8
Entah sudah
berapa kali Honoka Ikeda menguap bosan karena bekerja di balik meja resepsionis
kantor manajemen ini di hari Minggu. Sangat membosankan, rasanya ingin
cepat-cepat pulang lalu menyembunyikan diri di balik kotatsu! Meskipun awal
bulan Maret sudah dimulai, hawa beku yang tersisa dari musim dingin masih ada.
Kapan dia bisa mengambil cuti untuk mengikuti upacara hanami bersama keluarga
atau teman-temannya ia tidak tahu.
Beberapa
temannya iri pada Honoka saat mereka tahu dia diterima kerja di kantor yang
mewah dan berlantai 3 ini. mereka bilang Honoka sangat beruntung bisa bertemu
para artis pujaan mereka setiap hari, bisa menyapa mereka jika mereka melewati
lobby atau menghubungi nomor mereka jika ada urusan penting.
Honoka
bukanlah seorang yang menyukai visual kei. Karena ketidak tertarikannya itulah
yang membuatnya diterima bekerja disini. Karena atasannya tidak akan menerima
karyawan yang selalu menjerit kegirangan bila bertemu artisnya. Honoka lebih
suka sesuatu yang feminin. Dia lebih suka mendengarkan lagu Ayumi Hamasaki
daripada Miyavi yang keluar dari manajemen ini beberapa tahun lalu. Dia lebih
memilih Arashi atau Kat-tun ketimbang Gazette atau Alice Nine.
Honoka tidak
pernah mau tahu urusan para artis itu disini. Yang dia tahu dan lakukan
hanyalah tersenyum dan bersikap manis di depan mereka agar ia bisa memertahankan
pekerjaan yang memberinya makan ini.
Honoka
memandang pemandangan di balik pintu masuk gedung di depannya. Cuaca mendung
tetapi sepertinya awan tidak ingin menurunkan hujannya. Masih banyak orang di
luar area gedung berjalan di trotoar mengenakan mantel dan syal mereka. namun
ada juga sekelompok gadis muda berjalan mengenakan dress bergaya gothic lolita
pink demi menyambut musim semi.
Gadis
berambut keriting itu memutar matanya kesal. Sudah muncul saja gadis-gadis
seperti itu di awal musim semi.
Tidak lama
kemudian, di kejauhan, Honoka melihat seseorang berdiri di depan pintu gerbang
kantor PSC. Honoka tidak bisa melihat wajahnya lebih jelas meskipun kacamata
berbingkai elipsnya sudah membantu penglihatannya. Tapi yang ia tahu, gadis itu
– karena orang itu terlihat memakai rok – berpenampilan serba hitam dari atas
sampai bawah.
Dari
gesturnya, petugas sekuriti memersilakan gadis itu masuk ke area gedung.
Petugas itu menunjuk pintu masuk yang ada di hadapan Honoka sekarang.
Perlahan-lahan,
Honoka bisa melihat lebih jelas sosok gadis itu. kesan pertamanya adalah,
apakah gadis itu tidak menyambut musim semi seperti gadis lainnya? Kenapa
petugas sekuriti begitu mudahnya mengizinkan gadis itu masuk mengingat
penampilannya yang aneh?
Honoka sering
melihat gadis berpenampilan gothic hitam seperti gadis itu. Tapi gadis-gadis
itu tidak memiliki aura aneh yang dimiliki gadis yang sekarang sudah membuka
pintu lobbynya.
Tangan si
gadis berambut hitam seperti tokoh anime yang pernah Honoka lihat di suatu
tempat kini melepas ikatan tali jubah hitam seperti penyihir yang dikenakannya.
Sehingga terlihatlah pakaian gadis itu. Kemeja katun lengan panjang dan rok
selutut berwarna hitam. Kedua pakaian itu memiliki detail ruffle di bagian
kerah dan ujung roknya. Dia memakai sepatu high heels hitam biasa. Make upnya
juga tidak kalah misterius, eyeliner di kelopak matanya ditambah eyeshadow
hitam dan lipstik merah yang kehitaman. Walaupun kulit gadis itu sedikit
kecoklatan, dia tetap terlihat cantik dengan make up itu.
Gadis itu
berjalan ke arah Honoka yang pada akhirnya memberikan senyuman ramah untuknya
juga. “selamat pagi, nona. Ada yang bisa saya bantu?”
“selamat
pagi,” gadis itu membalas sapaan Honoka dengan suara lembutnya yang seperti
anak kecil tapi tidak dibuat-buat. Pantas saja petugas keamanan itu
memersilakan dia masuk begitu saja. “aku Yoriko Ishihara, aku ingin bertemu
dengan Amano Shinji. Dia dari band... Alice Nine?”
Honoka
langsung melaksanakan tugasnya menghubungi siapa yang gadis bernama Yoriko itu
tuju. Suara milik Amano Shinji atau Tora itu meminta Yoriko menunggu sebentar
saat Honoka menghubungi gitaris itu. Honoka ingat siapa Tora dari postur
tubuhnya yang tinggi besar.
“Tora-san
sedang menuju kesini. Anda bisa menunggu disana...” Honoka berdiri sambil
menunjuk sofa di sisi kanan lobby. “sembari menunggu, anda ingin meminum
sesuatu?”
