Thursday, June 27, 2013

The Delusion (10)

10

Shou memasuki studionya siang itu dengan gontai. Studio tempat ia biasa latihan itu masih sepi karena jadwal latihannya masih setengah jam lagi. Studio yang didominasi oleh warna cokelat muda itu nampak terang dan dipenuhi oleh alat-alat musik milik Alice Nine. Gitar-gitar listrik dan akustik serta amplifier dan peralatan lainnya dibiarkan begitu saja di sisi kiri, keyboard berdiri di dekatnya ditutupi oleh kain supaya tidak terkena debu, di bagian sudut terdapat drum set terlengkap yang selalu dijaga oleh Nao, dan tepat di depan drum tersebut, adalah tempat mic-stand dimana Shou selalu menggunakannya untuk menyanyi. Tempat ini telah menjadi salah satu tempat yang sakral bagi Shou setelah kamarnya dan—yang anehnya—petshop tempat dia dulu bekerja.

Tapi ternyata bukan dialah yang pertama datang pada hari ini. Shou melihat sahabat dan teman satu bandnya, Tora, sedang duduk sambil menyetel gitar kesayangannya di dekat gitar-gitar yang tidak terpakai. Shou tidak tahan untuk tidak tersenyum saat melihat posisi duduk Tora yang sangat khas, dengan kaki kanannya berada di atas pahanya sambil menopang gitar namun ekspresi wajahnya benar-benar cuek tapi serius disaat yang sama, seakan dia tidak peduli pada apapun lagi kecuali gitar di tangannya.

Tidak heran dia memiliki banyak penggemar yang selalu memujanya kapan pun.

“lagu baru?” Shou penasaran karena Tora memainkan sebuah nada yang belum pernah dia dengar.

Tora mengangkat bahu, “entahlah. Bisa jadi. Tapi aku belum ingin memantapkannya dulu. Kita masih ada 1 konser yang harus diselesaikan.”

Shou paham. Dia menaruh tas ranselnya begitu saja di lantai dan menarik sebuah bangku yang berada tidak jauh darinya. Kemudian ia duduk menghadap Tora. Shou memerhatikan Tora lebih dekat, lalu ia menyadari bahwa wajah sang gitaris terlihat sangat lelah.

“aku tidak tidur semalaman. Mungkin karena terlalu memikirkan konser kita 2 minggu lagi...” jawab Tora saat Shou menanyakan alasannya. Tidak biasanya Tora terlalu memikirkan konser mereka. Rasanya sudah ribuan kali mereka berlima melalui itu dan hasilnya selalu sukses besar, hampir tidak ada yang menyebutkan kekurangan mereka. Semuanya menganggap mereka sempurna. Tapi yang tidak mereka tahu adalah bagaimana perjuangan mereka demi meraih kesuksesan itu. Shou berani bertaruh, tidak ada satu pun dari penggemar Tora yang sadar bila idola mereka yang selalu tampil prima di panggung dengan luwes bisa mengalami krisis percaya diri seperti ini.

“kau terlalu sibuk membuat variasi musik kita, ya?” tebak Shou. Tora menjawab dengan sebuah anggukan pelan.

“Hiroto juga ikut membantu, tapi...” kata Tora. “entahlah... kurasa aku masih belum terlalu siap untuk ini. maksudku, kita sama sekali tidak mendapatkan waktu untuk bernapas sedikit setelah peluncuran album baru kita.”

“kenapa kau tidak cerita padaku? Kita satu band, Tora. Seharusnya aku membantumu.” Shou juga bingung kenapa Tora sama sekali tidak menceritakan kerisauannya soal ini.

“aku tidak ingin merepotkanmu, teman. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri.” Kata Tora tajam. Namun sebelum Shou bisa menyela, dia sudah lebih dulu meneruskan, “jangan salah pikir, Shou, tidak hanya aku saja yang mengalami ketidak siapan ini. Kau memang terlihat dingin dan cuek, tapi aku tahu.”

Tora benar. Shou tidak pernah menceritakannya pada siapa pun mengenai masalah pribadinya termasuk pada sahabatnya sendiri. Dia terlalu sibuk memikirkan seseorang yang tidak akan pernah ia dapatkan, ia terlalu sibuk memikirkan cara agar ia bisa mendapatkan perhatian dari orang itu lagi seperti dulu. Terlalu sibuk sampai teman-temannya mengira hanya badannya yang berada di studio tapi jiwanya pergi entah kemana.

“maaf, Tora. Aku tidak sadar...” kata Shou pelan dengan nada menyesal.

“aku paham, Shou. Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyingkapi masalah mereka...” Tora memaklumi. “tapi Shou, sudah bertahun-tahun aku bersahabat denganmu tapi aku masih belum mengerti bagaimana cara kau menyingkapi masalah itu selama 4 tahun ini.”

