3
Dengan perasaan yang masih kesal karena
pertengkarannya dengan Spencer barusan, Judy kembali ke meja kerjanya. Dari
sana dia bisa melihat Spencer langsung menuju lift untuk pergi ke TKP bersama
teman-teman yang tadi dia ajak untuk pergi.
Judy memang sering bertemu dengan
orang-orang brengsek (apalagi kalau dia sedang bekerja), tapi tidak seperti
Spencer. Bagi Judy, Spencer menyusahkan dan dia harus bersikap baik padanya
atau dia tidak akan bisa bekerja sama sekali.
Judy mendengus kesal dan menghempaskan
dirinya ke kursi meja kerjanya. Rasanya
malas dia membuka file kasus yang tadi dia bawa dari ruang rapat untuk dia
pelajari. Setidaknya, dia harus menenangkan dirinya dulu sebelum dia bekerja.
Sebagai profiler, Judy tentunya ingin
tahu kenapa Spencer seperti itu. Judy yakin sekali Spencer pasti pernah
mengalami sesuatu yang membuatnya menjadi orang brengsek dan meremehkan orang
lain.
Karena dorongan dari rasa penasarannya,
dia berdiri lagi dan mengintip ke meja Spencer melalui bagian atas sekat. Tentu
saja meja itu kosong karena pemiliknya sedang keluar. Dan Judy memanfaatkan
kesempatan itu.
Dia mengendap-endap berjalan menuju meja
itu dan memeriksanya. Dia membuka laci-laci meja satu persatu tanpa
mengacak-acak isinya. Karena dia merasa dia tidak menemukan apapun yang
membantunya, dia menutup semua laci itu kembali. Lalu dia beralih ke atas meja.
Tidak ada satupun yang menarik perhatiannya kecuali sebuah foto berbingkai
kecil di sudut meja. Foto itu nyaris tidak terlihat karena terhalang oleh
tempat alat-alat tulis yang berupa cangkir yang cukup tinggi. Judy mengambil foto itu. Foto yang
dibingkai adalah foto Spencer bersama seorang wanita. Mereka terlihat sangat
mesra di foto itu. Spencer merangkul wanita berambut pirang dan berwajah nyaris
sempurna itu.
Sebelum Judy mengambil kesimpulan,
sebuah suara di belakangnya membuat pikirannya teralihkan. Judy menoleh dan melihat Hailey
tahu-tahu sudah berdiri di dekatnya.
“wanita itu mantan pacar Spencer. Aku
pernah bertemu dengannya sekali saat kami minum-minum bersama di bar.” Kata
Hailey.
“dia masih mencintai wanita ini, ya?
Spencer masih menaruh fotonya. Sebagai tanda kalau dia masih sangat mengenang
masa-masa ketika mereka masih bersama.” Judy menaruh foto itu ke tempatnya
semula. “kenapa mereka putus?”
“Samantha, nama wanita itu, dijodohkan
oleh orang tuanya yang cukup kaya karena perjanjiannya pada orang tuanya kalau
dia diizinkan menjadi polisi, dia harus menikah dengan pria pilihan mereka.
Orang tua mereka juga tidak terlalu menyukai Spencer karena Spencer bukan dari
keluarga yang berlatar belakang sama dengan mereka. Sakitnya, Spencer dan Sam masih cukup
sering bertemu saat menangani kasus. Makanya Spencer menjadi semakin merasa
sulit untuk melupakannya. Ditambah lagi Spencer selalu mencari alasan untuk
bertemu Sam. Aku yakin, mereka pasti akan bertemu di TKP nanti. Samantha
bekerja di bagian fotografer TKP.”
Judy mengerti. Spencer terluka dan
masih mengharapkan Samantha, tapi disaat yang sama, dia harus kuat demi
pekerjaannya. Semakin dia
merasa kuat, dia menjadi brengsek agar dia bisa merasa mudah untuk melupakan.
Tetapi tanpa dia sadari, kalau dia semakin terlihat baik-baik saja dan kuat,
saat dia jatuh, rasanya akan semakin sakit.
Dan Spencer tidak akan bisa tenang kalau
dia tidak melupakan Samantha. Tapi Judy tahu Spencer tidak akan melakukannya.
Tidak akan bisa kalau dia terus memajang
foto ini dan terus menatap wanita yang terlihat nyaris sempurna dan semakin
sempurna dengan momen yang terabadikan di dalam foto itu.
Yang membuat Judy juga mengetahui
satu hal lagi. Spencer ingin
diselamatkan…
***
“mengaku
saja, Yoriko…” Aya mencecar Yoriko pagi itu dengan pertanyaannya. Aya
berdiri di depan pintu kamar mandi apartemennya yang terbuka. Yoriko sedang
menyikat giginya di depan wastafel.
