Wednesday, June 12, 2013

The Delusion (5)

5

“hoho!” Tora heboh ketika Shou bercerita tentang kejadian tiga hari lalu saat mereka sedang makan siang di restoran cepat saji dekat kantor PSC. “dia memberi nama kucingmu Chirori!?”

Shou hanya mengangkat bahunya. Dia mengambil fish burger dari nampan di atas meja seraya berkata, “lebih baik kuberi nama itu karena aku tidak mempunyai ide sama sekali. Avaron menyuruhku memberi kucing itu nama lucu. Kalau tidak, dia tidak akan membantuku mengurus sertifikat adopsi Chirori.”

“kenapa rasanya terdengar sedikit licik, ya?” sindir Tora.

“maaf aku tidak bisa sekreatif dirimu dalam memberi nama kucing.” Sindir Shou balik.

“ayolah, Chicken itu nama bagus untuknya.” Tora menyebut nama kucing miliknya. Dia tidak peduli ditertawakan oleh teman-teman bandnya karena nama aneh itu.

Shou menggigit fish burger nikmat miliknya sambil mengingat kembali kejadian semalam. Kedatangan seorang wanita malam-malam ke apartemennya memang sudah biasa. Cukup banyak wanita yang datang ke apartemennya. Biasanya mereka teman-teman Tora atau Saga. Dua sahabatnya itu mempunyai banyak kenalan. Tujuan mereka membawa para wanita dan gadis itu ke apartemennya adalah mereka ingin mengenalkan Shou. Mereka berpikir Shou harus bertemu dengan wanita agar dia mau melupakan kesedihan yang Shou pendam selama bertahun-tahun. Tapi sayangnya tidak berhasil. Di mata Shou mereka semua sama. Semuanya selalu berpura-pura di depannya. Kalaupun ada yang tidak, mereka tetap tidak bisa mendapatkan perhatian lebih dari Shou. Mereka hanya datang dan pergi begitu saja. Shou bahkan tidak pernah ingat nama mereka.

Namun lain ceritanya pada Yoriko. Shou memang belum kenal lebih jauh soal wanita itu, tetapi ada sesuatu di dalam diri Yoriko yang sedikit mengangkat rasa penasarannya. Apa karena penampilannya yang nyentrik? Shou sering melihat wanita yang berdandan seperti Yoriko kemanapun dia pergi. Atau karena dia sudah berkeliling dunia? Shou mengenal banyak wanita yang sering berkeliling dunia, bahkan ke negara yang mungkin belum pernah dikunjungi Yoriko. Shou benar-benar tidak tahu jawabannya. Dia belum bisa mengetahui sebab mengapa Yoriko mempunyai daya tarik aneh itu.

Jawaban yang masuk akal mungkin adalah karena dia datang malam-malam, berpakaian seperti ingin ke pemakaman, membawa Chirori, dan sikap canggungnya. Mungkin.

Rasa garing yang diberikan daging ikan di balik fish burgernya juga mengingatkannya pada Yoriko. Ya, Yoriko memberinya ikan salmon untuk Chirori. Shou percaya Yoriko memberikan makanan ikan itu untuk kucingnya. Karena tadi pagi Chirori nyaris tidak memakan Whiskasnya. Dan tebakan Shou tepat saat dia memberikan daging salmon segar yang dibeli dari minimarket apartemennya, Chirori memakannya sampai habis tak tersisa.

Kejadian kecil itulah yang membuatnya tidak bisa melupakan sosok Yoriko. Walaupun begitu, Yoriko belum bisa menyembuhkan luka di hatinya. Ego Shou masih besar, dia masih diliputi perasaan tidak sehat itu. Harapan sia-sia yang masih disimpannya, kenangan yang terus-menerus dia putar di ingatannya tentang masa lalu, perasaan yang sulit memudar masih menguasai hatinya.

“hei, kita masih ada waktu istirahat satu jam lagi, kan?” kata Shou.

“ya. Memangnya kenapa?” jawab Tora sambil mencelupkan beberapa french fries ke dalam mangkuk kecil berisi saus sambal sebelum dia melahapnya sekaligus.

“aku ingin mengambil sertifikat adopsi ke petshop hari ini. kau mau mengantarku? Hari ini giliran kau yang membawa mobil, kan?”

