2
Baru hari pertama masuk kerja, tim Spencer sudah berkumpul di dalam sebuah
ruangan rapat untuk membicarakan sebuah kasus. Tentunya, Judy juga hadir
disana. dia sedikit canggung dengan penampilannya yang paling mencolok diantara
3 orang lainnya.
Judy merasa beruntung ketika teman-teman barunya itu menyapanya, dan yang
paling dekat dengannya adalah Hailey South. Wanita yang satu tim dan seusia
dengannya juga. Hailey menyadari kalau Judy sedang kesal pada Spencer yang tadi
mengejeknya. Hailey bisa melihat mereka berdua tadi melalui meja kerjanya yang
letaknya di depan meja Spencer dan Judy.
“Spencer memang menyebalkan.” Hailey
setuju saat Judy bercerita tentang Spencer. “tapi dia cukup tampan disini dan beberapa wanita menyukainya. Apa kau
berpikiran sama?”
Judy memperhatikan Spencer yang
sedang menunggu sisa teman-temannya untuk masuk ke dalam ruangan. Sesekali
menyapa beberapa petugas yang lewat di depan ruangan dan memberi mereka sebuah
lelucon yang hanya mereka sendiri yang mengerti.
“tidak. menurutku tidak.” jawab Judy
tegas.
“kalau perhatikan lagi dengan
seksama, kau pasti akan berubah pikiran.” Hailey tersenyum jahil.
“kalau kalian masih ingin terus
bergosip, di lantai bawah ada kafe. Lebih baik kalian kesana saja daripada
mengganggu rapat ini.” Spencer tahu-tahu sudah duduk di meja untuk memulai
rapat. Judy dan Hailey
juga sadar kalau ternyata sudah ada 2 orang lagi duduk di meja bundar mereka.
‘’baiklah...’’ Judy dan Hailey pun diam.
“kasus kita buka. Di kota kita yang
kecil dan tercinta ini terjadi sebuah kasus pembunuhan yang agak aneh. Seorang
pria membunuh istrinya sendiri” Spencer membuka kasus. Dia memunculkan sebuah
foto korban pembunuhan yang merupakan seorang wanita ditusuk dengan pisau di
dadanya berkali-kali di atas tempat tidur kamar rumahnya sendiri.
“dan yang menarik adalah…” Spencer sengaja
membuat teman-teman satu timnya penasaran. “adanya video ini. Anggap saja ini sebagai bonus spesial
untuk kasus ini. Video ini didapat dari TKP.” Spencer terkekeh nakal. Dia pun
memutar video yang dia maksud. Muncullah sebuah adegan nyata yang direkam oleh
seorang pria yang sedang bercinta bersama korban di kamar yang menjadi TKP.
Keadaan kamar sangat gelap dan hanya cahaya lampu luar yang tembus dari jendela
kamar menerangi ruangan. Mereka melakukannya selama beberapa lama. Setelah
mereka selesai, si pria mengambil sebuah pisau dari nightstand dan dengan sadis
menusuk si korban.
“apa si pelaku melarikan diri?” tanya
Hailey.
“ya. Belum diketahui motif pembunuhan
ini karena mereka adalah pasangan yang sangat tertutup, mereka tidak mempunyai
anggota keluarga lain. Mereka juga tidak punya anak. Mark, periksa dan teliti
lagi video ini, siapa tahu kita akan menemukan petunjuk.” Perintah Spencer pada
pria yang duduk di ujung meja.
“siap!” kata Mark sambil terus mengunyah
croissant yang dia bawa.
“Hailey, aku ingin kau mewawancarai
saksi yang menemukan mayat yang nanti akan datang kesini.” Perintah Spencer lagi. “Sean dan
Anna, ikut aku ke TKP.” Spencer menunjuk 2 orang sisanya. “apa kalian sudah
mengerti?”
Tidak ada jawaban. Itu berarti mereka
siap untuk berangkat. Dengan cepat mereka semua berdiri dan menjalankan tugas
masing-masing. Kecuali Judy.
“Spencer!” seru Judy pada pria
berambut cokelat itu.
“apa?” Spencer yang ingin keluar dari
ruangan berbalik.
“kau sama sekali tidak memberiku tugas. Apa maksudnya?” Judy protes.
“kau masih baru. Memangnya kau bisa
menanganinya?” Spencer
meremehkan Judy.
