Monday, June 24, 2013

The Delusion (9)

9

“ayolah, Aya... jangan terlalu lama menutup mataku seperti ini...” kata Yoriko kebingungan. Siang itu, saat istirahat makan siang di petshop, Aya memberikan kejutan untuk Yoriko di bagian belakang petshop. Aya menutup mata Yoriko dengan kain hitam sebagai bagian dari acara kejutan itu.

“sedikit lagi, Yoriko...” kata Aya sambil menuntun langkah Yoriko dari belakang. Masih membutuhkan beberapa langkah lagi agar mereka sampai ke pintu belakang petshop. Yoriko mengangkat tangannya ke udara, meraba ke segala arah agar ia tidak jatuh.

Aya menyuruh Yoriko berhenti ketika mereka sudah sampai di ujung pintu belakang petshop.

“nah... kejutaaan!” seru Aya riang sambil melepas penutup mata Yoriko. Setelah mengerjap beberapa saat, Yoriko melihat atasannya, Avaron berdiri di depan sebuah sepeda hitam sambil tersenyum lebar ke Yoriko. Sepeda itu terlihat masih sangat baru dan di bagian stangnya diberi pita lucu berwarna putih.

“wow...” Yoriko terpana melihat sepeda khusus untuk wanita itu. Sepeda itu kelihatannya mudah dibawa dan memiliki keranjang besi yang cukup besar untuk menampung apapun. “ini sepeda anda, Avaron-san?”

 “tidak, Yoriko-chan...” Avaron tertawa geli karena reaksi lugu Yoriko. “sepeda ini untukmu.”

“apa?” Yoriko masih tidak percaya. Sepeda bagus ini adalah hadiah untuknya? “eee... terima kasih, Avaron-san... tapi, untuk apa anda memberikan sepeda ini kepadaku?”

“yah, sepeda ini dulu milikku sewaktu aku masih kuliah dan sekarang sudah tidak terpakai lagi. Daripada kubiarkan teronggok di rumah begitu saja, aku meminta Kai untuk memperbaikinya sedikit supaya bisa kau gunakan.”

“Avaron-san tahu kau sekarang bekerja untuk Alice Nine juga.” Aya menambahkan. “maka dari itu, daripada kau terlalu banyak menghabiskan uang untuk ongkos bis dari apartemen kita ke petshop lalu ke kantor PSC, dia memutuskan untuk memberikan ini kepadamu, Yoriko. Kau bisa menghemat uangmu untuk keperluan lain.”

“ya, lagipula jarak dari sini ke kantor PSC tidak terlalu jauh.” Avaron menimpali. “bagaimana, Yoriko? Kau suka?”

Yoriko berjalan menuju sepeda barunya dan mengaguminya sebentar. Sepeda ini meskipun bekas, tetapi terasa sempurna baginya. Baru pertama kali selama seumur hidupnya dia mendapatkan hadiah istimewa secara tulus dari orang lain.

“terima kasih, Avaron-san...” Yoriko tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mengekspresikan rasa bersyukur dan kekagumannya pada kebaikan atasannya.

“sama-sama, Yoriko.” Balas Avaron dengan sebuah senyuman lembut di wajah keibuannya.

“bagaimana rasanya bekerja bersama mereka? Apakah mereka menyusahkan atau sebaliknya?” tanya Aya.

Yoriko tidak bisa untuk tidak menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya begitu mengingat jawaban dari pertanyaan Aya. Bukan apa-apa, rasanya bekerja bersama Alice Nine cukup menyenangkan. Nao sering mengajaknya makan siang bersama, Yoriko juga terkadang berbagi pengetahuan fotografi dengan Hiroto, dan Yoriko juga akan selalu tertawa sendiri jika mengingat bagaimana serunya Tora dan Saga saat mereka semua berkumpul.

Mereka berempat memang sangat menyenangkan. Tapi bukan itulah alasan utama mengapa Yoriko betah dan sanggup melaksanakan pekerjaannya meski dia harus pulang larut malam, melainkan karena seseorang yang selalu dia amati selama ia bekerja. Seorang kikuk berhati es yang selalu menyendiri dan tidak pernah peduli pada sekitarnya.

