9
“ayolah,
Aya... jangan terlalu lama menutup mataku seperti ini...” kata Yoriko
kebingungan. Siang itu, saat istirahat makan siang di petshop, Aya memberikan kejutan
untuk Yoriko di bagian belakang petshop. Aya menutup mata Yoriko dengan kain
hitam sebagai bagian dari acara kejutan itu.
“sedikit
lagi, Yoriko...” kata Aya sambil menuntun langkah Yoriko dari belakang. Masih
membutuhkan beberapa langkah lagi agar mereka sampai ke pintu belakang petshop.
Yoriko mengangkat tangannya ke udara, meraba ke segala arah agar ia tidak
jatuh.
Aya menyuruh
Yoriko berhenti ketika mereka sudah sampai di ujung pintu belakang petshop.
“nah...
kejutaaan!” seru Aya riang sambil melepas penutup mata Yoriko. Setelah
mengerjap beberapa saat, Yoriko melihat atasannya, Avaron berdiri di depan
sebuah sepeda hitam sambil tersenyum lebar ke Yoriko. Sepeda itu terlihat masih
sangat baru dan di bagian stangnya diberi pita lucu berwarna putih.
“wow...”
Yoriko terpana melihat sepeda khusus untuk wanita itu. Sepeda itu kelihatannya
mudah dibawa dan memiliki keranjang besi yang cukup besar untuk menampung
apapun. “ini sepeda anda, Avaron-san?”
“tidak, Yoriko-chan...” Avaron tertawa geli
karena reaksi lugu Yoriko. “sepeda ini untukmu.”
“apa?” Yoriko
masih tidak percaya. Sepeda bagus ini adalah hadiah untuknya? “eee... terima
kasih, Avaron-san... tapi, untuk apa anda memberikan sepeda ini kepadaku?”
“yah, sepeda
ini dulu milikku sewaktu aku masih kuliah dan sekarang sudah tidak terpakai
lagi. Daripada kubiarkan teronggok di rumah begitu saja, aku meminta Kai untuk
memperbaikinya sedikit supaya bisa kau gunakan.”
“Avaron-san
tahu kau sekarang bekerja untuk Alice Nine juga.” Aya menambahkan. “maka dari
itu, daripada kau terlalu banyak menghabiskan uang untuk ongkos bis dari
apartemen kita ke petshop lalu ke kantor PSC, dia memutuskan untuk memberikan
ini kepadamu, Yoriko. Kau bisa menghemat uangmu untuk keperluan lain.”
“ya, lagipula
jarak dari sini ke kantor PSC tidak terlalu jauh.” Avaron menimpali.
“bagaimana, Yoriko? Kau suka?”
Yoriko
berjalan menuju sepeda barunya dan mengaguminya sebentar. Sepeda ini meskipun
bekas, tetapi terasa sempurna baginya. Baru pertama kali selama seumur hidupnya
dia mendapatkan hadiah istimewa secara tulus dari orang lain.
“terima
kasih, Avaron-san...” Yoriko tidak tahu harus berkata apa lagi untuk
mengekspresikan rasa bersyukur dan kekagumannya pada kebaikan atasannya.
“sama-sama,
Yoriko.” Balas Avaron dengan sebuah senyuman lembut di wajah keibuannya.
“bagaimana
rasanya bekerja bersama mereka? Apakah mereka menyusahkan atau sebaliknya?”
tanya Aya.
Yoriko tidak
bisa untuk tidak menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya begitu mengingat
jawaban dari pertanyaan Aya. Bukan apa-apa, rasanya bekerja bersama Alice Nine
cukup menyenangkan. Nao sering mengajaknya makan siang bersama, Yoriko juga
terkadang berbagi pengetahuan fotografi dengan Hiroto, dan Yoriko juga akan
selalu tertawa sendiri jika mengingat bagaimana serunya Tora dan Saga saat
mereka semua berkumpul.
Mereka
berempat memang sangat menyenangkan. Tapi bukan itulah alasan utama mengapa
Yoriko betah dan sanggup melaksanakan pekerjaannya meski dia harus pulang larut
malam, melainkan karena seseorang yang selalu dia amati selama ia bekerja.
Seorang kikuk berhati es yang selalu menyendiri dan tidak pernah peduli pada
sekitarnya.
