1
Taksi menurunkan Yori Ishihara di
depan sebuah apartemen kelas menengah ke bawah siang itu. Supir taksi membantu
wanita yang baginya berdandan cukup aneh itu menurunkan kopernya yang hanya
sebuah dari bagasi. Yori membayar ongkos taksi ditambah tip ke supir. Tapi
supir dengan sopan menolak tip dari Yori karena perusahaan taksi yang
ditumpangi Yori melarang bawahannya untuk menerima tip dari penumpang.
Baru
hari pertama sudah merasakan perbedaan kebudayaan barat dan Jepang, pikir Yori.
Kini taksi meninggalkan dia dengan tas ransel di punggungnya dan koper
berukuran sedang di tangannya.
Yori
mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Sebuah kertas yang dilipat kecil
yang ia buka perlahan-lahan. Tertulis sebuah alamat disana.
Lantai 2 nomor
23. Yori memastikan agar ia nanti tidak salah kamar. Kamar itu adalah kamar
milik salah seorang temannya yang ia kenal melalui internet. Karena temannya
itulah yang membuatnya kembali ke negara asalnya yang sudah lama ia tinggalkan.
Susah
payah Yori menaiki tangga apartemen karena koper dan tas ranselnya yang cukup
berat. Tapi karena dia sudah terbiasa mengangkut beban yang berat dia tidak
terlalu merasa lelah saat dia sudah sampai di ujung tangga.
Kamar
yang dimaksud ada di ujung lorong yang ada di hadapannya sekarang. Sambil
berjalan dia memperhatikan nomor-nomor kamar yang tertera di setiap pintu
apartemen yang ia lewati. Ia berhenti sampai ia menemukan nomor 23.
Walaupun
dia sudah di depan pintu, dia tidak langsung mengetuk atau memberi salam. Dia
menarik nafasnya dalam-dalam. Seumur hidupnya, dia baru pertama kali mempunyai
teman yang benar-benar seorang teman di dunia nyata. Selama ini,
orang-orang hanya berlalu lalang di hidupnya, mampir dan pergi begitu saja.
Tapi temannya kali ini berbeda, makanya dia sampai rela pergi jauh-jauh dari
negara tempat dia menetap sebelumnya untuk kembali kesini.
Dia
tidak ingin kesan pertamanya hancur karena kecanggungannya dalam hal berteman.
Dia tidak ingin menyakiti teman pertamanya di dunia nyata karena ketidak
mampuannya dalam bersosialisasi di dunia nyata. Atau setidaknya, itu menurut
pemikirannya.
Akhirnya
setelah diam beberapa lama ia pun mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
Tapi sebelum tangannya melakukannya, pintu sudah dibuka lebih dulu oleh
penghuninya. Penghuninya adalah seorang gadis yang usianya sama seperti Yori,
dan seperti dugaan Yori, gadis ini pasti seorang yang ceria. Dan ia benar.
“Yoriko?
Yoriko Ishihara?” gadis itu kaget bercampur senang saat melihat Yori ada di
hadapannya. Walaupun mereka belum pernah bertemu secara langsung
sebelumnya, tapi mereka pernah bertukar foto di internet.
“kau Aya
Goto?” tanya Yori.
“akhirnya
aku bisa bertemu denganmu juga, Yoriko!” Aya langsung memeluk Yori.
“Aya,
sebenarnya namaku Yori… bukan Yoriko… Yoriko adalah nama penaku.” Yori
menjelaskan.
“tidak
peduli. Bagiku kau tetap Yoriko.” Kata Aya cuek. “kau pasti capek karena naik
pesawat dari Indonesia ke Tokyo. Ayo, masuk.” Aya menarik Yori.
Aya
membantu Yori membawakan kopernya. Lalu menuntunnya ke ruang TV.
“jadi kita
berdua akan tidur di kamarku. Tenang saja, aku sudah menyiapkan
futon untukmu. Berapa hari kau akan tinggal disini?” tanya Aya sambil
menaruh koper Yori di sudut ruangan.
“ng…
rencananya aku…” Yori berusaha menjelaskannya dengan pelan agar Aya tidak
terlalu kaget. “aku memutuskan untuk tinggal disini. Mungkin permanen…”
Dia lalu
melihat Aya membuka mulutnya sebagai tanda kalau dia sangat kaget, tapi
kemudian tersenyum lebar dan langsung memeluk Yori sambil meloncat-loncat.
“yaay!
Kau akan tinggal disini!” seru Aya. “kenapa kau memutuskan untuk
tinggal disini?”
“yah…
aku rindu juga dengan negara asalku. Tampaknya Tokyo benar-benar berubah.”
Jawab Yori. “kalau di apartemen ini ada kamar kosong aku akan menyewanya.
Tentunya setelah aku mendapatkan pekerjaan.”
“aku
bisa mencarikan pekerjaan untukmu dalam waktu singkat.” Kata Aya. “aku bekerja
di petshop dan aku bisa berbicara dengan bosku apa dia bisa mempekerjakanmu
atau tidak.”
“oh…
boleh juga, kalau dia tidak keberatan.”