Judy langsung tersinggung. ‘’maksudmu
aku tidak mampu mengerjakan ini!?’’
“ya. Bayangkan saja seorang profiler
dari New York sepertimu bisa dibuang ke kota kecil seperti ini. Pasti kau ada
apa-apa disana, bukan?” Spencer berkata dengan sinis.
Judy menatap tajam pria yang sangat
menyebalkan dan ingin dia bunuh ini. Dia tidak ingin menjawab perkataan Spencer
barusan karena hanya akan memperkeruh suasana.
“baiklah. begini saja…” Spencer
melunak. “analisis saja
file kasus ini. Kalau kau bisa memberitahu apa yang tidak kami tahu saat kami
kembali, kau boleh terjun ke lapangan.”
“apa kau sedang bertengkar dengan
pacarmu atau istrimu?” Judy tiba-tiba bertanya.
‘’bukan urusanmu.’’ Spencer mendengus.
“haha… sudahlah, mengaku saja. baju
berantakan dan tampaknya sudah tidak dicuci selama 2-3 hari itu, sikap yang
kekanak-kanakan di depan wanita, dan jawabanmu dari pertanyaanku barusan
membuatnya semakin jelas.” Sekarang giliran Judy yang sinis.
“kau menantangku, Hunters?” Spencer
berdiri dekat sekali di depan Judy sehingga ia bisa memberikan tatapan menusuk
pada wanita berambut merah itu.
“tidak juga. Hanya memberikan saran.
Kalau kau menusuk seseorang yang akan menjadi orang yang kau butuhkan, jangan
menusuknya terlalu dalam sampai ke tulang. Karena pasti akan sangat sakit
ketika ia berusaha mencabut pisaunya. Dan ketika dia sudah bisa mencabut
pisaunya, kau akan takut dan bertanya-tanya pada dirimu sendiri apakah dia akan
mengembalikan pisaunya dengan baik-baik, atau membalas dendam dengan
menusukkannya lagi padamu? Apakah tusukannya akan jauh lebih dalam mengenai
tulang atau tidak?” Judy memperingatkan Spencer.
***
Setelah
panggilan yang ketiga kalinya dari Aya, Avaron, dan Kai, Yoriko baru kembali ke
bumi dari dunia imajinasinya. Sulit baginya untuk tidak
membayangkan lagi adegan novel yang dia buat sendiri. Adegan saat Judy
memperingatkan Spencer untuk tidak meremehkannya, Spencer yang tampan juga
dingin itu akhirnya diam karena ‘tusukan’ dari Judy.
Tampan
dan dingin… seperti orang ini…
Setelah
semuanya datang, Avaron mengajak mereka berkumpul di ruang makan. Cake ulang
tahun, jamuan makan malam, wine dan susu (khusus untuk Yukio) sudah disiapkan.
Aya merasa tergiur ketika melihat cake tiramisu berbentuk bulat dan kecil
dihiasi oleh lilin yang terukir angka 2. Di depan cake ditaruh kursi bayi
sebagai tempat Yukio duduk.
Semua
duduk dengan rapi satu-persatu. Yoriko tahu kalau Shou Kohara-lah
orang yang duduk paling akhir. Mereka duduk berseberangan di meja makan. Yoriko
hanya bisa menatap pria itu tanpa diketahui olehnya. Kalau Shou melihat ke
arahnya, dia akan menghindar untuk bertatapan mata dengannya.
Shou
mengenakan kaus putih bergambar abstrak yang Yoriko tahu itu adalah logo
bandnya, dengan celana jeans, ditambah sebuah kalung perak imitasi berliontin
bintang yang sangat manis. Inilah gaya Spencer yang digambarkan
Yoriko kalau polisi keras kepala itu sedang bebas tugas. Tapi
tidak banyak yang pernah melihatnya.
“terima
kasih sudah datang kemari. Khususnya untukmu, Shou. aku tahu Kai pasti merasa
kesulitan untuk menarikmu keluar dari studio…” Avaron berdiri
di samping kursi bayi dan menatap Shou dengan tatapan menyindir. Shou
hanya diam saja, memberikan sebuah senyuman tipis pada Avaron.
Oh
Tuhan, senyuman itu… Yoriko bersyukur dia sedang duduk saat ini sehingga dia
tidak merasa gemetar ketika melihat senyuman yang benar-benar mirip dengan
imajinasi Yoriko.
