6
Sudah sebulan
berlalu sejak Yoriko tinggal di Jepang bersama Aya dan bekerja di petshop milik
Avaron Yutaka. Kehadiran Aya Goto di kehidupan nyata Yoriko membuat hidup
Yoriko terasa lebih baik dan berarti baginya. Seumur hidup Yoriko, tidak banyak
orang yang benar-benar mau bersahabat dengan wanita berambut hitam legam itu
karena mereka menganggapnya aneh.
Di panti
asuhan dimana dia tumbuh besar, semua teman-teman menjauhinya tanpa sebab.
Yoriko berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan. Diam dan menuruti apa
kata mereka. Dia tidak bisa mendapatkan pakaian bagus dan benar-benar baru,
makanannya hanya itu-itu saja, tempat tidurnya bahkan masih harus berbagi
dengan anak-anak lain karena seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh sumbangan
para dermawan dari gereja atau keluarga-keluarga kaya.
Dia tidak
pernah pergi ke luar tembok panti asuhan kecuali ke sekolah. Membuat dirinya
merasa semakin terkekang dan ingin keluar secepatnya dari sana jika sudah cukup
umur. Dia tidak seperti teman-teman lainnya, bersikap manis dan sopan agar bisa
mendapat perhatian dari para pengasuh dan pasangan-pasangan mampu yang ingin
mengadopsi anak. Dia berpikir kalau seandainya dia diadopsi, maka hidupnya
tidak akan jauh berbeda dari hidupnya di panti asuhan.
Setelah ia
mendapat apa yang ia inginkan, pergi sejauh-jauhnya dari tempat yang sudah
menekannya juga untuk mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, takdir malah
membawanya kembali ke tempat ia bermula. Namun takdir kali ini sedikit berbaik
hati padanya karena dia sudah mendatangkan Aya. Sifat ceria, ramah, dan
penyayang dari Aya meluluhkan hati Yoriko. Yoriko sampai menangis bahagia
sebelum ia tidur saat dia berdoa menyampaikan rasa syukurnya pada Tuhan
beberapa malam lalu. Dan ia berjanji akan mengasihi, menjaga, dan menghargai
sahabatnya semampunya, selama sisa hidupnya.
Pada hari
Minggu cerah ini, seperti biasanya, Yoriko dan Aya bersiap-siap berangkat
menuju petshop. Mereka sedang menikmati sarapan roti selai cokelat dan susu di
kotatsu yang tidak dinyalakan. Namun Yoriko mempunyai rencana lain sebelum
pergi ke tempat kerjanya. Yaitu pergi ke gereja. Dia mendaftar sebagai jemaat
di sebuah gereja di daerah Shibuya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari
petshop.
Sebenarnya
menurut Aya normal-normal saja seorang Jepang seperti Yoriko pergi ke gereja
setiap minggu. Itu menandakan Yoriko adalah umat agama yang taat. Aya selalu
merasa kagum pada siapapun yang selalu taat pada ajaran agama yang dianut
mereka, apapun agamanya. Hidup di negara yang bisa membuat penduduknya stress
kapan saja, siraman rohani dari khotbah atau hanya sekedar membaca kitab suci,
itu sudah membuat tenang dan lebih sabar menjalani hidup. Tapi Aya yakin
diantara seluruh jemaat gereja, penampilan Yoriko pasti akan terlihat paling
mencolok. Mungkin karena Yoriko berdoa paling khusyuk atau karena pakaian yang
dia kenakan.
Yoriko selalu
pergi ke gereja memakai pakaian hitam. Terkadang pakaian hitam itu dipadu
dengan warna lain yang tidak kalah misteriusnya seperti merah atau biru tua.
Seperti sekarang, dia memakai dress hitam berleher tinggi dan berlengan panjang
dengan kalung salib emas imitasi. Dia menambahkan legging panjang dan sepatu
platform heels bersol tebal favoritnya. Di sebelah piring sarapannya, ada tas
tangan yang cukup besar. Selain berisi dompet, handphone, parfum, dan kamera
DSLRnya, ada rosario dan Alkitab kecil sebagai alat ‘wajib’nya untuk mengikuti
misa pagi ini di gereja.
“setelah
misa, kau akan langsung ke petshop?” tanya Aya. Dia mengambil botol susu dari
tengah meja lalu menuang isinya ke dalam gelas kosong miliknya.
“tidak tahu.
mungkin aku akan mencari pekerjaan juga...” jawab Yoriko. “siapa tahu aku bisa
menemukan toko atau restoran yang memasang pengumuman kalau mereka sedang
mencari karyawan baru.”
“eh? Kau
ingin mencari pekerjaan lagi?” Aya kaget dengan pemikiran Yoriko.
