Saturday, June 22, 2013

The Delusion (7)

7

“hati-hati, Aya!” kata Yoriko pada Aya yang sedang membawa 2 buah kardus yang cukup berat. Isinya adalah barang-barang milik Yoriko untuk dipindahkan ke apartemennya yang baru. Yoriko menyewa sebuah kamar di apartemen yang sama tempat Aya tinggal. Kamar itu terletak tepat di atas kamar Aya.

Akhirnya Yoriko bisa membayar sewa pertama apartemennya. Begitu dia sudah melunasinya, besoknya dia meminta tolong Aya untuk membantunya memindahkan barang-barang. Yoriko memesan perabotan-perabotan utama seperti futon, beberapa meja dan kursi, lemari, microwave, perlatan memasak, dan sebagainya. Semua itu dia beli dengan murah dari toko barang-barang bekas.

“aku tidak menyangka kau bisa membeli ini semua dari toko loak. Jangan bilang kalau kau juga membeli futon disana...” Aya memasang ekspresi jijik saat dia sudah sampai di depan pintu apartemen baru.

Yoriko muncul keluar dari dalam dengan memakai kaus hitam, celana jeans gelap, dan rambutnya diikat rendah. Wajahnya penuh debu dan kedua tangannya kotor karena baru saja membersihkan lantai dan debu. “tentu saja tidak. Kalau futon aku membelinya di departemen store, tapi dengan harga termurah.”

“oh... baguslah kalau begitu...” Aya berjongkok untuk membuka kardus yang tadi dibawanya. Dia menemukan tumpukan buku-buku tebal. Setiap buku bahasanya berbeda-beda. “wow! Kau mengumpulkan semua ini dan membacanya sampai habis!?” Aya takjub.

“ya, begitulah...” Yoriko menjawab santai. “kalau kau mau, kau bisa meminjamnya.”

“benarkah?” Aya senang. Dia memerhatikan buku-buku itu lagi. Ada yang berbahasa inggris, perancis, spanyol, italia, dan indonesia.

“aku membeli buku berbahasa spanyol dan italia itu saat berkunjung kesana. Kau tahulah, kedua negara itu kan dekat Perancis...” Yoriko menjelaskan. Buku-buku itu kebanyakan adalah buku novel dan hikayat, kumpulan cerpen, sejarah Eropa, dan buku tentang agama. Aya memilih salah satu hikayat karya Shakespeare berbahasa inggris.

“kau benar-benar berpetualang, ya...” komentar Aya. “aku jadi iri padamu.”

“bagaimana kalau kita kumpulkan uang sisa dari gaji kita untuk ditabung? Setelah cukup, kita bisa pergi kesana berdua.” Yoriko mengusulkan ide yang langsung disambut oleh Aya. Aya berjingkat riang, matanya berbinar cerah membayangkan rasanya berpetualang di Eropa bersama Yoriko.

“tapi...” tiba-tiba Aya lemas. “kira-kira sampai kapan kita menabung? Pengeluaran kita kan banyak sekali...”

“tenang saja.” Yoriko merangkul sahabatnya yang manis itu, memberikan senyum keyakinan untuknya. “kita pasti bisa.”

Aya ikut tersenyum dan yakin. Entah kenapa, setiap kali Yoriko menghibur, meyakinkan, dan memberi semangat untuk Aya, gadis itu bisa menjadi percaya diri dengan cepat. Suara dan tutur katanya yang lembut bisa membuat orang lain luluh padanya. Aya bisa memercayai kata-kata Yoriko dalam waktu singkat karena Yoriko tidak pernah berbohong.

Mereka kembali ke kesibukan menyelesaikan pindahan. Seluruh perabotan sudah diatur rapi oleh Yoriko. Sekarang tinggal mengisi perabotan-perabotan itu dengan benda-benda kesayangan.

Kamar apartemen Yoriko sama seperti yang lain. Sebuah ruangan besar yang dibagi-bagi dengan tembok untuk ruang TV kecil, ruang tidur, lemari penyimpanan dengan pintu geser, beserta dapur kecil dan kamar mandi. Futon yang masih terlipat mereka taruh di lemari penyimpanan, mereka menata perabotan dapur dan peralatan memasak di dapur, menata buku-buku di lemari yang sudah dibeli Yoriko. Lemari besar berbahan kayu itu ditaruh di ruang TV, di dekat kotatsu. Yoriko sengaja menaruhnya disana agar dia tidak usah susah payah berdiri saat dia duduk di kotatsu hanya untuk mengambil buku.

