Saturday, June 22, 2013

The Delusion (8)

8

Entah sudah berapa kali Honoka Ikeda menguap bosan karena bekerja di balik meja resepsionis kantor manajemen ini di hari Minggu. Sangat membosankan, rasanya ingin cepat-cepat pulang lalu menyembunyikan diri di balik kotatsu! Meskipun awal bulan Maret sudah dimulai, hawa beku yang tersisa dari musim dingin masih ada. Kapan dia bisa mengambil cuti untuk mengikuti upacara hanami bersama keluarga atau teman-temannya ia tidak tahu.

Beberapa temannya iri pada Honoka saat mereka tahu dia diterima kerja di kantor yang mewah dan berlantai 3 ini. mereka bilang Honoka sangat beruntung bisa bertemu para artis pujaan mereka setiap hari, bisa menyapa mereka jika mereka melewati lobby atau menghubungi nomor mereka jika ada urusan penting.

Honoka bukanlah seorang yang menyukai visual kei. Karena ketidak tertarikannya itulah yang membuatnya diterima bekerja disini. Karena atasannya tidak akan menerima karyawan yang selalu menjerit kegirangan bila bertemu artisnya. Honoka lebih suka sesuatu yang feminin. Dia lebih suka mendengarkan lagu Ayumi Hamasaki daripada Miyavi yang keluar dari manajemen ini beberapa tahun lalu. Dia lebih memilih Arashi atau Kat-tun ketimbang Gazette atau Alice Nine.

Honoka tidak pernah mau tahu urusan para artis itu disini. Yang dia tahu dan lakukan hanyalah tersenyum dan bersikap manis di depan mereka agar ia bisa memertahankan pekerjaan yang memberinya makan ini.

Honoka memandang pemandangan di balik pintu masuk gedung di depannya. Cuaca mendung tetapi sepertinya awan tidak ingin menurunkan hujannya. Masih banyak orang di luar area gedung berjalan di trotoar mengenakan mantel dan syal mereka. namun ada juga sekelompok gadis muda berjalan mengenakan dress bergaya gothic lolita pink demi menyambut musim semi.

Gadis berambut keriting itu memutar matanya kesal. Sudah muncul saja gadis-gadis seperti itu di awal musim semi.

Tidak lama kemudian, di kejauhan, Honoka melihat seseorang berdiri di depan pintu gerbang kantor PSC. Honoka tidak bisa melihat wajahnya lebih jelas meskipun kacamata berbingkai elipsnya sudah membantu penglihatannya. Tapi yang ia tahu, gadis itu – karena orang itu terlihat memakai rok – berpenampilan serba hitam dari atas sampai bawah.

Dari gesturnya, petugas sekuriti memersilakan gadis itu masuk ke area gedung. Petugas itu menunjuk pintu masuk yang ada di hadapan Honoka sekarang.

Perlahan-lahan, Honoka bisa melihat lebih jelas sosok gadis itu. kesan pertamanya adalah, apakah gadis itu tidak menyambut musim semi seperti gadis lainnya? Kenapa petugas sekuriti begitu mudahnya mengizinkan gadis itu masuk mengingat penampilannya yang aneh?

Honoka sering melihat gadis berpenampilan gothic hitam seperti gadis itu. Tapi gadis-gadis itu tidak memiliki aura aneh yang dimiliki gadis yang sekarang sudah membuka pintu lobbynya.

Tangan si gadis berambut hitam seperti tokoh anime yang pernah Honoka lihat di suatu tempat kini melepas ikatan tali jubah hitam seperti penyihir yang dikenakannya. Sehingga terlihatlah pakaian gadis itu. Kemeja katun lengan panjang dan rok selutut berwarna hitam. Kedua pakaian itu memiliki detail ruffle di bagian kerah dan ujung roknya. Dia memakai sepatu high heels hitam biasa. Make upnya juga tidak kalah misterius, eyeliner di kelopak matanya ditambah eyeshadow hitam dan lipstik merah yang kehitaman. Walaupun kulit gadis itu sedikit kecoklatan, dia tetap terlihat cantik dengan make up itu.

Gadis itu berjalan ke arah Honoka yang pada akhirnya memberikan senyuman ramah untuknya juga. “selamat pagi, nona. Ada yang bisa saya bantu?”

“selamat pagi,” gadis itu membalas sapaan Honoka dengan suara lembutnya yang seperti anak kecil tapi tidak dibuat-buat. Pantas saja petugas keamanan itu memersilakan dia masuk begitu saja. “aku Yoriko Ishihara, aku ingin bertemu dengan Amano Shinji. Dia dari band... Alice Nine?”

Honoka langsung melaksanakan tugasnya menghubungi siapa yang gadis bernama Yoriko itu tuju. Suara milik Amano Shinji atau Tora itu meminta Yoriko menunggu sebentar saat Honoka menghubungi gitaris itu. Honoka ingat siapa Tora dari postur tubuhnya yang tinggi besar.

“Tora-san sedang menuju kesini. Anda bisa menunggu disana...” Honoka berdiri sambil menunjuk sofa di sisi kanan lobby. “sembari menunggu, anda ingin meminum sesuatu?”

