Monday, June 17, 2013

The Delusion (6)

6

Sudah sebulan berlalu sejak Yoriko tinggal di Jepang bersama Aya dan bekerja di petshop milik Avaron Yutaka. Kehadiran Aya Goto di kehidupan nyata Yoriko membuat hidup Yoriko terasa lebih baik dan berarti baginya. Seumur hidup Yoriko, tidak banyak orang yang benar-benar mau bersahabat dengan wanita berambut hitam legam itu karena mereka menganggapnya aneh.

Di panti asuhan dimana dia tumbuh besar, semua teman-teman menjauhinya tanpa sebab. Yoriko berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan. Diam dan menuruti apa kata mereka. Dia tidak bisa mendapatkan pakaian bagus dan benar-benar baru, makanannya hanya itu-itu saja, tempat tidurnya bahkan masih harus berbagi dengan anak-anak lain karena seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh sumbangan para dermawan dari gereja atau keluarga-keluarga kaya.

Dia tidak pernah pergi ke luar tembok panti asuhan kecuali ke sekolah. Membuat dirinya merasa semakin terkekang dan ingin keluar secepatnya dari sana jika sudah cukup umur. Dia tidak seperti teman-teman lainnya, bersikap manis dan sopan agar bisa mendapat perhatian dari para pengasuh dan pasangan-pasangan mampu yang ingin mengadopsi anak. Dia berpikir kalau seandainya dia diadopsi, maka hidupnya tidak akan jauh berbeda dari hidupnya di panti asuhan.

Setelah ia mendapat apa yang ia inginkan, pergi sejauh-jauhnya dari tempat yang sudah menekannya juga untuk mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, takdir malah membawanya kembali ke tempat ia bermula. Namun takdir kali ini sedikit berbaik hati padanya karena dia sudah mendatangkan Aya. Sifat ceria, ramah, dan penyayang dari Aya meluluhkan hati Yoriko. Yoriko sampai menangis bahagia sebelum ia tidur saat dia berdoa menyampaikan rasa syukurnya pada Tuhan beberapa malam lalu. Dan ia berjanji akan mengasihi, menjaga, dan menghargai sahabatnya semampunya, selama sisa hidupnya.

Pada hari Minggu cerah ini, seperti biasanya, Yoriko dan Aya bersiap-siap berangkat menuju petshop. Mereka sedang menikmati sarapan roti selai cokelat dan susu di kotatsu yang tidak dinyalakan. Namun Yoriko mempunyai rencana lain sebelum pergi ke tempat kerjanya. Yaitu pergi ke gereja. Dia mendaftar sebagai jemaat di sebuah gereja di daerah Shibuya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari petshop.

Sebenarnya menurut Aya normal-normal saja seorang Jepang seperti Yoriko pergi ke gereja setiap minggu. Itu menandakan Yoriko adalah umat agama yang taat. Aya selalu merasa kagum pada siapapun yang selalu taat pada ajaran agama yang dianut mereka, apapun agamanya. Hidup di negara yang bisa membuat penduduknya stress kapan saja, siraman rohani dari khotbah atau hanya sekedar membaca kitab suci, itu sudah membuat tenang dan lebih sabar menjalani hidup. Tapi Aya yakin diantara seluruh jemaat gereja, penampilan Yoriko pasti akan terlihat paling mencolok. Mungkin karena Yoriko berdoa paling khusyuk atau karena pakaian yang dia kenakan.

Yoriko selalu pergi ke gereja memakai pakaian hitam. Terkadang pakaian hitam itu dipadu dengan warna lain yang tidak kalah misteriusnya seperti merah atau biru tua. Seperti sekarang, dia memakai dress hitam berleher tinggi dan berlengan panjang dengan kalung salib emas imitasi. Dia menambahkan legging panjang dan sepatu platform heels bersol tebal favoritnya. Di sebelah piring sarapannya, ada tas tangan yang cukup besar. Selain berisi dompet, handphone, parfum, dan kamera DSLRnya, ada rosario dan Alkitab kecil sebagai alat ‘wajib’nya untuk mengikuti misa pagi ini di gereja.

“setelah misa, kau akan langsung ke petshop?” tanya Aya. Dia mengambil botol susu dari tengah meja lalu menuang isinya ke dalam gelas kosong miliknya.

“tidak tahu. mungkin aku akan mencari pekerjaan juga...” jawab Yoriko. “siapa tahu aku bisa menemukan toko atau restoran yang memasang pengumuman kalau mereka sedang mencari karyawan baru.”

“eh? Kau ingin mencari pekerjaan lagi?” Aya kaget dengan pemikiran Yoriko.