“’masalah itu’?” alis Shou terangkat.

“ya, kau seharusnya sadar kau tidak akan bisa mendapatkannya lagi, Shou. Dia sudah menjadi milik orang lain. Apa kesuksesan kita ini tidak bisa menggantikan kegagalan usahamu untuk mendapatkannya?”

Satu lagi yang Shou ingat dari sahabatnya yang tidak pernah peduli pada urusan orang lain dan selalu main-main, kalau Tora sudah berbicara serius seperti ini itu berarti Tora benar-benar peduli padanya dan band yang mereka bentuk sejak SMA ini.

“dia spesial, Tora. Karena dialah kita bisa menikmati studio ini dan meraih kesuksesan kita juga. Apa kau lupa?”

“aku tidak akan pernah lupa, Shou. Tapi bukan dialah yang membawa CD demo kita ke perusahaan rekaman 4 tahun lalu.”

“dia memberikan dukungannya dengan cara lain, Tora.” Tukas Shou agar Tora mengerti. “karena dialah aku bisa menjadi kuat seperti sekarang.”

“tidak, Shou.” Tora beringsut dari duduknya. “kau menjadi lebih rapuh dari yang kau kira. Kau menyingkirkan orang-orang yang ingin mendekatimu hanya karena kau terlalu sibuk dengan khayalanmu sendiri. Kau lebih memilih menjalani khalayanmu daripada menghadapi kenyataan. Itulah yang membuatmu menyedihkan.”

“kau salah, Tora.” Shou mengacungkan jarinya di depan wajah Tora. “justru berkat dia aku masih bisa berdiri sampai sekarang. Selama 4 tahun ini aku berusaha keras untuk tetap bekerja demi apa yang kita pilih.”

Bagaimana Tora bisa dengan mudahnya berkata dia menyedihkan? Avaron telah menjadi tumpuan hidupnya dan tidak ada seorang pun yang bisa menyuruhnya begitu saja melepaskan itu. Wanita itu telah menjadi bagian terbesar di dunia Shou. Dia seperti patung tercantik di dalam peti kaca, Shou tidak bisa menyentuhnya lagi. Demi menghibur kesedihannya, dia hanya bisa melihat dan memujanya dari jauh.

Tora tidak membalas ucapan Shou setelah itu. Mau tidak mau ia mengalah. Meski ia benci mengakui ini, Shou tidak sepenuhnya salah. Memang sangat berat untuk melupakan orang yang dicintai dalam waktu lama. Shou tidak bisa melakukan apapun lagi karena disaat itu dia lebih memilih karirnya dibanding mengejar wanita itu.

Rasa penyesalan membayangi hati Shou selama ini. Dan tidak ada lagi yang bisa ia perbuat untuk memerbaikinya.

“tapi setidaknya berilah dia kesempatan...” ujar Tora.

“dia?” Shou tidak tahu siapa yang Tora maksud.

“Yoriko. Dia tidak tahu apa-apa, Shou. Kau bisa melampiaskan perasaanmu itu pada kami, tapi jangan kepadanya. Dia hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu.”

Shou terkesiap. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia bisa sedingin itu pada Yoriko. Apa karena Yoriko adalah gadis pertama yang membuatnya tertarik setelah beberapa tahun lamanya atau entah kenapa gadis itu bisa tahu apa perasaannya yang tidak ingin diketahui orang lain?

“kau masih ingat kejadian seminggu lalu? Saat dia terlambat membawa kopi untuk kita? Kau sadar tidak, dia sampai harus berlari lebih dari 10 km lalu mengejar bis kemudian ia terjatuh di lobby hanya karena dia tidak ingin mendapat kemarahan darimu?” Tora mengingatkan. “dan kau dengan dinginnya menyuruhnya pergi lagi membeli kopi yang sama padahal dia sama sekali belum beristirahat.”

“itu memang salahnya. Kopi yang dia bawakan memang sudah dingin. Itu sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menggantinya.” Shou membela diri.

Tora berdecak jengkel, “bukan begitu. Kopimu itu masih cukup panas. Cukup panas untuk disiramkan ke wajahmu yang sangat menyebalkan waktu itu. aku heran kenapa Yoriko masih bisa menahan kesabarannya dalam menghadapimu.”

“poinmu apa disini, Tora?” Shou mendesak.

“kenapa kau selalu mencari-cari kesalahan Yoriko? Apakah ini bagian dari kau menyingkirkan orang-orang supaya bisa terus hidup di dalam imajinasimu?”