“oh, tidak usah...” Yoriko menolak halus seraya mengangkat tangannya yang bersarung tangan hitam. “terima kasih...”

Honoka memandang diam-diam Yoriko Ishihara dari balik meja respsionis. Gadis itu duduk diam, tas tangan beserta jubahnya ada di pangkuannya. Sikap duduknya manis sekali, Honoka bisa mendengar gadis itu menyenandungkan sebuah nada lagu yang tidak Honoka tahu. Mata Yoriko menerawang ke segala arah, menikmati desain moderen minimalis yang diberikan lobby ini.

Dia tidak terlihat seperti penggemar salah satu band yang diasuh oleh manajemen ini. Tadi saja dia menyebut nama Amano Shinji dengan tenang, seakan dia tidak tahu bahwa orang itu adalah gitaris band terkenal. Mungkin Yoriko akan menjadi salah satu favorit mereka.

Mungkin...

*** 

Hanya membutuhkan sekitar 5 menit untuk Yoriko menunggu di lobby. Tora sudah datang dari lift tidak jauh dari sofa tempat duduknya. Pria yang tingginya mungkin sekitar 180an itu melemparkan senyuman ramah ke Yoriko.

“hai! Sudah kuduga kau pasti akan menerima pekerjaan dariku cepat atau lambat.” Kata Tora gembira.

“yah, kurasa tidak ada salahnya kalau dicoba...” Yoriko berdiri. Badannya terasa menyusut jika Tora yang bertubuh besar berdiri di depannya seperti ini. tapi tetap saja, tinggi badan Yoriko hanya bisa menyamai lengan Tora.

“ayo, kita ke ruangan Alice Nine. Ketiga temanku sudah ada disana.” Tora menarik tangan Yoriko menuju lift.

*** 

Lantai 2 hanya terdiri dari lorong-lorong putih yang panjang dan seperti tidak berujung. Lorong yang sedang ditelusuri oleh Yoriko dan Tora ini memiliki banyak pintu. Yoriko tidak ingin tahu apa yang menanti di balik pintu-pintu membosankan itu.

“sayang sekali Shou tidak datang hari ini.” kata Tora yang ada di depan Yoriko, membimbingnya melalui lorong yang tidak berujung ini.

“kenapa?”

“katanya dia malas datang. Memang, kita tidak pernah latihan pada hari Minggu. Tapi kita semua sengaja datang hari ini untuk menyambutmu, Yoriko-chan...”

Yoriko tidak kaget. Shou pasti sedang menghindarinya, mengingat kejadian yang mereka alami di kedai 3 hari lalu.

Pria itu benar-benar membencinya sekarang.

“apapun hal tidak baik yang dikatakan Shou kepadamu, jangan dihiraukan, ya. Dia memang begitu sejak 4 tahun lalu.” Tora meminta Yoriko memaklumi sahabatnya.

Yoriko hanya mengangguk meskipun Tora tidak bisa melihatnya. Sekarang lebih baik dia fokus pada pekerjaan barunya, mengabaikan perasaannya tentang Shou apapun bentuknya. Dia sudah cukup dipusingkan oleh 2 pekerjaan dan kegiatan menulisnya. Dia tidak ingin perasaan itu menghantuinya lagi.

Ya, sekarang Yoriko tahu bagaimana dia harus bersikap apa di depan orang dingin itu nantinya.

Setelah Yoriko selesai berpikir, Tora sudah membawanya ke tujuan mereka. sebuah pintu yang memiliki logo Alice Nine, logo berupa nama band mereka yang diukir dalam huruf klasik dan  beraksen melengkung.

Begitu mereka masuk, Yoriko langsung disambut oleh tiga pria yang sedang duduk di sofa tengah ruangan.

“oh, jadi ini Yoriko Ishihara, ya?” kata salah satu dari mereka, seorang pria berambut merah yang poni rambutnya sedikit menutupi matanya. Bagi Yoriko, meskipun pria itu berusaha bersikap macho, dia masih sedikit terlihat cantik.

“akhirnya aku bertemu denganmu juga!” timpal pria yang duduk di sebelah pria berambut merah. Pria itu wajahnya lebih ramah dan sepertinya juga lebih banyak tersenyum. Dari senyumannya rasanya pria itu seperti tidak memiliki beban hidup.

“Shou memang jahat, dia tidak pernah mau mengajakmu berkenalan dengan kami...” dan pria terakhir yang duduk tidak jauh dari 2 pria sebelumnya turut menjawab. Pria itu tampaknya lebih pendek daripada ketiga temannya. Meskipun begitu, dia memiliki wajah yang keras dan keren. Yoriko tidak akan heran jika dia melihat banyak gadis menyukainya.

Mendengar kata sambutan mereka, Yoriko terpekur. Mereka sudah tahu Yoriko sejauh itu? Shou menceritakan apa tentang Yoriko kepada mereka?

“perkenalkan, Yoriko. Dia Saga...” Tora menunjuk ke si pria berambut merah. Yoriko memberikan sebuah senyum simpul ke pria cantik itu sebelum Tora beralih ke pria di sebelahnya, “dia Nao, si tukang makan...”

