10
Shou memasuki
studionya siang itu dengan gontai. Studio tempat ia biasa latihan itu masih
sepi karena jadwal latihannya masih setengah jam lagi. Studio yang didominasi
oleh warna cokelat muda itu nampak terang dan dipenuhi oleh alat-alat musik
milik Alice Nine. Gitar-gitar listrik dan akustik serta amplifier dan peralatan
lainnya dibiarkan begitu saja di sisi kiri, keyboard berdiri di dekatnya
ditutupi oleh kain supaya tidak terkena debu, di bagian sudut terdapat drum set
terlengkap yang selalu dijaga oleh Nao, dan tepat di depan drum tersebut,
adalah tempat mic-stand dimana Shou selalu menggunakannya untuk menyanyi. Tempat
ini telah menjadi salah satu tempat yang sakral bagi Shou setelah kamarnya
dan—yang anehnya—petshop tempat dia dulu bekerja.
Tapi ternyata
bukan dialah yang pertama datang pada hari ini. Shou melihat sahabat dan teman
satu bandnya, Tora, sedang duduk sambil menyetel gitar kesayangannya di dekat
gitar-gitar yang tidak terpakai. Shou tidak tahan untuk tidak tersenyum saat
melihat posisi duduk Tora yang sangat khas, dengan kaki kanannya berada di atas
pahanya sambil menopang gitar namun ekspresi wajahnya benar-benar cuek tapi
serius disaat yang sama, seakan dia tidak peduli pada apapun lagi kecuali gitar
di tangannya.
Tidak heran
dia memiliki banyak penggemar yang selalu memujanya kapan pun.
“lagu baru?”
Shou penasaran karena Tora memainkan sebuah nada yang belum pernah dia dengar.
Tora
mengangkat bahu, “entahlah. Bisa jadi. Tapi aku belum ingin memantapkannya
dulu. Kita masih ada 1 konser yang harus diselesaikan.”
Shou paham.
Dia menaruh tas ranselnya begitu saja di lantai dan menarik sebuah bangku yang
berada tidak jauh darinya. Kemudian ia duduk menghadap Tora. Shou memerhatikan
Tora lebih dekat, lalu ia menyadari bahwa wajah sang gitaris terlihat sangat
lelah.
“aku tidak
tidur semalaman. Mungkin karena terlalu memikirkan konser kita 2 minggu
lagi...” jawab Tora saat Shou menanyakan alasannya. Tidak biasanya Tora terlalu
memikirkan konser mereka. Rasanya sudah ribuan kali mereka berlima melalui itu
dan hasilnya selalu sukses besar, hampir tidak ada yang menyebutkan kekurangan
mereka. Semuanya menganggap mereka sempurna. Tapi yang tidak mereka tahu adalah
bagaimana perjuangan mereka demi meraih kesuksesan itu. Shou berani bertaruh,
tidak ada satu pun dari penggemar Tora yang sadar bila idola mereka yang selalu
tampil prima di panggung dengan luwes bisa mengalami krisis percaya diri
seperti ini.
“kau terlalu
sibuk membuat variasi musik kita, ya?” tebak Shou. Tora menjawab dengan sebuah
anggukan pelan.
“Hiroto juga
ikut membantu, tapi...” kata Tora. “entahlah... kurasa aku masih belum terlalu
siap untuk ini. maksudku, kita sama sekali tidak mendapatkan waktu untuk
bernapas sedikit setelah peluncuran album baru kita.”
“kenapa kau
tidak cerita padaku? Kita satu band, Tora. Seharusnya aku membantumu.” Shou
juga bingung kenapa Tora sama sekali tidak menceritakan kerisauannya soal ini.
“aku tidak
ingin merepotkanmu, teman. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri.” Kata
Tora tajam. Namun sebelum Shou bisa menyela, dia sudah lebih dulu meneruskan,
“jangan salah pikir, Shou, tidak hanya aku saja yang mengalami ketidak siapan
ini. Kau memang terlihat dingin dan cuek, tapi aku tahu.”
Tora benar.
Shou tidak pernah menceritakannya pada siapa pun mengenai masalah pribadinya
termasuk pada sahabatnya sendiri. Dia terlalu sibuk memikirkan seseorang yang
tidak akan pernah ia dapatkan, ia terlalu sibuk memikirkan cara agar ia bisa
mendapatkan perhatian dari orang itu lagi seperti dulu. Terlalu sibuk sampai
teman-temannya mengira hanya badannya yang berada di studio tapi jiwanya pergi
entah kemana.
“maaf, Tora.
Aku tidak sadar...” kata Shou pelan dengan nada menyesal.
“aku paham,
Shou. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyingkapi masalah
mereka...” Tora memaklumi. “tapi Shou, sudah bertahun-tahun aku bersahabat
denganmu tapi aku masih belum mengerti bagaimana cara kau menyingkapi masalah
itu selama 4 tahun ini.”
