Thursday, June 27, 2013

The Delusion (11)

11

“jadi, bagaimana kelanjutannya?” dengan tatapan penuh antusias Aya mencerca Yoriko dengan menyuruhnya terus menceritakan kelanjutan perdebatannya dengan Shou.
­
“­Aya...” Yoriko memang tidak keberatan Aya memintanya menceritakan seluruh pengalamannya bersama Alice Nine, tapi kalau tentang Shou, dia sedikit malas menceritakannya. Apalagi setelah percakapannya terakhir bersama pria itu tentang hanami beberapa hari lalu, Yoriko bahkan tidak memiliki nyali lagi untuk berbicara dengannya. “kumohon, untuk sekarang, jangan membahas dia lagi. Aku masih kesal padanya...”

Menyadari Yoriko kesal karena dia terus mendesaknya, Aya pun diam. Dia berjalan keluar dari meja kasir petshop dan mendekati Yoriko yang sedang menata makanan-makanan anjing ke rak display. “kau kesal karena dia mengataimu orang Jepang yang lupa diri?”

Mendengar pertanyaan itu, Yoriko menghentikan apa yang ia lakukan. Dia menundukkan kepalanya sedikit seraya menghela nafas. Sebelum Aya berpikir ia akan marah, ia menjawab, “menurutmu aku seperti itu, Aya?”

“ngg... tidak juga...” Aya memberikan pendapatnya dengan hati-hati supaya tidak menyinggung Yoriko. “hanya karena kau benci sakura, bukan berarti kau tidak menyukai bangsamu sendiri, bukan? Kakak laki-lakiku juga tidak pernah tertarik dengan sakura dan hanami. Aku juga tidak setiap tahun mengikuti acara hanami. Shou hanya terlalu menyukai sakura dan hanami, tapi dia tidak mau mengakuinya karena takut orang lain akan menganggapnya aneh sebagai pria. Makanya dia mengejekmu karena kau benci sakura. Kita berdua tahu bukan, dia memiliki gengsi yang sangat tinggi.”

“tidak, bukan karena itu...” walaupun pendapat Aya ada benarnya, tapi Yoriko merasa itu tidak tepat. “entahlah, aku merasa, dia seperti menginginkan aku ikut dengannya...”

Yoriko bukannya terlalu percaya diri, tetapi hanya itu kemungkinan yang ia pikirkan selama beberapa hari ini. Shou tidak pernah peduli pada orang lain, terutama Yoriko, tetapi kenapa Shou repot-repot mengejeknya soal ikut hanami? Bukankah seharusnya Shou akan lebih senang saat Yoriko menolak ajakan Tora waktu itu?

Oh Tuhan, pria ini terus mempermainkannya sejak pertama kali mereka bertemu.

“aa...” Aya tercengang gembira. “bagaimana kalau firasatmu itu benar? Bagaimana kalau Shou benar-benar ingin kau ikut hanami?”

“kalau benar, untuk apa? Kenapa dia ingin aku ikut hanami?”

“mungkin karena dia ingin tahu bagaimana kau akan berinteraksi dengan sakura? Kau tahulah, dengan penampilanmu yang serba hitam, kau akan menjadi sangat kontras di antara warna merah muda sakura.” Aya terkikik geli begitu membayangkan apa yang barusan dikatakannya. “tunggu, jangan-jangan itulah yang membuatmu benci pada sakura? Karena kau benci warna merah muda?”

Yoriko tersenyum jengkel. Dia mengangkat keranjang kosong yang tadi ia gunakan untuk membawa makanan-makanan anjing lalu berjalan meninggalkan Aya ke bagian belakang. “apa yang membuatku benci pada sakura tidak ada kaitannya dengan gaya gotikku sekarang. Kau pernah melihat wig merah mudaku yang pernah kupakai saat pergi ke acara konser band gotik indie di Amerika dulu, kan? Aku tidak benci warna merah muda.”

“ya, tapi...” Aya berlari kecil menyusul Yoriko. “aku juga baru tahu kau membenci sakura saat kau bercerita tentang Shou tadi. Apa aku boleh tahu alasannya?”

