11
“jadi,
bagaimana kelanjutannya?” dengan tatapan penuh antusias Aya mencerca Yoriko
dengan menyuruhnya terus menceritakan kelanjutan perdebatannya dengan Shou.
“Aya...”
Yoriko memang tidak keberatan Aya memintanya menceritakan seluruh pengalamannya
bersama Alice Nine, tapi kalau tentang Shou, dia sedikit malas menceritakannya.
Apalagi setelah percakapannya terakhir bersama pria itu tentang hanami beberapa
hari lalu, Yoriko bahkan tidak memiliki nyali lagi untuk berbicara dengannya. “kumohon,
untuk sekarang, jangan membahas dia lagi. Aku masih kesal padanya...”
Menyadari
Yoriko kesal karena dia terus mendesaknya, Aya pun diam. Dia berjalan keluar
dari meja kasir petshop dan mendekati Yoriko yang sedang menata makanan-makanan
anjing ke rak display. “kau kesal karena dia mengataimu orang Jepang yang lupa
diri?”
Mendengar
pertanyaan itu, Yoriko menghentikan apa yang ia lakukan. Dia menundukkan
kepalanya sedikit seraya menghela nafas. Sebelum Aya berpikir ia akan marah, ia
menjawab, “menurutmu aku seperti itu, Aya?”
“ngg... tidak
juga...” Aya memberikan pendapatnya dengan hati-hati supaya tidak menyinggung
Yoriko. “hanya karena kau benci sakura, bukan berarti kau tidak menyukai
bangsamu sendiri, bukan? Kakak laki-lakiku juga tidak pernah tertarik dengan
sakura dan hanami. Aku juga tidak setiap tahun mengikuti acara hanami. Shou
hanya terlalu menyukai sakura dan hanami, tapi dia tidak mau mengakuinya karena
takut orang lain akan menganggapnya aneh sebagai pria. Makanya dia mengejekmu
karena kau benci sakura. Kita berdua tahu bukan, dia memiliki gengsi yang
sangat tinggi.”
“tidak, bukan
karena itu...” walaupun pendapat Aya ada benarnya, tapi Yoriko merasa itu tidak
tepat. “entahlah, aku merasa, dia seperti menginginkan aku ikut dengannya...”
Yoriko bukannya
terlalu percaya diri, tetapi hanya itu kemungkinan yang ia pikirkan selama
beberapa hari ini. Shou tidak pernah peduli pada orang lain, terutama Yoriko,
tetapi kenapa Shou repot-repot mengejeknya soal ikut hanami? Bukankah seharusnya
Shou akan lebih senang saat Yoriko menolak ajakan Tora waktu itu?
Oh Tuhan,
pria ini terus mempermainkannya sejak pertama kali mereka bertemu.
“aa...” Aya
tercengang gembira. “bagaimana kalau firasatmu itu benar? Bagaimana kalau Shou
benar-benar ingin kau ikut hanami?”
“kalau benar,
untuk apa? Kenapa dia ingin aku ikut hanami?”
“mungkin
karena dia ingin tahu bagaimana kau akan berinteraksi dengan sakura? Kau
tahulah, dengan penampilanmu yang serba hitam, kau akan menjadi sangat kontras
di antara warna merah muda sakura.” Aya terkikik geli begitu membayangkan apa
yang barusan dikatakannya. “tunggu, jangan-jangan itulah yang membuatmu benci
pada sakura? Karena kau benci warna merah muda?”
Yoriko
tersenyum jengkel. Dia mengangkat keranjang kosong yang tadi ia gunakan untuk
membawa makanan-makanan anjing lalu berjalan meninggalkan Aya ke bagian
belakang. “apa yang membuatku benci pada sakura tidak ada kaitannya dengan gaya
gotikku sekarang. Kau pernah melihat wig merah mudaku yang pernah kupakai saat
pergi ke acara konser band gotik indie di Amerika dulu, kan? Aku tidak benci
warna merah muda.”
“ya, tapi...”
Aya berlari kecil menyusul Yoriko. “aku juga baru tahu kau membenci sakura saat
kau bercerita tentang Shou tadi. Apa aku boleh tahu alasannya?”
Yoriko tidak
menjawab pertanyaan Aya lagi. Aya tahu dia harus menghormati privasi Yoriko dan
dia harus maklum bila Yoriko tidak mau bercerita tentang masa lalunya. Dia
semakin maklum saat ingat masa lalu Yoriko juga tidak terlalu menyenangkan.