Shou menatap Tora kebingungan. Seandainya dia bisa memberikan jawaban secara jelas atas pertanyaan dari sahabatnya ini. Namun apa daya, dia memang tidak mengerti. Selama 4 tahun ini dia tersesat di dunianya sendiri. Sekali lagi ia membenarkan perkataan Tora, dia terlalu sibuk dengan khayalannya.

Tapi khayalan itu sangat indah, dia rela memberikan apa saja untuk bisa terus bertumpu pada khayalan itu agar ia bisa selamat melalui dunia yang penuh kepalsuan. Agar ia bisa tetap kuat melalui dunia kejam yang ia pilih.

“dia wanita baik, Shou. Ada yang salah darinya?” tanya Tora.

“apa? Terlepas dari dandanan mengerikannya itu?” jawab Shou sarkastik.

“ayolah, kita sering melihat banyak gadis berdandan seperti itu. Berikan alasan yang bagus.” Tora kesal Shou terus berkelit.

“entahlah...” Shou malah tidak peduli. “mungkin karena dia memang menjengkelkan? Bicara soal menjengkelkan, dia juga belum datang membawakan makan siang kita. Dimana dia?”

“sekarang hari Minggu. Dia meminta izin padaku untuk pergi misa di gereja sampai siang. Mungkin dia telat karena masih harus mengantri di restoran untuk kita?” jawab Tora. Dia menaruh gitarnya di samping kursi.

“dia seorang Kristen?” Shou belum mendapatkan jawaban memuaskan dari agama apa yang dianut Yoriko.

“bukan, Katolik. Setidaknya dia menghabiskan waktunya di tempat yang lebih berguna daripada kau yang lebih sering tidur di hari Minggu, bukan?” Tora membalas sindiran Shou. “cepat siap-siap, sebentar lagi Nao dan yang lain akan datang.”

*** 

Yoriko bersyukur karena menemukan cabang restoran tempat makanan favorit para anggota Alice Nine ada di dekat gereja dimana ia melakukan misa setengah jam lalu. Sebuah restoran yang menyajikan berbagai macam steak lezat yang sudah terkenal. Karena kepopulerannya, restoran ini pasti selalu penuh saat jam makan siang dan makan malam.

Yoriko mengantri di bagian resepsionis restoran untuk pemesanan take away. Setelah pelayan restoran mencatat pesanannya, Yoriko diminta menunggu selama setengah jam sebelum pesanannya bisa dibawa pulang. Tapi Yoriko meragukan itu, karena masih ada 5 orang lagi sebelum dirinya yang sudah menanti pesanannya lebih lama daripada dia.

Ia mengeluarkan sebuah novel berbahasa Inggris miliknya dari tas ransel hitamnya yang bermotif tengkorak. Novel seri The Guardians of Eternity karya Alexandra Ivy favoritnya berjudul Embrace The Darkness. Tidak ada satu pun yang bisa membangkitkan minatnya kecuali sesuatu berbau misteri. Di novel yang ia baca ini bertema vampir dan iblis.

Yoriko yakin nyaris tidak ada penduduk di kota ini membaca apa yang ia baca. Kebanyakan orang menganggap seleranya aneh, dan karena selera anehnya itu yang membuatnya terbuang. Dan dia menerima kenyataan itu dengan menutup dirinya sendiri dan bersenang-senang di dunianya.

Dia senang menjadi berbeda di antara yang lain.

“apakah itu versi asli dari Embrace The Darkness?” tiba-tiba sebuah suara berseru di sebelah Yoriko. Ternyata suara itu milik seorang pria seusianya ketika Yoriko menoleh. Seorang pria yang karismatik, sehingga orang asing seperti Yoriko bisa melihat pancaran kecerdasan dan kedewasaan darinya. Wajahnya memang tidak terlalu tampan, tapi Yoriko tidak akan pernah bisa melupakannya.

“ya, kau tahu dari mana?” tanya Yoriko terkejut. Pria ini tahu novel kesukaannya!

“aku sudah membaca semua serinya. Tulisan Alexandra Ivy memang luar biasa...” pria itu mengungkapkan kekagumannya dengan tutur katanya yang sopan tapi juga tidak berlebihan dalam mengekspresikannya.

“aku baru saja berpikir hanya aku orang Jepang yang membaca novel ini. Tapi ternyata...” Yoriko tidak bisa menyembunyikan ketidak percayaannya. Dia menemukan orang yang juga membaca novel favoritnya di bangku restoran yang penuh, sesak, dan membosankan. “oh well, mungkin aku sedikit berlebihan...”

Pria itu hanya tersenyum melihat reaksi Yoriko yang apa adanya. Meski dia hanya orang asing bagi Yoriko, dia tahu Yoriko pastilah seorang unik dan memiliki pandangan tersendiri tentang hidup. “senang bisa menemukan penggemar novel favoritku. Aku tidak akan bisa melupakan bagaimana Viper mengalahkan iblis Lu hanya demi Shay.”