Yoriko tidak menjawab pertanyaan Aya lagi. Aya tahu dia harus menghormati privasi Yoriko dan dia harus maklum bila Yoriko tidak mau bercerita tentang masa lalunya. Dia semakin maklum saat ingat masa lalu Yoriko juga tidak terlalu menyenangkan. Namun sebagai sepasang sahabat yang kenal satu sama lain, Aya ingin tahu. Dia ingin tahu kenapa Yoriko lebih memilih gaya gothic sebagai ciri khasnya. Banyak sekali gaya di dunia ini yang bisa dipilih Yoriko, tetapi kenapa Yoriko lebih menyukai sesuatu yang serba hitam dan menyeramkan? Kenapa Yoriko membenci sakura? Sepertinya kebencian Yoriko pada bunga khas Jepang itu bukanlah kebencian yang main-main karena Yoriko tidak pernah menceritakannya.

Pasti alasan yang ia simpan rapat-rapat akan menjadi sangat menyakitkan jika orang lain mendengarnya.

“aku tidak bisa memberitahumu, Aya...” jawab Yoriko lirih. “maaf, hanya saja, aku belum siap menceritakannya. Aku sudah menyimpan alasan ini lama sekali sampai aku melupakannya, dan begitu ada sesuatu yang membuatku teringat pada hal ini, aku...”

Tanpa berkata apapun lagi, Aya langsung memeluk Yoriko untuk menenangkannya. “maaf, Yoriko-chan... seharusnya aku tidak memaksamu...”

“tidak apa-apa, Aya... aku mengerti. Terima kasih sudah memerhatikanku, sungguh, aku hargai itu.” Yoriko membalas pelukan Aya dengan erat. Baru sekarang dia mendapat pelukan seperti ini, pelukan hangat penuh rasa persahabatan, dia hampir menangis karenanya.

“kalau kau tidak ingin membahas soal pria brengsek itu, tidak masalah. Kita akan membahas hal lain.” Aya melepas pelukannya.

“ya...” Yoriko menaruh keranjang di gudang kecil tempat alat bersih-bersih diletakkan. “bagaimana kalau kita membicarakan dirimu. Kalau tidak salah, minggu lalu kau menceritakanku tentang cowok keren yang kau temui di kampus. Bagaimana? Ada kemajuan dengannya?”

“ya, aku baru saja ingin menceritakan ini padamu...” lalu Aya bercerita bagaimana ia bertemu cowok keren itu dan berkenalan. Ternyata dia juga ada di jurusan sama seperti Aya, mereka hanya berbeda kelas. Cowok keren yang diceritakan Aya bukanlah ‘cowok keren’ yang kebanyakan gadis pikir. Cowok ini tipe orang yang tertutup, penampilan rapi dan berkacamata serta sifatnya yang pendiam membuat Aya tertarik padanya. Saat cowok itu terbuka dan berbicara lepas dengannya, Aya merasa spesial di depan cowok itu.

“kami ada rencana pergi ke kafe sore ini. Dan semoga saja, bila acara jalan-jalan kami nanti sukses, kami akan pergi hanami bersama-sama!” Aya bersorak tertahan. “Oh Tuhan, semoga aku tidak memalukan di depannya nanti.”

“kau tidak akan memalukan di depannya, Aya...” kata Yoriko. “dia lebih terbuka padamu dibandingkan pada orang lain, itu artinya ada kemungkinan dia menaruh perasaan padamu. Lagipula kau juga cantik, tidak ada alasan baginya untuk tidak menyukaimu.”

“terima kasih...” Aya tersipu malu mendengar pujian dari Yoriko. “tapi, Yoriko-chan... kalau aku pergi malam ini, nanti siapa yang akan menjaga toko ini?”

“tenang saja.” kata Yoriko enteng. “akan kugantikan tugasmu.”

“memangnya kau tidak ada pekerjaan lagi di tempat Alice Nine?”

“tidak, mereka tidak membutuhkan banyak bantuanku hari ini. Kau selalu belajar dan bekerja. Kau berhak mendapatkan waktu senggang hanya untukmu, Aya.” Yoriko menaruh tangannya di pundak Aya.

“kau yakin, Yoriko?” Aya menatap Yoriko tidak enak hati. “kau tidak apa-apa sendirian disini sampai malam?”