“yah, kalau Shou masih seperti dulu, Nao adalah sasaran empuknya untuk dikerjai, Yoriko-chan...” pria bertubuh pendek terkekeh. “tidak usah diperkenalkan. Aku bisa memerkenalkan diriku sendiri. Aku Hiroto.”

“aku bukan tukang makan. Aku hanya makan disaat aku lapar.” Nao membela diri. “tapi aku memang sedikit merindukan Shou yang suka menaruh super glue di tempatku duduk...”

Yoriko tersenyum lagi begitu dia mendengar cerita singkat tentang Shou dari teman-teman barunya. Ternyata dulu Shou memang orang yang menyenangkan.

Tora memersilakan Yoriko ikut duduk bersama mereka. Pada dasarnya, hari ini Yoriko datang menemui mereka untuk berkenalan dan mereka akan melakukan wawancara sedikit kepada Yoriko untuk pekerjaan barunya. Tapi bagi Yoriko, rasanya tidak seperti itu. Wawancara kerja yang dilakukan oleh mereka yang menyenangkan dan hampir tidak pernah bisa serius juga ditemani oleh beberapa kaleng root beer, kue-kue kering, dan game console, serasa seperti bertemu teman lama saja.

“kupikir kalian sibuk hari ini. aku sampai berpikir dua kali untuk datang tadi.” Kata Yoriko saat mengobrol bersama mereka.

“seharusnya. Tomomi dan manajer kami menyuruh kami latihan menjelang konser.” Jawab Tora santai. “tapi kami sengaja tidak melakukan apapun hari ini.”

“tapi Shou tidak terlihat seperti itu...” Yoriko menceritakan bagaimana penampilan Shou yang lebih seperti mayat hidup daripada mereka yang seperti punya kehidupan menyenangkan.

“biarkan saja. aku tidak tahu jalan pikirannya. Kalau dia tidak bisa melepaskan wanita itu, dia tidak akan bisa mempunyai hidup.” Tora kelihatannya sudah pasrah dengan sikap sahabatnya.

Yoriko hanya mengangguk. Dia tidak berani bertanya lebih jauh. Akan terasa lancang baginya untuk itu. Dia kemari hanya untuk mengambil pekerjaan yang dijanjikan Tora, bukannya mengorek keterangan tentang kehidupan orang yang tidak akan pernah peduli padanya.

Tapi, kenapa Yoriko peduli? Kenapa Yoriko yang tidak pernah mau tahu urusan orang lain menjadi peduli pada Shou yang tidak akan sedikit pun melihatnya?

Sepertinya pertanyaan itu hanya bisa dijawab kalau dia sudah menjalani pekerjaan ini.

“kalau konser ini sudah selesai, aku akan mengusulkan hiatus selama beberapa bulan sebelum kita meluncurkan album baru pada akhir tahun nanti.” timpal Nao. “lama-lama aku bisa mati kebosanan di balik drum setku sendiri...”

“konser? Kalian akan konser dimana?” tanya Yoriko.

“tetap di Tokyo. Tapi konser ini khusus untuk anggota fan club.” Jawab Tora.

“jadi kami akan mengadakan promo untuk konser ini.” Saga merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang terdiri dari 2 ekor anjing dan 2 ekor kucing. “ini akan menjadi cinderamata dari kami untuk mereka yang hadir ke konser.”

“wow...” Yoriko tertegun melihat gantungan kunci lucu itu. “mereka imut sekali...”

“yah, ini kucing milik Tora, namanya Chicken...” Saga menunjuk salah satu kucing yang berwarna abu-abu. Belum selesai Saga menjelaskan, dia mendengar suara Yoriko yang sedang menahan tawa.

“ya, aku tahu Chicken itu nama yang konyol untuk seekor kucing. Ayo, lanjutkan.” Tora sudah tahu penyebab tawa Yoriko. Tapi Yoriko masih belum bisa berhenti tertawa. Pipi gadis yang duduk di sebelahnya menggembung dan bibirnya yang dipulas lipstik berwarna merah kehitaman itu ditutupi oleh tangannya yang bersarung agar suara tawanya tidak keluar. Kalau diperhatikan, gadis ini sebenarnya sangat manis.

“kenapa kau tidak membawa kucingmu ke petshop, Tora-san?” tanya Yoriko penasaran. Tora juga belum pernah menyebut Chicken sebelumnya saat pria ini datang ke petshop beberapa waktu lalu.

“entah kenapa dia selalu tahu jika aku akan membawanya ke petshop. Dan dia membencinya. Dia takut jika seandainya disana dia akan diperiksa, disuntik, atau dimandikan. Makanya dia selalu memberontak jika aku hendak memasukkannya ke dalam carry bag...” Tora menjawab. “tapi dia kucing yang selalu sehat. Makannya juga teratur. Dia akan baik-baik saja.”