“aa... Shou,
ya...” Aya bisa menebak dengan mudah alasan di balik senyum Yoriko.
“eh, kenapa
kau tahu?” Yoriko kaget. Dia tidak menyangka isi hatinya bisa semudah itu
dibaca oleh sahabatnya.
“tentu saja,
Yoriko.” Aya memukul pelan punggung Yoriko seraya tertawa. “yang bisa membuatmu
tersenyum sampai pipimu memerah seperti itu hanyalah dua orang. Kalau bukan
Spencer Williams, berarti Shou Kohara.”
“bukan, Aya. Bukan
karena itu...” Yoriko hendak menjelaskan namun lidahnya terhenti. Dia merasa
tidak akan ada orang lain yang akan paham termasuk sahabatnya sendiri. Dia
tidak ingin membuat Aya bingung dengan khayalannya.
Ya, lebih
baik dia simpan semua keindahannya di dunia imajinasinya daripada merusaknya
dengan membawanya ke dunia nyata.
“kau bersedia
untuk menceritakan rasanya bekerja bersama mereka, Yoriko-chan?” tanya Avaron
dengan nada ingin tahu. Dan dia tidak akan kaget bila Yoriko bercerita hal aneh
atau lucu, karena yang mengalaminya adalah seorang wanita yang unik.
Dan Yoriko
pun menceritakan pengalaman yang dia alami seminggu yang lalu.
Siang itu
Yoriko berlari keluar dari coffee shop sambil membawa kantong kertas berisi
beberapa gelas kopi dan kue. Sambil melawan arus pejalan kaki di trotoar untuk
mengejar bis, ia harus ekstra berhati-hati agar kopi yang ia bawa tidak tumpah
dan terkena pakaiannya.
Seusai
giliran jam kerjanya di petshop, dia mendapat telepon mendadak dari Shou, yang
memintanya untuk membawakan kopi favoritnya di coffee shop langganannya. Karena
permintaan itu lebih cocok terdengar seperti sebuah perintah yang akan
membuatnya dipecat bila dia tidak melakukannya, Yoriko berlari menuju arah
berlawanan dari kantor PSC sejauh 10 km hanya untuk mengantri selama 30 menit
di coffee shop.
Waktu yang
tersisa untuknya tinggal 10 menit lagi, dan Yoriko mendengar handphone di dalam
tas ranselnya tidak berhenti berdering sebagai tanda Shou sudah tidak sabar
lagi menanti kopinya.
Ya Tuhan, apa
orang itu tidak mempunyai sesuatu berguna yang bisa dilakukan daripada
mengganggunya?
Akhirnya dia
berhasil mencapai gedung kantor dengan terus berlari dari halte tempat ia turun
dari bis sampai ke pintu masuk. Satpam yang berjaga di pintu masuk memerhatikan
Yoriko yang mendekati pintunya dengan terengah-engah. Petugas itu sampai
sedikit iba melihat banyaknya barang yang dibawa Yoriko, tas ransel yang
kelihatannya berat, kantong kertas, dan beberapa buku tebal.
“kau tidak
apa-apa, Yoriko-chan?” tanya petugas satpam yang sudah Yoriko kenal dengan baik
sejak hari pertamanya bekerja.
“ya, aku
tidak apa-apa, Yamaguchi-san...” jawab Yoriko tersengal-sengal dan mencoba
untuk tersenyum meski ia lelah. “hanya melakukan sedikit jogging.”
Yamaguchi
tertawa pelan karena sikap ceria Yoriko yang tidak pernah hilang meskipun dia
bekerja untuk orang yang ia anggap menyebalkan. Setelah memeriksa tas Yoriko
dengan alat detektor di tangannya, Yamaguchi mempersilakan Yoriko masuk.
“semangat, Yoriko-chan. Sepertinya Kohara-san hari ini sedang kesal.”
Yoriko
mengangguk pelan sebelum ia berlari lagi masuk ke dalam gedung. Hari ini
sepertinya sangat luar biasa dibanding hari lainnya. Dia belum pernah
terburu-buru seperti ini masuk kerja hanya demi seorang vokalis sebuah band
yang terus menyulitkannya selama dia bekerja untuk orang itu. Tidak sekali ini
saja Shou mempersulit dirinya dengan perintah-perintah yang tidak masuk akal.