“aa... Shou, ya...” Aya bisa menebak dengan mudah alasan di balik senyum Yoriko.

“eh, kenapa kau tahu?” Yoriko kaget. Dia tidak menyangka isi hatinya bisa semudah itu dibaca oleh sahabatnya.

“tentu saja, Yoriko.” Aya memukul pelan punggung Yoriko seraya tertawa. “yang bisa membuatmu tersenyum sampai pipimu memerah seperti itu hanyalah dua orang. Kalau bukan Spencer Williams, berarti Shou Kohara.”

“bukan, Aya. Bukan karena itu...” Yoriko hendak menjelaskan namun lidahnya terhenti. Dia merasa tidak akan ada orang lain yang akan paham termasuk sahabatnya sendiri. Dia tidak ingin membuat Aya bingung dengan khayalannya.

Ya, lebih baik dia simpan semua keindahannya di dunia imajinasinya daripada merusaknya dengan membawanya ke dunia nyata.

“kau bersedia untuk menceritakan rasanya bekerja bersama mereka, Yoriko-chan?” tanya Avaron dengan nada ingin tahu. Dan dia tidak akan kaget bila Yoriko bercerita hal aneh atau lucu, karena yang mengalaminya adalah seorang wanita yang unik.

Dan Yoriko pun menceritakan pengalaman yang dia alami seminggu yang lalu.

*** 

Siang itu Yoriko berlari keluar dari coffee shop sambil membawa kantong kertas berisi beberapa gelas kopi dan kue. Sambil melawan arus pejalan kaki di trotoar untuk mengejar bis, ia harus ekstra berhati-hati agar kopi yang ia bawa tidak tumpah dan terkena pakaiannya.

Seusai giliran jam kerjanya di petshop, dia mendapat telepon mendadak dari Shou, yang memintanya untuk membawakan kopi favoritnya di coffee shop langganannya. Karena permintaan itu lebih cocok terdengar seperti sebuah perintah yang akan membuatnya dipecat bila dia tidak melakukannya, Yoriko berlari menuju arah berlawanan dari kantor PSC sejauh 10 km hanya untuk mengantri selama 30 menit di coffee shop.

Waktu yang tersisa untuknya tinggal 10 menit lagi, dan Yoriko mendengar handphone di dalam tas ranselnya tidak berhenti berdering sebagai tanda Shou sudah tidak sabar lagi menanti kopinya.

Ya Tuhan, apa orang itu tidak mempunyai sesuatu berguna yang bisa dilakukan daripada mengganggunya?

Akhirnya dia berhasil mencapai gedung kantor dengan terus berlari dari halte tempat ia turun dari bis sampai ke pintu masuk. Satpam yang berjaga di pintu masuk memerhatikan Yoriko yang mendekati pintunya dengan terengah-engah. Petugas itu sampai sedikit iba melihat banyaknya barang yang dibawa Yoriko, tas ransel yang kelihatannya berat, kantong kertas, dan beberapa buku tebal.

“kau tidak apa-apa, Yoriko-chan?” tanya petugas satpam yang sudah Yoriko kenal dengan baik sejak hari pertamanya bekerja.

“ya, aku tidak apa-apa, Yamaguchi-san...” jawab Yoriko tersengal-sengal dan mencoba untuk tersenyum meski ia lelah. “hanya melakukan sedikit jogging.”

Yamaguchi tertawa pelan karena sikap ceria Yoriko yang tidak pernah hilang meskipun dia bekerja untuk orang yang ia anggap menyebalkan. Setelah memeriksa tas Yoriko dengan alat detektor di tangannya, Yamaguchi mempersilakan Yoriko masuk. “semangat, Yoriko-chan. Sepertinya Kohara-san hari ini sedang kesal.”