“Shou, memangnya kau yakin ingin pergi kesana?” Tora khawatir. Dia tidak tahu Shou akan bereaksi apa kalau dia bertemu dengan Avaron lagi.

“aku hanya ingin mengambil sertifikat. Itu saja.” nada bicara Shou dan mimik wajahnya menunjukkan kalau kata-katanya barusan benar.

Tora pun percaya lalu setuju. “baiklah. Tapi setelah aku menghabiskan seluruh french fries ini.”

***

“ceritakan padaku saat kau berada di apartemennya. Kalian melakukan apa saja?” tanya Aya bersemangat pada Yoriko yang sedang menulis novelnya di meja kasir.

“Aya, kalau tidak salah kau sudah memintaku bercerta tentang itu semalam dan kemarinnya lagi.” Yoriko mengingatkan. “dan aku menceritakan semuanya. Apa lagi yang ingin kau tahu?”

“kau menceritakannya singkat sekali, Yoriko. Hanya bagian dia terlihat kaget ketika melihatmu berdiri di depan pintu apartemennya dan kucingnya yang menurut sekali padamu.” Aya masuk ke dalam meja kasir, dia berdiri di samping Yoriko.

“tidak banyak yang bisa kuceritakan. Pertemuanku dengannya tidak sampai 5 menit karena...” Yoriko agak ragu untuk meneruskan karena akan terdengar konyol. “aku mendengar microwave di dapurnya berdenting. Itu berarti saat aku datang dia sedang menanti makanannya, bukan?”

“hanya itu? Hanya itu?” mata Aya terbelalak tidak percaya. “Yoriko, kau bisa melakukan lebih dari itu!”

“memangnya kau ingin aku melakukan apa?” Yoriko bertanya polos, membuat Aya ingin membenturkan kepalanya ke dinding.

“entahlah. Kau bisa mengajaknya berkenalan, meminta nomornya, atau apalah. Dia sebenarnya orang baik, kau hanya perlu mendekatinya lebih jauh saja.” kata Aya.

“aku tidak yakin. Waktu itu dia menatapku dingin sekali, seperti terganggu akan kedatanganku. Tapi aku tidak heran. Aku memang aneh.” Yoriko mengangkat bahunya dengan cuek.

“bahkan dengan penampilan nyentrikmu dia masih tidak tertarik?” Aya menunjuk pakaian yang dikenakan Yoriko sekarang. Kemeja biru tua bergaris tipis dilapisi elaine dress hitam setengah paha. Dia mengenakan legging berbahan stocking dan sepatu gothic platform heels berwarna hitam juga.

“justru karena itu, Aya...” Yoriko memasang wajah datar.

“dia pasti pernah melihat banyak gadis berpenampilan sama sepertimu. Tidak mungkin dia menganggapmu aneh.” Aya memertahankan pendapatnya.

“kalau begitu, kenapa kau tidak tanyakan ke dia saja apa aku aneh atau tidak. Kau tidak akan mendapatkan jawaban memuaskan kalau kau terus berbicara denganku.” Yoriko sedikit kesal karena Aya terlalu ingin menjodohkan Shou dengannya.

“tanyakan ke siapa?” tahu-tahu sebuah suara berat khas pria menimpali pembicaraan mereka. Yoriko dan Aya nyaris saja meloncat karena kaget saat melihat Shou dan Tora sudah berdiri di depan mereka begitu saja dengan wajah ingin tahu, tentunya.

“sejak kapan kalian masuk?” tanya Aya sambil berusaha menghilangkan rasa kagetnya.

“kalian tidak sadar?” Tora tidak percaya. “mungkin kalian tadi sedang asyik mengobrol sampai tidak melihat kami masuk.”

“mungkin...” Yoriko tersenyum dibuat-buat berharap dua orang ini tidak mendengar pembicaraan mereka. “ada yang bisa kami bantu?”

“ya, aku ingin mengambil sertifikat adopsiku. Apa sudah jadi?” tanya Shou tetap dengan nada bicara khasnya. Datar.

“oh...” Yoriko langsung teringat. “tadi pagi sebelum Avaron-san pergi dia menitipkan surat penting di sekitar sini...” Yoriko membuka laci meja kasir dan mengacak-acak isinya, mencari sertifikat yang dititipkan Avaron karena dia tidak bisa menjaga toko hari ini. Bodohnya, Yoriko lupa dimana dia menaruh surat penting itu.

