4
Di hari keduanya bekerja, Yoriko
datang lebih awal ke petshop. Dia yang sudah memegang kunci pintu toko dari
Avaron langsung masuk ke dalam dan menemukan petshop dalam keadaan sepi. Atasannya
belum datang, mungkin dia datang nanti siang setelah mengurus rumah dan Yukio
lebih dulu.
Seperti yang dia lakukan kemarin, dia
membersihkan lantai petshop terlebih dulu. Lalu dia membersihkan kandang Alen
dan Boo. Tidak lupa dia memberi makan mereka juga ke peliharaan lain. Dia juga
sudah memastikan aliran udara di akuarium mengalir dengan baik, mengecek apa
kandang-kandang hamster masih memiliki cukup air, dan mengatur stock barang
sebelum dia mengganti papan tanda toko di jendela menjadi ‘open’.
Tahu kalau dia akan sendirian selama
beberapa lama, Yoriko masuk ke meja kasir dan mengeluarkan laptop dari tas
ransel hitamnya. Laptop apple tipis yang juga berwarna hitam. Yoriko sangat
memuja warna hitam dan putih. Kedua warna itu tidak bisa dipisahkan dari
dirinya. Dia sudah mengenakan warna itu sejak dia berusia 13 tahun. Dia sudah
menyukai aliran gothic dari dia pertama kali membaca majalah Cure dan majalah
gothic saat dia tinggal di luar negeri. Dia menyukai karya seni gothic seperti
Jasmine Becket-Griffith, Victoria Francés, Nathalia Suellen dan masih banyak
lagi. Penampilannya selalu terlihat rebel atau gothic.
Dia mempunyai kemampuan melukis dan
menggambar sketsa selain menulis. Namun dia lebih memilih menonjolkan kemampuan
menulisnya dan menyimpan kemampuan hebatnya di menggambar hanya untuk dirinya
sendiri. Karena ketertarikannya pada seni, Yoriko akhirnya menyukai dunia
fotografi. Dia selalu menangkap keindahan kehidupan yang dia temui dengan
kamera DSLR kesayangannya. Sudah tidak terhitung berapa jumlah foto yang tersimpan
di laptop Applenya itu.
Dia menyalakan laptop dan menulis
lagi. Dia sudah tidak sabar ingin melanjutkan petualangan Judy dan Spencer.
Semalam dia tidur jam 12 dini hari karena berusaha menyelesaikan bab
keempatnya. Di bab keempat itu sudah masuk adegan dimana Judy memulai
penyelidikannya di balik meja kerja demi mendapatkan kepercayaan dari Spencer
agar ia bisa terjun ke lapangan.
Sekarang dia memulai bab kelima. Di
bab kelima ini Yoriko ingin sekali memasukkan adegan sedikit menyentuh dan
tidak berhubungan dengan kasus dan pekerjaan mereka. Sebuah adegan sederhana
namun membuat hati Spencer sedikit luluh dan mulai membuka dirinya untuk Judy.
Namun dia belum mendapatkan inspirasi. Dia mengalami writer’s block lagi.
Yoriko menggerutu pelan. Dia berdiri
dari duduknya dan berjalan mondar-mandir, berusaha mencari inspirasi yang
bagus. Walaupun Yoriko sudah menemukan akhir bagus untuk ceritanya, tetapi lain
cerita dengan adegan kecil ini.
Yoriko terus mondar-mandir sambil
memejamkan matanya. Mulutnya mengucapkan kata-kata tidak jelas namun
membantunya mengeluarkan imajinasi dari pikirannya. Dia terus melakukannya
sampai dia mendengar suara rintihan pelan, tepat di depannya. Kakinya yang
memakai sepatu boot gothic bersol tebal menginjak kaki seseorang.
“aw!” rintihan itu membuat Yoriko
membuka matanya. Teman prianya yang kemarin muncul lagi di hadapannya.
“darimana kau bisa masuk?” tanya
Yoriko. Temannya itu masih mengenakan pakaian sama seperti kemarin, penampilan
fisiknya juga tidak jauh berbeda.
“petshop sudah dibuka. Berarti aku
bebas untuk masuk, bukan?” jawab temannya sambil menunjuk pintu masuk.
“lalu kenapa kau mengendap-endap lalu
muncul begitu saja? aku kan sampai kaget, tahu.” Yoriko kembali menegur
temannya yang ceroboh ini.
“karena kau terlalu berkonsentrasi
membayangkan adegan untuk novelmu.” Si pria membela dirinya. “ngomong-ngomong
kau sudah sampai bagian mana? Aku mau membacanya.” Dia membungkukkan badannya,
melihat layar laptop Yoriko yang memperlihatkan naskah Judy.
“nanti saja kalau aku sudah selesai
menulisnya.” Yoriko menarik temannya agar dia tidak bisa melihat lagi.
“yah, kenapa?” temannya merengut
kecewa.
“karena kau pasti akan mengoceh tanpa
henti kalau kau membaca setiap bab yang kutulis, membuatku menjadi tidak bisa berkonsentrasi
untuk menulis bab berikutnya.” Yoriko menjelaskan.
“oh... oke...” dia melipat tangannya
di dada dan berpikir sejenak. “kau tidak pernah memanggil namaku sejak kau
disini. Kenapa?”
“karena kau sering menyuruhku
memanggilmu dengan nama buatanmu yang selalu berubah. Sekarang kau ingin aku
memanggilmu apa, huh?” Yoriko melirik ke temannya.
“hmm... bagaimana kalau Hitomu?” temannya
sudah memutuskan namanya dengan cepat. “kita kan ada di Jepang sekarang. Lebih
baik aku pakai nama Jepang saja.”
“baiklah... Hitomu...” Yoriko
menganggukkan kepalanya. “kenapa harus nama Hitomu?”
“aku suka saja. aku melihatnya saat
aku dalam perjalanan kemari. Nama itu ada di salah satu papan iklan produk yang
aku tidak ingat.” Hitomu menjawab.