“oh, tidak
usah...” Yoriko menolak halus seraya mengangkat tangannya yang bersarung tangan
hitam. “terima kasih...”
Honoka
memandang diam-diam Yoriko Ishihara dari balik meja respsionis. Gadis itu duduk
diam, tas tangan beserta jubahnya ada di pangkuannya. Sikap duduknya manis
sekali, Honoka bisa mendengar gadis itu menyenandungkan sebuah nada lagu yang
tidak Honoka tahu. Mata Yoriko menerawang ke segala arah, menikmati desain
moderen minimalis yang diberikan lobby ini.
Dia tidak
terlihat seperti penggemar salah satu band yang diasuh oleh manajemen ini. Tadi
saja dia menyebut nama Amano Shinji dengan tenang, seakan dia tidak tahu bahwa
orang itu adalah gitaris band terkenal. Mungkin Yoriko akan menjadi salah satu
favorit mereka.
Mungkin...
Hanya
membutuhkan sekitar 5 menit untuk Yoriko menunggu di lobby. Tora sudah datang
dari lift tidak jauh dari sofa tempat duduknya. Pria yang tingginya mungkin
sekitar 180an itu melemparkan senyuman ramah ke Yoriko.
“hai! Sudah
kuduga kau pasti akan menerima pekerjaan dariku cepat atau lambat.” Kata Tora
gembira.
“yah, kurasa
tidak ada salahnya kalau dicoba...” Yoriko berdiri. Badannya terasa menyusut
jika Tora yang bertubuh besar berdiri di depannya seperti ini. tapi tetap saja,
tinggi badan Yoriko hanya bisa menyamai lengan Tora.
“ayo, kita ke
ruangan Alice Nine. Ketiga temanku sudah ada disana.” Tora menarik tangan
Yoriko menuju lift.
Lantai 2
hanya terdiri dari lorong-lorong putih yang panjang dan seperti tidak berujung.
Lorong yang sedang ditelusuri oleh Yoriko dan Tora ini memiliki banyak pintu.
Yoriko tidak ingin tahu apa yang menanti di balik pintu-pintu membosankan itu.
“sayang
sekali Shou tidak datang hari ini.” kata Tora yang ada di depan Yoriko,
membimbingnya melalui lorong yang tidak berujung ini.
“kenapa?”
“katanya dia
malas datang. Memang, kita tidak pernah latihan pada hari Minggu. Tapi kita
semua sengaja datang hari ini untuk menyambutmu, Yoriko-chan...”
Yoriko tidak
kaget. Shou pasti sedang menghindarinya, mengingat kejadian yang mereka alami
di kedai 3 hari lalu.
Pria itu benar-benar
membencinya sekarang.
“apapun hal
tidak baik yang dikatakan Shou kepadamu, jangan dihiraukan, ya. Dia memang
begitu sejak 4 tahun lalu.” Tora meminta Yoriko memaklumi sahabatnya.
Yoriko hanya
mengangguk meskipun Tora tidak bisa melihatnya. Sekarang lebih baik dia fokus
pada pekerjaan barunya, mengabaikan perasaannya tentang Shou apapun bentuknya.
Dia sudah cukup dipusingkan oleh 2 pekerjaan dan kegiatan menulisnya. Dia tidak
ingin perasaan itu menghantuinya lagi.
Ya, sekarang
Yoriko tahu bagaimana dia harus bersikap apa di depan orang dingin itu
nantinya.
Setelah
Yoriko selesai berpikir, Tora sudah membawanya ke tujuan mereka. sebuah pintu
yang memiliki logo Alice Nine, logo berupa nama band mereka yang diukir dalam
huruf klasik dan beraksen melengkung.
Begitu mereka
masuk, Yoriko langsung disambut oleh tiga pria yang sedang duduk di sofa tengah
ruangan.
“oh, jadi ini
Yoriko Ishihara, ya?” kata salah satu dari mereka, seorang pria berambut merah
yang poni rambutnya sedikit menutupi matanya. Bagi Yoriko, meskipun pria itu
berusaha bersikap macho, dia masih sedikit terlihat cantik.
“akhirnya aku
bertemu denganmu juga!” timpal pria yang duduk di sebelah pria berambut merah.
Pria itu wajahnya lebih ramah dan sepertinya juga lebih banyak tersenyum. Dari
senyumannya rasanya pria itu seperti tidak memiliki beban hidup.
“Shou memang
jahat, dia tidak pernah mau mengajakmu berkenalan dengan kami...” dan pria
terakhir yang duduk tidak jauh dari 2 pria sebelumnya turut menjawab. Pria itu
tampaknya lebih pendek daripada ketiga temannya. Meskipun begitu, dia memiliki
wajah yang keras dan keren. Yoriko tidak akan heran jika dia melihat banyak
gadis menyukainya.
Mendengar
kata sambutan mereka, Yoriko terpekur. Mereka sudah tahu Yoriko sejauh itu?
Shou menceritakan apa tentang Yoriko kepada mereka?
“perkenalkan,
Yoriko. Dia Saga...” Tora menunjuk ke si pria berambut merah. Yoriko memberikan
sebuah senyum simpul ke pria cantik itu sebelum Tora beralih ke pria di
sebelahnya, “dia Nao, si tukang makan...”