“sial... dimana, ya?” gerutu Yoriko pelan karena tidak menemukan surat itu. Dia membuka laci sebelah.

Saat Yoriko sibuk mengacak-acak keenam laci meja kasir termasuk laci penyimpanan uang hasil penjualan (Yoriko berpikir dia menaruhnya disana karena surat itu sama berharganya seperti uang), Aya merasa ini adalah kesempatan untuk Yoriko melakukan sesuatu.

“Tora-san.” Panggil Aya. “aku dan Yoriko belum membeli makan siang. Kau mau menemaniku? Kurasa Yoriko sedang tidak bisa diajak pergi.” Aya memberikan isyarat tersembunyi melalui pandangan matanya pada Tora.

Tora sedikit tidak mengerti dengan isyarat dari Aya. Dia dan gadis ini pernah bertemu beberapa kali. Mereka berkenalan di pesta pernikahan Avaron dan Kai 4 tahun lalu. Melalui perkenalan itu, Tora dan Aya membicarakan soal Shou yang masih mencintai Avaron. Dan saat pertemuan mereka yang terakhir di petshop ini beberapa bulan sebelumnya, mereka tahu kalau Shou masih merasakan hal sama.

Tora berbeda dari Shou yang tidak peka. Jadi dengan berpikir sebentar dia langsung tahu apa yang dimaksudkan oleh Aya. Lagipula, dia berpendapat kalau Yoriko kelihatannya seorang wanita baik-baik dan nampak cocok untuk Shou. Tidak ada salahnya memberi mereka berdua kesempatan.

“aku sudah makan siang.” Tora sedikit berakting seolah dia tidak tahu apa-apa. “tapi kurasa aku bisa menemanimu, Aya-chan.”

“bagus. Kau suka es krim, bukan? Aku tahu kedai yang menyediakan es krim enak. Kau pasti akan betah disana.” Aya keluar dari meja kasir dan menarik lengan Tora. “kau mau ikut, Shou-san?” Aya bersikap netral, mengajak Shou bergabung padahal dia tahu sahabatnya yang berambut cokelat itu tidak bisa.

“tidak. Aku harus menunggu sertifikatku dulu.” Shou menolak.

“bagaimana denganmu, Yoriko?” tanya Aya.

“tidak! Kalian duluan saja!” jawab Yoriko dari bawah meja. Dia mengangkat tangannya sehingga hanya tangan itulah yang terlihat di balik meja. “aku titip es krim rasa vanilla kalau ada. Maaf!”

Yang Yoriko tidak tahu, Aya dan Tora meninggalkan petshop dengan menahan tawa karena tingkah Yoriko barusan.

Sepeninggal Aya dan Tora, Shou masih berdiri di depan meja. Menanti sosok Yoriko muncul ke permukaan dengan sabar, berharap wanita itu akan mendapatkan sertifikat adopsi miliknya.

Beberapa detik kemudian, Yoriko akhirnya bangkit. Wajahnya terlihat bingung karena sertifikat itu tidak dapat ditemukan.

“maaf, Shou-san. Kau mau menunggu sebentar? Mungkin dokumen itu ada di loker belakang.” Yoriko meminta waktu.

Shou hanya menjawab dengan isyarat tangannya, mempersilakan Yoriko pergi ke belakang. Yoriko langsung berlari kesana begitu dia mendapatkan izin.

Supaya dia tidak lelah karena terlalu lama berdiri, dia berjalan ke balik meja kasir dan duduk di bangku yang ada. Dia tidak tahu harus melakukan apa agar dia tidak menanti Yoriko dengan termangu begitu saja. Dia menghela nafas dan merosotkan bahunya. Matanya menerawang ke seluruh sudut petshop yang terlihat dari sudut pandang tempat duduknya sekarang.

Membuatnya kembali teringat saat-saat dia masih bekerja disini. Dulu petshop ini tidak sebagus saat dia bekerja dulu. Dan dia merasa bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Dia teringat 4 tahun lalu dia masuk ke petshop untuk melamar pekerjaan disini, baru hari pertama dia sudah mengejek Avaron, calon atasannya. Setelah itu, selalu terjadi pertengkaran dan perdebatan aneh di antara mereka berdua. Suka duka mereka alami bersama di petshop ini.

