik lagu atau puisi. Malah sebaliknya, tidak usah pedulikan
sastra maka kau akan mendapatkan semua itu dengan cepat.
Di atas
semuanya, yang tahu kalau Shou sudah tidak waras hanyalah dirinya sendiri. Dulu
dia hanyalah seorang pemuda yang meremehkan cinta, tidak pernah peduli pada
wanita. Kalaupun dia tertarik pada mereka, dia tidak akan pernah serius.
Sekarang, dia mendapat karmanya. Disaat dia mulai melupakan dan bosan dengan
semua hal naif itu, dia malah bertemu orang yang ia cintai. Rasanya sangat
sulit melupakan wanita itu yang dia cintai dengan mudahnya.
Dia perlu
orang lain tahu kalau dia tidak waras. Dia butuh seseorang yang mau
mendengarkannya tanpa menertawakannya. Di dunia gemerlapnya, dia adalah seorang
bintang tercerah di antara bintang lainnya. Semua orang memujanya, semua orang
meleleh ketika melihat senyumannya, semua orang menganggap hidupnya sempurna.
Tapi di dunia
nyata, dia hanyalah orang tersesat di antara lautan manusia yang bertopeng
kepalsuan, semua orang yang dimaksud hanyalah para fans yang menghujani pujian
untuknya di internet atau hanya saat mereka memadati bangku penonton saat
konsernya, segalanya yang bisa dia dapatkan terasa sia-sia ketika dia sadar dia
tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita itu.
Dunia nyata
itu kejam. Siapa yang setuju dengan pernyataan itu selain dirinya?
“Shou? Kau
baik-baik saja?”
Tidak
mungkin. Suara lembut itu pasti hanya khayalannya. Pemilik suara itu pasti
tidak ada disini. Itu hanya khayalannya saja. tidak lebih.
“Shou...?”
suara itu memanggil namanya lagi. Membuat Shou terpaksa menoleh ke arah suara
itu. Yoriko sedang berdiri di sisi mejanya, membawa nampan berisi segelas
cokelat hangat dan piring berisi cookies cokelat. Shou terpana akan penampilan
anehnya. Shou berani bertaruh gaun hitam yang dia kenakan itu adalah gaun tidur
yang biasa dia lihat di film-film bersetting abad pertengahan. Begitu juga
jubah yang menghiasi punggungnya.
“kau
baik-baik saja?” Yoriko bertanya lagi. “apa kau butuh teman?”
Ya, Yoriko. Itu benar. Hati Shou
menjerit. Tapi sekali lagi, jeritan kejujuran itu tenggelam di lautan egonya
yang dalam.
“sedang apa
kau disini?” dengan dingin Shou membalas.
Oh tidak, semoga itu tidak membuat Yoriko
merasa terusir.
“yah, tidak
jauh berbeda darimu.” Yoriko menunjuk kopi milik Shou. “kalau kau tidak suka
aku bisa pergi...” Yoriko berbalik untuk pergi.
Baru beberapa
langkah gadis itu pergi, tanpa sadar Shou berseru pelan, “tunggu, Yoriko.”
Walaupun nyaris
tidak terdengar, Yoriko mendengarnya.
“ng... duduk
saja disini... tempat ini cukup ramai. Kau pasti susah mencari meja...” Shou
memberikan alasan yang dirasa masuk akal.
“baiklah...”
Yoriko mengernyitkan dahinya dan menurut. Dia duduk di hadapan Shou. “sedang
apa kau disini?” Yoriko mencoba berbasa-basi.
“bisa kau
lihat, meminum kopi...” Shou melihat kopinya yang sudah dingin.
“minuman
panas seperti ini membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih untuk berubah
dingin. Kau pasti tidak menyentuhnya sama sekali selama itu.” Yoriko menyesap
cokelat hangatnya. “kau insomnia?”
Shou
tersenyum mengejek, tidak mau mengakui itu. “walaupun aku mempunyai kantung
mata, bukan berarti aku tidak bisa tidur.”
“oh... kalau
begitu, apa yang bisa menjelaskan mata merah itu?” Yoriko tidak percaya.
“ini hanya...
iritasi ringan...” Shou mengelak lagi.
“kau sendiri
sedang apa disini? Kau tidak mempunyai pekerjaan lain, ya?” Shou balik bertanya
agar Yoriko tidak mengorek isi hatinya dengan pertanyaan sederhana tapi
menusuknya.