“ya. Tapi
bukan berarti aku akan berhenti bekerja di petshop. Aku mencari pekerjaan lagi
karena kurasa aku harus mempunyai uang ekstra untuk membiayai sewa apartemen
yang akan kusewa nanti dan biaya lainnya.” Yoriko menjelaskan.
“tapi,
Yoriko...” Aya khawatir. “kau tidak takut capek? Maksudku, mengerjakan 2
pekerjaan pasti akan sangat melelahkan.”
“tenang saja.
aku sudah biasa melakukan ini saat masih di luar negeri.” Yoriko meyakinkan
Aya. “aku akan baik-baik saja.”
“aku ragu,
Yoriko. Minggu lalu saja kau sempat izin pulang lebih cepat dari petshop karena
kepalamu sakit...” Aya memberikan bukti situasinya.
Oh, sakit kepala itu. Yoriko ingat.
Sakit kepala yang kadang terasa sangat menyiksa sampai Yoriko harus izin pulang
lebih cepat dari petshop. Sebenarnya sakit kepala itu sudah biasa bagi Yoriko.
Dia sudah mempunyai penyakit kambuhan itu sejak ia masih kecil. Mungkin karena
kelelahan atau terlalu banyak menahan emosi sehingga dia mendapatkan rasa
pusing itu. Cara menyembuhkannya juga mudah, dia hanya perlu berbaring dan
tidur selama beberapa jam.
“itu karena
malam sebelumnya aku begadang, Aya...” Yoriko memberikan alasan logis. “aku
tidak apa-apa. Setelah itu aku tidak merasa pusing lagi, bukan?”
“memang...
tapi...” Aya masih belum bisa merelakan Yoriko untuk mempunyai 2 pekerjaan.
Namun karena itu adalah pilihan Yoriko, akhirnya Aya mengizinkan dengan satu
syarat, “pokoknya jangan sampai pekerjaan itu membuatmu pulang larut malam atau
terlalu membuatmu lelah.”
“tenang saja,
Aya. Aku tahu itu, kok...” Yoriko tersenyum. Roti selai cokelatnya yang Yoriko
makan sudah habis dan ia berdiri, mengambil tasnya. “sudah ya, Aya. Aku
berangkat dulu.” Yoriko pamit.
“hati-hati,
Yoriko!” seru Aya sebelum Yoriko keluar dari apartemen.
Begitu Yoriko
keluar dari apartemen, dia berjumpa dengan beberapa tetangga di sekitar
apartemennya dan Aya. Dari seorang pria bujangan yang menikmati hidupnya
sebagai karyawan biasa, sepasang suami istri tua yang belum dikaruniai anak,
sampai sebuah keluarga kecil yang mempunyai beberapa orang anak. ada yang
membersihkan depan apartemen, ada juga yang baru pulang dari berbelanja di
supermarket, beberapa anak kecil keluar dari apartemen dengan riangnya untuk
bermain. Mereka menyapa Yoriko dan menanyakan kemana Yoriko pergi. Dengan sama
cerianya, Yoriko menjawab dia akan pergi ke gereja lalu bekerja. Mereka sedikit
kecewa karena tidak bisa mengajak Yoriko bermain bersama. Walaupun usia Yoriko
jauh lebih tua dari mereka, sikap Yoriko terkadang masih kekanakan dan ia
memiliki daya tarik tertentu yang membuat anak-anak kecil itu percaya Yoriko
tidak akan mengecewakan mereka dan dunia mereka.
Yoriko
menatap anak-anak kecil itu berlari dan berkejaran di depannya. Dia ikut
tersenyum ketika melihat anak-anak itu tertawa riang tanpa beban. Dari apa yang
Yoriko dengar, mereka berencana akan bermain di taman belakang apartemen.
Bermain sepeda.
Karena apa
yang dilihatnya sekarang merupakan salah satu bagian terindah dari kehidupan,
Yoriko mengambil kamera DSLR-nya dan mengambil foto mereka yang terdiri dari 2
gadis kecil dan 3 anak lelaki secara diam-diam.
Dia berjalan
dengan riang melalui trotoar pinggir jalan yang akan membawanya menuju halte
bis. Dia menikmati setiap ketukan suara yang dihasilkan oleh sepatu platform
tebalnya saat dia berjalan. Dia memberikan sebuah senyum kepada siapapun yang
berpapasan dengannya di jalan. Dia mengalungkan kameranya di leher dalam
keadaan menyala, agar dia bisa langsung mengabadikan keindahan dunia yang tidak
sengaja ia tangkap. Dia sudah mendapatkan foto seorang anak kecil lucu yang
digandeng ibunya, seorang gadis remaja yang membantu lelaki tua menyebrangi
jalan padahal gadis itu sama sekali tidak mengenal kakek itu, dan mungkin foto
yang ia tangkap ini akan dianggap aneh dan tidak bermakna bagi orang lain, tapi
bagi Yoriko foto ini sangat dalam artinya. Foto lautan manusia yang seakan
tidak ada habisnya sewaktu dia menyebrangi jalan. Dia menyebrang bersama ribuan
orang lainnya yang ingin menikmati suasana Minggu yang cerah ini.