“bagian favoritku adalah saat dimana Shay kabur dengan Porsche milik Viper. Oh Tuhan, aku tidak bisa membayangkan wajah murka Viper saat tahu mobil kesayangannya dirusak oleh shalott cantik itu...” Yoriko tergelak. Baru kali ini, selain Aya dan Avaron, Yoriko menemukan seseorang yang bisa diajak bicara.

“apa kau seorang penulis?” si pria menunjuk jari tengah Yoriko yang kapalan karena terlalu sering menulis atau menggambar.

“tidak juga. Aku menulis dengan komputerku, mungkin kapalan ini karena aku terlalu sering menggambar...” jawab Yoriko. Dan baru kali ini juga ada seseorang yang memerhatikan dirinya begitu mendetail. “kau juga suka menulis?”

“ya, tapi karyaku tidak seberapa hebat dibanding Alexandra Ivy...” pria itu terkekeh. Untuk beberapa saat Yoriko sedikit terhipnotis oleh tawa pria berambut hitam tersebut. Bukan karena ketampanannya atau penampilan fisiknya yang lain, melainkan karena Yoriko tahu pria ini sudah cukup lama berada di dunia imajinasinya tapi entah bagaimana ia masih bisa berbicara seperti orang normal sampai membuat Yoriko terpesona. Yoriko bahkan tidak bisa seperti dia.

Pria ini berpenampilan rapi layaknya pria berkelas lainnya. Memakai setelan jas di balik sweater rajutan abu-abunya. Sepatu kulit hitamnya berkilat seperti baru. Rambutnya tertata rapi dan ia juga memakai kacamata berbingkai kotak. Mengingatkan Yoriko pada sosok terpelajar dan berkarismatik Robert Langdon di novel The Davinci Code.

“berhubung kita sesama penulis, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Yoriko.

“tentu saja.” jawab si pria dengan tangan terbuka.

“bagaimana caramu agar bisa terus berhubungan dengan dunia nyata sementara kau masih bersenang-senang di dunia imajinasimu sendiri?”

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan seulas senyum dari pria itu. Kemudian secara perlahan dia menjelaskan, “aku tidak tahu. Menurutku setiap orang pasti punya caranya sendiri untuk tetap berhubungan dengan dunia nyata. Tapi untuk kasusku...” si pria menghela nafas sejenak. “aku memiliki orang-orang yang membutuhkanku di dunia nyata. Dan orang-orang itu cukup bergantung padaku.”

“maksudmu mereka itu adalah keluarga?” Yoriko menebak.

“yah, itu salah satunya...” pria itu membenarkan. “bagaimana denganmu?”

Yoriko tidak yakin apakah dirinya pernah merasa dibutuhkan selama seumur hidupnya. “ngg... aku tidak tahu...”

“kalau begitu, beritahu aku jawabannya saat kita bertemu lagi.” Kata pria itu. Dia melihat pesanann take away-nya sudah ada di meja penerimaan. Pria itu bergegas berdiri lalu berpamitan pada Yoriko.

Tapi sebelum Yoriko membalas ucapan selamat tinggal dari pria itu, dia bertanya sekali lagi, “kenapa kau yakin kita akan bertemu lagi?”

“mungkin karena...” si pria tersenyum misterius. “kau dan aku menyukai novel yang sama, kita juga seorang penulis, dan kita sama-sama terjebak di dunia fantasi kita sendiri. Kutantang kau mencari orang yang sama seperti kita di kota ini, kau pasti tidak akan menemukannya. Aku harap di pertemuan kita berikutnya, kita bisa menemukan kesamaan lainnya...”

Jawaban dari pria itu berhasil membuat Yoriko terkesan. Bahkan saat pria itu sudah meninggalkan restoran 15 menit lalu, kata-katanya masih terus terngiang di benaknya. Berkat pria yang tidak dikenal itu, selama satu hari penuh wajah Yoriko tidak pernah terlepas dari senyuman.

Maka, begitu ia pergi dari restoran dengan menuntun sepedanya ke gedung studio Alice Nine, dia tidak merasakan beban apapun lagi.

*** 

Senyuman itu masih terus ada di bibir Yoriko saat dia sudah sampai di studio Alice Nine satu jam kemudian. Walaupun senyuman itu adalah senyum kebahagiaan, tapi bagi beberapa orang yang berpapasan dengannya menganggap itu adalah sebuah senyuman mengerikan. Jarang bagi mereka menemukan seorang wanita berjubah hitam dari atas sampai bawah dan memakai make up gothic melintasi lorong gedung mereka. Bahkan Yoriko sampai mengejutkan petugas operator studio yang sedang mengawasi jalannya latihan musik Alice Nine. Percayalah, dikagetkan oleh kedatangan seorang wanita yang penampilannya seperti malaikat kematian di ruang operator yang gelap cukup membuatmu mendapatkan serangan jantung.