“yah, kalau
Shou masih seperti dulu, Nao adalah sasaran empuknya untuk dikerjai,
Yoriko-chan...” pria bertubuh pendek terkekeh. “tidak usah diperkenalkan. Aku
bisa memerkenalkan diriku sendiri. Aku Hiroto.”
“aku bukan
tukang makan. Aku hanya makan disaat aku lapar.” Nao membela diri. “tapi aku
memang sedikit merindukan Shou yang suka menaruh super glue di tempatku
duduk...”
Yoriko
tersenyum lagi begitu dia mendengar cerita singkat tentang Shou dari
teman-teman barunya. Ternyata dulu Shou memang orang yang menyenangkan.
Tora
memersilakan Yoriko ikut duduk bersama mereka. Pada dasarnya, hari ini Yoriko
datang menemui mereka untuk berkenalan dan mereka akan melakukan wawancara
sedikit kepada Yoriko untuk pekerjaan barunya. Tapi bagi Yoriko, rasanya tidak
seperti itu. Wawancara kerja yang dilakukan oleh mereka yang menyenangkan dan
hampir tidak pernah bisa serius juga ditemani oleh beberapa kaleng root beer,
kue-kue kering, dan game console, serasa seperti bertemu teman lama saja.
“kupikir
kalian sibuk hari ini. aku sampai berpikir dua kali untuk datang tadi.” Kata
Yoriko saat mengobrol bersama mereka.
“seharusnya.
Tomomi dan manajer kami menyuruh kami latihan menjelang konser.” Jawab Tora
santai. “tapi kami sengaja tidak melakukan apapun hari ini.”
“tapi Shou
tidak terlihat seperti itu...” Yoriko menceritakan bagaimana penampilan Shou
yang lebih seperti mayat hidup daripada mereka yang seperti punya kehidupan
menyenangkan.
“biarkan
saja. aku tidak tahu jalan pikirannya. Kalau dia tidak bisa melepaskan wanita
itu, dia tidak akan bisa mempunyai hidup.” Tora kelihatannya sudah pasrah
dengan sikap sahabatnya.
Yoriko hanya
mengangguk. Dia tidak berani bertanya lebih jauh. Akan terasa lancang baginya
untuk itu. Dia kemari hanya untuk mengambil pekerjaan yang dijanjikan Tora,
bukannya mengorek keterangan tentang kehidupan orang yang tidak akan pernah
peduli padanya.
Tapi, kenapa
Yoriko peduli? Kenapa Yoriko yang tidak pernah mau tahu urusan orang lain
menjadi peduli pada Shou yang tidak akan sedikit pun melihatnya?
Sepertinya
pertanyaan itu hanya bisa dijawab kalau dia sudah menjalani pekerjaan ini.
“kalau konser
ini sudah selesai, aku akan mengusulkan hiatus selama beberapa bulan sebelum
kita meluncurkan album baru pada akhir tahun nanti.” timpal Nao. “lama-lama aku
bisa mati kebosanan di balik drum setku sendiri...”
“konser?
Kalian akan konser dimana?” tanya Yoriko.
“tetap di
Tokyo. Tapi konser ini khusus untuk anggota fan club.” Jawab Tora.
“jadi kami
akan mengadakan promo untuk konser ini.” Saga merogoh saku jaketnya dan
mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang terdiri dari 2 ekor anjing dan 2 ekor
kucing. “ini akan menjadi cinderamata dari kami untuk mereka yang hadir ke
konser.”
“wow...” Yoriko
tertegun melihat gantungan kunci lucu itu. “mereka imut sekali...”
“yah, ini
kucing milik Tora, namanya Chicken...” Saga menunjuk salah satu kucing yang
berwarna abu-abu. Belum selesai Saga menjelaskan, dia mendengar suara Yoriko
yang sedang menahan tawa.
“ya, aku tahu
Chicken itu nama yang konyol untuk seekor kucing. Ayo, lanjutkan.” Tora sudah
tahu penyebab tawa Yoriko. Tapi Yoriko masih belum bisa berhenti tertawa. Pipi
gadis yang duduk di sebelahnya menggembung dan bibirnya yang dipulas lipstik
berwarna merah kehitaman itu ditutupi oleh tangannya yang bersarung agar suara
tawanya tidak keluar. Kalau diperhatikan, gadis ini sebenarnya sangat manis.
“kenapa kau
tidak membawa kucingmu ke petshop, Tora-san?” tanya Yoriko penasaran. Tora juga
belum pernah menyebut Chicken sebelumnya saat pria ini datang ke petshop
beberapa waktu lalu.
“entah kenapa
dia selalu tahu jika aku akan membawanya ke petshop. Dan dia membencinya. Dia
takut jika seandainya disana dia akan diperiksa, disuntik, atau dimandikan.
Makanya dia selalu memberontak jika aku hendak memasukkannya ke dalam carry
bag...” Tora menjawab. “tapi dia kucing yang selalu sehat. Makannya juga
teratur. Dia akan baik-baik saja.”
“ya, sama
seperti pemiliknya...” suara Nao tiba-tiba menyahut jahil di sela pembicaraan
mereka. Tora langsung melempar bantal dan tepat mengenai kepala Nao yang sedang
tertawa terbahak-bahak.