Tiga hari lalu orang itu menyuruhnya untuk mengambil kostum milik kelima personel
band Alice Nine dari desainer. Memang tidak aneh, tapi setelah Yoriko susah
payah mengambilnya karena Shou berkata kostum itu harus ada pada hari itu juga,
Shou malah mengabaikan kostum itu dan menusuk Yoriko dengan kata-kata tajamnya
sebelum orang itu melenggang pulang dengan mobilnya.
Itu masih
belum seberapa dibanding Shou yang pernah menyuruh Yoriko membawakan seluruh
peralatan band yang cukup berat dari mobil ke studio mereka. Belum termasuk
betapa rewelnya Shou ketika sesi makan siang Alice Nine. Yoriko akan terus
disalahkan bila ia tidak membawakan makan siang dari restoran cepat saji
terdekat bila Yoriko tidak membawakan pancake buatan restoran itu yang dimana
pancake itu hanya disajikan dari jam 5 sampai 10 pagi.
Shou juga
sering mencari-cari kesalahan Yoriko saat bekerja. Tapi Yoriko cukup tangguh
untuk bersabar dan menahannya. Yang Yoriko lakukan hanyalah meminta maaf dan
melakukan pekerjaannya kembali sesuai keinginan Shou.
Tentu saja
keadaan itu membuat keempat personel Alice Nine lainnya bersimpati padanya.
Mereka tidak pernah menyulitkan Yoriko dengan perintah-perintah aneh seperti
Shou dan menghargai setiap hal kecil yang Yoriko lakukan untuk mereka. Tidak
jarang mereka menyuruh Yoriko pulang pada pukul 11 malam hanya demi membersihkan
ruangan Alice Nine agar Shou tidak marah-marah jika ia mendapati ruangan itu
tidak rapi keesokan harinya.
Karena
memikirkan ketakutannya pada Shou yang sudah siap menyemburkan kemarahannya di
lantai atas, Yoriko tersandung di tangga pintu lobby kantor. Alhasil, lututnya
dan sikunya lecet demi mati-matian melindungi kantong kertasnya agar kopi di
dalamnya tidak tumpah.
Cara jatuh
Yoriko cukup menarik perhatian Honoka Ikeda yang bertugas di balik meja
resepsionis lobby. Honoka berlari keluar untuk mendekati Yoriko yang masih
cukup syok dan memeluk kantong kertasnya di teras lobby.
“kau tidak
apa-apa, Yoriko-chan?” tanya Honoka khawatir. Mereka berteman dalam waktu
singkat karena Yoriko yang selalu menyapa Honoka setiap kali mereka bertemu di
lobby. Sikap ramah Yoriko itu tidak seperti tamu lainnya yang terlalu sibuk
untuk menyapanya atau hanya sekedar memanggilnya bila ada keperluan.
Diperhatikan dengan baik seperti yang Yoriko lakukan, membuat Honoka
menghargainya.
Tubuh Yoriko
bergetar dan berkeringat. Ia sampai membutuhkan waktu beberapa lama untuk
berdiri. Tidak sekali dua kali ini Honoka melihat situasi Yoriko seperti ini,
datang ke kantor ini dengan ekspresi lelah dan wajahnya sedikit pucat. Tapi
entah kenapa, Yoriko tidak menyadarinya.
“ya, ya...”
Yoriko berusaha mengambil nafasnya. “aku tidak apa-apa. Tadi aku berlari,
jadi...”
“cukup. Kau
harus beristirahat sebentar. Kau pasti capek dari petshop langsung berlari
kemari. Apalagi kau tadi membeli kopi untuk mereka, bukan?” potong Honoka.
Yoriko
mengangguk pelan. “tapi, aku tidak bisa beristirahat. Shou pasti sudah menunggu
kopi ini dan dia akan sangat marah besar bila aku terlambat membawakannya.”
Sekali lagi
Honoka memotong kata-kata Yoriko. “cukup. Biar saja Shou marah. Bukan kau yang
rugi kalau kopinya dingin. Kau terluka, Yoriko-chan. Kau harus diobati.” Honoka
menunjuk siku dan lutut Yoriko yang lecet.