“oh. Sekarang bagaimana kalau kau
pergi dulu? Aku ingin menulis lagi.” Yoriko meminta Hitomu pergi.
“eeeh? Kenapa? Petshop kan masih
sepi, kenapa kau tidak bermain denganku saja dulu? Ayolah...” Hitomu
menarik-narik lengan Yoriko.
“aku tidak bisa. Kau bisa bermain
sendiri, kan?” Yoriko sangat sabar menghadapi temannya yang kekanakan ini.
“tidak seru kalau tidak ada kau,
Yoriko-chan.” Desak Hitomu.
“Hitomu, petshop tidak bisa kutinggal
begitu saja karena hanya ada aku yang bertanggung jawab disini.” Yoriko
menjelaskan situasinya. “jadi kita tidak bisa keluar begitu saja.”
“hh... baiklah...” Hitomu akhirnya
mengerti. “tapi kalau kau sudah selesai bekerja, kita akan jalan-jalan.
Bagaimana?”
Yoriko mengiyakan. “tapi tidak sampai
lebih dari jam 8 malam. Aku harus pulang dan menemani Aya membuat makan malam.”
“oke.” Hitomu tersenyum polos. “oh
ya, kenapa kau sendirian? Atasanmu yang cantik itu tidak datang?”
“dia mungkin datang nanti siang. Dia
kan atasan, mempunyai rumah dan keluarga yang harus diurus terlebih dulu.”
Jawab Yoriko.
“apa? Dia sudah menikah, ya?” Hitomu
memasang ekspresi kecewa lagi. Tapi kali ini ekspresi kecewanya tidak terlihat
seperti anak kecil, rasa kecewa yang dia rasakan sangat berbeda. Yoriko bisa
ikut merasakannya juga, namun dia tidak terlalu peduli.
“ya. Sayang sekali, teman...” Yoriko
menepuk pundak Hitomu untuk memberi semangat. “ayolah, jangan hanya karena
wanita kau jadi lemas begitu.”
“padahal dia cantik sekali...” Hitomu
berkata lirih. Matanya menerawang ke arah lain. “aku menyukainya.”
“ya, ya... wanita cantik pasti selalu
dimiliki orang lain.” Kata Yoriko sambil kembali menulis.
Kemudian seorang wanita memakai
mantel cokelat bersepatu flat masuk ke dalam petshop. Dia membawa tas dokter
berwarna hitam. Dokter itu menyapa Yoriko.
“selamat pagi, Yoriko-chan.” Sapa
dokter Inoue.
“selamat pagi, dokter.” Jawab Yoriko
ramah. Dia menghentikan kegiatan menulisnya sejenak dan keluar dari meja kasir.
“ada yang bisa kubantu?”
“tidak usah. Kau kembali saja
bekerja, aku bisa tangani sendiri semuanya.” Dokter Inoue dengan halus menolak.
“ngomong-ngomong, penampilanmu cukup luar biasa untuk menyambut pagi hari yang
cerah ini...” dokter Inoue melihat Yoriko dari atas sampai bawah. “kau tidak
ingin pergi ke pemakaman atau sekolah penyihir, kan?”
Di atas sepatu boot gothicnya yang
berkaos kaki hitam, Yoriko memakai kemeja putih dengan kalung salib manik-manik
hitam panjang dan rok lipit selutut berwarna hitam. Dan seperti biasanya,
Yoriko selalu mengenakan dandanan smoky eyes namun hari ini dia memakai lipstik
merah menyala.
“ngg... kurasa tidak. Hanya ini yang
bisa kutemukan dari peti matiku tadi pagi. Hehe...” Yoriko menyambut candaan dokter Inoue dengan lelucon
juga.
“bisa kulihat kau orang unik,
Yoriko-chan. Pertahankan itu.” Dokter Inoue memuji Yoriko sebelum dia pergi ke
ruang prakteknya yang sekarang ada di lantai atas petshop.
Yoriko hanya mendesah dan tersenyum
sendiri sepeninggal dokter Inoue. Ternyata ada juga orang yang menganggapnya
seperti itu. Apalagi yang mengatakannya adalah seorang dokter yang selalu
bersikap rasional.
***
Yoriko selesai bekerja sekitar pukul
3 sore. Setelah berpamitan pada Avaron yang sudah datang dan Aya yang baru
datang dari kampus, Yoriko keluar dari petshop. Dia memutuskan menjelajahi
Tokyo kembali setelah sekian lama dia meninggalkan kota berpenduduk sangat
padat ini.
Yoriko pergi ke daerah Shibuya, salah
satu distrik kota Tokyo yang termasuk salah satu distrik terpadat. Disana
adalah pusat makanan dan fashion yang dipenuhi oleh anak-anak muda Tokyo.
Walaupun Yoriko sudah berusia lebih dari 25 tahun, dia masih berjiwa muda.
Terbukti dari gaya berpakaiannya yang tidak Yoriko sangka tidak berbeda jauh
dari sebagian anak muda yang memadati Shibuya sore ini.
Karena lapar, dia pergi ke Dogenzaka,
tempat dimana dia menemukan beberapa restoran kelas menengah sampai atas
disana. Dan restoran-restoran disana memberikan menu yang tidak biasa. Yoriko
yang masih terbiasa dengan makanan khas Indonesia, sedikit bergidik saat
melihat foto-foto menu makanan yang bahannya sedikit menggelikan. Harga
makanannya juga selangit, diatas 1000 yen seporsi.
Saat ia nyaris mengurungkan niatnya
untuk makan di daerah itu, dia menemukan sebuah restoran di dalam sebuah
gedung. Namanya menarik perhatian Yoriko. Christon Cafe. Namanya terdengar
sangat Kristen dan jangan-jangan...
Mengikuti insting gothicnya, Yoriko
masuk ke dalam gedung dan mendatangi restoran itu. Benar dugaannya. Christon
Cafe sepertinya akan menjadi tempat favoritnya karena restoran ini bernuansa
gothic sekali.