“ya. Tapi bukan berarti aku akan berhenti bekerja di petshop. Aku mencari pekerjaan lagi karena kurasa aku harus mempunyai uang ekstra untuk membiayai sewa apartemen yang akan kusewa nanti dan biaya lainnya.” Yoriko menjelaskan.

“tapi, Yoriko...” Aya khawatir. “kau tidak takut capek? Maksudku, mengerjakan 2 pekerjaan pasti akan sangat melelahkan.”

“tenang saja. aku sudah biasa melakukan ini saat masih di luar negeri.” Yoriko meyakinkan Aya. “aku akan baik-baik saja.”

“aku ragu, Yoriko. Minggu lalu saja kau sempat izin pulang lebih cepat dari petshop karena kepalamu sakit...” Aya memberikan bukti situasinya.

Oh, sakit kepala itu. Yoriko ingat. Sakit kepala yang kadang terasa sangat menyiksa sampai Yoriko harus izin pulang lebih cepat dari petshop. Sebenarnya sakit kepala itu sudah biasa bagi Yoriko. Dia sudah mempunyai penyakit kambuhan itu sejak ia masih kecil. Mungkin karena kelelahan atau terlalu banyak menahan emosi sehingga dia mendapatkan rasa pusing itu. Cara menyembuhkannya juga mudah, dia hanya perlu berbaring dan tidur selama beberapa jam.

“itu karena malam sebelumnya aku begadang, Aya...” Yoriko memberikan alasan logis. “aku tidak apa-apa. Setelah itu aku tidak merasa pusing lagi, bukan?”

“memang... tapi...” Aya masih belum bisa merelakan Yoriko untuk mempunyai 2 pekerjaan. Namun karena itu adalah pilihan Yoriko, akhirnya Aya mengizinkan dengan satu syarat, “pokoknya jangan sampai pekerjaan itu membuatmu pulang larut malam atau terlalu membuatmu lelah.”

“tenang saja, Aya. Aku tahu itu, kok...” Yoriko tersenyum. Roti selai cokelatnya yang Yoriko makan sudah habis dan ia berdiri, mengambil tasnya. “sudah ya, Aya. Aku berangkat dulu.” Yoriko pamit.

“hati-hati, Yoriko!” seru Aya sebelum Yoriko keluar dari apartemen.

*** 

Begitu Yoriko keluar dari apartemen, dia berjumpa dengan beberapa tetangga di sekitar apartemennya dan Aya. Dari seorang pria bujangan yang menikmati hidupnya sebagai karyawan biasa, sepasang suami istri tua yang belum dikaruniai anak, sampai sebuah keluarga kecil yang mempunyai beberapa orang anak. ada yang membersihkan depan apartemen, ada juga yang baru pulang dari berbelanja di supermarket, beberapa anak kecil keluar dari apartemen dengan riangnya untuk bermain. Mereka menyapa Yoriko dan menanyakan kemana Yoriko pergi. Dengan sama cerianya, Yoriko menjawab dia akan pergi ke gereja lalu bekerja. Mereka sedikit kecewa karena tidak bisa mengajak Yoriko bermain bersama. Walaupun usia Yoriko jauh lebih tua dari mereka, sikap Yoriko terkadang masih kekanakan dan ia memiliki daya tarik tertentu yang membuat anak-anak kecil itu percaya Yoriko tidak akan mengecewakan mereka dan dunia mereka.

Yoriko menatap anak-anak kecil itu berlari dan berkejaran di depannya. Dia ikut tersenyum ketika melihat anak-anak itu tertawa riang tanpa beban. Dari apa yang Yoriko dengar, mereka berencana akan bermain di taman belakang apartemen. Bermain sepeda.

Karena apa yang dilihatnya sekarang merupakan salah satu bagian terindah dari kehidupan, Yoriko mengambil kamera DSLR-nya dan mengambil foto mereka yang terdiri dari 2 gadis kecil dan 3 anak lelaki secara diam-diam.

Dia berjalan dengan riang melalui trotoar pinggir jalan yang akan membawanya menuju halte bis. Dia menikmati setiap ketukan suara yang dihasilkan oleh sepatu platform tebalnya saat dia berjalan. Dia memberikan sebuah senyum kepada siapapun yang berpapasan dengannya di jalan. Dia mengalungkan kameranya di leher dalam keadaan menyala, agar dia bisa langsung mengabadikan keindahan dunia yang tidak sengaja ia tangkap. Dia sudah mendapatkan foto seorang anak kecil lucu yang digandeng ibunya, seorang gadis remaja yang membantu lelaki tua menyebrangi jalan padahal gadis itu sama sekali tidak mengenal kakek itu, dan mungkin foto yang ia tangkap ini akan dianggap aneh dan tidak bermakna bagi orang lain, tapi bagi Yoriko foto ini sangat dalam artinya. Foto lautan manusia yang seakan tidak ada habisnya sewaktu dia menyebrangi jalan. Dia menyebrang bersama ribuan orang lainnya yang ingin menikmati suasana Minggu yang cerah ini.