“nanti
malam aku akan pergi ke rumahnya. Menghadiri pesta ulang tahun kecil-kecilan putranya
yang berulang tahun keempat. Kau mau ikut?’’ ajak Aya.
‘’apa?
aku? Ikut?’’ Yori menunjuk dirinya sendiri. ‘’jangan,
jangan. Aku tidak ingin merusak pesta kalian dengan kedatangan orang asing
seperti aku.’’
“tapi
Yoriko…” bujuk Aya. “kalau kau berkenalan dengannya, dia pasti akan
mempekerjakanmu. Aku kenal dekat dengannya, kami sudah seperti saudara dan
anaknya juga sudah seperti keponakanku sendiri. Dia orangnya baik, jadi kalian
pasti akan langsung dekat.”
“memangnya
aku terlihat seperti orang baik?” tanya Yori.
“ya,
bisa kulihat begitu. Kau orang yang baik.” Jawab Aya yakin, seolah-olah dia dan
Yori sudah kenal sejak
ribuan tahun yang lalu.
“kenapa
kau terus memanggilku Yoriko?” Yori heran dengan tambahan ‘ko’ di belakang
namanya dari Aya.
“entahlah.
Aku hanya merasa nyaman saja memanggilmu begitu. Itu nama penamu, dan nama itu
tentu saja bagian dari dirimu karena kau adalah penulis.” Jawab Aya.
Yori
tersenyum mendengarnya. “benarkah begitu?”
Aya mengangguk
dengan semangat. “aku yakin atasanku pasti akan penasaran dengan karyamu. Dia orang yang
suka membaca. Apalagi sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah
karena dia sudah mempunyai anak dan suami.”
“oh…
baiklah… kau boleh memanggilku Yoriko.” Yori akhirnya
mengizinkan.
“yes!”
Aya memeluk Yori lagi. “aku tahu kau sekarang masih capek atau jet lag. Tapi
aku sangat ingin membaca karyamu. Kau tahu, yang pernah kau bicarakan
padaku di fanfiction community kita di internet. Tentang novel barumu itu.’’
‘’bisa
saja. Tapi aku baru sampai beberapa bab…’’ Yoriko mengeluarkan laptop dari tas
ranselnya.
‘’tidak
apa-apa. aku ingin tahu siapa Spencer yang sering kau bicarakan di internet.’’
Kata Aya tidak sabar.
***
Yori,
atau Yoriko adalah seorang penulis cerpen dan cerita bersambung yang sering
memasukkan karyanya di internet. Dia memasukkannya ke dalam situs khusus untuk
cerita fiksi. Nama akunnya yang juga menjadi nama penanya adalah Yoriko Izanami
cukup terkenal di kalangan penulis cerita fiksi di internet. Beberapa
orang mengagumi karya Yoriko dan salah satunya adalah Aya. Aya memberikan
komentar kekagumannya terhadap karya Yoriko di internet. Yoriko yang menghargai
setiap komentar dan kritik dari pembacanya, membalas komentar Aya dengan ramah
dan lama-kelamaan mereka pun berteman di akun sosial network lainnya. Seperti
Facebook, Twitter, dan Ameba.
Setelah
2 tahun dekat dan bersahabat di internet, Aya mengutarakan niatnya untuk
bertemu Yoriko suatu hari nanti. Yoriko berpikir tidak ada salahnya dia
menuruti keinginan Aya, karena Aya sudah menjadi sahabat pertamanya. Akhirnya
dia memutuskan untuk pergi dari Indonesia dan pergi ke Jepang.
Kehidupan
Yoriko selalu berpindah-pindah. Dia sudah pergi dari Jepang saat usianya masih
19 tahun. Awalnya dia pergi ke Perancis. Disana dia tinggal selama 2 tahun
untuk belajar menggambar dan bahasa perancis disana. Lalu dia ke Inggris. Di
Inggris, dia belajar menulis dan hobinya yang suka memotret tumbuh disana. dia
juga suka berjalan-jalan ke Irlandia selama dia di Inggris. Setelah 2 tahun menetap dia
memutuskan untuk pergi ke belahan dunia lain dan pergi ke Amerika. Di Amerika
dia hanya menetap selama setahun karena dia tidak terlalu menyukai kebudayaan
bebas, walaupun dia mempunyai pemikiran yang bebas sebagai seorang penulis.
Setelah itu ke Indonesia. Disana dia menetap dalam waktu yang paling lama
dibanding yang lain, yaitu 3 tahun, sebelum dia kembali ke Jepang.
Karena
wawasannya yang luas, dia jadi sering menulis cerita fiksi berlatar belakang
negara-negara tempat dia tinggal. tapi, meskipun dia sudah menjadi seorang
penulis di internet lama sekali, dia tidak pernah menerbitkan karyanya ke
penerbit untuk diterbitkan. Dan rencananya, dia akan mengirimkan “Judy”, novel
pertamanya yang sedang ia tulis dan dibaca oleh Aya sekarang ke penerbit. Dia
menulisnya dengan bahasa Jepang karena dia ingin novelnya diterbitkan disini.