Yoriko mengangguk pelan sebelum ia berlari lagi masuk ke dalam gedung. Hari ini sepertinya sangat luar biasa dibanding hari lainnya. Dia belum pernah terburu-buru seperti ini masuk kerja hanya demi seorang vokalis sebuah band yang terus menyulitkannya selama dia bekerja untuk orang itu. Tidak sekali ini saja Shou mempersulit dirinya dengan perintah-perintah yang tidak masuk akal. Tiga hari lalu orang itu menyuruhnya untuk mengambil kostum milik kelima personel band Alice Nine dari desainer. Memang tidak aneh, tapi setelah Yoriko susah payah mengambilnya karena Shou berkata kostum itu harus ada pada hari itu juga, Shou malah mengabaikan kostum itu dan menusuk Yoriko dengan kata-kata tajamnya sebelum orang itu melenggang pulang dengan mobilnya.

Itu masih belum seberapa dibanding Shou yang pernah menyuruh Yoriko membawakan seluruh peralatan band yang cukup berat dari mobil ke studio mereka. Belum termasuk betapa rewelnya Shou ketika sesi makan siang Alice Nine. Yoriko akan terus disalahkan bila ia tidak membawakan makan siang dari restoran cepat saji terdekat bila Yoriko tidak membawakan pancake buatan restoran itu yang dimana pancake itu hanya disajikan dari jam 5 sampai 10 pagi.

Shou juga sering mencari-cari kesalahan Yoriko saat bekerja. Tapi Yoriko cukup tangguh untuk bersabar dan menahannya. Yang Yoriko lakukan hanyalah meminta maaf dan melakukan pekerjaannya kembali sesuai keinginan Shou.

Tentu saja keadaan itu membuat keempat personel Alice Nine lainnya bersimpati padanya. Mereka tidak pernah menyulitkan Yoriko dengan perintah-perintah aneh seperti Shou dan menghargai setiap hal kecil yang Yoriko lakukan untuk mereka. Tidak jarang mereka menyuruh Yoriko pulang pada pukul 11 malam hanya demi membersihkan ruangan Alice Nine agar Shou tidak marah-marah jika ia mendapati ruangan itu tidak rapi keesokan harinya.

Karena memikirkan ketakutannya pada Shou yang sudah siap menyemburkan kemarahannya di lantai atas, Yoriko tersandung di tangga pintu lobby kantor. Alhasil, lututnya dan sikunya lecet demi mati-matian melindungi kantong kertasnya agar kopi di dalamnya tidak tumpah.

Cara jatuh Yoriko cukup menarik perhatian Honoka Ikeda yang bertugas di balik meja resepsionis lobby. Honoka berlari keluar untuk mendekati Yoriko yang masih cukup syok dan memeluk kantong kertasnya di teras lobby.

“kau tidak apa-apa, Yoriko-chan?” tanya Honoka khawatir. Mereka berteman dalam waktu singkat karena Yoriko yang selalu menyapa Honoka setiap kali mereka bertemu di lobby. Sikap ramah Yoriko itu tidak seperti tamu lainnya yang terlalu sibuk untuk menyapanya atau hanya sekedar memanggilnya bila ada keperluan. Diperhatikan dengan baik seperti yang Yoriko lakukan, membuat Honoka menghargainya.

Tubuh Yoriko bergetar dan berkeringat. Ia sampai membutuhkan waktu beberapa lama untuk berdiri. Tidak sekali dua kali ini Honoka melihat situasi Yoriko seperti ini, datang ke kantor ini dengan ekspresi lelah dan wajahnya sedikit pucat. Tapi entah kenapa, Yoriko tidak menyadarinya.

“ya, ya...” Yoriko berusaha mengambil nafasnya. “aku tidak apa-apa. Tadi aku berlari, jadi...”

“cukup. Kau harus beristirahat sebentar. Kau pasti capek dari petshop langsung berlari kemari. Apalagi kau tadi membeli kopi untuk mereka, bukan?” potong Honoka.

Yoriko mengangguk pelan. “tapi, aku tidak bisa beristirahat. Shou pasti sudah menunggu kopi ini dan dia akan sangat marah besar bila aku terlambat membawakannya.”

Sekali lagi Honoka memotong kata-kata Yoriko. “cukup. Biar saja Shou marah. Bukan kau yang rugi kalau kopinya dingin. Kau terluka, Yoriko-chan. Kau harus diobati.” Honoka menunjuk siku dan lutut Yoriko yang lecet.