“kau selalu sendirian disini setiap malam, kenapa aku tidak bisa? Aku ingin kau menikmati hidupmu, tidak selamanya kau selalu bekerja, kan? Cinta sejati tidak bisa menunggu, Aya...” goda Yoriko sampai membuat Aya semakin tersipu.

“apa ini sebagai balasan karena aku terus mencercamu bercerita tentang Shou?”

Yoriko berpura-pura berpikir, “hmm... ya, begitulah...”

Aya memberikan pukulan pelan di lengan Yoriko sebagai balasannya. Mereka tergelak bersama karena kekonyolan mereka sendiri, “ya sudah, aku akan pergi sekarang. Jangan lupa bersihkan lantai sebelum kau menutup tempat ini, ya...”

Aya pun berjalan menuju lokernya yang tidak jauh letaknya dari mereka. Dia mengambil tas dan jaketnya sebelum Yoriko mengantarnya keluar toko. Mereka saling melambaikan tangan sebelum Aya menghilang di kerumunan orang-orang yang berjalan di trotoar.

Sepeninggal Aya, Yoriko merasa sepi. Tidak banyak pengunjung datang hari ini. Para hewan peliharaan sedang asyik tidur siang di kandang masing-masing, namun masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Mengingat dia belum memberi makan para hewan, dia kembali ke gudang kecil tempat dia menaruh keranjang tadi. Seharusnya ini pekerjaan Aya, memberi makan mereka tiap menjelang sore, tetapi dia senang melakukan ini. Terlebih saat Boo menyalak bahagia begitu mendengar langkah sepatu sol tebal Yoriko yang membawa makanan untuk anjing pomeranian itu.

Yoriko membuka pintu kandang Boo lalu anjing berusia 3,5 tahun itu langsung keluar dan menyerbu mangkuk berisi makanannya dari tangan Yoriko. Dengan penuh kasih sayang Yoriko menemani Boo makan sambil mengusapi kepala anjing itu.

“kau lapar, ya?” tanya Yoriko seraya tertawa geli. Boo yang sudah sibuk menenggelamkan kepalanya ke dalam mangkuk makanannya tidak menghiraukan pertanyaan Yoriko.

“kau tahu, hari ini sedikit membosankan... Sebenarnya aku bisa saja menghabiskan waktuku dengan menulis, tapi, Boo-chan...” Yoriko menaruh dagunya di atas lutut. “suasana hatiku sedang tidak ingin melakukannya...”

Karena sekali lagi Boo masih tidak menghiraukannya, Yoriko merengutkan bibirnya.

“bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan bersama di taman?” Yoriko mendapat ide bagus. “kau dan aku bisa bermain lempar frisbee bersama!”

Namun Yoriko langsung menurunkan pundaknya karena kecewa dia tidak bisa melaksanakan rencana bagus itu. “tapi nanti siapa yang akan menjaga toko?”

Saat Yoriko masih terus menemani Boo menyantap makan siangnya, Yoriko mendengar lonceng di pintu masuk berbunyi sebagai tanda kalau ada seseorang atau pembeli masuk. Yoriko langsung berdiri dan berlari untuk mencari tahu siapa yang datang.

Ternyata orang itu adalah atasannya, Avaron Yutaka.

“hei, Yoriko-chan. Apa kabar?” sapa Avaron dengan senyuman ramahnya seperti biasa.

“aku baik-baik saja, nampaknya aku harus berjaga sampai malam disini, Avaron-san.” Balas Yoriko ramah juga.

“ah, ya...” Avaron tahu kalau tadi pagi Aya meneleponnya untuk meminta izin pulang lebih awal. “aku akan menemanimu sampai nanti malam. Aku tahu kau memang suka sesuatu yang gelap, namun aku yakin kau pasti tidak suka sendirian di petshop malam-malam, bukan?”

“ngg... tidak juga. Aku hanya tidak terlalu suka sendirian malam-malam dan tidak melakukan sesuatu.” Yoriko menggaruk kepalanya sambil terkekeh. “tapi tidak masalah, Avaron-san. Kalau anda menemaniku, aku akan merasa lebih baik.”

“maka dari itu...” Avaron memperlihatkan kantong kertas kecil yang ada di tangannya kepada Yoriko. “aku membawakan sesuatu untukmu sebagai hadiah.”