Berikutnya Saga
menunjuk gantungan anjing yang ada di bawah Chicken. “ini anjingku, namanya
Chiko...”
Yoriko
tersenyum sendiri. Kenapa orang-orang ini selalu lucu dalam memberikan nama
untuk peliharaan mereka? baginya Chiko adalah nama yang sangat imut untuk
anjing berwarna hitam yang ada di gantungan itu.
Kemudian Saga
beralih ke gantungan anjing di bawah Chiko. “dia Mogu, anjing pomeranian milik
Hiroto.” Saga bercerita sedikit bagaimana bangganya Hiroto pada Mogu. Hiroto
pernah berkata di salah satu wawancara bahwa Mogu adalah anjing pomeranian
terimut di dunia.
“dia memang
imut.” Komentar Yoriko. “dia mengingatkanku pada Boo, anjing berjenis sama di
petshop. Mereka harus bertemu kapan-kapan.”
Terakhir,
Saga memerkenalkan seekor kucing yang berada di paling bawah. “untungnya aku
masih sempat membuat gantungan Chirori-chan tepat waktu. Aku benar-benar tidak
tahu Shou memiliki kucing beberapa hari lalu.”
“apa?
Chirori?” Yoriko kaget, tidak menyangka Shou benar-benar memberi nama kucing
barunya persis dari nama yang Yoriko pernah sarankan. “Shou memberi nama
kucingnya Chirori?”
“ya, Shou
tidak memberitahumu, ya? Katanya Tora, nama itu usulan darimu...” Saga malah
ikut memandang Yoriko dengan bingung.
Tora sendiri
malah mengurut dahinya.
Yoriko
membutuhkan beberapa lama untuk menyerap informasi ini. Oke. Shou membencinya.
Tapi pria itu malah menggunakan nama yang diberikan Yoriko, orang yang
dibencinya untuk nama kucing peliharaannya. Yoriko tadinya berpikir Shou tidak
mungkin menggunakan nama itu. Toh Chirori adalah nama yang tercetus secara tiba-tiba
dari pikiran Yoriko, yang sangat gugup dan bingung karena nyaris tidak bisa
menjawab pertanyaan Shou yang bernada seperti menantangnya malam itu.
Orang itu
benar-benar tidak bisa ditebak.
“aku sempat
menyindirnya saat Shou memberitahuku tentang nama Chirori itu. tapi dia tidak
bergeming, seakan dia sama sekali tidak bersalah karena sudah menggunakan nama
darimu tanpa kau ketahui.” Tora menjelaskan situasinya. “maaf ya,
Yoriko-chan...”
“oh, tidak
apa-apa. Mungkin dia sedang tidak mempunyai ide bagus untuk nama kucingnya
sehingga dia terpaksa menggunakan nama dariku.” Yoriko berpura-pura tidak
mempermasalahkan itu meskipun di dalam hatinya dia sangat penasaran dan ingin
berbicara pada Shou saat ini juga.
“sampai
kira-kira akhir bulan nanti, kita akan sangat sibuk. Mungkin kita juga tidak
bisa tidur lagi seperti biasanya. Jadi, kau mau kan menerima pekerjaan ini?”
Nao memastikan sekali lagi. “kami tidak akan memaksa karena pekerjaanmu ini
pasti akan sangat menyita waktumu...”
Demi bisa
mendapatkan uang ekstra untuk makan dan menerbitkan novelnya, juga demi uang
sewanya, Yoriko akhirnya menerima pekerjaan itu. Dengan pekerjaan ini, Yoriko
akan terus-menerus melihat Shou di dunia nyata sebagai seorang vokalis salah
satu band terkenal, bukannya seorang pria sempurna yang bekerja di sebuah
kepolisian di kota khayalan. Imajinasinya yang liar dan akibat yang disebabkan
oleh seluruh imajinasi itu akan terhapus oleh sikap Shou yang dingin dan tak
acuh padanya.
“selama aku
bisa menulis saat waktu senggang ketika bekerja, tidak masalah...” Yoriko
sedikit memberikan syarat.
“ah... aku
baru ingat! Kau sedang menulis novel, ya?” tanya Nao antusias. “aku boleh
membacanya?”
Yoriko juga
tidak menyangka kalau Nao yang dari luar kelihatannya tidak pernah bisa serius
ini ternyata suka membaca novel, “ya, tentu saja. kalau novelnya sudah selesai
kutulis, akan kuberikan kepadamu untuk dibaca.”
“yes!” Nao
mengepalkan tangannya penuh semangat. “sudah lama aku tidak membaca novel!”
“nah,
wawancara ini sudah hampir selesai. Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi.”
Hiroto membenarkan posisi duduknya, menatap Yoriko dengan serius dan tajam.
Jika Hiroto sudah memasang ekspresi itu, semua orang yang mengenalnya pasti
akan diam. Walaupun tubuhnya tidak sebesar teman-teman bandnya, dia memiliki
aura tertentu yang jika dikeluarkan, akan membuat orang lain bungkam dan mendengarkannya.
“apa
pendapatmu mengenai kami semua? Apakah kau penggemar kami atau bukan? Selain
itu, apa kau pernah mendengarkan lagu kami?”