Novel
“Judy” berkisah tentang seorang profiler muda yang bekerja untuk kepolisian
bernama Judy Hunters yang dimutasi dari New York ke sebuah kota kecil bernama
Grandfield. Disana dia bekerja sama dengan seorang temannya yang menjadi
komandan timnya yang menyebalkan dan jahil bernama Spencer Williams. Yoriko
menggambarkan Spencer sebagai seorang pria berambut cokelat, tampan, mempunyai
wajah mirip seperti orang Asia karena di silsilah keluarganya, kakeknya adalah
orang Jepang. Ya, Yoriko tidak bisa melepaskan negara asalnya di tulisannya
sendiri.
Yoriko
baru mencapai bab pertama karena dia menulisnya saat dia berada di pesawat
tadi.
“haha…
dia benar-benar kelihatan menyebalkan disini…” komentar Aya terhadap tokoh
Spencer. Adegan yang Aya baca adalah pertemuan pertama Judy dengan Spencer.
“tapi aku suka sekali pada bagian saat mereka berbincang-bincang di taman itu.
Spencer tidak menjadi menyebalkan, dan dia juga Judy saling membuka diri.”
“begitulah.
Tapi terkadang aku membayangkan Spencer menjadi nyata…” Yoriko kembali
berkhayal. Dirinya sudah lama menjadi penulis, sehingga dia sering berkhayal
tentang berbagai hal. Akibatnya, dia sampai harus memisahkan mana yang
benar-benar kenyataan dan mana yang khayalan. Itulah yang menyebabkan dirinya
menjadi seorang yang penyendiri karena dia tidak ingin dianggap orang lain aneh
atau delusional.
“haha…
pasti menyenangkan.” Kata Aya. “kalau dia benar-benar ada, aku pasti akan
memujanya.”
Aya
terus mengontrol halaman novel Yoriko yang ditulis di laptop ke bawah untuk dia
baca sampai selesai. Setelah selesai, Aya mematikan laptop Yoriko dan
meninggalkannya begitu saja di atas kotatsu ruang TV.
“jadi,
ceritakan pengalamanmu berkeliling dunia.” Aya menyuruh Yoriko duduk di
sebelahnya untuk bercerita.
“kau
ingin aku bercerita darimana?” tanya Yoriko.
“saat
kau pertama kali memutuskan untuk pergi dari Jepang. Apa yang membuatmu
melakukannya?”
“aku
hanya ingin bebas dan pergi menjelajahi dunia. Itu saja. Menulis hanyalah
salah satu caraku untuk mengekspresikan apa yang kulihat, kudengar, dan yang
kurasakan melalui tokoh-tokoh yang kubuat.’’ Jawab Yoriko.
‘’apa
orang-orang yang ada di panti asuhan mengizinkanmu pergi waktu itu?’’ tanya
Aya. Yoriko sebenarnya besar di panti asuhan sejak ia masih bayi. Ia tidak
pernah bertemu kedua orang tuanya seumur hidupnya. Kepala panti asuhan
menemukan Yoriko yang waktu itu masih bayi di depan pintu masuk panti asuhan
dan akhirnya ia dirawat disana. nama Yori Ishihara itu adalah nama pemberian
panti asuhan untuknya. Dan sampai ia menginjak usia remaja, tidak ada orang tua
angkat yang mau mengadopsinya, entah kenapa. Akhirnya setelah dia sudah cukup
umur, dia menjadi mandiri dan bekerja. Setelah uangnya cukup, dia pun
memutuskan untuk pergi keliling dunia. Karena selama hidupnya dia sendirian,
dia tumbuh menjadi orang yang kuat, sehingga dia bisa bertahan di negara orang
dengan bekerja disana.
“tentu
saja. aku kan sudah cukup umur. Aku pergi ke Perancis dan bekerja di sebuah
kafe. Aku belajar bahasa perancis dengan tetangga apartemenku dulu. Dia juga bisa
melukis dan menggambar. Jadi dia mengajariku juga.” Yoriko mulai bercerita
tentang pengalamannya dari awal sampai akhir.
‘’kau
hebat, Yoriko. Apa kau melakukan semua petualangan itu sendirian?’’ Aya merasa
kagum.
‘’ya…
begitulah…’’ jawab Yoriko santai.
“apa kau
tidak merasa kesepian?” tanya Aya.
Sebelum
menjawab, Yoriko tertawa sejenak. “Aya, aku sudah sendirian dari kecil.
Bahkan saat masih bayi sekalipun…”
Sekilas
Aya bisa sedikit merasakan sebuah kepahitan dari kata-kata Yoriko barusan.
“Yoriko… kau tidak sendirian. Aku akan selalu menemanimu. Aku sudah menganggap
kau seperti saudaraku sendiri.”
“tidak,
Aya… mungkin kau akan membenciku beberapa hari lagi. aku bukan tipe orang yang
cocok untuk diajak berteman, bahkan aku terkadang sulit membedakan mana khayalan
dan mana kenyataan. Aku…” kata-kata Yoriko terpotong karena Aya memeluknya
lagi.