Saat Yoriko sudah menerima kantong kertas itu, dia merogoh isinya dan mendapati sebuah kalung perak imitasi berliontin salib hitam berdesain gotik abad pertengahan dengan hiasan batu rubi imitasi di sisi kiri dan kanan salib itu. Dan perasaan senang Yoriko sungguh tidak dapat dilukiskan karena menurutnya kalung hadiah dari Avaron sangat indah.

“terima kasih, Avaron-san!” jerit Yoriko senang dan memeluk Avaron erat-erat.

“ya, sama-sama. Tadi kebetulan aku melewati toko aksesoris gothic saat dalam perjalanan kemari dan melihat kalung itu ada di etalase toko. Aku langsung teringat padamu, jadi...” Avaron tidak bisa meneruskan perkataannya karena pelukan Yoriko semakin erat saja.

Setelah melepas pelukannya pada Avaron, Yoriko langsung memakai kalung pemberian Avaron di lehernya. Kalung itu sangat cocok dengan pakaiannya sekarang, kaus lengan panjang hitam bergaris abu-abu dan celana gombrong hitamnya. Avaron perhatikan penampilan Yoriko hari ini sedikit lebih tomboi dari biasanya.

“aku harap kau bisa menjaga kalung itu baik-baik, Yoriko-chan, mengingat kau sangat menghargai apa arti dari salib tersebut.” Pesan Avaron.

“tentu saja, Avaron-san.” Yoriko menganggukan kepala. “ngomong-ngomong, Avaron-san dari mana? Kalau tidak salah, tidak ada toko gothic yang terlewat dari rumah anda ke tempat ini...” tanya Yoriko penasaran.

“kenapa memangnya? Kau pasti ingin belanja disana, ya?” Avaron bisa menebak jalan pikiran Yoriko. “aku baru saja makan siang bersama Shou di restoran dekat Shibuya.”

Saat Avaron menyebut nama Shou, raut wajahnya seketika berubah menjadi marah. Lalu Yoriko bertanya, “ada apa dengan Shou, Avaron-san, kalau aku boleh tahu...”

Lalu Avaron menceritakannya dengan kebingungan yang amat sangat.

*** 

Begitu Avaron menerima ajakan makan siang dari Shou, Avaron dengan senang hati menerima karena dia sedang senggang. Dia sudah selesai mengurus rumah dan Yukio sedang main di rumah neneknya yang tidak jauh dari rumahnya, Kai sendiri sibuk dengan kegiatan bandnya.

Shou menjemputnya dari rumah dan membawanya ke sebuah restoran khas Itali yang suasananya tidak terlalu ramai di Shibuya. Begitu mereka turun dari mobil dan memasuki restoran tersebut, seorang pelayan wanita menyambut mereka dengan ramah dan membawa mereka ke meja yang sudah dipesan secara khusus oleh Shou di sudut restoran.

Tidak berapa lama kemudian mereka sudah menikmati makan siang mereka. Avaron ingin bertanya kenapa Shou tumben sekali mengajaknya pergi makan siang berdua, tetapi ia masih sibuk dengan lasagna yang ia makan. Ternyata selera Shou dalam memilih restoran bagus juga.

“pelan-pelan, kau bisa tersedak nanti.” Shou mengingatkan. Dibanding Avaron yang lahap, Shou lebih pelan menikmati pasta sayurannya.

Mengikuti anjuran Shou, Avaron menurunkan kecepatan makannya lalu berkata, “tidak biasanya kau mengajakku makan siang. Apalagi kau pasti sibuk, kan?”

“aku sedang ingin ditemani. Tidak boleh?” Shou menjawab dengan datar seperti biasanya. Tidak terdengar seperti seseorang yang benar-benar ingin ditemani makan siang.

“tidak masalah asalkan kau yang membayar makanannya.” Avaron mencoba bercanda. Tapi reaksi Shou hanyalah diam. Dan Avaron tidak kaget dengan itu.

“kudengar dari Tora kalian akan mengadakan hanami bersama-sama.” Avaron sekarang mencoba untuk membuka pembicaraan, menyadari bahwa Shou sama sekali tidak akan melakukannya.

“hmm...” gumam Shou sambil terus mengunyah pastanya.

“kapan?”

Shou menelan pastanya lebih dulu sebelum menjawab, “kami baru sempat melakukannya awal bulan depan.”