“kau
sudah berkenalan dengan Yoriko Ishihara? Dia teman Aya.” Avaron menunjuk Yoriko
menyuruhnya untuk berkenalan dengan Shou.
Shou
berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Yoriko, mengajak wanita yang sekarang bersikap canggung itu
berkenalan lagi. Butuh waktu beberapa detik untuk Yoriko membalas jabatan
tangan itu tanpa merasakan gemetar itu lagi.
“Yo…
Yoriko…” dia tersenyum gugup.
“Shou.”
dia berkata dengan dingin tanpa memberikan senyuman sedikit pun. Yoriko sama
sekali tidak merasa heran atau tersinggung karena diperlakukan seperti itu.
Memang seperti itu sikap Spencer… eh bukan, Shou...
Mereka
berdua duduk kembali dan Avaron mulai membuka acara. “Sebelum kita meniup lilin
kuenya, bagaimana kalau kita saling menanyakan kabar?” yang Avaron maksud
bukanlah bertanya pada Aya dan Kai bagaimana kabar mereka. Tentu saja, dia kan
sudah bertemu dengan 2 orang itu setiap hari di rumah dan di tempat kerja. Tapi
demi orang yang sudah lama tidak bertemu dengannya dan orang yang baru pertama
kali ia temui, dia melakukannya.
Dan
Yoriko mengetahuinya juga.
Tidak
ada yang merespon ajakan Avaron kecuali Kai yang tersenyum lebar untuk istrinya
dan Yukio yang terlihat sangat tidak sabar ingin menyentuh cake ulang tahun
yang ada di depannya. Tampaknya tidak hanya Yoriko saja yang sadar.
‘’oke…
aku duluan saja yang mulai. Aku dan Aya kemarin baru saja menerima anjing baru
di petshop. Dia jenis Akita jantan. Tapi kami bingung ingin memberinya nama
apa. ada ide?’’ tanya Avaron.
Suasana
masih hening beberapa lama sebelum Kai angkat bicara, “bagaimana kalau Hachiko?
Aku baru saja menonton filmnya.”
“boleh…”
Avaron terlihat sedang mempertimbangkan usulan dari suaminya. “bagaimana dengan
yang lain? Bagaimana denganmu, Shou?”
“entahlah…
aku tidak ada ide…” Shou mengangkat bahunya.
“kalau
kau Yoriko?” Avaron melihat ke gadis bergaya gothic rebel itu.
“entahlah…”
Yoriko tidak yakin apa nama ini akan mereka sukai atau malah mereka tertawakan.
“Alen?” itulah nama yang terlintas di pikirannya.
“Alen?
Lucu sekali…” komentar Aya yang duduk di sebelahnya. “aku suka itu…”
“aku
baru mendengar ada nama seperti itu. Boleh juga…’’ timpal Kai.
‘’bagaimana
menurutmu, Shou?’’ Avaron bertanya pada Shou. Shou hanya memberikan isyarat
dengan bahasa tubuh kalau dia setuju-setuju saja.
“baik.
Akan kubuat ikat leher untuknya dengan ukiran nama ‘Alen’!” Avaron
memutuskan. “oke. Giliranku selesai. Sekarang, giliranmu, sayang…” Avaron
menepuk pundak Kai pelan.
“aku
tetap sibuk seperti biasa, dan tadi Ruki dan yang lain memberiku ini untuk
hadiah Yukio…” Kai mengeluarkan sebuah kotak kado berukuran sangat besar dari
bawah meja. “selamat ulang tahun sayang…” Kai berdiri untuk mencium putranya
yang air liurnya menetes karena pandangan matanya masih tidak bisa lepas dari
tiramisu cake.
“terima…
kasih…” tanpa diperintah Yukio mengucapkan kata itu untuk ayahnya dengan
perlahan.
“aaw…
anak yang baik…” Aya jadi terkesan.
“kalau
hadiah dari ayah, sudah menanti di kamarmu. Nanti kita buka, ya.’’ Kata Kai
lagi pada Yukio. Yukio mengangguk dengan semangat sebagai jawaban ya.
“lalu,
Shou. ceritakan bagaimana kabarmu. Rasanya sudah lama sekali kau tidak ikut
berkumpul bersama kami dan bercerita seperti ini.” Avaron meminta Shou untuk
bicara.