Saat dia masuk, dia merasa seperti
memasuki sebuah kapel atau gereja. Jalan di depannya seperti sebuah altar.
Hiasan salib banyak sekali di sekitar restoran. Kandil lampu yang memiliki
banyak gantungan salib yang sangat besar sebagai hiasan langit-langit restoran
yang juga memiliki banyak lukisan bergaya klasik. Seluruh interiornya tentunya
bernuansa gothic juga. Tirai-tirai berwarna merah di dinding-dinding restoran,
setiap meja memiliki lampu lilin menggantung.
Pelayan restoran yang ada di pintu
masuk menyapa Yoriko sangat ramah. Mungkin karena penampilan Yoriko sekarang
yang cocok sekali dengan suasana restorannya. Yoriko memesan meja untuknya
kepada pelayan itu. Kemudian pelayan wanita itu mengantarnya ke dalam restoran
sampai ke bagian restoran yang ditutupi oleh tirai berwarna merah darah untuk
memberi suasana privat. Saat Yoriko masuk, dia semakin menunjukkan kekagumannya
pada restoran ini. dia bisa melihat altar Bunda Maria disana, benar-benar
bernuansa gereja dan gothic.
Yoriko adalah seorang Katolik karena dia
dibaptis di Eropa, jadi interior restoran ini sangat merasuk di dalam hatinya,
terlebih ketika dia melihat patung Bunda Maria dan salib. Walaupun dia Katolik,
dia lebih suka menyembunyikan keyakinannya di depan orang banyak. Karena dia
tahu hal seperti itu adalah menyangkut pribadi masing-masing.
Setelah dia mendapatkan tempat duduk,
dia langsung memesan makanan. Menu pilihannya adalah grilled salmon steak
dengan mushroom cream sauce dan cappucino gelato untuk minumannya. Yoriko tahu
makan di restoran seperti ini tidaklah murah, tapi untuk mendapatkan suasana
favoritnya yang disajikan restoran ini, dia rela membayar berapapun.
Kurang dari setengah jam, pesanan
Yoriko akhirnya datang. Steak salmon dan cappucinonya siap tersaji di depannya,
dia berdoa sebentar dengan cara Katolik sebelum makan. Dia makan perlahan dan
bersikap bak seorang bangsawan drakula dari film-film horror yang sering dia
tonton.
Tanpa Yoriko sadari, caranya berdoa
dan makan menarik perhatian orang-orang yang duduk di sekitarnya. Yoriko
menyatukan tangan dan menggenggamnya erat, lalu menundukkan kepalanya dan
mengucapkan doa dalam hati. Bagi mereka cukup menarik juga untuk seorang gadis
yang mengenakan pakaian ala gothic. Kalau saja Yoriko tidak mempunyai wajah
khas Jepang, mungkin mereka akan mengira Yoriko adalah orang asing atau gadis
taat agama dari gereja.
Saat makanan utamanya sudah tersisa
setengah, Yoriko menyadari kalau dia tidak makan sendirian. Dia melihat Hitomu
duduk di depannya, menyantap hidangan sama seperti milik Yoriko.
“kau jahat lagi, kenapa kau meninggalkan
aku? Aku tadi kan hanya membeli figur anime di toko sebelah.” Tanya Hitomu.
Yoriko tidak menjawab. Wanita itu
sibuk menatap penampilan Hitomu dari atas sampai bawah. Penampilannya bergaya
sama seperti Yoriko, Hitomu mengenakan setelan jas hitam dan rambut cokelatnya
yang tadi berantakan terlihat lebih rapi dan berkilau. Cara Hitomu makan
membuat Yoriko terpukau karena Hitomu sekarang seperti orang kerajaan yang
mempunyai manner yang terbaik, seakan keanggunan dan keluwesan itu sudah dia
miliki sejak lahir. Yoriko jadi lupa pada salmon lezatnya dan krim jamur yang
tadi memanjakan lidahnya. Dia tidak bisa berhenti menatap Hitomu.
“kenapa kau terus melihatku? Apa aku
tampan? Apa aku membuatmu terpukau?” tanya Hitomu yang sadar kalau Yoriko terus
melihatnya.
Yoriko langsung menggerutu dan tidak
jadi menyampaikan kekagumannya pada Hitomu. Ternyata sikap narsis dan arogannya
tidak berubah. “tidak, tidak apa-apa.” hanya itu jawaban Yoriko.
“kau belum menepati janjiku, kau
harus menemaniku jalan-jalan keliling Tokyo.” Hitomu menagih janji yang
diberikan Yoriko.
“memangnya kau ingin kemana?”
“hmm... biar kupikir sebentar...”
Hitomu menaruh pisau dan garpunya di sisi piring dan berpikir. “kita ke
Roppongi saja! kudengar disana ada banyak bar dan pusat perbelanjaan!”
“apa bar yang kau maksud itu klub
yang ada wanita telanjangnya?” Yoriko sudah sangat bisa menebak pikiran Hitomu.
“eh? Darimana kau tahu itu?” Hitomu
berpura-pura kaget dan memasang wajah polos.
“tentu saja. Hidungmu kembang kempis,
pipimu memerah, dan aku bisa melihat matamu menerawang membayangkan kesenangan
melihat para wanita itu menari erotis untukmu. Kalau kau ingin kesana, silakan.
Tapi aku tidak mau ikut.”
“huh...” Hitomu mencibir dan
penjelasan Yoriko barusan menyadarkan pria itu untuk berlatih menyembunyikan
muka mesumnya lain kali. “memangnya kau ingin kemana?”
“aku penasaran, kira-kira di kota ini
ada gereja atau tidak, ya? Aku ingin kesana.” Yoriko mendesah. “sudah lama aku
tidak pergi ke gereja untuk misa dan berdoa...”
“nanti kita cari sama-sama saja.”