“apa?” Avaron kaget. “memangnya kalian tidak takut? Bukankah bulan depan sakura sudah mulai gugur.”

“menikmati hanami di hari terakhir ada sensasinya sendiri, Avaron...” ujar Shou. “lagipula aku akan cukup sibuk beberapa hari sebelumnya.”

“oh...” nafsu makan Avaron sekarang menurun karena penasaran dengan cerita Shou. “sibuk karena urusan band?”

“tidak. Sepupuku meneleponku beberapa hari lalu. Dia bilang dia sedang ada di Jepang minggu ini. Besok dia akan datang ke apartemenku untuk menginap beberapa hari.” Ketika Shou menyebut sepupunya, ekspresi jengkel terlihat jelas di wajah Shou.

“kenapa?” Avaron menyadari Shou sepertinya tidak menyukai sepupunya. “bukankah itu bagus? Ada saudara menginap di tempatmu. Kau jadi punya teman, bukan?”

“hah, kau tidak tahu sepupuku seperti apa.” Shou mendengus kasar. “dia seperti mimpi buruk bagiku, bahkan sejak aku masih kecil.”

“wow, memangnya dia sehebat apa sampai kau ciut padanya?” Avaron semakin tambah penasaran. Dia selalu ingin tahu siapa saja orang yang bisa membuat seorang Shou yang besar kepala, dingin, dan keras kepala menjadi takut dan ciut dengan mudah.

“dia tidak sehebat itu. Orang lain termasuk ayahku sering sekali menyanjungnya, selalu membeda-bedakanku kenapa aku tidak pernah menjadi seperti dia.” Shou ingat ucapan ayahnya tentang kenapa Shou lebih memilih menjadi anggota band sangat bodoh daripada mengikuti jejak sepupunya.

“seperti apa sepupumu?”

“dia seorang dokter. Dia bekerja dan tinggal di Inggris lalu kembali kesini karena rindu kampung halamannya. Katanya dia akan pindah kerja di rumah sakit di Tokyo. Dia bilang sebelum dia sudah pasti mendapatkan posisinya di rumah sakit, ia akan menginap di apartemenku untuk sementara waktu. Aku heran kenapa dia tidak tinggal saja di rumah orang tuaku. Aku yakin mereka pasti akan memanjakannya.” Shou bercerita dengan cepat.

“pantas saja ayahmu sering membandingkan kalian...” Avaron ingat dulu Shou dan ayahnya jarang akur, tapi ia tidak tahu mereka masih terus begitu sampai sekarang.

“apa dia seorang pria atau wanita?”

“pria. Menurut gadis-gadis yang biasa bertemu dengannya dia cukup tampan. Tapi ayolah, dia berkacamata, berpenampilan seperti orang tua, masa dia bisa dibilang tampan?” kata Shou sewot.

Avaron tertawa kecil. “sepertinya ada yang iri...”

“aku tidak iri.” Bantah Shou.

“aku tidak menyebut namamu, Shou.” Tawa Avaron menjadi semakin kencang. “baiklah, karena kau menyinggungnya, kalau kau tidak iri, kenapa kau benci sekali padanya? Tapi tunggu, dia tinggal di Inggris, bukan? Yang kudengar, orang Inggris adalah orang yang sopan dan anggun. Bisa jadi mereka jatuh hati pada sepupumu karena itu.”

“aku tidak peduli dia disukai oleh banyak wanita atau tidak. Aku tidak suka dia menginap di rumahku.” Shou menegaskan.

“kalau begitu, kau tinggal hubungi dia dan bilang kau tidak ingin dia menginap di rumahmu. Mudah, bukan?”

“tidak bisa. Nanti dia akan mengadu ke ayahku dan ayahku pasti akan memaksaku supaya dia bisa menginap di tempatku. Dia pasti ingin aku terpengaruh oleh sepupuku.” Duga Shou.

“aku akan membayar berapa pun agar aku bisa melihatmu bersikap sopan, anggun, dan beribawa karena ‘pengaruh’ sepupumu, Shou.” Semakin kesal Shou, Avaron akan semakin tertawa terbahak-bahak.

“diamlah!” seru Shou. “aku tidak suka kau menertawakan ini!”