“yah, hanya
ingin tahu bagaimana suasana kedai baru dekat apartemen.” Yoriko mengangkat
bahunya. Kedua tangannya memegangi gelasnya yang terasa sangat hangat.
“oh...”
“kau belum
menjawab pertanyaanku. Kau baik-baik saja?” Yoriko mendesaknya lagi.
“ya, aku
baik-baik saja. puas?” Shou mengusap wajahnya dan memasang ekspresi marah.
“ya, aku
puas...” Yoriko balas tersenyum mengejek. “maaf kalau aku bertanya seperti itu.
Hanya saja, kau terlihat menyedihkan dari tempat aku berdiri sebelumnya.”
Shou diam
saja. malu karena lagi-lagi dia tidak bisa menjawab perkataan Yoriko.
“kau sedang
membaca apa?” Yoriko mengambil buku novel milik Shou yang terabaikan. Buku itu
berjudul The Missing Rose karya Serdar Ozkan. Novel yang sudah diterjemahkan ke
dalam bahasa Jepang ini memiliki sampul menarik. Berlatar belakang warna beige
dengan kelopak mawar hitam yang mekar dengan indahnya. Membuat buku itu
terlihat seperti karya sastra Jepang kuno tapi terkesan misterius juga.
“oh, buku
ini? aku punya versi Perancis, Itali, Inggris, dan Indonesianya. Aku suka
sekali ceritanya.” Komentar Yoriko. “tidak kusangka kau juga membacanya...”
“aku benci
buku itu...” Shou melemparkan pandangan jijik ke arah buku yang memiliki cerita
yang sangat dalam artinya tersebut.
“kalau begitu
kenapa kau membawanya? Atau karena kisah tokoh Diana di novel ini yang sangat
mirip denganmu?”
Entah kenapa
pertanyaan itu membuat Shou merasa baru saja ditusuk oleh ribuan pisau.
“biasanya,
orang menjadi sangat suka atau sebaliknya malah membenci suatu novel
dikarenakan oleh cerita di dalam novel itu sangat mirip dirinya. Apakah cerita
itu memberikan sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan di dunia nyata, atau malah
menyindirnya habis-habisan.” Kata Yoriko. “tapi jika kau membenci buku ini, itu
berarti, buku ini menyampaikan suatu kebenaran untukmu...”
“kebenaran
apa?” Shou memberikan Yoriko tatapan tajam.
“entahlah.
Hanya kau yang tahu.” Yoriko membuka halaman buku itu dengan cepat. Dia menemukan
pembatas buku di tengah-tengah, tepat di adegan dimana Miriam dan Artemis
sedang berdebat. Mereka adalah dua buah mawar dari tanaman berkepala dua
setelah dua buah mawar dengan sifat-sifat mereka yang bertolak belakang ditanam
di dalam satu pot. Seiring waktu, akar-akar mereka tidak bisa saling mengait
dan tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka terus menerus berdebat.
Artemis
adalah bunga mawar yang sombong. Dia tidak mau dipanggil nama lain selain
Artemis. Artemis adalah nama dewi berburu dari mitologi Yunani yang selalu
dipuja orang-orang. Artemis selalu menyombongkan dirinya, menginginkan semua
tanaman lain memujanya. Dia merasa dirinya dewi, bukan mawar biasa seperti
Miriam dan lainnya. Dan Miriam ada disana untuk mengingatkan Artemis tanpa
merasa lelah.
“kurasa kau
sangat tersinggung setelah membaca adegan Artemis dan Miriam berdebat. Artemis
sangat mirip denganmu...” komentar Yoriko. “merasa dirinya sempurna, atau
terlihat sempurna. Tapi di balik semua itu... dia hanyalah mawar biasa. Artemis
adalah dewi yang hanya dipuja disaat-saat tertentu. Saat orang-orang yang
memujanya pergi, dia bukanlah apa-apa. Kesepian di balik lekuk kesempurnaan
patungnya, tidak ada satu pun yang peduli meskipun dia kehujanan dan diterpa
badai sekalipun.”
“dan kau
sekarang merasa kau adalah Miriam?” sindir Shou tersinggung.
“tidak. Aku
adalah aku. Aku tidak membutuhkan sosok orang lain untuk menggambarkan diriku
sendiri. Kau hanya kebetulan saja membaca buku ini disaat yang ‘tepat’” Yoriko
menutup buku itu dan mengopernya ke Shou. “kau belum selesai membaca bukunya,
bukan? Aku sangat sarankan kau menyelesaikannya supaya mengerti apa yang kumaksud...”