Yoriko membayangkan dirinya sedang berada di tengah-tengah lautan yang memiliki banyak sekali ikan yang memiliki berbagai corak dan ukuran menghiasi samudra luas itu. Yoriko sendiri sedang berjalan di atas air. Cara berjalannya bagaikan berjalan di atas kaca bening dan bersih. Bersemangat tapi juga anggun agar tidak merusak keindahan kaca itu. Tujuannya adalah sebuah pulau yang tidak berpenghuni dimana satu-satunya bangunan yang ada hanyalah gereja yang menjadi akhir tujuannya nanti.

Gedung-gedung tinggi yang menghalangi cahaya matahari Yoriko anggap sebagai awan mendung yang ingin membawa hujan deras ke lautan, membuat Yoriko semakin bersemangat berjalan, merasa dia harus tiba di gereja itu sebelum hujan deras melanda lautan yang tidak berujung ini. Angin dingin yang berhembus dan menerpa tubuhnya dia anggap sebagai angin hangat dari lautan tropis seperti yang pernah ia rasakan sewaktu ia ke pantai-pantai di Indonesia.

Sayangnya semua bayang-bayang indahnya itu terhenti ketika seorang pria galak berseru di belakangnya, “hei! Lekas naik sebelum bisnya pergi!”

Saat itu Yoriko langsung menyadari dirinya sedang berada di halte bis, dan bis yang diinginkannya sudah datang untuk membawanya ke gereja.

*** 

Hari Minggu ini bukanlah hari istimewa bagi Shou. Tapi dia tetap pergi keluar dari rumah. Meskipun dia seorang pria dingin seperti es dan kelihatan seperti tidak punya hati, dia tetap merasa kesepian di apartemen. Chirori masih tertidur pulas di atas kasur kecil di ruang TV. Shou tidak lupa menaruh piring berisi beberapa potong ikan salmon segar di depan makhluk lucu itu sebelum ia pergi.

Selama perjalanannya menuju ke basement dimana mobilnya terparkir, dia memikirkan apa saja yang telah ia lakukan selama satu bulan ini. Hal baru apa yang telah ia dapatkan, kemajuan apa yang telah ia capai bersama keempat teman bandnya di dunia musik, apakah masih ada yang harus diperbaiki atau tidak.

Saat memikirkan itu dia teringat apa saja yang dilakukan Alice Nine saat mereka berkumpul. Biasanya mereka hanya membicarakan musik, mencari inspirasi lagu dan penampilan, saling memberi masukan untuk setiap alat-alat musik, atau hanya bercanda saja sambil bermain game dan mendengarkan musik sekaligus mengedit lagu-lagu buatan mereka sendiri di komputer. Tapi sebulan ini, pembicaraan keempat temannya sedikit melenceng dari semua itu.

Tora sudah seperti pembawa gosip hangat untuk dibicarakan bersama lainnya. Pria bertubuh tinggi besar itu membicarakan Yoriko Ishihara, gadis yang bekerja di petshop milik Avaron. Tora menganggap wanita itu menarik karena perjalanan hidupnya yang menarik dan auranya yang lucu.

Mendengar deskripsi tentang Yoriko, Nao langsung beranggapan bahwa gadis itu sosoknya pasti mirip Sunako Nakahara, tokoh anime Wallflowers yang berkisah tentang seorang gadis yang menyukai apapun yang berbau sadis, menyeramkan, tapi sangat pemalu.

Sedangkan Hiroto dan Saga beranggapan lain. Mereka mengomentari sikap Yoriko yang bisa mengeluarkan sisi pemarah Shou. Tidak ada orang lain termasuk keempat sahabat Shou yang mampu mengeluarkan itu. kedua orang itu berpikir Yoriko mungkin memang mempunyai aura tertentu yang bisa menarik sisi ‘manusia’ Shou ke permukaan.

Dan setelah pembicaraan mereka tentang wanita unik itu selesai, mereka pasti akan merengek-rengek pada Shou supaya dia mau mengenalkan mereka kepada wanita itu. tentu saja Shou menolak. Di depan mereka Shou berkata dia tidak ingin bertemu wanita menyusahkan itu lagi. Tapi di belakang mereka, justru sebaliknya. Dia hanya belum menemukan alasan bagus kenapa dia harus bertemu Yoriko.