Namun sebagai sepasang sahabat yang kenal satu sama lain, Aya ingin tahu. Dia
ingin tahu kenapa Yoriko lebih memilih gaya gothic sebagai ciri khasnya. Banyak
sekali gaya di dunia ini yang bisa dipilih Yoriko, tetapi kenapa Yoriko lebih
menyukai sesuatu yang serba hitam dan menyeramkan? Kenapa Yoriko membenci
sakura? Sepertinya kebencian Yoriko pada bunga khas Jepang itu bukanlah
kebencian yang main-main karena Yoriko tidak pernah menceritakannya.
Pasti alasan
yang ia simpan rapat-rapat akan menjadi sangat menyakitkan jika orang lain
mendengarnya.
“aku tidak
bisa memberitahumu, Aya...” jawab Yoriko lirih. “maaf, hanya saja, aku belum
siap menceritakannya. Aku sudah menyimpan alasan ini lama sekali sampai aku
melupakannya, dan begitu ada sesuatu yang membuatku teringat pada hal ini,
aku...”
Tanpa berkata
apapun lagi, Aya langsung memeluk Yoriko untuk menenangkannya. “maaf,
Yoriko-chan... seharusnya aku tidak memaksamu...”
“tidak
apa-apa, Aya... aku mengerti. Terima kasih sudah memerhatikanku, sungguh, aku
hargai itu.” Yoriko membalas pelukan Aya dengan erat. Baru sekarang dia
mendapat pelukan seperti ini, pelukan hangat penuh rasa persahabatan, dia
hampir menangis karenanya.
“kalau kau
tidak ingin membahas soal pria brengsek itu, tidak masalah. Kita akan membahas
hal lain.” Aya melepas pelukannya.
“ya...”
Yoriko menaruh keranjang di gudang kecil tempat alat bersih-bersih diletakkan.
“bagaimana kalau kita membicarakan dirimu. Kalau tidak salah, minggu lalu kau
menceritakanku tentang cowok keren yang kau temui di kampus. Bagaimana? Ada
kemajuan dengannya?”
“ya, aku baru
saja ingin menceritakan ini padamu...” lalu Aya bercerita bagaimana ia bertemu
cowok keren itu dan berkenalan. Ternyata dia juga ada di jurusan sama seperti
Aya, mereka hanya berbeda kelas. Cowok keren yang diceritakan Aya bukanlah
‘cowok keren’ yang kebanyakan gadis pikir. Cowok ini tipe orang yang tertutup,
penampilan rapi dan berkacamata serta sifatnya yang pendiam membuat Aya
tertarik padanya. Saat cowok itu terbuka dan berbicara lepas dengannya, Aya
merasa spesial di depan cowok itu.
“kami ada rencana
pergi ke kafe sore ini. Dan semoga saja, bila acara jalan-jalan kami nanti
sukses, kami akan pergi hanami bersama-sama!” Aya bersorak tertahan. “Oh Tuhan,
semoga aku tidak memalukan di depannya nanti.”
“kau tidak
akan memalukan di depannya, Aya...” kata Yoriko. “dia lebih terbuka padamu
dibandingkan pada orang lain, itu artinya ada kemungkinan dia menaruh perasaan
padamu. Lagipula kau juga cantik, tidak ada alasan baginya untuk tidak
menyukaimu.”
“terima
kasih...” Aya tersipu malu mendengar pujian dari Yoriko. “tapi, Yoriko-chan...
kalau aku pergi malam ini, nanti siapa yang akan menjaga toko ini?”
“tenang
saja.” kata Yoriko enteng. “akan kugantikan tugasmu.”
“memangnya
kau tidak ada pekerjaan lagi di tempat Alice Nine?”
“tidak,
mereka tidak membutuhkan banyak bantuanku hari ini. Kau selalu belajar dan
bekerja. Kau berhak mendapatkan waktu senggang hanya untukmu, Aya.” Yoriko
menaruh tangannya di pundak Aya.
“kau yakin,
Yoriko?” Aya menatap Yoriko tidak enak hati. “kau tidak apa-apa sendirian
disini sampai malam?”
“kau selalu
sendirian disini setiap malam, kenapa aku tidak bisa? Aku ingin kau menikmati
hidupmu, tidak selamanya kau selalu bekerja, kan? Cinta sejati tidak bisa
menunggu, Aya...” goda Yoriko sampai membuat Aya semakin tersipu.