“’masalah itu’?”
alis Shou terangkat.
“ya, kau
seharusnya sadar kau tidak akan bisa mendapatkannya lagi, Shou. Dia sudah
menjadi milik orang lain. Apa kesuksesan kita ini tidak bisa menggantikan
kegagalan usahamu untuk mendapatkannya?”
Satu lagi
yang Shou ingat dari sahabatnya yang tidak pernah peduli pada urusan orang lain
dan selalu main-main, kalau Tora sudah berbicara serius seperti ini itu berarti
Tora benar-benar peduli padanya dan band yang mereka bentuk sejak SMA ini.
“dia spesial,
Tora. Karena dialah kita bisa menikmati studio ini dan meraih kesuksesan kita
juga. Apa kau lupa?”
“aku tidak
akan pernah lupa, Shou. Tapi bukan dialah yang membawa CD demo kita ke
perusahaan rekaman 4 tahun lalu.”
“dia
memberikan dukungannya dengan cara lain, Tora.” Tukas Shou agar Tora mengerti.
“karena dialah aku bisa menjadi kuat seperti sekarang.”
“tidak,
Shou.” Tora beringsut dari duduknya. “kau menjadi lebih rapuh dari yang kau
kira. Kau menyingkirkan orang-orang yang ingin mendekatimu hanya karena kau
terlalu sibuk dengan khayalanmu sendiri. Kau lebih memilih menjalani khalayanmu
daripada menghadapi kenyataan. Itulah yang membuatmu menyedihkan.”
“kau salah,
Tora.” Shou mengacungkan jarinya di depan wajah Tora. “justru berkat dia aku
masih bisa berdiri sampai sekarang. Selama 4 tahun ini aku berusaha keras untuk
tetap bekerja demi apa yang kita pilih.”
Bagaimana
Tora bisa dengan mudahnya berkata dia menyedihkan? Avaron telah menjadi tumpuan
hidupnya dan tidak ada seorang pun yang bisa menyuruhnya begitu saja melepaskan
itu. Wanita itu telah menjadi bagian terbesar di dunia Shou. Dia seperti patung
tercantik di dalam peti kaca, Shou tidak bisa menyentuhnya lagi. Demi menghibur
kesedihannya, dia hanya bisa melihat dan memujanya dari jauh.
Tora tidak
membalas ucapan Shou setelah itu. Mau tidak mau ia mengalah. Meski ia benci
mengakui ini, Shou tidak sepenuhnya salah. Memang sangat berat untuk melupakan
orang yang dicintai dalam waktu lama. Shou tidak bisa melakukan apapun lagi
karena disaat itu dia lebih memilih karirnya dibanding mengejar wanita itu.
Rasa penyesalan
membayangi hati Shou selama ini. Dan tidak ada lagi yang bisa ia perbuat untuk
memerbaikinya.
“tapi
setidaknya berilah dia kesempatan...” ujar Tora.
“dia?” Shou
tidak tahu siapa yang Tora maksud.
“Yoriko. Dia
tidak tahu apa-apa, Shou. Kau bisa melampiaskan perasaanmu itu pada kami, tapi
jangan kepadanya. Dia hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu.”
Shou
terkesiap. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia bisa sedingin itu pada Yoriko. Apa
karena Yoriko adalah gadis pertama yang membuatnya tertarik setelah beberapa
tahun lamanya atau entah kenapa gadis itu bisa tahu apa perasaannya yang tidak
ingin diketahui orang lain?
“kau masih
ingat kejadian seminggu lalu? Saat dia terlambat membawa kopi untuk kita? Kau
sadar tidak, dia sampai harus berlari lebih dari 10 km lalu mengejar bis kemudian
ia terjatuh di lobby hanya karena dia tidak ingin mendapat kemarahan darimu?”
Tora mengingatkan. “dan kau dengan dinginnya menyuruhnya pergi lagi membeli
kopi yang sama padahal dia sama sekali belum beristirahat.”
“itu memang
salahnya. Kopi yang dia bawakan memang sudah dingin. Itu sudah menjadi tanggung
jawabnya untuk menggantinya.” Shou membela diri.
Tora berdecak
jengkel, “bukan begitu. Kopimu itu masih cukup panas. Cukup panas untuk
disiramkan ke wajahmu yang sangat menyebalkan waktu itu. aku heran kenapa
Yoriko masih bisa menahan kesabarannya dalam menghadapimu.”
“poinmu apa
disini, Tora?” Shou mendesak.
“kenapa kau
selalu mencari-cari kesalahan Yoriko? Apakah ini bagian dari kau menyingkirkan
orang-orang supaya bisa terus hidup di dalam imajinasimu?”
Shou menatap
Tora kebingungan. Seandainya dia bisa memberikan jawaban secara jelas atas
pertanyaan dari sahabatnya ini. Namun apa daya, dia memang tidak mengerti.
