Prolog
Baru pertama kalinya Judy Hunters masuk ke gedung kepolisian kota Grandfield
yang cukup besar ini. hari ini adalah hari pertamanya bekerja setelah ia
dimutasi dari kota tempat ia bekerja sebelumnya beberapa minggu yang lalu.
Judy Hunters adalah seorang profiler
yang masih pemula, tapi cukup pintar dan kemampuannya semakin meningkat. Judy
masih tidak mengerti kenapa atasannya memindahkannya ke kota kecil seperti ini
di Amerika. Mungkin karena dia kurang pantas bekerja disana, atau kota ini
membutuhkan seorang profiler seperti dia.
Seorang lelaki paruh baya yang
usianya 20 tahun lebih tua daripadanya menyapa Judy saat dia masuk ke dalam.
Judy tahu lelaki berjas hitam itu bernama Simon Greed yang menjadi atasan
sekaligus supervisornya disini.
“selamat datang, Judy Hunters.” Sapa pria itu. “aku sedang tidak ingin
berbasa-basi karena hari ini banyak kasus menumpuk. Lebih baik kuantarkan kau
segera ke lantai tempat kau bisa bekerja.”
Bagus. Judy memang bukan tipe orang
yang bisa berbasa-basi.
Mereka masuk ke dalam lift untuk
membawa mereka ke lantai 3, lantai puncak gedung ini.
“menurutmu bagaimana gedung ini?
pasti berbeda jauh dari New York.” Tanya Greed.
Tapi Judy memilih untuk tidak
menjawab. Karena gedung ini sama seperti gedung-gedung polisi lainnya. Abu-abu,
membosankan, berbau asap rokok, suasananya sedikit mencekam karena banyak
penjahat yang dibawa kesini untuk diinterogasi, dan orang-orangnya yang selalu
berpakaian terlalu normal. Contohnya seperti Simon Greed ini.
“aku tidak tahu di New York kalian
memakai pakaian apa saat bekerja. Tapi aku tidak ingin kau memakai jeans dan
sneakers itu lagi besok.” Perintah Simon. Judy memperhatikan dirinya sendiri.
Kaus berkerah berwarna hitam, celana jeans, sneakers Conversenya, dan rambut
merahnya yang menyala karena pewarna rambut itu benar-benar mencolok.
“baik, pak…” Judy hanya menurut.
Setelah itu Simon tidak berkata
apa-apa lagi. mereka sudah sampai di lantai 3, lantai ini hanya terdiri dari
meja-meja kerja yang diberi sekat, dan beberapa ruangan khusus untuk opsir, dan
ruangan untuk keperluan lainnya.
“kau lihat orang yang berambut
cokelat itu?” Simon menunjuk seorang pria yang usianya sama seperti Judy, pria
itu mengenakan kemeja putih yang tidak dimasukkan ke celana dan lengannya
dilipat hingga siku, celana krem, dan dasinya berantakan.
“siapa dia?” tanya Judy.
“dia atasanmu. Kau akan satu tim dengannya. Dekati
saja dia, dia sudah tahu kau akan datang hari ini.” setelah itu Simon begitu
saja meninggalkan Judy berdiri di depan lift.
Judy menghela nafasnya. Lantai ini
terdiri dari orang-orang yang sibuk berbicara di telepon, berkutat dengan
tumpukan-tumpukan file kasus, atau hanya sekedar kumpulan polisi-polisi yang
mengobrol dengan ditemani kopi dan donat sebagai snack mereka.
Judy berjalan mendekati pria yang
Simon maksud tadi. Dia
sedang duduk di atas meja dan asyik membaca file kasus. Dari wajahnya Judy tahu orang ini
pasti menyebalkan.
“hai. Aku Judy Hunters. Kata Greed,
kita satu tim.” Sapa Judy. “dan
kau pasti…” Judy melihat ke papan nama yang ada di atas meja si pria. S. Williams
“oh.” Hanya itu reaksi si pria. Tanpa sedikit pun melihat Judy.
“bisa tidak kau sedikit lebih sopan?”
pinta Judy.
“kau menyuruhku, anak baru?” pria itu
akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Judy dengan tatapan sinis.
“anak baru?” Judy mengangkat alisnya.
“hh… sudah kuduga.” Si pria menutup file
kasus yang dia baca dan menaruhnya sembarangan di meja kerjanya. “perkenalan
singkat saja, aku Spencer. Mejamu ada disana.” Spencer menunjuk meja kosong di
sebelah mejanya. Meja mereka dibatasi oleh sekat.
Judy pun melihat mejanya yang kosong
itu. Tapi diatas meja sudah terdapat tumpukan beberapa file.
“ini filemu, Spencer?” Judy menunjuk
file-file itu.
Spencer tertawa sarkastis sebelum
menjawab, “tentu saja bukan, bodoh. Itu filemu. Yang harus kau bereskan
sekarang juga.” Spencer kembali
memasang ekspresi datar.
“baiklah…” Judy memutar matanya. “bos…”
Judy pun duduk di mejanya dan membuka
file-file kasus itu. Walaupun
dalam hati dia masih kesal pada Spencer Williams, atasan barunya yang
menyebalkan itu.
No comments:
Post a Comment