“kau
penulis yang hebat. Penulis hebat pasti mengorbankan sesuatu di dalam hidupnya.
Dan kau menjadi delusional karena itu. Tidak ada yang salah dengan itu, Yoriko.
Aku ingin menjadi sahabat yang bisa mengingatkanmu, mendukungmu, dan tentu
saja, sebagai orang pertama yang mendapatkan tanda tangan darimu di atas bukumu
nanti…”
“Aya…”
Yoriko terkesan dengan kebaikan Aya. “terima kasih, ya…”
“ya…
sama-sama.” Aya melepaskan pelukannya. “sekarang kau harus
istirahat. Karena capek kau jadi melantur, kan? Ayo istirahat.” Aya menyuruhnya
seperti seorang ibu menyuruh anaknya.
“iya,
ibu…” sindir Yoriko seraya berdiri. Mereka berdua pun tertawa.
‘’jangan
lupa, nanti malam acara ulang tahun di rumah atasanku. Kau harus datang dan terlihat ceria
disana.’’ Aya mengingatkan lagi.
Dan demi
sahabatnya yang tulus itu, Yoriko menyanggupinya.
***
Jam 7
malam itu mereka baru saja keluar dari stasiun kereta, mereka naik kereta dari
stasiun dekat apartemen mereka menuju ke rumah Avaron Yutaka, atasan Aya di
petshop tempatnya bekerja.
‘’oh,
jadi kau sekarang sudah hampir menyelesaikan semester ketigamu, ya…’’ kata
Yoriko pada Aya setelah sahabatnya menjelaskan kehidupan kuliahnya.
‘’ya.
Aku bekerja sambil kuliah.’’ Jawab Aya. ‘’Avaron-san sedang mencari karyawan
baru yang bisa bekerja saat siang. Karena karyawan sebelumnya berhenti karena
akan menikah. Aku akan bekerja shift malam sepulang kuliah.”
Setelah
penghasilan dari bekerja di petshop sudah cukup, Aya mengikuti tes ujian masuk
ke universitas bagus yang kebetulan jaraknya cukup dekat dari apartemen. Dia
mengambil jurusan biologi di bidang virologi. Aya memang suka hal-hal yang
berbau virus dan ingin menciptakan obat yang bisa menyembuhkan
penyakit-penyakit yang disebabkan virus.
“kau
tidak capek kuliah sambil bekerja seperti itu?” tanya Yoriko lagi.
“tidak.
kampusku dekat dari apartemen dan Avaron-san mengerti keadaanku. Jadi dia
memberiku toleransi dan mengizinkanku mengerjakan tugas sambil bekerja. Kau
sendiri? Aku baru melihatmu secara langsung hari ini. Dan apa penampilanmu
ini…” Aya menunjuk penampilan Yoriko dari atas sampai bawah. “adalah
penampilanmu sehari-hari?”
Yoriko
tertawa. Aya adalah anak baik,
jadi mungkin dia tidak terbiasa melihat Yoriko berdandan seperti ini. Rambut
bermodel layer biasa yang selalu terurai atau dia tutupi dengan topi hitam
(tapi malam ini dia tidak mengenakan topinya), smoky eyes tipis, lipstik pink
natural, T-shirt putih polos dengan jaket kulit hitam, celana jeans dan
sneakers dengan warna yang sama. Penampilan yang sama saat Yoriko mengetuk
pintu rumah Aya tadi siang. “ya, ini gayaku. Kau suka?”
“aku
suka saja. kalau penampilan ini adalah penampilan sehari-harimu dan kau nyaman
dengannya, aku tidak masalah. Lagipula kau cantik, kau pantas dengan
penampilanmu itu.” Jawab Aya. Yoriko sempat tersanjung sedikit saat Aya
menyebutnya cantik.
“entah
kenapa aku merasa nyaman dengan warna hitam.” Yoriko menjelaskan dia masih
mempunyai banyak pakaian dengan berbagai model berwarna hitam. Tidak hanya
jenis pakaian-pakaian yang dia kenakan sekarang, tapi juga dress, rok, topi,
aksesoris, dan lain sebagainya.
“sekarang
jelaskan padaku tentang gambaranmu. Aku sama sekali belum melihat
sketsa-sketsamu tadi siang. Aku tidak menyalahkanmu karena kau sedang tidur
tadi. Tapi aku tetap saja tidak sabar.” Aya kembali menyerocos.
“haha…
iya, Aya. Nanti akan kuperlihatkan sketsa Spencer yang kubuat saat masih di
Indonesia.” Yoriko berjanji.
“bagus!
Aku jadi penasaran dengan Indonesia. Kau menetap di kota mana? Avaron-san dan
suaminya pergi bulan madu ke Bali 4 tahun yang lalu. Apa kau disana?”
“tidak.
aku di Jakarta. Tapi aku juga traveling ke kota-kota yang ada di pulau Jawa. Seperti
Bandung, Semarang, Surabaya. Aku belum pernah ke Bali.”
“eh?