‘’mengaku
apa?’’ tanya Yoriko setelah ia berkumur-kumur dan menaruh sikat giginya ke
tempatnya semula, di dalam cangkir yang tadi ia gunakan untuk kumur-kumur.
‘’aku
melihatnya semalam.’’ Perkataan Aya terdengar semakin misterius karena dia
mengatakannya sepotong-sepotong.
‘’melihat
apa atau siapa?’’ Yoriko tidak mengerti. ‘’tolong lebih jelas lagi, Aya…’’
‘’kau
berkali-kali memperhatikan Shou-kun! Dan pandanganmu tidak bisa lepas darinya!”
dengan heboh Aya menjawab. ‘’kau menyukainya, kan? Ayo mengaku saja!”
Reaksi
Yoriko hanyalah diam. Dia malah mengambil handuk kecil yang digantung di hanger
dekat wastafel untuk mengelap sekitar bibirnya yang basah terkena air dan
bersikap seolah tidak ada apa-apa.
“tidak.
aku tidak menyukainya.” Yoriko menyangkal.
“tidak
mungkin.” Aya tidak percaya. “karena dari caramu menatapnya, kau seperti
melihat seorang pangeran tampan dan matamu berkilat-kilat.” Aya sedikit
melebih-lebihkan.
Yoriko
tertawa pelan. “kau mau tahu kenapa aku begitu memperhatikannya?”
Yoriko
bisa menduga Aya pasti akan bersikap seperti yang ia lihat sekarang,
menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu.
Yoriko
melangkah untuk mendekati Aya dan merangkul sahabatnya itu. “ayo, ikut aku.”
Yoriko
membimbing Aya ke kamar Yoriko. Begitu mereka sampai, Yoriko meminta Aya untuk
mengambil buku sketsa ukuran A3 yang diletakkan di samping futon. Aya belum
pernah melihat buku sketsa itu karena kemarin Yoriko belum mengeluarkannya dari
koper. Setelah buku sketsa itu ada di tangan Aya, Yoriko meminta Aya membuka
buku sketsa itu dan memperlihatkan lembaran ketiga buku itu. Ketika melihatnya,
Aya terperangah.
Sketsa
itu adalah gambar seorang pria yang persis sekali dengan Shou. Awalnya Aya
mengira orang yang ada di gambar itu adalah Shou Kohara, sahabat yang ia kenal.
Tapi begitu Aya melihat tanggal yang dibubuhkan di dekat tanda tangan Yoriko di pojok bawah sketsa,
Aya langsung yakin kalau ini bukan Shou.
“ini
adalah Spencer Williams yang aku gambar beberapa minggu sebelum aku berangkat
ke Jepang. Benar-benar kebetulan yang aneh.”
“kau
serius kalau ini benar-benar Spencer Williams? Karena mereka… benar-benar
nyaris sama!” kata Aya.
“aku
tahu. Makanya seperti yang kau bilang tadi, aku tidak bisa berhenti menatapnya.
Karena, bagaimana perasaanmu kalau tokoh khayalan yang kau buat terasa menjadi
hidup di dalam sosok orang lain yang sama persis? Jujur, aku jadi tidak tahu
harus bagaimana kalau bertemu dengan Shou Kohara itu lagi.”
“padahal
kau sendiri juga tidak dapat menahan diri untuk tidak bertemu dengannya, kan?”
Aya menebak dengan sangat tepat.
“aku
benar-benar heran, kenapa mereka bisa sama persis?” Yoriko mengelus gambar
buatannya itu, memperhatikan mata Spencer yang seakan menatapnya dengan
tatapannya yang dingin itu.
“katakan
padaku. Kau mendapatkan inspirasi Spencer darimana?”
Yoriko
jadi teringat mimpi yang dia alami beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum dia
mulai membuat novelnya dan bertemu dengan Aya. “aku bertemu
Spencer beberapa tahun yang lalu di mimpiku. Dia juga seorang polisi disana. Di
mimpiku aku menjadi Judy. Kalau di adegan novelku, mimpiku baru sampai di
bagian saat aku mengetahui rahasia Spencer yang membuatnya menjadi brengsek. Dan
sebelum mimpiku selesai, aku sudah terbangun lebih dulu.’’ Cerita Yoriko.
‘’apa
kau percaya kalau ini takdir? Kau sudah bertemu Shou-kun jauh sebelum ini.
Hanya namanya saja yang berbeda. Mungkin Shou-kun adalah belahan jiwamu! Siapa
tahu suatu malam nanti mimpimu akan ada lanjutannya lagi!’’
Yoriko
jelas saja tidak percaya dengan kata-kata Aya barusan. Dia tertawa sarkastik
sebelum menanggapi, “yang benar saja. aku baru bertemu dengannya semalam dan
dia sama sekali tidak menganggapku ada. Bagaimana bisa orang seperti itu bisa
menjadi belahan jiwaku hanya karena kebetulan aneh ini?”