“kupikir kau ingin pergi ke bar.”
“tidak jadi. Lebih baik aku duduk di
sampingmu di bangku gereja dan menemanimu berdoa. Lagipula Tokyo kan kota yang
sangat ramai. Aku juga butuh ketenangan.” Hitomu memberikan alasannya.
“ya sudah. Setelah ini kita pergi
mencari gereja, tapi tidak pergi ke bar-yang-ada-wanita-telanjangnya.
Mengerti?”
“baik!” jawab Hitomu sigap sebelum
dia kembali makan.
***
Menurut buku panduan wisata yang baru
saja Yoriko beli dari toko buku seusai makan siang di Criston Cafe, ada satu
katedral yang letaknya di Ikebukuro. Katedral St. Mary namanya. Yoriko sangat
menyukai alat musik organ berukuran sangat besar yang biasa ada di
gereja-gereja. Buku panduannya menunjukkan foto organ di katedral tersebut. Hal
itulah yang membuat Yoriko bersemangat pergi kesana.
Dia turun dari kereta di stasiun
Mejiro, lalu menaiki bis umum. Dia turun di depan katedral. Mulut Yoriko
menganga kagum lalu tersenyum senang saat melihat kemegahan gedung katedral
tersebut. Menurut buku panduan, struktur katedral ini terdiri dari delapan
dinding melengkung yang hampir tegak lurus dan membentuk salib besar. Atapnya
yang berbahan stainless steel yang membuatnya berkilauan ketika terkena cahaya
matahari menyimbolkan cahaya. Cahaya dari Yesus yang menyinari dunia dan hati
manusia. Tanpa basa-basi, Yoriko langsung berlari masuk ke dalam melalui
gerbang utama.
Suasana katedral itu sepi. Hanya ada
beberapa orang pastur yang baru keluar dari katedral menyapa Yoriko dengan
ramah. Dari wajah mereka yang segar karena selalu dekat pada Tuhan terlihatlah
kekaguman mereka pada penampilan Yoriko. Mereka langsung tahu Yoriko adalah
orang taat agama walaupun penampilan wanita itu terlihat seperti gadis-gadis
yang biasa ada di Shibuya atau Roppongi.
Sekali lagi Yoriko melihat denah
katedral di buku panduannya. Dia memutuskan untuk pergi ke altar katedral. Dan
lagi-lagi dia terperangah. Altar katedral sangat luas, karpet merah menyambut
Yoriko di pintu masuk, yang membimbingnya tepat di depan salib besar di ujung.
Bangku-bangku panjang berjejer rapi di sisi-sisi altar. Yoriko langsung menjaga
sikapnya dan mengambil tempat duduk 2 bangku dari depan.
Yoriko membentuk tanda salib di
tubuhnya dengan tangan sebelum dia menyatukan kedua tangannya untuk berdoa. Dia
menyampaikan rasa syukurnya pada Tuhan karena sudah memberinya sahabat baik
bernama Aya Goto, seorang atasan yang sangat murah hati karena sudah memberinya
pekerjaan bernama Avaron Yutaka, dan seluruh berkat yang dimilikinya saat ini.
Namun, di balik rasa syukurnya itu,
ada satu pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan pada Tuhan. Pertanyaan
tentang Shou Kohara. Kenapa Tuhan mempertemukannya pada pria yang sangat mirip
dengan imajinasinya sendiri? Yoriko bertanya apakah Dia memberikan suatu tanda
untuk Yoriko? Kalau seandainya Tuhan mengirimkan pria itu untuk kebaikannya,
Yoriko memohon kemudahan untuk bisa dekat dengan pria itu, apapun caranya.
“kalau Dia benar-benar mengirimkan
petunjuk untukmu, itu tugasmu untuk mencari tahu artinya, Yoriko...” Hitomu
kembali muncul di sebelah Yoriko. Dia ikut duduk dan menatap salib besar di
depan mereka.
“bukankah ini suatu kebetulan yang
aneh? Bertemu seseorang yang nyaris sama dengan orang di mimpi dan di cerita?
Terdengar agak mengerikan.” kata Yoriko.
“kenapa bertanya padaku? Kenapa tidak
tanyakan saja pada Dia?” Hitomu menunjuk salib dengan dagunya.
“aku sudah menanyakan padaNya. Semoga
Dia memberikan jawaban...” jawab Yoriko. “kau tahu tidak, saat kita kemarin
melihat dan mendengarkan Avaron-san dan Shou Kohara berbicara, aku jadi
teringat Spencer Williams dan Samantha Force. Mereka berdua mirip sekali
ceritanya di novelku.”
“oh, jadi nama si wanita cantik itu
Avaron, ya?” sekilas sebuah senyuman terlihat di wajah Hitomu sebelum dia
melanjutkan, “mungkin saja mereka adalah salah satu dari kebetulan yang aneh
itu.”
“dia sudah menikah, mempunyai anak,
tetapi Shou Kohara masih saja mencintainya. Dia masih belum bisa merelakan
Avaron-san. Aku bisa tahu itu dari cara dia menatap atasanku kemarin. Pandangan
matanya pada Avaron-san, memancarkan sebuah kerinduan dan kesedihan yang amat
sangat.”
“tapi bedanya, Samantha Force menikah
karena dijodohkan. Sedangkan Avaron-san menikah dengan Kai-san karena mereka
saling mencintai.” Yoriko menambahkan.
“mungkin bukan Shou yang dikirimkan
Tuhan untukmu, tetapi kaulah yang dikirim olehNya untuk Shou.” Kata Hitomu.
“Dia ingin kau menyelamatkan pria menyedihkan itu.”
“hah...” Yoriko tersenyum kecut
sambil menggelengkan kepalanya pelan. “sama seperti pemikiran Judy Hunters saat
menyadari kalau Spencer masih mencintai Sam...”