Dia juga masih ingat saat dia pertama kali bertemu Kai dari band The Gazette. Idola Shou juga sekaligus suami Avaron. Dia rindu masa-masa itu. Saat itu, dia masih dengan polosnya mengidolakan orang itu. Tapi sekarang, perasaan kagum itu hilang entah kemana. Yang ada hanyalah perasaan iri yang tidak akan pernah diakui oleh ego besar Shou setiap kali dia bertemu pria itu di kantor manajemennya atau di tempat konser.

Sekarang dia merasa mungkin kata Avaron waktu itu benar, lebih baik dia tidak usah tahu segalanya tentang wanita itu karena hanya akan merusak rasa kekagumannya pada Kai dan keempat temannya.

Seandainya kalau dia tidak kenal Avaron mungkin dia tidak akan sengsara seperti ini. Mungkin dia hanya akan menjadi seorang pria yang tergila-gila pada musik dan visual kei, tampil di panggung kafe biasa, dan mempunyai ketenaran yang biasa juga. Hal itu terasa lebih baik saat dia membayangkannya.

Masih membayangkan soal khayalan itu, Shou menopang dagunya di atas meja kasir. Samar-samar dia mendengar suara Yoriko mengacak-acak sesuatu di belakang. Sesekali suara umpatan dan gerutuan tidak jelas ikut terdengar. Shou tahu banyak umpatan-umpatan dan sumpah serapah dalam bahasa Jepang, tapi dia sama sekali tidak tahu Yoriko mengumpat dalam bahasa apa di dalam sana, padahal Shou yakin pendengarannya masih tajam.

Bosan memandang lorong petshop, dia melihat ke arah lain. Shou menyadari sebuah laptop Apple hitam dalam keadaan menyala ada di sebelahnya. Karena belum lama ditinggal, laptop itu belum berganti mode ke stand by. Terlihatlah tulisan Yoriko yang lupa ditutup olehnya. Penasaran, Shou melihat dan membaca sedikit potongan tulisan itu. Rupanya Yoriko seorang penulis atau novelis, dan tulisannya baru mencapai beberapa bab. Saat ini sudah mencapai bab kelima.

Tokoh-tokoh yang digambarkan Yoriko di bab itu menarik Shou untuk terus membacanya. Judy Hunters dan Spencer Williams. Nama yang menarik.

*** 

Berkunjung pada pukul 10 malam seperti ini bukanlah ide baik untuk Judy Hunters yang sekarang tinggal di kota kecil yang penduduknya suka bergosip. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus secepatnya memberikan hasil analisisnya pada Spencer Williams hari itu juga. Judy sampai lembur di kantor hanya untuk menyelesaikan profilingnya mengenai tersangka. Dia juga ingin membuktikan dirinya pada Spencer kalau dia mampu.

Turun dari mobil Toyota kecil miliknya yang dia parkir di halaman rumah Spencer Williams, dia menuju teras. Sesampainya di depan pintu, dia menekan bel rumah beberapa kali. Judy memperhatikan rumah Spencer ini bisa dibilang bagus. Rumah ini didominasi warna putih dan bergaya modern minimalis. Rumput hijau menghiasi halaman yang tidak ditanami bunga apapun.

Lalu pintu dibuka. Muncullah Spencer dengan memakai kaos oblong hitam dan celana selutut. Rambutnya yang selalu rapi karena disisir terlihat berantakan namun tidak mengurangi ketampanannya. Sungguh berbeda dari yang Judy biasa lihat sehari-hari di kantor polisi.

“ngg... aku membawa ini.” Judy menyerahkan amplop ukuran A4 berisi analisisnya. “kau ingin aku menyerahkannya hari ini juga, kan? Dan jangan ditolak. Aku lembur di kantor hanya untuk mengerjakan itu.”

Dengan tampang mengantuk Spencer mengambil amplop itu. Spencer membukanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya.

“boleh juga...” komentar Spencer setelah dia membaca analisis Judy, padahal Judy tahu kalau Spencer bisa berkomentar lebih baik daripada itu.

“kau tidak akan mengizinkan aku masuk? Disini dingin sekali.” Judy mengingatkannya pada sesuatu.

Spencer mendelik ke Judy. Judy bisa membaca maksud dari delikan mata itu. “tenang saja, aku tidak akan macam-macam.”