Sejak pertengkaran mereka di petshop sebulan lalu, Shou tidak bertemu dengan Yoriko lagi. Shou kembali tenggelam di dunia musiknya, menciptakan kreasi dan variasi di setiap musiknya, menulis lirik di atas kertas-kertas yang pada akhirnya akan dibuang oleh Shou ke tempat sampah karena merasa lirik-lirik itu tidak memiliki makna.

Dia berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari stressnya dan dari bayang-bayang Yoriko. Ya, masih ada dia. Dia yang selalu mengisi kehidupan Shou walaupun wanita itu kini tidak pernah ada untuknya. Bayang-bayangnya yang mengiringi Shou ke dunia mimpi setiap malam. Sosok wanita yang ia gunakan untuk menukar sosok Yoriko yang mulai menghantui pikirannya.

Dan ia ingin bertemu wanita itu sekarang juga.

Shou mengemudikan mobilnya dari kepadatan lalu lintas Tokyo menuju sebuah daerah perumahan yang tidak asing lagi. Semakin dia masuk ke daerah itu, suasananya semakin terasa tenang. Dia memarkir mobilnya di depan jalan masuk menuju daerah perumahan. Saat ia turun, dengan mantap ia melangkahkan kakinya ke suatu tempat yang ia yakini adalah tempat keberadaan wanita itu di jam seperti sekarang.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuannya. Sebuah taman perumahan yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu sering dikunjungi orang. Tapi taman ini cukup indah. Shou bisa melihat rerumputan taman mulai menghijau, daun-daun dari pohon-pohon mulai tumbuh, bunga-bunga liar di sudut taman juga berlomba-lomba untuk mengeluarkan kuncup mereka, demi menyambut musim semi.

Pengunjung taman pagi ini tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa anak bermain ayunan di sisi kiri taman. Ada juga sesosok kakek tua duduk di bangku depan ayunan itu, sesekali tertawa ketika melihat kelucuan dan kepolosan dari anak-anak yang bermain. Tidak jauh dari mereka, ada seorang pemuda sedang bermain bersama anjingnya.

Lalu disanalah ia melihat wanita itu. di sisi kanan taman, sedang duduk di bangku kayu dengan anggunnya. Dia memakai blus berwarna pink cerah dipadu rok santai sebetis warna putih. Penampilannya yang sederhana tapi cantik itu dihiasi oleh topi lebar di kepalanya dan sepasang sepatu sandal bermotif bunga.

Avaron... bisik Shou saat mengagumi wanita itu dari jauh. Avaron sedang bersama Yukio. Setiap hari Minggu adalah hari dimana Avaron mengajak Yukio jalan-jalan ke taman ini. menikmati udara segar dan sinar matahari hangat. Avaron mengamati putranya sedang berlarian tidak jauh dari tempatnya duduk. Karena keasyikan, Yukio sampai jatuh di atas rumput. Namun itu tidak membuat Yukio menangis. Dia malah berguling-guling sambil tertawa lepas. Kaos dan celana monyetnya terpaksa menjadi kotor dikarenakan ulah lucu balita imut itu.

Avaron sekilas menangkap sosok Shou dari tempatnya duduk. Dia melambaikan tangannya ke arah Shou sambil melemparkan senyuman kepadanya. Shou membalas senyuman itu dengan canggung. Kemudian dia mendekati Avaron dan ikut duduk di sebelahnya.

“hei... tidak biasanya kau datang ke taman pagi-pagi seperti sekarang... apa kau tidak sibuk?” sapa Avaron.

“tidak. Aku sedang tidak sibuk.” Jawab Shou biasa saja.

“lalu, kenapa kau datang kemari?” pandangan mata Avaron mencari jawaban ke dalam mata Shou. Sayangnya, yang didapat Avaron hanyalah kebingungan. Shou sama sekali tidak bisa memberikan alasan sebenarnya. Dia sadar, tidak benar rasanya jika ia memberitahukannya. Avaron sudah menjadi milik orang lain, Shou berkali-kali memeringatkan dirinya sendiri akan itu.

“tidak usah dijawab, Shou. Yang terpenting adalah aku senang kau datang. Rasanya seperti melihat bunga sakura mekar lebih awal dari waktu yang seharusnya.” Canda Avaron.

“memangnya aku terlihat seperti bunga sakura di matamu?” selera humor Shou yang sudah menguap entah kemana malah membuat Avaron tertawa geli.

“memang tidak. Sakura berwarna merah muda, kau seperti kotoran...” sudah lama Avaron tidak menyebutnya dengan panggilan itu. Shou sampai tidak ingin menghilangkan warna cokelat di rambutnya karena dia ingin Avaron kembali memanggilnya seperti itu.