“ya, sama seperti pemiliknya...” suara Nao tiba-tiba menyahut jahil di sela pembicaraan mereka. Tora langsung melempar bantal dan tepat mengenai kepala Nao yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Berikutnya Saga menunjuk gantungan anjing yang ada di bawah Chicken. “ini anjingku, namanya Chiko...”

Yoriko tersenyum sendiri. Kenapa orang-orang ini selalu lucu dalam memberikan nama untuk peliharaan mereka? baginya Chiko adalah nama yang sangat imut untuk anjing berwarna hitam yang ada di gantungan itu.

Kemudian Saga beralih ke gantungan anjing di bawah Chiko. “dia Mogu, anjing pomeranian milik Hiroto.” Saga bercerita sedikit bagaimana bangganya Hiroto pada Mogu. Hiroto pernah berkata di salah satu wawancara bahwa Mogu adalah anjing pomeranian terimut di dunia.

“dia memang imut.” Komentar Yoriko. “dia mengingatkanku pada Boo, anjing berjenis sama di petshop. Mereka harus bertemu kapan-kapan.”

Terakhir, Saga memerkenalkan seekor kucing yang berada di paling bawah. “untungnya aku masih sempat membuat gantungan Chirori-chan tepat waktu. Aku benar-benar tidak tahu Shou memiliki kucing beberapa hari lalu.”

“apa? Chirori?” Yoriko kaget, tidak menyangka Shou benar-benar memberi nama kucing barunya persis dari nama yang Yoriko pernah sarankan. “Shou memberi nama kucingnya Chirori?”

“ya, Shou tidak memberitahumu, ya? Katanya Tora, nama itu usulan darimu...” Saga malah ikut memandang Yoriko dengan bingung.

Tora sendiri malah mengurut dahinya.

Yoriko membutuhkan beberapa lama untuk menyerap informasi ini. Oke. Shou membencinya. Tapi pria itu malah menggunakan nama yang diberikan Yoriko, orang yang dibencinya untuk nama kucing peliharaannya. Yoriko tadinya berpikir Shou tidak mungkin menggunakan nama itu. Toh Chirori adalah nama yang tercetus secara tiba-tiba dari pikiran Yoriko, yang sangat gugup dan bingung karena nyaris tidak bisa menjawab pertanyaan Shou yang bernada seperti menantangnya malam itu.

Orang itu benar-benar tidak bisa ditebak.

“aku sempat menyindirnya saat Shou memberitahuku tentang nama Chirori itu. tapi dia tidak bergeming, seakan dia sama sekali tidak bersalah karena sudah menggunakan nama darimu tanpa kau ketahui.” Tora menjelaskan situasinya. “maaf ya, Yoriko-chan...”

“oh, tidak apa-apa. Mungkin dia sedang tidak mempunyai ide bagus untuk nama kucingnya sehingga dia terpaksa menggunakan nama dariku.” Yoriko berpura-pura tidak mempermasalahkan itu meskipun di dalam hatinya dia sangat penasaran dan ingin berbicara pada Shou saat ini juga.

“sampai kira-kira akhir bulan nanti, kita akan sangat sibuk. Mungkin kita juga tidak bisa tidur lagi seperti biasanya. Jadi, kau mau kan menerima pekerjaan ini?” Nao memastikan sekali lagi. “kami tidak akan memaksa karena pekerjaanmu ini pasti akan sangat menyita waktumu...”

Demi bisa mendapatkan uang ekstra untuk makan dan menerbitkan novelnya, juga demi uang sewanya, Yoriko akhirnya menerima pekerjaan itu. Dengan pekerjaan ini, Yoriko akan terus-menerus melihat Shou di dunia nyata sebagai seorang vokalis salah satu band terkenal, bukannya seorang pria sempurna yang bekerja di sebuah kepolisian di kota khayalan. Imajinasinya yang liar dan akibat yang disebabkan oleh seluruh imajinasi itu akan terhapus oleh sikap Shou yang dingin dan tak acuh padanya.

“selama aku bisa menulis saat waktu senggang ketika bekerja, tidak masalah...” Yoriko sedikit memberikan syarat.

“ah... aku baru ingat! Kau sedang menulis novel, ya?” tanya Nao antusias. “aku boleh membacanya?”

Yoriko juga tidak menyangka kalau Nao yang dari luar kelihatannya tidak pernah bisa serius ini ternyata suka membaca novel, “ya, tentu saja. kalau novelnya sudah selesai kutulis, akan kuberikan kepadamu untuk dibaca.”

“yes!” Nao mengepalkan tangannya penuh semangat. “sudah lama aku tidak membaca novel!”

“nah, wawancara ini sudah hampir selesai. Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi.” Hiroto membenarkan posisi duduknya, menatap Yoriko dengan serius dan tajam. Jika Hiroto sudah memasang ekspresi itu, semua orang yang mengenalnya pasti akan diam. Walaupun tubuhnya tidak sebesar teman-teman bandnya, dia memiliki aura tertentu yang jika dikeluarkan, akan membuat orang lain bungkam dan mendengarkannya.

“apa pendapatmu mengenai kami semua? Apakah kau penggemar kami atau bukan? Selain itu, apa kau pernah mendengarkan lagu kami?”