“Shou, jangan
pedulikan perkataan Yang Lain... kau
tidak akan pernah mendapatkan jawaban atas kegalauanmu...” Yoriko tersenyum
penuh arti.
“kau tidak
tahu apa-apa...” Shou menggeram pelan. “kau tidak berhak menceramahiku...”
“memang. Tapi
kau memintaku untuk duduk disini daripada mengusirku. Kau ingin aku melakukan
apa? Diam seperti patung, menganggap aku hanyalah pajangan? Itu sama saja
dengan sendirian”
“apa kau
tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?” volume suara Shou meninggi.
Tapi Yoriko sama sekali tidak takut. Wanita itu malah meneguk cokelat hangatnya
dengan tenang. Dia mengambil sekeping kue dari piring kecilnya lalu menawarkan
sisanya ke Shou.
“kau mau?”
Yoriko benar-benar terlihat polos dan tidak merasa bersalah.
“tidak. Kau
saja...” Shou mengibaskan tangannya agar Yoriko menjauhkan piring itu dari
wajahnya.
“baiklah.
Cookies ini enak sekali, lho...” Yoriko menggigit cookies miliknya.
“ah,
sudahlah!” Shou menggeram kesal. Dia berdiri dan menghardik Yoriko sampai
beberapa pasang mata memandang ke arah mereka. untung saja mereka tidak
mengenali Shou yang terkenal jadi mereka hanya bersikap biasa saja. “aku pergi
dari sini”
Shou
melangkahkan kakinya keluar dari kedai diiringi tatapan tenang Yoriko. Begitu
di luar, Shou mengancingkan jaketnya karena hawa dingin merasuki tubuhnya.
Dengan kesal dia berjalan di trotoar sendirian.
Saat dia
berjalan, dia merasakan rasa kesepian itu lagi. Sial, tahu begini lebih baik
dia tetap disana saja bersama Yoriko. Gadis itu memang menyebalkan dan
kata-katanya tidak pernah membuat Shou senang walaupun dia tidak pernah
bermaksud menghina Shou. Tapi di balik kata-kata yang terdengar tidak
menyenangkan itu, ada sesuatu di baliknya yang membuat Shou merasa tenang.
Seakan Yoriko
bisa mengerti perasaan sebenarnya.
Sementara
itu, di kedai, Yoriko tertunduk lesu. Lagi-lagi dia sudah mengacaukan semuanya.
Sekali lagi Shou menganggapnya menyebalkan. Pria itu pasti sangat membencinya
dan sekarang mungkin dia tengah mengutuk Yoriko sambil berjalan menyusuri
trotoar.
“tenang saja.
dia pergi karena dia menganggapmu benar. Dia hanya memerlukan waktu untuk
menyadarinya” Hitomu duduk di samping Yoriko. “aku akan menemanimu”
“huh,
setidaknya kau tidak lebih menyebalkan daripada dia...” Yoriko tersenyum pasrah.
Hitomu
mengambil sekeping cookies dari piring Yoriko. Dengan mulut penuh remahan kue,
dia berkata, “hei, aku bisa melihatmu ingin membantu orang menyedihkan itu.
kenapa tidak kau lakukan saja?”
“bagaimana
caranya?”
“masa kau
tidak tahu?”
Secara refleks,
Yoriko melirik handphonenya di dalam saku gaun tidurnya. Oh Tuhan, Shou pasti
tidak tahu kalau dia ditawari bekerja sebagai asisten Alice Nine. Karena kalau
dia tahu, dia pasti akan lebih murka daripada tadi.
“mungkin dia
akan membenci keberadaanmu. Tapi keempat temannya membutuhkanmu. Kau sendiri
juga membutuhkan pekerjaan itu, kan?” Hitomu meyakinkan Yoriko.
Yoriko
bergerak tidak sesuai dengan kemauannya saat dia mengambil handphonenya. Entah
setan apa yang merasukinya sehingga dia bisa mengetik e-mail itu untuk Tora.
Selamat malam, Tora-san
Kurasa aku tertarik pada pekerjaan yang kau
tawarkan. Apakah tawaran itu masih berlaku?
Sambil
menutup kedua matanya rapat-rapat karena tidak berani, Yoriko menekan tombol
send. Setengah berharap semoga e-mail itu tidak terkirim dan setengah berharap
juga semoga langkah yang dia ambil tidak salah.
Oh bumi, telanlah aku...
No comments:
Post a Comment