Yoriko
membayangkan dirinya sedang berada di tengah-tengah lautan yang memiliki banyak
sekali ikan yang memiliki berbagai corak dan ukuran menghiasi samudra luas itu.
Yoriko sendiri sedang berjalan di atas air. Cara berjalannya bagaikan berjalan
di atas kaca bening dan bersih. Bersemangat tapi juga anggun agar tidak merusak
keindahan kaca itu. Tujuannya adalah sebuah pulau yang tidak berpenghuni dimana
satu-satunya bangunan yang ada hanyalah gereja yang menjadi akhir tujuannya
nanti.
Gedung-gedung
tinggi yang menghalangi cahaya matahari Yoriko anggap sebagai awan mendung yang
ingin membawa hujan deras ke lautan, membuat Yoriko semakin bersemangat
berjalan, merasa dia harus tiba di gereja itu sebelum hujan deras melanda
lautan yang tidak berujung ini. Angin dingin yang berhembus dan menerpa
tubuhnya dia anggap sebagai angin hangat dari lautan tropis seperti yang pernah
ia rasakan sewaktu ia ke pantai-pantai di Indonesia.
Sayangnya
semua bayang-bayang indahnya itu terhenti ketika seorang pria galak berseru di
belakangnya, “hei! Lekas naik sebelum bisnya pergi!”
Saat itu
Yoriko langsung menyadari dirinya sedang berada di halte bis, dan bis yang
diinginkannya sudah datang untuk membawanya ke gereja.
Hari Minggu
ini bukanlah hari istimewa bagi Shou. Tapi dia tetap pergi keluar dari rumah.
Meskipun dia seorang pria dingin seperti es dan kelihatan seperti tidak punya
hati, dia tetap merasa kesepian di apartemen. Chirori masih tertidur pulas di
atas kasur kecil di ruang TV. Shou tidak lupa menaruh piring berisi beberapa
potong ikan salmon segar di depan makhluk lucu itu sebelum ia pergi.
Selama
perjalanannya menuju ke basement dimana mobilnya terparkir, dia memikirkan apa
saja yang telah ia lakukan selama satu bulan ini. Hal baru apa yang telah ia
dapatkan, kemajuan apa yang telah ia capai bersama keempat teman bandnya di
dunia musik, apakah masih ada yang harus diperbaiki atau tidak.
Saat
memikirkan itu dia teringat apa saja yang dilakukan Alice Nine saat mereka
berkumpul. Biasanya mereka hanya membicarakan musik, mencari inspirasi lagu dan
penampilan, saling memberi masukan untuk setiap alat-alat musik, atau hanya
bercanda saja sambil bermain game dan mendengarkan musik sekaligus mengedit
lagu-lagu buatan mereka sendiri di komputer. Tapi sebulan ini, pembicaraan
keempat temannya sedikit melenceng dari semua itu.
Tora sudah
seperti pembawa gosip hangat untuk dibicarakan bersama lainnya. Pria bertubuh
tinggi besar itu membicarakan Yoriko Ishihara, gadis yang bekerja di petshop
milik Avaron. Tora menganggap wanita itu menarik karena perjalanan hidupnya
yang menarik dan auranya yang lucu.
Mendengar
deskripsi tentang Yoriko, Nao langsung beranggapan bahwa gadis itu sosoknya
pasti mirip Sunako Nakahara, tokoh anime Wallflowers yang berkisah tentang
seorang gadis yang menyukai apapun yang berbau sadis, menyeramkan, tapi sangat
pemalu.
Sedangkan
Hiroto dan Saga beranggapan lain. Mereka mengomentari sikap Yoriko yang bisa
mengeluarkan sisi pemarah Shou. Tidak ada orang lain termasuk keempat sahabat
Shou yang mampu mengeluarkan itu. kedua orang itu berpikir Yoriko mungkin
memang mempunyai aura tertentu yang bisa menarik sisi ‘manusia’ Shou ke permukaan.
Dan setelah
pembicaraan mereka tentang wanita unik itu selesai, mereka pasti akan
merengek-rengek pada Shou supaya dia mau mengenalkan mereka kepada wanita itu.
tentu saja Shou menolak. Di depan mereka Shou berkata dia tidak ingin bertemu
wanita menyusahkan itu lagi. Tapi di belakang mereka, justru sebaliknya. Dia
hanya belum menemukan alasan bagus kenapa dia harus bertemu Yoriko.