Percaya dengan ucapan Judy, Spencer pun mengizinkan wanita itu masuk. Begitu masuk, Judy langsung memperhatikan suasana dalam rumah Spencer. Semuanya sederhana, layaknya rumah seorang bujangan. Di meja ruang TV terdapat sisa makanan microwave. Judy menebak Spencer pasti orang yang malas memasak. TV menampilkan acara film drama kriminal, dan cahaya ruangan remang-remang membuat pandangan Yoriko hanya sampai ruangan itu saja.

“wow. Boleh juga, untuk rumah seorang bujang...” Judy sedikit menyindir Spencer. Tapi pria itu tidak mengindahkan sindirannya. Dia hanya menyuruh Judy duduk di sofanya, dan Spencer duduk di sebelahnya.

“walaupun sang istri mati ditusuk, menurutku si suami atau pelaku masih menyayanginya.” Judy menjelaskan analisisnya tanpa diminta. “bisa kau buktikan dari pola tusukannya. Dia terlihat ragu.”

“kalau begitu kenapa si suami kabur? Jika dia merasa bersalah, bukankah harusnya dia menyerahkan diri atau setidaknya ‘mengurus’ jasad istrinya?” tanya Spencer.

“kurasa dia pasti mempunyai alasan lain...” jawab Judy. “mungkin kalau aku diizinkan pergi ke TKP, aku bisa menemukan beberapa petunjuk untuk itu.”

“baiklah...” Spencer akhirnya setuju juga. “kau bisa kesana besok pagi. Jangan lupa pakai sarung tangan.”

“tidak usah diingatkan lagi.” Judy tersenyum bangga. “jadi aku tidak sebodoh yang kau pikir, kan?”

Ketika Spencer ingin membalas sarkasme dari Judy, dia mendengar suara mengeong dari kucing peliharaannya. Kucing itu ada di dekat ujung kakinya. Kucing itu berjenis persia, bulunya putih dan bermata biru. Kucing lucu itu mencakar kaki Spencer, namun tidak membuat majikannya kesakitan atau lecet.

“aku juga baru tahu kalau kau punya kucing.” Judy tidak menyangka. Tanpa ragu Judy mengangkat kucing itu ke pangkuannya.

“jangan dekat-dekat dengannya. Dia galak pada orang asing, dia bisa mencakarmu kalau dia mau.” Spencer menakut-nakuti Judy. Tapi sebaliknya, kucing itu malah terlihat nyaman di pangkuan Judy. Wanita berambut merah stroberi itu membelai punggung si kucing, sehingga kucing itu melingkarkan tubuhnya dan semakin manja.

“siapa namanya?” tanya Judy ke Spencer.

“T-Rex. Dia biasa kupanggil Rex.” Jawaban Spencer langsung membuat Judy menahan tawanya, tapi wanita itu tidak bisa menahan lebih lama sehingga tawa itu semakin kencang saja.

“apa? Namanya Rex? Lucu sekali. Kau tahu tidak, nak?” Judy mengangkat Rex tinggi-tinggi. “namamu sama seperti nama dinosaurus terganas yang punah jutaan tahun lalu padahal kau seimut ini!”

“hei, turunkan dia. Dia ketakutan melihatmu, tahu!” seru Spencer. Dia mengangkat tangannya agar bisa meraih tangan Judy untuk menurunkan Rex. Setelah Judy menurunkan Rex, Judy teringat sesuatu.

“rasanya aku masih membawa sisa sandwich dagingku tadi siang.” Judy mengambil tas ransel yang ada di sebelahnya, mengambil sandwhich daging yang ada di dalam kantung plastik transparan dan masih tersisa setengah. “kau bisa mengambil dagingnya, Rex...”

Tanpa disuruh lagi, Rex mengacak-acak isi plastik tersebut sampai dia menemukan daging sapi yang dia endus saat mencari tadi. Rex meloncat turun dari Judy lalu makan sandwich tersebut dengan tenang di lantai.

“Spencer, dia benar-benar imut. Kau beruntung sekali bisa memilikinya.” Judy memuji Rex. “dimana kau mendapatkannya?”

“dia...” Spencer ragu untuk menjawab. “dia anak dari kucing peliharaan mantan pacarku...”

Judy mengerti setelah melihat raut wajah Spencer yang mendadak berubah. Dia jadi tidak enak hati karena sudah menyinggung soal Samantha. “oh... maaf... aku tidak tahu...”

“sudahlah, itu sudah kejadian lama. Santai saja...” Spencer berusaha terlihat baik-baik saja. “terima kasih untuk dagingnya.”