“tapi
ini terlalu aneh untuk disebut kebetulan, Yoriko. Kau memimpikannya, kau
menggambarkannya dengan sangat persis di buku sketsamu, dan kau bertemu
dengannya. Lalu kau menyukainya…” Aya tersenyum jahil.
“aku
tidak menyukainya. Aku hanya merasa dia mirip dengan Spencer.” Sanggah Yoriko.
“baiklah…”
Aya mengerti. “tapi aku yakin suatu hari nanti kau akan jatuh cinta dengannya,
cepat atau lambat.”
“aku
tidak bisa jatuh cinta dengannya, Aya… tidak tanpa merasa dia mirip sekali
dengan Spencer.”
“tapi
nyatanya sekarang kau tidak bisa lepas darinya, kan? Dengan atau tanpa merasa
dia mirip sekali dengan Spencer?” Aya menatapnya dalam-dalam untuk mencari
jawaban. Mau tidak mau Yoriko harus mengakuinya.
“sekarang
begini saja.” Aya memberi saran. “kau dekati saja dia. Kalau kalian mengobrol
atau menghabiskan waktu bersama, kau bisa tahu apa kau menyukainya sebagai Spencer
atau sebagai dirinya sendiri.”
Yoriko
mencibir. “bagaimana bisa aku mendekati orang yang bahkan nyaris tidak pernah
keluar dari studionya dan punya kehidupan yang lebih tinggi daripada aku?”
Aya
langsung lemas. “iya, benar juga…” tapi tiba-tiba dia kembali bersemangat.
“tapi kalau kalian benar-benar belahan jiwa, kalian pasti akan bertemu lagi.
apapun caranya.” Aya berkata dengan sangat yakin, seakan-akan dia seperti sudah
sangat berpengalaman dengan hal seperti ini.
“kalau
kami bertemu dan ternyata sikapnya tidak seperti yang kita harapkan? Kau
tahulah, dia kan dingin pada orang asing dan aneh seperti aku.”
“Yoriko…”
Aya memberikan sebuah senyuman keyakinan untuk Yoriko. “siapa bilang
kalau kisah cinta selalu berawal dan berjalan dengan mulus? Siapa tahu, di
balik sikapnya yang dingin itu dia akan menaruh perhatian padamu. Sedingin dan
sekejam apapun orang, kalau dia sudah bertemu dengan belahan jiwanya, dia tidak
akan bisa lepas darinya, walaupun dia berusaha mengabaikan, membenci, dan
memperlakukan orang itu dengan dingin sekalipun.”
***
Aya
mengantar Yoriko menuju petshop milik Avaron. Letak petshop itu ternyata tidak
terlalu jauh dari apartemen. Di bagian luar petshop, terdapat papan nama petshop
dengan anjing chihuahua berbulu hitam lembut berpose sangat lucu di sebelah
tulisan nama petshop. Papan nama itu ada di bagian atas toko. Aya bilang,
anjing itu adalah milik teman Avaron juga Kai. Dia seorang
vokalis band Gazette.
Tidak
banyak hiasan di bagian luar petshop. Hanya rak tempat ditaruhnya collar atau
kalung untuk anjing dan kucing untuk dijual. Kebanyakan yang dipajang disana
diberi diskon 20%-50%. Yoriko tersenyum, orang-orang di Jepang sangat jujur,
tidak akan ada satupun yang akan mengambil barang dagangan yang tidak diawasi
itu tanpa membayarnya. Mereka pasti akan masuk ke dalam dengan membawa barang
yang mereka inginkan untuk dibayar. Salah satu alasan Yoriko kenapa dia bangga
menjadi orang Jepang.
Jendela
petshop diberi banyak boneka hewan-hewan lucu sebagai hiasan. Boneka-boneka itu
tidak dijual, tapi malah sering dimainkan oleh Yukio yang kadang-kadang dibawa
Avaron ke petshop.
“waw…
hebat…” puji Yoriko ketika dia masuk ke dalam. Tidak banyak yang berubah dari
petshop ini walaupun tempat ini sudah hampir 5 tahun berdiri. Rak display
berbahan besi dilapis cat berwarna putih yang senada dengan warna dinding
petshop masih awet (tapi orang-orang selalu mengira warna dindingnya adalah
kuning karena lampu kuning seperti lampu-lampu yang ada di mal menyinari toko),
meja kasir kayu yang tidak pernah diganti, dan barang-barang yang dijual diatur
dengan sangat rapi.
“terima
kasih…” Avaron keluar dari meja kasirnya. Baru saja dia
selesai mencatat pengeluaran dan pemasukan petshop untuk bulan ini di buku
catatannya. Yoriko memperhatikan penampilan Avaron hari ini. Penampilannya
memang terlihat muda, tapi tetap mencerminkan kalau dia adalah seorang ibu.