Avaron pun diam. Baru pertama kalinya Shou membentaknya secara sungguh-sungguh. Ia pun sadar kalau Shou yang sekarang bukanlah Shou yang dulu lagi, yang selalu membalas ejekan dan candaan Avaron dengan cara yang sama juga.

“maaf, aku tidak bermaksud menertawaimu...” Avaron meminta maaf. “kupikir... saat kau mengajakku makan siang tadi, aku bisa bercanda denganmu lagi seperti dulu. Ternyata memang tidak bisa, ya..”

“bukan begitu, Avaron...” Shou jadi gugup. “aku cukup stress. Banyak sekali sesuatu yang menjengkelkan di sekitarku. Bukankah sudah cukup berat urusan band, konser, dan sebagainya? Sekarang bebanku ditambah sepupuku yang selalu menggangguku dan...” Shou nyaris saja mengucapkan nama Yoriko Ishihara. Tunggu, kenapa dia nyaris mengucapkan nama itu?

“dan apa?” Avaron menantikan terusan kata-kata Shou.

“tidak, tidak apa-apa...” Shou langsung mengelak dan berhenti. “pokoknya, aku mengajakmu kemari hanya untuk makan siang. Aku tidak butuh ejekanmu, Avaron.”

Avaron tidak membalas kata-kata Shou lagi. Dia tahu Shou sedang marah dan tidak ingin diganggu lagi, jadi mereka menghabiskan sisa makan siang dalam diam.

Di sisi lain, dalam diam Shou memikirkan kenapa dia bisa terpikirkan sosok Yoriko? Memang, Yoriko selalu mengganggunya sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi kenapa? Shou bisa saja mengabaikan dia, bukan? Dia hanya perlu menganggap Yoriko sebagai orang biasa yang berlalu begitu saja dan Shou tidak akan peduli.

Ayolah, dia hanya gadis aneh dan penyendiri yang bekerja sebagai asistennya. Kenapa Shou harus memberikan perhatian khusus kepadanya? Kenapa Shou selalu tertarik pada apapun yang Yoriko lakukan? Seperti saat mereka membincangkan soal acara hanami waktu itu. Kenapa dia harus peduli Yoriko tidak menyukai bunga sakura? Dia memang gadis gotik, tidak heran jika dia tidak menyukai bunga sakura. Tapi kenapa harus sampai seperti itu Shou memaksanya untuk datang? Kenapa Shou sampai bertanya padanya kenapa ia tidak menyukai hanami?

Atau mungkin karena Yoriko dan sepupunya itu sama-sama orang aneh? Pasti karena itu.

“Avaron...” panggil Shou.

“ya?”

“maaf aku membuatmu kesal. Tidak seharusnya aku begini...” Shou menyesal. Tidak seharusnya dia membawa Avaron ke dalam masalah pribadinya. Avaron tidak tahu apa-apa, dan Shou tidak ingin kehilangan wanita ini. Wanita ini masih merupakan salah satu penentu hidupnya. Tanpanya, Shou tidak akan mempunyai tumpuan hidup.

“tidak apa, Shou...” Avaron meraih tangan Shou yang mengepal kencang di atas meja. Karena sentuhan Avaron, tangan yang tadinya dingin itu menjadi luluh dan terasa hangat. “aku paham...”

Hanya dengan sebuah sentuhan, Shou merasa tenang. Rasanya seluruh pikiran dan jiwanya yang keruh langsung menjadi jernih saat Shou merasakan sentuhan tangan itu. Shou membalas genggaman tangan Avaron lebih erat, dan ia tidak ingin melepasnya.

*** 

“mengerti kan, maksudku? Dia berubah menjadi semakin aneh sekarang. Mungkin karena dia terlalu memikirkan bandnya atau sepupunya yang menurutnya menyusahkan. Tapi aku penasaran dengan sepupunya itu... kau pernah tinggal di Inggris, kan, Yoriko? Bagaimana orang-orang disana?” Avaron terus bercerita tanpa menyadari Yoriko tidak terlalu memperhatikan karena dia memikirkan sikap Shou yang diceritakan Avaron barusan.