Selama 4 tahun ini dia tersesat di dunianya sendiri. Sekali lagi ia membenarkan
perkataan Tora, dia terlalu sibuk dengan khayalannya.
Tapi khayalan
itu sangat indah, dia rela memberikan apa saja untuk bisa terus bertumpu pada
khayalan itu agar ia bisa selamat melalui dunia yang penuh kepalsuan. Agar ia
bisa tetap kuat melalui dunia kejam yang ia pilih.
“dia wanita baik,
Shou. Ada yang salah darinya?” tanya Tora.
“apa?
Terlepas dari dandanan mengerikannya itu?” jawab Shou sarkastik.
“ayolah, kita
sering melihat banyak gadis berdandan seperti itu. Berikan alasan yang bagus.”
Tora kesal Shou terus berkelit.
“entahlah...”
Shou malah tidak peduli. “mungkin karena dia memang menjengkelkan? Bicara soal
menjengkelkan, dia juga belum datang membawakan makan siang kita. Dimana dia?”
“sekarang
hari Minggu. Dia meminta izin padaku untuk pergi misa di gereja sampai siang.
Mungkin dia telat karena masih harus mengantri di restoran untuk kita?” jawab
Tora. Dia menaruh gitarnya di samping kursi.
“dia seorang
Kristen?” Shou belum mendapatkan jawaban memuaskan dari agama apa yang dianut
Yoriko.
“bukan,
Katolik. Setidaknya dia menghabiskan waktunya di tempat yang lebih berguna
daripada kau yang lebih sering tidur di hari Minggu, bukan?” Tora membalas
sindiran Shou. “cepat siap-siap, sebentar lagi Nao dan yang lain akan datang.”
Yoriko
bersyukur karena menemukan cabang restoran tempat makanan favorit para anggota
Alice Nine ada di dekat gereja dimana ia melakukan misa setengah jam lalu. Sebuah
restoran yang menyajikan berbagai macam steak lezat yang sudah terkenal. Karena
kepopulerannya, restoran ini pasti selalu penuh saat jam makan siang dan makan
malam.
Yoriko
mengantri di bagian resepsionis restoran untuk pemesanan take away. Setelah pelayan restoran mencatat pesanannya, Yoriko
diminta menunggu selama setengah jam sebelum pesanannya bisa dibawa pulang.
Tapi Yoriko meragukan itu, karena masih ada 5 orang lagi sebelum dirinya yang
sudah menanti pesanannya lebih lama daripada dia.
Ia
mengeluarkan sebuah novel berbahasa Inggris miliknya dari tas ransel hitamnya
yang bermotif tengkorak. Novel seri The Guardians of Eternity karya Alexandra
Ivy favoritnya berjudul Embrace The Darkness. Tidak ada satu pun yang bisa
membangkitkan minatnya kecuali sesuatu berbau misteri. Di novel yang ia baca
ini bertema vampir dan iblis.
Yoriko yakin
nyaris tidak ada penduduk di kota ini membaca apa yang ia baca. Kebanyakan
orang menganggap seleranya aneh, dan karena selera anehnya itu yang membuatnya
terbuang. Dan dia menerima kenyataan itu dengan menutup dirinya sendiri dan
bersenang-senang di dunianya.
Dia senang menjadi
berbeda di antara yang lain.
“apakah itu
versi asli dari Embrace The Darkness?” tiba-tiba sebuah suara berseru di
sebelah Yoriko. Ternyata suara itu milik seorang pria seusianya ketika Yoriko
menoleh. Seorang pria yang karismatik, sehingga orang asing seperti Yoriko bisa
melihat pancaran kecerdasan dan kedewasaan darinya. Wajahnya memang tidak
terlalu tampan, tapi Yoriko tidak akan pernah bisa melupakannya.
“ya, kau tahu
dari mana?” tanya Yoriko terkejut. Pria ini tahu novel kesukaannya!
“aku sudah
membaca semua serinya. Tulisan Alexandra Ivy memang luar biasa...” pria itu
mengungkapkan kekagumannya dengan tutur katanya yang sopan tapi juga tidak
berlebihan dalam mengekspresikannya.
“aku baru
saja berpikir hanya aku orang Jepang yang membaca novel ini. Tapi ternyata...”
Yoriko tidak bisa menyembunyikan ketidak percayaannya. Dia menemukan orang yang
juga membaca novel favoritnya di bangku restoran yang penuh, sesak, dan
membosankan. “oh well, mungkin aku
sedikit berlebihan...”
Pria itu
hanya tersenyum melihat reaksi Yoriko yang apa adanya. Meski dia hanya orang
asing bagi Yoriko, dia tahu Yoriko pastilah seorang unik dan memiliki pandangan
tersendiri tentang hidup. “senang bisa menemukan penggemar novel favoritku. Aku
tidak akan bisa melupakan bagaimana Viper mengalahkan iblis Lu hanya demi
Shay.”