“bagaimana kalau semua ini memang
sudah takdir? Bagaimana kalau kau dan Shou Kohara benar-benar jodoh dan belahan
jiwamu?” Hitomu tidak berhenti meyakinkan Yoriko dengan teorinya.
“perkataanmu hampir sama seperti
perkataan Aya kemarin pagi. Tapi Hitomu, itu tidak mungkin. Dia berhak menerima
wanita yang lebih baik, dan aku yakin dia pasti bisa menemukannya. Dia kan
terkenal dan sempurna. Tidak ada yang sulit baginya.” Yoriko menentang pendapat
Hitomu.
“rasanya aku tidak perlu bilang kalau
perkataanmu barusan lebih terdengar seperti sebuah penyangkalan daripada fakta.”
Hitomu sedikit menyindir. “aku berani bertaruh, pasti tidak lama lagi kau akan
mendapat kesempatan untuk bertemu dia lagi.”
“kenapa kau bisa seyakin itu, huh?”
tantang Yoriko.
“disini gereja. Tidak ada yang tidak
mungkin.” Hitomu mengangkat bahunya dan kembali melihat salib. Pria yang masih
mengenakan pakaian sama saat di Criston Cafe itu lalu mengalihkan pandangannya
ke arah jalan menuju altar di sebelahnya. “aku jadi membayangkan dirimu
mengenakan gaun pengantin putih lalu berjalan melalui gang altar ini, menemui
pria yang akan menjadi suamimu.”
“haha... maksudmu, acara
pernikahanku?” Yoriko tertawa sarkastik. “Hitomu, satu-satunya acara gereja
yang menyangkut tentang diriku hanyalah acara dimana saat aku mengenakan gaun
hitam favoritku, mengenakan riasan pucat, dan aku tertidur di altar. Di dalam
peti mati.”
“kau pasti akan terlihat sangat cantik
mengenakan gaun putih sepanjang 5 meter seperti di dunia dongeng, Aya Goto
berperan sebagai pendamping pengantin wanitamu, dan anaknya Avaron sebagai
pembawa cincin pernikahanmu.” Hitomu sama sekali tidak menghiraukan sarkasme
Yoriko.
“memangnya Yukio-chan bisa membawa
cincin? Dia kan masih balita.” Yoriko menjawab secara realistis.
“hahaha... sudah kubilang, disini
gereja. Tidak ada yang tidak mungkin menurut Tuhan. Lagipula, kau kan yang
penulis. Masa kau tidak bisa mengkhayal sedikit soal itu?”
Yoriko diam. Dia tidak pernah bisa
memenangkan argumen melawan Hitomu. Temannya yang sejak kecil selalu
menemaninya kemanapun ia pergi sudah tahu Yoriko luar dalam. Dia adalah
semangat Yoriko, sahabat yang menghiburnya kalau Yoriko sedang bersedih,
sahabat yang bersikap konyol seperti anak kecil kalau Yoriko sedang gembira
atau kesal, dan juga seorang sahabat yang selalu memberinya keoptimisan,
seperti sekarang.
“kita lihat saja nanti, apa aku
menikah atau tidak. Karena...” Yoriko berdiri dari bangku kayu panjang tempat
dia duduk. “hanya Tuhan yang tahu...”
Hitomu ikut berdiri. “kau ingin pergi
kemana?”
“berkeliling katedral ini.” Yoriko
mulai melangkahkan kakinya keluar dari katedral.
“hei, kau mau pergi ke The Grotto of
Lourdes?” ajak Hitomu. “letaknya masih di sekitar katedral ini.”
“The Grotto of Lourdes? Dimana?”
Yoriko berbalik, dia mengangkat alisnya.
“kau tidak memperhatikan saat masuk
kesini tadi? Tempatnya persis di depan sana.” Hitomu menunjuk pintu katedral
yang terbuka lebar. “kalau kau menginginkan ketenangan dan merenungkan petunjuk
dari Tuhan, lebih baik kita kesana saja.”
***
Sekitar 150 tahun yang lalu, di
Lourdes, sebuah desa kecil di Perancis, Perawan Maria mendatangi gadis muda
bernama Bernadette, dan banyak keajaiban lain ikut muncul saat kemunculanNya.
Didedikasikan untuk sang Perawan Maria, gua yang sama ukurannya di Lourdes
didirikan di daerah sekitar katedral St. Mary, yang sekarang dikunjungi oleh
Yoriko.
Tempat itu sangat tenang, replika gua
kecil itu diberi patung Bunda Maria dan dibatasi oleh pagar. Sekitar gua adalah
pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk, sehingga orang bisa betah
berlama-lama disana. Di depan gua itu diberi bangku-bangku kayu berjejer
seperti di dalam katedral. Yoriko duduk disana, memandang Bunda Maria dengan
penuh rasa hormat. Sekujur tubuhnya bergetar, lemah karena membayangkan
kelembutan hatiNya yang bisa dia rasakan hanya dengan menatap patungNya.
Angin musim semi yang lembut menerpa
rambut hitam Yoriko yang terurai, seakan Dia membalas ‘sapaan’ dari Yoriko.
Yoriko sudah sering mengunjungi Gua Lourdes seperti ini saat traveling ke
Eropa, dan ketika dia sadar dia sudah lama tidak mengunjungi tempat suci ini,
dia menjadi rindu akan tempat ini.
“memang, tempat ini tidak akan pernah
membuat kita bosan walaupun sudah kita kunjungi berkali-kali...” kata seorang
wanita yang tahu-tahu sudah duduk persis di samping Yoriko.
Yoriko menoleh. Wanita itu adalah
seorang berambut merah, wajahnya putih bersih dan terpancar dari dalam dirinya,
seakan wanita itu tidak memiliki sedikitpun dosa. Rambut merahnya melambai
indah, memperlihatkan senyuman tercantik yang belum pernah Yoriko lihat
sebelumnya. Dia memakai gaun putih yang menutupi seluruh tubuhnya dari pundak
sampai mata kakinya. Sepasang sandal putih tipis menjadi pelindung kakinya yang
sempurna itu.