“kau menyukai bunga sakura, ya kan?” tanya Avaron. “aku selalu tahu kaulah yang paling bersemangat ketika teman-temanmu mengajak hanami bersama. Walaupun kau yang paling dingin di antara mereka, aku tahu itu.”

“aku tidak tahu tahun ini aku bisa menikmati hanami atau tidak. Aku sibuk...” kata Shou berusaha serealistis mungkin agar ia tidak berharap dia bisa menikmati acara kesukaannya bersama wanita yang tidak akan pernah ia dapatkan.

“aku tahu. Tapi kau pasti akan datang.” Avaron yakin. “karena kalau kau tidak datang, teman-temanmu pasti akan menggeretmu kesana.”

Saat Shou ingin membalas ucapan Avaron, Yukio datang ke hadapan mereka. anak itu mencari perhatian Avaron dengan meminta kue. Avaron mengangkat Yukio ke pangkuannya lalu mengambil sebuah kue cokelat dari dalam keranjang di sisi lain Avaron.

“sebelum kau memakan kuenya, ayo, beri salam dulu ke Shou Ojisan.” Avaron mengangkat tangan putranya ke Shou.

“ohayou, Shou Ojisan...” kata Yukio pelan. Shou menggenggam tangan mungil itu dengan lembut dan membalas sapaan Yukio. Setelah itu, Yukio langsung mengambil kue yang dijanjikan Avaron dan memakannya di pangkuan ibunya.

“dia mirip ayahnya...” Avaron tersenyum sendiri sambil membelai rambut Yukio. “kau bisa melihatnya, kan?”

Sedikit terpaksa Shou memerhatikan Yukio. Memang benar, Yukio hampir merefleksikan diri ayahnya. Bisa jadi Yukio mewarisi tingkah laku ibunya saat dia tadi melihat bagaimana aktifnya Yukio bermain. Juga sifat ceria, tidak pernah merasa capek, dan bagaimana cara Yukio mencari perhatian adalah daya tarik balita itu yang didapatkan dari ibunya.

Ya, benar-benar mirip ibunya... kata Shou dalam hati.

“jika dia mengikuti jejak kalian, kurasa dia akan seperti Kai atau dirimu.” Ujar Avaron sambil membayangkan. Ujaran Avaron membuat Shou kembali merasa cemburu, walaupun dia tidak mengakuinya, tapi dia sadar kalau dia tidak suka dibandingkan oleh orang yang dia cintai.

“lebih baik dia tidak usah sepertiku.” Kata Shou spontan namun benar-benar dari lubuk hatinya yang terdalam.

“kenapa?” Avaron heran. “Shou yang kukenal pasti akan membanggakan dirinya selama satu jam penuh sampai aku bosan.”

“kau tidak tahu rasanya berada di panggung dan...” Shou membutuhkan waktu untuk meneruskan. “berpura-pura baik-baik saja di depan orang banyak.”

“aku memang tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi aku tahu betul rasanya berpura-pura baik-baik saja di depan orang banyak.” Kata Avaron. “dan karena perasaan itulah kau bisa menjadi sahabatku 4 tahun lalu.”

Shou terdiam. Seandainya saja dia bisa jujur pasti dia tidak akan kelihatan serumit ini di depan wanita ini.

“apa yang ingin kusampaikan adalah, kenapa kau tidak nikmati saja? kau tahu, saat bibirmu cemberut, dahimu mengerut, dan kau terlalu sibuk memikirkan duniamu sendiri, kau sudah melewatkan hal-hal luar biasa. Kau sudah mempunyai teman-teman terbaikmu, pekerjaan bagus, pengagum yang banyak, dan dunia yang kuyakin pasti diinginkan oleh jutaan penduduk Tokyo lainnya. Apa yang salah dengan itu?”

Shou masih diam saja.

“apa kau lupa kalau aku selalu ada di belakangmu?” Avaron mengingatkannya.

Aku tidak ingin kau berada di belakangku. Aku ingin kau berada di sampingku, di sisiku. Jerit Shou di dalam hatinya.

“tidak, Avaron, aku tidak akan pernah lupa.” Shou mencoba tersenyum tegar. “mungkin tujuan sebenarnya aku datang kemari adalah karena aku ingin mendengarmu mengatakan itu.”

“kalau aku masih boleh mengingatkanmu lagi, aku masih punya satu hal yang harus kuingatkan padamu. Aku harap kau tidak akan melewatkannya lagi.” Avaron memberikan senyuman misteriusnya.

“apa?” tanya Shou penasaran.