“aku tahu...
tapi...” Yoriko tersenyum kering. “aku tidak membawa obat atau plester.
Jadi...” Yoriko hendak berjalan lagi namun Honoka mencegahnya lalu menarik
tangan Yoriko.
“aku membawa
obat merah dan plester.”
Honoka
membawa Yoriko ke balik meja resepsionisnya. Di laci meja tersebut, Honoka
menyimpan sebuah tas P3K kecil yang fleksibel untuk dibawa kemana-mana. Tas itu
bermotif lucu dan berwarna merah marun. Yoriko sampai memujinya dan bertanya
dimana Honoka membeli tas itu.
“aku selalu
membawa tas ini untuk berjaga-jaga.” Honoka menyuruh Yoriko duduk di kursi
untuk diobati. Ketika tas pertolongan pertama itu dibuka, isinya cukup lengkap.
Dari perban, kapas dan kasa, beberapa obat-obatan ringan, obat merah, plester,
sampai sebotol kecil alkohol.
“berjaga-jaga
kenapa?” Yoriko tidak mengerti.
Honoka
membersihkan sedikit luka Yoriko dengan kapas sebelum menetesinya dengan obat merah.
“aku bukan termasuk orang yang bisa diam berlama-lama meskipun aku bekerja
sebagai resepsionis. Aku ceroboh, aku bisa terluka dimana saja dan kapan saja.
Jadi, aku selalu membawa tas lucu ini. Dia seperti sahabat yang selalu ada
untukku.”
“oh...” Yoriko
agak kaget mendengarnya. “sudah berapa luka yang kau dapatkan?”
Honoka
memberikan plester di atas luka Yoriko dan berkata dengan sebuah senyum bangga
di bibirnya, “jika aku melepas stoking di kakiku ini, maka kau bisa melihat
bekas luka dari kecelakaanku sewaktu masih kecil.”
“wow!” Yoriko
malah menjerit kagum. “kau juga punya bekas luka di kaki? Aku mendapatkan bekas
luka di kaki kiriku karena jatuh saat umurku 8 tahun!”
“oh ya? Kau
jatuh dari mana?”
“ngg...”
Yoriko sepertinya tidak terlalu ingin menjawabnya karena tidak ingin Honoka
menganggapnya aneh. “dari pohon sakura...”
“sepertinya
kau memiliki pengalaman keren waktu itu. Kau mau menceritakannya lain waktu?”
pinta Honoka.
“kalau kau
mau, tentu saja. tapi kumohon dengan amat sangat, jangan ditertawakan.” Yoriko
berdiri dan mengambil kantong kertasnya yang ditaruh di samping kursi. “terima
kasih, Honoka-chan. Akan kutraktir kau sebagai tanda terima kasihku.”
Honoka
tergelak pelan karena kebaikan Yoriko yang tidak ada batasnya. “tidak usah, Yoriko-chan.
Terima kasih saja sudah cukup. Lagipula kau harus menemui pria mengerikan itu
di lantai atas.”
Yoriko
tersentak begitu ia teringat Shou yang masih menunggu kopinya. Cepat-cepat ia
berpamitan pada Honoka dan berlari menuju lift.
Sesuai dugaan
dan ketakutan Yoriko, Shou langsung menyemburkan kemarahannya pada Yoriko tepat
setelah ia memasuki ruangan Alice Nine. Kemarahan itu tidak bernada tinggi dan
membuat ruangan berisik. Cukup dengan kata-kata pelan namun menusuk sudah mampu
membuat orang yang dimarahi menangis. Tapi karena Yoriko sudah sangat terbiasa,
Yoriko hanya diam. Kata maaf sudah tidak berguna lagi.
“aku tidak
percaya teman-temanku menyewa asisten yang sangat lamban cara kerjanya.” Dengan
sinis Shou berkata seperti itu seraya mengambil kantong kertas begitu saja dari
tangan Yoriko. Dari ucapannya, Shou seperti sama sekali tidak menghargai usaha
Yoriko yang sudah susah payah membelikan kopi itu. “rasanya bila kau tidak ada
kita masih baik-baik saja disini.”