Kenapa?” Aya heran. “bukankah kota itu yang biasa dijadikan tujuan para turis
asing untuk berlibur, bukan? Kudengar pulau itu sangat keren dan aku percaya
karena melihat foto-foto Avaron-san saat disana.”
“salah
satu temanku, yang paling kuhormati disana berkata kalau pergi ke Bali
sendirian, tidak akan terasa karena kau pasti membutuhkan teman untuk melihat
menikmati masakan khas bali dan belanja bersama-sama, atau hanya sekedar
duduk-duduk di bar menikmati segelas alkohol. Terutama, saat
melihat matahari terbenam di pantai Kuta bersama-sama. Kau pasti butuh teman untuk
saling berbicara tentang keindahannya. Jadi aku merasa, pergi kesana adalah
suatu hal yang sakral. Aku ingin punya teman untuk pergi kesana…”
“aah…”
Aya terlihat mengerti sesuatu. “tampaknya seseorang sedang membutuhkan seorang
pacar…”
Yoriko
tidak mengerti arah pembicaraan Aya. “maksudmu?”
“ya. Kau
membutuhkan pria agar bisa menemanimu pergi kesana. Mana ada orang normal yang
tidak ingin melihat matahari terbenam yang indah di Pantai Kuta bersama
pasangannya? Apa aku benar? Kurasa sekarang saat yang tepat untukmu menemukan
soul mate-mu…” Aya menaik turunkan alisnya untuk menggoda Yoriko.
“kau
ada-ada saja… bagaimana caranya aku bisa menemukan soul mate sedangkan aku
selama hidupku
aku selalu sendirian?” Yoriko menggelengkan kepalanya.
“kau
pasti akan menemukannya, Yoriko, cepat atau lambat. Katakan padaku. Selama kau
keliling dunia, apa kau pernah punya pacar? Orang yang
kau sukai? Atau cowok yang pernah one night stand bersamamu?” Aya bertanya
dengan nada menyelidik.
Yoriko
mendengus. “one night stand? Cinta semalam? Memangnya aku wanita macam apa? Dan
darimana kau bisa tahu istilah macam itu?”
“yah,
tentu saja aku tahu dari gaya menulismu yang kebarat-baratan. Apa kau lupa kau
pernah memasukkan istilah itu di salah satu cerpenmu?’’
‘’Aya,
walaupun karakterku pernah melakukannya, bukan berarti aku juga melakukannya.’’
jawab Yoriko.
‘’tapi
kau pernah bilang padaku untuk bisa menulis kita harus bisa merasakan apa yang
karakter kita rasakan. Salah satu caranya adalah melakukan hal yang sama. Misalnya
agar kita bisa menulis bagaimana rasanya mual setelah naik rollercoaster, kita
harus menaiki rollercoaster agar bisa tahu rasanya bagaimana.’’
‘’aku
memang pernah mengatakannya. Tapi bukan berarti aku melakukan one night stand
bersama cowok sembarangan. Aku bisa menulis itu karena salah satu temanku di
Amerika dengan bangganya menceritakan padaku bagaimana dia melakukannya.”
“tapi
kau memang pernah melakukannya, kan? Maksudku, melakukan sesuatu agar bisa
menulis apa yang dirasakan karaktermu?” tanya Aya.
“yah,
begitulah…” jawab Yoriko dengan enggan. Seolah dia menutupi sesuatu.
Aya bisa
merasakan hal itu dan menjadi tidak enak. “maaf… apa aku membuatmu
tersinggung?”
“eh…
tidak, tidak…” Yoriko tidak ingin Aya jadi merasa bersalah. Aya sama sekali
tidak tahu apa-apa soal kehidupannya yang sebenarnya. Dan lebih baik Aya tidak
usah tahu. “ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak membawa kado, lho…”
“tidak
apa.” Kata Aya enteng. “kau kan baru tahu pestanya hari ini, dan aku yang
mengajakmu. Kalau kau tidak membawa kado, jadi apa yang ada di tas yang kau
bawa itu?” Aya melirik postman bag hitam merk Converse yang
Yoriko bawa.
“oh…
ini isinya peralatan wajibku.” Yoriko membuka resleting tasnya dan
memperlihatkan isinya ke Aya. Buku catatan dengan pulpen yang berisi data-data
atau inspirasi-inspirasi yang ditulis Yoriko, kamera DSLR Canon,
topi, buku sketsa ukuran A4, dan sebuah seruling yang berukuran kecil.
“jadi
ini ya, peralatan-peralatan yang sering kau bawa. Wah, kau mempunyai kamera DSLR!” Aya kagum.
‘’pasti kamera ini mahal sekali…’’
‘’yah…
membutuhkan gajiku yang bekerja sebagai pelayan di restoran setahun saat aku di
Perancis…’’ Yoriko ingat waktu itu dia sampai bersusah payah menabung dan
menahan diri tidak untuk belanja. Mengingat dia berada di Paris, membuat
dia merasa sulit untuk menahan diri.
“kalau
begitu, ini apa?” Aya mengeluarkan sebuah seruling kecil berwarna
hitam.