“sama-sama.” Judy berdiri dan memutuskan untuk pergi. Situasi sudah mulai terasa sangat canggung sekarang. “kurasa... lebih baik aku pergi. Maaf mengganggumu malam-malam. I’ll... see you at the office...”

“ya, sampai jumpa besok. Kau bisa ke pintu sendirian, kan?”

“ya, tidak masalah...” ujar Judy seraya berjalan meninggalkan ruang TV.

*** 

“akhirnya kutemukan juga!” seruan riang Yoriko mengembalikan Shou ke dunia nyata setelah dia membayangkan adegan antara Spencer Williams dan Judy Hunters. Sekilas, adegan tadi memang terlihat biasa-biasa saja. Pembicaraan antara tokoh wanita dan tokoh pria yang terdengar membosankan. Tetapi, ada sesuatu dari adegan itu yang sedikit menyentuh hati Shou, membuat dia yang seorang malas untuk membaca menjadi tertarik dan ingin membaca lanjutan ceritanya.

Tapi sebelum dia bisa berpindah ke bab lain dari naskah mentah itu, Yoriko tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya, mengulurkan tangannya yang membawa amplop berisi sertifikat adopsi untuk Shou.

“kau... membaca naskahku?” tanya Yoriko takut-takut karena dia tadi melihat Shou serius sekali menatap layar laptopnya.

“sedikit. Memangnya kenapa?” jawab Shou. Mendengar jawaban itu, Yoriko langsung menutup laptopnya tergesa-gesa tanpa dimatikan terlebih dulu.

“jangan dibaca! Ini belum selesai!” Yoriko menegur pelan Shou.

“salah sendiri tadi kau meninggalkannya begitu saja.” Shou tidak merasa bersalah.

“bukan begitu, tapi... aku tidak nyaman kalau ada yang membaca naskahku sebelum kureview kembali. Ini masih naskah mentah, masih jelek.” Yoriko menjelaskan walaupun alasan sebenarnya bukanlah itu. Dia tidak ingin Shou tahu kalau sosok Spencer Williams hampir 90% sangat mencerminkan diri pria itu. Yoriko tidak tahu Shou tadi membaca bagian mana, tapi kalau Shou tahu, Yoriko mungkin tidak akan berani lagi menampakkan dirinya di depan pria ini.

“oh, begitu.” Shou paham. “ya sudah, lain kali matikan laptopmu agar tidak ada orang melihat naskahmu.”

“akan kuingat itu. Terima kasih.” Yoriko menerima saran itu dengan nada sedikit sarkastik.

Shou mengambil amplop penting itu dari Yoriko lalu bertanya, “apa semuanya sudah lengkap disini?”

“kata Avaron-san sudah. Kau kan sahabatnya, dia langsung mengurus semua itu cepat-cepat. Jangan khawatir.” Jawab Yoriko. “oh ya, ngomong-ngomong, kau memberi nama kucingmu siapa?”

Sekarang giliran Shou yang gugup untuk menjawab. Kalau wanita ini tahu dia memberi nama kucingnya Chirori, dia akan sangat malu karena dia bersikap sangat dingin dan tidak tertarik ketika Yoriko memberi saran nama itu. Untuk masalah ini, tidak hanya egonya saja yang tinggi, gengsinya juga.

“sudah. Tapi kurasa kau tidak akan suka namanya.” Shou mencoba mencari alasan agar dia tidak harus menjawab pertanyaan itu.

“memangnya kenapa?” Yoriko mengerutkan dahi. Jawaban Shou malah membuat dia semakin penasaran.

“ah, tidak penting.” Shou mengeluarkan sikap dinginnya agar Yoriko tidak bertanya-tanya lagi. “sampaikan pada Avaron terima kasih.”

“ya, akan kusampaikan.” Yoriko mengangguk. Untuk menutupi rasa gugupnya yang dia rasakan daritadi, dia menghela nafasnya lalu bertanya, “masih ada lainnya lagi? Sambil menunggu Aya dan Tora-san mungkin kau ingin melihat-lihat mainan-mainan untuk kucing? Mereka ada di...”

“lorong ketiga, aku tahu itu.” Sambung Shou ketus. “kalau aku menginginkannya, aku sudah kesana daritadi.”