Ketika mereka tengah menata pajangan-pajangan unik, mereka mendengar bel pintu apartemen berbunyi.

“oh, pasti pesananku sudah datang.” Yoriko bergegas membuka pintu apartemennya. Aya mengikuti di belakang.

Seorang pria paruh baya dari perusahaan pengiriman barang berdiri di depan pintu Yoriko. “ada kiriman paket untuk Yoriko Ishihara” kata si petugas pengiriman.

“ya. Saya sendiri. Pesananku sudah datang?” tanya Yoriko melirik ke sebuah kardus besar dan panjang di belakang petugas pengiriman itu.

“ya. Tolong tanda tangan disini...” petugas itu memberikan secarik kertas berisi tanda terima untuk ditandatangani. Dengan pulpen pinjaman si petugas, Yoriko menandatanganinya sebelum dia pergi.

“kau memesan apalagi, Yoriko?” Aya terperangah melihat kardus yang sangat besar itu.

“Aya, tolong bantu aku mengangkat ini, ya...” pinta Yoriko tanpa menjawab pertanyaan Aya. Aya langsung membantu tanpa menuntut jawaban. Mereka membawa barang kiriman itu ke kamar sesuai permintaan Yoriko.

“ini adalah barang spesial yang kupesan secara khusus...” Yoriko tersenyum misterius sambil membuka kotak kardus tersebut. Ternyata isinya adalah peti mati kayu yang berwarna hitam mengilat. Di atas tutup peti terdapat tanda salib layaknya peti mati yang biasa digunakan untuk orang yang sudah meninggal.

“astaga, Yoriko! Kenapa kau memesan ini!?” Aya terbelalak kaget. “kau sudah gila, ya!?”

“memangnya kenapa?” Yoriko malah terlihat biasa saja. “aku memesan ini untuk menaruh pakaian-pakaian dan barang-barang. Aneh, ya?”

Aya mengurut dahinya untuk kesekian kalinya karena bingung dengan tingkah dan sifat Yoriko yang aneh. Sepertinya dia harus membiasakan dirinya melihat peti mati itu setiap kali dia mengunjungi kamar Yoriko.

“Yoriko, bagimu memang tidak aneh. Tapi...” Aya mencoba jujur. “maaf, kurasa aku harus membiasakan diriku dengan duniamu...”

“oh...” Yoriko maklum dan menjadi tidak enak. “kalau kau tidak suka, aku bisa menaruhnya di lemari penyimpanan.”

“jangan. Kau menggunakannya untuk menaruh pakaian dan barang-barangmu. Asal jangan menaruh dirimu sendiri ke dalam peti itu. oke?” Aya menyuruh Yoriko berjanji untuknya.

“tentu saja. kecuali kalau aku mati nanti. orang lain tidak usah repot-repot memesan peti mati untukku karena aku sudah punya...” kata Yoriko sangat polos tanpa perasaan takut sedikit pun, tidak menyadari bahwa sahabatnya merinding hebat untuk kesekian kalinya juga ketika mendengarnya.

“kenapa? Tidak ada salahnya kita mengingat kematian? Itu akan membuatmu berpikir dua kali untuk melakukan sebuah kejahatan atau kesalahan.” Ujar Yoriko.

Aya membenarkan pendapat Yoriko. Berkat pendapat itu, dia menjadi lebih sedikit tenang dan mengerti. Yoriko benar-benar mempunyai pemikiran yang berbeda dari lainnya. “kau benar. Tapi, seperti yang kukatakan tadi. Jangan masuk ke dalam peti mati itu sebelum waktunya. Karena aku pasti akan mendapat serangan jantung jika menemukanmu sedang tidur siang di dalam sana, mengenakan piyama hitam motif tengkorakmu itu.”

Yoriko tertawa sejenak sebelum menyanggupi, “baiklah, Aya. Lagipula aku juga tidak segila itu memasukkan diriku sendiri ke dalam sana. Ya sudah, ayo kita teruskan lagi membereskan barang-barangnya.”
  