Kemeja putih polos berbahan katun, celana straight jeans hitam panjang, sepatu
sandal yang bisa didapatkan di departement store kelas menengah, rambut
hitamnya yang dia biarkan terurai begitu saja, dia memberikan bedak tipis di
wajahnya dan lipstik pink natural seperti yang melekat di bibir Yoriko.
Penampilannya membuat Yoriko teringat
pada Samantha Force, mantan pacar Spencer Williams di novelnya sendiri.
‘’tidak,
harusnya aku yang berterima kasih karena anda sudah mempekerjakanku disini…” Yoriko
merendah. “aku bisa mulai sekarang.”
“kalau begitu, aku pergi dulu, ya.
Satu jam lagi kelas kuliahku sudah akan dimulai.” Aya berpamitan pada mereka
berdua. Setelah bertukar salam, Aya keluar dari petshop.
“aku akan menunjukkanmu seluruh isi
dari petshop ini sekaligus memberitahumu tugas apa saja yang akan kau lakukan.”
Avaron memberi isyarat pada Yoriko untuk mengikutinya berkeliling petshop.
Mula-mula Avaron membawa Yoriko ke
rak display bagian depan toko di tingkat tengah yang berisi 3 buah akuarium
berukuran sedang lengkap dengan aliran udara yang dihubungkan dari listrik.
Akuarium itu di dalamnya terdapat ikan-ikan mas. Di bagian bawah rak dipajang
pakan untuk ikan dari berbagai merk yang sudah ditata dengan rapi. Avaron
memberitahu Yoriko kalau tugasnya sederhana di bagian akuarium ini. Dia hanya
perlu memberi makan ikan-ikan itu saja. Karena yang bertugas membersihkan
akuariumnya adalah Aya.
Di sebelah rak display untuk ikan
terdapat rak display untuk kandang-kandang kecil untuk hamster. Yoriko langsung
tahu kalau petshop ini memelihara hamster jenis Siria, Campbel, Winter White,
dan Roborovski. Masing-masing jenis jumlahnya sepasang. Dan seperti formasi rak
display sebelumnya, di bagian bawah kandang ditaruh pakan, permainan seperti
roda putar, dan peralatan lainnya seperti botol minum, kotak untuk pasir, dan
rumah-rumahan dengan bentuk dan warnanya yang lucu-lucu.
Lalu, di bagian tengah petshop
berjajar 2 buah kandang berukuran besar untuk anjing jenis Akita dan Chihuahua.
Avaron tersenyum pada Yoriko saat mereka melihat anjing Akita berbulu putih itu
menggonggong ke arah mereka.
“lihat, dia Alen.” Avaron menunjuk ke
arah anjing itu. “tampaknya dia menyukaimu.”
Yoriko mendekati Alen dan berlutut di
depan kandangnya. Bagian atas kandang terbuka sehingga Yoriko bisa meraih
kepala Alen untuk membelainya. Alen terlihat sangat nyaman saat menerima
perlakuan dari Yoriko itu.
“dan di sebelahnya, dia kuberi nama Boo.”
Avaron memperkenalkan anjing satunya. Yoriko melihat ke arah Boo. Anjing itu
sedang tidur nyenyak sekali.
“hahaha... dia memang biasa tidur di
jam-jam seperti sekarang.” Avaron membungkuk untuk membelai punggung Boo.
“anda mempunyai hewan-hewan yang luar
biasa.” Yoriko memuji Avaron tanpa dibuat-buat. “harus kuakui, petshop ini juga
sangat bagus interiornya.”
“yah, aku bersyukur setelah 4 tahun
petshop ini berdiri aku bisa mendesain toko ini lebih baik lagi. Dulu saat toko
ini buka pertama kali, keadaannya masih belum sebagus sekarang.” Sambil
berjalan kembali, Avaron sedikit bercerita tentang petshopnya. “kau tahu
Shou-kun yang semalam datang ke pesta ulang tahun Yukio? Dia dulu pernah
bekerja disini, sebelum dia menjadi artis.”
Yoriko sedikit kaget dengan cerita
Avaron. “oh ya? Apa para fansnya tahu dia pernah bekerja disini?”
“tidak. Tapi kalau tidak salah dia
pernah bercerita kalau dia sempat bekerja di sebuah petshop saat dia
diwawancarai di sebuah majalah. Namun kurasa beberapa fans tahu petshop yang
dimaksud adalah petshop ini karena aku pernah menerima pengunjung yang
berbisik-bisik kalau disini tempat kerja Shou-kun dulu.”
Yoriko mengangguk paham. Dia jadi
teringat Spencer Williams lagi. Dia membuat tokohnya itu pernah bekerja di
sebuah minimarket sewaktu masih seusia Shou 4 tahun yang lalu. Spencer tipe
karyawan yang hampir tidak pernah serius dalam bekerja. Walaupun begitu, hasil
pekerjaannya tetap rapi dan bagus sehingga atasannya tidak bisa memarahinya.