Sejak
pertengkaran mereka di petshop sebulan lalu, Shou tidak bertemu dengan Yoriko
lagi. Shou kembali tenggelam di dunia musiknya, menciptakan kreasi dan variasi
di setiap musiknya, menulis lirik di atas kertas-kertas yang pada akhirnya akan
dibuang oleh Shou ke tempat sampah karena merasa lirik-lirik itu tidak memiliki
makna.
Dia berpikir
keras bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari stressnya dan dari
bayang-bayang Yoriko. Ya, masih ada dia. Dia yang selalu mengisi kehidupan Shou
walaupun wanita itu kini tidak pernah ada untuknya. Bayang-bayangnya yang
mengiringi Shou ke dunia mimpi setiap malam. Sosok wanita yang ia gunakan untuk
menukar sosok Yoriko yang mulai menghantui pikirannya.
Dan ia ingin
bertemu wanita itu sekarang juga.
Shou
mengemudikan mobilnya dari kepadatan lalu lintas Tokyo menuju sebuah daerah
perumahan yang tidak asing lagi. Semakin dia masuk ke daerah itu, suasananya
semakin terasa tenang. Dia memarkir mobilnya di depan jalan masuk menuju daerah
perumahan. Saat ia turun, dengan mantap ia melangkahkan kakinya ke suatu tempat
yang ia yakini adalah tempat keberadaan wanita itu di jam seperti sekarang.
Tidak
membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuannya. Sebuah taman perumahan
yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu sering dikunjungi orang. Tapi taman
ini cukup indah. Shou bisa melihat rerumputan taman mulai menghijau, daun-daun
dari pohon-pohon mulai tumbuh, bunga-bunga liar di sudut taman juga
berlomba-lomba untuk mengeluarkan kuncup mereka, demi menyambut musim semi.
Pengunjung
taman pagi ini tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa anak bermain ayunan di
sisi kiri taman. Ada juga sesosok kakek tua duduk di bangku depan ayunan itu,
sesekali tertawa ketika melihat kelucuan dan kepolosan dari anak-anak yang
bermain. Tidak jauh dari mereka, ada seorang pemuda sedang bermain bersama
anjingnya.
Lalu
disanalah ia melihat wanita itu. di sisi kanan taman, sedang duduk di bangku
kayu dengan anggunnya. Dia memakai blus berwarna pink cerah dipadu rok santai
sebetis warna putih. Penampilannya yang sederhana tapi cantik itu dihiasi oleh
topi lebar di kepalanya dan sepasang sepatu sandal bermotif bunga.
Avaron...
bisik Shou saat mengagumi wanita itu dari jauh. Avaron sedang bersama Yukio.
Setiap hari Minggu adalah hari dimana Avaron mengajak Yukio jalan-jalan ke
taman ini. menikmati udara segar dan sinar matahari hangat. Avaron mengamati
putranya sedang berlarian tidak jauh dari tempatnya duduk. Karena keasyikan, Yukio
sampai jatuh di atas rumput. Namun itu tidak membuat Yukio menangis. Dia malah
berguling-guling sambil tertawa lepas. Kaos dan celana monyetnya terpaksa
menjadi kotor dikarenakan ulah lucu balita imut itu.
Avaron
sekilas menangkap sosok Shou dari tempatnya duduk. Dia melambaikan tangannya ke
arah Shou sambil melemparkan senyuman kepadanya. Shou membalas senyuman itu
dengan canggung. Kemudian dia mendekati Avaron dan ikut duduk di sebelahnya.
“hei... tidak
biasanya kau datang ke taman pagi-pagi seperti sekarang... apa kau tidak
sibuk?” sapa Avaron.
“tidak. Aku
sedang tidak sibuk.” Jawab Shou biasa saja.
“lalu, kenapa
kau datang kemari?” pandangan mata Avaron mencari jawaban ke dalam mata Shou.
Sayangnya, yang didapat Avaron hanyalah kebingungan. Shou sama sekali tidak
bisa memberikan alasan sebenarnya. Dia sadar, tidak benar rasanya jika ia
memberitahukannya. Avaron sudah menjadi milik orang lain, Shou berkali-kali
memeringatkan dirinya sendiri akan itu.
“tidak usah
dijawab, Shou. Yang terpenting adalah aku senang kau datang. Rasanya seperti
melihat bunga sakura mekar lebih awal dari waktu yang seharusnya.” Canda
Avaron.
“memangnya
aku terlihat seperti bunga sakura di matamu?” selera humor Shou yang sudah
menguap entah kemana malah membuat Avaron tertawa geli.
“memang
tidak. Sakura berwarna merah muda, kau seperti kotoran...” sudah lama Avaron
tidak menyebutnya dengan panggilan itu. Shou sampai tidak ingin menghilangkan
warna cokelat di rambutnya karena dia ingin Avaron kembali memanggilnya seperti
itu.