“ngg...” Yoriko mencoba menjawab sesuai pendapatnya. “mereka orang yang sangat ramah dan sopan. Penampilan mereka selalu rapi dan banyak juga yang bergaya gotik sepertiku. Tapi menurutku, karena dia orang Jepang yang lama tinggal disana, dia pasti orang yang lebih sopan dan tidak banyak macam-macam. Apalagi dia seorang dokter, bukan?”

“aku baru tahu Shou mempunyai sepupu yang tinggal di luar negeri. Memang dia anak orang kaya, tapi cukup kaget saja. Shou sungguh berbeda jauh daripada anggota keluarganya yang lain.” Komentar Avaron.

“mungkin karena itu dia merasa tertekan? Karena dia berbeda, anggota keluarganya mungkin akan membicarakannya atau seperti ayahnya, membandingkannya dengan sepupunya itu.”

Avaron mengangkat bahu. “mungkin... tapi yah, kurasa biar Shou saja yang menyelesaikan masalahnya. Sepertinya dia tidak membutuhkan bantuanku.”

Yoriko hanya tersenyum sebagai responnya kepada Avaron. “oh, aku sudah membereskan semuanya. Aku sudah tidak ada pekerjaan lagi sampai nanti malam. Jadi bolehkah aku menulis, Avaron-san?”

Avaron mempersilakan. “ya, tentu saja. Aku ingin kau cepat-cepat menyelesaikan karyamu supaya aku bisa membacanya. Kalau begitu, aku ke lantai atas dulu, ya. Aku ingin menyapa Dokter Inoue.”

Setelah Avaron berlalu, Yoriko menyalakan laptopnya yang sudah ada di atas meja kasir. Sambil mendengarkan lagunya Collide yang bergenre gotik elektro, Yoriko melanjutkan menulis novelnya.

*** 

Saat jam makan siang tiba, Spencer yang tadinya ingin pergi ke restoran cepat saji favoritnya yang terletak tidak jauh dari kepolisian bertemu Samantha Force yang kebetulan berpapasan dengannya di dekat lapangan parkir kantor. Wanita itu terlihat baru saja keluar dari mobil Mercedes miliknya. Mobil yang cukup mewah untuk seorang yang bekerja di kepolisian.

Melihat Spencer, wanita cantik berambut pirang itu langsung memanggil namanya. Ia berlari mengejar Spencer dan mengajaknya mengobrol.

“hei, kau mau kemana?”

“aku ingin makan siang.” Jawab Spencer.

“boleh aku ikut? Aku tidak sempat sarapan karena inspektur menyuruhku mencetak foto-foto TKP dan harus diserahkan hari ini.” pinta Samantha yang tentu saja tidak dapat ditolak oleh Spencer.

Sesampainya di restoran, mereka mengambil tempat duduk di counter restoran dan langsung memesan. Spencer memilih cheese burger dengan kentang goreng sedangkan Samantha memesan tuna sandwhich.

Sembari menunggu pesanan, Samantha mengajak Spencer mengobrol. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua sejak putusnya hubungan mereka. Samantha sadar seharusnya dia tidak mengganggu Spencer lagi yang sekarang adalah mantannya, tetapi dia masih ingin berteman baik dengan pria ini. Kandasnya hubungan mereka bukanlah kemauan Samantha.

“bagaimana kabar kasus? Sudah ada perkembangan?” tanya Samantha.

“kami hampir mendapatkan tersangka, berkat profil yang dibuat Judy Hunters. Tapi sayangnya tersangka itu sulit sekali dicari jejaknya.” Jawab Spencer sambil menyeruput kopi hangatnya yang baru saja dituangkan oleh pelayan restoran.

Samantha mengangguk mengerti. “bicara soal Hunters, aku mendengar gosip kalian cukup dekat. Dan kurasa aku harus membenarkan gosip itu.”

Spencer nyaris tersedak dari kopinya. “sejak kapan ada gosip aneh seperti itu? Kami tidak pernah dekat. Dia hanya cukup berguna di tim, aku sering mengganggunya dengan meminta hasil profil dan sejenisnya. Tidak ada yang istimewa.”

Samantha terkikik geli. “kau tidak perlu sedefensif itu, Spencer. Aku tahu itu hanya gosip dan aku juga hanya ingin menggodamu.”

Spencer menggelengkan kepalanya. Wanita ini tidak pernah berubah.