Pertanyaan
yang pasti bisa dijawab dalam waktu singkat oleh Yoriko yang cuek, malah
membuat Yoriko berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. Dia tidak pernah tahu
apa itu visual kei. Yang dia tahu hanyalah gothic music. Saat Yoriko mencari
info tentang visual kei di internet, dia mengetahui bahwa di luar Jepang, orang
menganggap aliran visual kei adalah bagian dari gothic. Dia juga mendapat
informasi ternyata di bawah visual kei masih ada cabangnya. Oshare kei yang
dianut oleh Alice Nine, Nagoya kei, dan lain sebagainya.
Yoriko
memandang satu per satu keempat personil band yang kini turut memandangnya
juga, menanti Yoriko mengeluarkan jawabannya.
“aku...”
Yoriko menarik nafasnya sebelum meneruskan. “sebenarnya sama sekali tidak tahu
apa itu visual kei sebelum Aya membahasnya di depanku saat hari pertama aku
tiba di Jepang. Aku memang menyukai gothic, tetapi aku tidak tertarik pada
visual kei. Jadi aku menjawab, aku bukanlah salah satu penggemar kalian. Setelah
aku berkenalan dengan Shou dan Tora, Aya meminjamiku CD-CD lagu kalian. Aku
menyukai beberapa lagu kalian. Lewat lagu-lagu itu, aku tahu kalian sangat
serius menekuni dunia musik, dan kalian mencintainya.”
“kau belum
menjawab pertanyaan pertamaku. Apa pendapatmu mengenai kami secara pribadi?”
Hiroto mengulangi pertanyaannya dengan tegas.
“aku tidak
bisa menjawab pertanyaan itu sekarang. Aku baru hari ini bertemu kalian. Tapi
kecuali untuk Tora-san, menurutku dia adalah orang baik.” Yoriko melihat ke
arah Tora.
Tapi Tora
malah memberikan pertanyaan lain, “lalu bagaimana dengan Shou? Kau lebih sering
menghabiskan waktu bersamanya, kan? Bagaimana menurutmu tentangnya?”
Yoriko
tercekat. Sudah berapa kali dia diberi pertanyaan seperti ini? Sudah berapa
kali dia diserang dengan pertanyaan serius yang membutuhkan pemikiran ekstra
untuk dijawab? Mereka bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Yoriko
memersiapkan jawabannya.
“dia orang
yang baik juga.” Jawab Yoriko singkat.
“kenapa kau
berpendapat begitu? Dia sudah membuatmu jengkel, mencuri ide nama darimu, dan
menganggapmu tidak ada. Apa artinya, Yoriko?” Hiroto malah menuding Yoriko.
“memang, apa
yang kau sebutkan tadi memang pernah dilakukan Shou kepadaku. Aku sempat marah
karena dia tidak pernah bersikap baik di depanku. Tapi, begitu aku mendengar
cerita dari kalian dan Aya, aku yakin Shou pasti orang yang baik dan pernah
menanamkan kebaikannya di hati kalian meskipun dia sering menjahili kalian
semua. Sebuah kebaikan yang pada akhirnya berbuah kenangan bagi kalian yang
menunggunya kembali dari suatu tempat. Aku hanya datang disaat tidak tepat,
dimana yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit hati dan kepedihan karena
seseorang yang tidak bisa dia miliki...”
“dan seperti
yang kalian lakukan sekarang, aku menunggunya kembali juga. Jika kalian mau
memberikan sedikit ruang untukku menanti bersama kalian...”
Suasana
menjadi hening sesaat sebelum keempat pria di depan Yoriko berubah menjadi
ricuh dan bertepuk tangan. Yoriko malah semakin tidak mengerti dan kebingungan,
“ee... kalian kenapa?”
“kau benar,
Tora-kun! Memang dia orangnya!” Saga menepuk-nepuk pundak Tora sambil menunjuk
Yoriko.
Hiroto yang
tadinya terlihat kejam dan garang malah tertawa terbahak-bahak. Dia berkata
pada Yoriko, “kau satu-satunya orang yang bisa melihat sisi lain Shou,
Yoriko-chan!”
“hah? Apa?”
Yoriko masih tidak mengerti juga.
“perkataan
seorang penulis memang lain, ya...” Nao menggeleng-gelengkan kepalanya kagum
atas jawaban Yoriko tadi.
Yoriko
menggaruk kepalanya. Dia heran kenapa mereka yang baru mengenal Yoriko beberapa
menit sudah percaya begitu saja kalau Yoriko adalah penyelamat bagi Shou. Apa
tadi dia mengatakan sesuatu yang salah? Apa tadi dia mengatakan sesuatu yang
membuat mereka berharap pada Yoriko?
Mereka belum
tahu bagaimana Yoriko sebenarnya. Jika seandainya mereka tahu...
Mungkin mereka
akan kecewa...
Judy nyaris tersedak dari Jack Daniel’s yang
ditenggaknya. Teman-teman barunya dari kepolisian baru saja memintanya
mendekati Spencer Williams saat mereka sedang minum-minum bersama di bar malam
itu. Entah karena keempat teman satu timnya ini sedang mabuk berat oleh 2 botol
Smirnoff Ice yang baru saja mereka minum sehingga mereka berani meminta Judy
untuk melakukan itu.