Spencer juga tipe yang selalu membawa keceriaan di tempat kerja. Teman-temannya
merasa kalau dengan kehadiran Spencer, tempat kerja mereka serasa lebih ramai
walaupun minimarket itu tidak didatangi pengunjung.
“Shou-kun dulu hampir tidak pernah
serius kalau sedang bekerja. Tapi dia selalu membawa keceriaan di petshop ini.
aku bisa merasakan kesepian yang amat sangat kalau dia tidak bekerja atau
pulang bekerja.” Avaron mengenang Shou.
Karena penasaran, Yoriko akhirnya
bertanya, “kalau boleh tahu, bagaimana Shou-san sewaktu bekerja disini, selain
dari yang anda tadi ceritakan?”
Avaron lalu bercerita kisah awal dari
Shou pertama kali melamar kerja di petshop. Sikapnya yang sok dan menyebalkan
saat pertemuan pertama malah membuat dirinya menjadi menarik di mata Avaron.
Karena Avaron menghargai usaha Shou yang ingin membiayai bandnya yang dulu
masih belum terkenal dengan bekerja di petshop, Avaron langsung menerimanya. Namun
Shou tidak pernah menganggap Avaron sebagai atasannya. Shou sama seperti Aya,
memandang Avaron sebagai temannya sendiri, begitu juga dengan Avaron.
“kenangan kami bersama Shou... lebih
dari itu. Dia tidak hanya sekedar anak buah dan atasan bagiku secara
pribadi...” Avaron tersenyum. Senyumannya itu seperti dia menyimpan sesuatu
dari masa lalunya bersama Shou.
Yoriko tidak kaget mendengarnya. Dia
seperti sudah menduga Avaron akan mengatakan itu sebelumnya. Seakan dia sudah
mengenal wanita ini dan Yoriko juga bisa menebak dengan mudah bagaimana perasaan
Avaron terhadap Shou sekarang.
“maksudku, saat aku bertemu dengannya
pertama kali, aku sedang di masa sulit. Shou yang selalu menemaniku waktu itu.”
Avaron langsung menjelaskan maksudnya. “dia seperti... badut kelas disini.”
“apa yang anda ceritakan tentangnya
sekarang jauh berbeda dari Shou-san yang kulihat kemarin.” Kata Yoriko. Dia
ingin tahu penyebab kenapa Shou bisa berbeda 180 derajat dari Shou yang Avaron
ceritakan. Jangan-jangan...
“entahlah. Sejak dia masuk ke
manajemen menyebalkan itu dia menjadi berubah. Dia lebih sibuk, lebih dingin,
dan lebih monoton daripada Shou yang dulu.” Avaron tidak tahu penyebabnya.
“semua hanya untuk kerja kerasnya di
band bernama alice in wonderland atau semacamnya itu...” Yoriko menanggapi
walaupun dia salah menyebutkan nama bandnya.
“Alice Nine.” Avaron membenarkan.
“aku mengerti dia mencintai bandnya. Aku bisa melihat suamiku juga seperti itu.
Tapi aku masih merindukannya. Aku selalu merasa dirinya yang sebenarnya sedang
pergi berkelana tanpa tujuan, mencari sesuatu yang hanya dia tahu, dan entah
kapan dia akan kembali.”
“sepertinya ucapan dari sahabat lebih
terdengar seperti sebuah kenyataan...” Yoriko sedikit menyindir.
“hm... kita yang mengenalnya hanya
bisa berharap dia kembali suatu hari nanti. Bukankah begitu, Yoriko?” Avaron
tersenyum tipis. “ayo, masih banyak yang harus kutunjukkan dan kujelaskan
padamu. Kau juga belum melihat ruang praktek dokter Inoue, bukan?” Avaron
memberikan isyarat tangannya ke Yoriko untuk terus mengikutinya.
***
Tugas pertama Yoriko hari ini adalah
membersihkan lantai petshop. Tugas yang mudah menurutnya. Dia sudah biasa
membersihkan ruangannya sendiri di setiap apartemen yang dia tinggali saat dia
bepergian ke negara lain. Apartemen kelas menengahnya di Perancis, Inggris, dan
New York, apartemen sewanya yang sangat murah di Indonesia adalah sebagian
contoh. Apalagi saat dia dulu masih tinggal di panti asuhan.
Setelah menyedot debu dengan vaccum
cleaner, Yoriko menaruh mesin itu kembali ke dalam kloset di bagian belakang
petshop. Gantinya ia mengambil pengepel dan ember plastik. Dia mengisi ember
itu dengan air dari keran toilet lalu memberinya cairan pembersih lantai. Dia
memasukkan tongkat pel ke dalam ember, mengeluarkannya dan memerasnya kemudian
memulai pekerjaan keduanya itu.