“kau menyukai
bunga sakura, ya kan?” tanya Avaron. “aku selalu tahu kaulah yang paling
bersemangat ketika teman-temanmu mengajak hanami bersama. Walaupun kau yang
paling dingin di antara mereka, aku tahu itu.”
“aku tidak
tahu tahun ini aku bisa menikmati hanami atau tidak. Aku sibuk...” kata Shou
berusaha serealistis mungkin agar ia tidak berharap dia bisa menikmati acara
kesukaannya bersama wanita yang tidak akan pernah ia dapatkan.
“aku tahu.
Tapi kau pasti akan datang.” Avaron yakin. “karena kalau kau tidak datang,
teman-temanmu pasti akan menggeretmu kesana.”
Saat Shou
ingin membalas ucapan Avaron, Yukio datang ke hadapan mereka. anak itu mencari
perhatian Avaron dengan meminta kue. Avaron mengangkat Yukio ke pangkuannya
lalu mengambil sebuah kue cokelat dari dalam keranjang di sisi lain Avaron.
“sebelum kau
memakan kuenya, ayo, beri salam dulu ke Shou Ojisan.” Avaron mengangkat tangan
putranya ke Shou.
“ohayou, Shou
Ojisan...” kata Yukio pelan. Shou menggenggam tangan mungil itu dengan lembut
dan membalas sapaan Yukio. Setelah itu, Yukio langsung mengambil kue yang
dijanjikan Avaron dan memakannya di pangkuan ibunya.
“dia mirip
ayahnya...” Avaron tersenyum sendiri sambil membelai rambut Yukio. “kau bisa melihatnya,
kan?”
Sedikit
terpaksa Shou memerhatikan Yukio. Memang benar, Yukio hampir merefleksikan diri
ayahnya. Bisa jadi Yukio mewarisi tingkah laku ibunya saat dia tadi melihat
bagaimana aktifnya Yukio bermain. Juga sifat ceria, tidak pernah merasa capek,
dan bagaimana cara Yukio mencari perhatian adalah daya tarik balita itu yang
didapatkan dari ibunya.
Ya, benar-benar mirip ibunya... kata
Shou dalam hati.
“jika dia
mengikuti jejak kalian, kurasa dia akan seperti Kai atau dirimu.” Ujar Avaron
sambil membayangkan. Ujaran Avaron membuat Shou kembali merasa cemburu,
walaupun dia tidak mengakuinya, tapi dia sadar kalau dia tidak suka
dibandingkan oleh orang yang dia cintai.
“lebih baik
dia tidak usah sepertiku.” Kata Shou spontan namun benar-benar dari lubuk
hatinya yang terdalam.
“kenapa?”
Avaron heran. “Shou yang kukenal pasti akan membanggakan dirinya selama satu
jam penuh sampai aku bosan.”
“kau tidak
tahu rasanya berada di panggung dan...” Shou membutuhkan waktu untuk
meneruskan. “berpura-pura baik-baik saja di depan orang banyak.”
“aku memang
tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi aku tahu betul rasanya berpura-pura
baik-baik saja di depan orang banyak.” Kata Avaron. “dan karena perasaan itulah
kau bisa menjadi sahabatku 4 tahun lalu.”
Shou terdiam.
Seandainya saja dia bisa jujur pasti dia tidak akan kelihatan serumit ini di
depan wanita ini.
“apa yang
ingin kusampaikan adalah, kenapa kau tidak nikmati saja? kau tahu, saat bibirmu
cemberut, dahimu mengerut, dan kau terlalu sibuk memikirkan duniamu sendiri,
kau sudah melewatkan hal-hal luar biasa. Kau sudah mempunyai teman-teman
terbaikmu, pekerjaan bagus, pengagum yang banyak, dan dunia yang kuyakin pasti
diinginkan oleh jutaan penduduk Tokyo lainnya. Apa yang salah dengan itu?”
Shou masih
diam saja.
“apa kau lupa
kalau aku selalu ada di belakangmu?” Avaron mengingatkannya.
Aku tidak ingin kau berada di belakangku.
Aku ingin kau berada di sampingku, di sisiku. Jerit Shou di dalam hatinya.
“tidak,
Avaron, aku tidak akan pernah lupa.” Shou mencoba tersenyum tegar. “mungkin
tujuan sebenarnya aku datang kemari adalah karena aku ingin mendengarmu
mengatakan itu.”
“kalau aku
masih boleh mengingatkanmu lagi, aku masih punya satu hal yang harus kuingatkan
padamu. Aku harap kau tidak akan melewatkannya lagi.” Avaron memberikan
senyuman misteriusnya.
“apa?” tanya
Shou penasaran.