“ya, aku tahu itu.” Yoriko mengerti. Shou pasti tahu karena dia dulu pernah bekerja disini, tapi yang Shou tidak tahu, Yoriko tahu soal itu.

Karena sikap Shou yang dingin dan membuat Yoriko diam tidak tahu harus berkata apa lagi, atmosfer berubah semakin canggung saja. Shou mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mencari tahu apakah Tora dan Aya sudah berjalan kembali ke petshop ini. Sedangkan Yoriko, dia masih terus menatap Shou, menyimpan beribu pertanyaan yang tidak akan mungkin dia tanyakan ke Shou kalau orang ini tidak bersikap menyebalkan.

Namun pada akhirnya rasa penasarannya menang. Lalu Yoriko bertanya dengan nada sama dinginnya, “apakah itu kau, Shou?”

Shou menoleh ke Yoriko lalu menjawab bingung, “maksudmu?”

“setelah aku mendengar nama Alice Nine – apa aku mengejanya dengan benar? – aku langsung mencari tahu kau dan bandmu di internet dan majalah. Aku melihat fotomu tersenyum sangat ramah pada para penonton konsermu saat kau melakukan live yang aku tidak tahu kapan. Tapi setelah aku melihatmu seperti sekarang ini, aku jadi bertanya lagi pada diriku sendiri. Apa Shou yang ada di panggung itu kembaranmu atau semacamnya? Karena kulihat kalian berbeda sangat jauh.”

“aku melihatmu bersama Avaron-san. Kau juga bersikap sangat dingin dan cuek di depannya, padahal dia sahabatmu. Aku heran, apa karena kau sudah terkenal jadi kau melupakan semua sahabatmu di masa lalu atau apa?” Yoriko berpura-pura menebak padahal dia tahu persis jawabannya apa.

“diam!” seru Shou. Yoriko pun diam sesuai perintahnya. Dia tahu Shou akan seperti itu karena argumennya benar.

“kau baru seminggu bertemu denganku dan yang lainnya. Jadi jangan sok tahu dan ikut campur. Itu bukan urusanmu.” Shou memeringatkan Yoriko. “kau disini hanya menjaga toko dan melayani tamumu. Bukan menginterogasi mereka.”

“baiklah kalau begitu, tuan.” Yoriko sarkastik lagi. “bagaimana aku bisa melayani anda kalau anda menduduki meja kasirku?”

Shou baru sadar. Dia kembali malu sekarang. Daritadi dia duduk disini dan tidak menyadarinya. Dia langsung berdiri keluar dari meja kasir, memasang wajah ketus itu lagi untuk menutupi rasa malunya.

Tidak lama kemudian, Aya dan Tora tiba dengan membawa kantung kertas alumunium berisi es krim. Mereka langsung merasa telah memotong sesuatu karena Yoriko dan Shou menatap mereka dengan kesal.

“maaf... rasanya kami masuk disaat yang tidak tepat...” kata Aya takut. “apa kami boleh masuk?”

Yoriko melunak karena mendengar Aya barusan, “ya, tentu saja.”

“apa yang kalian lakukan?” Tora merasa dia baru saja memotong perang dunia ketiga yang akan berlangsung.

“tidak. Kurasa Shou-san agak kesal karena aku terlalu lama mencari sertifikat adopsinya. Ya kan?” Yoriko melirik Shou seolah tidak ada apa-apa.

“ya. Begitulah. Tapi dia menemukannya.” Shou mengacungkan amplopnya. “ayo kita pergi, Tora. Waktu istirahat kita hampir habis.”

“kau tidak ingin memakan es krimmu? Aku sudah membelikan rasa cokelat untukmu.” Tora menunjuk kantung alumunium yang dia bawa.

“sudahlah. Biar Nao saja yang makan. Aku sedang tidak ingin yang manis-manis...” Shou merangkul Tora lalu menyeretnya keluar dari petshop.

Setelah 2 pria itu pergi, Aya memberikan tatapan bertanya pada Yoriko. Yoriko langsung menjawab, “jangan lihat aku. Dia menyebalkan.”

“dia memang menyebalkan sejak dia menjadi superstar. Tapi dia tidak pernah menunjukkan kekesalannya itu di depan orang lain. Dia hanya bersikap dingin, cuek, tidak peduli, dan meninggalkannya begitu saja. apa yang kau lakukan padanya, Yoriko?” tanya Aya.