“bagian
favoritku adalah saat dimana Shay kabur dengan Porsche milik Viper. Oh Tuhan,
aku tidak bisa membayangkan wajah murka Viper saat tahu mobil kesayangannya
dirusak oleh shalott cantik itu...” Yoriko tergelak. Baru kali ini, selain Aya
dan Avaron, Yoriko menemukan seseorang yang bisa diajak bicara.
“apa kau
seorang penulis?” si pria menunjuk jari tengah Yoriko yang kapalan karena
terlalu sering menulis atau menggambar.
“tidak juga.
Aku menulis dengan komputerku, mungkin kapalan ini karena aku terlalu sering
menggambar...” jawab Yoriko. Dan baru kali ini juga ada seseorang yang
memerhatikan dirinya begitu mendetail. “kau juga suka menulis?”
“ya, tapi
karyaku tidak seberapa hebat dibanding Alexandra Ivy...” pria itu terkekeh.
Untuk beberapa saat Yoriko sedikit terhipnotis oleh tawa pria berambut hitam
tersebut. Bukan karena ketampanannya atau penampilan fisiknya yang lain,
melainkan karena Yoriko tahu pria ini sudah cukup lama berada di dunia imajinasinya
tapi entah bagaimana ia masih bisa berbicara seperti orang normal sampai
membuat Yoriko terpesona. Yoriko bahkan tidak bisa seperti dia.
Pria ini
berpenampilan rapi layaknya pria berkelas lainnya. Memakai setelan jas di balik
sweater rajutan abu-abunya. Sepatu kulit hitamnya berkilat seperti baru.
Rambutnya tertata rapi dan ia juga memakai kacamata berbingkai kotak.
Mengingatkan Yoriko pada sosok terpelajar dan berkarismatik Robert Langdon di
novel The Davinci Code.
“berhubung
kita sesama penulis, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Yoriko.
“tentu saja.”
jawab si pria dengan tangan terbuka.
“bagaimana
caramu agar bisa terus berhubungan dengan dunia nyata sementara kau masih
bersenang-senang di dunia imajinasimu sendiri?”
Pertanyaan
itu hanya dijawab dengan seulas senyum dari pria itu. Kemudian secara perlahan
dia menjelaskan, “aku tidak tahu. Menurutku setiap orang pasti punya caranya
sendiri untuk tetap berhubungan dengan dunia nyata. Tapi untuk kasusku...” si
pria menghela nafas sejenak. “aku memiliki orang-orang yang membutuhkanku di
dunia nyata. Dan orang-orang itu cukup bergantung padaku.”
“maksudmu
mereka itu adalah keluarga?” Yoriko menebak.
“yah, itu
salah satunya...” pria itu membenarkan. “bagaimana denganmu?”
Yoriko tidak
yakin apakah dirinya pernah merasa dibutuhkan selama seumur hidupnya. “ngg...
aku tidak tahu...”
“kalau
begitu, beritahu aku jawabannya saat kita bertemu lagi.” Kata pria itu. Dia
melihat pesanann take away-nya sudah ada di meja penerimaan. Pria itu bergegas
berdiri lalu berpamitan pada Yoriko.
Tapi sebelum
Yoriko membalas ucapan selamat tinggal dari pria itu, dia bertanya sekali lagi,
“kenapa kau yakin kita akan bertemu lagi?”
“mungkin
karena...” si pria tersenyum misterius. “kau dan aku menyukai novel yang sama,
kita juga seorang penulis, dan kita sama-sama terjebak di dunia fantasi kita
sendiri. Kutantang kau mencari orang yang sama seperti kita di kota ini, kau
pasti tidak akan menemukannya. Aku harap di pertemuan kita berikutnya, kita bisa
menemukan kesamaan lainnya...”
Jawaban dari
pria itu berhasil membuat Yoriko terkesan. Bahkan saat pria itu sudah
meninggalkan restoran 15 menit lalu, kata-katanya masih terus terngiang di
benaknya. Berkat pria yang tidak dikenal itu, selama satu hari penuh wajah
Yoriko tidak pernah terlepas dari senyuman.
Maka, begitu
ia pergi dari restoran dengan menuntun sepedanya ke gedung studio Alice Nine, dia
tidak merasakan beban apapun lagi.
Senyuman itu
masih terus ada di bibir Yoriko saat dia sudah sampai di studio Alice Nine satu
jam kemudian. Walaupun senyuman itu adalah senyum kebahagiaan, tapi bagi
beberapa orang yang berpapasan dengannya menganggap itu adalah sebuah senyuman
mengerikan. Jarang bagi mereka menemukan seorang wanita berjubah hitam dari atas
sampai bawah dan memakai make up gothic melintasi lorong gedung mereka. Bahkan
Yoriko sampai mengejutkan petugas operator studio yang sedang mengawasi
jalannya latihan musik Alice Nine. Percayalah, dikagetkan oleh kedatangan
seorang wanita yang penampilannya seperti malaikat kematian di ruang operator
yang gelap cukup membuatmu mendapatkan serangan jantung.