Sementara
keempat personel lainnya diam saja dan menatap Shou maklum. Mereka berhenti
sejenak dari kesibukan mereka pada alat musik masing-masing untuk mengambil
kopi bagian mereka.
“terima
kasih, Yoriko...” kata Nao pelan. “jangan pikirkan kata-kata Shou-kun.”
Yoriko hanya tersenyum
pasrah dan bertanya pada mereka. “ada lagi yang bisa kubantu? Tadi aku menerima
telepon dari majalah yang ingin mewawancarai kalian minggu depan. Mereka
meminta kepastian waktu. Dan... juga masih ada wawancara khusus untuk Nao dan
Shou. Pihak majalah ingin meminta persetujuan kalian. Lalu...”
“sudah berapa
kali kubilang untuk tidak membahas soal itu saat aku meminum kopi? kau sudah
menghilangkan seleraku.” kata Shou sedingin es. Dia menatap tajam Yoriko yang
kaget sekaligus kebingungan karena amukan Shou yang tiba-tiba.
“mereka
memintaku untuk memberitahu kalian secepat mungkin, aku hanya melakukan apa
yang mereka minta karena kita semua sangat menghargai waktu. Jadi...”
“kau tuli
atau kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan barusan?” balas Shou ketus. “jika aku bersedia atau tidak untuk
diwawancarai, aku akan langsung menghubungi mereka, bukannya meminta tolong
pada orang tidak berguna sepertimu.”
“tapi mereka
menghubungi orang yang tidak berguna ini daripada langsung menghubungimu. Jadi tidak
salah kalau aku memberitahukannya padamu, bukan?” bantah Yoriko.
Bila kedua
orang ini sudah berargumen, Tora, Nao, Saga, dan Hiroto hanya bisa menonton
sambil menyeruputi kopi hangat mereka atau sambil memakan popcorn. Mereka
berempat sudah menyerah untuk merelai mereka lagi. Jika mereka melakukannya,
mereka hanya akan mendapat bantahan.
Shou sendiri
yang entah karena kalah berargumen atau sudah tidak mau berurusan dengan Yoriko
lagi, berdiri dari sofa tempat ia duduk dan dengan acuh tak acuh mengembalikan kopinya
yang belum disentuh sama sekali secara kasar ke Yoriko “aku sudah tidak mau
ini.”
“kenapa? Aku
salah memesannya? Atau karena kurang creamer atau gula?” tebak Yoriko. Ini
sudah kelima kalinya Shou mengembalikan kopinya ke Yoriko karena alasan yang
konyol.
“kopinya
sudah dingin.” Jawab Shou datar tanpa merasa berdosa. Tidak sedikit pun kata
terima kasih terlontar atau sikap yang mengekspresikan kata itu ditunjukkan
oleh pria itu.
“kalau begitu
kau ingin aku membuangnya atau aku saja yang meminumnya?” tantang Yoriko.
“aku ingin
kau pergi ke coffee shop itu lagi dan membelinya lagi.” Perintah Shou walaupun dia
tahu Yoriko sudah capek dan mustahil untuknya pergi ke coffee shop itu lagi.
Sedangkan di sisi lain, mungkin
orang lain akan menyiramkan seluruh isi kopi mahal yang ada di tangannya ke
seluruh tubuh Shou. Toh rambut Shou sekarang warnanya tidak jauh berbeda dengan
caffè latte yang bermasalah ini, jadi tidak akan mencolok, bukan?
Tapi Yoriko berbeda. Dia cukup cerdas
untuk memendam niat itu dan bersabar. Dan kesabaran yang ia miliki bukanlah
kesabaran biasa. Karena sesuatulah yang membuat Yoriko tetap bertahan dan kokoh
meski Shou terus berusaha merobohkannya.
“tenang saja, akan kucoba...” Yoriko
tersenyum manis lalu keluar dari ruangan.
“oh ya, jangan lupa...” Shou menyela
agar Yoriko menoleh. “aku tidak ingin gelas kopinya penyok seperti itu lagi.”
“baik, Yang Mulia...” Yoriko menjawab
sarkastik seraya membungkuk penuh hormat ke arah Shou. Yang kemudian disambut oleh
suara empat orang yang menahan tawa karena melihat wajah Shou yang kecut karena
dikalahkan Yoriko.