“apa ini
sebagai balasan karena aku terus mencercamu bercerita tentang Shou?”
Yoriko berpura-pura
berpikir, “hmm... ya, begitulah...”
Aya
memberikan pukulan pelan di lengan Yoriko sebagai balasannya. Mereka tergelak
bersama karena kekonyolan mereka sendiri, “ya sudah, aku akan pergi sekarang.
Jangan lupa bersihkan lantai sebelum kau menutup tempat ini, ya...”
Aya pun
berjalan menuju lokernya yang tidak jauh letaknya dari mereka. Dia mengambil
tas dan jaketnya sebelum Yoriko mengantarnya keluar toko. Mereka saling
melambaikan tangan sebelum Aya menghilang di kerumunan orang-orang yang
berjalan di trotoar.
Sepeninggal
Aya, Yoriko merasa sepi. Tidak banyak pengunjung datang hari ini. Para hewan
peliharaan sedang asyik tidur siang di kandang masing-masing, namun masih
banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Mengingat dia belum memberi makan
para hewan, dia kembali ke gudang kecil tempat dia menaruh keranjang tadi. Seharusnya
ini pekerjaan Aya, memberi makan mereka tiap menjelang sore, tetapi dia senang
melakukan ini. Terlebih saat Boo menyalak bahagia begitu mendengar langkah sepatu
sol tebal Yoriko yang membawa makanan untuk anjing pomeranian itu.
Yoriko
membuka pintu kandang Boo lalu anjing berusia 3,5 tahun itu langsung keluar dan
menyerbu mangkuk berisi makanannya dari tangan Yoriko. Dengan penuh kasih
sayang Yoriko menemani Boo makan sambil mengusapi kepala anjing itu.
“kau lapar,
ya?” tanya Yoriko seraya tertawa geli. Boo yang sudah sibuk menenggelamkan
kepalanya ke dalam mangkuk makanannya tidak menghiraukan pertanyaan Yoriko.
“kau tahu,
hari ini sedikit membosankan... Sebenarnya aku bisa saja menghabiskan waktuku
dengan menulis, tapi, Boo-chan...” Yoriko menaruh dagunya di atas lutut. “suasana
hatiku sedang tidak ingin melakukannya...”
Karena sekali
lagi Boo masih tidak menghiraukannya, Yoriko merengutkan bibirnya.
“bagaimana
kalau hari ini kita jalan-jalan bersama di taman?” Yoriko mendapat ide bagus.
“kau dan aku bisa bermain lempar frisbee bersama!”
Namun Yoriko langsung
menurunkan pundaknya karena kecewa dia tidak bisa melaksanakan rencana bagus
itu. “tapi nanti siapa yang akan menjaga toko?”
Saat Yoriko
masih terus menemani Boo menyantap makan siangnya, Yoriko mendengar lonceng di
pintu masuk berbunyi sebagai tanda kalau ada seseorang atau pembeli masuk.
Yoriko langsung berdiri dan berlari untuk mencari tahu siapa yang datang.
Ternyata
orang itu adalah atasannya, Avaron Yutaka.
“hei,
Yoriko-chan. Apa kabar?” sapa Avaron dengan senyuman ramahnya seperti biasa.
“aku
baik-baik saja, nampaknya aku harus berjaga sampai malam disini, Avaron-san.”
Balas Yoriko ramah juga.
“ah, ya...”
Avaron tahu kalau tadi pagi Aya meneleponnya untuk meminta izin pulang lebih
awal. “aku akan menemanimu sampai nanti malam. Aku tahu kau memang suka sesuatu
yang gelap, namun aku yakin kau pasti tidak suka sendirian di petshop
malam-malam, bukan?”
“ngg... tidak
juga. Aku hanya tidak terlalu suka sendirian malam-malam dan tidak melakukan
sesuatu.” Yoriko menggaruk kepalanya sambil terkekeh. “tapi tidak masalah,
Avaron-san. Kalau anda menemaniku, aku akan merasa lebih baik.”
“maka dari
itu...” Avaron memperlihatkan kantong kertas kecil yang ada di tangannya kepada
Yoriko. “aku membawakan sesuatu untukmu sebagai hadiah.”