Apalagi bila ‘malaikat’ itu memiliki sebuah senyum cantik namun mematikan.

“oh, Yoriko-san...” petugas operator yang bernama Momose itu sampai mengelus dada dan mengambil nafas cepat beberapa kali ketika akhirnya Yoriko memperlihatkan wajahnya. “kupikir kau siapa...”

“memangnya kau pikir aku siapa?” tanya Yoriko polos. “hai, Momose... aku membawakan kopi untukmu.” Yoriko menyerahkan segelas kopi panas dari tangannya ke Momose.

Untuk Momose yang hampir seharian ini bekerja, segelas kopi dengan creamer dari Yoriko sanggup membuat separuh dari rasa penatnya hilang. Yoriko memang selalu berpenampilan seram setiap hari, tapi dia orang yang sangat baik. Sambil menyesap kopi hangatnya, dia melihat Yoriko juga membawa sebuah kantong kertas.

“itu makan siang untuk Alice Nine?”

“ya... berapa lama lagi mereka selesai berlatih?” Yoriko memerhatikan dari jendela operator Shou dan kawan-kawannya sedang memainkan sebuah lagu. Yoriko tahu lagu itu karena sejak ia bekerja untuk Alice Nine dia merasa wajib mendengarkan seluruh lagu mereka. Sayangnya, Yoriko lupa judul lagu yang mereka mainkan sekarang.

“oh, kata mereka ini lagu terakhir sebelum makan siang. Mereka menunggumu.” Momose melihat jam tangannya. “sebenarnya kalau mereka istirahat, aku juga akan pergi ke lantai dasar untuk makan siang.”

“tidak apa-apa, Momose-san...” Yoriko menaruh tangannya di pundak pria gemuk tersebut. “kau pergi saja. Mereka akan kuurus.”

Momose mengucapkan terima kasih pada Yoriko sebelum ia berberes dan meninggalkan studio. Setelah kepergiannya, Yoriko berjalan menuju sebuah pintu tidak jauh darinya. Pintu itu mengarah ke suatu ruang kecil tempat dimana mereka biasa beristirahat. Ruangan putih itu memiliki meja, beberapa kursi, serta kulkas kecil berisi minuman.

Yoriko menata makan siang untuk kelima anggota band. Dia seporsi makanan di masing-masing kursi sambil bersenandung pelan, menikmati alunan misterius Dark Sanctuary dari iPodnya. Setelah semuanya siap, Yoriko berlari kecil ke ruang operator lalu menyalakan microphone yang terdengar di seluruh ruang studio. Dia berseru kepada Alice Nine yang sudah menyelesaikan lagu mereka bahwa makan siang mereka sudah siap.

Yoriko melihat reaksi gembira dari mereka semua. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung berhenti memainkan alat musik mereka lalu berlari keluar dari studio.

“ah, akhirnya steaknya datang juga.” Nao mengelus perutnya. “aku lapar.”

“tadi aku juga mampir ke Starbucks untuk membeli minuman caramel kesukaanmu.” Balas Yoriko yang disambut pelukan erat dari Nao.

“kau memang asisten yang baik hati, Yoriko!!”

“kau sama sekali tidak menyia-nyiakan anggaran makan dari kita.” Saga berterima kasih. Yoriko membalasnya dengan rendah hati seraya membungkukkan badannya bak seorang putri.

Kemudian Tora mendekati Yoriko dan berkata padanya, “kau tidak makan?”

Yoriko selalu membelikan mereka makan siang dan membawanya kepada mereka dalam keadaan masih segar dan hangat. Tapi Tora bertanya-tanya apakah Yoriko pernah menggunakan anggaran untuk membeli sesuatu untuknya.

“tenang saja, aku membawa bento...” jawab Yoriko santai. “hei, bagaimana latihan hari ini? Kau terlihat lelah. Jangan-jangan kau tidak tidur lagi semalam...” Walaupun gelap, Yoriko bisa melihat lingkaran hitam tipis di bawah mata Tora dan beberapa bagian kulit di wajahnya sedikit mengerut.

“yah, semakin mendekati hari konser, aku menjadi semakin stres...” Tora terkekeh pelan. “tapi tenang saja, aku bisa menanganinya. Kami bisa menanganinya.”