Pertanyaan yang pasti bisa dijawab dalam waktu singkat oleh Yoriko yang cuek, malah membuat Yoriko berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. Dia tidak pernah tahu apa itu visual kei. Yang dia tahu hanyalah gothic music. Saat Yoriko mencari info tentang visual kei di internet, dia mengetahui bahwa di luar Jepang, orang menganggap aliran visual kei adalah bagian dari gothic. Dia juga mendapat informasi ternyata di bawah visual kei masih ada cabangnya. Oshare kei yang dianut oleh Alice Nine, Nagoya kei, dan lain sebagainya.

Yoriko memandang satu per satu keempat personil band yang kini turut memandangnya juga, menanti Yoriko mengeluarkan jawabannya.

“aku...” Yoriko menarik nafasnya sebelum meneruskan. “sebenarnya sama sekali tidak tahu apa itu visual kei sebelum Aya membahasnya di depanku saat hari pertama aku tiba di Jepang. Aku memang menyukai gothic, tetapi aku tidak tertarik pada visual kei. Jadi aku menjawab, aku bukanlah salah satu penggemar kalian. Setelah aku berkenalan dengan Shou dan Tora, Aya meminjamiku CD-CD lagu kalian. Aku menyukai beberapa lagu kalian. Lewat lagu-lagu itu, aku tahu kalian sangat serius menekuni dunia musik, dan kalian mencintainya.”

“kau belum menjawab pertanyaan pertamaku. Apa pendapatmu mengenai kami secara pribadi?” Hiroto mengulangi pertanyaannya dengan tegas.

“aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Aku baru hari ini bertemu kalian. Tapi kecuali untuk Tora-san, menurutku dia adalah orang baik.” Yoriko melihat ke arah Tora.

Tapi Tora malah memberikan pertanyaan lain, “lalu bagaimana dengan Shou? Kau lebih sering menghabiskan waktu bersamanya, kan? Bagaimana menurutmu tentangnya?”

Yoriko tercekat. Sudah berapa kali dia diberi pertanyaan seperti ini? Sudah berapa kali dia diserang dengan pertanyaan serius yang membutuhkan pemikiran ekstra untuk dijawab? Mereka bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Yoriko memersiapkan jawabannya.

“dia orang yang baik juga.” Jawab Yoriko singkat.

“kenapa kau berpendapat begitu? Dia sudah membuatmu jengkel, mencuri ide nama darimu, dan menganggapmu tidak ada. Apa artinya, Yoriko?” Hiroto malah menuding Yoriko.

“memang, apa yang kau sebutkan tadi memang pernah dilakukan Shou kepadaku. Aku sempat marah karena dia tidak pernah bersikap baik di depanku. Tapi, begitu aku mendengar cerita dari kalian dan Aya, aku yakin Shou pasti orang yang baik dan pernah menanamkan kebaikannya di hati kalian meskipun dia sering menjahili kalian semua. Sebuah kebaikan yang pada akhirnya berbuah kenangan bagi kalian yang menunggunya kembali dari suatu tempat. Aku hanya datang disaat tidak tepat, dimana yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit hati dan kepedihan karena seseorang yang tidak bisa dia miliki...”

“dan seperti yang kalian lakukan sekarang, aku menunggunya kembali juga. Jika kalian mau memberikan sedikit ruang untukku menanti bersama kalian...”

Suasana menjadi hening sesaat sebelum keempat pria di depan Yoriko berubah menjadi ricuh dan bertepuk tangan. Yoriko malah semakin tidak mengerti dan kebingungan, “ee... kalian kenapa?”

“kau benar, Tora-kun! Memang dia orangnya!” Saga menepuk-nepuk pundak Tora sambil menunjuk Yoriko.

Hiroto yang tadinya terlihat kejam dan garang malah tertawa terbahak-bahak. Dia berkata pada Yoriko, “kau satu-satunya orang yang bisa melihat sisi lain Shou, Yoriko-chan!”

“hah? Apa?” Yoriko masih tidak mengerti juga.

“perkataan seorang penulis memang lain, ya...” Nao menggeleng-gelengkan kepalanya kagum atas jawaban Yoriko tadi.

Yoriko menggaruk kepalanya. Dia heran kenapa mereka yang baru mengenal Yoriko beberapa menit sudah percaya begitu saja kalau Yoriko adalah penyelamat bagi Shou. Apa tadi dia mengatakan sesuatu yang salah? Apa tadi dia mengatakan sesuatu yang membuat mereka berharap pada Yoriko?

Mereka belum tahu bagaimana Yoriko sebenarnya. Jika seandainya mereka tahu...

Mungkin mereka akan kecewa...

*** 

Judy nyaris tersedak dari Jack Daniel’s yang ditenggaknya. Teman-teman barunya dari kepolisian baru saja memintanya mendekati Spencer Williams saat mereka sedang minum-minum bersama di bar malam itu. Entah karena keempat teman satu timnya ini sedang mabuk berat oleh 2 botol Smirnoff Ice yang baru saja mereka minum sehingga mereka berani meminta Judy untuk melakukan itu.

guys...” Judy mencoba meluruskan masalahnya. “kenapa harus aku? Kenapa tidak kalian saja yang lebih dekat dengannya?”