Apalagi bila
‘malaikat’ itu memiliki sebuah senyum cantik namun mematikan.
“oh,
Yoriko-san...” petugas operator yang bernama Momose itu sampai mengelus dada
dan mengambil nafas cepat beberapa kali ketika akhirnya Yoriko memperlihatkan
wajahnya. “kupikir kau siapa...”
“memangnya
kau pikir aku siapa?” tanya Yoriko polos. “hai, Momose... aku membawakan kopi
untukmu.” Yoriko menyerahkan segelas kopi panas dari tangannya ke Momose.
Untuk Momose
yang hampir seharian ini bekerja, segelas kopi dengan creamer dari Yoriko
sanggup membuat separuh dari rasa penatnya hilang. Yoriko memang selalu
berpenampilan seram setiap hari, tapi dia orang yang sangat baik. Sambil
menyesap kopi hangatnya, dia melihat Yoriko juga membawa sebuah kantong kertas.
“itu makan
siang untuk Alice Nine?”
“ya... berapa
lama lagi mereka selesai berlatih?” Yoriko memerhatikan dari jendela operator
Shou dan kawan-kawannya sedang memainkan sebuah lagu. Yoriko tahu lagu itu
karena sejak ia bekerja untuk Alice Nine dia merasa wajib mendengarkan seluruh
lagu mereka. Sayangnya, Yoriko lupa judul lagu yang mereka mainkan sekarang.
“oh, kata
mereka ini lagu terakhir sebelum makan siang. Mereka menunggumu.” Momose
melihat jam tangannya. “sebenarnya kalau mereka istirahat, aku juga akan pergi
ke lantai dasar untuk makan siang.”
“tidak
apa-apa, Momose-san...” Yoriko menaruh tangannya di pundak pria gemuk tersebut.
“kau pergi saja. Mereka akan kuurus.”
Momose
mengucapkan terima kasih pada Yoriko sebelum ia berberes dan meninggalkan
studio. Setelah kepergiannya, Yoriko berjalan menuju sebuah pintu tidak jauh
darinya. Pintu itu mengarah ke suatu ruang kecil tempat dimana mereka biasa
beristirahat. Ruangan putih itu memiliki meja, beberapa kursi, serta kulkas
kecil berisi minuman.
Yoriko menata
makan siang untuk kelima anggota band. Dia seporsi makanan di masing-masing
kursi sambil bersenandung pelan, menikmati alunan misterius Dark Sanctuary dari
iPodnya. Setelah semuanya siap, Yoriko berlari kecil ke ruang operator lalu
menyalakan microphone yang terdengar di seluruh ruang studio. Dia berseru
kepada Alice Nine yang sudah menyelesaikan lagu mereka bahwa makan siang mereka
sudah siap.
Yoriko melihat
reaksi gembira dari mereka semua. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung
berhenti memainkan alat musik mereka lalu berlari keluar dari studio.
“ah, akhirnya
steaknya datang juga.” Nao mengelus perutnya. “aku lapar.”
“tadi aku
juga mampir ke Starbucks untuk membeli minuman caramel kesukaanmu.” Balas
Yoriko yang disambut pelukan erat dari Nao.
“kau memang
asisten yang baik hati, Yoriko!!”
“kau sama
sekali tidak menyia-nyiakan anggaran makan dari kita.” Saga berterima kasih.
Yoriko membalasnya dengan rendah hati seraya membungkukkan badannya bak seorang
putri.
Kemudian Tora
mendekati Yoriko dan berkata padanya, “kau tidak makan?”
Yoriko selalu
membelikan mereka makan siang dan membawanya kepada mereka dalam keadaan masih
segar dan hangat. Tapi Tora bertanya-tanya apakah Yoriko pernah menggunakan
anggaran untuk membeli sesuatu untuknya.
“tenang saja,
aku membawa bento...” jawab Yoriko santai. “hei, bagaimana latihan hari ini?
Kau terlihat lelah. Jangan-jangan kau tidak tidur lagi semalam...” Walaupun
gelap, Yoriko bisa melihat lingkaran hitam tipis di bawah mata Tora dan
beberapa bagian kulit di wajahnya sedikit mengerut.
“yah, semakin
mendekati hari konser, aku menjadi semakin stres...” Tora terkekeh pelan. “tapi
tenang saja, aku bisa menanganinya. Kami bisa menanganinya.”
“sebagai
asistenmu aku harus mengingatkanmu untuk tidur malam ini.” kata Yoriko tegas.