Saat Yoriko
sudah menerima kantong kertas itu, dia merogoh isinya dan mendapati sebuah
kalung perak imitasi berliontin salib hitam berdesain gotik abad pertengahan
dengan hiasan batu rubi imitasi di sisi kiri dan kanan salib itu. Dan perasaan
senang Yoriko sungguh tidak dapat dilukiskan karena menurutnya kalung hadiah
dari Avaron sangat indah.
“terima
kasih, Avaron-san!” jerit Yoriko senang dan memeluk Avaron erat-erat.
“ya,
sama-sama. Tadi kebetulan aku melewati toko aksesoris gothic saat dalam
perjalanan kemari dan melihat kalung itu ada di etalase toko. Aku langsung
teringat padamu, jadi...” Avaron tidak bisa meneruskan perkataannya karena
pelukan Yoriko semakin erat saja.
Setelah
melepas pelukannya pada Avaron, Yoriko langsung memakai kalung pemberian Avaron
di lehernya. Kalung itu sangat cocok dengan pakaiannya sekarang, kaus lengan
panjang hitam bergaris abu-abu dan celana gombrong hitamnya. Avaron perhatikan
penampilan Yoriko hari ini sedikit lebih tomboi dari biasanya.
“aku harap
kau bisa menjaga kalung itu baik-baik, Yoriko-chan, mengingat kau sangat
menghargai apa arti dari salib tersebut.” Pesan Avaron.
“tentu saja,
Avaron-san.” Yoriko menganggukan kepala. “ngomong-ngomong, Avaron-san dari
mana? Kalau tidak salah, tidak ada toko gothic yang terlewat dari rumah anda ke
tempat ini...” tanya Yoriko penasaran.
“kenapa
memangnya? Kau pasti ingin belanja disana, ya?” Avaron bisa menebak jalan
pikiran Yoriko. “aku baru saja makan siang bersama Shou di restoran dekat
Shibuya.”
Saat Avaron
menyebut nama Shou, raut wajahnya seketika berubah menjadi marah. Lalu Yoriko
bertanya, “ada apa dengan Shou, Avaron-san, kalau aku boleh tahu...”
Lalu Avaron
menceritakannya dengan kebingungan yang amat sangat.
Begitu Avaron
menerima ajakan makan siang dari Shou, Avaron dengan senang hati menerima
karena dia sedang senggang. Dia sudah selesai mengurus rumah dan Yukio sedang
main di rumah neneknya yang tidak jauh dari rumahnya, Kai sendiri sibuk dengan
kegiatan bandnya.
Shou
menjemputnya dari rumah dan membawanya ke sebuah restoran khas Itali yang
suasananya tidak terlalu ramai di Shibuya. Begitu mereka turun dari mobil dan memasuki
restoran tersebut, seorang pelayan wanita menyambut mereka dengan ramah dan
membawa mereka ke meja yang sudah dipesan secara khusus oleh Shou di sudut
restoran.
Tidak berapa
lama kemudian mereka sudah menikmati makan siang mereka. Avaron ingin bertanya
kenapa Shou tumben sekali mengajaknya pergi makan siang berdua, tetapi ia masih
sibuk dengan lasagna yang ia makan. Ternyata selera Shou dalam memilih restoran
bagus juga.
“pelan-pelan,
kau bisa tersedak nanti.” Shou mengingatkan. Dibanding Avaron yang lahap, Shou
lebih pelan menikmati pasta sayurannya.
Mengikuti
anjuran Shou, Avaron menurunkan kecepatan makannya lalu berkata, “tidak
biasanya kau mengajakku makan siang. Apalagi kau pasti sibuk, kan?”
“aku sedang
ingin ditemani. Tidak boleh?” Shou menjawab dengan datar seperti biasanya.
Tidak terdengar seperti seseorang yang benar-benar ingin ditemani makan siang.
“tidak
masalah asalkan kau yang membayar makanannya.” Avaron mencoba bercanda. Tapi
reaksi Shou hanyalah diam. Dan Avaron tidak kaget dengan itu.
“kudengar
dari Tora kalian akan mengadakan hanami bersama-sama.” Avaron sekarang mencoba
untuk membuka pembicaraan, menyadari bahwa Shou sama sekali tidak akan
melakukannya.
“hmm...”
gumam Shou sambil terus mengunyah pastanya.
“kapan?”
Shou menelan
pastanya lebih dulu sebelum menjawab, “kami baru sempat melakukannya awal bulan
depan.”