“aku tahu... tapi...” Yoriko tersenyum kering. “aku tidak membawa obat atau plester. Jadi...” Yoriko hendak berjalan lagi namun Honoka mencegahnya lalu menarik tangan Yoriko.

“aku membawa obat merah dan plester.”

Honoka membawa Yoriko ke balik meja resepsionisnya. Di laci meja tersebut, Honoka menyimpan sebuah tas P3K kecil yang fleksibel untuk dibawa kemana-mana. Tas itu bermotif lucu dan berwarna merah marun. Yoriko sampai memujinya dan bertanya dimana Honoka membeli tas itu.

“aku selalu membawa tas ini untuk berjaga-jaga.” Honoka menyuruh Yoriko duduk di kursi untuk diobati. Ketika tas pertolongan pertama itu dibuka, isinya cukup lengkap. Dari perban, kapas dan kasa, beberapa obat-obatan ringan, obat merah, plester, sampai sebotol kecil alkohol.

“berjaga-jaga kenapa?” Yoriko tidak mengerti.

Honoka membersihkan sedikit luka Yoriko dengan kapas sebelum menetesinya dengan obat merah. “aku bukan termasuk orang yang bisa diam berlama-lama meskipun aku bekerja sebagai resepsionis. Aku ceroboh, aku bisa terluka dimana saja dan kapan saja. Jadi, aku selalu membawa tas lucu ini. Dia seperti sahabat yang selalu ada untukku.”

“oh...” Yoriko agak kaget mendengarnya. “sudah berapa luka yang kau dapatkan?”

Honoka memberikan plester di atas luka Yoriko dan berkata dengan sebuah senyum bangga di bibirnya, “jika aku melepas stoking di kakiku ini, maka kau bisa melihat bekas luka dari kecelakaanku sewaktu masih kecil.”

“wow!” Yoriko malah menjerit kagum. “kau juga punya bekas luka di kaki? Aku mendapatkan bekas luka di kaki kiriku karena jatuh saat umurku 8 tahun!”

“oh ya? Kau jatuh dari mana?”

“ngg...” Yoriko sepertinya tidak terlalu ingin menjawabnya karena tidak ingin Honoka menganggapnya aneh. “dari pohon sakura...”

“sepertinya kau memiliki pengalaman keren waktu itu. Kau mau menceritakannya lain waktu?” pinta Honoka.

“kalau kau mau, tentu saja. tapi kumohon dengan amat sangat, jangan ditertawakan.” Yoriko berdiri dan mengambil kantong kertasnya yang ditaruh di samping kursi. “terima kasih, Honoka-chan. Akan kutraktir kau sebagai tanda terima kasihku.”

Honoka tergelak pelan karena kebaikan Yoriko yang tidak ada batasnya. “tidak usah, Yoriko-chan. Terima kasih saja sudah cukup. Lagipula kau harus menemui pria mengerikan itu di lantai atas.”

Yoriko tersentak begitu ia teringat Shou yang masih menunggu kopinya. Cepat-cepat ia berpamitan pada Honoka dan berlari menuju lift.

*** 

Sesuai dugaan dan ketakutan Yoriko, Shou langsung menyemburkan kemarahannya pada Yoriko tepat setelah ia memasuki ruangan Alice Nine. Kemarahan itu tidak bernada tinggi dan membuat ruangan berisik. Cukup dengan kata-kata pelan namun menusuk sudah mampu membuat orang yang dimarahi menangis. Tapi karena Yoriko sudah sangat terbiasa, Yoriko hanya diam. Kata maaf sudah tidak berguna lagi.

“aku tidak percaya teman-temanku menyewa asisten yang sangat lamban cara kerjanya.” Dengan sinis Shou berkata seperti itu seraya mengambil kantong kertas begitu saja dari tangan Yoriko. Dari ucapannya, Shou seperti sama sekali tidak menghargai usaha Yoriko yang sudah susah payah membelikan kopi itu. “rasanya bila kau tidak ada kita masih baik-baik saja disini.”