Dia memulai dari bagian belakang
petshop. Dari ujung pintu gudang lalu ke ujung belakang lorong-lorong yang
dibuat dari rak display. Dia mengerjakan pekerjaannya dalam diam, sambil
mendengarkan musik dari iPodnya. Sesekali berhenti untuk beristirahat selama
beberapa detik, lalu kembali mengepel.
Pandangan matanya masih terus tertuju
pada lantai yang sekarang semakin terlihat bersih setelah dipel. Tidak lupa dia
juga membersihkan sudut-sudut yang terlupakan seperti di bawah rak display,
atau di pojokan ruangan. Semuanya dia lakukan dengan tenang sampai ada sepasang
kaki mengenakan sepatu Adidas berwarna hitam putih menghalangi jalannya.
Yoriko mengangkat kepalanya untuk
melihat siapa pemilik kaki itu. Ternyata seorang pria, yang sudah sangat tidak
asing lagi baginya, berdiri di hadapannya. Pria itu mengenakan kaus oblong
hitam, dan celana jeans gelap yang nyaris menutupi ujung belakang sepatunya. Dia
memakai kacamata berbingkai kotak hitam penuh. Rambutnya berwarna cokelat
terang terlihat berantakan seperti habis tertiup angin. Wajah tampannya
tersenyum gagah di pada Yoriko.
“tega sekali kau meninggalkanku di
Indonesia.” Kata pria itu.
Yoriko hanya mendengus pelan dan
kembali meneruskan pekerjaannya. “kupikir kau tidak ingin pergi dari sana.”
“ayolah, di Jakarta sangat panas
hawanya. Lebih baik aku disini saja, menikmati hawa musim semi yang hangat...”
pria itu sekarang berdiri di sebelah Yoriko. “bagaimana kalau kita jalan-jalan?
Aku ingin tahu bagaimana Jepang, Yoriko-chan...”
“tidak bisa. Aku sedang bekerja
sekarang. Bagaimana kalau kau jalan-jalan sendiri saja? kau merusak lantai yang
baru saja kupel dengan sepatumu.” Jawab Yoriko sambil terus mengepel.
“aku bisa tersesat, Yoriko-chan.
Tokyo kan kota yang sangat besar. Kumohon...” si pria bersikap seperti anak
kecil, terus-menerus merengek pada Yoriko agar wanita itu mau menemaninya
jalan-jalan.
“sudah kubilang tidak, bisa. Ini hari
pertamaku bekerja dan aku tidak ingin merusaknya dengan pergi begitu saja
denganmu, tahu. Atasanku bisa marah.” Yoriko menolak lagi.
“huh. Baiklah. Kau menjadi tidak seru
sekarang. Aku bermain dengan para hamster saja. kulihat tadi disana mereka
sangat imut. Aku juga sudah melihat anjing jenis Akita yang kau namai tadi.
Alen. Lucu sekali namanya.” Pria itu kembali mengoceh sambil berlalu dari
hadapan Yoriko ke lorong sebelah untuk melihat binatang-binatang yang tadi dia
sebutkan.
Untuk sesaat suasana kembali tenang
dan Yoriko terus melanjutkan mengepelnya. Namun, dia tiba-tiba mendengar suara
teman prianya itu memanggil namanya dari lorong sebelah. Suara lengkingannya
sangat kencang sekali sampai-sampai Yoriko kaget dan berlari kecil
menghampirinya.
“jangan berisik! Nanti atasanku bisa
menegurmu!” Yoriko memperingatkan temannya yang kini sedang menatap meja kasir
dekat pintu masuk dengan wajah tertegun dan matanya membulat.
“lihat dia. Dia mirip sekali
denganku!” seru sang pria seraya menunjuk seseorang yang sedang berdiri di
depan meja kasir. Yoriko tahu yang temannya maksud adalah Shou Kohara, pria
dari band yang namanya Yoriko hampir tidak ingat. Dan pria yang memegang posisi
vokalis di bandnya itu sekarang terlihat sedang berbincang-bincang dengan Avaron
Yutaka.
“kenapa dia bisa mirip sekali
denganku, sih!?” Yoriko kembali mendengar temannya menggerutu. Dia
menghentakkan kakinya dan bibirnya yang lucu itu cemberut karena kesal. “tapi
kurasa dia tidak lebih seru daripadaku.”
“kau bisa tahu darimana?” tanya
Yoriko.
“aku tahu saja. dia seperti orang
yang tidak punya hidup. Lihat, ada lingkaran hitam di matanya. Itu berarti dia
kurang tidur. Lalu rambutnya juga berantakan. Dan aku yakin dia mengambil
pakaiannya itu asal-asalan sampai dia tidak sadar kalau celana jeansnya
mengatung sampai betisnya.” Temannya mengritik penampilan Shou Kohara.
“terdengar seperti dirimu...”
komentar Yoriko.