Kemudian keempat temannya bercerita bahwa mereka telah melihat perubahan pada diri Spencer semenjak Judy datang bergabung ke dalam tim mereka. Apalagi sudah hampir sebulan Judy ikut terjun ke setiap TKP kasus yang mereka tangani.

Ditambah kemampuan Judy sebagai profiler yang hebat, tim mengalami kemajuan pesat dalam menangani kasus pembunuhan mereka saat ini. Spencer tidak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya pada Judy karena itu.

Hanya saja, Spencer masih terlalu brengsek untuk mengungkapkannya.

“aku tidak tahu apa yang kalian lihat darinya, tapi bagiku dia tetap brengsek seperti biasanya. Tidak ada yang berubah.”

“kau sudah membuatnya penasaran hanya dengan sikapmu yang apatis terhadapnya. Well, mungkin baginya kau menyebalkan. Tapi seperti yang kubilang, kau membuatnya penasaran.” Hailey menjelaskan.

Judy bertemu Spencer beberapa jam lalu, sebelum dia dan ketiga temannya pergi ke bar ini. seperti biasanya, ketika mereka mengajak Spencer turut serta, dia menolak dengan dingin. Dia hanya mengatakan tidak kemudian berlalu menuju mobil SUV miliknya di tempat parkir kantor.

Diam-diam Judy mengiringi kepergian Spencer dengan tatapan matanya sebelum Hailey menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Hubungannya dengan Spencer sejauh ini hanyalah teman satu tim. Mereka tidak pernah membicarakan apapun kecuali sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Dari sikapnya, Judy tahu Spencer sengaja menghindarinya. Tapi Spencer tentunya tidak bisa selalu melakukan itu karena mereka terikat oleh tugas. Judy sempat memertimbangkan untuk pindah ke tim lain. Tetapi Hailey membujuknya untuk tidak melakukan itu.

“asal kau tahu saja...” timpal Mark. Dia menuang sisa Smirnoff dari botol sampai habis ke gelasnya. “dia sudah menyingkirkan fotonya dan Samantha dari meja kerjanya.”

“mungkin dia hanya ingin menata kembali mejanya?” Judy menjawab sedikit asal. Dia merasa sedikit terganggu ketika dia dikaitkan dengan disingkirkannya foto itu dari meja kerja Spencer.

“ayolah... setidaknya, lakukan ini untuk kami...” Hailey memelas.

“hanya kau yang bisa, Judy.” Anna menyahut. “kau profiler, kau pasti bisa menebak jalan pikirannya Spencer.”

“haha...” Judy tertawa sarkastik. “aku memang profiler, tetapi aku bukan cenayang, Anna.”

“sebenarnya kau adalah tipenya, Judy. Dia hanya terlalu malu dan gengsinya terlalu tinggi untuk menunjukkannya...” Sean terkekeh karena pengaruh Smirnoff yang kini sudah mencapai gelas kelima.

Judy menggelengkan kepalanya. Ada alasan bagus kenapa teman-temannya memintanya melakukan ini. yaitu demi kelancaran kerja sama tim. Mereka juga sudah lama merindukan Spencer yang lama kembali kepada mereka. Judy datang disaat yang tidak tepat. Seandainya Judy sudah mengenal Spencer sebelum pria itu berubah menjadi dingin seperti sekarang...

Mungkin keadaannya akan berubah jauh...

*** 

Yoriko keluar dari gedung PSC dengan membawa sebuah kantong cokelat di tangannya. Kantong itu berisi barang-barang milik Shou yang dititipkan oleh keempat temannya. Sebagai tugas pertama sebagai asisten, mereka menyuruh Yoriko membawa kantong itu ke apartemen Shou karena orang itu tidak datang ke kantor hari ini.

Di dalam bis menuju apartemen orang itu, Yoriko mengintip sedikit isi kantong tersebut. Beberapa perlengkapan untuk band yang Yoriko tidak tahu namanya. Pasti benda-benda ini sangat berharga bagi Shou karena Yoriko menduga seluruh benda ini pasti mahal harganya.

Demi menjaga keutuhan benda-benda itu, Yoriko menutup kantong itu kembali. Dia melihat pemandangan dari jendela bis. Bis berjalan tidak terlalu cepat, sehingga Yoriko bisa menikmati pemandangan yang terlihat.

Seperti biasanya, Tokyo selalu padat. Sudah beberapa kali bis ini berhenti hanya untuk mengizinkan para pejalan kaki yang padat menyebrangi jalanan yang lalu lintasnya tidak sepadat sisi-sisi jalannya. Yoriko bisa melihat salju-salju yang membeku di kiri kanan jalan mulai mencair perlahan.

Mengamati pemandangan seperti ini, mengingatkannya bahwa dia sangat merindukan kota tempat lahirnya ini. Setidaknya, sejauh yang dia tahu, dia lahir disini.