***

Malamnya, Yoriko memilih tidak melakukan apapun termasuk menulis. Dia cukup kelelahan karena mengurus pemindahannya ke apartemen baru. Seusai makan malam, dia masuk ke kamarnya setelah sebelumnya dia menggelar futon untuk tidur. Dia berdoa sebentar kemudian memasukkan tubuhnya ke dalam kehangatan selimut futon sambil membawa sebuah buku novel yang belum selesai ia baca.

Buku yang ia baca berjudul Marionette karangan Morgan Martin. Dia membeli buku itu saat pergi ke pameran buku di Jakarta beberapa tahun lalu. Berkisah tentang gadis berambut burgundi misterius bernama Marionette Minnezko yang selalu berpakaian gothic seperti Yoriko. Dia membantu orang-orang yang mempunyai masalah gaib seperti dihantui oleh setan jahat, memberitahu kunci bagaimana mereka harus melawan setan tersebut dan memeringatkan orang-orang jika ajal mereka sudah dekat.

Yoriko suka sekali buku ini. Pembawaannya sederhana dan mungkin terdengar seperti cerita horor pada umumnya, tapi ada sesuatu dari buku ini yang membuatnya spesial. Entah mungkin karena tokoh Marionette yang tidak mudah dilupakan atau plotnya yang sederhana tapi sangat bagus.

Begitu dia sudah membaca dengan tenang, hanyut ke dalam imajinasi yang dibawa oleh sang pengarang, dia diganggu oleh sebuah suara di sebelahnya. Hitomu berbaring santai dengan siku menopang tubuhnya di samping Yoriko.

“kau masih belum selesai membaca itu?”

Yoriko nyaris saja meloncat dari kehangatan selimutnya karena kaget.

“sedang apa kau disini!?” Yoriko berdesis marah. “ini kamarku!”

“aku kesini hanya untuk memberitahumu kalau kau belum mengunci pintu apartemenmu sendiri...” Hitomu tersenyum tanpa dosa.

Yoriko langsung bangkit dan berjalan menuju pintu apartemen. Ternyata benar, belum dikunci. Setelah dia menguncinya dengan benar, dia hendak kembali ke kamar. Tapi Hitomu menghalanginya.

“kau tidak ingin melakukan sesuatu malam ini? sekarang masih jam 8 malam, kau sudah memakai gaun tidurmu?” Hitomu memberi isyarat mengajak Yoriko untuk jalan-jalan.

“Hitomu, di Indonesia, jam 8 malam artinya sudah waktu untuk tidur. Kurasa disini juga berlaku untuk anak-anak sekolah dan orang-orang yang punya kehidupan.” Jawab Yoriko enggan. “minggir, aku ingin tidur lagi.”

“ayolah, kau tidak ingin pergi?” Hitomu masih mendesak Yoriko.

“tidak. Kau saja!” Yoriko mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebagai tanda penolakan.

“kumohon... ini bukan sekali dua kali kau menolak ajakanku untuk pergi bersamaku...” Hitomu memelas. Tangannya menarik gaun tidur Yoriko dari belakang, menahan gadis itu agar tidak masuk ke kamarnya lagi.

Yoriko menoleh dan bertanya, “memangnya kalau kita benar-benar pergi, kita akan kemana, huh?”

“yah, seperti kau tidak tahu keindahan Tokyo saja. kita bisa ke tempat karaoke, ke bar, ke tempat pachinko, atau hanya ke kafe menikmati segelas kopi hangat. Bagaimana?” Hitomu memberi usul.

Yoriko diam. Dia berpikir kalau dia menolak ajakan Hitomu, sahabatnya ini pasti tidak akan pernah diam sampai Yoriko menerima ajakannya. Lagipula, Hitomu selama ini selalu ada untuknya ketika Yoriko membutuhkan seseorang untuk diajak bicara. Sekarang giliran Hitomu yang membutuhkan seorang teman, tidak ada salahnya memberikan apa yang dia inginkan.