“kau pasti tahu tidak tidur bisa merusak hati dan jantungmu. Tidak tidur juga
sumber dari segala penyakit.”
“apa aku
mendapat nasihat tentang begadang dari seorang vampir yang selalu menghabiskan
malamnya dengan menulis novel?” canda Tora. Ia tidak tahan untuk tidak
mengacak-acak rambut Yoriko yang tergerai.
“tenang saja,
aku akan punya waktu yang sangat banyak untuk tidur. Yaitu saat aku mati
nanti.”
Entah kenapa
setelah ucapan Yoriko tersebut, sebuah firasat buruk muncul di benak Tora. Tapi
firasat itu hilang sesaat ketika Shou menghampiri mereka dengan wajah kusut
sekaligus marah. “kau lama sekali.”
“maaf, Yang
Mulia. Tapi aku takut makanan anda menjadi dingin bila anda terlalu lama
menceramahi saya.” Yoriko berhasil menangkis kemarahan Shou pada hari ini. Shou
akhirnya menggeram kesal sebelum ia ikut masuk ke ruang istirahat.
“ayo, apalagi
yang kau tunggu, Tora-kun? Salmon steakmu tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”
Yoriko menarik tangan Tora yang masih terpaku.
Biasanya,
bila Alice Nine melakukan ritual makan siang mereka, mereka tidak pernah makan
bersama Yoriko karena mereka selalu makan di restoran dekat kantor atau studio.
Tapi menjelang konser yang semakin dekat, agar menghemat waktu, mereka meminta
Yoriko membelikan makan siang.
Yoriko duduk
di ujung meja. Di depannya terdapat bento yang dibuatnya tadi pagi. Bento
buatan Yoriko benar-benar tidak sesuai bayangan kelima pria yang terus menatap
makanan Yoriko yang sepertinya enak tersebut. Beberapa tangkup chicken and
bacon club, sandwhich berisi ayam panggang, daging asap, dan salad.
“itu buatanmu
sendiri, Yoriko-chan...” Nao menelan ludah karena terpana oleh bekal Yoriko.
Steak ayamnya rasanya sudah tidak ada apa-apanya lagi.
“ya, ini
chicken and bacon club. Menu makan siang yang biasa kunikmati saat aku masih di
Inggris. Kalian mau coba?” tawar Yoriko.
Karena gengsi
dan tidak mau Yoriko kekurangan jatah makan siangnya, keempat pria itu menolak
dengan halus. Mereka mencoba menikmati lagi makan siang mereka. Namun sebelum
mereka menyentuh lagi makanannya, Yoriko mencegah mereka.
“tunggu,
kalian tidak ingin berdoa terlebih dulu?”
Pertanyaan
Yoriko membuat mereka berlima saling berpandangan bingung, terutama Shou, yang
sudah jengkel karena Yoriko telah menghalanginya menyantap makan siangnya.
“tidak, kami tidak melakukan itu. makan sajalah, sandwhichmu itu nanti bisa
dikerumuni lalat.”
“tapi
bagaimana kalian bisa menikmati makanan dengan tenang bila kalian tidak berdoa
sebelumnya?” sekarang pertanyaan Yoriko telah memojokkan mereka.
“ng... karena
kami lapar dan kami pasti akan tenang bila kami sudah kenyang?” jawab Hiroto
ragu-ragu.
Yoriko
menggelengkan kepala seraya berdecak berkali-kali. “kalian ini seperti anak
kecil. Ayo, akan kupimpin doa hari ini.” Yoriko mengulurkan kedua tangannya dan
menyatukannya ke tangan Tora dan Nao yang duduk di kedua sisinya. Dia juga
meminta Tora dan Nao menautkan jemari mereka ke Shou, Hiroto, dan Saga.
Setelah itu
Yoriko menundukkan kepalanya, secara reflek yang lain turut melakukannya.
Kemudian ia mengucapkan doanya. “Tuhan... terima kasih Kau sudah mendatangkan
makanan kami ke meja ini. Semoga Kau memberkati makanan ini dan orang-orang
yang telah membuatnya. Amin...”
Doa itu
memang sederhana dan karangan Yoriko sendiri, tapi itu cukup menyadarkan kelima
anggota band ini bahwa masih ada orang lain di luar sana yang masih harus berjuang
lebih keras untuk mendapatkan makanan. Dan sungguh baik sekali mereka juga
menghargai siapapun yang telah membuat makanan mereka melalui doa itu.
“nah,
sekarang mari kita makan...” ujar Yoriko lembut.
Dan siang
itu, mereka menikmati makan siang dengan tenang, diiringi beberapa candaan dan
obrolan seru. Misalnya Saga yang ingin membeli bass baru setelah konser, bass
yang akan menjadi bass terbaik diantara bass lamanya, dan Saga ingin bass itu
mengguncang panggung saat konser mereka selanjutnya.