“apa?” Avaron
kaget. “memangnya kalian tidak takut? Bukankah bulan depan sakura sudah mulai
gugur.”
“menikmati
hanami di hari terakhir ada sensasinya sendiri, Avaron...” ujar Shou. “lagipula
aku akan cukup sibuk beberapa hari sebelumnya.”
“oh...” nafsu
makan Avaron sekarang menurun karena penasaran dengan cerita Shou. “sibuk
karena urusan band?”
“tidak.
Sepupuku meneleponku beberapa hari lalu. Dia bilang dia sedang ada di Jepang
minggu ini. Besok dia akan datang ke apartemenku untuk menginap beberapa hari.”
Ketika Shou menyebut sepupunya, ekspresi jengkel terlihat jelas di wajah Shou.
“kenapa?”
Avaron menyadari Shou sepertinya tidak menyukai sepupunya. “bukankah itu bagus?
Ada saudara menginap di tempatmu. Kau jadi punya teman, bukan?”
“hah, kau
tidak tahu sepupuku seperti apa.” Shou mendengus kasar. “dia seperti mimpi
buruk bagiku, bahkan sejak aku masih kecil.”
“wow,
memangnya dia sehebat apa sampai kau ciut padanya?” Avaron semakin tambah
penasaran. Dia selalu ingin tahu siapa saja orang yang bisa membuat seorang
Shou yang besar kepala, dingin, dan keras kepala menjadi takut dan ciut dengan
mudah.
“dia tidak
sehebat itu. Orang lain termasuk ayahku sering sekali menyanjungnya, selalu
membeda-bedakanku kenapa aku tidak pernah menjadi seperti dia.” Shou ingat
ucapan ayahnya tentang kenapa Shou lebih memilih menjadi anggota band sangat
bodoh daripada mengikuti jejak sepupunya.
“seperti apa
sepupumu?”
“dia seorang
dokter. Dia bekerja dan tinggal di Inggris lalu kembali kesini karena rindu
kampung halamannya. Katanya dia akan pindah kerja di rumah sakit di Tokyo. Dia
bilang sebelum dia sudah pasti mendapatkan posisinya di rumah sakit, ia akan
menginap di apartemenku untuk sementara waktu. Aku heran kenapa dia tidak
tinggal saja di rumah orang tuaku. Aku yakin mereka pasti akan memanjakannya.”
Shou bercerita dengan cepat.
“pantas saja
ayahmu sering membandingkan kalian...” Avaron ingat dulu Shou dan ayahnya
jarang akur, tapi ia tidak tahu mereka masih terus begitu sampai sekarang.
“apa dia
seorang pria atau wanita?”
“pria.
Menurut gadis-gadis yang biasa bertemu dengannya dia cukup tampan. Tapi ayolah,
dia berkacamata, berpenampilan seperti orang tua, masa dia bisa dibilang
tampan?” kata Shou sewot.
Avaron
tertawa kecil. “sepertinya ada yang iri...”
“aku tidak
iri.” Bantah Shou.
“aku tidak
menyebut namamu, Shou.” Tawa Avaron menjadi semakin kencang. “baiklah, karena
kau menyinggungnya, kalau kau tidak iri, kenapa kau benci sekali padanya? Tapi
tunggu, dia tinggal di Inggris, bukan? Yang kudengar, orang Inggris adalah
orang yang sopan dan anggun. Bisa jadi mereka jatuh hati pada sepupumu karena
itu.”
“aku tidak
peduli dia disukai oleh banyak wanita atau tidak. Aku tidak suka dia menginap
di rumahku.” Shou menegaskan.
“kalau
begitu, kau tinggal hubungi dia dan bilang kau tidak ingin dia menginap di
rumahmu. Mudah, bukan?”
“tidak bisa.
Nanti dia akan mengadu ke ayahku dan ayahku pasti akan memaksaku supaya dia
bisa menginap di tempatku. Dia pasti ingin aku terpengaruh oleh sepupuku.” Duga
Shou.
“aku akan
membayar berapa pun agar aku bisa melihatmu bersikap sopan, anggun, dan
beribawa karena ‘pengaruh’ sepupumu, Shou.” Semakin kesal Shou, Avaron akan
semakin tertawa terbahak-bahak.
“diamlah!”
seru Shou. “aku tidak suka kau menertawakan ini!”