“baiklah...” Yoriko mengalah. Dia mengambil jubah beludru hitam miliknya dari gantungan mantel dekat pintu dan memakainya. “tapi hanya sebentar”

“kau yakin hanya keluar mengenakan itu?” Hitomu mengangkat alisnya bingung. Yoriko tidak peduli, dia sudah di depan pintu, memasang sepatu boot hitam berbahan wol disana. Sepatu itu terlihat cocok dengan gaun tidur panjang model klasik berwarna hitam yang ditutupi oleh jubahnya.

“ya. Ayo, cepat. Di dekat sini ada kedai yang baru dibuka kemarin. Kita coba saja kesana!” ujar Yoriko sambil membuka pintu apartemen.

*** 

“ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Yoriko-chan?” tanya Hitomu penuh perhatian ketika mereka menyusuri trotoar untuk menuju kafe.

Yoriko menggelengkan kepalanya dan mengulas senyuman kalau dia baik-baik saja, “tidak. Tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“wajahmu menyiratkan sesuatu. Entah disebabkan oleh lelah karena baru saja melakukan pindahan rumah, atau memang benar-benar ada sesuatu” jawab Hitomu. “biar kutebak, ini masih tentang Shou Kohara itu, kan?”

Yoriko tidak memiliki alasan untuk berbohong atas jawaban untuk pertanyaan tersebut. Hitomu bisa membaca pikirannya lalu dengan mudahnya memberitahunya tanpa merasa terbebani. Tapi Yoriko tidak mempermasalahkannya. Dia suka menyukai orang jujur seperti Hitomu.

“kau belum pernah bertemu Tora, bukan? Dia... teman Shou. Bisa dibilang mereka sahabat seperti kita” Yoriko bercerita. “dia menawariku pekerjaan sebagai asisten mereka. aku ragu apa aku harus menerima pekerjaan itu...”

“apa mereka mengharapkanmu menerima pekerjaan itu?”

“ya. Dengan nomor teleponku yang didapat dari Aya, Tora meneleponku. Menanyakan apa aku akan mengambil pekerjaan itu atau tidak. Aya juga mendesakku untuk mengambilnya. Entah apa yang ada di pikiran mereka berdua...”

“sepertinya mereka ingin kau dekat dengan Shou...” Hitomu menyeringai jahil. “sudahlah, mereka mendukung dan membantumu. Kenapa kau tidak menerimanya?”

“aku memang tertarik pada Shou, Hitomu. Tapi...” kata-kata Yoriko tertahan di lidah. Bagaimana dia harus mengekspresikannya dengan kata-kata? Bagaimana caranya untuk mengatakan kalau seorang yang sangat merefleksikan diri seorang tokoh yang sangat dia cintai selama beberapa tahun di dunia imajinasinya membencinya? Rasanya seperti tokoh itu turut membencinya. Spencer Williams dan Shou Kohara terlalu sempurna untuknya. Yoriko bahkan pernah membayangkan bisa jadi Spencer Williams meloncat dari dunia khayalan ke dunia nyata dalam wujud Shou Kohara untuk membuat Yoriko menjadi semakin bingung.

Oh Tuhan... inikah hukuman yang kau berikan padaku karena aku sangat jarang berinteraksi dengan manusia? Yoriko merundung di dalam hatinya.

Terkadang Yoriko merasa lebih baik tetap seperti ini. Shou membencinya, menganggapnya hanya kerikil kecil yang ada di dalam sepatunya. Sesuatu yang sangat mengganggu dan harus dibuang secepatnya.

“bagus, sekarang kau membuatku menjadi terlihat bodoh...” Yoriko tertawa kecut. “Hitomu, aku sudah terlalu sering berada di dunia imajinasiku. Dan kupikir aku harus memertahankan kewarasanku dengan tidak mendekati Shou Kohara itu lagi”

“’kewarasan’? apa itu berarti kau menjadi gila saat bertemu dengannya?” Hitomu menyindir. “kau jatuh cinta padanya, ya?”

“bukan, Hitomu!” Yoriko langsung kelabakan. “kau salah paham!”

“bagaimana kalau untuk memastikan itu, kau menerima pekerjaan bagus itu? bayarannya bagus pula. Kau akan membutuhkan uang untuk menerbitkan novelmu juga, kan?” Hitomu menyarankan.