“aa…”
Yoriko sedikit bingung untuk menjelaskan. “itu tin whistle. Aku membelinya
sewaktu traveling ke Dublin, Irlandia. Aku jadi membeli itu karena melihat penampilan
konser The Corrs disana. mereka keren sekali.”
“aku
baru pertama kali ini melihat alat musik yang seperti ini…” Aya mencoba untuk
meniupnya. Suaranya benar-benar berbeda dari seruling biasa. Kesannya terasa
mistis dan menggetarkan. ‘’kau bisa memainkannya?’’
‘’ya,
begitulah…’’ Yoriko cukup sering memainkan alat musik itu kalau sedang
senggang. Dia juga membawanya kemana pun ia pergi, seperti sekarang ini. Karena
alat musik itu kecil sehingga mudah untuk dibawa.
“kau mau
mengajariku? Apa kira-kira alat musik ini dijual di Tokyo?” tanya Aya dengan
penuh rasa antusias.
‘’tentu
saja. Tidak terlalu sulit kok memainkannya. Aku tidak tahu… tapi aku masih
mempunyai tin whistle yang lain di koperku. Kau bisa meminjamnya kalau kau
mau.’’
Mendengarnya,
Aya kembali berterima kasih lagi pada Yoriko. Dia tidak henti-hentinya berkata
Yoriko adalah orang yang hebat, nyaris sempurna, dan dia ingin menjadi seperti
Yoriko. Yoriko hanya tersenyum, sesekali menanggapi dengan singkat dan berkata
kalau dia tidak sesempurna yang Aya pikir.
***
Mereka
sampai di rumah keluarga Yutaka
tidak lama kemudian. Aya bercerita kalau Avaron pernah tinggal di apartemen
yang cukup elit dan pindah ke rumah ini bersama suaminya saat ia tahu ia sedang
mengandung anak pertamanya 2 tahun yang lalu. Suaminya adalah seorang drummer
dari band bergenre visual kei terkenal di Jepang dan beberapa negara lain.
“apa?
Kalau begitu, kenapa aku tidak pernah tahu nama bandnya?” tanya Yoriko berbisik
saat Aya menjelaskan tentang band bernama Gazette itu. Mereka ada di
depan pintu rumah keluar Yutaka saat ini.
“entahlah.
Memangnya kau tidak suka visual kei, ya?” tanya Aya balik. Ia membunyikan bel
rumah.
“aku
bahkan baru tahu kalau ada genre itu darimu malam ini.” Yoriko mengaku.
‘’Avaron-san
juga mempunyai teman lainnya. Dia sahabatku juga. Dia member dari Alice Nine.’’
Kata Aya.
‘’Alice
Nine? Apa itu nama komunitas teater atau semacamnya?’’ Yoriko sama sekali tidak
menyambung ke pembicaraan.
‘’kau
tidak tahu Alice Nine?”
“Gazette
yang katamu tadi terkenal di Jepang dan di beberapa negara lain saja aku tidak
tahu apalagi Alice Nine.” Kata Yoriko. Sebelum Aya bisa menjawab, pintu rumah
dibuka dan muncullah seorang wanita yang kelihatannya usianya tidak jauh
berbeda dari Yoriko dan Aya. Wanita itu terlihat sangat cantik
dengan one piece putih bermotif bunga mawar merah yang dia pakai dan make up
natural tipis yang menghiasi wajahnya.
“hai,
Aya!” wanita itu lebih dulu menyapa Aya. ‘’bisa kulihat kau membawa seorang
teman malam ini.’’
‘’selamat
malam, Avaron-san.’’ Aya menyapa wanita yang Yoriko sadari ternyata adalah
Avaron Yutaka yang tadi Aya ceritakan. ‘’kenalkan,
dia temanku yang baru datang ke Jepang setelah sekian tahun dia berkeliling
dunia. Namanya Yori Ishihara. Panggil saja dia dengan nama Yoriko.”
Yoriko
membungkukkan badannya untuk memberi salam. “dozou
yoroshiku, Avaron-san…”
“dozou yoroshiku…” Avaron juga ikut membungkukkan badannya. Dengan ramah,
Avaron mengajak mereka berdua masuk ke dalam.
Begitu
masuk, Yoriko langsung memperhatikan isi rumah. Rumah keluarga ini memang tidak
mewah, tetapi cukup besar. Interiornya bernuansa khas Jepang, dan lantainya
masih menggunakan kayu. Sebagian ruangan diberi pintu shouji yang digeser. Dari
sini, Yoriko bisa menyimpulkan kalau Avaron atau suaminya adalah orang yang
lurus dan tidak banyak macam-macam.
“bagaimana
kabar Yukio? Apa dia senang dengan kue yang anda buat?” tanya Aya saat Avaron
menuntun mereka berdua ke ruang TV.
“Yukio
sama sekali tidak bisa sabar untuk menyentuh dan memakan kuenya. Makanya aku
menyimpannya di kulkas dan menunggu kalian semua datang terlebih dulu sebelum
diambil.” Jawab Avaron. Yukio adalah putra dari Avaron dan suaminya yang belum
Yoriko lihat di rumah ini.