“Yoriko. Aku mendapat e-mail dari Tora-kun seminggu lalu. Dia mengatakan sesuatu antara kau dengan Yoriko. Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?” Avaron mengangkat alisnya dan matanya mengerling jahil.

“Yoriko?” Shou bingung. Kenapa Avaron harus menyebut nama wanita itu? “ada apa dengannya?”

“jangan berpura-pura tidak tahu, Shou. Aku tahu tatapan itu.” Avaron menganggap kebingungan di wajah Shou adalah pura-pura. “kau menyukainya. Ya kan?”

“tidak. Aku tidak menyukainya. Kenapa kau bilang begitu?” Shou mengelak.

“aku tidak akan mendesakmu, Shou, tenang saja. Hanya informasi, dia adalah salah satu yang tidak boleh kau lepaskan dari hidupmu.” Avaron berdiri dan menggendong Yukio. “karena menurutku, kalau kau melepaskannya, segalanya di dalam hidupmu mungkin tidak ada artinya.”

“oke, sekarang aku harus mendesakmu kenapa kau berkata seperti itu?” Shou kesal karena sikap misterius Avaron kembali muncul.

“dia gadis baik, Shou. Apa itu masih kurang untukmu?” jawab Avaron. “sedangkan sisanya mungkin tidak akan kau mengerti jawabannya.”

“kenapa?”

“mungkin karena... kau belum mengizinkannya masuk ke duniamu?” Avaron berpura-pura berpikir. “aku harus pergi, Shou. Aya pasti menungguku di petshop sendirian.”

“kenapa sendirian? Bukankah dia sudah ditemani si Yoriko itu?” Shou tidak ingin Avaron pergi dulu sebelum dia mendapatkan jawaban yang memuaskan dari wanita itu.

“Yoriko pergi ke gereja hari ini. dia tidak akan kembali sampai siang nanti. Jadi aku harus membantu Aya.” Avaron menaruh Yukio di dalam kereta bayi di sebelah bangku tempat mereka duduk lalu mendorongnya menjauh dari Shou.

“apa? Gereja?” Shou bingung kenapa tiba-tiba Avaron menyebutkan tempat ibadah untuk agama Kristen tersebut. Dia baru tahu Yoriko menganut agama itu.

“sudah ya, Shou. Sampai nanti...” Avaron berpamitan tanpa mengindahkan pertanyaan Shou.

 ***

Yoriko turun dari bis di halte tidak jauh dari petshop pada pukul 12 siang. Sambil terus membawa tas di tangan dan Alkitabnya di dekapan dadanya, Yoriko berjalan melalui trotoar untuk sampai ke tempat tujuannya.

Saat dia sudah mendekati petshop, dia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Dan sosok Tora terlihat di antara kerumunan orang-orang di trotoar saat ia menoleh. Tora sedang berjalan sedikit cepat agar dia bisa mendekati Yoriko.

“hei...” Tora tersenyum pada Yoriko walaupun nafasnya terengah-engah karena dia tadi berlari saat melihat Yoriko berada tidak jauh saat dia memarkirkan mobilnya di ujung trotoar. “kau pasti ingin ke petshop, kan? Keberatan kalau kita berjalan bersama kesana?”

“tentu saja tidak.” Yoriko membalas senyuman Tora. “kenapa kau ingin ke petshop, Tora-kun?”

“yah, aku hanya bosan di rumah. Kupikir kalau aku melihat binatang-binatang lucu milik kalian aku tidak akan merasa bosan lagi.” Jawab Tora terkekeh. “kau dari mana? Tidak biasanya kau datang siang.”

“aku dari gereja.” Jawab Yoriko.

“dari gereja? Waw, aku baru tahu kau seorang Kristen, Yoriko-chan.” Tora agak kaget mendengarnya.

“Katolik lebih tepatnya. Aku dibaptis saat aku masih di Paris. Aku merasa lebih tenang dan lebih baik saat aku bisa menyampaikan keluh kesahku kepada Tuhan dan membaca ayat-ayatNya...” Yoriko menjelaskan kenapa dia menganut agama itu.

“tidak heran setiap kali aku bertemu denganmu tanda salib itu selalu setia melekat di lehermu...” Tora menunjuk kalung salib di leher Yoriko. “kau sangat religius, ya?”

“hmm... mungkin? Kalau soal itu hanya Tuhan yang bisa menjawab.” Yoriko tersenyum lagi. Nanar matanya memperlihatkan ketulusannya sebagai penganut agama yang baik.

Sesampainya mereka di petshop, mereka disambut oleh Avaron dari balik meja kasir. “akhirnya kau datang juga, Yoriko. Sebaiknya kau cepat-cepat bantu Aya sekarang.”