Sambil
memakan steaknya, Hiroto memperlihatkan hasil fotonya di kamera digitalnya
kepada Yoriko untuk mereka bahas. Hiroto mengutarakan keinginannya untuk
melakukan photo hunting di luar Tokyo setelah konser. Sepertinya dia bosan
terlalu sering berkutat dengan gitarnya, dia harus mencari udara segar untuk
melepas kepenatannya.
Nao sendiri
tidak bisa berhenti mengoceh tentang game baru yang ia beli seminggu lalu. Nao
terus-menerus membanggakan dirinya yang sudah berhasil melalui level tertinggi
game action tersebut dan ia ingin memborong banyak game sebagai teman mainnya
untuk melaksanakan rencana mengurung-diri-di-rumah-setelah-konser.
Semua
percakapan itu terjalin karena Yoriko. Biasanya mereka tidak pernah seterbuka
ini pada masing-masing saat makan siang. Biasanya, mereka hanya duduk diam dan
sekedar basa-basi biasa atau membahas rencana band yang membosankan. Hanya
dengan pertanyaan apa yang akan mereka lakukan setelah konser dari Yoriko telah
memancing keterbukaan serta keceriaan dari makan siang hari ini.
Bahkan
walaupun makanan mereka sudah habis, mereka tetap tidak berhenti mengobrol.
“hei, aku ada
rencana untuk kita semua sebelum konser. Kau tahulah, lama-lama kepalaku bisa
meledak karena terlalu stres memikirkan event ini.” sahut Tora.
Dan yang lain
mendengarkan dengan seksama, “ya, apa yang kau ingin usulkan, Tora?” tanya
Saga.
“bagaimana
kalau kita pergi hanami? Sakura tidak akan menunggu lebih lama lagi,
teman-teman...” usul Tora.
“ya...”
Hiroto langsung menyetujui usulan itu. “saking sibuknya, aku tidak sadar kalau
sang sakura akan mekar akhir bulan ini di Tokyo. Aku juga tidak bisa melewatkan
momen berharga itu. Aku harus memotret keindahan mereka.”
“bagaimana
denganmu, Shou? Dulu kau yang paling semangat bila kita mengadakan acara
hanami.” Tora memanggil Shou yang pikirannya sedang melayang entah kemana
selama makan siang berlangsung.
“eh... ya,
adakan saja. tapi aku tidak tahu akan datang atau tidak.” Jawab Shou tidak
jelas. Tiba-tiba, sebuah lemparan garpu plastik mendarat di kepala Shou dari
tangan Nao.
“ayolah,
teman! Kemana semangat hanamimu? Masa kau membuang waktumu dengan mengurung
diri di apartemen? Lama-lama akan kusuruh Chirori mencakarmu sampai kau keluar
dari sana.”
“iya, iya,
baiklah. Aku akan ikut...” jawab Shou enggan sambil mengusapi kepalanya.
“jadi kalian
semua ikut. Akan kuundang manajer kita juga untuk ikut. Lalu kau bagaimana,
Yoriko? Kau pasti akan datang, kan?” Tora menoleh ke arah Yoriko yang diam
saja. Ia sedang membersihkan bibirnya dengan tisu setelah makan.
Yoriko terkesiap mendengar
ajakan Tora. Matanya melebar dan ia tidak tahu harus berbicara apa. Ia tidak
tahu bagaimana harus menanggapi ajakan Tora untuk pergi hanami bersama mereka.
Ajakan itu membuatnya teringat pada kenangan buruk yang ia coba lupakan.
“ngg... entahlah, Tora...”
Yoriko meremas tisu di tangannya bingung. “aku tidak tahu aku bisa datang atau
tidak...”
“ayolah,
Yoriko. Pasti menyenangkan bila kau datang.” Hiroto mencoba meyakinkan Yoriko.
“kita bisa melakukan photo hunting bersama.”
“iya,
Yoriko!” sahut Saga. “acara kita pasti akan lebih nikmat kalau kau datang
membawa sandwhich enak buatanmu!”
Yoriko ingin
sekali ikut bersama mereka.
Tapi dia
masih belum bisa melepaskan trauma masa lalunya. Rasa trauma yang membuatnya membenci
pohon sakura dan suasana hanami. Dia ingin menceritakannya ke mereka agar
mereka tidak mengajaknya lagi, namun akan terasa jahat kalau Yoriko bercerita
soal itu pada orang-orang yang menyukai pohon sakura dan hanami seperti mereka.
Shou juga
salah satu dari mereka. Di balik sikap dingin dan kakunya itu Yoriko tahu
dialah yang paling bersemangat untuk ikut dalam acara itu. Seluruh anggota
Alice Nine sangat menantikan acara itu supaya mereka bisa bersenang-senang di
bawah rindangnya pohon sakura. Bernyanyi sambil menikmati bekal makan siang
mereka. Bercanda dan tertawa riang seraya mengenang datangnya Sang Sakura yang
hanya tiba setahun sekali.