“tapi bedanya, aku lebih tampan dan
keren darinya.” Temannya yang sok itu menyibakkan rambutnya.
“hah... sudahlah. Kalau kau bersikap
seperti itu lagi, aku akan menendangmu keluar dari petshop.” Yoriko mulai
jengah dengan kehadiran temannya itu.
“kau tidak bisa seenaknya melakukan
itu, Yoriko-chan. Lagipula, tampaknya mereka sedang membicarakan hal serius.
Coba kau dengarkan.” Kata si pria.
Yoriko melepaskan headset iPodnya dan
mulai mendengarkan apa yang kedua sahabat lama itu bicarakan di depan. Yoriko
tahu benar apa yang dia lakukan sangat tidak baik, menguping pembicaraan orang
lain. Tapi karena dia sangat penasaran, dan sepertinya temannya mempunyai
alasan bagus untuk meminta Yoriko mendengarkan apa yang mereka bicarakan, dia
akhirnya melakukannya.
Sambil memperhatikan gerak tubuh
mereka selama berbicara, Yoriko bisa mendengar sangat jelas karena petshop ini
sepi.
“jadi kau menyempatkan waktumu yang
sangat padat kemari hanya untuk memesan kucing persia berbulu putih, Shou?”
Avaron mengangkat alisnya.
Shou dengan dingin menjawab,
“memangnya kenapa?”
“tidak. Tidak kenapa-kenapa. Tapi aku
bisa menyediakan kucing yang kau inginkan kira-kira besok pagi. Apa tidak
apa-apa?” tanya Avaron.
Shou hanya mengangkat bahunya, tidak
sedikitpun merubah sikapnya yang sedingin kutub utara itu. “tidak apa-apa. Tapi
kurasa aku tidak bisa menjemputnya besok kesini. Aku sibuk.” Jawab Shou
seadanya saja.
“aku bisa meminta tolong karyawanku
untuk membawakannya ke rumahmu. Kau hanya tinggal membayar biaya tambahan untuk
jasa pengantaran saja. kau bisa langsung memilikinya sedangkan aku akan
mengurus surat adopsinya. Bagaimana?” tawar Avaron.
“’karyawan’? tidak biasanya kau
menyebut Aya dengan kata itu.” Shou tidak menjawab tawaran dari Avaron.
“aku baru saja menerima karyawan baru
hari ini. dia Yoriko Ishihara. Kau masih ingat, bukan? Dia kemarin juga datang
di pesta ulang tahun Yukio-chan. Kurasa dia tidak akan keberatan mengantar
kucingmu ke apartemenmu.” Avaron menjelaskan.
“oh.” Jawab Shou datar. “ya sudah.
Urus saja semuanya.”
“aku akan mengurus semuanya tanpa
bertanya apapun lagi karena aku tahu kau sangat sangat sibuk. Tapi ada
syaratnya.” Avaron tersenyum sedikit menggoda. Dia mencondongkan tubuhnya yang
ada di balik meja kasir ke arah Shou. “tolong beri nama yang imut dan kreatif
untuk kucing barumu.”
“itu bisa diatur.” Shou masih saja
memasang wajah tanpa ekspresinya. “ya sudah. Aku tidak bisa lama-lama disini.
Aku harus segera kembali ke studio.”
“Shou, tunggu.” Avaron menahan Shou
dengan memegang lengan sahabatnya. “hanya itu? kau hanya datang, memesan
kucing, lalu pergi begitu saja? kau sama sekali tidak menjelaskan alasan kenapa
kau ingin memelihara kucing. Bahkan kau juga tidak menyinggung soal diskon atau
semacamnya saat aku memberitahumu tentang biaya tambahan untuk pengiriman.”
“oh ya?” Shou tidak menyadari apa
maksud Avaron. “memangnya itu aneh, ya?”
“tidak. Hanya saja, Shou yang dulu
kukenal dia pasti akan menjelaskan kenapa dia ingin memelihara kucing tanpa
diminta. Dan aku yakin, penjelasannya itu pasti lebih dari 2 halaman kertas
kalau ditulis. Lalu Shou yang dulu kukenal juga sering menyinggung soal diskon,
kenaikan gaji, taruhan kecil-kecilan. Tapi sekarang?”
“tidak ada ‘Shou yang dulu kukenal’,
Avaron... yang ada hanya Shou ini.” dia menunjuk dirinya sendiri. “dan aku
sudah berubah.”
“kau juga tidak memanggilku ‘Ava’
lagi seperti dulu...” Avaron berkata lirih.
“aku tidak berhak memanggilmu dengan
panggilan itu, Avaron. Hanya orang itu saja yang berhak.” Jawab Shou. “kau
tidak usah terlalu memikirkan aku lagi. Kau sudah mempunyai keluarga dan
sekarang perhatian utamamu adalah mereka, bukan aku.”