“Kai-san
sudah datang? Pasti dia sedang sibuk sekali dengan album barunya yang akan
diluncurkan bulan depan…” Aya mencari keberadaan suami Avaron.
“ya.
Sebentar lagi dia akan pulang, tenang saja. mungkin karena dia mengajak Shou
juga jadinya dia agak terlambat…” Avaron melihat jam tangannya.
“eh?
Shou-kun akan datang?” Aya terlihat menjadi sangat riang.
“ya.
Saat aku mengundangnya minggu lalu, dia tidak memberikan jawaban yang pasti.
Tapi kata Kai dia akan menyeretnya kesini dari ruang studio yang sekarang
sepertinya sudah menjadi rumah keduanya itu, jadi aku mengandalkan suamiku yang
konyol itu.” Avaron menjelaskan.
“benar,
sekarang sejak Shou-kun menjadi bagian dari PSC dan terkenal seperti sekarang
dia jadi jarang sekali berkumpul dengan kita, dia lebih memilih tenggelam
dengan dunia musiknya. Entah kenapa, sekarang aku merasa dia malah berubah
menjadi orang lain…” Aya heran dan khawatir dengan sikap sahabatnya yang belum
pernah Yoriko temui itu.
Di sisi
lain, Yoriko sedari tadi hanya diam. Dia sama sekali tidak tahu apa
yang mereka bicarakan. Dia saja belum pernah bertemu dengan Kai atau Shou yang
mereka sebut-sebut tadi, bagaimana mau ikut ke dalam pembicaraan?
Tampaknya
dugaannya akan benar, ikut ke acara ini akan menjadi ide yang sangat buruk.
Tapi
saat ia baru masuk ke dalam pikirannya sendiri, ia mendengar Aya menjerit
kesenangan karena melihat seorang balita duduk di kursi khusus untuk bayi di
ruang TV.
“Yukio-chan!!”
Aya menghambur ke arah Yukio yang menyambut sahabat Yoriko dengan senyumannya
yang sangat lucu itu. Aya mencium pipi Yukio yang sangat tembam dan mengucapkan
selamat ulang tahun pada bayi yang berumur 2 tahun pada hari ini itu. Aya
memberikan sebuah kotak kado berwarna biru kepadanya.
“ini
untukmu, sayang…” kata Aya. Yukio berusaha memegangnya dengan erat. Tapi karena
kotak itu terlalu besar untuk tangannya yang masih kecil, Avaron menghampiri
mereka dan mengambil alih kado itu.
“bilang
apa kepada Aya Obasan, sayang?” tanya Avaron dengan nada imut pada Yukio.
Dengan cara bicara yang belum lancar dan tidak terlalu jelas, Yukio mengucapkan
terima kasih.
Avaron
mengambil Yukio dari Aya dan membawanya ke Yoriko yang masih berdiri saja di
ujung pintu. “kenalkan, Yukio-chan. Ini teman baru kita, namanya Yoriko-san…
ayo, beri salam.” Avaron mengambil tangan kanan Yukio untuk diulurkan ke
Yoriko.
“hai,
Yukio-chan…” Yoriko menyapa Yukio seramah mungkin yang dia bisa. “aku Yoriko.
Selamat ulang tahun untukmu.” Yoriko menggengam telapak tangan yang ukurannya
tidak lebih besar dari tangannya sendiri itu.
Yukio
memang bayi yang ramah, dia membalas sapaan Yoriko dengan tersenyum. Tapi
karena baru pertama kali bertemu, Yukio langsung menyembunyikan wajahnya di
dada ibunya, sebagai tanda kalau dia masih malu. Walaupun begitu, senyuman
polos bayi itu tetap tidak hilang dari wajahnya.
“aduh…
dia masih malu-malu… tapi lihat saja, nanti dia tidak akan bisa lepas darimu,
dia selalu lekat dengan para cewek. Apalagi kalau mereka secantik dirimu.”
Avaron memuji Yoriko.
Yoriko hanya tersipu
malu dan mengucapkan terima kasih ketika mendengarnya. Setelah itu Yukio
meminta sesuatu kepada Avaron yang hanya ibunya saja yang mengerti keinginannya
apa. Dengan tulus Avaron menuruti permintaan Yukio dan Avaron pun pamit untuk
pergi sebentar pada Yoriko dan Aya untuk ke dapur.
Walaupun
mereka berdua sudah pergi, Yoriko masih tidak bisa menghapus ingatan
pemandangan yang barusan dia lihat dari Avaron Yutaka dan putranya. Seorang ibu
menggendong anaknya, merayakan ulang tahunnya, mendidik anaknya menjadi seorang
anak yang sopan dengan menyuruhnya memberi salam pada orang lain, dan menuruti
segala permintaan anaknya.
Yoriko
ingin tahu apakah ibu kandungnya yang tidak pernah ia temui pernah
memperlakukan dirinya seperti itu atau tidak…
“hei…”
Aya menyadarkan Yoriko dari pikirannya yang kali ini sedang berusaha keras
mengingat bagaimana wajah ibunya di dalam pikirannya. “bagaimana
kalau kau mainkan salah satu lagu saja tin whistle-mu itu. Yukio pasti senang.”