Dan Yoriko
tidak ingin merusak suasana indah itu dengan kedatangannya. Ada alasan mengapa
ia menyembunyikan dirinya di balik pakaian dan dandanan seram ini, ada alasan
mengapa ia menutup dirinya pada dunia, ada alasan mengapa ia membenci hal-hal
yang cerah dan gembira, ada alasan mengapa ia tidak memercayai sesuatu yang
disebut hidup bahagia selamanya atau sejenisnya.
Tidak, lebih
baik dia berhadapan dengan makhluk terseram di muka bumi ini atau menonton adegan
tersadis dari koleksi filmnya daripada berhadapan dengan Sang Sakura.
“datang saja,
Yoriko-chan! Kau pasti tidak akan rugi! Hanami ini akan menjadi hanami
pertamamu setelah kepulanganmu ke Jepang, kan?” Nao ikut membujuk Yoriko.
“ngg...”
Yoriko masih bimbang. Dia menggaruk kepalanya, “akan kuusahakan. Lagipula aku
masih harus bekerja di petshop.”
“aku yakin
Avaron bisa memaklumi, Yoriko-chan...” kata Tora. “tenang saja, kau punya
banyak waktu untuk mempertimbangkan ajakan ini. Kami akan menunggumu disana.
Nah, teman-teman, ayo kita latihan lagi!”
Serentak para
anggota Alice Nine berdiri lalu mengumpulkan sisa-sisa tempat makan mereka
menjadi satu dan meminta Yoriko untuk membereskan. Tora, Saga, Hiroto, dan Nao
sudah selesai dan meninggalkan ruang istirahat kecuali Shou. Shou masih ada
beberapa lauk yang harus dihabiskan. Karena terlalu banyak berpikir, dia
menjadi lambat memakan makanannya.
“kau belum
selesai, Shou?” tanya Saga.
“belum.
Kalian duluan saja bersiap-siap. Aku akan segera menyusul.” Jawab Shou dengan
mulut penuh sisa salad.
“Yoriko-chan,
setelah mengurus makan siang ini, aku minta kau menghubungi manajer kita, minta
dia segera kemari karena ada beberapa hal yang harus didiskusikan.” Pinta Saga
sebelum dia keluar.
“oke.” Yoriko
menyanggupi. “nanti akan kuhubungi beliau.”
Setelah
mereka berempat pergi meninggalkan Yoriko berdua saja dengan Shou, suasana
hening menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara kunyahan Shou dan piring
plastik dari restoran bekas makan. Yoriko yang tidak suka suasana canggung ini
memutuskan untuk membuka suara, “meskipun kau bisa menutupinya di depan
teman-temanmu, tapi kulihat kau orang yang paling bersemangat untuk acara
hanami...”
Shou diam
saja. Lauk terakhir yang harus dia makan adalah tenderloin steaknya yang
tinggal sepotong. Dia tinggal memakannya cepat-cepat supaya bisa menghindari
wanita aneh ini.
“semoga
kalian menikmati acaranya. Kalian berhak mendapatkan suasana menyenangkan
hanami. Kurasa aku tidak akan ikut.” Kata Yoriko lagi.
Mendengar
itu, Shou jadi mengurungkan niatnya menghabiskan makanan dan menatap Yoriko
lekat-lekat yang sedang membereskan perlengkapan makanan, “kenapa kau tidak
menyukai hanami? Meskipun kau bisa menutupinya di depan mereka, kulihat kau
orang yang paling tidak menyukai hanami.”
Pertanyaan
Shou itu membuat hati Yoriko tertusuk. Itu adalah pertanyaan yang sangat tidak
ingin Yoriko jawab, “anggap saja aku sudah cukup dengan hanami. Memangnya
kenapa? Apa kau benar-benar membutuhkan jawaban dari pertanyaanmu itu?” Yoriko
menjawab sekenanya.
“oh, begitu.”
Shou berdiri dan membawa peralatan makannya. Dengan kasar ia memberikan seluruh
alat makan itu ke Yoriko. Cukup kasar sampai Yoriko sedikit terdorong ke
belakang. Seakan itu masih kurang, dengan sinis Shou mengejeknya sebelum ia
pergi, “karena menurutku, hanya orang idiot yang tidak ingin ikut hanami. Apa
mungkin kau terlalu lama menjadi orang asing sampai kau lupa kau adalah orang
Jepang, Nona Yoriko?”
Sepeninggal
Shou, Yoriko terdiam. Perkataan Shou barusan membuat Yoriko berpikir apakah ia
akan ikut hanami bersama mereka atau tidak.
Karena Yoriko
berpikir dia bukan orang bodoh yang lupa pada kebangsaannya sendiri.
No comments:
Post a Comment