“kau sudah pernah mengunjungi tempat
ini sebelumnya?” tanya Yoriko, berusaha tidak menunjukkan rasa kekagumannya
pada wanita itu.
“belum. Baru hari ini aku mendatangi
tempat ini.” jawabnya. “dan aku langsung menyukainya.”
“aku juga.” Yoriko sependapat dengan
si wanita. “ini hari kedua aku berada di Tokyo, setelah sekian lama aku
meninggalkan kota ini.”
“bisa kulihat kau adalah orang yang
suka sekali berpetualang.” Si wanita melihat Yoriko. Matanya berwarna hijau
seperti zamrud, dari nanar mata indahnya itulah Yoriko tahu kalau wanita ini
menyimpan banyak sekali rahasia.
“begitulah. Aku... mencari sesuatu,
namun aku belum menemukannya dimanapun, bahkan setelah aku pergi ke ujung dunia
sekalipun.” Jawab Yoriko.
“apa kau bepergian sendiri atau
bersama orang lain?” tanya si wanita.
“sendiri. Tetapi sahabatku sejak aku
masih kecil selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, padahal aku sudah
menyuruhnya untuk tetap tinggal disini.” Yoriko membicarakan Hitomu. Sebuah
tawa kecil mengiringi ceritanya karena teringat kekonyolan sang sahabat.
“mungkin jawaban dari sesuatu itu
sebenarnya ada di dalam dirimu sendiri?” sang wanita memberikan jawaban berupa
teka-teki bagi Yoriko.
“maksudmu?” tanya Yoriko. “entah
kenapa, sahabatku itu juga mengatakan hal yang hampir sama seperti yang kau
katakan tadi.”
“kau sudah bepergian jauh sampai ke
ujung dunia, tetapi kau malah kembali ke tempat kau bermula. Apa kau tidak
bertanya pada dirimu sendiri apa arti dari tindakanmu itu?” pertanyaan wanita
itu membuat dirinya terhenyak.
“aku... kesini karena sahabatku yang
memintaku, dia bernama Aya Goto.” Yoriko menjawab sesuai logikanya saat ini.
“itu hanya ‘cara’ takdir menentukan
jalanmu. Bisa jadi kau akan menemukan hal lebih mengejutkan yang tidak akan
pernah kau bayangkan.” Katanya.
Yoriko yang masih bingung akan
penjelasan dari si wanita, ingin meminta penjelasan lebih jauh lagi. Namun
sebelum dia bisa melakukannya, handphone miliknya berdering sangat kencang dari
dalam tas ransel hitamnya yang ditaruh di bawahnya. Yoriko meminta izin pada
wanita itu untuk mengambil handphonenya dan mengangkat telepon itu.
“ya? Ada apa, Avaron-san? Bisa
saja... kapan? Malam ini? baiklah, aku akan segera kesana.” Kata Yoriko sebelum
menutup kembali teleponnya.
“wah, maaf. Tadi baru saja atasan
dari tempat kerjaku menelepon. Tadi kita sampai dimana?” kata Yoriko seraya
memasukkan handphonenya lagi ke dalam tas. Begitu dia melihat ke sebelahnya,
tempat dimana wanita itu tadi duduk, dia mendapat kekecewaan.
Karena sosok wanita itu sudah tidak
ada.
***
“kenapa kau tidak ingin ikut
minum-minum bersama kita malam ini, Shou?” tanya Tora, gitaris band Alice Nine
yang sekaligus menjadi sahabat Shou selama bertahun-tahun.
“aku sedang tidak ingin ikut. Itu
saja. aku lelah.” Jawab Shou enggan. Mereka dan 3 temannya dari band sama baru
saja menyelesaikan rencana pembuatan album baru mereka yang ternyata cukup
rumit. Mereka jadi harus pulang malam karena rapat menyebalkan itu di kantor
manajemen mereka.
“kalau tidak salah kemarin kau
memesan kucing di petshop milik Avaron. Kapan kucing itu datang?” tanya Hiroto.
Dia sedang membereskan barang-barang miliknya yang ada di sekitar ruang band
mereka yang luas dan nyaman.
“kata Avaron, malam ini dia akan
mengantarkannya. Makanya aku harus pulang.” Jawab Shou sambil melihat jam
tangan Nikenya. Entah sudah berapa kali dia terus-menerus melihat waktu yang
ditunjukkan jam tangan hitam itu sejak tadi siang.
“katanya kau tidak ingin mempunyai
hewan peliharaan. Kenapa kau sekarang berubah pikiran?” tanya Tora. Mereka
duduk berdua di atas sofa putih empuk di tengah ruangan.
“tidak kenapa-kenapa. Hanya ingin
saja.” jawab Shou pelan. Dia berdiri dan mengambil tas juga jaket miliknya yang
ditaruh di atas meja depan mereka. Setelah berpamitan pada keempat temannya
yang menatapnya heran dan bingung, dia meninggalkan ruangan.
Shou melangkahkan kakinya menuju
tempat parkir kantor dimana dia memarkirkan mobilnya. Begitu dia membuka kunci
mobil Toyota putihnya, dia masuk ke dalam terburu-buru. Dia membawa mobilnya
dari kantor yang terletak di pusat kota yang sangat padat menuju apartemen
elitnya di kawasan pinggir kota. Apartemen kelas atas itu dia beli setelah
karir bandnya sukses besar, gedung apartemen putih itu berlantai 25 dimana Shou
tinggal di lantai 20.
Setelah dia memarkirkan mobilnya lagi
di tempat parkir basement apartemen, dia naik ke lantai 20 melalui lift di
lobby apartemen. Sesampainya di lantai 20, dia berbelok ke kanan dari lift.
Lorong panjang berjendela yang menampakkan pemandangan malam kota Tokyo
disusuri oleh Shou. Dia berhenti di depan pintu bernomor 2011, pintu itu dia
buka dengan kunci apartemen miliknya.