“ngg…
aku…” Shou tampaknya sangat enggan untuk bercerita. Ia hanya menggaruk
kepalanya walaupun tidak terasa gatal, ekspresi wajahnya terlihat seperti kalau
dia ingin sekali pergi dari sini, dan hanya Yoriko yang bisa melihat ini, Shou
terlihat lelah. Dan dari tatapan mata Shou, Yoriko tahu pria itu terlihat
tidak menyukai sesuatu. Entah apa itu.
“aku
hanya di studio, membuat lagu baru… rekaman… tur…” arah cerita Shou benar-benar
tidak jelas.
“kau
tahu, Shou yang dulu pasti menceritakannya dengan semangat dan bangga, dibumbui
lelucon yang mampu kami tertawa. tapi sekarang kau malah…” Aya berdesis, tidak
tahu harus berkata apa lagi saat melihat Shou seperti ini.
“sudahlah.
kita lupakan saja soal aku. Bagaimana kalau dia saja yang bercerita?” Shou
menunjuk Yoriko dengan kepalanya.
“ya, ya…
daripada kita mendengarkan cerita yang membosankan, lebih baik kita dengarkan
saja cerita dari Yoriko. Kalian semua pasti belum tahu tentang dia, kan? Ayo,
Yoriko. Cerita.” Dengan semangat Aya meminta.
Yoriko
melakukan ini hanya demi Aya. “aku baru saja kembali dari Indonesia tadi pagi. Aku
sudah pergi ke beberapa negara lain selama hampir 10 tahun.’’
‘’apa?
Indonesia? Apa kau pergi ke Bali?’’ Avaron langsung tertarik.
‘’tidak…
aku tidak pergi kesana…’’
“wah…
berarti kau rugi.” Kai menimpali. ‘’disana pemandangannya indah sekali.’’
‘’aku
tahu. Aku pernah membaca buku tentang pulau itu.’’ Jawab Yoriko singkat.
‘’dia
mempunyai alasan sendiri kenapa dia tidak pergi kesana, Avaron-san…’’ Aya
berkata dengan pelan.
‘’oh…
kalau boleh tahu, kenapa?’’ tanya Avaron.
Aya
melihat ke arah Yoriko untuk mencari tahu apakah Yoriko ingin menjawabnya atau
tidak. Tapi Yoriko menjawab dengan berkata, ‘’seseorang yang kukenal disana
berkata padaku, tidak akan senang rasanya kalau pergi ke Bali sendirian.
Katanya lebih baik aku kesana bersama dengan seorang yang aku…’’ entah kenapa
secara refleks Yoriko melihat ke arah Shou. Padahal dia sama sekali tidak
berharap dia akan pergi kesana dengannya. Tentu saja, dia
kan baru bertemu pria itu 1 jam yang lalu. ‘’sayangi atau seseorang yang
istimewa…’’
‘’kata
kenalanmu ada benarnya. Tidak lengkap rasanya pergi ke pulau yang terindah di
dunia tanpa dengan orang yang kau cintai…’’ Kai setuju.
‘’jadi
aku mengambil kesimpulan lebih baik simpan yang terbaik di bagian terakhir. Aku
memang ingin kesana, tapi tidak, tidak dengan…” ingin sekali Yoriko berkata
‘dengan pikiran yang delusional’ agar dia tidak pergi kesana dengan seseorang
spesial dari dunia khayalannya sendiri. Atau menurut bahasa Dunia Nyata,
sendirian.
“apa?”
Avaron menantikan kelanjutannya.
“tidak
dengan seorang yang istimewa. Seperti yang kukatakan sebelumnya.” Yoriko
berbohong.
“apa
keluargamu tidak merindukanmu karena kau bepergian jauh selama itu?” tanya Kai.
Yoriko
tidak bisa menjawab. Tidak di depan keluarga yang bahagia seperti ini. Dia bisa
merusak segalanya. Jadi dia hanya diam dan menundukkan kepalanya.
“Kai-san…”
Aya menatap Kai dengan tajam. Ekspresinya terlihat marah.
“kenapa?”
Kai tidak mengerti.
“sudahlah,
Aya… tidak apa-apa…” Yoriko menaruh tangannya di pundak Aya agar
sahabatnya merasa tenang. “akan kujawab.”