“Shou... tidak hanya aku saja yang
merasa kehilangan. Masih ada yang lain... apa kau lupa masa-masa dulu?” tanya
Avaron.
Shou melihat mata Avaron
berkaca-kaca. Nanar matanya terlihat sedih dan kehilangan. Shou dulu pernah
melihat ekspresi itu, tapi saat itu kedua mata sedih milik wanita yang
diam-diam masih dia cintai itu untuk orang lain. Bukan dirinya.
Shou sebenarnya ingin sekali
melepaskan beban yang dia simpan selama bertahun-tahun. Berusaha melupakan dukanya
dengan mengerahkan jiwa raganya untuk hal yang dia cintai, yaitu musik. Tuhan
atau alam semesta sudah mengabulkan keinginannya, yaitu menjadi sukses bersama
bandnya. Namun dia selalu sadar kalau Tuhan tidak akan mengabulkan keinginannya
untuk bisa memiliki wanita di depannya ini. Dia selalu menertawakan dirinya
sendiri. Dia mendapatkan segalanya, kecuali wanita sederhana dan tidak terlalu
mempedulikan hal-hal berlebihan seperti Avaron Kobayashi. Oh tidak, Shou dengan
berat hati harus memanggilnya dengan nama barunya, Avaron Yutaka.
Lucunya, tidak ada yang tahu
perasaannya sekarang. Semuanya tertutupi oleh sikap dingin dan
ketidakpeduliannya terhadap masa lalunya. Berimbas pada Avaron dan Aya,
orang-orang yang merupakan bagian dari masa lalu itu. Dan kini, kedua orang itu
hanya mengritik permukaannya, tanpa tahu apa yang Shou simpan di dasar hatinya.
“masa lalu tetaplah masa lalu,
Avaron...” kata Shou sebelum dia melepaskan lengannya dari Avaron dan keluar
dari petshop. “kau tidak bisa melanjutkan hidup kalau kau terus terpaku pada
masa lalu...”
Avaron hanya bisa memandang pedih
sosok sahabat yang dulu sangat dia sayangi menghilang di kerumunan orang-orang
yang memadati trotoar. Bertanya-tanya apa yang membuat Shou bisa berubah
seperti orang asing, tanpa tahu kalau dirinyalah penyebabnya...
***
Hanya dengan mendengar perbincangan
mereka dan membaca wajah kedua orang itu Yoriko langsung tahu bagaimana
kejadian sebenarnya di masa lalu yang terjadi di antara sepasang sahabat yang
retak itu. Yoriko masih tetap berdiri di ujung lorong, bersembunyi di balik rak
display, bersama teman prianya yang masih berisik di sebelahnya.
“pria itu menyedihkan.” Komentar
temannya. Namun Yoriko tidak menanggapi.
“sudah kubilang, bukan. Dia lebih
menyedihkan daripada aku.” Kata temannya lagi. Tapi Yoriko masih tidak
mengindahkannya.
“aku berani bertaruh 1000 yen kalau
pria itu masih mencintai si wanita.” Si pria masih belum berhenti mengoceh.
“tapi kenapa seleraku dan seleranya
bisa sama? Aku juga menyukai kucing persia. Apalagi kalau mereka mempunyai mata
berwarna biru.”
“ssh! Bisa diam, tidak!?” Yoriko
memarahi temannya.
“kau kenapa, Yoriko-chan? Apa kau
cemburu? Apa kau menyukai pria itu?” tebak temannya. Yoriko tidak menjawab.
Wanita bergaya gothic itu kini tidak sanggup berdiri lagi. Tubuhnya yang
bersandar dinding di dekat rak display kini merosot, membuatnya berjongkok di
lantai.
Sahabat setia Yoriko juga ikut duduk
di sebelahnya dan lalu berkata dengan penuh rasa percaya diri, seakan dia
mengetahui segalanya, “tidak mungkin kau menyukai dia, Yoriko-chan. Dia
menyebalkan, selalu menggerutu, bersikap dingin, dan mungkin saja dia tidak
akan melihatmu. Kau mungkin jadi memperhatikannya karena dia mirip sekali
denganku. Iya, kan?”
“maksudmu apa?” tanya Yoriko tidak
mengerti.
“masa kau tidak sadar?” temannya
menyandarkan tubuhnya di dinding, lalu mengintip sosok Avaron Yutaka dari
kejauhan. “hanya sekedar informasi. Tapi entah kenapa, aku merasa sangat kenal
pada wanita yang ada di meja kasir itu. Dia atasanmu, bukan? Siapa dia? Dia
cantik sekali... kau mau mengenalkannya padaku?”
Mendengar itu, Yoriko menggeram
pelan. Dia menutup kedua telinganya dan sekali lagi mengancam temannya itu
kalau Yoriko benar-benar akan menendangnya keluar kalau temannya mengucapkan
satu kata lagi.
No comments:
Post a Comment