“guys...” Judy mencoba meluruskan masalahnya. “kenapa harus aku? Kenapa tidak
kalian saja yang lebih dekat dengannya?”
Kemudian keempat temannya bercerita bahwa
mereka telah melihat perubahan pada diri Spencer semenjak Judy datang bergabung
ke dalam tim mereka. Apalagi sudah hampir sebulan Judy ikut terjun ke setiap
TKP kasus yang mereka tangani.
Ditambah kemampuan Judy sebagai profiler
yang hebat, tim mengalami kemajuan pesat dalam menangani kasus pembunuhan
mereka saat ini. Spencer tidak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya pada Judy
karena itu.
Hanya saja, Spencer masih terlalu brengsek
untuk mengungkapkannya.
“aku tidak tahu apa yang kalian lihat
darinya, tapi bagiku dia tetap brengsek seperti biasanya. Tidak ada yang
berubah.”
“kau sudah membuatnya penasaran hanya dengan
sikapmu yang apatis terhadapnya. Well,
mungkin baginya kau menyebalkan. Tapi seperti yang kubilang, kau membuatnya penasaran.”
Hailey menjelaskan.
Judy bertemu Spencer beberapa jam lalu,
sebelum dia dan ketiga temannya pergi ke bar ini. seperti biasanya, ketika
mereka mengajak Spencer turut serta, dia menolak dengan dingin. Dia hanya
mengatakan tidak kemudian berlalu menuju mobil SUV miliknya di tempat parkir
kantor.
Diam-diam Judy mengiringi kepergian Spencer
dengan tatapan matanya sebelum Hailey menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya.
Hubungannya dengan Spencer sejauh ini hanyalah teman satu tim. Mereka tidak
pernah membicarakan apapun kecuali sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.
Dari sikapnya, Judy tahu Spencer sengaja menghindarinya. Tapi Spencer tentunya
tidak bisa selalu melakukan itu karena mereka terikat oleh tugas. Judy sempat
memertimbangkan untuk pindah ke tim lain. Tetapi Hailey membujuknya untuk tidak
melakukan itu.
“asal kau tahu saja...” timpal Mark. Dia
menuang sisa Smirnoff dari botol sampai habis ke gelasnya. “dia sudah
menyingkirkan fotonya dan Samantha dari meja kerjanya.”
“mungkin dia hanya ingin menata kembali
mejanya?” Judy menjawab sedikit asal. Dia merasa sedikit terganggu ketika dia
dikaitkan dengan disingkirkannya foto itu dari meja kerja Spencer.
“ayolah... setidaknya, lakukan ini untuk
kami...” Hailey memelas.
“hanya kau yang bisa, Judy.” Anna menyahut.
“kau profiler, kau pasti bisa menebak jalan pikirannya Spencer.”
“haha...” Judy tertawa sarkastik. “aku
memang profiler, tetapi aku bukan cenayang, Anna.”
“sebenarnya kau adalah tipenya, Judy. Dia
hanya terlalu malu dan gengsinya terlalu tinggi untuk menunjukkannya...” Sean
terkekeh karena pengaruh Smirnoff yang kini sudah mencapai gelas kelima.
Judy menggelengkan kepalanya. Ada alasan
bagus kenapa teman-temannya memintanya melakukan ini. yaitu demi kelancaran
kerja sama tim. Mereka juga sudah lama merindukan Spencer yang lama kembali
kepada mereka. Judy datang disaat yang tidak tepat. Seandainya Judy sudah
mengenal Spencer sebelum pria itu berubah menjadi dingin seperti sekarang...
Mungkin keadaannya akan berubah jauh...
***
Yoriko keluar
dari gedung PSC dengan membawa sebuah kantong cokelat di tangannya. Kantong itu
berisi barang-barang milik Shou yang dititipkan oleh keempat temannya. Sebagai
tugas pertama sebagai asisten, mereka menyuruh Yoriko membawa kantong itu ke
apartemen Shou karena orang itu tidak datang ke kantor hari ini.
Di dalam bis
menuju apartemen orang itu, Yoriko mengintip sedikit isi kantong tersebut.
Beberapa perlengkapan untuk band yang Yoriko tidak tahu namanya. Pasti
benda-benda ini sangat berharga bagi Shou karena Yoriko menduga seluruh benda
ini pasti mahal harganya.
Demi menjaga
keutuhan benda-benda itu, Yoriko menutup kantong itu kembali. Dia melihat
pemandangan dari jendela bis. Bis berjalan tidak terlalu cepat, sehingga Yoriko
bisa menikmati pemandangan yang terlihat.
Seperti
biasanya, Tokyo selalu padat. Sudah beberapa kali bis ini berhenti hanya untuk
mengizinkan para pejalan kaki yang padat menyebrangi jalanan yang lalu
lintasnya tidak sepadat sisi-sisi jalannya. Yoriko bisa melihat salju-salju
yang membeku di kiri kanan jalan mulai mencair perlahan.
Mengamati
pemandangan seperti ini, mengingatkannya bahwa dia sangat merindukan kota
tempat lahirnya ini. Setidaknya, sejauh yang dia tahu, dia lahir disini.