“orang itu...” desis Aya marah.
“seandainya aku ada disana, aku akan menumpahkan seluruh isi caffè latte itu ke rambutnya. Toh warna rambutnya sama seperti
kopi itu jadi tidak akan mencolok, bukan?”
“dan apa yang lucu dari itu, Yoriko-chan?” Tanya
Avaron. Dia juga tidak kalah marahnya seperti Aya. “Maksudku, kau direndahkan
dan tidak dihargai. Kalau Shou datang kesini, akan kuberi pelajaran.”
“selain dari ekspresi lucunya begitu dia sadar dia
tidak bisa mengalahkanku?” kata Yoriko bangga. “entahlah. Aku tahu seluruh
sikapnya tidak pernah ada yang baik kepadaku. Tapi entah kenapa aku bisa
menahannya...”
“apa kau sedang
mencoba mengatakan bahwa kau menyukainya?” sindir Aya.
Yoriko tertawa
terbahak-bahak. Sedikit pun tidak terpikir olehnya untuk jatuh cinta pada Shou
atau apapun itu. Rasa kekagumannya pada Shou yang mirip Spencer Williams selalu
disalah artikan orang lain sebagai perasaan suka. Lagipula untuk apa Yoriko
menyukai pria arogan yang narsistik tapi disaat yang sama juga menyukai wanita
yang tidak akan pernah ia dapatkan? Bukannya kasihan, Yoriko malah akan
menertawainya.
“aku tidak pernah
menyukai Shou.” Yoriko menegaskan. “dia hanya sosok yang mirip sekali dengan
tokoh khayalanku sendiri dan itu tidak ada hubungannya dengan perasaan suka.”
“ya, tapi kau akan
menyukainya. Percayalah padaku...” Aya menyeringai jahil.
Dan sekarang giliran
Yoriko yang berdesis tidak percaya.
Yoriko menghela nafas
berat saat keluar dari ruang Alice Nine. Sepertinya dia benar-benar harus pergi
ke coffee shop itu lagi. Ia memerhatikan caffè latte yang ada di tangannya. Dia meminum sedikit kopi yang
belum tersentuh itu.
“kopinya
masih hangat. Kenapa dia bilang kopi ini sudah dingin?” gumam Yoriko tidak
percaya. Tapi dia tahu masuk kembali ke ruangan dan protes ke Shou tidak akan
ada gunanya, jadi ia meneruskan niatnya untuk kembali ke coffee shop.
“setidaknya
kau mendapat kopi gratis untuk harimu yang menyebalkan ini.” tiba-tiba
seseorang berbicara di sebelahnya.
“hei,
Hitomu...” sapa Yoriko. Tidak disangka sahabatnya datang disaat ia membutuhkan
seseorang untuk diajak bicara. Kali ini penampilan Hitomu sedikit berbeda. Ia
terlihat lebih kasual dengan kaos, jaket kulit, dan celana jeans. Sepatu boot
hitam yang dikenakannya sepertinya masih baru.
“kau tidak
apa-apa?” Hitomu menunjuk luka di siku dan lutut Yoriko. “kau jatuh dari mana?”
“aku jatuh di
depan lobby karena terburu-buru datang kemari. Tapi usahaku cukup sia-sia...”
jawab Yoriko dengan nada ironis.
“tapi kau
rapi juga menempelkan plester ini...” Hitomu memerhatikan lebih detail plester
cokelat di siku Yoriko.
“Honoka-chan yang
mengobatiku. Dia hebat ya, selalu membawa tas P3K kemana pun ia pergi. Aku
cukup kaget saat tahu dia orang ceroboh yang cukup sering terluka, padahal
kelihatannya dia tipe yang pendiam.” Ujar Yoriko.
“terkadang,
Yoriko-chan...” kata Hitomu dengan lembut. “orang yang sering terluka bisa jadi
adalah orang terkuat yang pernah ada.”
Kata-kata
Hitomu barusan telah menyulut semangat Yoriko kembali berkobar. Sahabatnya ini
sungguh berbeda dari orang yang tadi merendahkannya beberapa menit lalu. “terima
kasih, Hitomu... kau mau ikut ke coffee shop? Akan kutraktir decaf coffee kesukaanmu...”
No comments:
Post a Comment