“sebagai asistenmu aku harus mengingatkanmu untuk tidur malam ini.” kata Yoriko tegas. “kau pasti tahu tidak tidur bisa merusak hati dan jantungmu. Tidak tidur juga sumber dari segala penyakit.”

“apa aku mendapat nasihat tentang begadang dari seorang vampir yang selalu menghabiskan malamnya dengan menulis novel?” canda Tora. Ia tidak tahan untuk tidak mengacak-acak rambut Yoriko yang tergerai.

“tenang saja, aku akan punya waktu yang sangat banyak untuk tidur. Yaitu saat aku mati nanti.”

Entah kenapa setelah ucapan Yoriko tersebut, sebuah firasat buruk muncul di benak Tora. Tapi firasat itu hilang sesaat ketika Shou menghampiri mereka dengan wajah kusut sekaligus marah. “kau lama sekali.”

“maaf, Yang Mulia. Tapi aku takut makanan anda menjadi dingin bila anda terlalu lama menceramahi saya.” Yoriko berhasil menangkis kemarahan Shou pada hari ini. Shou akhirnya menggeram kesal sebelum ia ikut masuk ke ruang istirahat.

“ayo, apalagi yang kau tunggu, Tora-kun? Salmon steakmu tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Yoriko menarik tangan Tora yang masih terpaku.

*** 

Biasanya, bila Alice Nine melakukan ritual makan siang mereka, mereka tidak pernah makan bersama Yoriko karena mereka selalu makan di restoran dekat kantor atau studio. Tapi menjelang konser yang semakin dekat, agar menghemat waktu, mereka meminta Yoriko membelikan makan siang.

Yoriko duduk di ujung meja. Di depannya terdapat bento yang dibuatnya tadi pagi. Bento buatan Yoriko benar-benar tidak sesuai bayangan kelima pria yang terus menatap makanan Yoriko yang sepertinya enak tersebut. Beberapa tangkup chicken and bacon club, sandwhich berisi ayam panggang, daging asap, dan salad.

“itu buatanmu sendiri, Yoriko-chan...” Nao menelan ludah karena terpana oleh bekal Yoriko. Steak ayamnya rasanya sudah tidak ada apa-apanya lagi.

“ya, ini chicken and bacon club. Menu makan siang yang biasa kunikmati saat aku masih di Inggris. Kalian mau coba?” tawar Yoriko.

Karena gengsi dan tidak mau Yoriko kekurangan jatah makan siangnya, keempat pria itu menolak dengan halus. Mereka mencoba menikmati lagi makan siang mereka. Namun sebelum mereka menyentuh lagi makanannya, Yoriko mencegah mereka.

“tunggu, kalian tidak ingin berdoa terlebih dulu?”

Pertanyaan Yoriko membuat mereka berlima saling berpandangan bingung, terutama Shou, yang sudah jengkel karena Yoriko telah menghalanginya menyantap makan siangnya. “tidak, kami tidak melakukan itu. makan sajalah, sandwhichmu itu nanti bisa dikerumuni lalat.”

“tapi bagaimana kalian bisa menikmati makanan dengan tenang bila kalian tidak berdoa sebelumnya?” sekarang pertanyaan Yoriko telah memojokkan mereka.

“ng... karena kami lapar dan kami pasti akan tenang bila kami sudah kenyang?” jawab Hiroto ragu-ragu.

Yoriko menggelengkan kepala seraya berdecak berkali-kali. “kalian ini seperti anak kecil. Ayo, akan kupimpin doa hari ini.” Yoriko mengulurkan kedua tangannya dan menyatukannya ke tangan Tora dan Nao yang duduk di kedua sisinya. Dia juga meminta Tora dan Nao menautkan jemari mereka ke Shou, Hiroto, dan Saga.

Setelah itu Yoriko menundukkan kepalanya, secara reflek yang lain turut melakukannya. Kemudian ia mengucapkan doanya. “Tuhan... terima kasih Kau sudah mendatangkan makanan kami ke meja ini. Semoga Kau memberkati makanan ini dan orang-orang yang telah membuatnya. Amin...”

Doa itu memang sederhana dan karangan Yoriko sendiri, tapi itu cukup menyadarkan kelima anggota band ini bahwa masih ada orang lain di luar sana yang masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan makanan. Dan sungguh baik sekali mereka juga menghargai siapapun yang telah membuat makanan mereka melalui doa itu.

“nah, sekarang mari kita makan...” ujar Yoriko lembut.

*** 

Dan siang itu, mereka menikmati makan siang dengan tenang, diiringi beberapa candaan dan obrolan seru. Misalnya Saga yang ingin membeli bass baru setelah konser, bass yang akan menjadi bass terbaik diantara bass lamanya, dan Saga ingin bass itu mengguncang panggung saat konser mereka selanjutnya.