Sementara keempat personel lainnya diam saja dan menatap Shou maklum. Mereka berhenti sejenak dari kesibukan mereka pada alat musik masing-masing untuk mengambil kopi bagian mereka.

“terima kasih, Yoriko...” kata Nao pelan. “jangan pikirkan kata-kata Shou-kun.”

Yoriko hanya tersenyum pasrah dan bertanya pada mereka. “ada lagi yang bisa kubantu? Tadi aku menerima telepon dari majalah yang ingin mewawancarai kalian minggu depan. Mereka meminta kepastian waktu. Dan... juga masih ada wawancara khusus untuk Nao dan Shou. Pihak majalah ingin meminta persetujuan kalian. Lalu...”

“sudah berapa kali kubilang untuk tidak membahas soal itu saat aku meminum kopi? kau sudah menghilangkan seleraku.” kata Shou sedingin es. Dia menatap tajam Yoriko yang kaget sekaligus kebingungan karena amukan Shou yang tiba-tiba.

“mereka memintaku untuk memberitahu kalian secepat mungkin, aku hanya melakukan apa yang mereka minta karena kita semua sangat menghargai waktu. Jadi...”

“kau tuli atau kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan barusan?” balas Shou ketus.  “jika aku bersedia atau tidak untuk diwawancarai, aku akan langsung menghubungi mereka, bukannya meminta tolong pada orang tidak berguna sepertimu.”

“tapi mereka menghubungi orang yang tidak berguna ini daripada langsung menghubungimu. Jadi tidak salah kalau aku memberitahukannya padamu, bukan?” bantah Yoriko.

Bila kedua orang ini sudah berargumen, Tora, Nao, Saga, dan Hiroto hanya bisa menonton sambil menyeruputi kopi hangat mereka atau sambil memakan popcorn. Mereka berempat sudah menyerah untuk merelai mereka lagi. Jika mereka melakukannya, mereka hanya akan mendapat bantahan.

Shou sendiri yang entah karena kalah berargumen atau sudah tidak mau berurusan dengan Yoriko lagi, berdiri dari sofa tempat ia duduk dan dengan acuh tak acuh mengembalikan kopinya yang belum disentuh sama sekali secara kasar ke Yoriko “aku sudah tidak mau ini.”

“kenapa? Aku salah memesannya? Atau karena kurang creamer atau gula?” tebak Yoriko. Ini sudah kelima kalinya Shou mengembalikan kopinya ke Yoriko karena alasan yang konyol.

“kopinya sudah dingin.” Jawab Shou datar tanpa merasa berdosa. Tidak sedikit pun kata terima kasih terlontar atau sikap yang mengekspresikan kata itu ditunjukkan oleh pria itu.

“kalau begitu kau ingin aku membuangnya atau aku saja yang meminumnya?” tantang Yoriko.

“aku ingin kau pergi ke coffee shop itu lagi dan membelinya lagi.” Perintah Shou walaupun dia tahu Yoriko sudah capek dan mustahil untuknya pergi ke coffee shop itu lagi.

Sedangkan di sisi lain, mungkin orang lain akan menyiramkan seluruh isi kopi mahal yang ada di tangannya ke seluruh tubuh Shou. Toh rambut Shou sekarang warnanya tidak jauh berbeda dengan caffè latte yang bermasalah ini, jadi tidak akan mencolok, bukan?

Tapi Yoriko berbeda. Dia cukup cerdas untuk memendam niat itu dan bersabar. Dan kesabaran yang ia miliki bukanlah kesabaran biasa. Karena sesuatulah yang membuat Yoriko tetap bertahan dan kokoh meski Shou terus berusaha merobohkannya.

“tenang saja, akan kucoba...” Yoriko tersenyum manis lalu keluar dari ruangan.

“oh ya, jangan lupa...” Shou menyela agar Yoriko menoleh. “aku tidak ingin gelas kopinya penyok seperti itu lagi.”

“baik, Yang Mulia...” Yoriko menjawab sarkastik seraya membungkuk penuh hormat ke arah Shou. Yang kemudian disambut oleh suara empat orang yang menahan tawa karena melihat wajah Shou yang kecut karena dikalahkan Yoriko.