Avaron pun
diam. Baru pertama kalinya Shou membentaknya secara sungguh-sungguh. Ia pun
sadar kalau Shou yang sekarang bukanlah Shou yang dulu lagi, yang selalu
membalas ejekan dan candaan Avaron dengan cara yang sama juga.
“maaf, aku
tidak bermaksud menertawaimu...” Avaron meminta maaf. “kupikir... saat kau
mengajakku makan siang tadi, aku bisa bercanda denganmu lagi seperti dulu.
Ternyata memang tidak bisa, ya..”
“bukan
begitu, Avaron...” Shou jadi gugup. “aku cukup stress. Banyak sekali sesuatu
yang menjengkelkan di sekitarku. Bukankah sudah cukup berat urusan band,
konser, dan sebagainya? Sekarang bebanku ditambah sepupuku yang selalu
menggangguku dan...” Shou nyaris saja mengucapkan nama Yoriko Ishihara. Tunggu,
kenapa dia nyaris mengucapkan nama itu?
“dan apa?”
Avaron menantikan terusan kata-kata Shou.
“tidak, tidak
apa-apa...” Shou langsung mengelak dan berhenti. “pokoknya, aku mengajakmu
kemari hanya untuk makan siang. Aku tidak butuh ejekanmu, Avaron.”
Avaron tidak
membalas kata-kata Shou lagi. Dia tahu Shou sedang marah dan tidak ingin
diganggu lagi, jadi mereka menghabiskan sisa makan siang dalam diam.
Di sisi lain,
dalam diam Shou memikirkan kenapa dia bisa terpikirkan sosok Yoriko? Memang,
Yoriko selalu mengganggunya sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi kenapa?
Shou bisa saja mengabaikan dia, bukan? Dia hanya perlu menganggap Yoriko
sebagai orang biasa yang berlalu begitu saja dan Shou tidak akan peduli.
Ayolah, dia
hanya gadis aneh dan penyendiri yang bekerja sebagai asistennya. Kenapa Shou
harus memberikan perhatian khusus kepadanya? Kenapa Shou selalu tertarik pada apapun
yang Yoriko lakukan? Seperti saat mereka membincangkan soal acara hanami waktu
itu. Kenapa dia harus peduli Yoriko tidak menyukai bunga sakura? Dia memang
gadis gotik, tidak heran jika dia tidak menyukai bunga sakura. Tapi kenapa
harus sampai seperti itu Shou memaksanya untuk datang? Kenapa Shou sampai
bertanya padanya kenapa ia tidak menyukai hanami?
Atau mungkin
karena Yoriko dan sepupunya itu sama-sama orang aneh? Pasti karena itu.
“Avaron...”
panggil Shou.
“ya?”
“maaf aku
membuatmu kesal. Tidak seharusnya aku begini...” Shou menyesal. Tidak
seharusnya dia membawa Avaron ke dalam masalah pribadinya. Avaron tidak tahu
apa-apa, dan Shou tidak ingin kehilangan wanita ini. Wanita ini masih merupakan
salah satu penentu hidupnya. Tanpanya, Shou tidak akan mempunyai tumpuan hidup.
“tidak apa,
Shou...” Avaron meraih tangan Shou yang mengepal kencang di atas meja. Karena
sentuhan Avaron, tangan yang tadinya dingin itu menjadi luluh dan terasa
hangat. “aku paham...”
Hanya dengan
sebuah sentuhan, Shou merasa tenang. Rasanya seluruh pikiran dan jiwanya yang
keruh langsung menjadi jernih saat Shou merasakan sentuhan tangan itu. Shou
membalas genggaman tangan Avaron lebih erat, dan ia tidak ingin melepasnya.
“mengerti
kan, maksudku? Dia berubah menjadi semakin aneh sekarang. Mungkin karena dia
terlalu memikirkan bandnya atau sepupunya yang menurutnya menyusahkan. Tapi aku
penasaran dengan sepupunya itu... kau pernah tinggal di Inggris, kan, Yoriko?
Bagaimana orang-orang disana?” Avaron terus bercerita tanpa menyadari Yoriko
tidak terlalu memperhatikan karena dia memikirkan sikap Shou yang diceritakan
Avaron barusan.
“ngg...” Yoriko
mencoba menjawab sesuai pendapatnya. “mereka orang yang sangat ramah dan sopan.
Penampilan mereka selalu rapi dan banyak juga yang bergaya gotik sepertiku.