Yoriko terpaku sejenak. Kenapa dia tidak memikirkannya? Dia baru sadar dia membutuhkan uang untuk menerbitkan bukunya. Sebagai rencana cadangan kalau penerbit konvensional tidak menerima karyanya, dia bisa mencetaknya sendiri dengan uangnya. Yoriko bukanlah tipe orang yang percaya diri dalam hal itu. baginya menerbitkan karya sendiri masih angan-angan yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Selama orang-orang terdekatnya membaca karyanya, itu sudah menjadi angin segar untuk Yoriko sebagai penulis.

Yoriko tidak berbicara apapun lagi sampai mereka sudah mencapai kedai.

*** 

Suasana kedai cukup ramai. Kedai ini temboknya terbuat dari bata merah dan suasananya sangat klasik dan nyaman. Perabotannya didominasi oleh kayu. Selain bangku dan meja bundar kecil yang dihiasi taplak meja putih sebagai tempat duduk, ada juga sofa empuk yang ditaruh berhadapan di sisi jendela kedai. Lampu kedai berupa kandil kecil seperti lampu-lampu jaman kuno, membuat Yoriko mulai menyukai kedai ini.

Di Jepang, kedai berbeda dari kafe. Kedai hanya menjual minuman dan makanan kecil. Maka begitu mereka mengantri di counter untuk memesan, Yoriko hanya memesan segelas cokelat hangat dicampur susu dan beberapa keping cookies. Hitomu juga memesan sama sepertinya.

“hei, lihat. Apa orang itu tidak asing bagimu?” Hitomu menyikut pinggang Yoriko saat mereka mencari meja setelah mendapatkan apa yang mereka pesan. Orang yang Hitomu maksud sedang duduk bertopang dagu di sofa tidak jauh dari mereka. Segelas minuman panas yang Yoriko tebak mungkin adalah kopi dibiarkan dingin begitu saja dan sebuah buku cukup tebal disampingnya menjadi teman orang itu.

Rambut cokelatnya yang cukup panjang di bagian depan menjuntai begitu saja menutupi wajahnya yang murung menatap jendela. Sesekali dia melihat bayangannya sendiri di kaca jendela lalu iseng meniupkan angin dari bibir uniknya ke dahi, sehingga rambutnya tersibak pelan dan memerlihatkan matanya yang sayu. Kedua mata indah itu memerah entah karena menangis atau lensa kontak yang membuat mata itu menjadi berwarna abu-abu tua malah menyebabkan iritasi atau semacamnya.

Tapi tidak mungkin orang itu menangis. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu.

Yoriko tidak mengenal siapapun lagi yang memiliki ego seperti itu selain Spencer Williams di dunia khayalannya atau namanya di dunia nyata adalah...

Shou Kohara...

*** 

Shou sudah tidak bisa menghitung lagi berapa malam yang dia habiskan hanya duduk di tempat seperti ini karena insomnia melanda. Shou bahkan tidak sadar dia tadi berjalan kaki sangat jauh dari apartemennya hanya untuk berdiam di tempat ini.

Bagi orang lain yang melihatnya, mereka berpikir Shou sedang mencari inspirasi untuk musiknya. Ya, terkadang seorang seniman berubah menjadi galau tidak jelas lalu tiba-tiba menulis sebuah lirik lagu dengan kerennya yang pada akhirnya digilai dan dihayati secara berlebihan oleh orang lain.

Tapi saat ini Shou sama sekali sedang tidak mempunyai hasrat untuk menulis lagu. Menulis lagu lebih berat dari itu. menulis adalah sesuatu yang gila, membutuhkan ketidak warasan, dan keberanian untuk mengungkapkannya lewat secarik kertas, dengan pulpen dan jari-jari sebagai alat bantunya. Coretan demi coretan ditorehkan hanya demi sesuatu yang ada di pikirannya benar-benar tertuliskan disana.

Dia sudah tidak waras, dia sudah memiliki segudang isi hati dan imajinasi yang siap untuk ditumpahkan. Tidak perlu menjadi seorang sastrawan untuk mengeluarkan berlembar-lembar lirik lagu atau puisi. Malah sebaliknya, tidak usah pedulikan sastra maka kau akan mendapatkan semua itu dengan cepat.