Aya memberi saran.
Dengan
cepat Yoriko berusaha untuk terlihat normal kembali dan menjawab dengan
buru-buru, “eh… ya, ya… boleh juga idemu, Aya.”
“padahal
dia belum memakan kuenya, dia sudah meminta biskuit duluan…” kata Avaron
setelah ia kembali dari dapur. Kali ini Yukio tidak lagi di gendongannya, dia
berjalan dengan tangan kirinya yang digandeng oleh Avaron. Cara berjalannya
sudah lancar sekali.
“haha…
Yukio-chan lapar, ya?” Aya menyambut Yukio yang menggenggam biskuit bayi dan
menggendongnya lagi. Yukio tertawa senang saat Aya mengangkatnya tinggi-tinggi.
Melihat
pemandangan seperti ini membuat Yoriko menjadi diam dan bertanya-tanya lagi,
apakah dia pernah diperlakukan seperti Yukio oleh ibu dan ayahnya atau saudara
mereka saat ia masih kecil? Apakah dia pernah merasakan ulang tahunnya pernah
dirayakan dengan dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya? Seandainya dia
bisa mengingatnya… tapi tidak bisa. Mungkin dia tidak bisa karena… dia tidak
pernah mengalaminya…
Yoriko
akhirnya kembali lagi ke bumi setelah dia mendengar sebuah suara seseorang
memberi salam dari pintu rumah. setelah itu, Avaron terburu-buru keluar dari
ruang TV untuk menyambut siapa yang baru saja datang itu.
Yoriko
bisa menduga yang datang pasti suami Avaron, dari pembicaraan mereka yang
samar-samar terdengar, tampaknya suaminya itu tidak datang sendirian. Suara
mereka semakin lama semakin terdengar lebih jelas seiring langkah mereka yang
menuju ke ruang TV. Dan mereka pun akhirnya muncul di depan pintu.
“akhirnya
Kai dan Shou datang juga.” Kata Avaron. “aku ingin mengenalkan kau dengan
mereka, Yoriko-san.” Avaron meminta Yoriko berdiri dari duduknya di lantai.
“panggil
aku Yoriko saja, Avaron-san.” kata Yoriko. Dan Avaron mengenalkan dua pria yang
berdiri di belakangnya. Seorang pria berambut hitam dan
berwajah manis dengan ramah tersenyum pada Yoriko. “salam kenal.
Aku Kai, suami Avaron.” Kata Kai dengan bangga.
Dan pria
di sebelah Kai berambut cokelat yang benar-benar mengingatkannya pada
seseorang. Ketika pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis di depan
Yoriko, wanita itu kembali terpaku.
Matanya yang agak sipit itu mempunyai
bola mata yang berwarna cokelat tua yang
indah…
Wajahnya yang tampan dan khas asia campur
barat itu pasti tidak akan dengan mudah ia lupakan…
Dia jarang memberikan senyuman. Tapi
sekalinya dia tersenyum, walaupun hanya senyuman tipis dan dingin, semua orang
apalagi para wanita pasti akan terpaku melihatnya…
Rambutnya yang cokelat itu semakin
menambah pesonanya…
Dan tingkah lakunya yang sangat
menyebalkan itu malah menambah nilai positif darinya, membuat ia ingin sekali
tenggelam di dalam isi hatinya hanya agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya
dia pikirkan…
“hei.”
Pria yang membuat Yoriko merasa terhipnotis itu menjentikkan jarinya
berkali-kali di depan wajah Yoriko.
“eh…
maaf, maaf… apakah kau... Spencer Williams? Apa kau…” Yoriko lagi-lagi melantur
tanpa ia sadari.
‘’Spencer
Williams? Siapa dia? Aku tidak kenal. Aku Shou Kohara. Salam kenal.” Shou
dengan datar memperkenalkan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak peduli pada
siapa Spencer Williams itu. Padahal bagi Yoriko, cara bicara pria ini mirip
sekali dengan Spencer… di dunia imajinasinya…
“ya… aku
Yori Ishihara… panggil saja Yoriko…” jawab Yoriko dengan sangat canggung. Shou
Kohara hanya menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Yoriko berdiri begitu
saja untuk bergabung bersama yang lain.
Haha…
bodoh sekali kau…, pikir Yoriko. Mana mungkin kau bertemu dengan tokoh khayalan
yang kau buat sendiri. Pasti semua ini adalah kebetulan.
Walaupun
berkali-kali di dalam hatinya dia meyakinkan dirinya kalau pria yang tidak bisa
ia berhenti menatapnya itu adalah Shou Kohara, bukannya Spencer Williams, tokoh
yang sangat ia puja di dunia imajinasinya, dia merasa kalau ini adalah
kebetulan yang sangat indah.
Dan
tanpa sadar, ia akan menjadi sangat terobsesi dengan pria yang ada di depannya
ini…
No comments:
Post a Comment