“Yoriko. Aku
mendapat e-mail dari Tora-kun seminggu lalu. Dia mengatakan sesuatu antara kau
dengan Yoriko. Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?” Avaron mengangkat
alisnya dan matanya mengerling jahil.
“Yoriko?”
Shou bingung. Kenapa Avaron harus menyebut nama wanita itu? “ada apa
dengannya?”
“jangan
berpura-pura tidak tahu, Shou. Aku tahu tatapan itu.” Avaron menganggap
kebingungan di wajah Shou adalah pura-pura. “kau menyukainya. Ya kan?”
“tidak. Aku
tidak menyukainya. Kenapa kau bilang begitu?” Shou mengelak.
“aku tidak
akan mendesakmu, Shou, tenang saja. Hanya informasi, dia adalah salah satu yang
tidak boleh kau lepaskan dari hidupmu.” Avaron berdiri dan menggendong Yukio.
“karena menurutku, kalau kau melepaskannya, segalanya di dalam hidupmu mungkin
tidak ada artinya.”
“oke,
sekarang aku harus mendesakmu kenapa kau berkata seperti itu?” Shou kesal
karena sikap misterius Avaron kembali muncul.
“dia gadis
baik, Shou. Apa itu masih kurang untukmu?” jawab Avaron. “sedangkan sisanya
mungkin tidak akan kau mengerti jawabannya.”
“kenapa?”
“mungkin
karena... kau belum mengizinkannya masuk ke duniamu?” Avaron berpura-pura
berpikir. “aku harus pergi, Shou. Aya pasti menungguku di petshop sendirian.”
“kenapa
sendirian? Bukankah dia sudah ditemani si Yoriko itu?” Shou tidak ingin Avaron
pergi dulu sebelum dia mendapatkan jawaban yang memuaskan dari wanita itu.
“Yoriko pergi
ke gereja hari ini. dia tidak akan kembali sampai siang nanti. Jadi aku harus
membantu Aya.” Avaron menaruh Yukio di dalam kereta bayi di sebelah bangku
tempat mereka duduk lalu mendorongnya menjauh dari Shou.
“apa?
Gereja?” Shou bingung kenapa tiba-tiba Avaron menyebutkan tempat ibadah untuk
agama Kristen tersebut. Dia baru tahu Yoriko menganut agama itu.
“sudah ya,
Shou. Sampai nanti...” Avaron berpamitan tanpa mengindahkan pertanyaan Shou.
Yoriko turun
dari bis di halte tidak jauh dari petshop pada pukul 12 siang. Sambil terus
membawa tas di tangan dan Alkitabnya di dekapan dadanya, Yoriko berjalan
melalui trotoar untuk sampai ke tempat tujuannya.
Saat dia
sudah mendekati petshop, dia mendengar seseorang memanggil namanya dari
belakang. Dan sosok Tora terlihat di antara kerumunan orang-orang di trotoar
saat ia menoleh. Tora sedang berjalan sedikit cepat agar dia bisa mendekati
Yoriko.
“hei...” Tora
tersenyum pada Yoriko walaupun nafasnya terengah-engah karena dia tadi berlari
saat melihat Yoriko berada tidak jauh saat dia memarkirkan mobilnya di ujung
trotoar. “kau pasti ingin ke petshop, kan? Keberatan kalau kita berjalan
bersama kesana?”
“tentu saja
tidak.” Yoriko membalas senyuman Tora. “kenapa kau ingin ke petshop, Tora-kun?”
“yah, aku
hanya bosan di rumah. Kupikir kalau aku melihat binatang-binatang lucu milik
kalian aku tidak akan merasa bosan lagi.” Jawab Tora terkekeh. “kau dari mana?
Tidak biasanya kau datang siang.”
“aku dari
gereja.” Jawab Yoriko.
“dari gereja?
Waw, aku baru tahu kau seorang Kristen, Yoriko-chan.” Tora agak kaget
mendengarnya.
“Katolik
lebih tepatnya. Aku dibaptis saat aku masih di Paris. Aku merasa lebih tenang
dan lebih baik saat aku bisa menyampaikan keluh kesahku kepada Tuhan dan
membaca ayat-ayatNya...” Yoriko menjelaskan kenapa dia menganut agama itu.
“tidak heran
setiap kali aku bertemu denganmu tanda salib itu selalu setia melekat di
lehermu...” Tora menunjuk kalung salib di leher Yoriko. “kau sangat religius,
ya?”
“hmm...
mungkin? Kalau soal itu hanya Tuhan yang bisa menjawab.” Yoriko tersenyum lagi.
Nanar matanya memperlihatkan ketulusannya sebagai penganut agama yang baik.
Sesampainya
mereka di petshop, mereka disambut oleh Avaron dari balik meja kasir. “akhirnya
kau datang juga, Yoriko. Sebaiknya kau cepat-cepat bantu Aya sekarang.”