Terkadang dia
membayangkan bagaimana rupa ayah dan ibunya. Apakah dia mirip salah satu dari
mereka? Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka mengingat Yoriko
atau sebaliknya? Apakah mereka juga memikirkan bagaimana rupanya sekarang?
Tapi dia
dengan mudahnya bisa menepis pemikiran-pemikiran yang menyakitkan itu, semudah
dia mengingat-ingatnya. Tanpa sadar dia memeluk erat kantong yang ada di
pelukannya. Dia memeringatkan dirinya sendiri sekali lagi kalau dia sanggup
hidup sendiri. Cukup dengan mengabaikan seluruh perasaan lemah itu, dia bisa
berdiri.
Membutuhkan
waktu sekitar 20 tahun lebih untuk Yoriko menguasai emosinya. Ternyata usahanya
itu malah membuatnya menjadi orang tertutup dan memiliki dunia sendiri.
Orang-orang mulai menganggapnya aneh dan tidak ada yang mau berteman dengannya.
Seolah semua
itu belum cukup, imajinasinya mulai mengacaukan dirinya lagi dan memperparahnya
dengan permintaan dari teman-teman barunya untuk mendekati seseorang yang
harusnya dia hindari demi menjaga kewarasannya.
Bagus
sekali...
Tidur di hari
Minggu pagi yang mendung seperti sekarang rasanya nikmat sekali. Shou sudah
cukup puas tidur selama 10 jam lebih seperti bayi. Dia berhak mendapatkan itu.
Dia telah mengaransemen ulang beberapa lagu yang akan dibawakan bandnya untuk
konser yang akan datang. Dan itu membuatnya sangat lelah.
Dia mengecek
iPhone yang tergeletak di nightstandnya. Dia mendapatkan 7 panggilan tidak
terjawab dan 3 pesan teks. Seluruhnya dari keempat temannya, mereka meminta
Shou datang hari ini ke kantor PSC untuk menemui Yoriko yang sudah mulai bekerja
sebagai asisten mereka.
Mata Shou
yang tadinya serasa seperti diberi lem mendadak melebar setelah membaca pesan
teks itu.
Wanita aneh
itu menjadi asistennya? Sejak kapan? Kenapa dia tidak diberitahu? Ini pasti
ulah Tora dan ketiga temannya yang lain ada di belakangnya.
Shou langsung
menekan tombol panggilan cepat untuk nomor Tora. Tidak membutuhkan waktu lama
untuk sahabatnya menjawab panggilan telepon darinya.
“kenapa kau
tidak bilang padaku terlebih dulu kalau kau memerkerjakan dia, hah!?” seru
Shou. Namun hanya suara tawa terbahak-bahak Tora yang menjadi reaksi dari
kemarahan Shou.
“bukankah aku
sudah bilang padamu tapi kau tidak mendengar? Aku sudah cerita kemarin kalau
tidak salah. Kau malah asyik dengan aransemen lagumu...”
“iya... tapi...”
Shou menjadi agak malu. “kenapa kau memilih dia? Memangnya tidak ada orang lain
yang bisa kau pekerjakan?”
“memang
kenapa? Kau pun tidak akan suka jika aku menyewa orang asing, bukan? Lebih baik
aku memilih Yoriko. Dia membutuhkan pekerjaan itu, sama seperti kita yang
membutuhkan tenaga tambahan.” Tora memberikan alasan logis.
Lagi-lagi
Shou skak mat. “Tora... kurasa aku tidak akan sanggup bekerja lama-lama bersama
wanita itu.”
“Shou, dia
hanya membantu kita membawakan barang-barang, menyiapkan keperluan dan makan
siang kita. Dia akan pulang pukul 10 malam...”
“kedengarannya
lebih seperti pengasuh anak daripada asisten...” Shou mencibir.
“bagi kami
asisten, tapi bagimu pengasuh anak...” balas Tora. Suara tawa penuh kemenangan
khas pria itu terdengar di telepon.
“ugh...” Shou
menggerutu pelan. Bagaimana jadinya nanti jika dia setiap hari bertemu wanita
itu? Baru bertemu beberapa kali saja wanita itu sudah membuatnya pusing,
apalagi bertemu setiap hari?
“sudahlah,
terima saja. lagipula kalau kau ingin protes, kau kalah 4 suara dari kami.”
Tora mengskak mat Shou sekali lagi.
“kalian
benar-benar menyebalkan.” Rutuk Shou.
“kalau
begitu, coba saja kau kemari. Seperti kau bisa saja bangkit dari kasur super
empukmu itu.” Tora tertawa lagi.
“tenang saja,
aku akan menghabisimu besok.” Ujar Shou. “lihat saja pembalasanku nanti.”
“uu... aku
takut...” Tora malah mengejek Shou. “tapi sebelum aku mendapatkan balasanku,
sekarang nikmati saja hasil kerjaku.”
“maksudnya?”
“Yoriko akan
datang ke tempatmu tidak lama lagi untuk mengantarkan peralatan band milikmu
yang lupa kau bawa pulang. Dia akan datang sekitar...” tapi belum selesai Tora
berbicara, Shou mendengar pintu apartemennya berbunyi.