“aku…”
Yoriko menghela nafasnya dengan berat. “yatim piatu. Aku besar di panti asuhan sejak aku masih bayi.
Sebenarnya tidak yatim piatu, atau lebih tepatnya aku tidak tahu. Karena aku…
tidak pernah bertemu orang tuaku. Mereka membuangku di depan panti asuhan saat
usiaku masih 10 bulan…’’
‘’oh…
Yoriko…’’ Avaron merasa iba. “maaf…” Avaron langsung menjitak kepala Kai agar
Kai juga ikut meminta maaf.
Setelah
mendengar permintaan maaf dari suami istri itu, Yoriko hanya tersenyum,
berusaha kuat dan terlihat baik-baik saja.
“aku
tumbuh, besar, juga dididik di panti asuhan. Sampai aku remaja, tidak ada yang
mau mengadopsiku. Jadi begitu aku keluar dari panti asuhan karena sudah cukup
umur, aku memutuskan untuk pergi dari Jepang. Berusaha melupakan semua rasa
sakit dan dendam pada orang tuaku.” Yoriko kembali melihat Aya yang menatapnya
dengan tatapan prihatin. “tapi aku sekarang baik-baik saja. aku sudah bisa
berdiri sendiri. Ditambah dengan kehadiran Aya yang berkenalan denganku di
internet, aku sudah lebih dari ‘baik-baik’ saja…” Yoriko tersenyum sebagai
tanda terima kasih.
“jadi
kau Yoriko Izanami yang sering Aya ceritakan?” Avaron baru sadar.
“aku sudah pernah membaca beberapa cerpenmu di internet. Kau benar-benar
berbakat, Yoriko. Kenapa kau tidak menerbitkan karyamu?”
“Yoriko
sedang menulis sebuah novel bergenre thriller. Dan rencananya kalau sudah jadi, dia
akan menerbitkannya disini.” Aya bercerita dengan bangga.
Setelah
mengucapkan terima kasih pada Avaron karena pujiannya, Yoriko menjawab, “ya.
Semoga saja akan jadi dalam waktu cepat…”
“untuk
merealisasikannya, tentunya Yoriko membutuhkan uang untuk menerbitkannya, kan?
Nah, Avaron-san, apakah Yoriko bisa bekerja di petshop?” Aya menepati janjinya
pada Yoriko.
“kalau
kau bisa mengurus hewan dan tidak takut dengan kotoran mereka, tidak masalah.”
Avaron terlihat tidak keberatan.
“ya… aku
pernah menjadi babysitter untuk anjing di Perancis. Aku menjaga mereka kalau
majikan mereka sedang pergi keluar kota. Jadi, kurasa, aku bisa…” kata
Yoriko.
“bagus.
Jadi kapan kau bisa mulai? Aku ingin secepatnya, karena aku kekurangan pegawai
dan aku tidak bisa pulang malam lagi.” Tanya Avaron.
‘’besok
aku bisa.’’ Yoriko ingin memulai pekerjaannya cepat-cepat agar dia tidak bosan
dan tidak terlalu lama merepotkan Aya.
‘’oke.
Kau masuk shift pagi sampai sore dan kita akan bahas gajimu besok di petshop. Setuju?”
Yoriko
menganggukan kepalanya. Mereka sudah sepakat.
“okaachan…” Yukio merengek-rengek pada
Avaron dengan menarik-narik baju ibunya. “aku mau kuenya…”
“oh…
maaf, sayang!” Avaron langsung teringat Yukio. “ayo kita tiup
lilinnya! Sebentar, aku ambil pematik api dulu…” Avaron berjalan menuju meja
counter di sudut ruang makan untuk mengambil pematik api di lacinya. Begitu ia
mendapatkannya, dia menyalakan lilin dengan hati-hati. Ia langsung
mengembalikan pematiknya ke tempat semula agar Yukio tidak memainkannya di atas
meja.
Sedangkan
Kai baru saja kembali dari kamarnya dan Avaron sebentar untuk mengambil gitar
yang sekarang ia bawa.
“kita
akan menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan iringan gitar ini.” Kata Kai
tersenyum lebar, memamerkan gitarnya.
“aku
baru tahu kalau kau bisa memainkan gitar, Kai-san.” kata Aya.
“yah… 10
tahun bersama 2 gitaris yang selalu dekat denganku aku jadi bisa memainkannya.”