Di atas semuanya, yang tahu kalau Shou sudah tidak waras hanyalah dirinya sendiri. Dulu dia hanyalah seorang pemuda yang meremehkan cinta, tidak pernah peduli pada wanita. Kalaupun dia tertarik pada mereka, dia tidak akan pernah serius. Sekarang, dia mendapat karmanya. Disaat dia mulai melupakan dan bosan dengan semua hal naif itu, dia malah bertemu orang yang ia cintai. Rasanya sangat sulit melupakan wanita itu yang dia cintai dengan mudahnya.

Dia perlu orang lain tahu kalau dia tidak waras. Dia butuh seseorang yang mau mendengarkannya tanpa menertawakannya. Di dunia gemerlapnya, dia adalah seorang bintang tercerah di antara bintang lainnya. Semua orang memujanya, semua orang meleleh ketika melihat senyumannya, semua orang menganggap hidupnya sempurna.

Tapi di dunia nyata, dia hanyalah orang tersesat di antara lautan manusia yang bertopeng kepalsuan, semua orang yang dimaksud hanyalah para fans yang menghujani pujian untuknya di internet atau hanya saat mereka memadati bangku penonton saat konsernya, segalanya yang bisa dia dapatkan terasa sia-sia ketika dia sadar dia tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita itu.

Dunia nyata itu kejam. Siapa yang setuju dengan pernyataan itu selain dirinya?

“Shou? Kau baik-baik saja?”

Tidak mungkin. Suara lembut itu pasti hanya khayalannya. Pemilik suara itu pasti tidak ada disini. Itu hanya khayalannya saja. tidak lebih.

“Shou...?” suara itu memanggil namanya lagi. Membuat Shou terpaksa menoleh ke arah suara itu. Yoriko sedang berdiri di sisi mejanya, membawa nampan berisi segelas cokelat hangat dan piring berisi cookies cokelat. Shou terpana akan penampilan anehnya. Shou berani bertaruh gaun hitam yang dia kenakan itu adalah gaun tidur yang biasa dia lihat di film-film bersetting abad pertengahan. Begitu juga jubah yang menghiasi punggungnya.

“kau baik-baik saja?” Yoriko bertanya lagi. “apa kau butuh teman?”

Ya, Yoriko. Itu benar. Hati Shou menjerit. Tapi sekali lagi, jeritan kejujuran itu tenggelam di lautan egonya yang dalam.

“sedang apa kau disini?” dengan dingin Shou membalas.

Oh tidak, semoga itu tidak membuat Yoriko merasa terusir.

“yah, tidak jauh berbeda darimu.” Yoriko menunjuk kopi milik Shou. “kalau kau tidak suka aku bisa pergi...” Yoriko berbalik untuk pergi.

Baru beberapa langkah gadis itu pergi, tanpa sadar Shou berseru pelan, “tunggu, Yoriko.”

Walaupun nyaris tidak terdengar, Yoriko mendengarnya.

“ng... duduk saja disini... tempat ini cukup ramai. Kau pasti susah mencari meja...” Shou memberikan alasan yang dirasa masuk akal.

“baiklah...” Yoriko mengernyitkan dahinya dan menurut. Dia duduk di hadapan Shou. “sedang apa kau disini?” Yoriko mencoba berbasa-basi.

“bisa kau lihat, meminum kopi...” Shou melihat kopinya yang sudah dingin.

“minuman panas seperti ini membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih untuk berubah dingin. Kau pasti tidak menyentuhnya sama sekali selama itu.” Yoriko menyesap cokelat hangatnya. “kau insomnia?”

Shou tersenyum mengejek, tidak mau mengakui itu. “walaupun aku mempunyai kantung mata, bukan berarti aku tidak bisa tidur.”

“oh... kalau begitu, apa yang bisa menjelaskan mata merah itu?” Yoriko tidak percaya.

“ini hanya... iritasi ringan...” Shou mengelak lagi.

“kau sendiri sedang apa disini? Kau tidak mempunyai pekerjaan lain, ya?” Shou balik bertanya agar Yoriko tidak mengorek isi hatinya dengan pertanyaan sederhana tapi menusuknya.

“yah, hanya ingin tahu bagaimana suasana kedai baru dekat apartemen.” Yoriko mengangkat bahunya. Kedua tangannya memegangi gelasnya yang terasa sangat hangat.

“oh...”