Terkadang dia membayangkan bagaimana rupa ayah dan ibunya. Apakah dia mirip salah satu dari mereka? Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka mengingat Yoriko atau sebaliknya? Apakah mereka juga memikirkan bagaimana rupanya sekarang?

Tapi dia dengan mudahnya bisa menepis pemikiran-pemikiran yang menyakitkan itu, semudah dia mengingat-ingatnya. Tanpa sadar dia memeluk erat kantong yang ada di pelukannya. Dia memeringatkan dirinya sendiri sekali lagi kalau dia sanggup hidup sendiri. Cukup dengan mengabaikan seluruh perasaan lemah itu, dia bisa berdiri.

Membutuhkan waktu sekitar 20 tahun lebih untuk Yoriko menguasai emosinya. Ternyata usahanya itu malah membuatnya menjadi orang tertutup dan memiliki dunia sendiri. Orang-orang mulai menganggapnya aneh dan tidak ada yang mau berteman dengannya.

Seolah semua itu belum cukup, imajinasinya mulai mengacaukan dirinya lagi dan memperparahnya dengan permintaan dari teman-teman barunya untuk mendekati seseorang yang harusnya dia hindari demi menjaga kewarasannya.

Bagus sekali...

*** 

Tidur di hari Minggu pagi yang mendung seperti sekarang rasanya nikmat sekali. Shou sudah cukup puas tidur selama 10 jam lebih seperti bayi. Dia berhak mendapatkan itu. Dia telah mengaransemen ulang beberapa lagu yang akan dibawakan bandnya untuk konser yang akan datang. Dan itu membuatnya sangat lelah.

Dia mengecek iPhone yang tergeletak di nightstandnya. Dia mendapatkan 7 panggilan tidak terjawab dan 3 pesan teks. Seluruhnya dari keempat temannya, mereka meminta Shou datang hari ini ke kantor PSC untuk menemui Yoriko yang sudah mulai bekerja sebagai asisten mereka.

Mata Shou yang tadinya serasa seperti diberi lem mendadak melebar setelah membaca pesan teks itu.

Wanita aneh itu menjadi asistennya? Sejak kapan? Kenapa dia tidak diberitahu? Ini pasti ulah Tora dan ketiga temannya yang lain ada di belakangnya.

Shou langsung menekan tombol panggilan cepat untuk nomor Tora. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sahabatnya menjawab panggilan telepon darinya.

“kenapa kau tidak bilang padaku terlebih dulu kalau kau memerkerjakan dia, hah!?” seru Shou. Namun hanya suara tawa terbahak-bahak Tora yang menjadi reaksi dari kemarahan Shou.

“bukankah aku sudah bilang padamu tapi kau tidak mendengar? Aku sudah cerita kemarin kalau tidak salah. Kau malah asyik dengan aransemen lagumu...”

“iya... tapi...” Shou menjadi agak malu. “kenapa kau memilih dia? Memangnya tidak ada orang lain yang bisa kau pekerjakan?”

“memang kenapa? Kau pun tidak akan suka jika aku menyewa orang asing, bukan? Lebih baik aku memilih Yoriko. Dia membutuhkan pekerjaan itu, sama seperti kita yang membutuhkan tenaga tambahan.” Tora memberikan alasan logis.

Lagi-lagi Shou skak mat. “Tora... kurasa aku tidak akan sanggup bekerja lama-lama bersama wanita itu.”

“Shou, dia hanya membantu kita membawakan barang-barang, menyiapkan keperluan dan makan siang kita. Dia akan pulang pukul 10 malam...”

“kedengarannya lebih seperti pengasuh anak daripada asisten...” Shou mencibir.

“bagi kami asisten, tapi bagimu pengasuh anak...” balas Tora. Suara tawa penuh kemenangan khas pria itu terdengar di telepon.

“ugh...” Shou menggerutu pelan. Bagaimana jadinya nanti jika dia setiap hari bertemu wanita itu? Baru bertemu beberapa kali saja wanita itu sudah membuatnya pusing, apalagi bertemu setiap hari?

“sudahlah, terima saja. lagipula kalau kau ingin protes, kau kalah 4 suara dari kami.” Tora mengskak mat Shou sekali lagi.

“kalian benar-benar menyebalkan.” Rutuk Shou.

“kalau begitu, coba saja kau kemari. Seperti kau bisa saja bangkit dari kasur super empukmu itu.” Tora tertawa lagi.

“tenang saja, aku akan menghabisimu besok.” Ujar Shou. “lihat saja pembalasanku nanti.”

“uu... aku takut...” Tora malah mengejek Shou. “tapi sebelum aku mendapatkan balasanku, sekarang nikmati saja hasil kerjaku.”

“maksudnya?”

“Yoriko akan datang ke tempatmu tidak lama lagi untuk mengantarkan peralatan band milikmu yang lupa kau bawa pulang. Dia akan datang sekitar...” tapi belum selesai Tora berbicara, Shou mendengar pintu apartemennya berbunyi.