Kai terkekeh.
“tapi,
tunggu. Rasanya kurang ramai kalau hanya dengan gitar. Yoriko bisa memainkan
tin whistle.” Aya mencolek lengan Yoriko.
“tin
whistle? Apa itu?” Avaron dan Kai bertanya dalam waktu yang hampir bersamaan.
“ayo,
tunjukkan.” Perintah Aya. Yoriko mengambil tasnya yang ia taruh di bawah kursi
dan mengambil tin whistle yang dia perlihatkan tadi ke Aya.
“aku
baru tahu kalau ada alat musik seperti ini. Darimana kau mendapatkannya?’’ Kai
memperhatikan setiap detail alat musik berwarna hitam itu dari tempat duduknya.
Yoriko pun menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkannya. Dan seberapa
terkenalnya alat musik itu di negara asalnya. Dia juga
menceritakan alasan kenapa ia membeli alat musik ini.
“cara
memainkannya hampir sama seperti gitar. Ada kunci G, A, B, F, E, D,
sampai C# dan D tinggi.” Dari penjelasan Yoriko, Kai kemudian tahu persamaan
dan perbedaan antara tin whistle dan gitar.
“coba
kau mainkan bersama dengan gitarku.” Ajak Kai. Yoriko mengangguk.
“anggap
saja ini hadiah dariku untuk Yukio. Karena aku… tidak membawa kado. Maaf…” Yoriko
merasa tidak enak.
“tidak
apa. Kehadiranmu di acara ini sudah menjadi hadiah untuknya. Kalau Yukio sudah
lebih besar dari dia yang sekarang, dia pasti ingin mendengarkan ceritamu.”
Kata Avaron seraya membelai rambut Yukio.
Yoriko
hanya tersenyum sekilas karena Kai sudah memberikan aba-aba untuk mulai. Pria
berwajah manis itu sudah siap dengan posisinya begitu juga dengan Yoriko. Saat
suara petikan gitar dan alunan tin whistle terdengar di seluruh ruangan, Avaron
dan Aya menyanyikan lagu selamat ulang tahun sesuai dengan iringan lagu. Hanya
Shou yang diam dan menambah suara musik dengan tepukan tangannya.
Setelah
lagu selesai, Yukio meniup lilin sekuat yang dia bisa. Seiring dengan padamnya lilin,
semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Yukio jadi ikut bertepuk tangan
dengan tangan mungilnya.
“sekarang
saatnya memotong kue. Ada yang mau?” tawar Avaron. Dalam sekejap, Kai dan Aya
mengangkat tangan mereka sebagai tanda mereka mau seperti anak kecil. Avaron
mengambil pisau untuk memotong kue di sebelah cake dan memotongnya sama besar. Walaupun
Yoriko dan Shou tidak mengangkat tangan, Avaron tetap memotong untuk bagian
mereka. Dengan beberapa piring kertas kecil dan garpu yang sudah disiapkan, dia
memberikan potongan kue itu satu persatu ke mereka. Termasuk untuk Yukio. Yukio
dinasehati oleh Avaron agar sebelum tidur ia menyikat giginya terlebih dulu.
Yukio hanya mengangguk karena dia terlalu asyik dengan kue yang dia makan.
Lagi-lagi
tanpa sengaja Yoriko menangkap pemandangan itu. Seorang ibu menasehati anaknya.
Yoriko hanya bisa menghela nafas. Orang yang pernah menasehatinya seperti itu
hanyalah orang-orang dari panti asuhan, bukan ibu kandungnya.
Lucu
sekali dia sudah pernah pergi jauh-jauh keliling dunia hanya untuk mencari
makna kehidupan tapi dia malah menemukannya di tanah airnya sendiri, di acara
yang sederhana ini, dan dari orang yang baru ia kenal malam ini.
Yoriko
memakan cake porsinya dalam diam. Walaupun dia merasakan kenikmatan dari
setiap potongan kuenya, dia tetap merasakan sebuah kehambaran.
Karena
ia sendirian, di tengah-tengah orang-orang yang sedang bersuka cita untuk suatu
hal yang tidak akan pernah ia dapatkan di dalam hidupnya…
***
Pesta
terus berlangsung sampai jam 10 malam, acara benar-benar selesai ketika Yukio
sudah menangis dan rewel saat diajak Aya untuk bermain mobil-mobilan hadiah
dari Kai di ruang TV. Avaron pun menggendong Yukio dan menina bobokan putranya
di pelukannya dengan perlahan-lahan sampai Yukio diam.