“kau belum menjawab pertanyaanku. Kau baik-baik saja?” Yoriko mendesaknya lagi.

“ya, aku baik-baik saja. puas?” Shou mengusap wajahnya dan memasang ekspresi marah.

“ya, aku puas...” Yoriko balas tersenyum mengejek. “maaf kalau aku bertanya seperti itu. Hanya saja, kau terlihat menyedihkan dari tempat aku berdiri sebelumnya.”

Shou diam saja. malu karena lagi-lagi dia tidak bisa menjawab perkataan Yoriko.

“kau sedang membaca apa?” Yoriko mengambil buku novel milik Shou yang terabaikan. Buku itu berjudul The Missing Rose karya Serdar Ozkan. Novel yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang ini memiliki sampul menarik. Berlatar belakang warna beige dengan kelopak mawar hitam yang mekar dengan indahnya. Membuat buku itu terlihat seperti karya sastra Jepang kuno tapi terkesan misterius juga.

“oh, buku ini? aku punya versi Perancis, Itali, Inggris, dan Indonesianya. Aku suka sekali ceritanya.” Komentar Yoriko. “tidak kusangka kau juga membacanya...”

“aku benci buku itu...” Shou melemparkan pandangan jijik ke arah buku yang memiliki cerita yang sangat dalam artinya tersebut.

“kalau begitu kenapa kau membawanya? Atau karena kisah tokoh Diana di novel ini yang sangat mirip denganmu?”

Entah kenapa pertanyaan itu membuat Shou merasa baru saja ditusuk oleh ribuan pisau.

“biasanya, orang menjadi sangat suka atau sebaliknya malah membenci suatu novel dikarenakan oleh cerita di dalam novel itu sangat mirip dirinya. Apakah cerita itu memberikan sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan di dunia nyata, atau malah menyindirnya habis-habisan.” Kata Yoriko. “tapi jika kau membenci buku ini, itu berarti, buku ini menyampaikan suatu kebenaran untukmu...”

“kebenaran apa?” Shou memberikan Yoriko tatapan tajam.

“entahlah. Hanya kau yang tahu.” Yoriko membuka halaman buku itu dengan cepat. Dia menemukan pembatas buku di tengah-tengah, tepat di adegan dimana Miriam dan Artemis sedang berdebat. Mereka adalah dua buah mawar dari tanaman berkepala dua setelah dua buah mawar dengan sifat-sifat mereka yang bertolak belakang ditanam di dalam satu pot. Seiring waktu, akar-akar mereka tidak bisa saling mengait dan tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka terus menerus berdebat.

Artemis adalah bunga mawar yang sombong. Dia tidak mau dipanggil nama lain selain Artemis. Artemis adalah nama dewi berburu dari mitologi Yunani yang selalu dipuja orang-orang. Artemis selalu menyombongkan dirinya, menginginkan semua tanaman lain memujanya. Dia merasa dirinya dewi, bukan mawar biasa seperti Miriam dan lainnya. Dan Miriam ada disana untuk mengingatkan Artemis tanpa merasa lelah.

“kurasa kau sangat tersinggung setelah membaca adegan Artemis dan Miriam berdebat. Artemis sangat mirip denganmu...” komentar Yoriko. “merasa dirinya sempurna, atau terlihat sempurna. Tapi di balik semua itu... dia hanyalah mawar biasa. Artemis adalah dewi yang hanya dipuja disaat-saat tertentu. Saat orang-orang yang memujanya pergi, dia bukanlah apa-apa. Kesepian di balik lekuk kesempurnaan patungnya, tidak ada satu pun yang peduli meskipun dia kehujanan dan diterpa badai sekalipun.”

“dan kau sekarang merasa kau adalah Miriam?” sindir Shou tersinggung.

“tidak. Aku adalah aku. Aku tidak membutuhkan sosok orang lain untuk menggambarkan diriku sendiri. Kau hanya kebetulan saja membaca buku ini disaat yang ‘tepat’” Yoriko menutup buku itu dan mengopernya ke Shou. “kau belum selesai membaca bukunya, bukan? Aku sangat sarankan kau menyelesaikannya supaya mengerti apa yang kumaksud...”