Yoriko
langsung paham situasinya ketika melihat petshop sedang dipenuhi pengunjung dan
peliharaan yang mereka bawa. Dia pamit pada Tora sebelum dia melesat ke
belakang untuk siap-siap bekerja.
“hei,
Tora-kun. Selamat datang. Kau ingin membeli sesuatu?” sapa Avaron.
Tora
bersandar di meja kasir dan menunjuk Yoriko yang berada di bagian belakang
petshop dengan matanya. “kalau aku menginginkan sesuatu aku pasti akan langsung
meminta padanya.”
Avaron
menghela nafas sambil tertawa geli. “jadi lagi-lagi kau hanya kemari tanpa
membeli apapun, Tora-kun?”
“tadinya aku
ingin menikmati kelucuan-kelucuan para binatang peliharaan kalian, tapi rasanya
tidak akan bisa...” Tora memandang beberapa orang yang terus membuat Aya dan
Yoriko sibuk dengan apa yang akan mereka beli.
“tenang saja.
mereka tidak akan membuat Aya dan Yoriko sibuk terlalu lama. Mereka berdua akan
menemanimu bermain bersama Boo dan Alen.” Kata Avaron.
“Boo dan
Alen... nama yang unik...” Tora berkomentar. “siapa yang memberimu ide nama
itu?”
“oh, Boo
merupakan sumbangan nama dari Ruki-kun, sedangkan Alen nama pemberian Yoriko...
keren, kan?”
“hoo...” Tora
mengangguk pelan. “bagaimana kabarmu dan Kai? Juga bayimu....”
“Kai menjaga
Yukio di rumah hari ini. dia tahu aku pasti selalu sibuk tiap hari Minggu.
Makanya dia sengaja tidak pergi ke studio atau sibuk dengan bandnya.”
“sepertinya
kalian rukun-rukun saja, ya...” Tora senang mengetahui kehidupan rumah tangga
temannya baik-baik saja.
“ya... dan
tahu tidak...” Yoriko mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Tora agar kata-kata
yang akan dia ucapkan hanya bisa didengar oleh pria berambut hitam itu. “Yukio
menginginkan seorang adik...”
“waw...” Tora
tiba-tiba bersemangat. “Kai pasti langsung menyambut permintaan Yukio dengan
gembira.”
Yoriko
memutar matanya. “tentu saja...”
“hahahaha!
Kalian memang benar-benar rukun!” Tora berseru riang. “kalau begitu, kabari aku
jika Yukio sedang menunggu adiknya selama 9 bulan.”
“oh ya, tadi
pagi, saat aku bermain di taman dekat rumah bersama Yukio, aku bertemu Shou.” Avaron
menceritakan kejadian tadi pagi.
“hee?
Ternyata orang itu bisa juga merangkak keluar dari apartemennya kecuali untuk
bekerja...” Tora sedikit terkejut. “apa yang dia lakukan disana?”
Avaron
mengangkat bahu. “entahlah... aku melihatnya di depan taman lalu aku
menyapanya, kemudian dia duduk di sebelahku dan kami mengobrol...”
“apa dia
terlihat dan terdengar seperti zombi?” tanya Tora dengan nada tidak percaya.
“tidak. Dia
terlihat normal...” Avaron membalas candaan Tora sedikit serius. “kami
membicarakan... dirinya.”
“maksudnya?”
“kita semua
tahu selama 4 tahun ini ada sesuatu yang salah di dalam diri Shou. Dan kita
tidak tahu alasannya...” Avaron menjelaskan. “intinya adalah, aku merasa dia
sedang memerhatikan Yoriko, sadar atau tidak sadar...”
“dia pasti
kesal karena aku dan yang lain sering mendesaknya untuk membawa Yoriko ke kami.
Dia tidak pernah suka jika kami menyebut namanya.” Kata Tora. “lagipula dia dan
Yoriko tidak bertemu lagi selama sebulan ini. kurasa dia pasti ‘merindukan’
Yoriko...”
“jadi kau
juga berpikiran sama denganku?”
“Avaron, aku
selalu tahu gelagatnya bila dia sedang menyukai seseorang. Seperti anak kecil.”
Kata Tora bangga. “hanya saja, mungkin kita harus sedikit membantu mereka
berdua biar mereka bisa saling mendekatkan diri.”
“hmm...”
Avaron berpikir sejenak. “kurasa aku tahu jawabannya...” Avaron menyeringai
jahil. Kemudian dia memanggil Yoriko.
“ya, ada apa,
Avaron-san?” tanya Yoriko setelah ia sampai di depannya. Avaron melihat ke arah
kerumunan pengunjung. Sudah tidak seramai sebelum ia tadi mengobrol dengan
Tora.
“kudengar
dari Aya kau sedang mencari pekerjaan kedua, benar begitu?” tanya Avaron.