“entahlah. Aku hanya merasa kesal karena dia bersikap dingin di depan orang, terutama di depanmu dan Avaron-san.”

“oke, aku memang tidak tahu apa yang kau katakan padanya sampai dia marah-marah seperti tadi. Tapi aku tahu, perkataanmu kepadanya benar.” Kata Aya yakin.

“kau tahu darimana?”

“karena dia terlihat bungkam saat menatapmu. Itu berarti kau mengatakan ‘sesuatu’ padanya.”

“aku hanya melontarkan sarkasme kepadanya. Apa itu ‘sesuatu’ yang kau maksud?” pertanyaan polos Yoriko kembali membuat Aya memegangi dahinya.

“Yoriko, Yoriko...” Aya menggelengkan kepala. “sudahlah, lupakan saja.”

“aku juga kesal karena dia tadi membaca naskahku.” Yoriko berkacak pinggang. Dia membuka laptopnya yang masih ada di atas meja. “semoga dia tidak membaca semuanya. Aku tidak mau dia tahu kalau Spencer sangat mirip sekali dengannya.”

“haha. Dia bukan ‘mirip sekali’ lagi. Dia memang sosok dari Spencer Williams, Yoriko-chan.” Aya tertawa. “memangnya kenapa kalau dia tahu? Bukankah itu hal bagus?”

“bukan apa-apa. Tapi selain dari bayanganku tentang dia akan marah-marah dan merasa terhina karena itu, aku merasakan firasat lain yang lebih buruk. Kurasa lebih baik dia tidak usah tahu...” jawab Yoriko.

Dan Aya harus mengakui kalau perkataan Yoriko barusan telah membuatnya merinding.

*** 

“kau melakukan apa pada Yoriko? Jangan bilang kalau kau memarahinya.” Tanya Tora saat mereka dalam perjalanan ke kantor dengan mobil Tora.

Shou yang duduk di sebelahnya hanya membenarkan posisi duduknya lalu menjawab, “dia menyebalkan.”

“haha. Aku yakin dia juga akan mengatakan hal sama di petshop saat ini.” sindir Tora. “tidak biasanya kau memarahi orang lain, Shou.”

“kau belum pernah melihatku memarahi orang lain? Sudah berapa lama kita berteman, Tora?”

“maksudku, saat ada orang lain yang membuatmu kesal, kau akan menanggapinya dengan... yah, membuatnya bungkam dengan tingkah konyolmu. Kau masih ingat kan saat kau menghadapi Kai yang marah-marah karena dia mengira kau membawa pergi Avaron beberapa tahun lalu? Shou, kau malah membuatnya memberikan tanda tangan untukmu daripada menghajarmu! Kau menceritakan itu padaku selama berhari-hari sampai aku bosan mendengarnya. Dan kemana Shou yang itu sekarang, huh?”

“kenapa semua orang akhir-akhir ini menanyakan aku pertanyaan itu?” Shou malah bertanya balik.

Tora nyaris saja membenturkan kepalanya ke setir mobil karena mendengar reaksi Shou. “sudahlah. Lupakan saja.”

“aku baru tahu dia seorang penulis. Si Yoriko itu.” Kata Shou. “tapi kenapa aku belum pernah melihat bukunya di toko buku, ya?”

“mungkin karena kau malas membaca dan pergi ke toko buku atau karena Yoriko belum pernah menerbitkan bukunya.” Kata Tora.

“oh. Kau tahu darimana?”

“Aya menceritakannya padaku. Dia bilang Yoriko berencana akan menerbitkan novelnya yang berjudul Judy.”

“mungkin novel itu yang kubaca tadi saat di petshop. Aku membacanya sedikit dari laptop gadis aneh itu. Tapi saat aku membaca adegan novel itu, kenapa rasanya tidak asing, ya? Aku seperti pernah mengalami kejadian yang ditulis di novel itu.” Shou bertanya-tanya.

“itu berarti Yoriko sudah menjadi penulis hebat.” Tora mengambil kesimpulan.

“bukan, bukan itu, Tora. Selain itu aku juga merasa pernah mendengar nama Spencer Williams sebelumnya. Tapi aku lupa dimana...”


“kenapa kau tidak dekati Yoriko dan tanyakan padanya saja?” Tora mengerling jahil pada Shou, seakan Tora mengerti penyebab kebingungan Shou.

No comments:

Post a Comment