Yoriko
hanya diam saja dan merasa yakin dia pasti pernah diperlakukan seperti itu oleh
ibunya. Setidaknya, sebelum dia dibuang. Yang dia lakukan daritadi hanya
membaca koleksi buku dari lemari ruang TV milik Avaron sampai ia sadar kalau
waktu sudah larut. Sesekali memperhatikan Shou Kohara sedang berbincang-bincang
tentang topik yang Yoriko tidak mengerti dengan Kai di seberang tempat ia
duduk.
Sekalinya
dia memperhatikan, dia tidak bisa berhenti. Pandangannya terus tertuju pada
pria yang sangat mencerminkan Spencer Williams. Yoriko sadar kalau sekarang di
balik sikapnya yang terlihat sangat wajar dan sedang membaca buku ini dia
kembali lagi ke dunia imajinasinya. Dia menjadi delusional lagi.
Kalau
dia bisa, dia ingin sekali menghampiri Shou dan bertanya pada tentang berbagai
hal. Tapi entah mengapa dia merasa dia tahu betul bagaimana Shou akan bereaksi
nanti padanya. Mungkin karena dia terlalu menduga atau berharap sifatnya akan
sama seperti Spencer yang sangat dingin dan kasar di depan orang asing seperti
sikapnya pada Judy Hunters di pertemuan mereka yang pertama.
Ketika
Yoriko kembali ke dunia khayalannya, dia menempatkan dirinya sebagai Judy.
Namun ia menyangkalnya. Karena dia merasa Judy lebih berani daripada dirinya. Judy
akan melawan ketika Spencer memperlakukannya dengan kasar. Judy akan membantah
dan membuktikan kalau dia mampu ketika Spencer meremehkannya. Jauh berbeda
daripada Yoriko. Maka dari itu, dia sama sekali tidak mempunyai keberanian
untuk mendekati Shou.
Karena
Yukio yang menjadi pusat perhatian sudah capek, Aya memutuskan untuk pulang. Lagipula
dia dan Yoriko juga harus bekerja keesokan harinya. Disaat yang sama mereka
berpamitan, Shou juga melakukan hal yang sama. Tapi Shou berpamitan dengan
sangat cepat dan berlalu begitu saja dari mereka setelah dia mengucapkan salam
perpisahan sekilas kepada semua orang, tanpa sedikit pun memberikan senyuman
atau basa-basi sedikit.
“aku
jadi heran. PSC meracuni dia dengan apa sih sampai dia seperti itu?” dengan
kesal Aya melipat tangannya di depan pintu depan setelah Shou menghilang di
baliknya.
“entahlah.
Beberapa tahun ini dia berubah dalam sekejap menjadi seperti raja es seperti
itu…” Kai saja yang sering satu gedung dengannya tidak
mengerti.
“hah…
ya sudahlah…” Aya berusaha untuk melupakan kekesalannya dan mengambil mantel
miliknya yang tadi digantung di hanger dekat pintu untuk dia kenakan.
“terima
kasih, Aya dan Yoriko.” Kata Avaronn dengan Yukio masih di dalam dekapannya.
“ya.
Terima kasih…” timpal Kai. “kalian memeriahkan acara ini. Dan untuk kau,
Yoriko. Rasanya aku jadi ingin menambahkan alunan tin whistlemu untuk lagu
kami. Bagaimana kalau kau datang ke studio kami? Nanti akan kukabari…” kata Kai
pada Yoriko.
Yoriko
bersedia. Tidak ada salahnya ia menyanggupi. Siapa tahu dia akan mempunyai kesempatan
untuk berjumpa lagi dengan Shou Kohara.
Ketika
mereka baru membuka pintu, Aya tiba-tiba menepuk dahinya dan dengan setengah
berteriak berkata, “aduh! Syalku dimana, ya? Tadi kan aku memakai syal kesini!”
Aya tidak menemukan syal pink yang tadi dia pakai di lehernya.
“kau
taruh dimana?” Avaron tidak menemukan apa-apa lagi di gantungan mantel. “sayang,
kau bawa Yukio ke toilet, ya… dia harus menyikat giginya dulu sebelum tidur.”