Tapi menurutku, karena dia orang Jepang yang lama tinggal disana, dia pasti
orang yang lebih sopan dan tidak banyak macam-macam. Apalagi dia seorang
dokter, bukan?”
“aku baru
tahu Shou mempunyai sepupu yang tinggal di luar negeri. Memang dia anak orang
kaya, tapi cukup kaget saja. Shou sungguh berbeda jauh daripada anggota
keluarganya yang lain.” Komentar Avaron.
“mungkin
karena itu dia merasa tertekan? Karena dia berbeda, anggota keluarganya mungkin
akan membicarakannya atau seperti ayahnya, membandingkannya dengan sepupunya
itu.”
Avaron
mengangkat bahu. “mungkin... tapi yah, kurasa biar Shou saja yang menyelesaikan
masalahnya. Sepertinya dia tidak membutuhkan bantuanku.”
Yoriko hanya
tersenyum sebagai responnya kepada Avaron. “oh, aku sudah membereskan semuanya.
Aku sudah tidak ada pekerjaan lagi sampai nanti malam. Jadi bolehkah aku
menulis, Avaron-san?”
Avaron
mempersilakan. “ya, tentu saja. Aku ingin kau cepat-cepat menyelesaikan karyamu
supaya aku bisa membacanya. Kalau begitu, aku ke lantai atas dulu, ya. Aku
ingin menyapa Dokter Inoue.”
Setelah
Avaron berlalu, Yoriko menyalakan laptopnya yang sudah ada di atas meja kasir.
Sambil mendengarkan lagunya Collide yang bergenre gotik elektro, Yoriko
melanjutkan menulis novelnya.
Saat jam makan siang tiba, Spencer yang
tadinya ingin pergi ke restoran cepat saji favoritnya yang terletak tidak jauh
dari kepolisian bertemu Samantha Force yang kebetulan berpapasan dengannya di
dekat lapangan parkir kantor. Wanita itu terlihat baru saja keluar dari mobil
Mercedes miliknya. Mobil yang cukup mewah untuk seorang yang bekerja di
kepolisian.
Melihat Spencer, wanita cantik berambut
pirang itu langsung memanggil namanya. Ia berlari mengejar Spencer dan
mengajaknya mengobrol.
“hei, kau mau kemana?”
“aku ingin makan siang.” Jawab Spencer.
“boleh aku ikut? Aku tidak sempat sarapan
karena inspektur menyuruhku mencetak foto-foto TKP dan harus diserahkan hari
ini.” pinta Samantha yang tentu saja tidak dapat ditolak oleh Spencer.
Sesampainya di restoran, mereka mengambil
tempat duduk di counter restoran dan langsung memesan. Spencer memilih cheese
burger dengan kentang goreng sedangkan Samantha memesan tuna sandwhich.
Sembari menunggu pesanan, Samantha mengajak
Spencer mengobrol. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua sejak
putusnya hubungan mereka. Samantha sadar seharusnya dia tidak mengganggu
Spencer lagi yang sekarang adalah mantannya, tetapi dia masih ingin berteman
baik dengan pria ini. Kandasnya hubungan mereka bukanlah kemauan Samantha.
“bagaimana kabar kasus? Sudah ada
perkembangan?” tanya Samantha.
“kami hampir mendapatkan tersangka, berkat
profil yang dibuat Judy Hunters. Tapi sayangnya tersangka itu sulit sekali
dicari jejaknya.” Jawab Spencer sambil menyeruput kopi hangatnya yang baru saja
dituangkan oleh pelayan restoran.
Samantha mengangguk mengerti. “bicara soal
Hunters, aku mendengar gosip kalian cukup dekat. Dan kurasa aku harus
membenarkan gosip itu.”
Spencer nyaris tersedak dari kopinya. “sejak
kapan ada gosip aneh seperti itu? Kami tidak pernah dekat. Dia hanya cukup
berguna di tim, aku sering mengganggunya dengan meminta hasil profil dan
sejenisnya. Tidak ada yang istimewa.”
Samantha terkikik geli. “kau tidak perlu
sedefensif itu, Spencer. Aku tahu itu hanya gosip dan aku juga hanya ingin
menggodamu.”
Spencer menggelengkan kepalanya. Wanita ini
tidak pernah berubah.