“ah, itu pasti dia. Selamat bersenang-senang, Shou! Sampai jumpa!!” Tora langsung memutuskan sambungan telepon mereka. Shou melemparkan iPhonenya ke kasur sebagai tanda kekesalannya terhadap apa yang teman-temannya lakukan. Tapi dia juga tidak bisa banyak protes karena mereka memang membutuhkan Yoriko dan sepertinya Yoriko juga bukan tipe wanita menyebalkan atau suka cari muka yang seperti biasa Shou temui.

Dia sengaja berjalan lambat ke depan pintu agar Yoriko mengira apartemennya kosong. Sepertinya strategi Shou berhasil. Sudah tidak terdengar lagi bel pintu dari wanita aneh itu. Untuk memastikan Yoriko sudah pergi, Shou melihat dari lubang pengintip pintu.

Tapi sayang sekali, wanita itu masih berdiri disana. Dia terlihat seperti seorang hantu yang hendak menghantui Shou karena penampilannya. Memangnya siapa orang normal yang mau mengenakan jubah hitam aneh ala penyihir itu?

Akhirnya, mau tidak mau, Shou membuka pintunya juga.

“ada apa?” Shou menyambut Yoriko dengan ketus supaya wanita ini bisa cepat-cepat pergi dari hadapannya. Namun sepertinya Shou sedikit melupakan harapan itu saat dia melihat penampilan Yoriko lagi lebih jelas.

Meskipun jubah penyihir itu sangat aneh, tapi itu cocok sekali jika Yoriko yang mengenakannya, karena wanita itu membuat jubah itu terlihat mengesankan. Penampilan dan make up gothicnya benar-benar mencerminkan diri Yoriko yang sebenarnya.

Entah dia harus merasa terkesan atau takut karena penampilan Yoriko ini.

“aku mengantarkan ini.” Yoriko menyerahkan kantong kertas yang tadi didekapnya. “ini titipan dari teman-temanmu.”

Sekarang wanita ini juga tidak mau repot-repot bersikap sopan santun atau sok manis di depan Shou. Walaupun begitu, Yoriko tetap terlihat anggun dan tidak kasar. Malah rasanya seperti Shou baru saja diajak bicara oleh orang tua atau gurunya di sekolah. Tegas, tapi tidak ketus atau memarahi.

“oh, terima kasih...” karena itu Shou jadi gugup saat menerima kantong itu dari Yoriko. “sudah tidak ada sesuatu yang harus kau berikan padaku lagi, bukan? Jadi sampaikan salamku pada mereka. oke?”

“eh, ya... akan kusampaikan. Kurasa mereka sudah tahu kau tidak akan datang hari ini.” jawab Yoriko datar.

“baguslah kalau begitu.” Shou langsung menutup pintunya rapat-rapat, tanpa sedikit pun memberikan salam perpisahan untuk Yoriko. Sepertinya Shou tidak menghargai usaha Yoriko yang sudah jauh-jauh datang dan membawakan barangnya.

Yoriko masih berdiri di depan pintunya. Meskipun dia menyadari kalau dia harus pergi dari sana, dia masih harus mencerna pembicaraan 20 detik antara dirinya dan Shou. Semuanya terjadi sangat cepat. Dia bahkan tidak mendapat kesempatan untuk berkata apapun.

“dia memang pria menyebalkan. Tapi dia tidak sehebat diriku.” Tiba-tiba suara Hitomu terdengar di sampingnya. Sahabatnya itu hari ini sedang memakai kemeja dan celana kain, seperti seorang karyawan kantor.

“oh, Hitomu...” sapa Yoriko lirih. “yah, benar, dia tidak sehebat dirimu...” Yoriko tertawa kecil. Yoriko harus mengakui Hitomu benar. Shou dan Hitomu memang sangat mirip. Tapi setidaknya, Hitomu sikapnya sedikit lebih hangat kepadanya, tidak seperti Shou.

“kurasa aku tahu penyebab kenapa kau bisa meliriknya...” Hitomu memberi isyarat kepada Yoriko untuk berjalan meninggalkan apartemen Shou. “karena dia mirip sekali denganku, bukan?”

Yoriko tertawa kecil. “kapan kau akan kehilangan rasa narsismemu itu, Hitomu? Dia hanya mirip Spencer.”

“maksudmu, Spencer Williams yang sering kau bicarakan itu? Ya Tuhan, Yoriko-chan! Spencer jauh lebih baik daripada dia! Oke, memang sikap dingin mereka hampir sama, tapi, Spencer masih jauh lebih baik! Kenapa kau harus melihat sosok yang tidak sempurna jika kau sudah memiliki sosok sempurna?” Hitomu setengah berteriak karena tidak percaya pada pernyataan Yoriko.

“bukan itu masalahnya, Hitomu...” Yoriko menekan tombol lift yang akan membawa mereka turun. “mereka mungkin jauh berbeda. Tapi, Spencer tidak akan bisa keluar dari dunia imajinasiku karena dunia ini tidak sempurna. Dan Shou...” Yoriko terdiam. “yah, anggap saja, dia adalah Spencer versi Dunia Nyata...”


Mungkin karena itulah alasan sebenarnya kenapa Yoriko tidak bisa lepas dari pria berhati dingin yang bernama Shou Kohara.

No comments:

Post a Comment