Kegelapan menyelimuti tempat
tinggalnya saat dia membuka pintu. Dia memencet sakelar lampu di sebelah pintu.
Cahaya kuning terang benderang langsung menyinari apartemen luasnya.
Apartemen Shou tidak memiliki banyak
perabotan, mengingat dia malas menaruh apapun dan dia juga jarang berada di
rumah. Ruang tamu sekaligus ruang TV hanya memiliki sofa dan meja, TV LED,
seperangkat home theater, dan rak DVD. Menonton film hanyalah satu-satunya
kegiatan Shou untuk menghibur diri saat dia sedang berada di rumah.
Shou melemparkan jaket kulitnya
sekenanya ke arah sofa. Tas sudah ditaruh di kamarnya. Dia pergi ke dapur.
Dapur berfasilitas mewah itu nyaris tidak pernah dia manfaatkan. Shou tidak
ingat kapan terakhir kali dia menggunakan penghisap asap yang ada di atas
kompor listriknya untuk memasak, atau kapan dia berbelanja bahan makanan di
supermarket seperti layaknya orang normal. Dia hanya ingat saat dia pergi ke
minimarket di lantai dasar apartemen ini, membeli banyak sekali makanan
microwave. Makanan instan yang sekarang dia ambil itu berada di antara soda,
air mineral, es krim, dan kue. Shou membuka kemasan makanan microwave itu
sebelum dia memasukkannya ke dalam microwave.
Sembari menunggu microwave
berdenting, Shou pergi ke ruang TV. Mengacak-acak rak DVDnya, mencari DVD baru
yang kemarin lusa dibeli. Dia memutuskan menonton film action barat yang baru
keluar tahun ini. Saat dia ingin memasukkan DVD itu ke dalam player, dia
mendengar bel pintu berbunyi. Shou melihat jam tangannya lagi. Pukul 10 malam,
cukup larut juga untuk seseorang datang ke rumahnya. Atau mungkin saja itu
kiriman dari petshop Avaron.
Shou berjalan cepat ke arah pintu
untuk membukanya. Dan saat ia membukanya...
Siapa?
Hanya kata itu yang terlintas di
otaknya. Dia kaget saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
Seorang wanita berpenampilan gothic.
Dilihat dari kerah putih yang menyembul di balik jaket bertudung abu-abunya,
wanita itu pasti mengenakan kemeja. Dia juga mengenakan rok pendek berlipit
selutut seperti rok seragam sekolah, dan sepatu boot gothic sol tebal berkaos
kaki hitam semakin membuat wanita itu terlihat nyentrik. Dia membawa tas ransel
di punggung dan sebuah carry bag di tangan. Dan rasanya, Shou pernah melihat
wanita ini di suatu tempat. Dia berpikir sangat cepat... oh ya, saat pesta
ulang tahun Yukio di rumah Avaron dan Kai. Tapi dia lupa namanya.
Tanpa membiarkan Shou bertanya lebih
dulu siapa nama wanita itu, si wanita malah lebih dulu bertanya, “ng... ini
benar apartemen milik Shou Kohara?” wanita berambut hitam legam lurus itu
mengeluarkan secarik kertas kecil bertuliskan alamat apartemen Shou dari saku
jaketnya.
“ya... kau siapa?” Shou mengerutkan
dahinya, masih merasa kaget karena wanita yang ternyata bersuara lembut dan
sedikit seperti anak kecil, tidak dibuat-buat. Sangat berlawanan dengan
dandanannya yang serba hitam dan sedikit menyeramkan itu.
“aku Yoriko Ishihara. aku diminta
oleh Avaron-san, atasanku, untuk membawa dia.” Dia menyerahkan carry bag hitam
yang dia bawa kepada Shou.
“ini kucing yang kupesan?” tanya
Shou. Yoriko mengangguk.
“kucing persia berbulu putih sesuai
pesananmu, Shou-san. Dan ini karung makanannya.” Yoriko menunjuk karung makanan
yang baru Shou sadari ada di sebelah wanita itu. “mereknya Whiskas, sesuai
pesananmu juga.”
“ah, ya... bawa masuk saja ke dalam.”
Kata Shou. Tanpa bertanya, Yoriko langsung mengangkat karung besar dan berat
itu sendirian, dia benar-benar bisa mengangkatnya. Wajah Yoriko menjadi tidak
terlihat saat wanita itu membawanya masuk ke dalam.
Shou menyuruhnya membawa karung itu
ke sebelah sofa di ruang TV. Setelah Yoriko menaruhnya, dia baru sadar kalau
dia belum melepaskan sepatunya saat masuk ke dalam ruangan.
Melihat wajah tidak enak Yoriko
karena itu, Shou berkata, “tidak apa. Terkadang aku juga tidak melepaskan
sepatuku.”
“oh...” Yoriko masih tetap canggung.
“ng... kata Avaron-san, kau harus membawa kucingnya ke dokter Inoue untuk
diperiksa dan diberi vaksin secara berkala. Lalu...” Yoriko mengeluarkan
secarik kertas surat penting yang harus ditandatangani Shou dari dalam tas
ranselnya. “tolong tanda tangan disini.”
Shou duduk di sofa agar dia bisa
menandatangi surat penerimaan itu di atas meja, namun dia tidak mempunyai
pulpen, dan dia juga lupa kapan terakhir dia menaruh alat tulis itu di apartemennya
sendiri.
Melihat Shou yang kebingungan mencari
pulpen, Yoriko memberikan pulpen miliknya. Pulpen hitam yang ujungnya mempunyai
boneka tengkorak. “ini. aku bawa pulpen.”
Sejenak Shou melihat pulpen aneh itu
sebelum mengambilnya dari tangan Yoriko. Dia harus menekan tengkorak itu agar
ujung penanya keluar. Pulpen yang lucu.