“tapi menurutku kehadirannya di kepolisian
cukup menarik perhatian. Ada beberapa pria di divisiku yang tertarik padanya
karena penampilan nyentriknya itu. bagiku dia juga cukup cantik. Aku tidak
heran jika suatu saat kau menyukainya.”
Spencer heran. Kenapa Samantha bisa begitu
mudahnya berkata ia akan menyukai Judy Hunters, wanita berambut aneh yang tidak
jelas itu? Spencer ingin tahu apakah Samantha masih memiliki perasaan yang sama
sepertinya? Secepat itukah Samantha melupakan hubungan mereka dulu?
“kenapa kau berkata begitu?” tanya Spencer
dengan nada tersinggung.
“oh, maaf, Spencer...” Samantha tidak enak
hati. “kupikir kau... maksudku, kita harus melupakan semuanya dan kembali
menjalani hidup. Aku tidak ingin kau...”
“kau yang meninggalkanku, Samantha. Mudah
bagimu untuk mengucapkan itu.” kata Spencer. “kau tidak tahu betapa hancurnya
aku saat kau memutuskan untuk memilih pria itu sebagai tunanganmu.”
“i... itu bukan kemauanku, Spence. Kau tidak
tahu keluargaku...” Samantha mencoba menjelaskan.
“kau sudah bukan anak kecil lagi, kau bisa
mengambil keputusan untukmu. Kau pikir aku tidak mencoba untuk melupakan semua
itu, Sam? Tidak bisa.” Spencer memegang erat tangan Samantha dan menatap wajah
Samantha lekat-lekat.
“kau hanya belum berusaha keras, Spencer. Maaf
jika keputusanku menyakitimu, aku sendiri masih belum bisa melupakanmu, masih
ada rasa cinta padamu yang kurasakan...”
“selama kau masih memakai itu, Sam...”
Spencer menunjuk cincin tunangan di jari manis Samantha. “maaf, aku sulit untuk
memercayai itu.”
“Spence...” Samantha hanya bisa menyebut
namanya. “maafkan aku...”
“sudah terlambat, Sam... aku harap dia bisa membahagiakanmu
lebih baik daripada aku.”
Mendadak Spencer kehilangan nafsu makannya.
Tanpa menunggu makanannya tiba terlebih dulu, ia mengeluarkan dompet dari saku celananya
dan menaruh sejumlah uang tunai di atas counter untuk membayar cheese burgernya.
Ia lalu mengambil tas ranselnya dan pergi meninggalkan Samantha yang terpaku
menahan air matanya disana.
***
Sejenak
Yoriko berhenti menulis. Dia membaca lagi adegan yang baru saja ia tulis,
adegan antara Spencer Williams dan Samantha Force. Adegan yang cukup singkat,
tapi sangat mengena di hatinya.
Yoriko sudah
terbiasa menempatkan posisinya seperti berada di dalam cerita, memperhatikan
bagaimana Spencer yang dengan pedih meninggalkan Samantha di restoran cepat
saji itu. Tapi kenapa dia merasakan rasa sakit itu? Kenapa dia bisa merasa
tertusuk saat membayangkan Spencer menggenggam erat tangan Samantha?
Tidak, rasa
sakit ini bukanlah karena ia terbawa oleh adegan yang ia buat sendiri, rasa
sakit itu nyata. Ia merasakan dadanya sesak. Seketika itu juga, setitik air
mata mengalir di wajahnya.
Ada apa denganmu, Yoriko? Tanya Yoriko
dalam hati. Kenapa ia tiba-tiba begini?
Semakin ia
memikirkannya, rasa sakit itu semakin memenuhi dadanya. Membuatnya semakin
kesulitan bernapas. Seakan tidak cukup, perasaan aneh itu memuncak di
kepalanya. Mendadak kepalanya menjadi sakit tidak karuan tanpa sebab.
Yoriko
berdiri dari duduknya, mencoba berjalan menuju lokernya untuk mengambil aspirin
yang biasa ia bawa kalau-kalau dia mengalami pusing ini lagi. Tapi ia tidak
sanggup.
Semakin tidak
tahan dengan rasa sakitnya, Yoriko mengerang pelan. Tangannya meraih rak
pajangan sebagai pegangan agar ia tidak jatuh. Namun sayangnya, ia terlambat. Tidak
kuat dengan beban yang dirasakannya, akhirnya tubuhnya semakin lemas dan ia pun
roboh ke lantai, tidak sadarkan diri disana...
No comments:
Post a Comment