“ya, anda
benar. Memangnya kenapa?” Yoriko mengerutkan dahinya.
“Tora, apa
kau kekurangan orang untuk membantu kalian di kegiatan band?” Avaron memberikan
isyarat yang tidak Yoriko mengerti kepada Tora yang masih penasaran oleh apa
yang akan Avaron lakukan.
Setelah dia
mendengar pertanyaan Avaron, Tora langsung mengerti apa yang Avaron maksud.
“tunggu sebentar... kurasa ada. Kami sedang kekurangan asisten untuk band. Apa
kau mau mengisi lowongan itu?”
Yoriko tidak
mengerti. “apa? Asisten band? Maksudnya? Tapi, Tora-san, aku tidak bisa
memainkan gitar atau alat musik lainnya yang kalian mainkan...”
“bukan
begitu. Apa yang akan kau kerjakan sedikit lebih pribadi daripada asisten
lainnya.” Tora memberikan petunjuk. Tapi Yoriko masih belum mengerti.
“kau akan
membantu kami untuk urusan pribadi seperti menyiapkan makanan, membawakan
barang-barang, semacamnya. Mungkin kau akan sangat capek saat awal bekerja.
Tapi aku jamin gajimu akan sepadan dengan itu.”
“oh...”
Yoriko masih ragu-ragu. “akan kupikirkan, tapi...”
“kenapa,
Yoriko? Kurasa gaji menjadi asisten bisa membantumu membayar sewa apartemen dan
kebutuhanmu yang lain. Kurasa kau akan rugi jika kau menolak.” Avaron
meyakinkan Yoriko.
“maksudku,
apa yang lain akan setuju? Kau tahulah, seperti Shou dan teman-teman bandmu.”
Yoriko menjelaskan kebimbangannya.
“tenang saja,
mereka pasti langsung setuju. Kalau soal Shou, biarkan saja. dia memang
menyebalkan dari dulu. Anggap saja dia tidak ada kalau kau sedang bekerja.” Kata
Tora cuek sambil mengibaskan tangannya.
“kenapa kau
memintaku? Kurasa pasti banyak gadis lain yang lebih mampu mengerjakan
pekerjaan itu daripada aku. Dan aku yakin mereka pasti lebih menginginkan
pekerjaan itu dibanding aku.”
“mereka
mungkin mampu dan lebih menginginkan pekerjaan itu. tapi kau lebih membutuhkan pekerjaan
itu dibanding mereka. kau mengerti maksudku, kan?” jawab Tora. “tidak usah
khawatir kau tidak bisa membagi pekerjaanmu di petshop ini. Kau bisa memulai
pekerjaanmu pada siang atau sore hari. Biasanya kami baru mulai bekerja pada
saat itu.”
“Yoriko,
ambil saja pekerjaan itu. tidak ada ruginya, kok...” Avaron terus membujuk
Yoriko. “aku mempunyai kenalan asisten bandnya Kai. Dia bilang padaku kalau
gajinya menjadi asisten cukup besar.”
“ya, Yoriko!
Ambil saja!” sahut Aya riang. Dia tiba-tiba bergabung begitu saja dengan mereka
bertiga. “katamu kau sangat membutuhkan pekerjaan dalam waktu cepat. Sekarang
ada yang menawarkanmu pekerjaan kenapa harus kau tolak?”
“tapi...”
Yoriko tetap ragu. Dia berpikir, pekerjaan ini pasti mengharuskannya bertemu Shou
Kohara setiap hari. Dia tidak tahu bagaimana jadinya kalau dia terus bertemu
dengan orang yang menganggapnya tidak ada. Dan jika dia melihat Yoriko, orang
itu pasti akan memandangnya seperti pecundang dan menganggap dia menyebalkan. Yoriko
tidak sanggup kalau harus terus menerus mendapat perlakuan itu.
“begini saja, aku paham kenapa kau ragu
mengenai pekerjaan ini, Yoriko-chan.” Tora mengambil secarik kertas dan sebuah
pulpen yang tersedia di meja kasir. Dia mencatat alamat e-mail handphonenya.
“tapi kalau kau berubah pikiran. Kau bisa menghubungiku atau langsung ke kantor
manajemen kami. Katakan saja pada resepsionis kau mencariku.”
Yoriko
menerima kertas bertuliskan alamat e-mail itu dan membacanya pelan-pelan. Meski
dia tahu tidak ada gunanya dia terus membaca alamat e-mail itu, dia tetap
melakukannya karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan pada pria ini.
“nah,
sekarang aku ingin bermain bersama Boo dan Alen! Kalian mau menemaniku?” Tora
mengajak Aya dan Yoriko tanpa merasa berdosa dan seolah apa yang mereka
bicarakan barusan tidak pernah terjadi.
No comments:
Post a Comment