“ah, itu
pasti dia. Selamat bersenang-senang, Shou! Sampai jumpa!!” Tora langsung
memutuskan sambungan telepon mereka. Shou melemparkan iPhonenya ke kasur
sebagai tanda kekesalannya terhadap apa yang teman-temannya lakukan. Tapi dia
juga tidak bisa banyak protes karena mereka memang membutuhkan Yoriko dan
sepertinya Yoriko juga bukan tipe wanita menyebalkan atau suka cari muka yang
seperti biasa Shou temui.
Dia sengaja
berjalan lambat ke depan pintu agar Yoriko mengira apartemennya kosong. Sepertinya
strategi Shou berhasil. Sudah tidak terdengar lagi bel pintu dari wanita aneh
itu. Untuk memastikan Yoriko sudah pergi, Shou melihat dari lubang pengintip
pintu.
Tapi sayang
sekali, wanita itu masih berdiri disana. Dia terlihat seperti seorang hantu
yang hendak menghantui Shou karena penampilannya. Memangnya siapa orang normal
yang mau mengenakan jubah hitam aneh ala penyihir itu?
Akhirnya, mau
tidak mau, Shou membuka pintunya juga.
“ada apa?” Shou
menyambut Yoriko dengan ketus supaya wanita ini bisa cepat-cepat pergi dari
hadapannya. Namun sepertinya Shou sedikit melupakan harapan itu saat dia
melihat penampilan Yoriko lagi lebih jelas.
Meskipun jubah
penyihir itu sangat aneh, tapi itu cocok sekali jika Yoriko yang mengenakannya,
karena wanita itu membuat jubah itu terlihat mengesankan. Penampilan dan make
up gothicnya benar-benar mencerminkan diri Yoriko yang sebenarnya.
Entah dia
harus merasa terkesan atau takut karena penampilan Yoriko ini.
“aku
mengantarkan ini.” Yoriko menyerahkan kantong kertas yang tadi didekapnya. “ini
titipan dari teman-temanmu.”
Sekarang wanita
ini juga tidak mau repot-repot bersikap sopan santun atau sok manis di depan
Shou. Walaupun begitu, Yoriko tetap terlihat anggun dan tidak kasar. Malah
rasanya seperti Shou baru saja diajak bicara oleh orang tua atau gurunya di
sekolah. Tegas, tapi tidak ketus atau memarahi.
“oh, terima
kasih...” karena itu Shou jadi gugup saat menerima kantong itu dari Yoriko.
“sudah tidak ada sesuatu yang harus kau berikan padaku lagi, bukan? Jadi
sampaikan salamku pada mereka. oke?”
“eh, ya...
akan kusampaikan. Kurasa mereka sudah tahu kau tidak akan datang hari ini.”
jawab Yoriko datar.
“baguslah
kalau begitu.” Shou langsung menutup pintunya rapat-rapat, tanpa sedikit pun
memberikan salam perpisahan untuk Yoriko. Sepertinya Shou tidak menghargai
usaha Yoriko yang sudah jauh-jauh datang dan membawakan barangnya.
Yoriko masih
berdiri di depan pintunya. Meskipun dia menyadari kalau dia harus pergi dari
sana, dia masih harus mencerna pembicaraan 20 detik antara dirinya dan Shou. Semuanya
terjadi sangat cepat. Dia bahkan tidak mendapat kesempatan untuk berkata
apapun.
“dia memang
pria menyebalkan. Tapi dia tidak sehebat diriku.” Tiba-tiba suara Hitomu
terdengar di sampingnya. Sahabatnya itu hari ini sedang memakai kemeja dan
celana kain, seperti seorang karyawan kantor.
“oh,
Hitomu...” sapa Yoriko lirih. “yah, benar, dia tidak sehebat dirimu...” Yoriko
tertawa kecil. Yoriko harus mengakui Hitomu benar. Shou dan Hitomu memang
sangat mirip. Tapi setidaknya, Hitomu sikapnya sedikit lebih hangat kepadanya,
tidak seperti Shou.
“kurasa aku
tahu penyebab kenapa kau bisa meliriknya...” Hitomu memberi isyarat kepada
Yoriko untuk berjalan meninggalkan apartemen Shou. “karena dia mirip sekali
denganku, bukan?”
Yoriko
tertawa kecil. “kapan kau akan kehilangan rasa narsismemu itu, Hitomu? Dia
hanya mirip Spencer.”
“maksudmu,
Spencer Williams yang sering kau bicarakan itu? Ya Tuhan, Yoriko-chan! Spencer
jauh lebih baik daripada dia! Oke, memang sikap dingin mereka hampir sama,
tapi, Spencer masih jauh lebih baik! Kenapa kau harus melihat sosok yang tidak
sempurna jika kau sudah memiliki sosok sempurna?” Hitomu setengah berteriak
karena tidak percaya pada pernyataan Yoriko.
“bukan itu
masalahnya, Hitomu...” Yoriko menekan tombol lift yang akan membawa mereka
turun. “mereka mungkin jauh berbeda. Tapi, Spencer tidak akan bisa keluar dari
dunia imajinasiku karena dunia ini tidak sempurna. Dan Shou...” Yoriko terdiam.
“yah, anggap saja, dia adalah Spencer versi Dunia Nyata...”
Mungkin
karena itulah alasan sebenarnya kenapa Yoriko tidak bisa lepas dari pria
berhati dingin yang bernama Shou Kohara.
No comments:
Post a Comment