*** 

“orang itu...” desis Aya marah. “seandainya aku ada disana, aku akan menumpahkan seluruh isi caffè latte itu ke rambutnya. Toh warna rambutnya sama seperti kopi itu jadi tidak akan mencolok, bukan?”

“dan apa yang lucu dari itu, Yoriko-chan?” Tanya Avaron. Dia juga tidak kalah marahnya seperti Aya. “Maksudku, kau direndahkan dan tidak dihargai. Kalau Shou datang kesini, akan kuberi pelajaran.”

“selain dari ekspresi lucunya begitu dia sadar dia tidak bisa mengalahkanku?” kata Yoriko bangga. “entahlah. Aku tahu seluruh sikapnya tidak pernah ada yang baik kepadaku. Tapi entah kenapa aku bisa menahannya...”

“apa kau sedang mencoba mengatakan bahwa kau menyukainya?” sindir Aya.

Yoriko tertawa terbahak-bahak. Sedikit pun tidak terpikir olehnya untuk jatuh cinta pada Shou atau apapun itu. Rasa kekagumannya pada Shou yang mirip Spencer Williams selalu disalah artikan orang lain sebagai perasaan suka. Lagipula untuk apa Yoriko menyukai pria arogan yang narsistik tapi disaat yang sama juga menyukai wanita yang tidak akan pernah ia dapatkan? Bukannya kasihan, Yoriko malah akan menertawainya.

“aku tidak pernah menyukai Shou.” Yoriko menegaskan. “dia hanya sosok yang mirip sekali dengan tokoh khayalanku sendiri dan itu tidak ada hubungannya dengan perasaan suka.”

“ya, tapi kau akan menyukainya. Percayalah padaku...” Aya menyeringai jahil.

Dan sekarang giliran Yoriko yang berdesis tidak percaya.

*** 

Yoriko menghela nafas berat saat keluar dari ruang Alice Nine. Sepertinya dia benar-benar harus pergi ke coffee shop itu lagi. Ia memerhatikan caffè latte yang ada di tangannya. Dia meminum sedikit kopi yang belum tersentuh itu.

“kopinya masih hangat. Kenapa dia bilang kopi ini sudah dingin?” gumam Yoriko tidak percaya. Tapi dia tahu masuk kembali ke ruangan dan protes ke Shou tidak akan ada gunanya, jadi ia meneruskan niatnya untuk kembali ke coffee shop.

“setidaknya kau mendapat kopi gratis untuk harimu yang menyebalkan ini.” tiba-tiba seseorang berbicara di sebelahnya.

“hei, Hitomu...” sapa Yoriko. Tidak disangka sahabatnya datang disaat ia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara. Kali ini penampilan Hitomu sedikit berbeda. Ia terlihat lebih kasual dengan kaos, jaket kulit, dan celana jeans. Sepatu boot hitam yang dikenakannya sepertinya masih baru.

“kau tidak apa-apa?” Hitomu menunjuk luka di siku dan lutut Yoriko. “kau jatuh dari mana?”

“aku jatuh di depan lobby karena terburu-buru datang kemari. Tapi usahaku cukup sia-sia...” jawab Yoriko dengan nada ironis.

“tapi kau rapi juga menempelkan plester ini...” Hitomu memerhatikan lebih detail plester cokelat di siku Yoriko.

“Honoka-chan yang mengobatiku. Dia hebat ya, selalu membawa tas P3K kemana pun ia pergi. Aku cukup kaget saat tahu dia orang ceroboh yang cukup sering terluka, padahal kelihatannya dia tipe yang pendiam.” Ujar Yoriko.

“terkadang, Yoriko-chan...” kata Hitomu dengan lembut. “orang yang sering terluka bisa jadi adalah orang terkuat yang pernah ada.”


Kata-kata Hitomu barusan telah menyulut semangat Yoriko kembali berkobar. Sahabatnya ini sungguh berbeda dari orang yang tadi merendahkannya beberapa menit lalu. “terima kasih, Hitomu... kau mau ikut ke coffee shop? Akan kutraktir decaf coffee kesukaanmu...”

No comments:

Post a Comment