“Shou, jangan pedulikan perkataan Yang Lain...  kau tidak akan pernah mendapatkan jawaban atas kegalauanmu...” Yoriko tersenyum penuh arti.

“kau tidak tahu apa-apa...” Shou menggeram pelan. “kau tidak berhak menceramahiku...”

“memang. Tapi kau memintaku untuk duduk disini daripada mengusirku. Kau ingin aku melakukan apa? Diam seperti patung, menganggap aku hanyalah pajangan? Itu sama saja dengan sendirian”

“apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?” volume suara Shou meninggi. Tapi Yoriko sama sekali tidak takut. Wanita itu malah meneguk cokelat hangatnya dengan tenang. Dia mengambil sekeping kue dari piring kecilnya lalu menawarkan sisanya ke Shou.

“kau mau?” Yoriko benar-benar terlihat polos dan tidak merasa bersalah.

“tidak. Kau saja...” Shou mengibaskan tangannya agar Yoriko menjauhkan piring itu dari wajahnya.

“baiklah. Cookies ini enak sekali, lho...” Yoriko menggigit cookies miliknya.

“ah, sudahlah!” Shou menggeram kesal. Dia berdiri dan menghardik Yoriko sampai beberapa pasang mata memandang ke arah mereka. untung saja mereka tidak mengenali Shou yang terkenal jadi mereka hanya bersikap biasa saja. “aku pergi dari sini”

Shou melangkahkan kakinya keluar dari kedai diiringi tatapan tenang Yoriko. Begitu di luar, Shou mengancingkan jaketnya karena hawa dingin merasuki tubuhnya. Dengan kesal dia berjalan di trotoar sendirian.

Saat dia berjalan, dia merasakan rasa kesepian itu lagi. Sial, tahu begini lebih baik dia tetap disana saja bersama Yoriko. Gadis itu memang menyebalkan dan kata-katanya tidak pernah membuat Shou senang walaupun dia tidak pernah bermaksud menghina Shou. Tapi di balik kata-kata yang terdengar tidak menyenangkan itu, ada sesuatu di baliknya yang membuat Shou merasa tenang.

Seakan Yoriko bisa mengerti perasaan sebenarnya.

*** 

Sementara itu, di kedai, Yoriko tertunduk lesu. Lagi-lagi dia sudah mengacaukan semuanya. Sekali lagi Shou menganggapnya menyebalkan. Pria itu pasti sangat membencinya dan sekarang mungkin dia tengah mengutuk Yoriko sambil berjalan menyusuri trotoar.

“tenang saja. dia pergi karena dia menganggapmu benar. Dia hanya memerlukan waktu untuk menyadarinya” Hitomu duduk di samping Yoriko. “aku akan menemanimu”

“huh, setidaknya kau tidak lebih menyebalkan daripada dia...” Yoriko tersenyum pasrah.

Hitomu mengambil sekeping cookies dari piring Yoriko. Dengan mulut penuh remahan kue, dia berkata, “hei, aku bisa melihatmu ingin membantu orang menyedihkan itu. kenapa tidak kau lakukan saja?”

“bagaimana caranya?”

“masa kau tidak tahu?”

Secara refleks, Yoriko melirik handphonenya di dalam saku gaun tidurnya. Oh Tuhan, Shou pasti tidak tahu kalau dia ditawari bekerja sebagai asisten Alice Nine. Karena kalau dia tahu, dia pasti akan lebih murka daripada tadi.

“mungkin dia akan membenci keberadaanmu. Tapi keempat temannya membutuhkanmu. Kau sendiri juga membutuhkan pekerjaan itu, kan?” Hitomu meyakinkan Yoriko.

Yoriko bergerak tidak sesuai dengan kemauannya saat dia mengambil handphonenya. Entah setan apa yang merasukinya sehingga dia bisa mengetik e-mail itu untuk Tora.

Selamat malam, Tora-san

Kurasa aku tertarik pada pekerjaan yang kau tawarkan. Apakah tawaran itu masih berlaku?

Sambil menutup kedua matanya rapat-rapat karena tidak berani, Yoriko menekan tombol send. Setengah berharap semoga e-mail itu tidak terkirim dan setengah berharap juga semoga langkah yang dia ambil tidak salah.


Oh bumi, telanlah aku...

No comments:

Post a Comment