Sambil memakan steaknya, Hiroto memperlihatkan hasil fotonya di kamera digitalnya kepada Yoriko untuk mereka bahas. Hiroto mengutarakan keinginannya untuk melakukan photo hunting di luar Tokyo setelah konser. Sepertinya dia bosan terlalu sering berkutat dengan gitarnya, dia harus mencari udara segar untuk melepas kepenatannya.

Nao sendiri tidak bisa berhenti mengoceh tentang game baru yang ia beli seminggu lalu. Nao terus-menerus membanggakan dirinya yang sudah berhasil melalui level tertinggi game action tersebut dan ia ingin memborong banyak game sebagai teman mainnya untuk melaksanakan rencana mengurung-diri-di-rumah-setelah-konser.

Semua percakapan itu terjalin karena Yoriko. Biasanya mereka tidak pernah seterbuka ini pada masing-masing saat makan siang. Biasanya, mereka hanya duduk diam dan sekedar basa-basi biasa atau membahas rencana band yang membosankan. Hanya dengan pertanyaan apa yang akan mereka lakukan setelah konser dari Yoriko telah memancing keterbukaan serta keceriaan dari makan siang hari ini.

Bahkan walaupun makanan mereka sudah habis, mereka tetap tidak berhenti mengobrol.

“hei, aku ada rencana untuk kita semua sebelum konser. Kau tahulah, lama-lama kepalaku bisa meledak karena terlalu stres memikirkan event ini.” sahut Tora.

Dan yang lain mendengarkan dengan seksama, “ya, apa yang kau ingin usulkan, Tora?” tanya Saga.

“bagaimana kalau kita pergi hanami? Sakura tidak akan menunggu lebih lama lagi, teman-teman...” usul Tora.

“ya...” Hiroto langsung menyetujui usulan itu. “saking sibuknya, aku tidak sadar kalau sang sakura akan mekar akhir bulan ini di Tokyo. Aku juga tidak bisa melewatkan momen berharga itu. Aku harus memotret keindahan mereka.”

“bagaimana denganmu, Shou? Dulu kau yang paling semangat bila kita mengadakan acara hanami.” Tora memanggil Shou yang pikirannya sedang melayang entah kemana selama makan siang berlangsung.

“eh... ya, adakan saja. tapi aku tidak tahu akan datang atau tidak.” Jawab Shou tidak jelas. Tiba-tiba, sebuah lemparan garpu plastik mendarat di kepala Shou dari tangan Nao.

“ayolah, teman! Kemana semangat hanamimu? Masa kau membuang waktumu dengan mengurung diri di apartemen? Lama-lama akan kusuruh Chirori mencakarmu sampai kau keluar dari sana.”

“iya, iya, baiklah. Aku akan ikut...” jawab Shou enggan sambil mengusapi kepalanya.

“jadi kalian semua ikut. Akan kuundang manajer kita juga untuk ikut. Lalu kau bagaimana, Yoriko? Kau pasti akan datang, kan?” Tora menoleh ke arah Yoriko yang diam saja. Ia sedang membersihkan bibirnya dengan tisu setelah makan.

Yoriko terkesiap mendengar ajakan Tora. Matanya melebar dan ia tidak tahu harus berbicara apa. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi ajakan Tora untuk pergi hanami bersama mereka. Ajakan itu membuatnya teringat pada kenangan buruk yang ia coba lupakan.

“ngg... entahlah, Tora...” Yoriko meremas tisu di tangannya bingung. “aku tidak tahu aku bisa datang atau tidak...”

“ayolah, Yoriko. Pasti menyenangkan bila kau datang.” Hiroto mencoba meyakinkan Yoriko. “kita bisa melakukan photo hunting bersama.”

“iya, Yoriko!” sahut Saga. “acara kita pasti akan lebih nikmat kalau kau datang membawa sandwhich enak buatanmu!”

Yoriko ingin sekali ikut bersama mereka.

Tapi dia masih belum bisa melepaskan trauma masa lalunya. Rasa trauma yang membuatnya membenci pohon sakura dan suasana hanami. Dia ingin menceritakannya ke mereka agar mereka tidak mengajaknya lagi, namun akan terasa jahat kalau Yoriko bercerita soal itu pada orang-orang yang menyukai pohon sakura dan hanami seperti mereka.

Shou juga salah satu dari mereka. Di balik sikap dingin dan kakunya itu Yoriko tahu dialah yang paling bersemangat untuk ikut dalam acara itu. Seluruh anggota Alice Nine sangat menantikan acara itu supaya mereka bisa bersenang-senang di bawah rindangnya pohon sakura. Bernyanyi sambil menikmati bekal makan siang mereka. Bercanda dan tertawa riang seraya mengenang datangnya Sang Sakura yang hanya tiba setahun sekali.