Yoriko langsung paham situasinya ketika melihat petshop sedang dipenuhi pengunjung dan peliharaan yang mereka bawa. Dia pamit pada Tora sebelum dia melesat ke belakang untuk siap-siap bekerja.

“hei, Tora-kun. Selamat datang. Kau ingin membeli sesuatu?” sapa Avaron.

Tora bersandar di meja kasir dan menunjuk Yoriko yang berada di bagian belakang petshop dengan matanya. “kalau aku menginginkan sesuatu aku pasti akan langsung meminta padanya.”

Avaron menghela nafas sambil tertawa geli. “jadi lagi-lagi kau hanya kemari tanpa membeli apapun, Tora-kun?”

“tadinya aku ingin menikmati kelucuan-kelucuan para binatang peliharaan kalian, tapi rasanya tidak akan bisa...” Tora memandang beberapa orang yang terus membuat Aya dan Yoriko sibuk dengan apa yang akan mereka beli.

“tenang saja. mereka tidak akan membuat Aya dan Yoriko sibuk terlalu lama. Mereka berdua akan menemanimu bermain bersama Boo dan Alen.” Kata Avaron.

“Boo dan Alen... nama yang unik...” Tora berkomentar. “siapa yang memberimu ide nama itu?”

“oh, Boo merupakan sumbangan nama dari Ruki-kun, sedangkan Alen nama pemberian Yoriko... keren, kan?”

“hoo...” Tora mengangguk pelan. “bagaimana kabarmu dan Kai? Juga bayimu....”

“Kai menjaga Yukio di rumah hari ini. dia tahu aku pasti selalu sibuk tiap hari Minggu. Makanya dia sengaja tidak pergi ke studio atau sibuk dengan bandnya.”

“sepertinya kalian rukun-rukun saja, ya...” Tora senang mengetahui kehidupan rumah tangga temannya baik-baik saja.

“ya... dan tahu tidak...” Yoriko mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Tora agar kata-kata yang akan dia ucapkan hanya bisa didengar oleh pria berambut hitam itu. “Yukio menginginkan seorang adik...”

“waw...” Tora tiba-tiba bersemangat. “Kai pasti langsung menyambut permintaan Yukio dengan gembira.”

Yoriko memutar matanya. “tentu saja...”

“hahahaha! Kalian memang benar-benar rukun!” Tora berseru riang. “kalau begitu, kabari aku jika Yukio sedang menunggu adiknya selama 9 bulan.”

“oh ya, tadi pagi, saat aku bermain di taman dekat rumah bersama Yukio, aku bertemu Shou.” Avaron menceritakan kejadian tadi pagi.

“hee? Ternyata orang itu bisa juga merangkak keluar dari apartemennya kecuali untuk bekerja...” Tora sedikit terkejut. “apa yang dia lakukan disana?”

Avaron mengangkat bahu. “entahlah... aku melihatnya di depan taman lalu aku menyapanya, kemudian dia duduk di sebelahku dan kami mengobrol...”

“apa dia terlihat dan terdengar seperti zombi?” tanya Tora dengan nada tidak percaya.

“tidak. Dia terlihat normal...” Avaron membalas candaan Tora sedikit serius. “kami membicarakan... dirinya.”

“maksudnya?”

“kita semua tahu selama 4 tahun ini ada sesuatu yang salah di dalam diri Shou. Dan kita tidak tahu alasannya...” Avaron menjelaskan. “intinya adalah, aku merasa dia sedang memerhatikan Yoriko, sadar atau tidak sadar...”

“dia pasti kesal karena aku dan yang lain sering mendesaknya untuk membawa Yoriko ke kami. Dia tidak pernah suka jika kami menyebut namanya.” Kata Tora. “lagipula dia dan Yoriko tidak bertemu lagi selama sebulan ini. kurasa dia pasti ‘merindukan’ Yoriko...”

“jadi kau juga berpikiran sama denganku?”

“Avaron, aku selalu tahu gelagatnya bila dia sedang menyukai seseorang. Seperti anak kecil.” Kata Tora bangga. “hanya saja, mungkin kita harus sedikit membantu mereka berdua biar mereka bisa saling mendekatkan diri.”

“hmm...” Avaron berpikir sejenak. “kurasa aku tahu jawabannya...” Avaron menyeringai jahil. Kemudian dia memanggil Yoriko.

“ya, ada apa, Avaron-san?” tanya Yoriko setelah ia sampai di depannya. Avaron melihat ke arah kerumunan pengunjung. Sudah tidak seramai sebelum ia tadi mengobrol dengan Tora.

“kudengar dari Aya kau sedang mencari pekerjaan kedua, benar begitu?” tanya Avaron.