“kau sudah... memberikan nama untuk
kucingmu?” Yoriko melihat carry bag di dekat kaki Shou.
“belum. Aku belum memikirkan nama
yang bagus.” Jawab Shou datar dan dingin. Biasanya, orang lain akan merasa
tidak suka atau tersinggung kalau Shou menjawab dengan nada itu, namun Yoriko
tidak. Dia hanya diam saja dan sama sekali tidak merasa terganggu oleh itu.
“kurasa lebih baik kau
mengeluarkannya. Saat dalam perjalanan kemari dia tidak berhenti memintaku
membukakan pintu untuknya.” Yoriko membuka pintu carry bag. Lalu keluarlah
kucing berukuran sedang berbulu putih tebal nan halus. Kucing itu menatap
Yoriko dengan mata birunya sebelum mengeong pelan, sebagai tanda terima kasih
karena sudah mengizinkannya keluar dari carry bag yang sempit.
“aih, kucing lucu. Kau beruntung
sekali bisa memilikinya.” Yoriko berlutut ke lantai dan menangkap si kucing yang
melompat ke arahnya. Shou tertegun melihat betapa cepat kucing itu bisa akrab
dengan Yoriko, padahal Shou-lah majikannya.
“masa kau tidak bisa memikirkan nama
untuknya? Dia kan imut sekali.” Kata Yoriko.
“memangnya kau ada saran untuk nama
yang cocok?” tanya Shou sedikit kesal karena Yoriko mendesaknya.
“kenapa aku? Kau kan majikannya.
Kurasa tidak akan berkesan kalau orang lain yang memberinya nama.”
“sudah, sebutkan saja.” sekarang
giliran Shou yang mendesak.
“sejak di jalan tadi, aku terus
memikirkan nama Chirori. Dia terus menatapku dari dalam carry bag, tapi ketika
aku menatapnya balik, dia malah memalingkan wajahnya.” Yoriko memberikan sebuah
nama. Dia menurunkan si kucing dan menyuruhnya menghampiri Shou. “tapi jangan
terlalu dipikirkan. Itu nama yang bodoh.”
Shou diam saja. Lucu juga wanita ini
ternyata. Dia lalu merasakan si ‘Chirori’ mencakar pelan celana jeansnya,
meminta perhatian. Dia mengangkat ‘Chirori’ ke pangkuannya.
“oh ya, Avaron-san menitipkan salam
untukmu.” Yoriko teringat sesuatu. “kurasa dia sedang mengkhawatirkanmu.
Kalian... tidak ada masalah, kan?”
Shou masih diam, memandang Yoriko
dengan tatapan datar.
Yoriko akhirnya menyadari sesuatu
lewat tatapan mata itu. Ya, itu bukan urusannya. Dan dia bisa dibilang lancang
untuk bertanya seperti tadi. Dia langsung menggigit lidahnya dan meminta maaf,
“maaf, itu bukan urusanku.”
Shou jadi ingin tertawa saat melihat
Yoriko menggigit lidahnya tadi. Tetapi
karena dia sudah terbiasa bersikap dingin dan jahat di depan orang banyak, dia
bisa menahan tawanya dengan hanya memasang wajah dingin itu lagi.
Karena suasana semakin terasa
canggung, Yoriko berdiri. “dan satu lagi, kurasa kau tidak perlu memberinya
makan lagi malam ini. Dia sudah kuberi ikan salmon yang kubeli di toko ikan
saat perjalanan kemari. Maaf kalau aku lancang lagi karena sudah memberi makan
dia tanpa izin, tapi aku tidak tahan melihat wajah memelas Chirori saat
memandangi ikan itu di etalase.”
Shou terkejut. “kau memberinya makan
ikan salmon?” baru kali ini dia melihat ada orang yang mau menghabiskan uangnya
untuk memberi makan seekor kucing dengan ikan salmon, padahal dia saja masih
berpikir dua kali untuk membeli ikan seperti itu karena bahan makanan di Jepang
mahal semua.
“maaf!” spontan Yoriko membungkukkan
badannya berkali-kali karena terkejut melihat reaksi Shou. “kalau dia sakit
karena itu, beritahu saja aku. Aku akan membayar biaya pengobatannya.”
“ya, ya...” jawab Shou enggan. Dia
tidak tahu harus mengucapkan apa untuk wanita unik di depannya ini. Keunikan
dan kejutan-kejutan yang dibawa Yoriko malam ini yang membuatnya lupa akan kelelahannya
yang dia katakan pada teman-temannya, juga membuatnya tidak ingat kalau hari
ini sangat menyebalkan.
Sedangkan Yoriko hanya terus
menatapnya, mencari tahu apakah Shou marah padanya atau tidak. Dan keheningan
di antara mereka berdua berlangsung selama beberapa detik sebelum mereka
mendengar bunyi ‘ting’ dari dapur.
“oh, maaf... makananku sudah matang.
Jadi...” Shou mengatakannya dengan nada berantakan. Dia mengembalikan surat
penerimaan dan pulpen tengkorak ke Yoriko.
“ya, aku tahu.” Yoriko menerima kedua
benda itu lalu perlahan mundur, tahu dia harus pergi kemana. “maaf sudah
menyusahkanmu dengan datang malam-malam seperti ini. Selamat malam, jangan lupa
berdoa dulu sebelum makan.” Pesan Yoriko sebelum dia pergi keluar dari
apartemen.
Kepergiannya membuat suasana kembali
sunyi seperti setiap harinya Shou rasakan. Kecuali suara mengeong dari Chirori
untuknya. Pandangan dari mata birunya seakan menanyakan Shou kemana perginya
Yoriko.
“dia bukan majikanmu, tahu. Dia sudah
pergi, dan aku majikanmu disini.” Kata Shou galak. Chirori langsung tertunduk
dan berlari ke sudut ruangan, ke arah kasur kucing yang sudah disediakan oleh
Shou kemarin.
No comments:
Post a Comment