Dan Yoriko tidak ingin merusak suasana indah itu dengan kedatangannya. Ada alasan mengapa ia menyembunyikan dirinya di balik pakaian dan dandanan seram ini, ada alasan mengapa ia menutup dirinya pada dunia, ada alasan mengapa ia membenci hal-hal yang cerah dan gembira, ada alasan mengapa ia tidak memercayai sesuatu yang disebut hidup bahagia selamanya atau sejenisnya.

Tidak, lebih baik dia berhadapan dengan makhluk terseram di muka bumi ini atau menonton adegan tersadis dari koleksi filmnya daripada berhadapan dengan Sang Sakura.

“datang saja, Yoriko-chan! Kau pasti tidak akan rugi! Hanami ini akan menjadi hanami pertamamu setelah kepulanganmu ke Jepang, kan?” Nao ikut membujuk Yoriko.

“ngg...” Yoriko masih bimbang. Dia menggaruk kepalanya, “akan kuusahakan. Lagipula aku masih harus bekerja di petshop.”

“aku yakin Avaron bisa memaklumi, Yoriko-chan...” kata Tora. “tenang saja, kau punya banyak waktu untuk mempertimbangkan ajakan ini. Kami akan menunggumu disana. Nah, teman-teman, ayo kita latihan lagi!”

Serentak para anggota Alice Nine berdiri lalu mengumpulkan sisa-sisa tempat makan mereka menjadi satu dan meminta Yoriko untuk membereskan. Tora, Saga, Hiroto, dan Nao sudah selesai dan meninggalkan ruang istirahat kecuali Shou. Shou masih ada beberapa lauk yang harus dihabiskan. Karena terlalu banyak berpikir, dia menjadi lambat memakan makanannya.

“kau belum selesai, Shou?” tanya Saga.

“belum. Kalian duluan saja bersiap-siap. Aku akan segera menyusul.” Jawab Shou dengan mulut penuh sisa salad.

“Yoriko-chan, setelah mengurus makan siang ini, aku minta kau menghubungi manajer kita, minta dia segera kemari karena ada beberapa hal yang harus didiskusikan.” Pinta Saga sebelum dia keluar.

“oke.” Yoriko menyanggupi. “nanti akan kuhubungi beliau.”

Setelah mereka berempat pergi meninggalkan Yoriko berdua saja dengan Shou, suasana hening menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara kunyahan Shou dan piring plastik dari restoran bekas makan. Yoriko yang tidak suka suasana canggung ini memutuskan untuk membuka suara, “meskipun kau bisa menutupinya di depan teman-temanmu, tapi kulihat kau orang yang paling bersemangat untuk acara hanami...”

Shou diam saja. Lauk terakhir yang harus dia makan adalah tenderloin steaknya yang tinggal sepotong. Dia tinggal memakannya cepat-cepat supaya bisa menghindari wanita aneh ini.

“semoga kalian menikmati acaranya. Kalian berhak mendapatkan suasana menyenangkan hanami. Kurasa aku tidak akan ikut.” Kata Yoriko lagi.

Mendengar itu, Shou jadi mengurungkan niatnya menghabiskan makanan dan menatap Yoriko lekat-lekat yang sedang membereskan perlengkapan makanan, “kenapa kau tidak menyukai hanami? Meskipun kau bisa menutupinya di depan mereka, kulihat kau orang yang paling tidak menyukai hanami.”

Pertanyaan Shou itu membuat hati Yoriko tertusuk. Itu adalah pertanyaan yang sangat tidak ingin Yoriko jawab, “anggap saja aku sudah cukup dengan hanami. Memangnya kenapa? Apa kau benar-benar membutuhkan jawaban dari pertanyaanmu itu?” Yoriko menjawab sekenanya.

“oh, begitu.” Shou berdiri dan membawa peralatan makannya. Dengan kasar ia memberikan seluruh alat makan itu ke Yoriko. Cukup kasar sampai Yoriko sedikit terdorong ke belakang. Seakan itu masih kurang, dengan sinis Shou mengejeknya sebelum ia pergi, “karena menurutku, hanya orang idiot yang tidak ingin ikut hanami. Apa mungkin kau terlalu lama menjadi orang asing sampai kau lupa kau adalah orang Jepang, Nona Yoriko?”

Sepeninggal Shou, Yoriko terdiam. Perkataan Shou barusan membuat Yoriko berpikir apakah ia akan ikut hanami bersama mereka atau tidak.


Karena Yoriko berpikir dia bukan orang bodoh yang lupa pada kebangsaannya sendiri.

No comments:

Post a Comment