“tapi menurutku kehadirannya di kepolisian cukup menarik perhatian. Ada beberapa pria di divisiku yang tertarik padanya karena penampilan nyentriknya itu. bagiku dia juga cukup cantik. Aku tidak heran jika suatu saat kau menyukainya.”

Spencer heran. Kenapa Samantha bisa begitu mudahnya berkata ia akan menyukai Judy Hunters, wanita berambut aneh yang tidak jelas itu? Spencer ingin tahu apakah Samantha masih memiliki perasaan yang sama sepertinya? Secepat itukah Samantha melupakan hubungan mereka dulu?

“kenapa kau berkata begitu?” tanya Spencer dengan nada tersinggung.

“oh, maaf, Spencer...” Samantha tidak enak hati. “kupikir kau... maksudku, kita harus melupakan semuanya dan kembali menjalani hidup. Aku tidak ingin kau...”

“kau yang meninggalkanku, Samantha. Mudah bagimu untuk mengucapkan itu.” kata Spencer. “kau tidak tahu betapa hancurnya aku saat kau memutuskan untuk memilih pria itu sebagai tunanganmu.”

“i... itu bukan kemauanku, Spence. Kau tidak tahu keluargaku...” Samantha mencoba menjelaskan.

“kau sudah bukan anak kecil lagi, kau bisa mengambil keputusan untukmu. Kau pikir aku tidak mencoba untuk melupakan semua itu, Sam? Tidak bisa.” Spencer memegang erat tangan Samantha dan menatap wajah Samantha lekat-lekat.

“kau hanya belum berusaha keras, Spencer. Maaf jika keputusanku menyakitimu, aku sendiri masih belum bisa melupakanmu, masih ada rasa cinta padamu yang kurasakan...”

“selama kau masih memakai itu, Sam...” Spencer menunjuk cincin tunangan di jari manis Samantha. “maaf, aku sulit untuk memercayai itu.”

“Spence...” Samantha hanya bisa menyebut namanya. “maafkan aku...”

“sudah terlambat, Sam... aku harap dia bisa membahagiakanmu lebih baik daripada aku.”

Mendadak Spencer kehilangan nafsu makannya. Tanpa menunggu makanannya tiba terlebih dulu, ia mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menaruh sejumlah uang tunai di atas counter untuk membayar cheese burgernya. Ia lalu mengambil tas ranselnya dan pergi meninggalkan Samantha yang terpaku menahan air matanya disana.

*** 

Sejenak Yoriko berhenti menulis. Dia membaca lagi adegan yang baru saja ia tulis, adegan antara Spencer Williams dan Samantha Force. Adegan yang cukup singkat, tapi sangat mengena di hatinya.

Yoriko sudah terbiasa menempatkan posisinya seperti berada di dalam cerita, memperhatikan bagaimana Spencer yang dengan pedih meninggalkan Samantha di restoran cepat saji itu. Tapi kenapa dia merasakan rasa sakit itu? Kenapa dia bisa merasa tertusuk saat membayangkan Spencer menggenggam erat tangan Samantha?

Tidak, rasa sakit ini bukanlah karena ia terbawa oleh adegan yang ia buat sendiri, rasa sakit itu nyata. Ia merasakan dadanya sesak. Seketika itu juga, setitik air mata mengalir di wajahnya.

Ada apa denganmu, Yoriko? Tanya Yoriko dalam hati. Kenapa ia tiba-tiba begini?

Semakin ia memikirkannya, rasa sakit itu semakin memenuhi dadanya. Membuatnya semakin kesulitan bernapas. Seakan tidak cukup, perasaan aneh itu memuncak di kepalanya. Mendadak kepalanya menjadi sakit tidak karuan tanpa sebab.

Yoriko berdiri dari duduknya, mencoba berjalan menuju lokernya untuk mengambil aspirin yang biasa ia bawa kalau-kalau dia mengalami pusing ini lagi. Tapi ia tidak sanggup.


Semakin tidak tahan dengan rasa sakitnya, Yoriko mengerang pelan. Tangannya meraih rak pajangan sebagai pegangan agar ia tidak jatuh. Namun sayangnya, ia terlambat. Tidak kuat dengan beban yang dirasakannya, akhirnya tubuhnya semakin lemas dan ia pun roboh ke lantai, tidak sadarkan diri disana...

No comments:

Post a Comment