“ya, anda benar. Memangnya kenapa?” Yoriko mengerutkan dahinya.

“Tora, apa kau kekurangan orang untuk membantu kalian di kegiatan band?” Avaron memberikan isyarat yang tidak Yoriko mengerti kepada Tora yang masih penasaran oleh apa yang akan Avaron lakukan.

Setelah dia mendengar pertanyaan Avaron, Tora langsung mengerti apa yang Avaron maksud. “tunggu sebentar... kurasa ada. Kami sedang kekurangan asisten untuk band. Apa kau mau mengisi lowongan itu?”

Yoriko tidak mengerti. “apa? Asisten band? Maksudnya? Tapi, Tora-san, aku tidak bisa memainkan gitar atau alat musik lainnya yang kalian mainkan...”

“bukan begitu. Apa yang akan kau kerjakan sedikit lebih pribadi daripada asisten lainnya.” Tora memberikan petunjuk. Tapi Yoriko masih belum mengerti.

“kau akan membantu kami untuk urusan pribadi seperti menyiapkan makanan, membawakan barang-barang, semacamnya. Mungkin kau akan sangat capek saat awal bekerja. Tapi aku jamin gajimu akan sepadan dengan itu.”

“oh...” Yoriko masih ragu-ragu. “akan kupikirkan, tapi...”

“kenapa, Yoriko? Kurasa gaji menjadi asisten bisa membantumu membayar sewa apartemen dan kebutuhanmu yang lain. Kurasa kau akan rugi jika kau menolak.” Avaron meyakinkan Yoriko.

“maksudku, apa yang lain akan setuju? Kau tahulah, seperti Shou dan teman-teman bandmu.” Yoriko menjelaskan kebimbangannya.

“tenang saja, mereka pasti langsung setuju. Kalau soal Shou, biarkan saja. dia memang menyebalkan dari dulu. Anggap saja dia tidak ada kalau kau sedang bekerja.” Kata Tora cuek sambil mengibaskan tangannya.

“kenapa kau memintaku? Kurasa pasti banyak gadis lain yang lebih mampu mengerjakan pekerjaan itu daripada aku. Dan aku yakin mereka pasti lebih menginginkan pekerjaan itu dibanding aku.”

“mereka mungkin mampu dan lebih menginginkan pekerjaan itu. tapi kau lebih membutuhkan pekerjaan itu dibanding mereka. kau mengerti maksudku, kan?” jawab Tora. “tidak usah khawatir kau tidak bisa membagi pekerjaanmu di petshop ini. Kau bisa memulai pekerjaanmu pada siang atau sore hari. Biasanya kami baru mulai bekerja pada saat itu.”

“Yoriko, ambil saja pekerjaan itu. tidak ada ruginya, kok...” Avaron terus membujuk Yoriko. “aku mempunyai kenalan asisten bandnya Kai. Dia bilang padaku kalau gajinya menjadi asisten cukup besar.”

“ya, Yoriko! Ambil saja!” sahut Aya riang. Dia tiba-tiba bergabung begitu saja dengan mereka bertiga. “katamu kau sangat membutuhkan pekerjaan dalam waktu cepat. Sekarang ada yang menawarkanmu pekerjaan kenapa harus kau tolak?”

“tapi...” Yoriko tetap ragu. Dia berpikir, pekerjaan ini pasti mengharuskannya bertemu Shou Kohara setiap hari. Dia tidak tahu bagaimana jadinya kalau dia terus bertemu dengan orang yang menganggapnya tidak ada. Dan jika dia melihat Yoriko, orang itu pasti akan memandangnya seperti pecundang dan menganggap dia menyebalkan. Yoriko tidak sanggup kalau harus terus menerus mendapat perlakuan itu.

 “begini saja, aku paham kenapa kau ragu mengenai pekerjaan ini, Yoriko-chan.” Tora mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen yang tersedia di meja kasir. Dia mencatat alamat e-mail handphonenya. “tapi kalau kau berubah pikiran. Kau bisa menghubungiku atau langsung ke kantor manajemen kami. Katakan saja pada resepsionis kau mencariku.”

Yoriko menerima kertas bertuliskan alamat e-mail itu dan membacanya pelan-pelan. Meski dia tahu tidak ada gunanya dia terus membaca alamat e-mail itu, dia tetap melakukannya karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada pria ini.


“nah, sekarang aku ingin bermain bersama Boo dan Alen! Kalian mau menemaniku?” Tora mengajak Aya dan Yoriko tanpa merasa berdosa dan seolah apa yang mereka bicarakan barusan tidak pernah terjadi.

No comments:

Post a Comment