Avaron memberikan Yukio ke Kai agar dia bisa membantu Aya untuk mencari
syalnya.
“tunggu
sebentar, ya…” Kai permisi pada Yoriko yang berdiri terpaku di ujung teras rumah
untuk pergi ke toilet sebentar. Yoriko mengangguk pelan.
Karena
tidak tahu apa yang sebaiknya dia lakukan untuk menunggu orang-orang kembali,
dia melihat-lihat taman rumah ini yang ada di sekitarnya. Tidak banyak yang
ditanam di taman ini. Hanya rumput yang hijau karena sekarang sedang musim semi
dan pohon sakura di pojok taman sudah mulai berkembang.
Yoriko
melangkahkan kakinya ke gerbang rumah yang terbuat dari dinding dan tidak
diberi pintu pagar di jalan masuknya. Dia melihat sosok Shou Kohara sedang
berjalan beberapa puluh meter dari tempat Yoriko berdiri menuju tempat dia
memarkir mobilnya di ujung jalan (karena jalan di daerah rumah Avaron dan Kai
adalah daerah bebas parkir dan Kai tadi pulang dengan menumpang mobil Shou).
Yoriko heran. Rasanya dia sudah pergi cukup lama tapi kenapa dia baru sampai
disana?
Dari
cara Shou berjalan, Yoriko bisa melihat sedikit penyesalan dan rasa sakit itu
lagi. dia berjalan dengan kepala tertunduk dan sesekali kakinya menendang
batu-batu kecil yang ia temukan saat ia berjalan.
Cahaya
lampu jalanan menyinari tubuh pria yang sekarang berbalut jaket kulit seperti
milik Yoriko di balik kaus putih yang tadi ia lihat. Rambut cokelatnya
berantakan karena tertiup angin (atau karena dia tadi terlalu banyak menggaruk kepalanya).
Pemandangan
itu membuat Yoriko mengambil kamera DSLR miliknya. Dengan cepat dia mengatur
ukuran ISO dan shutter
speednya lalu mengarahkan
lensa kamera ke arah pria yang tidak sadar dia kalau dia sedang difoto.
Lalu dia
melihat hasilnya. Dia senang karena bisa menangkap perasaan orang itu di dalam
foto itu. Dan mungkin, hanya dia saja yang bisa merasakannya. Bisa jadi, hanya
Yoriko yang tahu kalau dia memotret foto ini.
“hei.
Maaf lama…” Aya dengan segera muncul dari pintu dengan syal yang sudah dia
temukan. Begitu Aya muncul, Yoriko langsung memasukkan kameranya lagi ke dalam
tasnya.
“kau
menemukannya dimana?” tanya Yoriko sambil melihat ke arah syal yang Aya pegang
di tangannya.
“di
ruang TV. Di dekat kotatsu. Aku baru ingat kalau aku terus mengenakannya di
ruang makan dan melepasnya saat pindah ke ruang TV. Bodoh sekali…” Aya mengatai
dirinya sendiri. Yoriko tertawa kecil mendengarnya.
“nah,
sudah selesai.” Kata Aya setelah ia melingkarkan syal itu lagi ke lehernya.
“ayo pulang.” Ajak Aya.
Dalam
perjalanan mereka di kereta, Yoriko terus mendengarkan cerita-cerita Aya
tentang seberapa cepatnya Tokyo berubah dengan menunjukkan beberapa
gedung-gedung yang muncul yang dibangun selama Yoriko pergi. Yoriko
dengan perhatian mendengar setiap cerita Aya.
Tapi
pikirannya tetap terpaku pada Shou Kohara. Tidak, Yoriko tidak menyukainya atau
semacamnya. Shou Kohara hanya benar-benar mirip sekali dengan Spencer Williams,
tokoh yang sangat Yoriko ‘cintai’ di dunia khayalannya. Hanya itu.
Yoriko
jadi teringat potongan kutipan kata-kata dari Ernest Hemingway, “ketika menulis
sebuah novel seorang penulis harus membuat orang yang hidup; bukannya
karakter…”
Yoriko
tidak tahu harus merasa apa. Karena bagaimana dia seharusnya merasa ketika
orang yang dia ‘buat’ benar-benar hidup dalam wujud seorang sosok bernama Shou
Kohara?
No comments:
Post a Comment